Tag Archives: Kehidupan Iman

Yesaya 58:1-5

「Puasa yang Munafik」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 58:1-5 [ITB])
1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! 2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:
3 Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga? Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

Orang-orang Yehuda yang kembali dari pembuangan sangat memandang penting penyembahan Bait Suci, dan bersedia untuk memelihara hari raya sesuai dengan hukum Taurat Musa, mereka setiap hari mencari TUHAN, mau memahami firman Allah, dan ingin mengetahui tentang hukum-hukum yang benar, juga suka dekat dengan Allah (ayat 2). Namun ayat 2 menggunakan kata yang luar biasa perlu diberi perhatian, yakni kata seperti untuk menggambarkan kelompok umat ini: seperti bangsa yang melakukan yang benar, ini menunjukkan bahwa mereka secara kulit luar tampaknya seperti warga negara yang menjalankan kebenaran, tetapi pada kenyataannya mereka tidak melakukannya, tidak memiliki manifestasi nyata yang merupakan ciri spesifik dari umat yang melakukan kebenaran, kesalehan mereka hanya di permukaan kulit luar saja, tetapi tidak ada perubahan dalam kehidupan dan perilaku. Situasinya seperti kita telah menghadiri banyak kelas pelajaran Alkitab, sangat tertarik untuk memahami perkataan Tuhan, dan sangat suka saat teduh dekat kepada Allah, tetapi hidup sama sekali tidak berubah. Walau aktif mengikuti kegiatan keagamaan di gereja, pada saat yang sama kehidupan sehari-hari hanya menghidupi aku (diri sendiri yang menjadi penentu apa yang benar dan adil), dan tidak menghidupi kebenaran dan keadilan yang diajarkan oleh Alkitab.

Ayat 3 mencatat suara-suara hati orang-orang Yehuda yang bersemangat dan rajin pergi ke Bait Suci untuk kegiatan keagamaan dan puasa: Mengapa Allah tidak melihat puasa mereka? Mengapa Tuhan mengabaikan kerja keras mereka? Di balik pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah masalah jasa, yaitu, mereka berpikir bahwa puasa adalah transaksi jasa, karena mereka telah membayar harga untuk kerja keras, mereka berharap Allah memberi imbalan yang sesuai sebagai tanggapan atas puasa mereka, mentalitas imbal balik pertukaran kepentingan ini adalah puasa yang sungguh munafik. Selain itu, ayat 3-5 menunjukkan bahwa puasa mereka hanyalah manifestasi kebohongan, puasa adalah satu urusan lain dan hidup mereka adalah hal lain yang berbeda. Saat puasa mereka memukul orang, mengejar kepentingan diri sendiri, dan mengeksploitasi orang yang bekerja keras, mereka berpuasa sambil melakukan apa yang dinyatakan oleh hukum Taurat sebagai tindakan yang tidak adil dan tidak benar. Puasa seharusnya adalah doa merendahkan diri, puasa dan merendahkan diri adalah kata yang memiliki makna yang sama, tetapi saat mereka berpuasa tidak memperhatikan dan menolong masyarakat kelas bawah, dan hanya mengejar kepentingan diri mereka sendiri, dengan kerendahan hati yang di kulit mereka hendak membuat diri mereka tinggi, ini adalah kehidupan munafik.

Ayat 5 mengatakan Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? Kalimat pertanyaan ini dengan sangat kuat dan tepat menjelaskan puasa yang mereka lakukan itu tidak dapat disebut sebagai puasa, dan tidak mendapatkan perkenan Allah. Ternyata di mata Tuhan, kegiatan keagamaan apa pun yang bertujuan membentuk pencitraan diri hanyalah merupakan sebuah pertunjukkan di muka orang, dan tidak ada kebutuhan yang nyata, Tuhan akan meminta tanggung jawab atas perilaku-perilaku menggunakan kesalehan lahiriah untuk mengejar kepentingan diri sendiri.

