Tag Archives: Sabat

Kejadian 9:8-17

「Tanda Perjanjian」

Oleh Dr. S.W. Patrick Tsang
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 9:8-17 [ITB])
8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.
12 Dan Allah berfirman: Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi. 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.

Perikop yang kita baca hari ini Kejadian 9:8-17 mencatat perjanjian antara Allah dan Nuh. Kata perjanjian muncul tujuh kali dalam paragraf ini (ayat 8-17), yang juga merupakan subjek paragraf ini. Arti dasar dari kata perjanjian adalah memberikan janji, dan jaminan, inilah yang dimaksud perikop ini. Allah tidak meminta apapun dari manusia dan semua makhluk hidup, tapi Dia berjanji dan memberikan jaminan tidak akan menggunakan lagi air bah untuk menghancurkan dunia dan makhluk hidup, ini juga bisa dikatakan sebagai perjanjian yang tidak setara!

Perjanjian Allah ditujukan selain kepada Nuh, anak-anak Nuh, dan keturunannya (ayat 9), juga mencakup semua makhluk hidup, yaitu, segala makhluk hidup yang keluar dari bahtera itu, termasuk burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi(ayat 10), jadi ini adalahperjanjian universal. Di sini kita melihat sekali lagi bahwa Allah Pencipta tidak hanya peduli dan menghargai manusia, tetapi juga makhluk hidup lain yang Dia ciptakan. Isi dari perjanjian antara Allah dan Nuh adalah: Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi. (9:11)

Kejadian 9:12-17 adalah tanda perjanjian Nuh, yaitu pelangi di langit. Itu juga merupakan tanda perjanjian pertama dalam Alkitab (9:13); dua perjanjian lainnya adalah tanda sunat (Kejadian 17:11) danSabat(Keluaran 31:16-17). Ketiga tanda ini telah membuka lembaran baru dalam sejarah manusia.Sabat adalah tanda penciptaan langit dan bumi oleh Allah, pelangiadalah tanda Allah menciptakan lagi bumi dan tidak akan memusnahkan, sunat adalah tanda Allah memilih Abraham, dan membangun umat Ibrani.

Di seluruh Alkitab kita melihat dua jenis tanda (sign), yang pertama adalah tanda supernatural, yang juga sering disebut sebagai tanda dari tanda dan mukjizat (signs and wonders). Misal mukjizat yang dilakukan Musa di hadapan Firaun, misalnya: Sepuluh Tulah dalam kitab Keluaran, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar. Dalam kitab Injil, banyak mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah tanda (sign) jenis ini, yang tujuannya adalah untuk menunjukkan identitas Yesus.

Jenis tanda yang kedua bukanlah tanda supernatural, melainkan tanda kebenaran rohani, tentunya akan terjadi tumpang tindih antara kedua tanda tersebut. Pelangi, sebagai tanda perjanjian Allah dengan Nuh, termasuk dalam kategori tanda jenis kedua. Mengapa Allah menggunakan pelangi sebagai tanda bahwa Dia tidak akan lagi menggunakan air bah untuk memusnahkan dunia? Apa fungsi dari lambang pelangi? Sebuah tanda (sign) menunjuk pada beberapa kebenaran dan fakta rohani, membantu kita lebih memahami kebenaran atau bergerak menuju kebenaran.

Pertama-tama, pelangi adalah fenomena alam indah yang enak dipandang. Fenomena indah tersebut merupakan terapi bagi orang-orang yang baru saja mengalami kehancuran seluruh bumi melalui air bah. Bagi Nuh yang pernah mengalami terkejut oleh musibah dan bencana, ini pasti penghiburan terbaik! Karya seni yang indah dapat memberikan penghiburan dan penyembuhan bagi jiwa yang terluka.

Dalam pasal 9, Allah berulang kali menggunakan sudut pandang dan kata-kata yang berbeda untuk mengulangi perjanjian-Nya dengan Nuh, Dia berjanji untuk tidak menggunakan air bah untuk memusnahkan dunia dan memberi pelangi sebagai tanda perjanjian. Allah sendiri tidak perlu mengulang-ulang janji-Nya, karena Allah yang kekal tidak perlu diingatkan. Tanda ini dipasang untuk manusia, karena hati keluarga Nuh telah mengalami hal yang mengejutkan, dan mereka perlu mendengar kata-kata penegasan dan dorongan berulang kali. Ini adalah alasan Allah menetapkan pelangi sebagai tanda perjanjian. Ketika keluarga Nuh melihat pelangi, mereka mendapatkan pengingatan dan dikuatkan!

