Tag Archives: Direndahkan

Lukas 3:1-20

「Mengambil Jalan Bengkok, atau Jalan yang Diluruskan?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 3:1-20 [ITB])
1Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, 2pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.
3Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: 「Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu」, 4seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: 「Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: 『 Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. 5Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, 6dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.』」
7Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: 「Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? 8Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: 『 Abraham adalah bapa kami!』 Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! 9Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.」
10Orang banyak bertanya kepadanya: 「Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?」 11Jawabnya: 「Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.」
12Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: 「Guru, apakah yang harus kami perbuat?」 13Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.」
14Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: 「Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?」 Jawab Yohanes kepada mereka: 「Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.」
15Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, 16Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: 「Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. 17Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.」
18Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.
19Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, 20raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.

Permulaan Lukas pasal 3 tepat sama seperti permulaan Lukas pasal 2. Lukas pasal 2 menggambarkan raja Romawi, seorang duniawi yang memegang kuasa dan bagaimana ia mengumumkan kedaulatan (strategi menyuruh semua orang mendaftarkan di kota masing-masing). Lukas pasal 3 menggambarkan politik dan cetak biru keagamaan seorang raja daerah Yudea. Setelah Herodes Agung mati, daerah kekuasaan Herodes Agung dibagi-bagikan kepada para anak laki-lakinya untuk dikelola, di antaranya Arkhelaus yang karena kejam tidak berperasaan sehingga dipecat dari jabatannya oleh Kaisar Romawi, lalu Pilatus wali negeri Romawi langsung mengurus tanah Yudea dan Samaria. Permulaan Lukas pasal 3 selain menjelaskan situasi politik saat kelahiran Yesus, yang lebih penting adalah menggambarkan gabungan situasi kompleks keagamaan dan politik saat kelahiran Yesus. Pada kenyataannya, mulai dari kelahiran Tuhan Yesus sampai Yerusalem dihancurkan selama 70 tahun, sudah terdapat 20 sekian orang yang menjabat Imam Besar Yerusalem. Jika diperbandingkan, jabatan Imam Besar ini di zaman Perjanjian Lama mewakili kehormatan yang maha tinggi, sampai pada zaman Yesus, keadaan sudah berbeda sedemikian jauh. Imam Besar zaman Yesus, terutama diutus dan ditunjuk oleh pejabat Romawi. Oleh karena itu, para Imam Besar yang dekat dengan pemerintah Romawi secara alamiah akan bisa memangku jabatan lebih lama, dan Kayafas adalah seorang Imam Besar yang bisa memangku jabatan mencapai sepuluh tahun lebih.

Yang membuat orang terkejut, setelah Lukas pasal 3 selesai memberikan gambaran politik yang merupakan genangan air keruh bercampurnya semua keagamaan dan politik yang menjadi satu, ia memutar ujung pena beralih tertuju kepada diri Yohanes Pembaptis ─ dia yang hidup di padang gurun, seorang pemberita Firman yang tanpa kekuasaan tidak punya pengaruh. Dengan pengalihan arah ujung pena Lukas ini sekali lagi menjelaskan bahwa rencana keselamatan dari Allah bukanlah jatuh pada diri mereka yang memiliki kuasa memiliki pengaruh, Allah malah sebaliknya membangkitkan tokoh kecil – Yohanes Pembaptis, dia yang makan madu liar, yang tinggal di padang gurun, yang sama sekali menarik mata ─ untuk meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus. (Kontras antara orang yang merasa berkuasa dengan orang yang lemah akan dibawa terus sampai pasal-pasal yang selanjutnya, juga semua permasalahan jalan bengkok kontras dengan kehendak Bapa di Sorga)

