Tag Archives: Iman yang Kokoh

Yohanes 3:12

「Hal-hal duniawi, hal-hal surgawi」

Oleh Dr. John Chan Wai-on
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yohanes 3:12 [ITB])
12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?

Mengenai perihal kelahiran kembali, itu adalah pengetahuan milik Allah, dan karena hanya Allah yang memiliki jawabannya, maka iman adalah satu-satunya cara untuk menerimanya. Oleh karena itu, yang menolak untuk bersaksi adalah mereka yang tidak memiliki iman. Atau, tidak percaya adalah kata yang relatif berat, yang disebut tidak percaya sebenarnya adalah tidak memilih untuk mengenal Allah melalui iman.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi? Beberapa orang memilih untuk menggunakan kemungkinan dan kelayakan realistik untuk mengukur hal-hal Allah. Faktanya, kemungkinan dan kelayakan adalah cara untuk mengetahui semua hal-hal duniawi. Semua hal yang ditemui harus diukur, dikenali, dan diterima dengan cara yang terlihat. Namun, bagaimana hal-hal surgawi dapat diketahui dengan cara hal-hal duniawi? Oleh karena itu, inilah masalah Nikodemus. Meskipun dia datang kepada Yesus pada malam hari dengan segenap hatinya, dan dengan rendah hati meminta nasihat Yesus. Namun, masih sia-sia bagi seseorang jika menggunakan cara yang salah untuk mengenal Allah meskipun ia telah berusaha sebaik mungkin dan mencurahkan pikirannya.

Oleh karena itu, topik kelahiran kembali tanpa disadari telah berubah menjadi topik iman. Memang benar bahwa kita, sebagai orang Kristen antara daging dan roh, terus-menerus menghadapi hal-hal duniawi dan hal-hal surgawi. Terkadang kita perlu berpikir dan menilai dengan kemungkinan dan kelayakan, tetapi terkadang kita harus menerimanya dengan iman percaya. Memang benar bahwa jika segala sesuatu adalah hal-hal surgawi, akan lebih mudah bagi kita untuk menerimanya secara membabi buta dengan keyakinan. Namun, faktanya bukan demikian — pada saat bersamaan kita sedang menghadapi dunia. Oleh karena itu, kita yang berada di antara surga dan dunia perlu berhati-hati serta waspada, dengan tetap memakai pikiran rasional, tetapi tetap mempertahankan iman surgawi.

Renungkan:
Pikirkan baik-baik tentang kesulitan yang Anda hadapi hari ini: hal-hal apa saja yang memerlukan penilaian rasional kita? Hal-hal apa yang perlu diserahkan bersandar iman?


Renungan pemahaman Injil Yohanes
Renungan pemahaman Injil Yohanes 2:1-3:15

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Yohanes 2:1-3:15 ditulis oleh Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika Akhir

「Sebuah Keajaiban Terjadi」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

Hari ini tidak ditentukan perikop yang dibaca, Anda mungkin membaca ulang 5:15-28 (klik untuk membaca), atau perikop favorit Anda dari Surat 1 Tesalonika ini.

Sebagai penutup perjalanan rohani 1 Tesalonika bulan ini, mari kita perhatikan sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa orang Tesalonika bisa mencapai kesaksian yang luar biasa? Mengapa kesaksian mereka memiliki efek yang memengaruhi seluruh semenanjung Yunani (Makedonia dan Akhaya)?

Jawaban saya adalah: ini bukan hanya karena mereka berkinerja sangat baik, tetapi juga karena mereka tetap berkinerja sangat baik dalam keadaan terburuk. Terutama dalam keadaan lingkungan mereka.

Secara terpisah, kinerja iman, cinta, dan pengharapan orang Tesalonika mungkin bukan yang paling menonjol, banyak gereja melakukan hal yang hampir sama atau bahkan lebih baik. Misalnya, gereja Filipi juga merupakan gereja yang matang secara rohani. Namun, karena orang-orang percaya di Tesalonika di tengah-tengah bencana tetap bertekad untuk beriman percaya kepada Kristus, mereka tetap setia memelihara iman walau tanpa pengajaran dan penggembalaan para rasul, saat orang lain tidak optimis terhadap mereka (bahkan ayah rohani mereka Paulus juga merasa tidak optimis), tetapi mampu bertahan, inilah yang menjadi kisah yang sangat mengharukan.

Jika lingkungan secara obyektif ramah dan sistem pendukungnya memadai, iman kepercayaan orang Tesalonika mungkin kurang bersemangat.

Oleh karena itu, dalam kisah kemenangan ini, tentu kerja keras upaya pribadi orang Tesalonika penting, tetapi lingkungan eksternal yang tidak menguntungkan juga merupakan elemen yang sangat diperlukan. Hanya berada di dalam lingkungan yang menentang iman barulah realisasi iman menjadi kisah indah. Seperti Paulus menasihati orang-orang percaya Filipi: supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan (Filipi 2:15-16a). Hidup dalam zaman bengkok dan pemberontak, menjadi anak-anak Allah yang tak bercela; hidup dalam masa-masa yang gelap, mereka telah memperlihatkan cara kehidupan Firman yang sebagai cahaya terang. Seluruh tuntutan iman itu penuh dengan ketegangan kontradiktif.

Ya, jika lingkungan sekitar terang adanya, lalu untuk apa lagi kita berkata hendak menjadi terang di jalan? Kita harus menjadi terang, karena dunia ini gelap. Sama seperti Yesus Kristus adalah Terang sejati, Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (Yoh. 1:5)

Saudara dan saudari, alih-alih mengutuk kegelapan, lebih baik kita membakar diri sendiri, tidak bersungut-sungut mengeluh tentang mengapa Anda dilahirkan di dunia yang begitu busuk dan absurd (tidak masuk akal), jangan salahkan Tuhan karena tidak membuka jalan yang cerah bagi kita; Tuhan sudah mengatur menempatkan kita hidup di dunia, itu adalah tempat nyata bagi kita merealisasikan dan mempraktikkan iman kita.