Renungkan:
• Allah itu Allah yang indah dan Tuhan Penyembuh, Dia akan memberi orang tanda kesembuhan dan pertolongan. Dia pernah memberi tanda duri yang tidak bisa terbakar kepada Musa yang telah menyerahkan atas dirinya sendiri; Allah juga menggunakan bintang-bintang di langit dan pasir di tepi laut sebagai tanda untuk menghibur Abraham yang kesepian tanpa anak; Allah juga menggunakan tangga sebagai tanda untuk datang mendorong Yakub, yang dikejar oleh kakak laki-lakinya, meninggalkan kampung halamannya dan mengungsi di padang gurun.
• Saat ini banyak nyawa dan hati orang terluka. Hari ini Allah masih menyembuhkan. Apakah Anda bersedia mengandalkan-Nya untuk disembuhkan?


Renungan pemahaman Kitab Kejadian

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 1-11 ditulis oleh Dr. S.W. Patrick Tsang (曾錫華) dipublikasi pada bulan Maret 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Ratapan 5:15-18

「Kesedihan luar dan dalam」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 5:15-18 [ITB])
15 Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan. 16 Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa!
17 Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur: 18 karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran.

Ratapan Yeremia 5:15-18 melanjutkan penggunaan kata kami sebagai ratapan kolektif, dan menggunakan bagian tubuh manusia yang berbeda untuk membandingkan pengalaman yang dialami oleh orang Israel yang tertawan, termasuk hati kami (ayat 15, 17) , kepala kami (ayat 16) dan mata kami (ayat 17), ketiga organ ini dipilih dengan cermat. Hati tidak mengacu pada perasaan seseorang, tetapi mengacu pada pikiran dan jiwa kehidupan di dalam diri. Ayat 15 dan 17 menunjukkan bahwa hati kami sakit dan remuk redam, menandakan bahwa pikiran mereka sepenuhnya didominasi oleh hal-hal yang menyedihkan. Ayat 16 mengacu pada kepala, menggambarkan pusat komando seseorang, pada saat yang sama bisa juga merujuk pada pemimpin, yakni kepala kota. Ayat 16 mengacu pada mahkota yang jatuh dari kepala, dan pada saat yang sama, itu berarti mahkota milik pemimpin jatuh ke bawah. Ayat 17 mengacu pada mata, yang mengacu pada penglihatan seseorang dan juga menunjuk pada vitalitas hidup seseorang, perikop Kitab Suci ini mengacu pada mata kami yang kabur, yang berarti bahwa mereka kekurangan vitalitas dan penglihatan mereka kabur. Oleh karena itu, di sini penggunaan berbagai organ tubuh manusia, terutama hati, mata dan kepala untuk menggambarkan bahwa umat itu menjadi tidak sehat karena penawanan dan kehancuran Sion, penuh dengan penyakit dan luka, sebuah luka trauma yang besar.

Perikop ini tidak hanya menggunakan organ tubuh sebagai metafora, tetapi juga secara harfiah mengingatkan pembaca tentang konsep ayat lain di Perjanjian Lama. Pertama, ayat 15 menjelaskan lenyaplah kegirangan hati kami (lihat terjemahan IMB sukacita hati kami telah berhenti), di mana kata berhenti (dalam bahasa Ibrani adalah shabath) bisa diartikan sebagai istirahat (lihat Kej. 2:2 … berhentilah Ia pada hari ketujuh …), ini mengingatkan kita bahwa tujuh puluh tahun lama penawanan sebagai tahun istirahatnya tanah (2 Taw. 36:21 … tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun), jadi perikop Ratapan ini mengadopsi konsep istirahat untuk menjelaskan bahwa ketika tanah itu beristirahat, juga menunjukkan berhentinya kebahagiaan di hati orang-orang yang ditawan. Kedua, ayat 16 menjelaskan bahwa mahkota jatuh dari kepala / pemimpin kami, sekaligus mencatat pengakuan dosa kolektif: Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa. Penjajaran mahkota dengan pengakuan dosa yang seperti ini mengingatkan kita pada catatan tentang nabi Samuel mengangkat seorang raja sebagai jawaban atas tuntutan rakyat di masa lalu (1 Sam. 8:1-6, klik untuk membaca). Saat itu, tuntutan ini dianggap sebagai manifestasi penolakan mereka terhadap Tuhan sebagai Raja mereka (1 Sam. 8:7). Sekarang mahkota raja telah jatuh, melambangkan bahwa secara resmi sistem monarki kerajaan Israel telah runtuh, semua itu adalah karena umat telah berdosa dan tidak menghormati Allah sebagai Raja mereka. Dengan cara ini, perikop ini menghubungkan tema istirahat (berhenti) dan sistem monarki untuk menggambarkan hukuman yang mereka hadapi.

