「Deduksi penyempitan dari iman 」
Renungan ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Mandarin 「爾道自建」, tema Injil Lukas ditulis oleh 彭家鏗 yang dipublikasi pada bulan Juni 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院).
(Lukas 18:9-14 [ITB])
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Para pembaca mungkin akan bingung terhadap makna dari perumpamaan ini jika perikop ini tidak memiliki komentar dari penulis (Luk. 18:9) dan penjelasan Tuhan Yesus (Luk. 18:14). Perumpamaan ini pada dasarnya melalui doa orang Farisi dan doa pemungut cukai, mengundang para pembaca untuk menilai keadaan rohani kedua orang tersebut. Dari permukaan luar, orang Farisi ini saleh menjaga hukum Taurat dan tradisi, dia tahu bersyukur, juga tidak meminta apa-apa dari Allah. Tanpa diragukan, sesuai apa yang ia pelajari, sesuai golongan mashabnya, ia adalah seorang bermoral melampaui orang lain yang segolongan mashab dengan dirinya (Luk. 18:12). Sebaliknya, pemungut cukai adalah pekerjaan yang paling dipandang rendah dalam komunitas orang Yahudi, mereka bekerja untuk kerajaan bangsa asing, memungut pajak terhadap bangsa sendiri. Juga di saat yang sama, adalah hal yang tidak mudah jika ingin melepasakan diri dari pekerjaan yang dianggap najis oleh orang Yahudi ini, yang pertama ia harus mengembalikan berlipat ganda apa yang ia peras (Luk. 19:8), kehilangan penghasilan hidup dan mungkin akan dicurigai tidak setia oleh pemerintah Roma !
Membandingkan keadaan dua orang ini dari permukaan luar bukan hal yang sulit. Namun Tuhan Yesus memberikan kalimat kesimpulan yang bertolak belakang, menunjukkan bahwa kebenaran kesalehan pemungut cukai ini diperhitungkan lebih tinggi melampaui orang Farisi (Luk. 18:14a), karena apa yang dikatakan sebagai kebenaran kesalehan bukanlah seperti yang dilihat oleh orang secara umum — yakni saleh menjaga aturan, setia terhadap tradisi — apa yang dikatakan sebagai kebenaran kesalehan oleh Tuhan Yesus adalah penilaian seseorang atas diri sendiri di hadapan Allah (Luk. 18:14b). Oleh karena itu, di mata Tuhan Yesus, yakni dalam pandangan “pemutar balikan di hari akhir,” pemungut cukai yang rendah diri ini yang justru diperhitungkan sebagai benar (tentang pemutar balikan di hari akhir, lihat: Luk. 1:51-53; Luk. 6:20-26; Luk. 10:29-37; Luk. 14:7-11; dst.)
Sebaliknya, masalah dari orang Farisi tersebut adalah memandang tinggi diri sendiri karena menyangka dirinya adalah orang benar, dan karena demikian memandang rendah orang di sekelilingnya (Luk. 18:9, 11). Sebenarnya, baik memandang diri rendah maupun memandang diri tinggi, semuanya dalah penilaian atas diri sendiri, orang yang memandang diri rendah karena tidak dapat mencapai tuntutan imannya, standar pembanding yang dipakai adalah terhadap imannya sendiri, namun orang yang memandang tinggi diri tidak hanya menilai diri sendiri, tetapi juga termasuk keadaan orang lain. Ini mencerminkan bahwa orang yang memandang tinggi diri merasa dirinya adalah Tuhan, karena hanya Tuhan yang mampu menilai orang lain.
Renungkan:
Iman orang Yahudi maupun iman Kristen zaman ini menyangkut tindakan lahiriah untuk menyatakan imannya, namun di sini Tuhan Yesus menekankan, deduksi penyempitan dari iman pasti tidak mencakup memandang rendah orang yang tidak bisa mencapai standar, tidak karena tinggi rendahnya kondisi rohani lalu memandang ringan orang lain. Kita berjalan di jalan Kerajaan Allah saat di dunia ini, bukanlah urusan satu dua hari. Kita sepatutnya jangan memandang rendah waktu dan kuasa Allah, hari ini orang di sebelah kita mungkin dalam kondisi rohani yang paling rendah, kita jangan memandang diri sebagai hakim, berpikir Allah tidak mampu mengubah orang.