「Iman yang Tulus serta Real Konkret」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.
Bacalah secara cepat 1 Tesalonika pasal 5 (klik untuk membaca).
Paulus tinggal di Tesalonika hanya selama tiga minggu, meskipun ia menabur benih-benih Injil dan mendirikan komunitas orang percaya ini, ia tidak punya banyak waktu untuk menggembalakan dan membina mereka; orang-orang percaya ini baru saja percaya kepada Tuhan Yesus segera mengalami tekanan politik yang kejam, maka secara alami Paulus khawatir mereka tidak dapat mempertahankan iman mereka. Ia sungguh ingin kembali ke Tesalonika untuk mengunjungi mereka, tetapi tidak dapat melakukannya karena dihalangi Iblis (2:17-18). Pada akhirnya, Paulus harus mengutus Timotius pergi mewakili dia. Timotius kembali ke Tesalonika mewakili tim Paulus, bertemu dengan orang-orang percaya, dan tinggal di antara mereka selama suatu jangka waktu. Di satu sisi, ia mengamati situasi gereja dan orang-orang percaya, di sisi lain ia mencatat pertanyaan-pertanyaan iman yang mereka angkat dan membawa kembali apa yang ia lihat dan dengar kepada Paulus. Saat ini Paulus seharusnya berada di Korintus (Kis. 18:5; 1 Tes. 3:1-6).
Ada yang berpendapat bahwa saat itu Paulus berada di Atena. Namun, surat ini ditandatangani bersama oleh Paulus, Silas, dan Timotius, hanya selama di Korintus ketiga orang itu melayani dan hidup bersama, jadi ketika Paulus menulis surat ini berada di Korintus, ini adalah perkiraan yang paling masuk akal.
Setelah mendengar kabar baik yang dibawakan oleh Timotius tentang gereja Tesalonika, Paulus menuliskan Surat 1 Tesalonika, di satu sisi, mendorong orang percaya untuk melanjutkan dan memiliki kesaksian iman yang baik; di sisi lain, ia juga menjawab pertanyaan mereka tentang masalah iman, terutama doktrin hari-hari akhir. Waktunya seharusnya antara 50 dan 51 AD.
Timotius membawa surat Paulus ini kembali ke Tesalonika, sejak itu, setidaknya ia datang sekali lagi. Dia tampak seperti seorang pembawa pesan, jembatan komunikasi antara Paulus dan Tesalonika. Belakangan, Paulus menuliskan Surat 2 Tesalonika, yang membahas pertanyaan lanjutan yang diterima dan doktrin akhir zaman (eskatologi) yang belum sepenuhnya selesai dibahas dalam buku sebelumnya.
Orang-orang percaya di Tesalonika dapat membangun fondasi iman yang kuat dalam waktu singkat segera setelah percaya kepada Tuhan, dalam kondisi tanpa penggembalaan dan kepemimpinan seorang pendeta senior, mereka masih dapat menahan tekanan aniaya eksternal yang kuat dan tetap dapat berdiri teguh. Ini patut dipuji. Kunci alasan utama: kepercayaan mereka tulus dan real / konkret.
Pertama-tama, iman mereka tulus, itu bukan dengan cara mengubah iman menjadi alat mencari manfaat dan keuntungan, itu bukan untuk mendapatkan kekenyangan roti atau mendapatkan manfaat dunia. Tidak ada keraguan bahwa harus ada alasan untuk berganti agama, keinginan pribadi memang adalah unsur paling utama dan penting, misalnya, masalah bisa diselesaikan dan kebutuhan terpenuhi, hanya sedikit orang yang murni religius hanya demi religi ; namun, jika agama hanya alat sarana untuk mencari penyelesaian masalah pribadi, maka ketika masalah terselesaikan, kebutuhan terpenuhi, lalu agama sudah menjadi tidak relevan, tidak dibutuhkan lagi. Cari dokter jika Anda sakit, tetapi sekarang setelah penyakitnya sembuh, apakah Anda masih membutuhkan dokter terus menerus di sisi Anda? Oleh karena itu, elemen asli atau tujuan sejati dari orang percaya Tesalonika jelas bukan utilitarian (memaksimalkan penggunaan untuk mendapatkan manfaat keuntungan dan mengurangi penderitaan semaksimalnya), mereka dengan tulus menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus dan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mengetahui dan mengalami Yesus yang bangkit dari kematian, dan menanamkan iman baru ini sebagai inti kehidupan mereka, melaluinya mengubah pandangan hidup, pandangan terhadap dunia, dan sistem nilai-nilai mereka. Bukan sekedar menambahkan keyakinan baru pada kepercayaan lama, tetapi mengganti keyakinan lama dengan keyakinan baru, bukan kantong kulit lama untuk memuat anggur baru (Mat. 9:17).
Iman tidak bisa berpusat pada diri sendiri, tetapi dalam hidup menemukan Dia yang lain dari diri sendiri, dan mulai saat itu setia mengikut Dia.
