Tag Archives: Surat Roma

Roma 12:1-2

「Mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang hidup」
Panggilan dan Pembaruan Hidup


Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Roma 12:1-2 [ITB])
1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026

Renungan Topikal Ěr Dào

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-23

「Manifestasi konkret dari Kerajaan Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 14:1-12 [ITB])
1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.
2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.
3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. 4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.
5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.
6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. 9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.
10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 11 Karena ada tertulis: Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah. 12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.
(Roma 14:13-23 [ITB])
13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!
14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. 15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.
16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. 17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. 18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.
19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.
20 Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! 21 Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.
22 Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. 23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Salah satu masalah yang dibahas dalam surat Roma adalah perselisihan di dalam gereja antara dua kelompok orang percaya mengenai makanan. Orang yang kuat dalam iman bahwa ia boleh makan segala jenis makanan (yaitu orang Kristen non-Yahudi), sementara orang yang lemah dalam iman hanya memakan sayur-sayuran (yaitu orang Kristen Yahudi) (Roma 14:1-2). Menurut ajaran Yesus (Mrk. 7:18-20), Paulus yakin bahwa tidak ada yang najis, tetapi jika seseorang memandang sesuatu najis, maka menjadi najis di dalam dirinya (Roma 14:14). Makan atau tidak makan adalah masalah tradisi iman individu dan penerimaan pribadi dari orang percaya, sama seperti beberapa orang melihat hari ini lebih baik daripada hari itu, sementara yang lain melihat setiap hari adalah sama (Roma 14:5), dan tidak ada yang perlu saling menghakimi (judge one another). Namun, entah karena alasan apa, dua kelompok orang percaya saling menghakimi satu sama lain karena masalah makanan, sehingga mendorong Paulus untuk mengirim surat kepada mereka untuk menjadi penengah.

Apa yang salah dengan menghakimi satu sama lain? Pada dasarnya, menghakimi satu sama lain adalah tanda bahwa manusia terlalu tinggi hati (Roma 12:3). Mereka yang menghakimi sering kali menggunakan alat ukur dan standar mereka sendiri untuk mengukur orang lain, hanya melihat duri di mata orang lain dan mengabaikan fakta bahwa mereka sendiri juga memiliki balok yang menghalangi penglihatan mereka (Mat. 7:1-5). Mereka yang menghakimi tidak melihat bahwa mereka juga memiliki titik buta, keterbatasan dan prasangka bias, dan berpikir bahwa kebenaran ada di pihak mereka. Ketika setiap orang dalam sebuah kelompok berpikir terlalu tinggi tentang dirinya sendiri, perselisihan dan kontradiksi akan muncul secara alami, dan kesatuan yang dibawa oleh keselamatan Kristus tidak dapat diwujudkan. Oleh karena itu, menghakimi satu sama lain adalah masalah rohani. Menghakimi satu sama lain menghancurkan kesatuan di dalam Kristus dan oleh karena itu perlu ditangani dengan serius.

Paulus menegaskan bahwa kerajaan Allah bukanlah tentang makanan dan minuman, tetapi tentang kebenaran keadilan, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Roma 14:17). Di sini sekali lagi, disebutkan masalah damai sejahtera (peace). Sepanjang minggu ini kita telah melihat pengajaran tentang damai sejahtera dan rekonsiliasi. Penebusan Yesus Kristus adalah untuk membawa damai sejahtera ke dalam dunia, dan rekonsiliasi adalah salah satu fondasi dari damai sejahtera tersebut, pertama-tama dengan Allah, kemudian dengan satu sama lain, dan dengan seluruh ciptaan. Menghakimi satu sama lain adalah kebalikan dari hal ini. Maka Paulus dengan sungguh-sungguh mengingatkan para penerima suratnya untuk mengejar damai sejahtera dan saling membangun, serta jangan menghancurkan pekerjaan Allah karena makanan (Roma 14:19-20). Pekerjaan Allah apa yang dapat dihancurkan? Karya Allah yang dimaksud adalah pendamaian rekonsiliasi dan damai sejahtera yang telah Allah ciptakan melalui Tuhan Yesus Kristus. Yesus datang untuk memberitakan Injil Kerajaan Surga, sehingga ketika Kerajaan Allah datang di bumi, tidak akan ada lagi dukacita, ratap tangis atau penderitaan (Why. 21:4). Damai sejahtera membawa sukacita bagi umat manusia, sementara penghakiman menghasilkan penderitaan yang tak berkesudahan di antara mereka.

Semuanya bergantung pada kepercayaan akan janji-janji Allah. Di antara sekian banyak tindakan iman, percaya adalah yang paling penting, tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6) Orang Kristen melakukan segala sesuatu adalah keluar dari iman, dan melakukannya di hadapan Allah. Barang siapa makan, ia makan untuk Tuhan, dan barang siapa tidak makan, ia tidak makan untuk Tuhan (Roma 14:6). Makan atau tidak makan sama sekali tidak akan membahayakan keselamatan Kristus. Karena Kristus telah mati dan telah bangkit dari kematian untuk semua orang, atas dasar apa kita dapat menghakimi saudara dan saudari kita di dalam Tuhan? Setiap orang berdiri sendiri-sendiri di hadapan takhta pengadilan Allah dan memberikan pertanggungjawaban di hadapan Allah (Roma 14:10-12), jadi kita tidak boleh menghakimi satu sama lain. Penebusan Kristus adalah untuk membangun kehidupan manusia, bukan untuk meruntuhkannya. Menurut kehendak Allah, setiap orang percaya telah ditentukan untuk mengikuti teladan Yesus Kristus (Roma 8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara), penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah (Yes. 53:4) Oleh karena itu, mereka yang kuat dalam iman harus berbagi beban dari kelemahan mereka yang tidak kuat, dan tidak mencari kesenangan mereka sendiri (Roma 15:1). Septutnya mereka yang ada di dalam Tuhan meniru Kristus dengan cara ini, saling sehati dan sepikir, maka Kerajaan damai sejahtera akan hadir di antara manusia. Keselamatan Kristus termanifestasi nyata melalui komunitas yang saling menerima ini.