Renungkan:
Kehidupan dan pelayanan, kehidupan dalam dan luar saling terhubung, tetapi orang memisahkan keduanya demi ketenaran dan kekuasaan, dan menjalani kehidupan yang terbelah dan munafik. Bagaimanakah dengan hidup Anda? Renungkan apakah terdapat kegiatan keagamaan dalam kehidupan gereja Anda yang mirip dengan puasa yang dikatakan dalam perikop Kitab Suci ini? Apakah Anda memperhatikan banyak orang lemah di sekitar Anda yang membutuhkan bantuan?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Filipi 3:8-11

「Mengenal Kristus adalah Harta Paling Berharga」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Fil. 3:8-11 [ITB])
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. 10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati

Fil. 3:8 dimulai dengan Malahan atau Tidak hanya demikian / Lebih daripada itu (lih. CUV, ISV, NIV), jelas menunjukkan kaitan erat antara apa yang diungkapkan dalam paragraf ini selangkah lebih maju mengembangkan apa yang dibicarakan dalam paragraf sebelumnya. Paulus tidak hanya menganggap identitas status masa lalunya dalam Yudaisme sebagai yang merugikan, tetapi terlebih ia juga memperluas pandangan ini untuk semua hal. Dalam teks aslinya, Paulus menggunakan ekspresi dua kata yang berlawanan pada saat yang sama, sangat menekankan bahwa sikapnya saat ini benar-benar berlawanan dengan nilai-nilai sebelumnya. Dia memiliki pikiran yang sangat berbeda dari yang dahulu, yakni ia memandang bahwa mengenal Yesus Kristus merupakan nilai tertinggi tiada banding, dan itu nilai yang absolut melampaui segalanya.

Paulus tidak hanya membuat perubahan ini dalam pikirannya, dia benar-benar menerapkan nilai ini dalam praktik dan membuang semuanya sebagai kotoran. Kata melepaskan semuanya (membuang semuanya) sebenarnya adalah bentuk kata kerja dari kata rugi, yang menyatakan telah mendapat kerugian, dan sering memiliki arti mengalami penderitaan dan kesulitan. Ini adalah arah yang sama dengan panggilan Yesus Kristus kepada para murid. Di teks berikutnya, ia juga menunjukkan bahwa ia hendak menderita bersama Yesus Kristus, bahkan hendak mengikuti teladan kematian Kristus.

Tetapi tekad Paulus untuk menerima penderitaan bukanlah karena dia pikir penderitaan adalah hal yang baik, tetapi yang dia hendak tegaskan tentang nilai yang lebih besar dari Injil Yesus Kristus. Di ayat 3:9, ia menunjukkan bahwa mereka yang percaya dan mengikuti Yesus Kristus dapat memperoleh kehidupan yang dipersatukan dengan Tuhan, berdamai dengan Allah, dan mendapat pembenaran (diperhitungkan sebagai benar). Kebenaran ini bukan karena ketaatan pada hukum Taurat sehingga mencapai adil benar tidak bercela di hadapan manusia, karena kebenaran seperti itu hanya bersifat relatif dan sementara. Apa yang diinginkan Paulus adalah kebenaran yang berasal dari Allah.

Jika kita melihat sesuai pemikiran Paulus, penerjemahan ayat 9b menjadi frasa kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus terdapat sedikit perbedaan pandangan, karena di satu sisi dalam bahasa aslinya frasa tersebut dapat menjelaskan kebenaran yang berasal dari percaya kepada Yesus Kristus, tetapi di sisi lain itu dapat merujuk pada kebenaran yang berasal dari kesetiaan Yesus Kristus (lih. NET atau ISV the righteousness that comes by way of Christ’s faithfulness), Paulus tidak memberikan penjelasan terperinci atas ungkapannya ini, ia bahkan menggunakan aspek makna yang berbeda di tempat yang berbeda. Keadaan ini mungkin karena pernyataan itu sendiri mengandung kedua makna ini. Allah menyediakan metode pembenaran ini, Yesus Kristus harus menyelesaikan karya penebusan sesuai dengan kehendak Allah, dan manusia dapat menikmati anugerah penebusan ini, ia harus percaya kepada Yesus, menerima keselamatan dari Allah yang dikaruniakan melalui Kristus.

