「Celakalah Kota Penumpah Darah itu!」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Nahum 3:1-7 [ITB])
1 Celakalah kota penumpah darah itu! Seluruhnya dusta belaka, penuh dengan perampasan, dan tidak henti-hentinya penerkaman! 2 Dengar, lecut cambuk dan derak-derik roda! Dengar, kuda lari menderap, dan kereta meloncat-loncat! 3 Pasukan berkuda menyerang, pedang bernyala-nyala dan tombak berkilat-kilat! Banyak yang mati terbunuh dan bangkai bertimbun-timbun! Tidak habis-habisnya mayat-mayat, orang tersandung jatuh pada mayat-mayat! 4 Semuanya karena banyaknya persundalan si perempuan sundal, yang cantik parasnya dan ahli dalam sihir, yang memperdayakan bangsa-bangsa dengan persundalannya dan kaum-kaum dengan sihirnya.
5 Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman TUHAN semesta alam; Aku akan mengangkat ujung kainmu sampai ke mukamu dan akan memperlihatkan auratmu kepada bangsa-bangsa dan kemaluanmu kepada kerajaan-kerajaan. 6 Aku akan melemparkan barang keji ke atasmu, akan menghina engkau dan akan membuat engkau menjadi tontonan. 7 Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata: 「Niniwe sudah rusak! Siapakah yang meratapi dia? Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia?」
Paragraf ini adalah lagu ratapan yang ironis: pertama-tama adalah pengumuman yang bersifat helaan napas sedih, kemudian melanjutkan dengan menunjukkan objek helaan napas berkabung itu dan gugatan terhadapnya, ayat 2-3 menggambarkan bencana yang akan mereka alami, dan ayat 4 sekali lagi menunjukkan alasan hukuman. Terakhir, dalam ayat 5-7, penghakiman TUHAN (Yahweh) disampaikan dalam sebutan orang pertama (“Aku”).
Di sini Niniwe disebut kota penumpah darah, mencerminkan sejarah agresi brutalnya. Gugatan nabi Nahum terhadapnya bukan hanya sekadar tentang penindasan yang dilakukannya, perampasan dan penjarahan, tetapi terlebih menunjukkan bahwa hal-hal ini terus-menerus, membanjir, dan tak ada habisnya, menunjukkan bahwa kejahatan mereka bukan insiden satu peristiwa individual, tetapi tindakan mereka yang berulang. Kota pertumpahan darah, ketika dia sedang kuat, mungkin berpikir dirinya tidak terkalahkan dan semuanya berjalan lancar. Karena penipuan dan perampasan terhadap orang lain, ia bisa kaya untuk sementara waktu. Tetapi di bawah penghakiman yang adil dan benar dari Allah, dia akhirnya tidak bisa menghindari bencana yang akan datang ini.
Penghakiman yang TUHAN akan bawakan kepada mereka adalah persis apa yang mereka lakukan kepada orang lain ketika mereka menjarah dan merampas bangsa-bangsa. Ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah itu adil dan benar. Ayat 3:2-3 menggunakan serangkaian frasa kata benda untuk dengan beruntun dan cepat menyebutkan hal-hal yang akan terjadi pada Niniwe, sehingga pembaca dapat merasakan desakan dan urgensi kedatangan penghakiman itu, tidak dapat melarikan diri tidak dapat menghindar.
Ayat 3:5, TUHAN sekali lagi menggunakan ekspresi yang sama yang digunakan dalam ayat 2:13, dengan wibawa menyatakan bahwa Dia, TUHAN (Tuan) semesta alam, dan Dia akan menyingkapkan penghinaan mereka di depan semua orang, mereka akan dipandang buruk dan ditolak di antara bangsa-bangsa. Di sini kita melihat bahwa mereka yang tidak benar dan menindas tidak hanya telah melanggar manusia, terlebih artinya mereka menentang Allah dan memberontak terhadap hukum yang Allah tuntut di dunia ini. Konsekuensi utama adalah untuk menimbulkan permusuhan dengan Allah. Sampai tahap itu, tidak ada lagi kekuatan yang dapat menolong, tidak ada cara untuk menghindari konsekuensi untuk menerima penghakiman, dan tidak ada yang akan bersimpati kepadanya.
Dalam kalimat terakhir dari ayat 3:7, nabi Nahum berkeluh menyampaikan pertanyaan ironis: 「Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia?」 Penghiburan adalah arti nama Nahum. Dalam kitab Nahum, Yehuda yang diinvasi oleh Niniwe dapat melihat hari-hari penghiburan. Tetapi sang agresor tidak dapat menemukan siapa pun untuk menghiburnya ketika dia menerima penghakiman sendiri.
Renungkan:
Kerajaan Asyur dengan Niniwe sebagai ibukotanya adalah bagian dari masa lalu, tetapi sayangnya, insiden penjarahan, perampasan dan kekerasan ini terus berulang dalam sejarah. Ada yang terjadi di tingkat nasional dan suku bangsa, dan banyak terjadi pada individu atau kelompok. Di bawah tekanan-tekanan ini, apakah kita masih percaya pada keadilan Tuhan, percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang anti kejahatan dan yang mengadakan pembalasan, dan bagaimana bisa dihiburkan di dalam Dia?
Renungan pemahaman Kitab Nahum
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.