Renungkan:
Mengapa masalah tentang makanan dan minuman menjadi masalah yang perlu ditangani secara demikian serius? Mengapa menghakimi satu sama lain adalah hal yang buruk? Apakah semua kontroversi dilarang? Kerajaan seperti apakah yang dibawakan oleh penebusan Yesus Kristus?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-22

「Transformasi Individu dan Komunitas」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 12:1-11 [ITB])
1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. 4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, 5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. 10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Penebusan Yesus Kristus membawa perdamaian, dan perdamaian dimulai dengan rekonsiliasi hubungan. Di mana ada hubungan yang damai, di situ ada damai sejahtera. Oleh karena itu, keselamatan Kristus harus dimanifestasikan melalui sebuah komunitas tertentu, yaitu gereja. Rekonsiliasi dimulai di dalam hati seseorang dan kemudian meluas ke dalam hubungan-hubungan manusia satu sama lain dan dengan seluruh ciptaan. Rekonsiliasi dan perdamaian tidak dapat sepenuhnya ditunjukkan oleh satu orang. Damai seperti apakah itu ketika hanya satu orang yang berdamai dengan Allah? Jika perdamaian hanyalah sebuah pengalaman spiritual yang tidak pernah terjadi di bumi, apakah yang layak untuk dikejar?

Rekonsiliasi dan perdamaian dimulai dengan transformasi pribadi. Rohani manusia sering kali berperang dengan tubuh manusia yang di bawah kuasa dosa, hati rohani tunduk pada hukum Allah dan daging yang tunduk pada hukum dosa (Roma 7:25). Peperangan antara keinginan hati rohani dan keinginan daging yang disebabkan kuasa dosa dalam diri manusia. Sekarang, dengan penebusan Kristus dan kehadiran Roh Kudus, manusia dapat dibebaskan dari dosa, dan tidak lagi menjadi musuh Allah melalui daging, tetapi menikmati hidup dan damai sejahtera melalui Roh (Roma 8:6, 16), yang menjadi saksi bahwa ia adalah anak Allah. Oleh karena itu, Paulus, dalam belas kasihan Allah, menasihati setiap orang percaya untuk mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, dan pada saat yang sama diperbaharui dan diubahkan dalam pikirannya, untuk menguji apakah kehendak Allah itu: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang murni (Roma 12:1-2). Penebusan Yesus Kristus membawa transformasi seorang secara keseluruhan pribadi, kerelaan tubuh, pikiran dan roh untuk menaati kehendak Allah dan dipersembahkan kepada-Nya sebagai alat kebenaran. Kehidupan yang demikian akan berkenan di hadapan Allah sebagai persembahan yang harum. Rekonsiliasi dan perdamaian dimulai dengan transformasi pribadi. Mereka yang ada di dalam Kristus dapat menikmati kedamaian sejati serta damai sejahtera dalam keharmonisan pikiran dan tubuh serta kedekatan hati dan jiwa dengan Tuhan.

Ketika setiap orang di dalam Tuhan mengalami transformasi fisik dan spiritual, keadaan rekonsiliasi dan perdamaian meluas lebih jauh ke dalam komunitas. Di dalam komunitas khusus ini, setiap orang melihat dirinya sebagai bagian dari keseluruhan: demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain (Roma 12:5). Patut dicatat bahwa hanya ada satu Tubuh Kristus, dan hanya ada satu Roh Kudus, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah (Efesus 4:4-6). Manusia di dalam kuasa dosa terpisah dan terpecah belah, karena masing-masing hidup untuk dirinya sendiri. Tetapi Yesus Kristus datang ke dunia untuk menghapuskan perpecahan dan permusuhan di antara manusia, sehingga setiap orang bersedia untuk bersatu dengan yang lain, menjadi satu. Inilah Injil damai sejahtera yang datang dari kayu salib (Efesus 2:14-16). Penebusan Kristus menyatukan orang-orang yang berbeda ke dalam satu tubuh, yang tidak lagi menjadi orang Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, pria atau wanita (Galatia 3:28). Di dalam Tubuh ini, setiap orang tidak boleh berpikir terlalu tinggi tentang dirinya sendiri (Roma 12:3). Karena semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak (Roma 3:12)

Esensi manusia telah rusak, dan tidak ada yang dapat kita banggakan di hadapan Allah. Di bawah pembenaran oleh iman, semua orang sama-sama dikasihi oleh Allah, tanpa perbedaan. Selain itu, setiap orang menerima karunia yang berbeda dari Roh Kudus: kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita (Roma 12:6-8). Dengan demikian, setiap orang menemukan tempat dan nilai keberadaannya di dalam Tubuh Kristus. Terlepas dari asal usul dan status sosial seseorang, ia menjadi orang yang sama di dalam Tubuh Kristus, dan semua menerima kasih karunia Allah yang sama untuk pengampunan dosa dan karunia-karunia yang sama dari Roh Kudus. Berdasarkan pemahaman ini, setiap orang di dalam Tuhan tahu bagaimana menghormati dan menghargai satu sama lain, dan tidak menganggap dirinya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Setiap orang hidup dalam kasih, bersama dengan satu sama lain dan untuk satu sama lain. Dengan cara ini, sebuah komunitas yang damai terbentuk di bumi.

