Tag Archives: Identitas diri

Yehezkiel 20:10-26

Pemberontak melawan Allah di padang gurun

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 20:10-26 [ITB])
10 Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir dan menuntun mereka ke padang gurun.
11 Di sana Aku memberikan kepada mereka ketetapan-ketetapan-Ku dan memberitahukan peraturan-peraturan-Ku, dan manusia yang melakukannya, akan hidup. 12 Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka menjadi peringatan di antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.
13 Tetapi kaum Israel memberontak terhadap Aku di padang gurun; mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan mereka menolak peraturan-peraturan-Ku, yang, kalau manusia melakukannya, ia akan hidup. Mereka juga melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dengan sangat. Maka Aku bermaksud hendak mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka di padang gurun hendak membinasakan mereka. 14 Tetapi Aku bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa, yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar.
15 Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun, bahwa Aku tidak akan membawa mereka masuk ke tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri, 16 oleh karena mereka menolak peraturan-peraturan-Ku dan tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku; sebab hati mereka mengikuti berhala-berhala mereka. 17 Tetapi Aku merasa sayang melihat mereka, sehingga Aku tidak membinasakannya dan tidak menghabisinya di padang gurun.
18 Maka Aku berkata kepada anak-anak mereka di padang gurun: :Janganlah kamu hidup menurut ketetapan-ketetapan ayahmu dan janganlah berpegang pada peraturan-peraturan mereka dan janganlah menajiskan dirimu dengan berhala-berhala mereka. 19 Akulah TUHAN, Allahmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia, 20 kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.
21 Tetapi anak-anak mereka memberontak terhadap Aku, mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan tidak melakukan peraturan-peraturan-Ku dengan setia, sedang manusia yang melakukannya, akan hidup; mereka juga melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku. Maka Aku bermaksud mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka untuk melampiaskan murka-Ku kepadanya di padang gurun. 22 Tetapi Aku menarik tangan-Ku kembali dan bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar.
23 Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun untuk menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa dan menghamburkan mereka ke semua negeri, 24 oleh karena mereka tidak melakukan peraturan-peraturan-Ku dan menolak ketetapan-ketetapan-Ku dan melanggar kekudusan hari-hari Sabat-Ku dan matanya selalu tertuju kepada berhala-berhala ayah-ayah mereka. 25 Begitulah Aku juga memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik dan peraturan-peraturan, yang karenanya mereka tidak dapat hidup. 26 Aku membiarkan mereka menjadi najis dengan persembahan-persembahan mereka, dalam hal mereka mempersembahkan sebagai korban dalam api semua yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya Kubuat mereka tertegun, agar mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Yehezkiel 20 menjabarkan ulang sejarah Israel, dan perikop hari ini (Yeh. 20:10-26) mencatat sejarah bangsa Israel di padang gurun memberontak melawan Allah, tujuannya adalah agar orang Israel yang satu generasi dengan Yehezkiel mengenali sifat asali mereka adalah pemberontak, dan pemberontakan mereka tidak hanya terjadi di Mesir (Yeh. 20:5-9), tetapi juga terjadi ketika mereka berjalan di padang gurun.

Pertama-tama, kitab suci berkali-kali menunjukkan bahwa dahulu TUHAN memberikan perintah, ketetapan, dan tata cara di padang gurun di masa lalu, dan menjelaskan jika umat itu mematuhinya, mereka dapat hidup (ayat 11, 19), tetapi orang Israel tidak menaati hukum Allah, dan mereka membenci perintah Allah (ayat 13, 16, 21), tidak memelihara hari Sabat sebagai tanda perjanjian (ayat 12, 13, 16, 20, 24), ini menunjukkan bahwa pemberontakan orang Israel adalah sifat asali mereka, dari awal sampai akhir mereka adalah pemberontak. Oleh karena itu, Allah hendak mencurahkan murka-Nya kepada orang-orang ini (ayat 13, 21), tetapi Allah menyayangkan mereka dan tidak menghancurkan mereka (ayat 17). Di sini, kita melihat kemurahan Allah dan pemberontakan umat, Israel memandang rahmat Allah sudah sepatutnya, sebagai keharusan Allah memberikan anugerah, dan mereka tidak merindukan anugerah Allah dan tidak mengingat wajah asli mereka sebagai budak.

Di perikop ini beberapa kali disebutkan Sabat tanda perjanjian (ayat 12, 13, 16, 20, 24), ini mengikuti penjelasan Kej. 31:13 hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu, memelihara Sabat bukan untuk tujuan legalisme, tetapi agar Israel memiliki tata cara penggunaan waktu dalam setiap minggunya, menjalani gaya hidup seperti Allah dalam enam hari bekerja menciptakan dan beristirahat di hari ketujuh, dengan demikian menempatkan orang-orang Israel ke dalam ketertiban harmonis penciptaan. Pada saat yang sama, perjanjian Sinai menggunakan Sabat sebagai tanda perjanjian, memelihara Sabat adalah simbol perwakilan identitas Israel, pengaturan efektif agar orang Israel secara langsung ingat perjanjian. Sampai di Perjanjian baru, orang percaya beribadah di Hari Tuhan (hari Minggu), berpusat pada Kristus untuk memperingati hari kebangkitan Kristus maka dengan demikian menggantikan pemeliharaan hari Sabat dalam Perjanjian Lama. Perikop Kitab Suci berulang kali menyebutkan bahwa orang Israel tidak memelihara hari Sabat, itu menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mengingat identitas dasar mereka dalam perjanjian dengan Allah, sama sekali tidak mengakui identitas penting mereka sebagai umat perjanjian, seolah-olah mereka tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Oleh karena itu, Perikop Kitab Suci berkali-kali mengatakan bahwa orang-orang tidak memelihara hari Sabat, apakah ini hanya berarti bahwa mereka tidak patuh hukum Allah? Bukan sekadar demikian, itu juga menunjukkan bahwa mereka telah sepenuhnya meninggalkan status mereka sebagai umat perjanjian dan telah melupakan keselamatan serta kebaikan TUHAN kepada mereka!

Renungkan:
Mengapa umat Allah memberontak terhadap Allah? Karena mereka tidak menyadari identitas perjanjian mereka sendiri, tetapi juga tidak memandang kepada Allah yang dahulu mengadakan perjanjian dengan sumpah kesetiaan, mereka tidak berupaya mempertahankan identitasnya sendiri. Sebenarnya, kita adalah jenis orang yang bagaimana maka akan memiliki jenis perilaku yang bagaimana, jika kita melupakan identitas kita maka kita akan bertindak melawan Allah. Oleh karena itu, pada saat itu Yehezkiel mengingatkan orang Israel tentang identitas diri mereka adalah umat perjanjian, dan pada saat yang sama mereka juga harus mengenali bahwa mereka dahulu adalah pemberontak. Pengenalan atas siapa diri mereka dahulu dan identitas yang kemudian, itu membuat orang-orang Israel memiliki titik mula kehidupan yang berawal pada diri Allah. Apakah ini juga titik awal Anda?


