Tag Archives: Kekuatan Menang

2 Korintus 1:3-11

Dalam segala penderitaan

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 1:3-11 [ITB])
3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, 4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.
5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. 6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.
7 Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami.
8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.
Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. 10 Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, 11 karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

Selalu ada pasang surut dalam hidup, dan itu tidak akan selalu berlayar mulus, ini adalah sesuatu yang semua orang mengerti dan menerima, masalahnya adalah ketika kesulitan dan tantangan datang, bagaimana kita akan menghadapi dan meresponsnya? Reaksi yang berbeda akan menyatakan kita adalah orang yang bagaimana, dan apa yang ada dalam iman, visi dan arah hidup. Tuhan Yesus pernah berkata, ketika seorang gembala melihat serigala datang dan melarikan diri meninggalkan domba-domba, ia hanyalah pekerja upahan yang peduli pada dirinya sendiri dan tidak peduli para domba (Yoh. 10:12-13), serigala itu bisa saja sifat rakus keuntungan dan melupakan kebenaran, bisa juga sifat kemunafikan berpura-pura orang jujur, sifat penjahat, atau kekuatan yang menghalalkan segala cara untuk menindas komunitas iman, ketika serigala datang, lalu apa tindakan gembala dalam menanggapi keadaan ini, akan menunjukkan sifat asli gembala ini. Sifat otentik (authentic) seseorang biasanya menjadi nyata ketika kesulitan dan badai datang, di dalam penderitaan nyata jati diri asli.

Ketika Paulus sedang menulis 《Surat 2 Korintus》, ia menghadapi kesulitan dan tantangan besar dalam hidup. Belum lama ia menghadapi tekanan besar dan penderitaan yang mengancam jiwa di Asia (1:8; beberapa ahli menunjukkan bahwa ini dicatat dalam Kis. 19:21-41, kerusuhan yang terjadi di Efesus), dan sekarang dia terlebih ditantang dan diserang dengan jahat oleh rekan-rekan di gereja Korintus, dapat dibayangkan betapa kecewa dan sedih hati dia saat ini. Paulus memiliki banyak alasan, peluang lain, dan modal jika ia ingin meninggalkan jemaat Korintus. Namun, ia memilih untuk menghadapi serangan dan tantangan ini secara langsung, bukan untuk menjaga kehormatan pribadi, bukan untuk membalas mereka yang memfitnah dirinya, tetapi adalah untuk tujuan membangun orang (13:10), ia hendak membawa hati saudara-saudara tersebut agar kembali untuk menaati Kristus (10:5). Dapat dilihat bahwa dasar pertimbangan Paulus membuat semua keputusan adalah apakah dapat menaati Kristus dan membangun saudara dan saudari. Ya, kesulitan sangat besar, dan tekanan juga tak tertahankan, tetapi bagaimana orang harus berjalan bertindak tidak ditentukan oleh keadaan dan emosi. Karena sudah mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka kedaulatan atas hidup kita harus diberikan kepada tangan Yesus Kristus, Dia memutuskan langkah berikutnya. Ini adalah sikap dan cara hidup orang yang percaya dan mengikuti Kristus.