Paulus menunjukkan bahwa tujuan keselamatan tidak berhenti pada pembenaran, tetapi bersatu dengan Tuhan untuk berada di dalam Dia. Bagi Paulus, ini termasuk dalam penderitaan meniru Yesus Kristus, dan terlebih lagi hendak penuh harapan bahwa di masa depan ia akan dibangkitkan untuk menjadi lebih sepenuhnya bersama dengan Tuhan. Ayat 3:11 dalam terjemahan CUV dimulai kata mungkin, dapat menyebabkan kita salah memahami bahwa Paulus tidak pasti tentang kebangkitan (ITB menggunakan kata supaya), tetapi dalam 1 Korintus 15 ia dengan kuat menyatakan bahwa kebangkitan adalah bagian penting dari Injil Yesus Kristus. Karena itu, apa yang diungkapkan di sini bukanlah pertanyaan tentang tujuan akhir, tetapi pertanyaan tentang bagaimana cara dan proses yang akan dialami dalam kebangkitan ini (lihat NIV mengunakan kata somehow (in some unspecified way or manner; or by some unspecified means), atau KJV by any means). Walau cara kebangkitan bukanlah proses yang dapat kita pahami, tetapi kita tahu bahwa kita dapat memiliki harapan akan kebangkitan di dalam Kristus.

Renungkan:

Kita memiliki harapan kebangkitan, apalagi yang tidak bisa dikorbankan (takut rugi) dalam kehidupan?


Renungan pemahaman Surat Filipi (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan January 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

21 Maret 2019 ● Kamis Minggu Kedua Pra Paskah

AKU, TUHAN, menyelidiki hati

Yeremia 17:5-10
5Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 6Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
7Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
9Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? 10Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Renungan
Proklamasi Yeremia yang kuat mengandung gambaran kontras antara manusia terkutuk (ayat 5-6) dan orang yang diberkati (ayat 7-8). Hati orang terkutuk itu telah berubah dari TUHAN dan sebagai gantinya percaya pada manusia. Akhir hidupnya akan seperti ‘semak di padang pasir’ tanpa masa depan yang cerah. Sebaliknya, orang yang diberkati itu menyimpan kepercayaannya kepada Tuhan, tidak peduli apa pun. Dalam Mazmur 1:3, orang seperti itu digambarkan seperti pohon yang ditanam di samping air, yang hasilnya akan baik meskipun ‘panas’ dan ‘musim kemarau’. Orang yang diberkati seperti pohon yang daunnya tetap hijau dan buahnya tidak pernah berhenti muncul, meskipun keadaan eksternal yang sulit dialami. Yang dijanjikan di sini adalah kehidupan yang berkembang meskipun sakit dan, memang, tidak pernah tanpa rasa sakit!

Konteks dan situasi kehidupan dari proklamasi Yeremia adalah pada zamannya itu hati umat Allah perubahan dari mempercayai Tuhan berbalik kepada kepercayaan bodoh pada kekuatan manusia (ayat 5) dan konsekuensinya adalah mengejar kekayaan secara sembrono (ayat 11). Mereka berupaya untuk menjadi kaya dan berkuasa seperti orang-orang yang mereka kagumi, sepanjang waktu. Yeremia menyatakan bahwa orang-orang yang berkuasa seperti itu tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Tuhanlah yang benar-benar mengetahui hati mereka yang sebenarnya (ayat 9) dan Tuhanlah yang akan memutuskan hasil dari kehidupan setiap orang, sesuai dengan semua tindakan mereka, di depan umum dan secara rahasia (ayat 10). Akhirnya, Allahlah yang akan memutuskan hasil dari orang-orang yang tidak bertuhan, meskipun mereka kaya dan berkuasa.