Apakah keadaan ini tidak bersahabat terhadap iman Kristen? Ya. Akankah sulit bagi kita untuk mematuhi prinsip-prinsip iman, dan apakah kita harus membayar mahal? Ya. Tetapi apakah praktik iman kita tidak lagi berguna? Tidak! Kapan saja adalah waktu yang tepat untuk mempraktikkan iman, dan tidak ada saat-saat menderita yang membuat praktik iman sama sekali mustahil.

Semangat makin menonjol terlihat di waktu krisis, mempraktikkan iman secara luar biasa di masa yang tidak biasa, dan menciptakan kisah yang luar biasa.

Dapat dipahami bahwa kita semua hanyalah orang-orang kecil, kita hanya ingin menjalani kehidupan yang normal-normal saja, tidak seorang pun ingin menjadi pahlawan iman yang hebat dan menorehkan legenda yang luar biasa. Tetapi jika kita dipilih oleh Tuhan dan ditempatkan dalam masa-masa yang di luar biasa ini, kita tidak punya pilihan, sebab Tuhan sudah memberikan pilihan milik-Nya menggantikan pilihan milik kita, maka kita haruslah mengakui dan menerima! Kepalkan tangan, gigit erat geraham gigi, selangkah demi satu langkah berjalan, dengan hati yang tenang seperti biasa, buatlah pilihan dan tindakan walau itu biasa-biasa saja tidak heboh, mungkin tanpa disengaja Anda menjadi pahlawan iman!

Bisikkan: sebagian besar kisah pahlawan iman ditorehkan seperti itu. Sebuah keajaiban digenapkan

Berdoa bagi negara kita (atau di mana saja Anda berada),
berdoa Tuhan memberkati gereja di negara kita,
berdoa Tuhan memberkati Anda yang setia kepada Kristus.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 5

「Iman yang Tulus serta Real Konkret」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

Bacalah secara cepat 1 Tesalonika pasal 5 (klik untuk membaca).

Paulus tinggal di Tesalonika hanya selama tiga minggu, meskipun ia menabur benih-benih Injil dan mendirikan komunitas orang percaya ini, ia tidak punya banyak waktu untuk menggembalakan dan membina mereka; orang-orang percaya ini baru saja percaya kepada Tuhan Yesus segera mengalami tekanan politik yang kejam, maka secara alami Paulus khawatir mereka tidak dapat mempertahankan iman mereka. Ia sungguh ingin kembali ke Tesalonika untuk mengunjungi mereka, tetapi tidak dapat melakukannya karena dihalangi Iblis (2:17-18). Pada akhirnya, Paulus harus mengutus Timotius pergi mewakili dia. Timotius kembali ke Tesalonika mewakili tim Paulus, bertemu dengan orang-orang percaya, dan tinggal di antara mereka selama suatu jangka waktu. Di satu sisi, ia mengamati situasi gereja dan orang-orang percaya, di sisi lain ia mencatat pertanyaan-pertanyaan iman yang mereka angkat dan membawa kembali apa yang ia lihat dan dengar kepada Paulus. Saat ini Paulus seharusnya berada di Korintus (Kis. 18:5; 1 Tes. 3:1-6).

Ada yang berpendapat bahwa saat itu Paulus berada di Atena. Namun, surat ini ditandatangani bersama oleh Paulus, Silas, dan Timotius, hanya selama di Korintus ketiga orang itu melayani dan hidup bersama, jadi ketika Paulus menulis surat ini berada di Korintus, ini adalah perkiraan yang paling masuk akal.
Setelah mendengar kabar baik yang dibawakan oleh Timotius tentang gereja Tesalonika, Paulus menuliskan Surat 1 Tesalonika, di satu sisi, mendorong orang percaya untuk melanjutkan dan memiliki kesaksian iman yang baik; di sisi lain, ia juga menjawab pertanyaan mereka tentang masalah iman, terutama doktrin hari-hari akhir. Waktunya seharusnya antara 50 dan 51 AD.
Timotius membawa surat Paulus ini kembali ke Tesalonika, sejak itu, setidaknya ia datang sekali lagi. Dia tampak seperti seorang pembawa pesan, jembatan komunikasi antara Paulus dan Tesalonika. Belakangan, Paulus menuliskan Surat 2 Tesalonika, yang membahas pertanyaan lanjutan yang diterima dan doktrin akhir zaman (eskatologi) yang belum sepenuhnya selesai dibahas dalam buku sebelumnya.

Orang-orang percaya di Tesalonika dapat membangun fondasi iman yang kuat dalam waktu singkat segera setelah percaya kepada Tuhan, dalam kondisi tanpa penggembalaan dan kepemimpinan seorang pendeta senior, mereka masih dapat menahan tekanan aniaya eksternal yang kuat dan tetap dapat berdiri teguh. Ini patut dipuji. Kunci alasan utama: kepercayaan mereka tulus dan real / konkret.
Pertama-tama, iman mereka tulus, itu bukan dengan cara mengubah iman menjadi alat mencari manfaat dan keuntungan, itu bukan untuk mendapatkan kekenyangan roti atau mendapatkan manfaat dunia. Tidak ada keraguan bahwa harus ada alasan untuk berganti agama, keinginan pribadi memang adalah unsur paling utama dan penting, misalnya, masalah bisa diselesaikan dan kebutuhan terpenuhi, hanya sedikit orang yang murni religius hanya demi religi ; namun, jika agama hanya alat sarana untuk mencari penyelesaian masalah pribadi, maka ketika masalah terselesaikan, kebutuhan terpenuhi, lalu agama sudah menjadi tidak relevan, tidak dibutuhkan lagi. Cari dokter jika Anda sakit, tetapi sekarang setelah penyakitnya sembuh, apakah Anda masih membutuhkan dokter terus menerus di sisi Anda? Oleh karena itu, elemen asli atau tujuan sejati dari orang percaya Tesalonika jelas bukan utilitarian (memaksimalkan penggunaan untuk mendapatkan manfaat keuntungan dan mengurangi penderitaan semaksimalnya), mereka dengan tulus menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus dan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk mengetahui dan mengalami Yesus yang bangkit dari kematian, dan menanamkan iman baru ini sebagai inti kehidupan mereka, melaluinya mengubah pandangan hidup, pandangan terhadap dunia, dan sistem nilai-nilai mereka. Bukan sekedar menambahkan keyakinan baru pada kepercayaan lama, tetapi mengganti keyakinan lama dengan keyakinan baru, bukan kantong kulit lama untuk memuat anggur baru (Mat. 9:17).