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yehezkiel 20:5-9

Israel sudah berkhianat sejak di Mesir dahulu

Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yehezkiel 20:5-9 [ITB])
5 dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH:
「Pada hari Aku memilih Israel,
Aku bersumpah kepada keturunan kaum Yakub dan menyatakan diri kepada mereka di tanah Mesir;
Aku bersumpah kepada mereka: Akulah TUHAN Allahmu!
6 Pada hari itu Aku bersumpah kepada mereka untuk membawa mereka dari tanah Mesir ke tanah yang Kupilih baginya, negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri.
7 Dan Aku berkata kepada mereka: Biarlah setiap orang membuangkan dewa-dewanya yang menjijikkan, ke mana ia selalu melihat dan janganlah menajiskan dirimu dengan berhala-berhala Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.
8 Tetapi mereka memberontak terhadap Aku dan tidak mau mendengar kepada-Ku; setiap orang tidak membuangkan dewa-dewanya yang menjijikkan, ke mana ia selalu melihat, dan tidak meninggalkan berhala-berhala Mesir. Maka Aku bermaksud hendak mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka untuk melampiaskan murka-Ku kepadanya di tengah-tengah tanah Mesir. 9 Tetapi Aku bertindak oleh karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa, di mana mereka berada. Di hadapan bangsa-bangsa itu Aku menyatakan diri kepada mereka dalam hal Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Yehezkiel 20 terutama menceritakan ulang sejarah yang dahulu, menggunakan tulisan pendek untuk menggugah ingatan kolektif penting dari orang-orang Israel, agar Israel mengenal hakikat asali diri mereka sendiri, dan sifat kejahatan asali mereka, mirip dengan metode pendekatan Mazmur 106, Claus Westermann menyebutnya re-presentasi sejarah (re-presentation of history), yaitu melalui puisi pendek menceritakan kembali poin utama dari sejarah, memungkinkan pembaca memiliki pemikiran sejarah masa lalu sehingga orang Israel dapat menemukan identitas mereka dalam pengertian sejarah ini.

Renungan hari ini (Yeh. 20:5-9) mengingat ulang sejarah bangsa Israel di perbudakan Mesir, disebutkan bahwa dahulu Allah memilih Israel, bersumpah kepada keturunan kaum Yakub hari (ayat 5), dan bersumpah hendak memimpin orang Israel keluar dari Mesir, memimpin mereka mencapai negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, yakni tanah perjanjian Kanaan, menggenapkan perjanjian Abraham, dan menjelaskan tanah ini adalah tanah yang permai di antara semua negeri (ayat 6). Dua ayat yang pendek ini (ayat 5-6) telah membawa pembaca kembali ke memori kolektif Israel tentang Keluaran dari Mesir, tentang tindakan keselamatan TUHAN memimpin orang Israel keluar dari Mesir, juga untuk mengingatkan pembaca tentang TUHAN menampakkan diri di Gunung Sinai dan mengadakan sumpah perjanjian dengan orang Israel, Israel menjadi umat Allah dan bangsa yang kudus, dimulai dari Gunung Sinai (Kel. 19:1-6). Oleh karena itu, Kitab Yehezkiel sekali lagi membuat bangsa Israel mengingat kembali identitas dasar mereka, jika tanpa pemilihan dari TUHAN, tanpa perjanjian dan keselamatan TUHAN, maka bangsa Israel tidak akan memiliki identitas apapun.

Namun, Kitab Suci menyebutkan bahwa ketika TUHAN menyelamatkan orang Israel dari Mesir, Dia memerintahkan mereka untuk meninggalkan kekejian yang mereka cintai. Kekejian ini adalah berhala Mesir (ayat 7), tetapi orang Israel walau telah mendapat keselamatan dari TUHAN, telah melihat tindakan besar TUHAN, masih menolak untuk benar-benar meninggalkan berhala-berhala ini, maka murka Allah akan dicurahkan pada orang-orang ini (ayat 8), tetapi karena nama-Nya Allah tidak melakukannya (ayat 9). Dengan cara ini, orang Israel sepatutnya mengetahui keselamatan dan perjanjian Allah dengan mereka bukan karena kebaikan dan kebenaran diri mereka, mereka aslinya pada dasarnya adalah pemberontak, di satu sisi mereka menerima keselamatan dari Allah, di sisi lain tidak ingin sepenuhnya meninggalkan berhala, berharap mendayung dua perahu, tetapi sikap hati berganda ini justru penyebab mereka jatuh. Oleh karena itu, Yehezkiel menceritakan ulang sejarah Israel ini, menjelaskan dua poin: (1) anugerah keselamatan dan perjanjian TUHAN tetap tidak berubah, dan identitas orang Israel tergantung pada ini; (2) orang Israel sejak awal pada dasarnya adalah kaum pemberontak, dan telah memiliki kualitas pemberontakan sejak hari pertama keluaran dari Mesir, sehingga identitas mereka sebagai umat pilihan tidak didasarkan pada kebaikan diri orang Israel sendiri.

Renungkan:
Ketika kita menelusuri asal diri kita, kita akan dapat melihat lebih banyak kebenaran tentang hakikat asali diri kita sendiri, sebagaimana kita ada sekarang semua hanya karena anugerah Allah, tidak ada tempat untuk bermegah tentang usaha diri kita. Dahulu Allah memanggil Israel umat pilihan, walau sifat hakikat asli Israel adalah pemberontak, keduanya menunjukkan kasih karunia Allah yang besar dan kedalaman dosa manusia. Jika kita semua mengenali ini, kita dapat belajar untuk rendah hati di masa sekarang, melepaskan kekerasan hati kita sendiri, dan membuka diri untuk dibentuk oleh Allah.


Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Hakim-hakim 19:1-21

「Lewi ── status dan identitas yang kacau」

Oleh Dr. Wong Tin-yat
Alliance Bible Seminary H.K.

