Imamat 19:9-10

Janganlah kausabit ladangmu habis sampai ke tepi

Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Im. 19:9-10 [ITB])
9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. 10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah Allah, Allahmu.

Imamat 19 terletak di pusat antara pasal 18 sampai pasal 20, kemarin sudah dibicarakan bahwa pusat bagian kunci dari pasal 19 ada di ayat 19:2, menunjukkan bahwa segenap jemaah Israel harus menjadi kudus, karena Allah itu kudus pada dirinya sendiri. Di bawah kerangka teologis menjadi kudus ini, perintah-perintah dalam Imamat 19 menunjukkan tindakan-tindakan konkret untuk mencapai tujuan menjadi suci. Dengan demikian, menjadi suci bukan lagi konsep abstrak, tetapi tujuan konkret yang dapat dicapai dengan mematuhi perintah.

Imamat 19:9 memulai serangkaian tuntutan moral tentang keadilan sosial, dan Imamat 19:9-10 menjelaskan bagaimana pemilik tanah mengejar kekudusan dalam memperhatikan memelihara orang miskin dan orang asing. Ayat 9 menginstruksikan para pemilik tanah ini untuk tidak menyabit ladang habis sampai ke tepinya saat memanen tanaman, artinya mereka harus menyisakan sebagian panen, dan mereka tidak dapat menghasilkan semua pendapatan yang seharusnya ada, dan tidak memungut apa yang ketinggalan dari penuaian. Memandang hasil tanam di sudut-sudut ladang dan yang jatuh di tanah sebagai meninggalkan kesempatan bagi orang lain untuk bertahan hidup. Dalam ayat 10, pemilik kebun anggur juga diperintahkan untuk tidak memungut buah anggur yang jatuh di kebun anggur, alasannya sama seperti pada ayat 9, untuk tidak mengambil habis semua keuntungan, tetapi meninggalkannya kepada orang miskin dan pendatang.

Menurut penelitian beberapa sarjana, orang miskin dan orang asing ini tidak akan bertahan tanpa kemurahan hati pemilik tanah yang proaktif, mereka adalah kelompok yang diabaikan dalam masyarakat, dan merupakan komunitas yang kurang beruntung. Oleh karena itu, perintah dalam Imamat 19:9-10 memberikan jaminan sosial kepada kelompok masyarakat ini, menegaskan hak mereka untuk bertahan hidup, dan juga memastikan bahwa mereka dapat memperoleh makanan. Ini adalah hukum mencintai sesama (Im. 19:18).

Bagi tuan tanah, mengapa mereka harus meninggalkan sudut-sudut ladang dan apa yang ketinggalan kepada orang miskin dan orang asing? Di sini tidak menjelaskan dari sudut pandang tuan tanah adalah karena kasih, atau orang miskin dan orang asing berharga, juga tidak menjelaskan motif belas kasihan, tetapi karena fakta bahwa Akulah TUHAN, Allahmu (Im. 19:10). Pemilik tanah Israel adalah umat Allah, dan TUHAN adalah Allah mereka, mereka harus hormat takut akan Allah. Dalam hubungan perjanjian dengan Allah, tuan tanah Israel tidak punya pilihan selain mematuhi kuasa kedaulatan Allah dan melindungi kelangsungan hidup orang miskin serta orang asing. Oleh karena itu, dasar perintah dalam Imamat 19:9-10 adalah bahwa Akulah TUHAN, Allahmu. Hanya pemilik tanah yang kudus, akan hormat takut akan Allah dan menaati Allah, merekalah yang tidak akan menyabit ladang habis sampai ke tepinya sebagai tanda cara mengelola tanah untuk menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah mereka.

Renungkan:
Menghadapi orang miskin dan pendatang menumpang tinggal, terutama pembantu rumah tangga dan tetangga Anda, apakah Anda telah menyisakan sebagian keuangan untuk membantu mereka? Jika Anda dapat melakukan ini, Anda akan memulai jalan pengudusan dan memiliki bagian dalam kekudusan Allah.


Renungan pemahaman Kitab Imamat

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Imamat 17-27 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko Ming-him (高銘謙) dipublikasi pada bulan Desember 2016 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.