Iman tidak bisa berpusat pada diri sendiri, tetapi dalam hidup menemukan Dia yang lain dari diri sendiri, dan mulai saat itu setia mengikut Dia.
Iman bukan sekedar untuk menemukan pembantu atau penolong, tetapi terlebih adalah menghadap Tuan (Tuhan) atas kehidupan, ia menjadi pelayan di hadapan Tuan ini, alih-alih menemukan agama sebagai sumber penyokong untuk memenuhi rencana diri, tetapi sebaliknya menemukan bahwa ia ada di dalam rencana besar yang ditetapkan Tuan (Tuhan) ini, tugas bagi seluruh hidupnya adalah menyelesaikan rencana-Nya.
Orang percaya Tesalonika adalah pengejar iman yang tulus. Ketika mencari, menemukannya. Mereka yang bersungguh-sungguh mencari Tuhan, maka Allah pasti akan mengangkat wajah-Nya menghadap kepada dia. Lama atau pendeknya waktu bukanlah faktor utama penentu segala.

Kedua, selain dari ketulusan, iman orang Tesalonika juga benar. Kekristenan bukan hanya kisah yang mereka dengar dari tim Paulus, tetapi juga kisah nyata diri mereka sendiri. Mereka pastilah telah bertemu Yesus, dan dunia kehidupan mereka telah diterobos masuk oleh Yesus dan bertemu mereka, ini adalah pengalaman iman yang langsung tangan pertama, bukan pinjaman. Karena dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Iman yang nyata tidak dapat dipisahkan dari pengenalan rasional, tetapi itu tidak dapat murni hanya berupa penerimaan seperangkat konsep-konsep saja, haruslah ia memiliki pengalaman pribadi yang sesungguhnya. Yesus bukan sekedar tokoh dalam sejarah, tetapi pribadi Tuhan yang hidup, bagaimana mungkin orang yang belum pernah bertemu Yesus, bisa benar-benar percaya kepada Yesus?

Meskipun banyak orang mengaku percaya kepada Yesus, kepercayaan mereka tidak berdiri teguh terombang-ambing arus manusia, mengucapkan banyak ungkapan spiritual yang mereka dengar dan menjiplak dari orang lain, namun bukan pengalaman diri mereka sendiri. Situasi ini paling umum di Generasi warisan kedua , dari sejak kecil pergi ke gereja bersama orang tua dan menghabiskan lebih dari sepuluh tahun mendengarkan banyak kebenaran dari persekutuan dan sekolah Minggu, bahkan mengetahui dengan baik beberapa bagian Alkitab (terutama ayat-ayat cerita narasi) tahu lebih banyak daripada mahasiswa teologis. Lebih parah lagi, mereka mendengar banyak skandal di gereja dari mulut ayah dan saudara mereka, sangat mengenal begitu mendalam luar atau dalam kekristenan. Tetapi mereka yang begitu akrab dengan kekristenan tidak pasti memiliki iman yang benar; beberapa hanya orang percaya nominal, beberapa hanya menganggap gereja sebagai kelompok sosial, dan beberapa tidak lagi menghadiri gereja ketika mereka dewasa, meninggalkan warisan iman ini.

Tanpa iman pribadi yang real (konkret), hampir tidak mungkin untuk menahan goncangan dan tantangan dari luar, karena kita tidak akan membayar harga yang besar dan mahal untuk sebuah teori, dan kita tidak akan melepaskan kehidupan pribadi dan hal-hal berharga lainnya untuk agama yang tidak membawakan keterkaitan pribadi. Jika iman kekristenan itu dianggap tidak berharga, maka terlebih lagi tidak sepadan dan tidak berharga membayar biaya sosial yang tinggi.
Iman yang teguh harus tulus dan real (sungguh). Ketulusan adalah sikap terhadap iman, sedangkan kebenaran nyata dan real (sungguh) adalah pengetahuan dan pengalaman yang konkret.

Renungkan:
Ketulusan dan sifat real nyata adalah dua unsur iman yang paling mendasar dan tak terpisahkan. Kita tidak bertanya kepada seseorang apakah ia percaya dengan baik atau tidak, tetapi bertanya kepadanya apakah ia percaya sungguh atau tidak. Jika itu tidak sungguh, maka betapapun baiknya, itu adalah kebohongan (palsu yang dianggap sebagai yang baik) dan dangkal. Apakah kita percaya yang sungguh? Apakah kita orang Kristen sejati?


Saudara dan saudari, kekhawatiran bukan tentang Anda adalah orang-orang percaya yang dangkal, sebab iman Anda adalah tulus dan sungguh. Namun, bagaimana membantu orang percaya yang suam-suam kuku di gereja agar mereka menemukan motivasi iman, membantu mereka mengejarnya dengan serius, dan mendapatkan pengalaman tangan pertama secara langsung, ini telah menjadi tantangan utama dalam pelayanan kita. Maka pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku , agar orang-orang memiliki iman yang real dan menjadi murid Yesus yang sejati, itu adalah makna kunci dari misi Injil. Ini adalah tanggung jawab dasar dari semua orang percaya dan pelayan Tuhan, juga merupakan tujuan akhir dari kegiatan dan pelayanan Gereja. Tugas ini sangat penting terhadap kaum muda, khususnya generasi iman kedua.

Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 3-4

「Gereja Tesalonika」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

Latar belakang penulisan surat (2): gereja Tesalonika.
Bacalah secara cepat 1 Tesalonika pasal 3 dan 4 (klik untuk membaca). Menurut catatan Kis. 17:2, Paulus tinggal di Tesalonika hanya selama tiga minggu. Beberapa ahli percaya bahwa Paulus tinggal di kota ini untuk waktu yang lebih lama, tiga hari Sabat yang disebutkan dalam Kis. 17:2 hanya saat ia mengabarkan Injil di Sinagoge, bukan waktu sebenarnya ia tinggal di kota. Namun, bukti Alkitab yang mereka ajukan sebagai bukti bersifat kontraproduktif: misalnya berpendapat bahwa hubungan persahabatan antara Paulus dengan orang percaya Tesalonika, juga pengajarannya yang memiliki banyak segi (1 Tes. 2:9-12) seharusnya menunjukkan bahwa ia mengenal mereka sudah sejak lama.

Paulus memang memiliki perasaan yang mendalam terhadap komunitas gereja yang ia dirikan, tetapi ia tidak yakin apakah mereka masih akan mengingatnya setelah berpisah begitu lama, dan apakah mereka akan bersungut-sungut karena kepergiannya yang tiba-tiba. Ia sangat gembira ketika mengetahui bahwa di luar dugaannya mereka masih mempertahankan iman mereka dan masih mengingatnya. Kekhawatiran dan kegembiraan Paulus hanya menunjukkan bahwa ia belum membangun hubungan yang panjang dan kuat dengan orang Tesalonika. Ketika dia menemukan bahwa anggota gereja di luar dugaan dia masih mengingatnya, dia terkejut. Namun, kita tidak dapat secara retrospektif menyimpulkan bahwa keadaan yang di luar dugaan ini (yaitu, tidak normal dan tidak masuk akal) Paulus seharusnya bersama mereka untuk waktu yang lama sehingga di luar dugaan menjadi normal dan masuk akal.

Berdasarkan catatan singkat dalam Kisah Para Rasul, Paulus hanya tinggal di sana selama tiga minggu adalah penjelasan yang paling alami. Kecuali kita mengklaim bahwa Kisah Para Rasul ditulis pada abad kedua, sehingga tidak dapat memakai catatan Kisah Para Rasul untuk memahami Surat-surat Paulus. Paulus hanya tiga minggu memberitakan Injil di Tesalonika, ia terpaksa pergi karena penganiayaan oleh para penentangnya. Komunitas kecil iman yang didirikannya harus menghadapi penganiayaan terus-menerus sendirian.

Penganiayaan ini panjang dan berat. Berapa lama penganiayaan berlangsung? Untuk waktu yang lama Paulus tidak dapat kembali ke Tesalonika. Dia berkata bahwa dia telah berusaha keras mencoba menemukan kesempatan untuk kembali ke kota ini untuk mengunjungi orang-orang percaya, tetapi tidak berhasil karena perlawanan Iblis (1 Tes. 2:18). Meskipun kita tidak yakin bagaimanakah bentuk yang perlawanan Iblis, tekanan dari para pemimpin Yudaisme adalah alasan yang masuk akal. Seberapa parah penganiayaan ini? Kita percaya bahwa karena tekanan aniaya itu demikian hebat sehingga kelompok Yahudi awal yang percaya kepada Kristus meninggalkan Kristus.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sejak awal Paulus memberitakan Injil di Sinagoge, secara alami kebanyakan orang yang bertobat adalah orang-orang Yahudi, dan mereka juga bercampur dengan beberapa orang non Yahudi yang tentunya telah masuk agama Yahudi yakni sejumlah orang Yunani yang takut kepada Allah,  sebab orang-orang non Yahudi penyembah berhala tidak akan berada di Sinagoge. Tidak lama kemudian, Paulus memulai pertemuan Kristen di rumah Yason, dan sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah yang percaya kepada Kristus Yesus itu mengundang kerabat dan teman mereka non Yahudi untuk bergabung. Ada tiga jenis orang di rumah Yason: Yahudi, non Yahudi yang sudah bergabung dalam Yudaisme, dan non Yahudi.

Tentu saja, selain mengabarkan Injil di Sinagoge, sangat tidak menutup kemungkinan bahwa Paulus juga memberitakan Injil di berbagai bagian kota, ini juga menarik beberapa orang non Yahudi bertobat langsung kepada Kristus dari agama-agama non-Yahudi. Mereka juga menjadi anggota gereja baru. Namun, Alkitab tidak menuliskan  hal ini.

Bagaimanapun, orang Yahudi di jemaat paling awal gereja Tesalonika seharusnya memiliki jumlah perbandingan yang signifikan. Tetapi setahun kemudian, Paulus mengetahui keadaan gereja saat ini dari mulut Timotius, dan kemudian menulis 1 Tesalonika, dalam tulisan Paulus ini, kita melihat bahwa jemaat gereja secara mayoritas telah berubah didominasi orang percaya non Yahudi, bahkan jika masih orang Yahudi, itu hanya sebagian kecil.

Bagaimana cara melihat situasi ini? Paulus menggambarkan pertobatan orang Tesalonika menjadi Kristen (1 Tes. 1:9) Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,  kita bisa perhatikan bahwa deskripsi ini hanya sesuai untuk orang percaya non Yahudi yang biasa menyembah berhala. Baik orang Yahudi maupun orang Kristen adalah percaya pada Allah yang sama, dan Allah Perjanjian Lama dan Allah Bapa Perjanjian Baru adalah Allah yang sama (kalau tidak demikian maka merupakan bidat Marcionisme). Alkitab tidak  menggambarkan bahwa orang Yahudi adalah penyembah berhala, dan Paulus tidak menggambarkan pertobatan orang Yahudi menjadi Kristen sebagai meninggalkan berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah. Selain itu, sebagaimana dibuktikan oleh pernyataan Paulus dalam 1 Tes. 2:14-16, kita memiliki lebih banyak alasan untuk percaya bahwa para jemaat gereja Tesalonika secara mayoritas adalah orang-orang non Yahudi.