(Hak. 19:1-21 [ITB])
1 Terjadilah pada zaman itu, ketika tidak ada raja di Israel, bahwa di balik pegunungan Efraim ada seorang Lewi tinggal sebagai pendatang. Ia mengambil seorang gundik dari Betlehem-Yehuda. 2 Tetapi gundiknya itu berlaku serong terhadap dia dan pergi dari padanya ke rumah ayahnya di Betlehem-Yehuda, lalu tinggal di sana empat bulan lamanya.
3 Berkemaslah suaminya itu, lalu pergi menyusul perempuan itu untuk membujuk dia dan membawanya kembali; bersama-sama dia bujangnya dan sepasang keledai. Ketika perempuan muda itu membawa dia masuk ke rumah ayahnya, dan ketika ayah itu melihat dia, maka bersukacitalah ia mendapatkannya. 4 Mertuanya, ayah perempuan muda itu, tidak membiarkan dia pergi, sehingga ia tinggal tiga hari lamanya pada ayah itu; mereka makan, minum dan bermalam di sana.
5 Tetapi pada hari yang keempat, ketika mereka bangun pagi-pagi dan ketika orang Lewi itu berkemas untuk pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu kepada menantunya: Segarkanlah dirimu dahulu dengan sekerat roti, kemudian bolehlah kamu pergi. 6 Jadi duduklah mereka, lalu makan dan minumlah keduanya bersama-sama. Kata ayah perempuan muda itu kepada laki-laki itu: Baiklah putuskan untuk tinggal bermalam dan biarlah hatimu gembira. 7 Tetapi ketika orang itu bangun untuk pergi juga, mertuanya itu mendesaknya, sehingga ia tinggal pula di sana bermalam.
8 Pada hari yang kelima, ketika ia bangun pagi-pagi untuk pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu: Mari, segarkanlah dirimu dahulu, dan tinggallah sebentar lagi, sampai matahari surut. Lalu makanlah mereka keduanya. 9 Ketika orang itu bangun untuk pergi, bersama dengan gundiknya dan bujangnya, berkatalah mertuanya, ayah perempuan muda itu, kepadanya: Lihatlah, matahari telah mulai turun menjelang petang; baiklah tinggal bermalam, lihat, matahari hampir terbenam, tinggallah di sini bermalam dan biarlah hatimu gembira; maka besok kamu dapat bangun pagi-pagi untuk berjalan dan pulang ke rumahmu. 10 Tetapi orang itu tidak mau tinggal bermalam; ia berkemas, lalu pergi.
Demikian sampailah ia di daerah yang berhadapan dengan Yebus — itulah Yerusalem; bersama-sama dengan dia ada sepasang keledai yang berpelana dan gundiknya juga. 11 Ketika mereka dekat ke Yebus dan ketika matahari telah sangat rendah, berkatalah bujang itu kepada tuannya: Marilah kita singgah di kota orang Yebus ini dan bermalam di situ. 12 Tetapi tuannya menjawabnya: Kita tidak akan singgah di kota asing yang bukan kepunyaan orang Israel, tetapi kita akan berjalan terus sampai ke Gibea. 13 Lagi katanya kepada bujangnya: Marilah kita berjalan sampai ke salah satu tempat yang di sana dan bermalam di Gibea atau di Rama.
14 Lalu berjalanlah mereka melanjutkan perjalanannya, dan matahari terbenam, ketika mereka dekat Gibea kepunyaan suku Benyamin. 15 Sebab itu singgahlah mereka di Gibea, lalu masuk untuk bermalam di situ, dan setelah sampai, duduklah mereka di tanah lapang kota. Tetapi tidak ada seorangpun yang mengajak mereka ke rumah untuk bermalam.
16 Tetapi datanglah pada malam itu seorang tua, yang pulang dari pekerjaannya di ladang. Orang itu berasal dari pegunungan Efraim dan tinggal di Gibea sebagai pendatang, tetapi penduduk tempat itu adalah orang Benyamin. 17 Ketika ia mengangkat mukanya dan melihat orang yang dalam perjalanan itu di tanah lapang kota, berkatalah orang tua itu: Ke manakah engkau pergi dan dari manakah engkau datang? 18 Jawabnya kepadanya: Kami sedang dalam perjalanan dari Betlehem-Yehuda ke balik pegunungan Efraim. Dari sanalah aku berasal; aku tadinya pergi ke Betlehem-Yehuda dan sekarang sedang berjalan pulang ke rumah. Tetapi tidak ada orang yang mengajak aku ke rumahnya, 19 walaupun ada padaku jerami dan makanan untuk keledai kami, pula roti dan anggur untuk aku sendiri, untuk hambamu perempuan ini dan untuk bujang yang bersama-sama dengan hambamu ini; kami tidak kekurangan sesuatu. 20 Lalu berkatalah orang tua itu: Jangan kuatir! Segala yang engkau perlukan biarlah aku yang menanggung, tetapi janganlah engkau bermalam di tanah lapang kota ini. 21 Sesudah itu dibawanyalah dia masuk ke rumahnya, lalu keledai-keledai diberinya makan; maka merekapun membasuh kaki, makan dan minum.

Perikop ini mencatat kisah keluarga seorang Lewi yang tinggal di balik pegunungan Efraim (ayat 1). Kisah ini sangat istimewa. Mengapa demikian? Mengenai orang Lewi ini, Alkitab tidak mencatat namanya (bahkan gundik yang marah kepada suaminya ini juga tidak dicatat namanya), dan keseluruhan peristiwa tidak ada hubungannya dengan kewajiban agama imam Lewi. Sebaliknya, itu adalah deskripsi dari peristiwa kehidupan pribadi. Ayat 2 mencatat bahwa gundiknya kembali ke rumah ayahnya selama empat bulan, dan kemudian barulah imam Lewi itu pergi ke rumah ayahnya dan membujuknya untuk kembali (ayat 3) Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa ini adalah plot gambaran yang samar yang sengaja ditinggalkan oleh penulis 《Kitab Hakim-hakim》, untuk memberikan lebih banyak ruang bagi pembaca untuk membayangkannya. Terlebih lagi, penulis Alkitab berulang kali dalam ayat 1 dan 2 menyebutkan Betlehem-Yehuda sebenarnya bermaksud untuk menyiratkan bahwa orang Lewi karena terganggu urusan lain sehingga mengabaikan tanggung jawabnya dan tidak fokus pada tugasnya. Jadi meskipun marah adalah gundik tersebut, tetapi menurut uraian tempat dan identitas orang Lewi ini, sebenarnya dia dan gundiknya harus memikul tanggung jawab yang sama.

Ayat 3 membujuk adalah menggunakan kata-kata yang baik untuk membujuk dia agar kembali (terjemahan Studium Biblicum: menghiburnya dan membujuknya untuk kembali; terjemahan Lu Zhenzhong: menggunakan kata-kata yang baik untuk menyentuh hatinya untuk memanggilnya kembali), ada peneliti yang berpendapat: mungkin dia tidak melakukan kejahatan nyata, bahkan ketika orang Lewi pergi ke rumah ayah gundiknya, ayat 3-8 mencatat bahwa dia makan, minum dengan santai di rumah ayah gundiknya dan bukan dengan ketegangan.

Setelah empat hari makan, minum dan bergembira, pada hari kelima, orang Lewi itu dengan tegas hendak pulang. Namun, ketika bujangnya mengusulkan untuk menginap di Yebus, orang Lewi itu menolaknya dan mengajukan Gibea?

Yebus adalah Yerusalem (ayat 10); tanah ini awalnya milik suku Benyamin, tetapi mereka tidak dapat merebut tanah ini, sehingga pada waktu itu ditempati oleh orang Yebus. Karena tidak ingin tinggal di antara orang asing, maka mereka memilih untuk bermalam di Gibea, yang merupakan kota orang-orang Benyamin.