Renungkan:
Bagaimanakah Injil damai sejahtera direalisasikan di dalam diri individu dan kelompok? Apakah perbedaan yang mendasar antara komunitas gereja dan masyarakat lainnya? Bagaimanakah seharusnya gereja memberitakan damai sejahtera Kristus di dalam dunia?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-21

「Segala sesuatu bergantung pada janji Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 9:6-18 [ITB])
6 Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, 7 dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu. 8 Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. 9 Sebab firman ini mengandung janji: Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki. 10 Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. 11 Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya, 12 dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, 13 seperti ada tertulis: Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.
14 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! 15 Sebab Ia berfirman kepada Musa: Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.
16 Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. 17 Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. 18 Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.

Bangsa Israel seharusnya menjadi bangsa yang paling diberkati di muka bumi, karena TUHAN semesta alam telah mengikat perjanjian dengan mereka untuk menjadi Allah, Raja, Gembala, dan Penyelamat mereka dari generasi ke generasi. Selama TUHAN menyertai mereka, kebaikan dan kasih akan mengikuti umat-Nya sepanjang hidup mereka (Mazmur 23:6), dan bukan hanya Israel sendiri yang akan diberkati, tetapi semua bangsa di bumi juga akan diberkati melalui hubungan perjanjian ini (Kej. 12:1-3; 22:15-18). Dalam rencana keselamatan Allah, Israel sejak awal berada dalam posisi sentral dan prioritas, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (Roma 1:16) Sayangnya, sejarah telah menunjukkan bahwa orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir (Mat. 20:16) Mengapa? Karena orang-orang Yahudi, yang telah mendahului, tidak memahami kehendak Allah dalam melakukan memilih umat-Nya, dan mereka menolak Anak-Nya yang terkasih, Yesus Kristus. Apakah kehendak Allah itu? Yaitu (Roma 8:29) Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula (προορίζω proorizo predestinated), mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (to become conformed to the image of His Son) Namun, orang-orang Yahudi menyalibkan Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara, dan pembunuhan Anak ini menjauhkan keselamatan yang seharusnya menjadi milik mereka dan yang keluar dari mereka.

Memikirkan hal ini, Paulus merasakan kesedihan dan kepedihan yang mendalam di dalam hatinya. Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia … (Roma 9:4-5) Dan sekarang mereka adalah ranting-ranting pohon zaitun yang dipatahkan (Roma 11:15, 17), yang ditinggalkan Allah. Paulus sedih atas bangsa sesamanya, sampai-sampai ia rela menanggung kutukan keterpisahan dari Kristus untuk menggantikan mereka agar mereka dapat diselamatkan (Roma 9:3). Kesedihan Paulus memang nyata, tetapi ia tidak membiarkan dirinya berkubang dalam emosi negatif dan pesimis, ia menyadari bahwa masih ada masa depan bagi Israel, meskipun sekarang tampaknya sudah ditinggalkan. Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, … (Roma 11:25-26). Ada banyak penafsiran yang berbeda dari pernyataan ini oleh para ahli di masa lalu. Terlepas dari penafsirannya, pandangan Paulus terhadap Israel adalah penuh pengharapan, dan masa depan mereka tidak ditentukan oleh kondisi saat ini atau kejadian di masa lalu. Mengapa Paulus dapat membuat pernyataan yang melampaui keadaan yang terlihat mata seperti itu? Di manakah kepastiannya?

Jawabannya ada dalam perikop yang kita baca hari ini. Roma 9:6-18 adalah perikop kunci yang menyatakan dasar teologis dari pernyataan Paulus bahwa masih ada pengharapan keselamatan bagi Israel, dan bahwa hal itu adalah semua tentang janji-janji Allah. Tidak semua orang yang dilahirkan dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua orang Israel adalah anak-anak Abraham hanya karena mereka adalah keturunannya, tetapi hanya anak-anak yang dijanjikan yang dianggap sebagai keturunannya (Roma 9:8). Karena janji itu berasal dari Allah, maka tidak menjadi masalah bagaimana perilaku manusia. Bahkan sebelum Yakub lahir, Allah telah memilihnya untuk menjadi pihak yang dilayani oleh kakaknya, Esau, di masa depan (Roma 9:12-13). Janji ini mengacu pada kedaulatan Allah untuk mengasihani siapa yang dikehendaki-Nya dan bermurah hati kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Roma 9:15). Bahkan jika sesuatu tampak mustahil bagi manusia, selama Allah menjanjikannya, hal itu akan terjadi. Abraham yang sudah tua dibenarkan oleh kepercayaannya kepada janji Allah untuk memberikannya seorang anak laki-laki, yang berada di luar kemampuan dan imajinasi manusia (Roma 4:13-22). Jika demikian, tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat menghentikan pekerjaan Allah, bahkan Firaun yang jahat sekalipun, yang hanya merupakan alat bagi manifestasi kuasa Allah (Roma 9:17). Oleh karena itu, jika Allah berjanji, firman-Nya tidak akan gagal (Roma 9:6). Tidak ada sumpah yang lebih besar jaminannya daripada sumpah yang diucapkan oleh Allah sendiri (Ibrani 6:16-17), dan Allah sendiri adalah jaminan yang paling besar. Karena sejak awal Allah telah berjanji untuk memberkati keturunan Abraham, maka sumpah ini pasti digenapi. Dengan jaminan ini, walau hati Paulus sedih dan berduka, tetapi hal itu tidak membuatnya kehilangan harapan akan masa depan Israel.

