Tag Archives: Kemunafikan

1 Petrus 2:1-3 (2)

「Bayi yang Jahat? (2)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:1-3 [ITB])
1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

(Terjemahan penulis)
Jadi, harus membuang semua kejahatan, semua tipu daya, yaitu kemunafikan dan kecemburuan, dan semua fitnah.
Seperti bayi yang baru lahir, merindukan susu rohani yang tidak ada tipu daya, sehingga dapat tumbuh dewasa, mendapat keselamatan
Jika engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. (Mazmur 34:8 LXX)

Kemarin kita tidak segan membahas sisi gelap sifat manusia, kebenaran yang diuangkapkan Petrus membuat kita mengakui bahwa diri kita jahat, tipu daya kemunafikan dan kedengkian, dan dengan fitnah menempatkan orang dalam penilaian negatif. Hal-hal ini muncul pada zaman Yesus, juga di antara jemaat yang digembalakan Petrus, dan di antara orang-orang percaya yang tersebar di antara bangsa-bangsa asing, dan juga benar-benar ada di kalangan Kristen kita.

Oleh karena itu dalam ayat 2-3, Petrus mengingatkan para murid Tuhan bahwa hidup yang baru harus seperti bayi yang baru lahir. Ini juga sama dengan konsep kelahiran kembali dan menyucikan di pasal pertama (1 Pet. 1:3, 22), yakni menjelaskan bahwa kita harus membuang semua kejahatan dari dalam hati kita, dalam kehidupan baru yang kita pelajari bukanlah kebiasaan pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, tetapi kita merindukan susu yang yang tidak ada tipu daya (ἄδολον ádolon) yang merupakan antonim dari tipu daya (δόλον dólon) dalam ayat 1. Bagi Petrus, menolak kemunafikan, menolak kecemburuan adalah tindakan nyata, dan hanya mengizinkan komunitas baru ini menyimpan susu murni, barulah dapat membuat orang Kristen bertumbuh secara normal.

Dalam pelayanan pengajaran gereja, entah bagaimana, jika pengajaran untuk menghilangkan tipu daya ini tidak kurang diperhatikan atau kurangnya introspeksi dan pendalaman yang baik, bagaimana orang percaya dapat tumbuh dengan sehat?

Dalam perikop ini, kita menemukan kutipan dari Perjanjian Lama yang merupakan kalimat dari Mazmur 34: Jika engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. Apa maksud dari kalimat ini?

Latar belakang Mazmur 34 adalah bahwa Daud melarikan diri ke Filistin, berpura-pura gila di depan Abimelekh, hanya seorang diri, jadi bagi Petrus, pengalaman Daud di pengasingan ini menjadi tipologi yang lain, menggambarkan: para penerima surat Petrus juga menghadapi apa yang dialami Daud.

Daud dalam pengasingan dikejar dan hendak dibunuh, bahkan ketika dia jatuh ke tangan raja asing, tetapi pengalaman ini adalah proses penting dalam hidupnya. Dia dengan jelas mengatakan bahwa kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu (lihat Maz. 34:19) inilah engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. Rasa yang dikecap ini kebanyakan adalah dalam keadaan sulit menderita, tetapi masih percaya bahwa semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman(lihat Maz. 34:22)

Jadi kita tahu bahwa susu rohani adalah pengalaman Daud dalam Mazmur, itu juga pengalaman Yesus, dan hanya dengan iman yang demikian, sama sekali tidak ada tipu daya, maka kita akan tahu mengecap (merasakan) bahwa ini adalah kebaikan dan kasih karunia Tuhan, sehingga orang membuang cara-cara membalas kejahatan dengan kejahatan, alih-alih memperlakukan orang dengan tipu daya, tetapi sebaliknya berkonsentrasi untuk mencari keselamatan Tuhan dan jiwa hamba-Nya ditebus.

Renungkan:
Saat diserang dan bahkan dipermalukan, sifat manusia adalah balik menyerang dan dengan tipu daya membalas perlakuan yang diterima, tetapi tujuan dari susu rohani adalah hanya bersandar pada Tuhan dan percaya bahwa Ia akan menyelamatkan, dan ini adalah titik awal bagi orang Kristen. Dengan dasar titik berangkat yang sama ini, barulah ada bahasa yang sama dalam kelompok yang menderita ini. Orang Kristen bukan bertindak tanpa kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan dalam bertindak juga harus mau menerima susu rohani ini, sehingga orang memuji keselamatan Allah dan kebaikan-Nya.