Renungkan:
Rat. 5:15-18 menggunakan gambaran seorang yang tidak sehat hati pikiran dan jasmani untuk membandingkan penderitaan orang Israel. Ditawan telah menjadi trauma besar bagi orang Israel, dan trauma ini tidak akan pernah terhapus. Itu semua karena orang Israel telah berdosa dan melanggar Allah di masa lalu. Karena mereka tidak menganggap TUHAN (Yahweh) sebagai Raja yang sejati, pengasingan juga menghapuskan serta menghancurkan kerajaan dan semua yang diminta umat itu, memaksa orang Israel di tengah trauma dan kesedihan untuk mengakui TUHAN Yahweh adalah Raja sejati mereka, dengan demikian mereka dapat memahami pentingnya pengakuan dosa dan pertobatan. Apakah Anda mengakui TUHAN (Yahweh) sebagai Raja atas hidup Anda?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 63:7-14

「Kasih Setia yang Kaya Berkelimpahan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 63:7-14 [ITB])
7 Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar. 8 Bukankah Ia berfirman: Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang, maka Ia menjadi Juruselamat mereka 9 dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala. 10 Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka. 11 Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala, zaman Musa, hamba-Nya itu: Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut bersama-sama dengan penggembala kambing domba-Nya? Di manakah Dia yang menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati mereka; 12 yang dengan tangan-Nya yang agung menyertai Musa di sebelah kanan; yang membelah air di depan mereka untuk membuat nama abadi bagi-Nya; 13 yang menuntun mereka melintasi samudera raya seperti kuda melintasi padang gurun? Mereka tidak pernah tersandung, 14 seperti ternak yang turun ke dalam lembah. Roh TUHAN membawa mereka ke tempat perhentian. Demikianlah Engkau memimpin umat-Mu untuk membuat nama yang agung bagi-Mu.

Hanya Ia, Allah yang menderita bersama umat-Nya

Perikop ini menunjukkan kasih TUHAN yang tidak pernah pergi meninggalkan dan menyerah atas umat Israel, bahkan jika umat Israel memberontak dan berulang kali berbuat semau-maunya.

Ayat 7 menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah penuh belas kasihan dan kasih yang berkelimpahan, Ia memberkati Israel anugerah yang besar, kita akan memahami bahwa anugerah besar yang agung ini adalah tidak terpengaruh walau umat Israel bertindak semau-maunya, bagaimanapun kasih dan anugerah besar Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Ayat 8 menjelaskan bahwa TUHANlah yang berinisiatif untuk mengakui dengan keteguhan tetap bahwa Israel adalah umat-Ku dan bahwa Tuhan adalah Juruselamat mereka. Ayat 9 menunjukkan bahwa Allah menderita bersama umat Israel (ITB agak implisit Ia sendirilah yang menyelamatkan, lihat BIMK Ia sendiri ditimpa kesusahan mereka atau CUV, KJV dan mayoritas terjemahan Inggris) dan Ia mengangkat serta menggendong mereka selama zaman dahulu kala. Kata-kata yang digunakan dalam ayat 8-9 mengingatkan kita: di masa lalu, TUHAN memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan kemudian di Sinai membuat perjanjian dengan mereka. Saat TUHAN mengadakan perjanjian, Ia menyatakan bahwa Dia telah menggendong di atas sayap rajawali dan membawa orang Israel seperti elang, dan memproklamasikan bahwa umat Israel adalah milik kepunyaan Allah dan merupakan umat Allah, ini adalah umat-Ku, dan Allah adalah Juruselamat Israel (Kel. 19:1-6, klik untuk membaca). TUHAN telah menyelamatkan mereka dan menetapkan mereka adalah umat Allah, tanpa terlebih dahulu menuntut orang Israel berbuat lebih baik atau terlebih dahulu harus berbuat sesuatu untuk mendapatkannya sebagai pahala (Hanya karena anugerah saja. Allah bukan pedagang barter perbuatan baik manusia dengan keselamatan).

