「Rumah Doa bagi Segala Bangsa」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Yesaya 56:3-8 [ITB])
3 Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: 「Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya」; dan janganlah orang kebiri berkata: 「Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering.」 4 Sebab beginilah firman TUHAN: 「Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama — itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan–, suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. 6 Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, 7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. 8 Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun.」

Ternyata bahwa memelihara hari Sabat bukanlah hak monopoli orang Yehuda, berkat ini juga terbuka untuk bangsa-bangsa lain.
Ayat 56:3 mencatat perkataan orang dari bangsa asing, mereka melihat bahwa orang Yehuda yang kembali dari penawanan mendapatkan pemeliharaan Allah, terlebih merasa iri bahwa di belakang mereka ada TUHAN, pada waktu itu nama TUHAN terkenal, sehingga bangsa-bangsa lain ingin menjadi umat Allah, tetapi mereka tahu bahwa mereka bukan orang-orang yang termasuk di dalam perjanjian itu. Mereka berpikir bahwa TUHAN memisahkan bangsa-bangsa lain dari umat-Nya, merasa diri mereka adalah pohon mati. Namun, TUHAN menguatkan mereka melalui Yesaya ketiga, bahwa mereka tidak dikecualikan dari perjanjian, tetapi memiliki bagian dalam perjanjian, ayat 4 menyatakan bahwa jika mereka seperti orang Yehuda memelihara Sabat dan menjaga perjanjian (56:4, 6), maka nama mereka akan diingat (56:5). Karena itu, Yesaya ketiga menerima bangsa-bangsa asing dengan lapang dada, selama mereka menghargai hari Sabat dan memelihara perjanjian, mereka juga dapat menjadi bagian dari umat Allah, tidak apa pembedaan satu sama lain. (Lihat renungan Yesaya 56:2 tentang makna Sabat)
Orang bangsa asing tidak hanya dapat menjadi umat Allah dengan memelihara Sabat dan perjanjian, mereka terlebih juga dapat memasuki Bait Suci dan beribadah dalam jemaat TUHAN, ini menjadi kebalikan dari Ulangan 23:2-9. Dengan demikian, Bait Suci kedua yang dibangun di Yerusalem mendefinisikan ulang identitas umat perjanjian, melalui Bait Suci sebagai pusat ibadah, dibuka untuk semua bangsa-bangsa, mereka semua boleh datang ke Bait Suci ini untuk menyembah dan berdoa. Allah ingin menuntun bangsa-bangsa keluar untuk datang ke gunung Allah yang kudus (56:7), tuntunan ini seperti bimbingan kepada domba yang hilang, memimpin domba-domba liar di luar perjanjian datang ke gunung Allah yang kudus. Kitab Suci menggunakan gambar seorang gembala untuk menjelaskan bahwa Allah adalah Gembala Besar dari semua bangsa-bangsa. Dia memimpin semua jenis orang ke Bait Suci Allah untuk bersukacita, dan berkenan menerima korban bakaran dan korban sembelihan yang mereka persembahan, dan menunjukkan bahwa Bait Suci seharusnya disebut Rumah doa bagi segala bangsa (56:7). Ketika kita meneliti teks bahasa aslinya, terjemahan yang tepat adalah: 「Bait-Ku adalah Bait doa untuk berseru bagi semua bangsa」, artinya, hakikat Bait ini adalah diperuntukkan bangsa-bangsa berseru melalui doa. Pengaturan untuk doa orang non-Yahudi ini sudah ada dalam doa Salomo (1 Raj. 8:41-43), jadi definisi Bait Allah dalam Yesaya 56:7 bukanlah definisi baru, melainkan mewariskan definisi Bait Suci dalam doa Salomo di masa dahulu: Bait Suci terbuka bagi semua orang untuk berdoa dan berseru. Oleh karena itu, orang Yehuda di Yerusalem yang bertanggung jawab atas Bait Suci kedua, tidak dapat memonopoli Bait Suci menjadi milik mereka sendirian. Mereka harus berbagi Bait Suci dengan orang-orang non Israel, dan di antara mereka yang pulang kembali dari penawanan (ayat 8: yang terbuang), Allah akan memanggil orang-orang lain (bangsa-bangsa asing) untuk bergabung.
Renungkan:
Bait Allah adalah untuk semua bangsa-bangsa untuk berdoa, dan gereja juga untuk semua orang. Apakah kita telah memprivatisasi gereja dan menjadi klub milik sekelompok orang, seolah-olah kita memerlukan kartu keanggotaan untuk masuk, dan mengecualikan mereka yang tidak kita sukai sebagai 「orang bangsa asing」 di luar pintu? (Mungkin jubah luar pekerjaan kita sudah meng-asing-kan orang lain ataupun diri kita di luar pintu Gereja, menjadi tidak lagi 「sama seperti engkau」, lihat renungan Yesaya 56:2 tentang makna Sabat). Berdoa mohon Tuhan membantu kita melihat sifat keterbukaan Bait Suci bagi segala bangsa segala orang, dengan hati yang terbuka untuk melepaskan prasangka bias kita, mengikuti Gembala Besar TUHAN, membawa semua jenis domba untuk datang menyembah di Bait Suci. Apakah Anda punya kerinduan seperti itu?
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)
Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.