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Petrus 2:1-3 (1)

「Bayi yang Jahat? (1)」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Petrus 2:1-3 [ITB])
1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

(Terjemahan penulis)
Jadi, harus membuang semua kejahatan, semua tipu daya, yaitu kemunafikan dan kecemburuan, dan semua fitnah.
Seperti bayi yang baru lahir, merindukan susu rohani yang tidak ada tipu daya, sehingga dapat tumbuh dewasa, mendapat keselamatan
Jika engkau sekalian mengalami kebaikan Tuhan. (Mazmur 34:8 LXX)

Kemarin, kita membahas bahwa situasi Yesaya sangat mirip dengan situasi latar belakang Surat 1 Petrus, yaitu generasi yang tidak memiliki banyak harapan tetapi percaya bahwa firman Tuhan tidak gagal, tanggung jawab baik Yesaya atau Petrus adalah memimpin dan mendorong umat Allah yang ada di tempat diaspora serta masa sulit aniaya hendaknya saling mengasihi dengan penuh semangat kehangatan, untuk mewarisi dan mewariskan, serta menunggu hari ketika Firman Tuhan digenapi.

Hari ini, Petrus mengungkapkan lagi bahwa merupakan sifat alami manusia akan merusak esensi pewarisan ini, maka semua kejahatan perlu dihilangkan di antara umat Allah yang sudah memiliki kehidupan baru.

Kata kejahatan (κακίαν kakían) mengacu pada semua sisi gelap dari sifat manusia, dalam konteks budaya Yunani, mereka mengejar berbagai kebajikan (virtues), dan antonim dari kata kebajikan adalah kata kejahatan. Dapat dilihat bahwa Petrus mendorong orang-orang percaya agar mengejar pencapaian jangan kalah dari yang dikejar orang-orang asing itu, jika tidak, bukankah komunitas Kristen menimbulkan penghinaan dari orang-orang asing dan sangat menghina nama Tuhan? Namun, apa yang kita dengar atau yang kita alami secara pribadi dalam lingkaran Kristen, tampaknya lebih buruk daripada orang luar, dan itu bahkan lebih menyedihkan. Ketika orang-orang di luar lingkaran mengecam kekerasan verbal di Internet, jika beberapa orang di lingkaran kita menggunakan banyak akun palsu untuk melakukan serangan pribadi, akan menjadi apa?

Kemudian, Petrus berkata bahwa hendaknya membuang semua tipu daya (δόλον dólon), kemudian disambung kata kemunafikan (ὑποκρίσεις ypokríseis) dan kecemburuan (φθόνους fthónous), sesuai tata bahasa Yunani kedua kata ini adalah untuk menjelaskan apa itu tipu daya. Dalam benak orang umum, tipu daya mengacu pada kejahatan di dalam hati, seolah-olah itu adalah peran seorang gangster dalam sebuah film, tetapi jika kemunafikan dan kecemburuan merupakan esensi dari tipu daya, maka tipu daya ini adalah memainkan sikap yang berbeda di depan orang yakni karena cemburu dan dengki maka melakukan tindakan licik atau keji, bukankah ini mental orang Farisi dan pemimpin agama terhadap Yesus di masa lalu? Tetapi Yesus telah naik ke surga, dan Petrus mengingatkan kita bahwa tidak pernah kekurangan hal-hal seperti itu di lingkungan religius, dan yang mencintai tradisi pola pikir rohani yang hanya berpusat pada hal-hal yang di dunia, orang-orang tipu daya selalu ada di setiap zaman dan generasi. Saudara dan saudari yang terkasih, jangan kaget atau bahkan kecewa jika mengalami hal ini. Intinya adalah jangan biarkan diri kita dikalahkan oleh kejahatan ini, hendaknya melindungi diri sendiri agar tetap saling mengasihi dengan kasih tulus yang tidak munafik. Sejauh ini, saya pun bisa ragu bahwa ini benar-benar mampu melakukannya? Bagaimana agar kita mampu melakukan ini untuk menghadapi tipu daya atau kejahatan, dan bahkan fitnah yang datang melanda diri kita sendiri? !

Renungkan:
Jika komunitas Gulungan Laut Mati saja juga secara ketat mengharuskan semua orang percaya (1QS4:9-11) untuk berperilaku baik di lingkaran mereka, lalu bagaimana seharusnya komunitas Kristen saat ini menghadapi ini? Apakah kita sudah kalah, tidak lagi berharap diri kita dapat dengan kebajikan menghadapi orang lain dan diri kita sendiri? Atau bahkan menipu diri sendiri, berpikir bahwa tipu daya, kemunafikan, dan kecemburuan adalah keterampilan hidup dan cara bertahan hidup?