Selain memiliki pandangan hidup yang benar, apa yang ada di balik Paulus yang mendukungnya, sehingga ia memiliki tekad dan motivasi yang kuat untuk mengatasi segala tekanan dan penderitaan yang datang? Ayat Alkitab yang kita baca hari ini (1:3-11) membuat kita melihat bahwa itu adalah pengenalan dan pengalaman yang mendalam seseorang terhadap Allah. Siapakah Allah? Atau lebih tepatnya bertanya, bagi Paulus siapakah Allah? Mengenai pertanyaan ini, setiap orang Kristen memiliki jawaban di dalam hatinya, perbedaannya apakah dia bisa menjelaskan, sistematis, dan berdasarkan apa. Setiap orang percaya pasti di dalam hati memiliki pandangan tentang Allah, dan apa pandangan tentang Allah itu mempengaruhi bagaimana seseorang menghadapi kesulitan dan kesengsaraan dalam hidup. Di dalam hati Paulus, Allah adalah seorang Bapa yang penuh kasih, yang akan selalu memberikan segala macam penghiburan dalam semua kesengsaraan (1:3-4); tidak hanya demikian, terlebih Allah adalah Tuhan yang membangkitkan orang mati (1:9), kedua keyakinan ini menjadi sandaran dan dasar Paulus untuk menghadapi semua penderitaan. Mengapa seseorang bisa bertahan? Karena Bapa yang penuh kasih memberikan segala macam penghiburan. Apa yang dibutuhkan orang yang dalam kesusahan dan kesulitan adalah penghiburan dan dorongan, dan penghiburan dan dorongan yang terbesar adalah yang datang dari Tuhan. Mengapa orang harus bertekun? Karena Allah memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati, Dia tidak dibatasi oleh semua kesulitan sebesar apapun. Allah benar-benar mampu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Berdasarkan dua dasar keyakinan iman ini, Paulus dalam kesulitan besar tetap masih bisa bertahan dan menghadapi dengan sikap positif.

Berasal dari mana dua keyakinan tentang Allah ini? Di satu sisi adalah wahyu dari Yesus Kristus (Allah Bapa Yesus Kristus, telah membangkitkan Dia dari antara orang mati!), Di sisi lain adalah pengalaman nyata Paulus (dalam kesulitan Tuhan telah menghibur mereka, dan menyelamatkan mereka dari kematian yang begitu besar; 1:4, 10). Wahyu dan menghidupinya bukan dua hal yang berlawanan, Allah mewahyukan diri-Nya atau menyatakan diri-Nya di dalam Kristus, kita menghidupi serta mengalami sifat nyata dan kebenaran wahyu Allah tersebut dalam kehidupan kita. Tidak mengalami sifat nyata dan kebenaran wahyu Allah maka hanya mengalami pengalaman manusia, wahyu yang disampaikan dalam Alkitab jika tidak pernah kita alami maka hanya menjadi teori abstrak dan utopis. Paulus memiliki wahyu dari Tuhan, dan pada saat yang sama mengalami sisi yang nyata dari Allah dalam pengalaman pribadinya. Keyakinan dan pengalaman yang nyata ini memberinya tekad dan motivasi yang kuat untuk bertekun. Tidak hanya itu, tetapi ia dapat lebih lanjut menggunakan iman ini dan pengalaman ini untuk menghibur, mendorong dan meneguhkan orang-orang di sekelilingnya: Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga (1:6)

Terakhir, berbicara sedikit tentang cara Paulus menulis. Paulus mengatakan kata-kata ini pada awal surat (para ahli berpendapat bahwa bagian ini adalah pujian), tujuannya tidak hanya untuk menjelaskan kepada jemaat Korintus bagaimana ia menghadapi penderitaan, tetapi juga untuk membantu orang percaya menghadapi penderitaan yang sama, menanggung penderitaan yang sama. Pada saat yang sama, Paulus juga melalui pengalaman penderitaan untuk menyatukan dirinya dengan orang percaya di Korintus: pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami (1:7), karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami (1:11). Manusia adalah makhluk yang memiliki emosi perasaan dan hubungan, ketika kita dapat merangkul seseorang secara perasaan berdiri di sisi kita, maka mudah untuk melanjutkan pembicaraan. Berdiri di sisi perasaan yang sama adalah hal yang sangat penting. Dalam situasi sulit di mana orang terus-menerus mempertanyakan dan memfitnah dirinya, Paulus pertama-tama berbagi pengalaman penderitaan kepada para penerima surat ini, menekankan bahwa ini adalah untuk penghiburan dan keselamatan mereka, adalah tulisan yang sangat benar dan bijaksana.