Lalu, ayat 10 menyatakan bahwa wajah asli umat Israel lupa anugerah dan tidak tahu terima kasih, mereka memberontak berkhianat terhadap Penyelamat mereka, sehingga Allah harus memandang mereka sebagai musuh dan memukul mereka. Namun pukulan ini bukan seperti pemusnahan terhadap Edom (Yes. 63:1-6, klik untuk membuka dan membandingkan), pukulan ini adalah serangan penuh kesedihan hati, dan dijelaskan dalam ayat 11-13 bahwa bahkan jika Israel memberontak berkhianat, tindakan TUHAN untuk menyelamatkan mereka dari Mesir dan menyeberangi Laut Merah tetap tidak pernah berubah selama-lamanya, TUHAN dengan tindakan penuh kuasa-Nya yang besar membuat Israel mengerti bahwa diri mereka terbatas, menghendaki mereka jangan tidak tahu terima kasih dan lupa anugerah, mereka dapat meninggalkan rumah perbudakan Mesir itu bukan karena kekuatan mereka, tetapi sepenuhnya karena kuasa besar TUHAN, dan pada saat yang sama membuat orang Israel merenungkan bahwa mereka tidak tersandung ketika berjalan di hutan belantara, tiang awan dan api Allah tidak pernah pergi dan meninggalkan mereka, menunjukkan bahwa kehadiran penyertaan Allah selama-lamanya tidak akan pernah berubah.

Roh TUHAN disebutkan lagi dalam ayat 14 sebagaimana disebutkan dalam Yes. 61:1, dan disebutkan di sini bahwa Roh Allah membawakan peristirahatan kepada orang-orang Israel. Roh Allah membimbing umat Allah, agar umat Allah dapat menegakkan nama kemuliaan Allah, istirahat yang demikian adalah dengan rendah hati bergantung dan bersandar kepada Allah, secara dekat taat mengikuti, dengan tenang hati tanpa khawatir menapak di jalan pimpinan Allah. Menapakkan kaki yang demikian hanya mencari dan mengejar kemuliaan Allah bukan kemuliaan diri sendiri. Ketika seseorang hanya mencari dan mengejar kemuliaan nama Tuhan barulah ia dapat dengan tenang tenteram berjalan dalam bimbingan Tuhan, orang tersebut mendapatkan istirahat (sabat), tanpa kekhawatiran ketakutan ini justru adalah istirahat yang memiliki penyertaan Allah, lebih damai tenteram daripada kehidupan yang nyaman dan berkelimpahan banyak uang.

Renungkan:
Adalah Tuhan, Ia yang tidak pernah meninggalkan kita, tidak peduli seberapa pemberontakan kita, cinta kasih-Nya tetap berlimpah begitu kaya, keselamatan-Nya tetaplah begitu nyata dan benar, dan kita hanya bisa pasrah kepada-Nya dalam kasih Tuhan yang tak bersyarat, dan bersedia memberi hidup sebagai respons menanggapi Tuhan yang menderita bersama kita, Ia mengisi hidup kita dengan kisah keajaiban, memahami keterbatasan diri kita, dan memahami bahwa kita selama-lamanya adalah umat Allah. Amin!


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 56:3-8

「Rumah Doa bagi Segala Bangsa」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 56:3-8 [ITB])
3 Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya; dan janganlah orang kebiri berkata: Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering. 4 Sebab beginilah firman TUHAN: Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama — itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan–, suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 6 Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. 8 Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun.

Ternyata bahwa memelihara hari Sabat bukanlah hak monopoli orang Yehuda, berkat ini juga terbuka untuk bangsa-bangsa lain.