Dari awal hingga akhir, keselamatan Yesus Kristus adalah janji kehendak Allah sendiri, yang tidak dapat digoyahkan oleh apa pun. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 8:38-39) Karena Allah telah berkehendak untuk melalui Injil Kristus menyelamatkan semua orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi dan kemudian orang Yunani, kehendak-Nya akan terlaksana pada akhirnya. Tidak peduli seberapa korupnya dunia ini, dalam janji Allah tetap ada kemungkinan perubahan.

Renungkan:
Mengapa Paulus begitu yakin dan penuh pengharapan tentang masa depan Israel? Penghiburan dan dorongan apakah yang diberikan kepada kita ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu bergantung pada janji Allah? Mengapa kita percaya bahwa kedaulatan Allah dapat meringankan kesedihan dan kepedihan di dalam hati kita?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-20

「Seluruh makhluk menantikan dalam pengharapan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 8:18-25 [ITB])
15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa! 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. 17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. 20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, 21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. 22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. 23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. 24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? 25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Ayat-ayat sebelumnya dalam surat Roma menunjuk pada fakta bahwa Allah telah mengerjakan keselamatan melalui Yesus Kristus, dan bahwa realitas rohani ini sekarang dimanifestasikan melalui pembaharuan Roh Kudus dalam diri manusia. Dalam kuasa Roh Kudus, mereka yang dipersatukan dengan Tuhan Yesus dibebaskan dari cengkeraman kuasa dosa dan maut, serta menjadi ciptaan baru. mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:24) Dari sudut pandang ciptaan baru, transformasi kehidupan orang Kristen merupakan tanda, pendahuluan, atau realisasi awal dari pembebasan seluruh ciptaan dari dosa. Tidak hanya manusia yang Terikat oleh hukum dosa, dan berseru Aku, manusia celaka! (Roma 7:24), tetapi seluruh ciptaan juga mengeluh dan merindukan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Roma 8:20-21). Kita yang memiliki Roh Kudus berdiam di dalam diri kita dan yang telah diangkat oleh Allah sebagai anak-anak-Nya adalah bukti bahwa semua ciptaan pada akhirnya dapat bebas: Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan (2 Korintus 3:17)

Kemerdekaan adalah hasil dari keselamatan. Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (Galatia 5:1) Sederhananya, orang yang ada di dalam Kristus memiliki kebebasan untuk mengatakan tidak pada dosa! Tidak peduli seberapa kuat keinginan untuk berbuat dosa di dalam diri kita, kita dapat mengalahkan dan mengatasinya melalui Kristus dan Roh Kudus, kemuliaan Allah dinyatakan dalam diri seseorang melalui kemenangan atas dosa. Oleh karena itu, Petrus menasihati orang-orang Kristen yang merupakan pendatang dan perantau di dunia ini untuk menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging, supaya bangsa-bangsa lain yang tidak percaya dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka (1 Petrus 2:11-12). ebebasan dan kemuliaan berjalan beriringan, dan di mana ada kebebasan, kemuliaan Allah dinyatakan. Salib Yesus Kristus adalah tempat di mana kebebasan dan kemuliaan dinyatakan.

Namun, kemerdekaan dan kemuliaan tidak akan sepenuhnya terwujud dan dimanifestasikan sampai masa depan. Keselamatan Kristus memiliki aspek penggenapan, tetapi juga dimensi eskatologis hari akhir. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? (Roma 8:22-24) Keselamatan Kristus adalah realitas tersembunyi yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi harus diterima dengan iman dan hati yang menantikan. Paulus menekankan bahwa orang percaya telah dibebaskan dari dosa-dosanya, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa kita, yang memiliki Roh Kudus sebagai buah sulung, mengeluh bersama ciptaan. Di dalam Roh Kudus, kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:16), tetapi kita juga menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Ketegangan antara sudah tetapi belum ini terus menerus dalam kehidupan orang percaya. Keselamatan dari Kristus yang telah kita miliki adalah nyata, tetapi itu bukanlah keseluruhan dari keselamatan. Di masa depan, seluruh ciptaan (termasuk tubuh manusia) akan menikmati kemerdekaan dan kemuliaan yang sempurna. Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18) Dalam pengharapan inilah orang-orang Kristen terus hidup dengan iman, sukacita, kesabaran dan misi di dunia ini.

Melalui renungan hari ini, kita melihat sebuah hubungan antara manusia dan seluruh ciptaan. Sebagaimana ciptaan mengeluh dan menderita, demikian pula kita mengeluh dan menderita; sebagaimana pembebasan tubuh kita, demikian pula seluruh ciptaan dimerdekakan dalam kemerdekaan yang mulia sebagai anak-anak Allah. Manusia berada dalam sebuah hubungan dengan alam, dan keselamatan dari Yesus Kristus tidak terbatas pada keselamatan jiwa individu. Orang-orang percaya sekarang diperbarui dan ditransformasikan secara rohani, yang menandakan keselamatan akhir dari semua ciptaan di dalam Tuhan. Inilah pesan Injil.