Ke mana perginya orang-orang percaya Yahudi yang awal mula itu? Alasan paling masuk akal adalah bahwa karena tentangan sengit dari para pemimpin Yahudi, banyak orang Yahudi yang awalnya menerima Injil yang diberitakan oleh Paulus telah meninggalkan iman mereka yang baru dan kembali ke agama Yahudi tradisional karena takut akan penganiayaan oleh rekan-rekan mereka. Penganiayaan terhadap gereja oleh para pemimpin Yudaisme pertama-tama ditujukan pada orang Yahudi Kristen yang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar daripada orang percaya non Yahudi. Dengan cara ini, orang-orang percaya non-Yahudi terus tinggal di gereja. Gereja Tesalonika menjadi komunitas Kristen yang didominasi oleh orang-orang percaya non-Yahudi.

Renungkan:
Saat ini, Gereja masih menghadapi banyak penganiayaan. Berbicara dengan beberapa gembala, dan mereka semua peduli tentang bagaimana memperkuat iman orang percaya dan membantu mereka mengatasi semua jenis pencobaan. Di hari-hari yang berangin dan cerah, ekspresi iman tidak lebih dari pergi ke gereja untuk berpartisipasi dalam pesta, berpartisipasi dan ikut-ikut dalam pelayanan, melakukan atau tidak, menjadi serius atau tidak, sebenarnya tidak berbahaya, setidaknya dari perspektif manusia, perbedaan antara serius atau tidak serius itu tidak terlalu besar. Namun, dalam menghadapi lingkungan yang sangat tidak bersahabat dengan iman, ketika bertahan pada iman harus membayar harga yang mahal, apakah iman itu teguh atau tidak, atau bahkan benar dan salah, perbedaannya adalah perbedaan antara langit dan bumi.

C.S Lewis pernah mengatakan sebuah perumpamaan: kita mengikat sebuah kotak dengan tali, dan kita mengikat simpul sesuka hati, lalu longgar, dan kita dapat mengikatnya kembali, hanya memiliki sedikit efek; tetapi jika kita bertemu api, kita harus menggunakan tali, satu ujung diikatkan ke kisi jendela, satu ujung ke pinggang Anda, dan kemudian menurunkan diri Anda ke jalan, apakah tali itu diikat dengan kuat, itu sangat penting, ketika hidup dipertaruhkan, sama sekali tidak mungkin jika mengikat sesuka hati asal-asalan, bahkan jika sudah diikat dengan kuat masih harus dipastikan lagi dan lagi untuk melihat apakah itu kuat dan dapat diandalkan.

Bagaimana memperkuat kepercayaan orang-orang percaya bukanlah pokok pembahasan di sini, yang perlu kita tanyakan pada diri kita adalah: Apakah iman saya kuat? Iman saya hanya cocok untuk makan dan mengobrol di hari-hari damai, atau bisakah itu membantu saya melewati masa-masa sulit?

Mari kita dengan serius memperhatikan peringatan dari Petrus: Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya ( 1 Pet.1:7)


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 3:1-3

「Waspada」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 3:1-3 [ITB])
1 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. 2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, 3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

Mulai perikop ini, Paulus beralih ke topik utama lain di surat ini: di pasal dua ia membahas pelayanan dalam kerendahan hati dan persatuan, di pasal ini beralih terutama membahas hendaknya orang percaya untuk berdiri teguh dalam iman Injil. Terjemahan CUV secara fungsional memulai ayat 3:1 dengan Aku masih memiliki sesuatu untuk dikatakan tampaknya merupakan pilihan yang cocok, di paruh kedua kalimat ini Paulus berbagi sikap mentalitasnya ketika menulis topik ini, ia percaya bahwa inilah yang harus dimiliki oleh orang percaya untuk menguasai subjek ini, sehingga dia merasa perlu untuk mengingatkan mereka berulang kali. Ini mungkin mencerminkan bahwa dia sebelumnya telah memberikan peringatan serupa kepada mereka, dan bahkan mungkin telah mengajar mereka hal ini ketika dia pertama kali mengabarkan Injil di Filipi.

Perintah utama dari 3:1 adalah agar orang-orang percaya bersukacitalah dalam Tuhan. Frasa dalam Tuhan (mengandalkan Tuhan) memiliki beberapa arti. Di satu sisi, tentu saja, ini bergantung pada Tuhan, tetapi dalam pemikiran Paulus, konsep dalam Tuhan adalah konsep yang kompleks (kompleks menurut KBBI: suatu kesatuan yang terdiri dari sejumlah bagian, khususnya yang memiliki bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung), di dalamnya mencakup hubungan antara orang percaya dan Tuhan Yesus Kristus, serta orang percaya ikut memiliki bagian dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus yang karena iman sehingga berpartisipasi dalam komunitas Tuhan. Karena itu, sukacita mengandalkan Tuhan dapat berarti bahwa orang percaya harus berdiri teguh dalam iman Injil Yesus Kristus, menganggap nilai Injil sebagai target nilai yang kita kejar, dan Tuhan Yesus Kristus sebagai dasar sukacita kita.

Perintah ini pada dasarnya sama dengan yang dinyatakan dalam 3:3, dan di sini Paulus menegaskan bahwa orang percaya adalah kelompok komunitas Allah yang sejati dan umat-Nya. Yang paling penting adalah kita membanggakan Kristus Yesus dan Tuhan sebagai sukacita kita (bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah)

Bagi orang percaya di abad pertama, tradisi Yahudi merupakan tantangan besar bagi iman Injil. Karena Injil Yesus Kristus mewarisi janji-janji dari Perjanjian Lama dan membawa harapan orang Yahudi untuk digenapi dalam Yesus Kristus. Mereka yang masih menggenggam erat tradisi lama menunjukkan bahwa mereka tidak menerima apa yang telah digenapkan dalam Kristus. Jadi ini bukan hanya permasalahan sejarah, tetapi juga tantangan teologis yang penting.