Catatan Alkitab sangat istimewa; ketika orang Lewi dan kelompok mereka memasuki Gibea, mengira bahwa kota orang Israel akan menyambut mereka dengan hangat, ayat 15 mengatakan: Mereka duduklah mereka di tanah lapang kota. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengajak mereka ke rumah untuk bermalam.Mungkin ketika kita membaca sampai ayat 22, kita akan merasakan bahaya dari kota ini ── kerusakan moral, bahaya mengintai dari empat penjuru! Tidak heran jika tidak ada yang berani berada di jalan setelah gelap, apalagi untuk menerima orang asing di rumah!

Untungnya, mereka bertemu dengan seorang yang ramah, bahkan lelaki tua itu berasal dari kampung halaman yang sama dengannya (pegunungan Efraim). Namun, kalimat lelaki tua ini: … janganlah engkau bermalam di tanah lapang kota ini (ayat 20), mungkin juga menegaskan betapa berbahayanya kota itu!

Renungkan:
Seorang Lewi yang sama sekali telah menyimpang dari tugasnya, tampaknya mirip dengan kisah Simson ── menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan identitasnya! Bisa dilihat dari hal ini, bagaimana situasi orang Israel saat itu? Ketika kita membaca catatan kisah ini lagi, apa yang mengingatkan kita sebagai umat Allah agar menjalani kehidupan yang sesuai dengan jati dirinya?

Apalagi di era tanpa raja, orang tua ini telah menunjukkan kepada kita bahwa masih ada kehidupan yang indah, hal ini mengingatkan apa kepada kita?


Renungan pemahaman Kitab Hakim-hakim

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Hakim-hakim ditulis oleh Dr. Wong Tin-yat (黃天逸) dipublikasi pada bulan April 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yohanes 1:40

「Murid tidak bernama itu」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:40 [ITB])
40 Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.

Di ayat ini tiba-tiba terjadi perubahan, penulis Injil Yohanes tiba-tiba memperkenalkan salah satu dari dua murid ini — Andreas. Urutan kata-kata dalam teks asli sebenarnya dibalik:
– Andreas
– saudara Simon Petrus
– mendengar Yohanes dan mengikuti Yesus dua orang (salah satunya)

Oleh karena itu, penulis Injil Yohanes di bagian awal ayat ini dengan konkret memperkenalkan tokoh orangnya — Andreas dan berikutnya Simon Petrus yang akan muncul kemudian. Jelas bahwa para pembaca mula-mula Injil Yohanes lebih mengenal Simon Petrus, sehingga penulis menyebut Andreas sebagai saudara Simon Petrus. Injil Yohanes adalah Injil yang dituliskan belakangan, maka nama Simon Petrus sudah tidak asing lagi, bahkan, fokus ayat 41-42 juga dialihkan ke dialog antara Yesus dan Petrus. Andreas yang dahulu adalah murid Yohanes Pembaptis, tinggal bersama Yesus selama satu malam, di sini menjadi saksi yang menceritakan tentang Yesus kepada Petrus.

Pengaturan ini sangat istimewa. Kedua murid Yohanes Pembaptis yang muncul lebih dahulu ternyata hanyalah pembuka dari kisah pertobatan Petrus, yang sebenarnya hendak diperkenalkan adalah pertemuan antara Petrus dan Yesus. Faktanya, Andreas hanya memiliki dua kesempatan disebutkan kembali dalam Injil Yohanes (6:7; 12:22). Sebaliknya, Petrus jelas berperan penting dalam Injil Yohanes (6:68; 13:5-9; 13:24; 13:36-37; 18:10-11; 18:15-18; 18:25-27; 20:1-6; 21:2-21).

Namun, Anda mungkin menemukan dan bertanya: Jadi, bagaimana dengan murid Yohanes Pembaptis yang satunya lagi? Dengan kata lain, dia yang juga adalah murid Yohanes di masa lalu bersama dengan Andreas, dia juga mendengar kesaksian Yohanes dan mengikuti Yesus, dia juga ikut bertanya kepada Yesus, Rabi, di manakah Engkau tinggal? Ya, Anda menemukan bahwa murid satunya yang bersama-sama Andreas itu juga dipanggil oleh Yesus Marilah dan kamu akan melihatnya!, ia juga tinggal bersama-Nya satu malam, ternyata namanya tidak disebutkan dan tidak dicatat. Bahkan, tidak pernah disebut-sebutkan hal-hal tentang dirinya.

Siapa dia? Siapa namanya? Apakah ada lagi yang dia lakukan? Kita tidak tahu. Banyak pembaca Alkitab yang mengabaikan keberadaannya, bahkan para sarjana peneliti Alkitab tidak secara spesifik menyebutkan murid ini. Namun, dia benar-benar pengikut Yesus yang sejati, dan terlebih lagi dia adalah orang yang mengetahui dan melihat Yesus. Dia mengenal Yesus dan Yesus mengenal dia.

Renungkan:
Mungkin bagi sebagian orang, nama adalah hal yang lebih penting. Misalnya, Petrus jelas merupakan nama yang penting untuk gereja mula-mula. Andreas, sebagai saudara yang membawa Petrus kepada Tuhan, juga merupakan nama yang penting. Saudara dan saudari, untuk siapa nama Anda penting? Namun, bagaimanapun, bagi Yesus, Dia tahu setiap nama dan Dia mengenal semua. (Karena Dia adalah Allah. Jangan berharap itu kepada manusia.)


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:21-22

「「Elia」, 「Nabi」 Sudah Berubah Makna」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:21-22 [ITB])
21 Lalu mereka bertanya kepadanya: Kalau begitu, siapakah engkau? Elia? Dan ia menjawab: Bukan! Engkaukah nabi yang akan datang? Dan ia menjawab: Bukan!
22 Maka kata mereka kepadanya: Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?

Yohanes berkata, aku bukan Mesias. Pengenalan diri dengan kalimat negatif ini tampaknya menarik lebih banyak pertanyaan dari para imam dan orang Lewi: Siapakah kamu? Apakah kamu Elia? Apakah kamu nabi itu? Tentu saja, jawaban Yohanes untuk dua pertanyaan ini adalah tidak: Saya bukan atau Bukan. Namun, kedua jawaban kalimat negatif ini berbeda dengan aku bukan Mesias. Keduanya adalah tanggapan pasif dari Yohanes Pembaptis – jawaban atas dua pertanyaan para imam dan orang Lewi.

Hari ini, mari kita renungkan dua pertanyaan ini bersama-sama: Jadi, siapa kamu? Apakah Elia? Apakah nabi itu?

Nada dan sikap seperti apa yang diajukan oleh para imam dan orang Lewi dalam dua pertanyaan ini?