Renungkan:
Apa yang saya pikirkan tentang sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin? Bagaimanakah sepatutnya orang Kristen memandang penderitaan alam? Bagaimanakah keselamatan Kristus berhubungan dengan seluruh ciptaan Allah? Bagaimanakah keselamatan orang Kristen merupakan sebuah pertanda dari kemuliaan seluruh ciptaan?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-19

「Dimerdekakan di dalam Roh Kudus」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 8:1-14 [ITB])
1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. 2 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. 3 Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, 4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.
5 Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. 6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. 7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. 8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.
9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. 10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. 11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. 13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. 14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

Kekristenan memberitakan Injil pendamaian dengan Allah, Injil berisi janji-janji Allah yang mengubah hidup. Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah menaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu (Roma 6:17). Apakah yang dimaksud dengan dengan segenap hati telah menaati (obedient from the heart)? Apakah ini adalah sebuah praktik di mana seseorang mengandalkan pikiran dan kehendaknya untuk mengendalikan tubuh agar taat? Dalam Roma 7 Paulus mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menaati Allah dengan kekuatan kita sendiri karena selalu ada dua kekuatan yang berperang di dalam diri kita, meskipun hati mengasihi hukum Allah, ada kekuatan di dalam daging yang menyerukan ketaatan kepada dosa. Oleh karena itu, hanya mengandalkan kekuatan diri saja tidak cukup. Dalam menghadapi godaan daging, manusia selalu tidak berdaya untuk melawannya. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat (Roma 7:19). Dengan mengingat hal ini, Paulus berseru dari lubuk hatinya yang terdalam, Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (Roma 7:24) Dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri menaati Allah menghasilkan pergumulan, erangan, dan keluhan yang tak berkesudahan.

Namun, Paulus segera menegaskan bahwa seseorang dapat keluar dari kesulitan ini dengan mengandalkan Tuhan Yesus Kristus. Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (Roma 7:25) Dengan cara apa seseorang mengandalkan Tuhan Yesus Kristus untuk menaati firman Allah, tidak hanya di dalam hatinya, tetapi juga keseluruhan keberadaannya? Perikop yang kita baca hari ini memberitahukan kepada kita bahwa kehadiran dan kuasa Roh Kudus adalah satu-satunya sandaran kita.

Ayat Alkitab yang kita baca hari ini menekankan bahwa Roh Kudus adalah Roh kehidupan (the Spirit of life). Allah memiliki kuasa kehidupan yang tak terbatas, yang dapat membangkitkan orang mati dan mengubah ketiadaan menjadi ada (Roma 4:16-17). Dalam Allah TriTunggal, kuasa Allah sering kali dilakukan melalui Roh Kudus. Roh Kudus secara aktif terlibat dalam karya penciptaan sebelum dunia ada (Kej. 1:2); Roh Kudus tidak hanya mengembuskan nafas kehidupan ke dalam diri manusia (Mzm. 33:4), tetapi juga membuat manusia memiliki hikmat, kepandaian, pengetahuan, akal budi, mengelola, dan kemampuan membuat keputusan untuk memenuhi panggilan Allah (Kej. 41:38-41; Kel. 31:1-5; Hakim-hakim 3:10-11; Yes. 11:1-5); Tidak hanya itu, Roh Kudus juga memiliki kuasa untuk menghidupkan kembali tulang-tulang yang sudah sangat kering sekalipun (Yeh. 37:1-10). Roh Kudus adalah Roh pemberi kehidupan, dan mereka yang memiliki Roh Kudus akan memiliki kuasa untuk hidup dalam kemenangan dan ketaatan kepada Allah: Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:1-2).

Salah satu hasil dari persatuan dengan Tuhan adalah masuknya Roh Kudus ke dalam kehidupan seseorang, yang memungkinkan pembebasan dari kuasa dosa dan maut. Ini tidak berarti bahwa orang percaya dapat secara otomatis menjalani kehidupan yang bebas dari kuasa dosa dan tidak melakukan apa-apa. Paulus menekankan dalam Roma 8 bahwa meskipun kita memiliki Roh Allah yang hidup di dalam kita (Roma 8:9), kita tetap harus memperhatikan dan mengikuti Roh Kudus setiap saat: Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh (Roma 8:3-5)

Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup (Roma 8:12-13) Ayat Alkitab menekankan bahwa mereka yang memiliki Roh Kudus tinggal di dalam dirinya, tetap harus terus memperhatikan dan mengikuti Roh Kudus. Mengapa? Karena manusia dapat memadamkan dorongan Roh Kudus (1 Tesalonika 5:19). Roh Kudus memiliki kuasa kehidupan yang tidak terbatas, tetapi tidak menyangkal bahwa manusia memiliki kehendak dan kemauan bebas. Manusia dapat bersandar pada Roh Kudus, atau ia dapat melawan Roh Kudus. Oleh karena itu, mereka yang memiliki Roh Kudus yang berdiam di dalam dirinya harus bersandar pada Roh Kudus dan mengikuti Roh Kudus setiap saat. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14).

Melalui perenungan tiga hari ini, kita melihat bahwa keselamatan dalam Kristus menunjuk pada tiga karunia: pendamaian dengan Allah Bapa, persekutuan dengan Kristus Tuhan, dan berdiamnya Roh Kudus. Kekristenan menyatakan keselamatan sebagai pembaharuan hubungan di mana manusia dimasukkan ke dalam persekutuan Allah Tritunggal dan dapat berbagi dalam segala jenis kelimpahan dan menghasilkan buah rohani. Inilah makna dari hidup yang kekal. Hidup kekal bukan hanya tidak pernah mati, tetapi menikmati hidup sejati dalam kasih Tritunggal untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 6:22-23) Melalui kehadiran Roh Kudus, hidup yang kekal telah dibentangkan di dunia ini.