Kata 「meluruskan jalan」 dalam Yes. 40, menyatakan Allah menetapkan kehendak untuk memulai berkembangnya pekerjaan penebusan-Nya, tetapi perlu ada pemberita Firman untuk mempersiapkan hati orang bagi Tuhan, agar manusia menyambut anugerah keselamatan yang akan datang ini. Selanjutnya di Luk. 3:7, Yohanes menyebutkan orang-orang yang perlu baptisan sebagai 「keturunan ular beludak」, sebenarnya frasa ini juga berasal dari Yesaya 59:5-8, 「5Mereka menetaskan telur ular beludak, dan menenun sarang laba-laba; siapa yang makan dari telurnya itu akan mati, dan apabila sebutir ditekan pecah, keluarlah seekor ular beludak. 6Sarang yang ditenun itu tidak dapat dipergunakan sebagai pakaian, dan buatan mereka itu tidak dapat dipakai sebagai kain; perbuatan mereka adalah perbuatan kelaliman, dan yang dikerjakan tangan mereka adalah kekerasan belaka. 7Mereka segera melakukan kejahatan, dan bersegera hendak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah; rancangan mereka adalah rancangan kelaliman, dan ke mana saja mereka pergi mereka meninggalkan kebinasaan dan keruntuhan. 8Mereka tidak mengenal jalan damai, dan dalam jejak mereka tidak ada keadilan; mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok, dan setiap orang yang berjalan di situ tidaklah mengenal damai.」 Yesaya 59:8 dengan jelas menuliskan 「keturunan ular beludak」 bukanlah umat yang bersedia meluruskan jalan mempersiapkan hari orang, tetapi menunjuk orang-orang yang mengambil jalan-jalan yang bengkok, membuat diri sendiri dan orang lain paling akhir tidak mendapatkan damai sejahtera dan harapan.

Renungkan: tepat seperti yang dibicarakan kemarin, 「keagamaan」 dapat dipakai orang terjerumus dalam keadaan membuat diri benar atau realisasi diri. Selain itu, saling melebur dan saling memperalat antara politik dan keagamaan, mungkin membuat hati orang makin menghargai berbagai kesempatan yang diberikan orang lain, menimbulkan berbagai godaan yang terlihat maupun tidak. Pemimpin keagamaan (demikian juga kita sebagai orang biasa) sebenarnya akan dipaksa mengambil jalan-jalan yang bengkok, atau dapat mempertahankan diri mengambil jalan yang diluruskan?

Sejarah gereja telah memberitahu kita begitu banyak hikmat tentang aspek ini, kiranya kita mengerti bagaimana menghadapinya, karena sejarah terjadi berulang-ulang tiada henti (history always repeats itself). Mohon Tuhan memberkati kita hikmat, menolong kita dengan sebesar-besarnya.

Yesaya 2:12-18

「Seperti Bisa Meninggikan Diri, Namun akan Direndahkan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 2:12-18 [ITB])
12Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari

untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh
serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;
13untuk menghukum semua pohon aras di Libanon yang tumbuh meninggi dan tetap menjulang,
dan menghukum semua pohon tarbantin di Basan;
14untuk menghukum semua gunung yang tinggi-tinggi dan semua bukit yang menjulang ke atas;
15untuk menghukum semua menara yang tinggi-tinggi dan semua tembok yang berkubu;
16untuk menghukum semua kapal Tarsis dan semua kapal yang paling indah.

17Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan;
hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.
18Sedang berhala-berhala akan hilang sama sekali.

Di dalam ini perikop kata yang paling banyak muncul adalah 「tinggi」 (nāśā’), secara terpisah muncul di dalam Yes. 2:12, 13, 14, juga di dalam Yes. 6:1 yang menjelaskan Tuhan duduk di atas takhta yang 「tinggi dan menjulang」, menyatakan salah satu topik di dalam kitab Yesaya, yang menyatakan bahwa hanya TUHAN sendiri sajalah Dia yang maha 「tinggi」, manusia atau hal apapun semuanya tidak bisa memiliki posisi 「tinggi」.

Tetapi, Yes. 2:12-14 justru sebaliknya menunjukkan orang-orang munafik yang berharap menjadi yang 「tinggi」, ayat 12 menjelaskan mereka congkak dan angkuh, mereka merasa dirinya 「tinggi」, ayat 13 menyebutkan pohon aras di Libanon yang tumbuh 「tinggi」 besar, ayat 14 gunung yang 「tinggi-tinggi」, ayat 15 menara yang 「tinggi」, ayat 17 manusia yang sombong (sinonim dengan kata 「tinggi」). Nabi Yesaya di sini telah banyak sekali memakai gambaran yang alamiah untuk menjelaskan keadaan 「tinggi」 dari orang-orang munafik ini. Di dalam kitab Yesaya, pohon-pohon ini, gunung dan sebagainya secara logisnya adalah benda-benda yang sepatutnya menghormati TUHAN, namun sekarang justru sebaliknya menjadi simbol orang-orang yang meninggikan diri, jikalau benda-benda alamiah dalam dunia ini juga tidak mampu menghidupi sifat dasar sebagai ciptaan Allah, mereka mewakili orang-orang munafik yang hidup melanggar aturan tatanan penciptaan, semua itu adalah karena mereka tidak dengan baik-baik menundukkan diri menghormati Allah.