Paulus menggunakan nada yang keras dalam ayat 3:2, menempatkan peringatan ini di hadapan para pembacanya, menyebut para pengikut tradisi Yahudi ini sebagai anjing, pelaku kejahatan fasik, dan menyebut sunat yang mereka pandang berat itu adalah kepalsuan. Ini menghendaki pembaca untuk memperlakukan tradisi ini dengan oposisi yang ekstrem, sangat waspada berhati-hati.

Kita hari ini mungkin tidak terpengaruh oleh Yudaisme tradisional ini, tetapi kita masih perlu terus waspada dan memiliki perlawanan ekstrem terhadap ajaran apa pun yang berbeda dari kepercayaan Injil, sehingga gagasan-gagasan ini tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pendekatan dan pengaruh. Karena nilai dan iman yang menyimpang yang salah akan menuntun kita selangkah demi selangkah meninggalkan dan berada di luar kebenaran Kristus.

Renungkan:

Apakah kita selalu tetap setia pada ajaran Injil Yesus Kristus dan mempertahankan kemurnian iman dengan teguh? Mohon Tuhan melindungi kita dari penyimpangan.


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Mazmur 132:17-18

「Langsung Menunjuk Harapan Masa Depan」

Ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) Alliance Bible Seminary H.K.

(Maz. 132:17-18 [ITB])
17Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk bagi Daud, Aku akan menyediakan sebuah pelita bagi orang yang Kuurapi. 18Musuh-musuhnya akan Kukenakan pakaian penuh malu, tetapi di atas kepalanya akan bersemarak mahkotanya.」

Dari sumpah Daud (ayat 1-10) sampai sumpah Allah (ayat 11-16), dua perikop ayat ini dengan jelas menunjukkan harapan masa depan. Ayat 17 「Di sanalah Aku akan menumbuhkan sebuah tanduk bagi Daud」 (atau terjemahan CVT 「Di sanalah Aku akan membuat tanduk Daud menjadi kuat」), 「tanduk」 dalam Perjanjian Lama adalah simbol dari kekuatan, dan mezbah terdapat 「tanduk」, yang merupakan simbol dari kehadiran Allah dan kuasa-Nya. Selain itu, 「tanduk」 juga mengandung makna 「bersinar.」 Dari sini dapat dilihat, 「tanduk」 dan 「pelita」 di ayat 17 adalah antitesis yang identik. Jadi siapakah yang pemazmur tunjuk dengan dalam kata 「orang yang Kuurapi」? Ini menunjuk kepada Daud. Dalam pengertian ini, arti dari ayat 17 adalah untuk menunjuk bahwa karena kehadiran kuasa Allah, maka Daud dapat menjadi kuat dan bersinar! Ini dengan tepat merespon ayat 1, Tuhan sungguh ingat akan Daud, membuat kerajaannya dapat tumbuh seperti tanduk, seperti pelita menerangi sekeliling.

Ada sarjana peneliti Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa ayat ini bahkan menunjuk ke masa depan, karena 「tanduk」 selain melambangkan kemampuan kerajaan Daud, tetapi juga pelambang yang menunjukkan kepada Mesias (Luk. 1:68-69), dan 「pelita」 tidak hanya menunjuk kerajaan Daud adalah pelita bagi Israel, tetapi juga terlebih lagi merujuk kepada Cahaya masa depan, Raja kekal yang selamanya.

Untuk alasan ini maka 「musuh」 pasti akan malu, dan 「raja / Raja」 yang dipilih oleh Allah akan 「bersinar.」 Ini dapat dikatakan merupakan akhir yang pasti dan tidak tergoyahkan, 「kemenangan」adalah sedemikian total. Dengan kata lain, 「kejahatan」 akan hanya dalam frustrasi dalam kekacauan, tetapi 「kebenaran」 akan berbuah di dalam kemenangan. Ini adalah tepat merupakan langkah-langkah praktis yang dituliskan oleh 「harapan」 bagi 「ketaatan」.

Renungkan: 「Harapan」 yang tidak dapat dimusnahkan dihasilkan dari sebuah telaahan atas sejarah, bukan saja merupakan 「introspeksi」, tetapi terlebih lagi merupakan iman kepercayaan yang kokoh. Ini dapat dikatakan merupakan motivasi pendorong penting bagi peziarah di perjalanan ziarah. Mazmur 132 memelihara kenangan kita dan memelihara 「harapan」 kita atas masa depan, melaluinya menuntun kita menuju jalan kedewasaan dan ketaatan. 「Iman」 kita tidak melepaskan diri dari sejarah, lebih lagi tidak pernah meninggalkan kesetiaan 「janji」 TUHAN. Ketika kita menyanyikan mazmur ini, tepat memberikan kita kesempatan untuk mencicipi dengan teliti 「iman」 kita lagi, yang adalah sedemikian benar, begitu nyata, sedemikian abadi tidak berubah.


(silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Mazmur 123:3-4

「Penantian」 Hamba

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 123:1-4 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. 2Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
3Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; 4jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.

Maz. 123:3-4 cukup spesial: bersama dengan akhir ayat 2, Pemazmur di sini total tiga kali meminta 「belas kasihan」 dari TUHAN Allah, kemudian ayat 3-4 juga dua kali menyebutkan bahwa kita telah mengalami ejekan dari orang yang hidup nyaman dan penghinaan dari orang sombong. Suara dan nada Pemazmur, seolah-olah teriakannya belum terdengar oleh Allah, oleh karena itu, berharga untuk direnungkan: sebenarnya apakah Tuhan akan begitu kejam, menempatkan para pengikut-Nya hidup matinya mereka seakan di luar urusan diri-Nya? Selain itu, bagaimana kedua ayat ini berhubungan dengan 「melayangkan mata berharap」 di ayat 1-2?