Ayat 56:3 mencatat perkataan orang dari bangsa asing, mereka melihat bahwa orang Yehuda yang kembali dari penawanan mendapatkan pemeliharaan Allah, terlebih merasa iri bahwa di belakang mereka ada TUHAN, pada waktu itu nama TUHAN terkenal, sehingga bangsa-bangsa lain ingin menjadi umat Allah, tetapi mereka tahu bahwa mereka bukan orang-orang yang termasuk di dalam perjanjian itu. Mereka berpikir bahwa TUHAN memisahkan bangsa-bangsa lain dari umat-Nya, merasa diri mereka adalah pohon mati. Namun, TUHAN menguatkan mereka melalui Yesaya ketiga, bahwa mereka tidak dikecualikan dari perjanjian, tetapi memiliki bagian dalam perjanjian, ayat 4 menyatakan bahwa jika mereka seperti orang Yehuda memelihara Sabat dan menjaga perjanjian (56:4, 6), maka nama mereka akan diingat (56:5). Karena itu, Yesaya ketiga menerima bangsa-bangsa asing dengan lapang dada, selama mereka menghargai hari Sabat dan memelihara perjanjian, mereka juga dapat menjadi bagian dari umat Allah, tidak apa pembedaan satu sama lain. (Lihat renungan Yesaya 56:2 tentang makna Sabat)

Orang bangsa asing tidak hanya dapat menjadi umat Allah dengan memelihara Sabat dan perjanjian, mereka terlebih juga dapat memasuki Bait Suci dan beribadah dalam jemaat TUHAN, ini menjadi kebalikan dari Ulangan 23:2-9. Dengan demikian, Bait Suci kedua yang dibangun di Yerusalem mendefinisikan ulang identitas umat perjanjian, melalui Bait Suci sebagai pusat ibadah, dibuka untuk semua bangsa-bangsa, mereka semua boleh datang ke Bait Suci ini untuk menyembah dan berdoa. Allah ingin menuntun bangsa-bangsa keluar untuk datang ke gunung Allah yang kudus (56:7), tuntunan ini seperti bimbingan kepada domba yang hilang, memimpin domba-domba liar di luar perjanjian datang ke gunung Allah yang kudus. Kitab Suci menggunakan gambar seorang gembala untuk menjelaskan bahwa Allah adalah Gembala Besar dari semua bangsa-bangsa. Dia memimpin semua jenis orang ke Bait Suci Allah untuk bersukacita, dan berkenan menerima korban bakaran dan korban sembelihan yang mereka persembahan, dan menunjukkan bahwa Bait Suci seharusnya disebut Rumah doa bagi segala bangsa (56:7). Ketika kita meneliti teks bahasa aslinya, terjemahan yang tepat adalah: Bait-Ku adalah Bait doa untuk berseru bagi semua bangsa, artinya, hakikat Bait ini adalah diperuntukkan bangsa-bangsa berseru melalui doa. Pengaturan untuk doa orang non-Yahudi ini sudah ada dalam doa Salomo (1 Raj. 8:41-43), jadi definisi Bait Allah dalam Yesaya 56:7 bukanlah definisi baru, melainkan mewariskan definisi Bait Suci dalam doa Salomo di masa dahulu: Bait Suci terbuka bagi semua orang untuk berdoa dan berseru. Oleh karena itu, orang Yehuda di Yerusalem yang bertanggung jawab atas Bait Suci kedua, tidak dapat memonopoli Bait Suci menjadi milik mereka sendirian. Mereka harus berbagi Bait Suci dengan orang-orang non Israel, dan di antara mereka yang pulang kembali dari penawanan (ayat 8: yang terbuang), Allah akan memanggil orang-orang lain (bangsa-bangsa asing) untuk bergabung.

Renungkan:
Bait Allah adalah untuk semua bangsa-bangsa untuk berdoa, dan gereja juga untuk semua orang. Apakah kita telah memprivatisasi gereja dan menjadi klub milik sekelompok orang, seolah-olah kita memerlukan kartu keanggotaan untuk masuk, dan mengecualikan mereka yang tidak kita sukai sebagai orang bangsa asing di luar pintu? (Mungkin jubah luar pekerjaan kita sudah meng-asing-kan orang lain ataupun diri kita di luar pintu Gereja, menjadi tidak lagi 「sama seperti engkau」, lihat renungan Yesaya 56:2 tentang makna Sabat). Berdoa mohon Tuhan membantu kita melihat sifat keterbukaan Bait Suci bagi segala bangsa segala orang, dengan hati yang terbuka untuk melepaskan prasangka bias kita, mengikuti Gembala Besar TUHAN, membawa semua jenis domba untuk datang menyembah di Bait Suci. Apakah Anda punya kerinduan seperti itu?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.