Pesan Yeremia yang diberikan sekitar 5 abad sebelum Kristus, masih menawarkan tantangan bagi kita hari ini dalam kehidupan perkotaan abad ke-21 yang tergila-gila pada uang. Kita pikir kita membutuhkan banyak uang agar kita menjadi ‘seseorang’, atau jika tidak demikian, kita akan diperlakukan seperti ‘bukan siapa-siapa’. Kita juga berharap harus dipandang sebagai orang-orang yang berada di posisi yang tepat dalam masyarakat, atau kita akan diperlakukan seperti ‘bukan siapa-siapa’ lagi. Yeremia memanggil kita, hari ini, untuk tetap melihat kepada Tuhan dan bukan kepada manusia! Tuhan akan memutuskan hasil dari kehidupan kita. Takut akan TUHAN dan bukan laki-laki tak bertuhan dan perempuan yang memiliki kuasa!

Dalam membaca, berdoa, dan merenungkan proklamasi Yeremia di minggu-minggu Pra Paskah, gambaran Yesus sebagai Manusia tak berdaya di tangan orang-orang berkuasa, menjadi sangat nyata. Sungguh, Anak Manusia rela pergi ke Yerusalem, walau mengetahui dengan pasti hasil yang tak terelakkan dari kunjungan-Nya itu. Namun, Dia melakukannya untuk mematuhi Bapa dan memenuhi semua kebenaran. Ini bertentangan dengan semua kebijaksanaan manusia. Tuhan Yesus jelas mengerti tujuan Bapa untuk Hidup-Nya: “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28) Dia juga jelas tentang proses kesakitan dan konfrontasi yang tak terelakkan dengan orang-orang jahat yang kuat.

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”’(Mat. 20:17-19) Kasih-Nya untuk Bapa, membantu-Nya untuk tidak takut pada orang jahat yang kuat. Iman dan harapan-Nya dalam Kehendak Bapa, memungkinkan Dia untuk mempercayai Bapa untuk hasil akhir, tidak peduli apapun. Memang, dalam hasil akhir, Anak Domba Allah akan duduk di atas Singgasana. Ini adalah pengharapan kita dalam kesusahan!

Doa
Tuhan, tolong kami untuk mengikuti Yesus, bukan demi mendapatkan apa yang dunia tawarkan. Bantu kami, sebagai gantinya, untuk melihat Yesus sebagai Orang yang diberkati yang menjalani Hidup yang diberkati; dan semoga kami, kemudian, mengikuti Dia, tidak peduli apa pun biayanya. Bantu kami, juga, untuk takut Engkau, ya Tuhan, lebih dari kami takut pada orang lain, jangan sampai kami menjadi seperti mereka yang berbalik dari Engkau menuju orang jahat yang kuat. Maafkan kami, ya Tuhan. Dalam nama Yesus, amin.

Tindakan
Bacalah Yeremia 17:10 bersama dengan Mazmur 139:23-24, dan kemudian, luangkan waktu untuk menyelidiki hati di hadapan Tuhan, untuk melihat apakah ada jalan jahat di dalam kita, mengingat bahwa hati itu sangat licik. (Yeremia 17:9)

Semoga Tuhan memimpin kita di jalan kebenaran demi Nama-Nya, semua hari dari Kehidupan kita. (Mazmur 23:3)

Oleh
Rev Malcolm T H Tan O.S.L.
Pastor-in-Charge
Covenant Community Methodist Church;
Chaplain-in-Charge
Methodist Girl’s School

Kej. 28:20-22

「Tangga Sorga dan Janji Perpuluhan」

Respon seseorang setelah mengalami Allah.