Renungkan:
Apakah saya percaya dan mengalami Roh Kudus yang hidup di dalam diri saya? Atas dasar apakah saya menaati perintah dan firman Allah hari ini? Bagaimanakah dalam tiga hari ini Alkitab telah membantu kita untuk memikirkan kembali janji kehidupan kekal melalui iman kepada Yesus?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-18

「Mati bersama Kristus dan Bangkit bersama Kristus」

Oleh Rev. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 6:1-14 [ITB])
1 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?
2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? 3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? 4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.
6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. 7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.
8 Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
9 Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. 10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. 11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.
12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. 13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. 14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Kemarin, kita telah membaca Roma 5:1-11 dan menekankan kembali bahwa rekonsiliasi diperdamaikan dengan Allah adalah fokus dari keselamatan Allah bagi dunia melalui Yesus Kristus. Pengampunan dosa adalah syarat yang diperlukan untuk pemulihan hubungan, tetapi itu bukanlah inti semata-mata dari rekonsiliasi diperdamaikan dengan Allah. Seorang narapidana yang telah diampuni yang terus melakukan kejahatan dalam hidupnya seperti yang selalu dilakukannya tidak akan membawa nilai positif bagi orang tersebut atau bagi dunia. Keselamatan yang diberitakan oleh Kekristenan tidak berhenti pada pengampunan dosa. Perikop yang kita baca hari ini berbicara tentang aspek ini.

Dalam pandangan Paulus, penebusan Yesus Kristus adalah peristiwa yang mengubah hidup, bukan sekadar penghakiman atas ketidakbersalahan. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya (Roma 6:12). Dosa yang disebutkan di sini adalah sebuah kekuatan yang memiliki kuasa, yang memanggil seseorang untuk tunduk sepenuhnya pada perintahnya, seperti seorang budak kepada tuannya. Dilema Paulus dalam Roma 7, sebagai orang pertama, bahwa aku menghendaki apa yang baik, tetapi aku tidak melakukan apa yang baik, adalah hasil dari dosa yang diam di dalam aku (Roma 7:18-20). Dosa adalah kekuatan yang mendominasi dalam kehidupan yang menyerukan penyerahan tubuh kepada dosa sebagai alat kelaliman (Roma 6:13). Penebusan Yesus Kristus adalah hal yang menghapuskan kuasa dosa dalam diri manusia, Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (Roma 6:14) Dari sudut pandang ini, kematian Yesus Kristus adalah korban penghapus dosa (Roma 3:25-26), namun karena kuasa Allah yang membangkitkan-Nya, penebusan Yesus Kristus jauh lebih unggul daripada korban-korban penghapus dosa mana pun yang ditetapkan oleh hukum Taurat, karena korban yang satu ini memiliki kuasa yang mengubah hidup, tidak seperti korban-korban lain yang hanya di luar diri manusia. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa (Roma 6:6)

Dengan demikian, keselamatan mengacu pada kematian dan kebangkitan seseorang bersama-sama dengan Kristus: Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia (Roma 6:8) Kebangkitan adalah sebuah janji yang menunggu akan digenapi hingga kedatangan Yesus Kristus kedua kali di masa depan, tetapi kuasa kebangkitan dimanifestasikan dengan nyata hari ini melalui perantaraan kerelaan seseorang untuk memberikan dirinya bagi pekerjaan Allah. Oleh karena itu, persembahan tubuh orang percaya sebagai persembahan yang hidup adalah sesuatu yang rohani dan alamiah di mata Paulus (Roma 12:1). Penebusan Kristus membawa kuasa yang mengubah hidup untuk mati bagi dosa dan hidup bagi Allah (Roma 6:10). Paulus menekankan bahwa perubahan yang terjadi karena anugerah kasih karunia ini hanya dapat diperoleh melalui baptisan. Baptisan bukan hanya sebuah upacara pengakuan di depan umum untuk menerima Yesus sebagai Tuhan, tetapi juga merupakan momen sakral persatuan dengan Kristus (united with Him): Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya (Roma 6:4-5).

Melalui pertobatan, iman dan baptisan, kita dipersatukan dengan Yesus Kristus, yang merupakan salah satu aspek dari rekonsiliasi manusia diperdamaikan dengan Allah. Pemulihan adalah sebuah proses berkelanjutan yang dimulai dengan pengampunan dosa, berlanjut dengan penyatuan hidup dengan Kristus, dan berlanjut dengan penyerahan tubuh kepada Allah sebagai alat kebenaran dalam kebebasan dimerdekakan dari kuasa dosa, dan kemudian kedamaian di bumi sebagai Anak Allah. Keselamatan melibatkan transformasi seluruh kehidupan, termasuk pembenaran (justification) dan pengudusan (sanctification). Melalui persatuan dengan Tuhan, manusia lama kita telah mati dan dibebaskan dari kuasa dosa. Oleh karena itu, kejatuhan orang Kristen dari dosa tidak boleh dianggap sebagai suatu hal yang normal. Pada kenyataannya, seseorang yang telah bertobat terkadang masih dikuasai oleh dosa (Galatia 6:1), dan Martin Luther, sang Reformator, menunjukkan bahwa orang Kristen adalah orang yang dibenarkan dan sekaligus orang yang berdosa (simul iustus et peccator). Namun, setelah datang kepada Kristus melalui iman dan baptisan, seseorang tidak lagi berada di bawah perintah kuasa dosa dan dapat bertindak dengan cara yang baru. Orang Kristen tidak boleh menggunakan kelemahan pribadi sebagai alasan untuk memanjakan diri dalam dosa lebih lanjut, karena dosa tidak akan berkuasa di dalam pribadi orang Kristen (Roma 6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia ). Pengalaman kemenangan orang Kristen di dalam Tuhan adalah norma kehidupan, dan kita tidak boleh keliru.