Tentu saja, menurut catatan kitab Maleakhi, Elia dianggap sebagai orang yang muncul sebelum kedatangan Mesias (Maleakhi 4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu). Namun, apakah para imam dan orang Lewi merasa bahwa Yohanes Pembaptis adalah Elia? Kita tidak bisa memastikan. Bahkan kita punya alasan bahwa kedatangan para imam dan orang Lewi tersebut, dengan serangkaian pertanyaan yang mereka ajukan kepada Yohanes Pembaptis sebenarnya demi kekuasaan dan kepentingan keagamaan mereka sendiri.

Jangan lupa, kedua kelompok ini adalah orang-orang yang diutus dari Yerusalem. Mereka semua datang dari Yerusalem dengan membawa tugas — di satu sisi untuk menentukan jati diri Yohanes Pembaptis, di sisi lain, untuk memastikan tidak ada yang mengganggu tatanan agama yang ada saat itu. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa pertanyaan mereka membawa unsur penghinaan. Siapa kamu? Elia? artinya Apakah kamu pikir kamu adalah Elia?, Apakah kamu seorang nabi? artinya Apakah kamu pikir kamu adalah seorang nabi?

Renungan ini tidak membahas motif dan nada bicara kedua kelompok orang ini, tapi apa pendapat mereka tentang kata Elia dan nabi.

Bagi para imam dan orang Lewi, Elia dan nabi adalah status religius. Sebenarnya, Elia dan nabi hanyalah dua nama: Elia adalah nama seorang nabi masa lalu, nabi adalah seseorang yang memberitakan Firman Tuhan kepada orang lain. Akan tetapi, di kesempatan ini, bagi para imam dan orang Lewi, istilah Elia dan nabi menjadi sangat rumit dan bahkan berubah makna.

Di balik kata-kata Elia dan nabi, mereka melambangkan kekuatan agama dan bahkan kepedulian terhadap tatanan politik agama. Untuk kelompok umat beragama ini, nabi mewakili hak untuk berbicara tentang agama – penampilan Yohanes Pembaptis yang berkhotbah dengan keras di padang gurun menyerang dan melanggar hak berbicara ini. Bahkan pada saat itu, bahkan kata imam dan orang Lewi telah berubah makna.

Oleh karena itu, Yohanes Pembaptis sebenarnya tanpa disadari terlibat dalam permainan kekuasaan agama.

Renungkan:
Inilah keadaan yang gereja sering temui hari ini: seorang pendeta yang dihormati, seorang profesor seminari yang dihormati, seorang diaken yang memegang kendali kekuasaan. Jangan lupa bahwa pendeta sebenarnya adalah orang-orang yang menggembalakan orang; profesor sekolah teologi hanyalah orang-orang yang mengajar teologi di seminari; diaken sebenarnya adalah pelayan gereja. Seiring waktu, kata-kata seperti pendeta, profesor, dan diaken telah menjadi simbol kekuasaan. Inilah yang perlu kita renungkan. Seperti yang dikatakan kemarin: aku bukan Mesias, kita bukan Mesias.


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yohanes 1:20

「Aku bukan Mesias」
Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 1:20 [ITB])
20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: Aku bukan Mesias.

Jawaban Yohanes ternyata kalimat negatif, aku bukan Mesias.

Terhadap pertanyaan orang lain, Yohanes dengan tegas menjawab dengan kalimat negatif. Ini adalah perkenalan Yohanes atas dirinya. Aku bukan, ini adalah semacam negative theology / Apophatic theology. Apa yang disebutkan teologi negatif adalah terkait pandangan bahwa Tuhan yang tidak dapat diungkapkan secara keseluruhan secara sempurna, orang dapat menggunakan kalimat negatif untuk mencoba menggambarkan Tuhan yang tidak dapat diungkapkan, sebagai Tuhan bukan ini dan Tuhan bukan itu (misal: Tuhan tidak jahat, Tuhan tidak berdosa, dll.)

Setiap deskripsi positif tentang Tuhan adalah sia-sia, dan tidak dapat benar-benar menggambarkan Tuhan yang sesungguhnya. Kita mengatakan bahwa Tuhan itu besar, Tuhan adalah kasih, Tuhan adalah kemuliaan, agung, baik, namun itu adalah kata-kata manusia, tetapi itu tidak cukup untuk benar-benar menggambarkan kebesaran, kebaikan dan kemuliaan, kata-kata itu hanya bisa sebagai penggambaran dengan ketidakcukupan yang tak terbatas, dan tidak bisa benar-benar menjelaskan Tuhan sendiri secara sejati. Oleh karena itu, cara untuk lebih dekat dengan kebenaran / menghindari kesalahan adalah dengan cara negativa / via negativa — Tuhan bukan ini dan Tuhan bukan itu.

Oleh karena itu, Yohanes hanya dapat menyebut dirinya sendiri aku bukan Mesias — dengan kata bukan itu sungguh menyatakan diri Yohanes adalah. Yohanes hanya memiliki satu misi dalam hidupnya, yaitu menjadi saksi Kristus. Sepanjang hidupnya, dia tanpa henti telah menyaksikan dan menjelaskan Kristus adalah dan lakukan. Namun, menurut Injil Yohanes, kesaksian pertama yang dia sampaikan kepada dunia ternyata adalah kalimat negatif! Aku bukan Mesias.

Aku bukan Mesias. Ini sungguh adalah kesaksian pertama dari setiap saksi Kristus.

Ini bukan hanya kesaksian kepada dunia, tetapi juga kesaksian kepada sang saksi dirinya sendiri. Yohanes berkata pada dirinya sendiri: Aku bukan Mesias. Ini adalah kewaspadaan diri dari sang saksi! Yohanes bukanlah Kristus, atau juru bicara Kristus — hanya titik awal dari semua kesaksiannya dalam hidup. Tentu saja, Yohanes mengenal Kristus. Jika tidak, dia tidak dapat menyaksikan Kristus. Namun, Yohanes bukan menguasai, menyerap dan memiliki seluruh diri Kristus, barulah kemudian melakukan pekerjaan pemberitaan dan kesaksian tentang Kristus. Tidak. Masih ada celah tak terbatas antara dia dan Kristus. Dia bersaksi untuk Kristus — dia hanya bisa bersaksi walau dalam celah yang lebar.

Aku bukan Mesias. Penyangkalan diri semacam ini secara paradoks telah menjadi titik awal untuk kesaksian sejati tentang Kristus!

Renungkan:
Saudara dan saudari, siapa Anda? Anda bukan Kristus. Ini adalah kalimat pertama dari kesaksian kita. Mungkin di gereja, Anda disebut pemimpin gereja, tua-tua rohani, pengkhotbah, diaken, pemimpin penyembahan, dll. Namun, kesaksian kita dimulai dengan bukan, bukan aku. Kata bukan ini adalah awal dari kesaksian tentang Yesus Kristus.


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 1:19-51

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 1:19-51 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan September 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 3:20-21

「Warga Sorga」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 3:20-21 [ITB])
20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

Ayat 20 dimulai dengan kita (milik kita), tetapi dalam bahasa aslinya dimulainya ayat ini dengan kata ganti kepemilikan membentuk kontras dengan mereka (milik mereka) pada paragraf sebelumnya (ayat 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi), memiliki fungsi penekanan, agar pembaca menghargai perbedaan antara status orang percaya dan tidak percaya.