Pada kenyataannya, yang dibicarakan dalam ayat 2 oleh Pemazmur tentang hamba 「melayangkan mata berharap」 kepada tuannya, mengingatkan kita bahwa terdapat hubungan yang sangat intim antara peziarah dan Tuhan. Dalam hubungan antara Allah dan peziarah ini memastikan bahwa ketika kita masuk ke dalam keadaan tersebut di ayat 3-4, kita tetap tidak perlu takut, karena Allah yang berpegang pada perjanjian-Nya yang penuh kasih adalah Allah yang setia tidak pernah berubah, dan kita ternyata selalu tinggal berada di tangan seorang Tuan yang lebih baik dan lebih ajaib. Dengan kata lain, Tuhan tidak hanya tidak memperlakukan kita seperti orang luar yang tidak ada sangkut paut dengan diri-Nya, Ia menempatkan kita di dalam hati-Nya, mengurus, membimbing, dan mengasihi melindungi kita. Apa yang perlu kita ingat dengan sungguh-sungguh? Ternyata, kita semua sudah tinggal di bawah 「belas kasih」.

Para peziarah sudah mengalami asam pahitnya perjalanan ziarah, dan hari ini mereka akhirnya sampai ke tempat ini ─ rumah Tuhan; oleh karena itu ia tidak lagi perlu bertanya lagi, 「dari manakah datangnya pertolonganku?」 Saat ini yang harus ia ketahui dan tidak boleh lupa adalah bahwa saat ia menyelesaikan perjalanan Ziarah, meninggalkan Bait Allah, sekali lagi kembali kepada kehidupannya, TUHAN tetap masih merupakan sumber kekuatan dirinya, dan akan berkelanjutan tiada henti menyertai bersama dirinya.

Apakah TUHAN Allah akan mengabaikan para peziarah? Tentu saja tidak!

Renungkan: Apakah hamba masih harus 「menantikan」? Mungkin ketika kita tidak melupakan bahwa kita telah tinggal di bawah 「belas kasihan」 dan telah terus menerus berada dalam pemeliharaan Tuan, kita akan tahu bahwa bahkan jikalaupun jalan di depan sangat sulit untuk dilalui, namun dengan bantuan Tuan yang bertakhta di sorga, kita pasti akan mampu menyelesaikan perjalanan.

Apa kesulitan kita jumpai? Mohon Tuhan menolong kita!

Mazmur 121:5-8

「Janji Allah Penjaga」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 121:1-8 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
2Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
3Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. 4Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
5Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
6Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
7TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
8TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Dalam Mazmur 121:1-4, Pemazmur dengan iman teguh memberitahukan kepada kita: Allah adalah Penjaga kekal kita. Dan di bagian kedua, ayat 5-8, Pemazmur memberitahukan kepada kita: Allah adalah Allah yang peduli memperhatikan kita.

Melanjutkan membaca, berharga untuk kita renungkan adalah mengapa 「matahari dan bulan」 bisa membawakan 「bencana」 kepada peziarah? Pada kenyataannya, dalam masyarakat di daerah timur dekat zaman kuno, 「masuk angin」 bagi orang-orang yang dalam perjalanan tidak hanya sebuah keadaan yang sangat biasa, pada saat yang sama juga merupakan urusan yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, perjalanan sang peziarah di bawah terik matahari selain sangat berat tetapi terlebih lagi adalah kemungkinan tantangan keselamatan jiwa. Sedangkan 「bulan」, ternyata di padang gurun yang tidak ada apapun, sinar cahayanya juga sangat kuat, bahkan sampai bisa membahayakan mata. Oleh karena itu, Pemazmur hendak memakai serangan 「matahari dan bulan」 terhadap para peziarah, untuk memberitahukan kepada kita sebuah kenyataan penting: di jalan ziarah ini kita bisa bertemu berbagai macam bencana. Dalam ayat 6, Pemazmur tidak menutup-nutupi kemungkinan kita bertemu 「bencana」, juga tidak menunjukkan bahwa kita bisa terhindarkan tantangan 「bencana」. Tetapi ia dengan teguh menunjukkan: segala bencana celaka, penyakit, hal tidak terduga dsb., semuanya tidak mampu membuat kita menyerah atas perjalanan ziarah ini, karena kita mengetahui Allah adalah perlindungan Penjaga kita.

Beberapa peneliti saat membaca perikop ini memahaminya sebagai demikian: 「kecuali air laut menyusup masuk kabin kapal, jikalau tidak demikian maka semua air di dalam lautan samudera juga tidak mampu membuat sebuah kapal tenggelam; kecuali kita mengijinkan penderitaan menginvasi masuk, jikalau tidak demikian maka seluruh penderitaan dunia tidak dapat mencelakai kita.」 Ini adalah makna sebenarnya dari janji dalam mazmur 「TUHAN akan menjaga engkau, terhindarkan menerima segala kecelakaan」 (ayat 7). Allah pasti melindungi kita dan bersama kita, tetapi jangan lupa bahwa kita tidak ingin meniru generasi orang Israel yang di gurun ─ ketidaktaatan, ketidakpercayaan; tetapi hendak tetap taat dengan sungguh-sungguh di jalan ziarah ini, tekun bertahan sampai akhir.

Dalam ayat 8, Pemazmur mengatakan: 「TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya」, apa maksudnya? Pemazmur hendak kita mengerti bahwa Allah tidak hanya menjaga kita dalam 「segala hal」, tetapi 「keluar masukmu」, yang paling penting adalah untuk memberitahu kami bahwa: dalam perjalanan hidup, Tuhan memiliki kemampuan untuk 「secara total sepenuhnya」 melindungi kita.