Renungkan:
Bagaimana pengenalan seseorang akan Allah membantu seseorang menghadapi segala macam kesulitan dan penderitaan? Kesulitan dan tantangan apa yang saya hadapi sekarang? Bagi saya, siapakah Tuhan itu? Di sekitar saya apakah ada yang menderita, yang perlu penghiburan, dan perlu dukungan saya? Apa yang harus saya gunakan untuk menghibur dan mendorong mereka?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


6 April 2019 ● Sabtu, Minggu Keempat Pra Paskah

Jika Kau Tetap dalam Firman-Ku, Kau Sesungguhnya Adalah Murid-Ku

Yohanes 8:28-38
28Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. 29Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”
30Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. 31Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” 33Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” 34Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
37“Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. 38Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.”

Renungan

Pada saat suamiku sedang mencuci mobilnya di Breakthrough Missions, sebuah institusi rehabilitasi kristiani untuk pengguna narkoba, ada seorang pengemudi lain yang sedang akan mencuci mobilnya juga. Suamiku memulai pembicaraan dengan pengemudi tersebut, menanyakan apakah ia seorang Kristen. Ia menjawab, ”Tidak, tetapi aku mempercayai bahwa semua agama adalah sama.” Salah satu orang penghuni institusi tersebut yang sedang mencuci mobil itu mendengar dan menjawab, “Aku telah mencoba mengikuti banyak agama, tetapi hanya Yesus yang dapat membebaskan aku dari kecanduanku!” Pengemudi lain itu terkejut dan menjawab, ”Baguslah. Kau sebaiknya terus menjadi seorang Kristen.”

Mungkin kau tidak kecanduan narkoba, tetapi mungkin bergumul dengan kemarahan, kebencian, ketakutan, kecemasan, pornografi, materialisme, harga diri, dan lainnya. Betapa indahnya jika dapat terbebas dari dosa-dosa ini. Bahkan, kata bebas diulang empat kali pada bacaan ini. Cara untuk menemukan kebebasan ini adalah dengan menetap dalam perkataan Yesus (ayat 31). “Tetap” (meno dalam bahasa Yunani) adalah salah satu dari kata-kata yang paling disukai oleh Yohanes, yang secara harfiah berarti tinggal bersama seseorang di rumahnya dan menjadi akrab dengannya (Yoh 1: 38-39).

Sosok yang kita seharusnya menjadi akrab pada konteks ini adalah Yesus, Anak Manusia, yang telah ditinggikan (ay 28). “Anak Manusia” mengacu pada sosok surgawi di Daniel 7:13-14 yang diberikan kekuasaan dan kemuliaan yang kekal. “Ditinggikan” memiliki dua arti, yang mengacu pada penyaliban Yesus dan juga pemuliaan yang luar biasa. Kebenaran yang paradox ini yang kemudian membebaskanmu – kebenaran yang menunjukkan bahwa Ia yang memiliki semua kekuasaan telah melepaskan semuanya, bahkan nyawa-Nya, untuk membebaskan kita dari kekangan dosa. Ia, yang sekarang ditinggikan, memberikan kekuasaan kepada kita untuk hidup dalam kebebasan.

Bagaimanakah cara kamu melepas kebencian dan kemarahan? Bagaimanakah cara kita dapat mengasihi mereka yang menolak dan menyakiti kita? Bagaimanakah caranya kamu dapat terbebas dari tindakan duniawi dan amoral yang memperbudak mereka di sekitarmu? Hanya ketika kau melihat kepada Dia dan tetap dalam kasih-Nya di atas kayu salib – kehidupan yang mengalahkan dosa – memberimu kuasa dalam kasih.

Doa
Terima kasih atas alat salib yang mempermalukan-Mu telah menjadi lambang kebebasan kita. Tolonglah aku agar dapat berjalan dalam kebebasan dari dosa ____________ (isi dengan dosa yang diingatkan oleh Roh Kudus). Jagalah aku agar tetap dalam kebenaran Yesus, Anak Manusia yang telah ditinggikan dan mengasihiku.