Bagi orang percaya Filipi, identitas kewarganegaraan adalah hal yang lazim dan penting. Dalam Kis. 16:12, Filipi digambarkan sebagai kota penting di Makedonia dan sebuah garnisun Romawi tempat pertahanan yang tetap. Sebagian besar terjemahan bahasa Inggris menerjemahkannya menjadi koloni (ITB suatu kota perantauan orang Roma). Terjemahan ini tidak sepenuhnya tepat, terutama karena koloni modern sangat berbeda dari koloni Romawi. Kota ini bukan hanya tempat untuk garnisun, tetapi penduduk lokal yang penting akan memiliki status warga negara Romawi, tempat di mana kedaulatan dan budaya Romawi dipraktikkan di luar Roma. Dalam Kis. 16:21, orang-orang Filipi non Kristen menuduh Paulus mengajarkan adat istiadat, tidak bisa diterima atau dituruti oleh mereka sebagai orang Romawi, dengan jelas mencerminkan bagaimana mereka sangat menghargai status mereka sebagai orang Romawi. Orang-orang Filipi menjadi warga negara Romawi, bukan karena mereka berasal dari Roma, bahkan mungkin tidak pernah ke Roma selama hidup mereka, tetapi mereka memiliki status dan hak yang sama dengan orang-orang Romawi.

Paulus menggunakan konsep yang lazim mereka kenal baik ini untuk menunjukkan bahwa orang percaya adalah warga negara surgawi. Meskipun kita hidup di bumi, dibatasi oleh lingkungan kita dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya, tetapi kita dapat memiliki kualitas hidup yang transenden, karena kita bukan hanya penghuni bumi, tetapi juga warga Sorga, mewakili kerajaan Allah membawakan kesaksian dan menyatakan kehidupan kerajaan Sorga kepada mereka yang ada di dunia.

Bagi orang Filipi, kewarganegaraan Romawi mereka adalah karena kemenangan Caesar Agustus di tempat ini pada tahun 42 dan 31 SM, demi mengukuhkan dominasinya di Kekaisaran Romawi, maka menjadikan Filipi sebagai daerah khusus di bawah pemerintahan Romawi, bahkan menambahkan namanya ke mata uang yang dipakai di kota itu. Tetapi kita sebagai orang-orang percaya menjadi warga surgawi, tidak hanya karena kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian di masa lalu, menggenapkan penebusan, tetapi juga janji kedatangan-Nya kembali, oleh karena itu, warga surgawi adalah identitas yang yang memiliki pengharapan, sedang menunggu Yesus Kristus Juruselamat datang dari Sorga, dan menunggu Dia dengan kuasa yang dapat membawa segala sesuatu menjadi tunduk di bawah nama-Nya, membawakan kepada kita tubuh kebangkitan menyerupai tubuh kemuliaan-Nya. Kita karena memiliki harapan ini, sehingga dalam kehidupan hari ini, kita dapat menghadapi tantangan dan menjalani kehidupan yang sepadan dengan iman Injil.

Renungkan:

Kita perlu menghargai identitas kita sebagai orang Kristen, menghidupi harapan, dan menjadi saksi kepada generasi ini.


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 21:5-11

「Menggantikan yang tidak bisa digantikan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 21:5-11 [ITB])
5 Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: 6 Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.
7 Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?
8 Jawab-Nya: Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. 9 Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.
10 Ia berkata kepada mereka: Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, 11 dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.

Bagi orang Yahudi abad pertama, pemujaan di Bait Suci adalah ritual agama yang penting. Ini secara garis besar mencakup fokus Yudaisme, mempersembahkan korban di Bait Suci, menjadi bahasa bersama dan kehidupan seluruh bangsa. Terutama setelah raja Zedekia ditawan dan Bait Suci dihancurkan, sampai Herodes Agung mulai membangun kembali Bait Suci ini tahun 19 S.M (bermotivasi menggunakannya untuk mendapatkan lebih banyak kepercayaan orang Yahudi terhadap dia, demi mengukuhkan pemerintahannya). Lebih dari 50 tahun kemudian, pada saat Yesus keluar untuk mengabarkan Injil, Bait Suci yang indah gemerlapan ini menjadi fokus diskusi orang banyak, tetapi perikop ini justru sebaliknya membahas Bait Suci dari perspektif anti kultus-Bait Suci (anti-temple cult), (kultus adalah totalitas praktik dan ketaatan keagamaan yang bersifat eksternal, berbentuk pola adat ritual)

Di awal perikop, telah berbicara tentang keindahan dan kebaruan Bait Suci, dengan dukungan keluarga Herodes Agung selama lebih dari 50 tahun, Bait Suci ini lebih megah daripada yang didirikan Salomo. Menurut catatan Josephus, batu indah yang disebutkan itu sangat besar, volumenya 12 meter × 4 meter × 6 meter (lih. sejarah kuno Yahudi, Ant. 15.392). Oleh karena itu, bagi rakyat yang menyaksikan rekonstruksi pembangunan kembali Bait Suci ini, pada dasarnya ini adalah mukjizat, bukti Allah beserta umat-Nya. Dari kehancuran Bait Suci ratusan tahun yang lalu hingga penampilan megah luar biasa hari ini, Bait Suci secara alami menjadi penanda identitas (identity marker) bagi mereka. Bagi orang-orang Yahudi bahwa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Bait Suci adalah kebenaran yang seharusnya dilakukan (Bait Suci adalah penanda identitas, merupakan pusat kehidupan keagamaan mereka).

Tetapi ketika Yesus berkata bahwa saatnya akan tiba, satu batu pun tidak dibiarkan terletak di atas batu lain, dapat kita bayangkan bagaimana reaksi umat itu. Mereka akan berpikir bahwa Yesus adalah orang gila, bagaimana mungkin Yesus yang sepertinya adalah seorang Raja Mesias, bisa mengucapkan kata-kata yang demikian?

Jelas, kehadiran Yesus adalah untuk menggantikan Bait Suci (anti kultus-Bait Suci / anti-temple cult) dengan keselamatan yang Ia genapkan sendiri. Jika orang-orang tidak dapat dilepaskan dari berhala bait suci, mereka sama sekali tidak akan memiliki ruang untuk menempatkan Yesus di dalam hati mereka. Jadi dalam pasal pertama Injil Lukas, Zakharia yang kelihatannya seperti orang benar, melayani dengan setia di Bait Suci. Orang ini di Bait Suci yang tampaknya sepatutnya menemukan kesalehan dan kepatuhan menanggapi panggilan Allah, tetapi ternyata … Dan catatan Injil Lukas tersebut juga menggunakan gaya penulisan tipikal anti kultus-Bait Suci (anti-temple cult). Tujuannya adalah untuk membuat orang merenungkannya: Mengapa Zakharia tidak percaya? Para pemimpin agama itu hanya peduli memperebutkan kekuasaan dan keuntungan, tetapi keselamatan sejati digenapkan di luar Bait Suci, di bukit Golgota.