Renungkan: 「iman」 mungkin berasal dari pengalaman kita yang berlimpah dan kokoh terhadap Allah, dan juga adalah kesetiaan dan ketidakberubahan Allah terhadap kita. Marilah kita dengan kokoh percaya bahwa Allah yang memiliki perasaan sedang memperhatikan kita, Ia bukan melipat lengan menjadi penonton, terserah semaunya kita bergumul merontah dalam penderitaan pahit, ketakutan merasa tanpa sandaran terhadap situasi di depan mata; Ia terus menerus beserta dengan kita. Tidak peduli bagaimana curamnya jalan ziarah ini, berapa banyak tantangan dan kesulitan yang ada di jalan, mari kita dengan sungguh-sungguh ingat bahwa Allah adalah pemberi anugerah terbesar kita, dahulu demikian, sekarang demikian, kelak juga pasti demikian.

Mazmur 121:1-4

「Aku Hendak Memandang kepada Gunung Tinggi」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 121:1-8 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
2Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
3Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. 4Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
5Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
6Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
7TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
8TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Mazmur 120 memberitahukan kepada kita: saat peziarah menginjakkan kaki melangkah di jalan ziarah ini, kita hendak mengetahui: TUHAN Allah adalah sandaran kita dalam gelombang raksasa; lalu bagaimana dengan Mazmur 121? Pemazmur hendak memberitahukan kepada kita: saat kita berjalan maju, Allah adalah 「Perlindungan kekal」 kita.

Memasuki pasal 121, tindakan Pemazmur 「melayangkan mata」 (ayat 1) adalah sangat penting, mengapa yang demikian? Kita coba bayangkan, Yerusalem Bait Suci dibangun di atas gunung tinggi 1.000 meter di atas permukaan air laut, dan juga berdasarkan Mazmur 125 membuat kita mengetahui, gunung Sion dikelilingi oleh 「kumpulan gunung-gunung」. Dengan kata lain, bagi peziarah saat itu, kesulitan perjalanan ziarah ini, sungguh tidak bisa digambarkan dengan pena dan tinta. Untuk menghadapi 「kumpulan gunung-gunung」, melangkah maju sungguh benar-benar adalah sebuah ujian keras terhadap dalam 3 aspek atas stamina, emosi dan hati rohani. Perkataan Pemazmur 「melayangkan mataku ke gunung-gunung」, dan juga seruan 「dari manakah akan datang pertolonganku?」 justru seperti mengingatkan kita: jangan lupa di antara 「kita」 dengan 「kesulitan yang kita temui」, masih ada Allah kita! Saat Pemazmur 「melayangkan mata」 memandang 「kumpulan gunung-gunung」, saat memandang berbagai macam tantangan dan kesulitan, tindakan「melayangkan mata」dari Pemazmur ini mungkin bukan kehilangan arah, dan terlebih lagi penting adalah titik fokus dari pandangan mata, yakni adalah 「pertolongan」 「datang dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi」 (ayat 2). Dilihat dari sini, Pemazmur 「melayangkan mata」 terdapat dua makna penting:

  1. Jikalaupun bahaya datang menimpa, Pemazmur tetap memiliki iman bersandar yang teguh terhadap Allah;
  2. Yang dipercayai oleh Pemazmur, bukan illah bangsa asing, tetapi adalah Allah yang memiliki relasi perjanjian dengan dirinya, dan seluruh Israel.

Melanjutkan lagi ayat 3-4, terlebih dahulu membuat kita melihat bahwa Allah yang dikenal oleh Pemazmur adalah Sang Maha Kudus「Penjaga Israel」. Mengapa dikatakan demikian?

Seringkali saat kita membaca dua ayat Alkitab ini, secara kebetulan akan meletakkan titik fokus pada bagian 「tidak terlelap」, 「tidak tertidur」, menonjolkan Allah adalah Allah yang tidak kenal lelah, tidak membutuhkan istirahat, dan hidup kekal, Allah yang setiap saat memelihara dan melindungi orang. Hanya saja, kita justru telah mengabaikan Pemazmur di sini dengan sengaja meletakkan pengenalan dan imannya terhadap Allah ke dalam pentas「sejarah Israel」.

Kita coba bayangkan, saat peziarah menaikkan pujian Mazmur ini, saat bernyanyi sampai frasa 「Penjaga Israel」, mereka teringat akan apa? Mungkin adalah pengalaman leluhur mereka keluar dari Mesir, melewati Laut Merah; tetapi terlebih lagi mungkin, justru adalah 「sungut-sungut」 mereka terhadap Allah (Kel. 16), mungkin karena tidak ada air minum maka membuat 「keributan」 dengan Musa (Kel. 17), bahkan mungkin mereka oleh karena Musa lama tidak turun gunung dan bimbang terhadap Allah, sehingga membuat lembu emas (Kel. 32) dan berbagai 「sejarah」. Pada kenyataannya, sejarah Israel sungguh benar-benar satu kali demi satu kali membuat kita melihat mereka bagaimana 「tidak beriman」 kepada Allah. Jikalaupun Israel orang pernah mengalami begitu banyak kali mukjizat Allah, bahkan setiap mukjizat Allah adalah demikian menggetarkan hati orang, kemudian mereka tetap 「goyah」.

Sampai di bagian ini dari Mazmur 121, di dalam perjalanan ziarah ini, Pemazmur hendak bertanya kepada para peziarah: apakah kita semua memiliki iman sepenuhnya dan iman bersandar kepada Allah?

Renungkan: mengarahkan wajah kepada Allah Sang pemegang kendali atas sejarah, kita sungguh benar-benar tidak perlu terkejut takut demi kesulitan dan tantangan yang ada di depan, karena, Allah adalah Allah yang setiap saat berdiri di antara kesulitan kita. Jalan ziarah ini mungkin tidak mudah dilewati, hanya saja saat kita 「melayangkan mata」 memandang Allah Sang Penjaga Perlindungan kekal kita ini, lalu kita untuk apa merasa ketakutan?