Renungkan:
Apakah yang dimaksud dengan pemulihan rekonsiliasi diperdamaikan dengan Allah? Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa saya dipersatukan dengan Tuhan Yesus Kristus? Penghiburan, dorongan, dan pengingat apa yang diberikan oleh pengajaran iman ini kepada saya? Apakah dosa masih berkuasa dalam hidup saya? Apa yang perlu saya akui dan bertobat dari sekarang di hadapan Tuhan? Apakah saya bersedia untuk mengalami kuasa kebangkitan Tuhan?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Renungan Natal 2023-17

「Injil perdamaian dengan Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Roma 5:1-11 [ITB])
1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar, tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. 8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Minggu ini kita akan membahas tema penebusan melalui kumpulan ayat-ayat dari Surat Roma, yang secara tradisional merupakan bagian dari doktrin keselamatan (soteriologi). Setiap agama berbicara tentang keselamatan dalam pengertian yang berbeda, karena dunia yang kita tinggali ini sedang dalam masalah. Dalam hal ini semua agama memiliki keprihatinan yang sama, tetapi masing-masing berbeda dalam metode keselamatan yang diusulkan, penyebabnya, tujuannya, dan hasilnya. Bagaimanakah kekristenan melihat masalah ini? Apakah ciri khas yang paling penting dari kekristenan yang membuatnya menjadi Kristen?

Hari ini, mari kita mulai dengan Roma 5:1-11. Perikop ini dapat dianggap sebagai rangkuman dari doktrin keselamatan Kristen, di mana tujuan, metode, sebab dan akibat dari keselamatan Allah dinyatakan dengan jelas. Mengapa Allah bertindak untuk menyelamatkan dunia? Hanya ada satu tujuan, yaitu untuk memperdamaikan kita dengan Allah oleh Kristus (Roma 5:1, 10-11). Diperdamaikan (reconciled), pendamaian (peace) adalah tujuan akhir dari keselamatan. Kolose 1:19-20 membuatnya lebih jelas lagi: Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Yesus Kristus), dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Perlu dicatat bahwa Alkitab menekankan bahwa segala sesuatu (all things) telah diperdamaikan (having been reconciled) dengan Allah melalui penebusan Yesus Kristus, dan atas dasar ini pendamaian (peace) diciptakan di dalam Kristus. Oleh karena itu, masih ada harapan bagi dunia karena akhir dunia bukanlah kekacauan, kehancuran, atau kegelapan total, tetapi pendamaian, perdamaian, dan kesatuan segala sesuatu di dalam Kristus (Efesus 1:10), yang tidak bisa dihasilkan oleh kekuatan manusia, tetapi dicapai melalui darah Yesus Kristus. Oleh karena itu, orang Kristen dapat mengandalkan Tuhan untuk memiliki pengharapan dan sukacita untuk bertahan hidup di tengah-tengah segala macam masalah dan penderitaan: Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:3-5)

Kekristenan percaya bahwa ada masa depan bagi dunia dalam realitas spiritual bahwa segala sesuatu telah diperdamaikan dengan Allah di dalam Kristus. Dunia tanpa diperdamaikan dengan Allah adalah dunia tanpa kedamaian, dan tidak ada masa depan yang nyata bagi umat manusia. Orang Kristen sering kali berfokus pada keselamatan sebagai pembenaran oleh iman dan menafsirkannya dengan cara yang sangat pribadi: Saya, misalnya, diampuni dari dosa-dosa saya melalui iman kepada Yesus. Pemahaman ini penting karena Tuhan telah berjanji bahwa jika kita mengakui dosa-dosa kita, maka dosa-dosa kita akan diampuni dan kita akan disucikan dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9), dan kasih Tuhan ditunjukkan melalui pembenaran oleh iman (Roma 5:8). Pembenaran oleh iman memang penting, tetapi itu bukanlah tujuan akhir dari keselamatan. Pembenaran adalah untuk diperdamaikan dengan Allah: Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! (Roma 5:9-10)

Pengampunan dosa hanyalah salah satu aspek dari keselamatan, bukan keseluruhan. Banyak orang Kristen mengabaikan fakta bahwa diperdamaikan dengan Allah (reconciliation) adalah inti dari Injil. Dengan percaya dan bersandar pada diperdamaikan dengan Allah yang dimungkinkan oleh darah Yesus Kristus di kayu salib, kita tidak lagi menghadap Allah dalam keadaan bermusuhan, tetapi berdiri di dalam kasih karunia sebagai anak-anak, bersukacita dalam pengharapan akan kemuliaan Allah (Roma 5:2). Dari perspektif ini, diselamatkan mengacu pada pemulihan hubungan, dan pembenaran oleh iman hanyalah sebuah sarana atau proses untuk mencapai tujuan tersebut. Karena rekonsiliasi diperdamaikan dengan Allah dan pendamaian adalah fokus dari keselamatan secara keseluruhan, maka setiap pengikut Tuhan harus membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hatinya (Kolose 3:15). Rekonsiliasi perdamaian dan damai bukanlah salah satu dari sekian banyak pilihan dalam hidup, melainkan sebuah perintah yang harus ditaati oleh orang Kristen karena itu adalah anugerah keselamatan dari Allah melalui Kristus. Rekonsiliasi perdamaian dan damai adalah kehendak Allah yang menjadi tujuan orang Kristen dipanggil. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Mat. 5:9) Pertama-tama, ada perdamaian dengan Allah, dan kemudian ada perdamaian antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan seluruh ciptaan.