Renungkan:

Yesus kemudian mengklarifikasi bahwa pada hari-hari terakhir, ada banyak kekacauan serta perubahan politik dan lingkungan, tetapi jangan secara membabi buta atau tanpa pandang bulu percaya bahwa Mesias yang sebenarnya ada di sana. Karena yang akan datang, itu sungguh tepat ada di depan mata.

Ya, tidak mudah untuk melepaskan budaya bait suci yang banyak variasi perubahan dan memberikan banyak rangsangan. Tetapi betapa sulitnya teguh berpegang pada keselamatan kekal yang tidak pernah berubah.

Apakah hal-hal segar dan menarik selalu menarik perhatian mata saya?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa beaya.

Efesus 3:14-21

「Allah Penentu Tempat Keberadaan Kita」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 3:14-21 [ITB])
14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Dua doa syafaat Paulus untuk jemaat Efesus, yang pertama berdoa untuk pengetahuan, dan yang kedua berdoa untuk pengalaman. Ini adalah yang juga kita kejar bersama, dan juga merupakan kehendak Kristus bagi kita: untuk mengenal Kristus lebih mendalam dan untuk mengalami Dia lebih mendalam. Pertama mengetahui, kemudian mengalami; Lebih dahulu adalah pengetahuan tentang Allah (knowledge about God), dan kemudian secara langsung tangan pertama mengenal Allah (knowing God) tanpa perantaraan orang lain. Pengetahuan dan pengalaman yang tidak saling eksklusif bertentangan.

Paulus berlutut di hadapan Bapa untuk berdoa. Tetapi sebelum menyebutkan isi doa tersebut, ia tiba-tiba terpikir harus lebih dahulu bahwa dia harus menjelaskan kepada orang percaya bagaimanakah Allah yang kepada-Nya dia berdoa.

Ide kita tentang bagaimanakah Allah itu, sering mempengaruhi isi dari doa yang kita naikkan kepada-Nya. Saya tidak akan berbicara dengan ibu saya tentang ilmu pengetahuan alam atau berita sosial, karena dia tidak tertarik hal ini, memaksa dia mendengarkan saya, hanya membuat kedua pihak kehilangan arti. Terhadap Tuhan juga demikian, betapa besar Allah kita, dan seberapa luas dan lebar doa-doa kita; Seberapa dekat relasi Allah dengan kehidupan sehari-hari kita maka seberapa realistis isi doa-doa kita.

Paulus memperkenalkan Allah yang ada dalam hatinya: 「yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya」 (Ef. 3:15) 「Turunan」 adalah merujuk kepada sebuah keluarga besar (suku), bukan keluarga inti, yang mungkin merupakan unit antara bangsa dan keluarga, Alkitab sering mengatakan (suku) keturunan Yakub, keturunan Yusuf, keturunan Daud. Hari ini kita hanya dapat mengatakan bahwa 「turunan (keturunan)」 mewakili komunitas dan kelompok orang. Tentang 「semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi」, tidak hanya mencakup orang Yahudi dan bangsa non Yahudi, Paulus terlebih berpikir mencakup malaikat dan berbagai kekuatan dunia rohani, singkatnya semua makhluk ciptaan dari semua jenis dan kelompok (Ef. 1:21-22).

Semua kelompok-kelompok ini mendapatkan nama dari Allah Bapa. Allah saat menciptakan semua, diberikan nama yang berbeda. Dalam tradisi Alkitab, penamaan tidak hanya sekedar memberikan nama, tetapi juga mendefinisikan sebuah hubungan, memberikan identitas, menganugerahkan fungsi dan misi tugas, sama seperti Allah di Perjanjian Lama memberi Yakub nama sebagai Israel, dan dalam Perjanjian Baru Yesus memberi Simon nama sebagai Peter. Memakai bahasa hari ini, istilah 「mendapat nama」 adalah sama dengan penempatan posisi (positioning).

Segala sesuatu di langit dan di bumi, semua yang masing-masing kelompok yang berbeda memiliki tempat yang unik dari Allah; Mereka memiliki fungsi berbeda di alam semesta, dan ketika Allah menciptakan mereka, membuat mereka berbeda kelas mereka sendiri-sendiri, membuat mereka berbeda dari makhluk lainnya, dan misi terbesar mereka adalah untuk menjalankan fungsi khusus mereka yang unik dan memainkan peran mereka sendiri, 「dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.」

Allah adalah Tuhan yang memberikan nama kepada kita. Bagi setiap orang, ketika Allah menciptakan kita, sudah ditentukan sebuah identitas unik, posisi dan misi untuk masing-masing diri kita, saya punya perbedaan dengan Anda. Dan juga menemukan alasan keberadaan hidup kita, untuk menentukan kemungkinan terbesar dalam kehidupan kita. Paulus pertama-tama menekankan bahwa Allah memiliki hubungan pemberian nama dengan kita. Kita mendapatkan nama dari Tuhan, yang berarti bahwa kita menghadapi masa depan kita yang berasal dari Allah, mengalami cita-cita tujuan yang kita harus kejar, dan arah jerih payah kehidupan kita. Yesus Kristus bukan hanya masa lalu kita, tetapi juga masa depan kita.

Dengan menjalin relasi saya dengan Allah, maka Allah Pencipta langit dan bumi menjadi 「Allah Liáng Jiā Lín (atau nama Anda)」, sama seperti Dia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub. Saya mendapati menemukan diri saya di dalam Tuhan, dan diri saya menjadi 「Liáng Jiā Lín dalam mata Allah」 (atau nama Anda dalam mata Allah). Saya bukan 「saya」 yang sama lagi yang dahulu.

Allah tidak hanya memberi hidup kepada orang, tetapi juga memberi makna hidup bagi kehidupan orang, dan tujuan ideal untuk direalisasikan di masa depan. Ia adalah Allah yang memberi nama dan posisi diri.

Berharga untuk disebutkan: dalam Surat Efesus, Paulus sering mempersandingkan individu dan kelompok, menonjolkan sifat kontradiktif dan koeksistensi dari hubungan mereka. Pasal 1 terlebih dahulu berbicara tentang pemilihan Allah dan keselamatan Allah pada diri kita (bersifat masing-masing individu), lalu kemudian menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan kita adalah supaya kita menjadi bagian dari rencana Kristus, menjadi bagian dari tubuh Kristus (bersifat kolektif / komunitas). Di perikop ini menekankan tentang Allah telah memberikan nama dan posisi kepada masing-masing dari kita (bersifat masing-masing individu), dan kemudian meminta kita bersama dengan semua orang kudus untuk memahami kasih Kristus (bersifat kolektif). Kita masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi justru juga berbagi dengan orang lain bersama merenungkan kasih yang tak ternilai besar yang tidak bisa diabaikan itu telah diterima setiap individu.