Iman bukan sekedar untuk menemukan pembantu atau penolong, tetapi terlebih adalah menghadap Tuan (Tuhan) atas kehidupan, ia menjadi pelayan di hadapan Tuan ini, alih-alih menemukan agama sebagai sumber penyokong untuk memenuhi rencana diri, tetapi sebaliknya menemukan bahwa ia ada di dalam rencana besar yang ditetapkan Tuan (Tuhan) ini, tugas bagi seluruh hidupnya adalah menyelesaikan rencana-Nya.
Orang percaya Tesalonika adalah pengejar iman yang tulus. Ketika mencari, menemukannya. Mereka yang bersungguh-sungguh mencari Tuhan, maka Allah pasti akan mengangkat wajah-Nya menghadap kepada dia. Lama atau pendeknya waktu bukanlah faktor utama penentu segala.
Kedua, selain dari ketulusan, iman orang Tesalonika juga benar. Kekristenan bukan hanya kisah yang mereka dengar dari tim Paulus, tetapi juga kisah nyata diri mereka sendiri. Mereka pastilah telah bertemu Yesus, dan dunia kehidupan mereka telah diterobos masuk oleh Yesus dan bertemu mereka, ini adalah pengalaman iman yang langsung tangan pertama, bukan pinjaman. Karena 「dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.」 Iman yang nyata tidak dapat dipisahkan dari pengenalan rasional, tetapi itu tidak dapat murni hanya berupa penerimaan seperangkat konsep-konsep saja, haruslah ia memiliki pengalaman pribadi yang sesungguhnya. Yesus bukan sekedar tokoh dalam sejarah, tetapi pribadi Tuhan yang hidup, bagaimana mungkin orang yang belum pernah bertemu Yesus, bisa benar-benar percaya kepada Yesus?
Meskipun banyak orang mengaku percaya kepada Yesus, kepercayaan mereka tidak berdiri teguh terombang-ambing arus manusia, mengucapkan banyak ungkapan spiritual yang mereka dengar dan menjiplak dari orang lain, namun bukan pengalaman diri mereka sendiri. Situasi ini paling umum di 「Generasi warisan kedua」 , dari sejak kecil pergi ke gereja bersama orang tua dan menghabiskan lebih dari sepuluh tahun mendengarkan banyak kebenaran dari persekutuan dan sekolah Minggu, bahkan mengetahui dengan baik beberapa bagian Alkitab (terutama ayat-ayat cerita narasi) tahu lebih banyak daripada mahasiswa teologis. Lebih parah lagi, mereka mendengar banyak skandal di gereja dari mulut ayah dan saudara mereka, sangat mengenal begitu mendalam luar atau dalam kekristenan. Tetapi mereka yang begitu akrab dengan kekristenan tidak pasti memiliki iman yang benar; beberapa hanya orang percaya nominal, beberapa hanya menganggap gereja sebagai kelompok sosial, dan beberapa tidak lagi menghadiri gereja ketika mereka dewasa, meninggalkan warisan iman ini.
Tanpa iman pribadi yang real (konkret), hampir tidak mungkin untuk menahan goncangan dan tantangan dari luar, karena kita tidak akan membayar harga yang besar dan mahal untuk sebuah teori, dan kita tidak akan melepaskan kehidupan pribadi dan hal-hal berharga lainnya untuk agama yang tidak membawakan keterkaitan pribadi. Jika iman kekristenan itu dianggap tidak berharga, maka terlebih lagi tidak sepadan dan tidak berharga membayar biaya sosial yang tinggi.
Iman yang teguh harus tulus dan real (sungguh). Ketulusan adalah sikap terhadap iman, sedangkan kebenaran nyata dan real (sungguh) adalah pengetahuan dan pengalaman yang konkret.
Renungkan:
Ketulusan dan sifat real nyata adalah dua unsur iman yang paling mendasar dan tak terpisahkan. Kita tidak bertanya kepada seseorang apakah ia percaya dengan baik atau tidak, tetapi bertanya kepadanya apakah ia percaya sungguh atau tidak. Jika itu tidak sungguh, maka betapapun baiknya, itu adalah kebohongan (palsu yang dianggap sebagai yang baik) dan dangkal. Apakah kita percaya yang sungguh? Apakah kita orang Kristen sejati?
Saudara dan saudari, kekhawatiran bukan tentang Anda adalah orang-orang percaya yang dangkal, sebab iman Anda adalah tulus dan sungguh. Namun, bagaimana membantu orang percaya yang suam-suam kuku di gereja agar mereka menemukan motivasi iman, membantu mereka mengejarnya dengan serius, dan mendapatkan pengalaman tangan pertama secara langsung, ini telah menjadi tantangan utama dalam pelayanan kita. Maka 「pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku」 , agar orang-orang memiliki iman yang real dan menjadi murid Yesus yang sejati, itu adalah makna kunci dari misi Injil. Ini adalah tanggung jawab dasar dari semua orang percaya dan pelayan Tuhan, juga merupakan tujuan akhir dari kegiatan dan pelayanan Gereja. Tugas ini sangat penting terhadap kaum muda, khususnya generasi iman kedua.
Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.