Renungkan:
Mengapa Allah menganugerahkan keselamatan kepada dunia? Apakah metode yang Allah gunakan untuk menebus kita? Apakah inti dari Injil? Pengharapan dan sukacita apakah yang dapat diberikan oleh kedatangan Yesus Kristus kepada mereka yang menderita?


Renungan Natal

Renungan Natal 2023

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, Renungan Natal 2023 yang dipublikasikan pada bulan Desember 2023 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 2:1-3

「Mati karena dosa」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 2:1-3 [ITB])
1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. 3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Dalam teks bahasa aslinya ketiga ayat ini secara tata bahasa merupakan kalimat yang tidak lengkap, hanya mengandung satu objek langsung (direct object) yakni 「kamu」 dan sederet deskripsi terhadap objek ini. Oleh karena itu, terjemahan Mandarin CUV secara fungsional mencuplik kata kerja di ayat 5 dan menempatkannya di ayat ini dengan harapan dapat mengungkapkan makna kalimat dengan lebih jelas (CUV Kamu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu, Dia menghidupkan kamu). Tetapi ini mengurangi penekanan teks bahasa asli tentang situasi kita sebelum kita percaya kepada Yesus Kristus. Sifat keterpisahan yang ada di sini membuat pembaca dengan lebih jelas dan kuat menghadapi situasi orang percaya sebelum diselamatkan, dan juga menjadi kontras dengan kuasa besar yang dialami orang percaya seperti yang disebutkan di teks di pasal sebelumnya.

Dalam ayat 1 Paulus pertama-tama menunjukkan bahwa keadaan orang sebelum percaya adalah mati. Makna dasar kematian adalah dipisahkan dari kehidupan atau keterpisahan dari orang yang hidup, sedangkan kematian rohani melambangkan keterpisahan dari kehidupan dalam Allah, orang-orang yang belum percaya meskipun masih hidup di dunia, namun mereka menjauh dari rancangan yang diciptakan Allah dan tidak dapat bersekutu dengan Allah.

Paulus menunjukkan bahwa penyebab kematian kita adalah pelanggaran dan dosa kita. pelanggaran (παράπτωμα paraptoma) bisa berarti kegagalan mencapai standar, dan dosa (ἁμαρτία amartia) bisa berarti tersandung atau pengkhianatan terhadap jalan yang benar. Dua kata yang pada dasarnya sinonim digunakan di sini untuk mengungkapkan, bukan untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif, tetapi untuk memperkuat penekanan. Kedua kata ini menunjukkan bahwa ketika seseorang masih hidup dia tidak dapat melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dua kata ini berbentuk jamak, artinya ini tidak merujuk dosa sebagai semacam kekuatan atau sifat manusia, tetapi mengacu pada kejahatan aktual yang dilakukan oleh orang.

Ayat 1 menekankan bahwa kita berada dalam keadaan mati, sedangkan ayat 2 adalah tinjauan tentang cara hidup kita dalam keadaan ini. Kamu hidup di dalamnya mengacu pada gaya hidup, tujuan, dan apa yang ditampilkan oleh kita. Ini bukan untuk mengatakan bahwa sebelum percaya kepada Tuhan, tingkah laku orang itu penuh dengan kejahatan, tetapi bahwa seluruh gaya hidup manusia didominasi oleh kuasa istiadat yang memusuhi Allah, dan mereka hidup di bawah kendali kuasa tersebut.

Di akhir ayat 2, Paulus menunjukkan bahwa kekuatan yang mengendalikan hidup orang-orang yang belum percaya ini adalah roh jahat yang bekerja di hati orang-orang durhaka saat ini. Orang durhaka ini mungkin merujuk pada orang-orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus, karena setelah ini Paulus kembali menggunakan kata ganti orang pertama bentuk jamak dan menunjukkan bahwa kami adalah sama dengan mereka, dahulu sama-sama patut menerima amarah dan hukuman Allah. Di akhir ayat 3, Paulus menggambarkan keadaan yang sepatutnya diterima setiap orang, yakni sama seperti mereka yang lain, kata yang lain (οἱ λοιποί hoi loipoi) ini adalah kata yang digunakan oleh orang Yahudi untuk menggambarkan orang non Yahudi, dengan makna diskriminatif, tetapi di sini digunakan untuk menunjukkan keadaan yang sama yang akan diterima oleh orang Yahudi dan orang non Yahudi dalam dosa mereka.

Penyampaian Paulus secara sederhana ini dapat dikatakan merupakan rangkuman surat Roma pasal 1 – 3, menunjukkan bahwa dunia telah berdosa dan tidak memuliakan Allah, di dalamnya termasuk orang Yahudi dan orang non Yahudi, tidak ada perbedaan, mereka semua sama membutuhkan keselamatan Allah dalam anugerah.

Renungkan:
Semua orang hidup dalam dosa dan di bawah kuasa dosa sebelum mereka percaya kepada Tuhan Yesus, mereka semua tanpa perbedaan sama-sama patut menerima penghakiman Allah.

(Tambahan penerjemah: apa yang patut kita, Anda dan saya lakukan sebagai orang yang sudah percaya, yang sudah menerima anugerah keselamatan dan yang sudah menerima pembenaran pengudusan, yang bukan orang mati lagi?)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.