Dalam pasal ke-4, Paulus juga mengatakan bahwa kita masing-masing menerima karunia (individu), tetapi karunia ini harus diterapkan di dalam gereja, untuk menyempurnakan orang-orang kudus, untuk membangun tubuh Kristus (kolektif).

Renungkan:

1. Apakah Anda percaya bahwa pemilihan Allah dan keselamatan-Nya bagi Anda membuat Anda orang yang unik? Menurut Anda, di mana perbedaan Anda tidak sama dengan orang lain?

2. Jika hari hidup Anda akan berakhir, apakah Anda pikir ada yang harus dilakukan sehingga membuat Anda bisa meninggalkan tanpa menyesal?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Kolose 1:1-2

「Surat kepada saudara-saudara dalam Kristus 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 1:1-2 [ITB])
1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita, 2 kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu.

Saat menuliskan surat Kolose, Paulus sedang dalam penjara (Kol. 4:3, 8,10, 18). Di manakah ia dipenjara saat itu? Para peneliti memberikan tiga kemungkinan yakni: Kaisarea, Efesus, atau Roma. Secara tradisi kita melihat bahwa kemungkinan terbesar adalah di Roma, maka surat ini seharusnya selesai dituliskan sekitar tahun 60 A.D.

Satu hal yang pasti, jemaat Kolose bukan didirikan oleh Paulus. Kolose adalah sebuah kota kecil yang berada di Phrygia yang terletak di Asia Kecil. Para peneliti menunjukkan bahwa nilai strategis kota Kolose tidak dapat dibandingkan dua kota besar lain yakni Efesus dan Laodikia. Dari isi surat dapat kita lihat bahwa Paulus tidak pernah datang ke tempat tersebut (Kol. 1:4, 7-9, 2:1). Paulus memberitakan Injil selama tiga tahun di Efesus (Kis. 20:31), ia tahu keberadaan gereja Kolose namun belum pernah pergi ke tempat tersebut. Seberapa intim hubungan Paulus dengan gereja Kolose? Mengapa Paulus menuliskan surat kepada orang-orang yang belum pernah bertemu tersebut? Sebuah kunci penting ada pada diri Epafras, Kol. 1:7 「 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia. 」, Kol. 4:12 「Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus …」, dilihat dari dua ayat ini nampak Paulus sangat mengenal Epafras, dan Paulus mengetahui keadaan gereja Kolose dari diri orang ini (Kol. 1:8). Epafras mungkin adalah seorang yang merupakan kunci berdirinya gereja Kolose.

Bagaimanapun juga, kita dapat melihat bahwa Paulus adalah seorang yang sangat memperhatikan gereja. Ia tidak hanya memperhatikan gereja yang ia dirikan, namun juga memperhatikan kepada keadaan gereja yang berdekatan. Tepat saat ia dipenjarakan, Paulus tetap mengingat urusan gereja, ia tidak hanya prihatin atas urusan dirinya sendiri saja. Di dalam pembukaan surat, Paulus menyebutkan dirinya adalah 「rasul Kristus Yesus 」, dan juga menuliskan ini adalah 「oleh kehendak Allah」 (by the will of God). Jika dibandingkan dengan surat Filipi (yang menggunakan pembukaan 「hamba Kristus Yesus」), Paulus di sini secara khusus menuliskan identitas rasulnya, mungkin karena ia bukan pendiri gereja Kolose, atau mungkin ia harus memakai kuasa wibawa dalam menangani tantangan yang dihadapi gereja Kolose (catatan Blogger: lihat latar belakang ajaran-ajaran palsu yang dihadapi di pengantar surat Kolose).

Di gereja, kita mungkin memiliki lebih dari satu identitas. Kita perlu memakai identitas yang berbeda untuk menghadapi keadaan yang berbeda untuk meresponnya. Saat orang-orang dalam gereja membelokkan ajaran Alkitab, memakai sumber daya gereja dengan sembarangan, atau merusak kesatuan gereja, kita harus memakai kuasa yang Allah berikan kepada kita, membereskan masalah dalam identitas gembala, penatua atau majelis. Namun saat saudara saudari seiman keadaan rohaninya mendapatkan serangan, kita harus merespon dalam identitas sebagai saudara, atau saudari, dan hamba. Keadaan yang berbeda membutuhkan identitas kita yang berbeda untuk menghadapinya. Paulus sebagai 「rasul Kristus Yesus 」 pada saat yang sama ia juga adalah 「hamba Kristus Yesus 」. Kapan Paulus menggunakan sebutan yang mana tergantung keadaan yang dihadapinya.

Paulus di ayat 2 (Kol. 1:2) menyebut penerima surat sebagai 「saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus 」 (catatan Blogger: dalam mayoritas terjemahan Inggris dan Mandarin adalah 「saudara-saudara yang kudus dan yang setia dalam Kristus 」). Paulus walaupun belum bertemu mereka namun menyebutkan mereka sebagai saudara (sudah termasuk saudari). Bagi Paulus, 「saudara saudari 」 bukan ditentukan oleh hubungan darah, juga tidak dibatasi hubungan secara organisasi gereja. Orang-orang percaya di Kolose tidak menerima Injil dan baptisan melalui Paulus, Paulus tetap menyebutkan mereka sebagai saudara-saudari yang kudus dan yang setia. Kuncinya adalah 「dalam Kristus 」 (in Christ). Frasa pendek ini penuh dengan makna teologis. Frasa 「dalam Kristus 」 adalah frasa yang spesifik khusus dipakai Paulus, dalam seluruh surat muncul 3 kali (Kol. 1:2, 4, 28) dan frasa yang terkait 「di dalam Dia 」 (in him) muncul 8 kali. Di belakang perlahan kita akan membahas kekayaan makna yang ada di dalam frasa pendek ini.

Renungkan: karena 「dalam Kristus 」, orang yang tidak mempunyai relasi menjadi punya relasi, yang aslinya bukan urusan kita menjadi hal yang kita berikan perhatian. Paulus di dalam kurungan belenggu masih mengingat dan prihatin atas keadaan gereja Kolose. Mohon Tuhan membantu kita punya hati yang lebih lapang, tidak hanya memperhatikan urusan kita sendiri, juga tidak hanya perhatian atas urusan gereja kita sendiri. 「Di dalam Kristus 」 kita tidak saling membagi golongan. Kita tidak sepatutnya acuh tak acuh atas apa yang terjadi pada gereja di dekat kita. Kita juga perlu memberikan perhatian kepada komunitas gereja di tempat lain. Asal di dalam Kristus, kita semua adalah saudara dan saudari, di dalam mata Tuhan semua adalah yang kudus dan setia.


Catatan Blogger:

Penulis renungan ini memperlihatkan bahwa penting untuk memiliki pengetahuan atas latar belakang dan tujuan suatu surat, kitab atau Injil dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam.