Lukas 5:1-11

「Umat Allah — Jalan Kehidupan yang Kembali Bertobat」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 5:1-11 [ITB])
1Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
4Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: 「Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.」
5Simon menjawab: 「Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.」
6Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
8Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: 「Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.」
9Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon.
Kata Yesus kepada Simon: 「Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.」
11Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Sesuai catatan Injil Lukas, Yesus selama di dunia ini selain hendak menggenapkan dan menepati janji tentang tahun rahmat Tuhan di akhir zaman, ia terlebih lagi hendak membangunkan umat bagi kerajaan Allah. Namun umat yang akan dibangunkan oleh Yesus, berbeda dengan pemahaman orang Yahudi di masa antara dua Perjanjian. Siapa yang merupakan umat kepunyaan Allah? orang Yahudi secara umum berpendapat umat Allah adalah orang yang secara kelahiran murni memiliki keturunan darah Yahudi, yakni juga adalah keturunan Abraham, orang-orang inilah yang merupakan pilihan Allah sendiri.

Tetapi dalam perikop Luk. 5:1-11 tentang pemanggilan para murid, Yesus hendak mengadakan sebuah indikator penting bagi 「umat Allah」, agar di kemudian hari Injil dapat datang di antara anak cucu Adam, pada diri orang non Yahudi. Maka definisi ulang dari Yesus tentang umat Allah (redefinition of the people of God) adalah hal yang sangat penting. Umat Allah adalah orang yang bersedia melepaskan diri sendiri, mampu melihat kelemahan dan ketidakbenaran diri sendiri, ini adalah indikator penting umat Allah, bukan semata dengan mengandalkan garis keturunan nenek moyang maka dapat menjadi umat Allah.

Tepat seperti Lukas pasal 1, malaikat datang kepada Zakharia, merupakan pola panggilan kepada nabi Perjanjian Lama (pattern of prophetic calling), di antaranya termasuk 「panggilan」, 「keraguan dan pertobatan dari yang dipanggil」, 「sekali lagi pengukuhan panggilan」. Berharga untuk diperhatikan, pola panggilan di Perjanjian Lama, biasanya adalah saat sekelompok orang Yahudi sedang melakukan tindakan dosa, atau keadaan orang bersalah kepada Allah, Allah memanggil orang untuk membangunkan dengan peringatan kepada umat-Nya, mengharapkan dapat menggerakkan masyarakat luas bersama-sama bertobat dan dengan kerinduan berpaling kembali kepada Allah. Oleh karena itu panggilan Yesus di sini terhadap Petrus dan lainnya, adalah terjadi dalam keadaan yang benar-benar mirip. Umat Yahudi selalu hanya berharap keselamatan Allah yang di waktu dahulu itu sekali lagi datang di antara mereka, justru telah lupa latar belakang di waktu yang dahulu itu bahwa kehendak Allah dari awal sampai akhir adalah terus menantikan orang berputar kembali, bertobatnya hati orang yang merupakan harapan di dalam hati Allah (lihat Yes. 6:1-10, Yer. 1:4-10).

Oleh karena itu, dalam Luk. 5:1-11, Yesus memberikan perintah kepada para murid: 「Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan mendapatkan manusia (sebagai “menjala manusia” oleh ITB) (ἀνθρώπους ἔσῃ ζωγρῶν anthropos ese zogreo)」. Dalam bahasa aslinya, kata「mendapatkan」 dapat dipahami sebagai: orang sekali lagi berada dalam penguasaan Allah. Markus 5:4 menggambarkan keadaan orang di Gerasa yang dirasuki setan, telah memakai kata ini menyatakan latar belakang yang menyedihkan orang Gerasa ini, yakni keadaan tidak ada orang yang dapat menguasainya, karena orang Gerasa ini sudah dikuasai oleh roh jahat 「Legion」. Oleh karena itu makna dari kata 「mendapatkan manusia」, adalah hendak memulihkan orang lepas dari kerajaan si jahat sekali lagi kembali kepada kerajaan Anak Kekasih yang ada dalam penguasaan Allah.

Secara rangkuman, apakah yang disebut sebagai umat Allah? Bagaimana definisi ulang identitas umat Allah dari Yesus? Yakni orang hendaknya meninggalkan kehidupan yang dahulu dikuasai oleh roh jahat dan pemusatan diri sendiri, tulus mengakui bahwa diri sendiri hanyalah merupakan orang berdosa, tunduk merebahkan diri, memohon Tuhan dengan sebesar-besarnya berbelas kasih, ini barulah merupakan pertanda identitas umat Allah (identity marker). Pada kenyataannya, ini bukan satu hal yang baru, di Perjanjian Lama seperti Yes. 40-66 berulang kali menyebutkan hal ini. Yesus dengan identitas sebagai Anak Kekasih Allah, memulihkan orang kembali memiliki pertanda identitas penting ini. (Renungkan kembali kaitan orang-orang yang mengakui kelemahan dirinya dengan topik kehidupan yang dibalikkan dalam , juga pasal sesudahnya . Silahkan klik untuk membuka.)

Renungkan: benar adanya, kita dari dahulu semuanya bukan karena identitas luar dan hal-hal yang kita bangun, untuk mengukur identitas kita sebagai umat Allah. Tetapi dengan ketulusan hati bertobat, tulus untuk berputar kembali, barulah mampu mendefinisikan diri sendiri merupakan umat Allah yang sungguh. Mohon Tuhan berbelas kasih kepada kita, tidak dengan jasa rohani diri sendiri untuk mendapatkan 「identitas anak」, tetapi dengan tulus menyatakan kepada Tuhan: 「Saya adalah orang berdosa. Dahulu adalah demikian, sekarang hanyalah seorang berdosa yang sudah mendapatkan anugerah.」