(Kej. 28:20-22 [ITB])
20Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, 21sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.
22Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Yakub seumur hidup ada beberapa titik balik perubahan besar, semua adalah saat malam hari ia mengalami Allah, yang menampakkan diri kepada dia: pertama kali adalah di Betel, kedua kali adalah di tempat penyeberangan sungai Yabok (Kej. 32), ketiga kali adalah Bersyeba (Kej. 46:1-4). Catatan dari dua kali peristiwa yang terdahulu memiliki banyak kemiripan, pertama adalah karena ia menipu saudara membohongi ayah, dipaksa meninggalkan rumah pergi menuju Haran rumah Laban pamannya; satu lagi adalah membawa seluruh anggota keluarga meninggalkan Laban pamannya, dari Haran pulang kembali tanah perjanjian, harus menghadapi dendam saudara tuanya. Kedua kisah semuanya ada malaikat yang menampakkan diri, saling berbicara dengan Yakub. Kedua peristiwa berakhir saat pagi hari, Yakub penuh rasa hormat, memberi nama tempat peristiwa, satu adalah 「Betel」 (artinya Bait Allah / rumah Allah), satu lagi adalah 「Pniel」 (artinya 「di hadapan Allah」).

(Bacalah Kej. 28:10-22 silahkan klik) Sebagai pemahaman inti perikop ini, terdapat tiga buah kata yang muncul berulang beberapa kali (merupakan penekanan hal penting):

  1. Kata kerja nāṣab 「mendirikan」: yakni『di bumi ada 「didirikan」 (muṣṣāb) sebuah tangga di atas tanah』 (Kej. 28:12); 『TUHAN 「berdiri」 (niṣṣāb) di sampingnya』 (Kej. 28:13); 『Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi「tugu」 (maṣṣēbâ)』 (Kej. 28:18). Tangga yang berdiri itu menunjuk kepada penyataan Allah, dan tugu batu yang berdiri mewakili respon manusia.
  2. Kata benda 「ujung / atas」 (rō’š): yakni 『Yakub melihat tangga yang 「ujung」nya (rō’šô) sampai di langit』 (Kej. 28:12); 『Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai 「alas kepala」 (mǝra’ăšōtāyw) … menuang minyak ke「atas」nya (‘al-rō’šāh)』 (Kej. 28:18).
  3. Kata benda 「tempat」 (māqôm): total muncul 6 kali. Yakni 『Yakub sampai di suatu 「tempat」dan bermalam,… mengambil sebuah batu yang terletak di 「tempat」 itu,… membaringkan dirinya di 「tempat」 itu』 (Kej. 28:11). Selanjutnya setelah Allah menampakkan diri, ayat 16 『Yakub berkata: Sesungguhnya TUHAN ada di 「tempat」 ini, … Alangkah dahsyatnya 「tempat」ini』 (Kej. 28:16-17); 『ia menamai 「tempat」itu Betel』 (Kej. 28:19).

Inti kisah adalah Allah yang berinisiatif menyatakan ulang kepada Yakub tentang janji dari perjanjian suci antara Ia dengan Abraham: mendapatkan tanah, keturunan dan berkat, terutama jaminan 「penyertaan Allah」. Dan respon Yakub kepada Allah: pertama adalah berbicara tentang penyertaan Allah (jaminan perjanjian suci); Kedua, adalah mendirikan tugu menuang minyak (mendirikan mezbah), memberi nama tempat (memproklamasikan kedaulatan Tuhan), janji perpuluhan (hormat menyembah mengucapkan syukur).

Kemudian hari umat Israel benar-benar mendapatkan tanah perjanjian, jumlah orang bertambah banyak, bangsa kaya, rakyat kuat. Pengalaman Yakub merupakan perlambangan dari seluruh Israel kelak.

Renungkan:

  • Di manakah merupakan Betel bagi engkau?
  • Sebuah tempat yang biasa, ternyata menjadi Bait Suci; sebuah batu yang biasa, ternyata menjadi mezbah; seorang yang melarikan diri dari rumah, ternyata datang ke rumah Allah. Dikarenakan Allah menampakkan diri, tempat liar dirubah menjadi tempat suci, orang berdosa dirubah menjadi umat kudus. Semua ini dimulai dari satu orang mengalami Allah. Kiranya engkau dan saya sering mengalami Allah, kehidupan rohani bertumbuh (dan mengalami titik balik perubahan besar dalam iman).

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).