Tindakan
Setelah mengakui kebebasanmu dari dosa-dosa yang kau sebutkan diatas, apa satu hal yang Tuhan ingin kau lakukan? Apakah untuk memaafkan orang lain? Tindakan mengasihi? Atau perubahan akan suatu hal?

(Dalam beberapa jenis dosa yang sudah mendalam, dibutuhkan dukungan dari orang lain juga. Apakah kau butuh bercerita kepada seseorang atau bertindak atas sesuatu?)

Oleh
Rev Dr Maggie Low
Minister, Presbyterian Church in Singapore
Faculty, Trinity Theological College

1 Yoh. 2:15-17

「Pencobaan dari Dunia」

Bagaimana cara menang atas pencobaan dunia?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng ) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 2:15-17 [ITB])
15Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
16Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
17Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Sebelum merenungkan makna perikop ini, kita harus lebih dahulu memahami arti dari kata 「dunia」 (kosmos). Kata 「dunia」 dapat menunjuk segala yang ada di tingkat materi. Ini memang adalah Allah yang ciptakan, tidak ada maksud negatif, seperti 1 Yoh. 4:9「Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia」. Selain itu, kata 「dunia」 juga dapat menggambarkan orang yang ada di dunia, bahkan yang dikasihi Allah (1 Yoh. 2:2; 4:14; Yoh. 3:16). 「Dunia」 yang dikemukakan Yohanes di sini, bukan termasuk semua yang dibicarakan di atas, maka artinya bukan menghendaki orang Kristen menjauhi dunia dan orang yang di dalamnya yang Allah ciptakan, terlebih hendaknya melindungi alam dan setiap orang di dalam dunia ini, demikian juga Yesus menunjukkan bagaimana Ia menyayangi manusia di dunia dan alam.

Yohanes memberikan perintah kepada kita 「Janganlah mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya,」 adalah menunjuk segala kuasa yang melawan kehendak Allah dan yang memusuhi-Nya, dalam bagian lain dari surat ini juga dengan jelas menyampaikan berita bernada larangan semacam ini (1 Yoh. 3:1, 13; 1 Yoh. 4:5; 1 Yoh. 5:4-5, 19).
Yohanes menyebutkan tiga buah alasan mengenai perintah untuk tidak mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya:

  1. Orang jika mengasihi dunia, maka di dalam dia tidak ada hati mengasihi Bapa. Yohanes bukan meletakkan mengasihi dunia dan mengasihi Bapa dalam sebuah proses progresif pertumbuhan pengalaman rohani, bukan jika lebih banyak mengasihi dunia maka kurang mengasihi Allah, tetapi mengatakan bahwa kedua hal tidak dapat ada secara bersamaan.
  2. Karena semua kefasikan di dunia ini: 「keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup」, semuanya bukan berasal dari Bapa. Bukan saja keduanya tidak dapat berada bersama, bahkan semua kefasikan ini adalah memusuhi Allah dan anak-anak Allah.
  3. Dunia ini dan semua nafsu keinginanya semuanya akan lenyap, hanya yang mentaati kehendak Allah saja yang bisa ada sampai kekal.

Yohanes memberikan tiga buah contoh tentang hal dunia: 「keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup」:

  • 「Keinginan daging」 bukan menunjuk kebutuhan tubuh manusia, maka tidak cocok jika menyamakan “keinginan “ ini sama dengan cobaan iblis yang Yesus terima di padang gurun, yang ditolak oleh Yesus untuk merubah batu menjadi roti. Di sini 「daging」 adalah menunjuk sifat umat manusia yang dirusak oleh dosa, ada peneliti Alkitab yang menterjemahkannya sebagai 「sifat yang hina rendah」. Dan 「nafsu keinginan」 adalah yang dihasilkan dari sifat tersebut, keinginan yang tidak sesuai hukum (hukum Allah), keinginan ini melawan / melanggar kehendak Allah.
  • 「Keinginan mata」 bukan menitik beratkan pada menggunakan mata pada benda-benda yang disukai, tetapi adalah memakai pengelihatan mata untuk memuaskan nafsu keinginan dalam hati. Yohanes dengan jelas menunjukkan, hal-hal yang memuaskan ini juga adalah tidak sesuai kehendak Allah. Maka ada peneliti Alkitab yang menjelaskannya sebagai hiburan yang merusak moral.
  • 「Keangkuhan hidup」 dapat artikan 「kemuliaan palsu dalam hidup」, 「manifestasi kesombongan dalam hidup」, atau 「kesombongan melebih-lebihkan memuji diri hebat」, semua ini berkaitan dengan penilaian dan pengakuan dari diri atas hidupnya sendiri. Saat orang kehilangan percaya diri dan rasa aman terhadap kehidupannya sendiri, maka akan memakai berbagai macam cara untuk merias diri sendiri, memamerkan diri sendiri. Maka dalam bahasa Yunani kuno, kata 「kesombongan」 ini dijelaskan sebagai 「berpose palsu berlagak hebat」 atau 「melebih-lebihkan memuji diri hebat」.

Mengapa jika berjalan di dalam terang Allah akan mampu menang atas semua nafsu keinginan ini? Karena orang yang ada di dalam terang Allah, semuanya dikasihi Allah, mengetahui nilai dan makna kehidupan diri sendiri, terlebih memiliki iman yang mengetahui arah tujuan paling akhir dari hidup, ini adalah cara menang atas pencobaan dunia.

Renungkan: Saat manusia dunia mengejar nama, keuntungan dan kegembiraan dalam dosa untuk memadati lubang kekosongan hidup, kehidupan orang Kristen yang sederhana namun penuh rasa berkecukupan, adalah kesaksian yang paling indah, menunjukkan kepada manusia dunia bahwa di dalam Kristus dapat memperoleh sukacita yang paling besar.

Namun jika kita mengikuti hal dunia, mengikuti arus terseret ombak, diri kita yang dengan daging, mata dan kesombongan dibandingkan dengan manusia dunia, maka Kerajaan Allah terlihat tidak ada daya tariknya lagi bagi orang dunia. (Jika kita terasimilasi menjadi sama dengan manusia dunia, maka tidak dapat menampilkan daya tarik Kerajaan Allah kepada orang lain.)


Cara menang atas pencobaan dunia: berjalan di dalam terang Allah, yang artinya keharusan untuk tidak mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya.

1 Yoh. 2:12-14

「Kelompok Orang yang Berbeda」

Orang muda menang atas 「yang jahat」, adalah karena mereka kuat, apa penyebab mereka kuat? Bagaimana dengan para orang tua?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(1 Yoh. 2:12-14 [ITB])
12Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.
13Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya.
Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.
14Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa.
Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya.
Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Perikop ini adalah nasehat Yohanes yang ditujukan kepada kelompok orang tidak sama, secara permukaan memberikan pembaca perasaan tumpang tindih. Sebenarnya, Yohanes memakai semacam cara retoris yang spesial untuk menegaskan isi nasehatnya. Seperti orang tua hendak menasehati anak-anak, saat orang tua hendak menegaskan pentingnya pembicaraan, maka akan menambahkan: 「Saya sudah pernah berkata kepada engkau …. 」 ini adalah cara retoris yang menampakkan betapa bersungguh-sungguhnya nasehat Yohanes.