Renungan pemahaman Surat 1 Petrus 1-2

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema a ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juni 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 6:43-45

「Mengenal Kepalsuan dari Kemunafikan」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 6:43-45 [ITB])
43「Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
44Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.
45Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.」

Selama dua hari, kita membicarakan apa yang merupakan iman dan tingkah laku munafik, menjelaskan hati yang mula-mula dari iman orang sebenarnya adalah kesungguhan yang benar, tetapi hati yang mula-mula dari iman ini justru perlahan-lahan dilupakan di bawah 「pengelolaan manusia」, sudah melupakan untuk mempertahankan agar mulut dan hati sama. Dunia seperti tiada henti mengajarkan kita cara yang makin cerdik, terlatih dalam berbicara dan tingkah laku, tanpa disadari, kemurnian kehidupan iman kita telah digilas hancur, untuk berbicara tentang mengampuni, hendak mengasihi musuh dsb., seperti ada sedikit omong kosong, tidak mendekati kenyataan, perlahan-lahan buah yang dihasilkan dari kehidupan juga ……

Dalam perikop hari ini, membicarakan masalah dan titik kelemahan yang paling besar dari orang yang munafik, yakni bahwa orang yang munafik jikalaupun memiliki perhiasan secara penampilan luar, juga tidak ada cara menutupi kebenaran —「buah yang dihasilkan semuanya adalah buah yang tidak baik」.

Hal yang mengerikan dari ahli Taurat, orang Farisi berbagai pemimpin keagamaan adalah wajah keagamaan mereka yang khidmat, penampilan luar mereka seperti mampu memberi orang sebuah gambaran penuh kesalehan melalui hari demi hari, tutur kata mereka yang memiliki nilai, karakter dan status yang tinggi juga cukup mampu mendapatkan kepercayaan dan penilaian positif orang lain terhadap mereka, ini justru yang dibenci oleh Yesus, ini yang hendak Ia koreksi. Oleh karena itu Yesus melanjutkan mengatakan, orang dari buah yang dihasilkan maka dapat diketahui sesungguhnya merupakan orang yang bagaimana, karena dari semak duri orang tidak bisa memetik  buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Maknanya adalah bahwa sebenarnya wajah keagamaan yang khidmat orang munafik, paling akhir hanya mampu membohongi diri sendiri, tidak mampu secara jangka panjang membohongi orang lain. Penyebabnya adalah tindakan yang dilakukan orang sebenarnya apakah memiliki buah rohani atau tidak, atau yang dilakukan pada akhir nihil kosong, 「waktu」 adalah saksi yang akan membuktikan oleh dirinya sendiri, agar hati orang dapat mendapatkan peringatan waspada, agar mengetahui sebenarnya siapa yang diikut oleh diri sendiri.

Perumpamaan Yesus ini menghendaki para murid dalam komunitas baru ini dapat legah hatinya, karena saat Yesus mengajarkan kita hendaknya mengampuni dan saling memaafkan, dan saat para murid sungguh belajar mengampuni dan memaafkan, kita mungkin tidak akan mengeluarkan sedikitpun usaha atau ucapan membalas orang lain, kita hanya bisa berdiam diri agar Allah tersambung dengan kehidupan kita, agar hidup-Nya mengalir ke ribaan kita, mengalami perlindungan-Nya. Kemudian Yesus mengatakan buah yang dihasilkan orang fasik, semuanya dapat dilihat oleh orang banyak, hasil akhir ini membuat orang percaya bahwa para murid pengajaran dari komunitas baru yang sukarela menderita mengikut Yesus, penderitaan dan celaan yang mereka terima, pada akhirnya akan ada satu hari akan dapat dipahami. Komunitas yang merenungkan perkataan Yesus, menyimpan kebenaran di dalam hati, melalui berjalannya waktu, buah yang dihasilkan dapat membuktikan hati yang mula-mula yang dipertahankan oleh diri sendiri apakah termasuk pengajaran dari Allah dan Yesus.

Paling akhir, Yesus juga menyediakan sebuah pengujian yang praktis, untuk memahami apakah seseorang munafik, yakni dari perkataan yang keluar dari mulut orang untuk menentukan dan membedakan, karena perkataan yang keluar dari mulut adalah keinginan dan pikiran dari dalam hati orang. Makna dari terjemahan langsung: perkataan yang keluar dari mulut adalah keluar dari gudang baik / jahat dalam hati; perkataan yang diucapkan orang merupakan baik atau jahat hendak dilihat dari apa yang tersembunyi tersimpan di dalam gudang hati orang. Dengan kata lain, mereka yang berwajah keagamaan khidmat sebenarnya adalah orang yang setiap hari menyimpan yang jahat di dalam hati, dan membungkusnya dengan kebaikan untuk berpura-pura; tetapi mereka yang sungguh-sungguh benar termasuk milik Tuhan, mampu mengetahui kejahatan dalam hati dari perkataan yang diucapkan orang munafik.

Renungkan: Tuhan, TUHAN yang memeriksa hati orang, mohon agar hati setiap hari menyimpan kebaikan, tidak karena hati merasa tidak seimbang lalu membalas kejahatan dengan kejahatan, mohon Tuhan menolong hati terdalam kita dari awal sampai akhir sama seperti saat mula-mula mendapat panggilan, hanya karena semata-mata demi Engkau dan bertahan di dalam jalan-Mu, tidak dihambat oleh yang jahat, menghidupi perintah-Mu.