Secara umum para peneliti Alkitab berpendapat terdapat dua kelompok orang yang dituju oleh nasehat Yohanes: 「orang tua」 dan 「orang muda」. Kata 「anak-anakku」, dalam surat 1 Yohanes muncul tujuh kali, namun setiap kali tidak menunjuk kepada suatu kelompok khusus, dan adalah secara luas menunjuk kepada semua pembaca yang menerima surat ini. Salah satu titik berat yang ditekankan Yohanes dalam semua nasehatnya kepada semua pembaca surat ini: 「 sebab dosa kamu sekalian sudah diampuni melalui nama Tuhan」 dan 「 karena kamu sekalian mengenal Bapa」. Yohanes sekali lagi menekankan ia bisa menulis surat kepada mereka, bisa memperoleh persekutuan dengan mereka, adalah karena kita semua mengenal Allah Bapa yang sama, juga bersama mengalami pengampunan Yesus Kristus atas dosa kita. Saudara saudari, ini adalah dasar dan penyebab kita bisa bersekutu di dalam Tuhan. (Walaupun belum tentu dalam komunitas yang sama.)

Dua kali nasehat Yohanes terhadap para orang tua semuanya sama: 「karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya」. Di sini yang ditunjuk Yohanes dengan 「yang ada dari mulanya」, adalah menunjuk Yesus Kristus, Dia yang kekal. Apa yang ia katakan sebagai 「mengenal」 adalah menunjuk semacam pengalaman yang sangat berkesan lama, yang terukir pada tulang dan dalam hati, pengalaman semacam ini bagi 「para orang tua」 yang berusia tinggi adalah semacam pengalaman yang khusus. Spurgeon pernah mengatakan sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengalaman berkesan para saudara saudari yang berusia lanjut atas pengenalan kepada Allah: ada seorang penginjil muda di mimbar memberitakan tentang Tuhan yang setia, tiba-tiba ada seorang kakek tua yang duduk di belakang, tidak dapat duduk tenang berjalan ke atas mimbar menambahkan perkataan: 「cucu saya ini dapat memberitahu hal-hal tersebut, namun saya justru bersaksi atas hal-hal tersebut. Saya sudah hidup sampai usia 70 tahun, dan Ia adalah tetap begitu setia dan benar (trueness).」Ini adalah maksud sesungguhnya dari Yohanes, biarlah para orang tua bersama-sama bersaksi bagaimana Yesus Kristus mengampuni dosa mereka, seperti kesaksian dari dirinya yang ia tekankan tentang semua yang telah dengar dengan telinga sendiri, yang telah lihat dengan mata sendiri, yang telah saksikan dan yang telah raba dengan tangan sendiri.

Nasehat Yohanes terhadap orang muda adalah ditujukan atas keadaan yang paling sering dihadapi dalam masa emas mereka, dan mereka 「mengalahkan yang jahat」. Kata 「yang jahat」 dalam surat 1 Yohanes seluruhnya muncul lima kali, adakala menunjuk 「iblis 」 (1 Yoh. 3:8-9, 12), adakala menunjuk 「yang melawan Allah」 (1 Yoh. 5:18-19). Dalam dua kali nasehat terhadap orang muda, Yohanes menambahkan mereka mampu menang atas 「yang jahat」, adalah karena mereka kuat, dan penyebab kekuatan ini adalah firman Allah diam (terus menerus berada) di dalam hati mereka. Ternyata bukan mengandalkan usaha keras diri kita sendiri dapat mampu menang atas iblis, tetapi adalah firman Allah yang memberikan kita kekuatan.

Renungkan: orang Kristen yang tidak sama usia punya pengalaman yang tidak sama terhadap Allah, juga menghadapi ujian yang tidak sama di dunia, tetapi semua adalah akrena firman Allah dan penebusan yang dari Yesus Kristus yang mampu membuat kita menang. Bagaimana engkau menghadapi berbagai ujian yang tidak sama dalam setiap hari kehidupan? Biarlah kita menghargai dan mengingat, pengalaman bertemu dengan Tuhan dalam hidup dari saudara saudari yang berusia tinggi yang ada dalam persekutuan di gereja. Zaman walaupun berubah, bentuk cobaan juga punya tidak sama, namun Tuhan yang memimpin kita menang, adalah Tuhan yang dahulu, sekarang, dan selama-lamanya tidak berubah.