Terhadap orang-orang yang 「tinggi」 ini, kitab Yes. 2:12-18 dengan jelas menuliskan bahwa mereka pasti diturunkan menjadi rendah, kata 「direndahkan」 muncul di Yes. 2:9, 11, 12, 17, dilihat dari bahasa Ibrani adalah lawan kata dari kata 「tinggi」, ini benar-benar menjelaskan orang apapun yang melihat diri sendiri sebagai yang tinggi pada akhirnya semuanya akan direndahkan, semua pasti akan menjadi rendah. Direndahkan macam ini bukan semacam rendah diri, tetapi adalah semacam penundukkan diri kepada Allah, ini mewakili semacam hormat penyembahan. Ternyata, orang yang mengira dirinya 「tinggi」 memandang diri sendiri adalah Allah, maka ia terlebih lagi bisa tidak ada orang lain dalam pandangan matanya, terlebih lagi bisa tidak ada Allah dalam pandangan matanya. Ternyata sikap hati seperti ini yang memandang diri sendiri sebagai Allah, benar-benar telah melanggar sifat kemanusiaan dirinya sendiri. Cara membangun kemanusiaan yang paling baik, adalah sungguh-sungguh menundukkan diri, baik-baik menghormati TUHAN, karena Dia adalah Penguasa 「tinggi」 yang sesungguhnya.

Pemimpin dan orang-orang keagamaan di negara Yehuda memiliki penundukkan diri hanya permukaan kulit luar, tidak memiliki kehidupan penundukkan diri yang nyata. Mereka memiliki penampilan luar keagamaan yang indah, juga melalui penampilan luar mereka yang saleh mendapatkan lebih banyak tepuk tangan, mereka walaupun secara permukaan luar menghormati TUHAN sebagai Yang Kudus, namun kehidupan diri sendiri justru adalah peninggian diri pemenuhan diri. Allah sangat membenci orang yang demikian.

Renungkan: apakah kehidupan engkau adalah peninggian diri? Apakah engkau memiliki keadaan yang tidak sama antara penampilan luar dengan yang ada di dalam?


Renungan ini merupakan terjemahan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Yesaya 2:6-11

「Seperti Mampu Mencukupi Diri, Namun akan Direndahkan」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 2:6-11)
6Sungguh, telah Kaubuang umat-Mu, yakni kaum keturunan Yakub, sebab di mana-mana mereka melakukan tenung seperti yang di Timur dan sihir seperti orang Filistin, dan orang-orang asing di antara mereka terlalu banyak.
7Negerinya penuh emas dan perak dan tak terbatas harta bendanya; negerinya penuh kuda dan tak terbatas jumlah keretanya.
8Negerinya penuh berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada yang dikerjakan oleh tangannya.
9Maka manusia ditundukkan dan orang direndahkan–janganlah ampuni mereka! 10Masuklah di sela gunung batu dan bersembunyilah di dalam liang tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya!
11Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.

Topik Yes. 2:6-11 berasal dari sebuah kata 「penuh」, kata ini secara terpisah muncul di Yes. 2:6, 7, 8 (ayat 7 muncul 2 kali). Terlebih dahulu, kata 「penuh」 di ayat 6 menunjukkan bahwa umat Israel pada saat itu telah penuh kebiasaan tradisi daerah Timur melakukan tenung dan sihir seperti orang Filistin, dan apa yang dituliskan itu semuanya adalah yang dilarang hukum Taurat di dalam lima kitab Musa, misal dalam Im. 19:26; Ul. 18:9-14. 「Janganlah kamu makan sesuatu yang darahnya masih ada. Janganlah kamu melakukan telaah atau ramalan.」 (Im. 19:26). 「9Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu. 10Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, 11seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. 12Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu. 13Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu. 14Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.」 (Ul. 18:9-14).

Tidak hanya demikian, umat Israel juga 「bertepuk tangan」 dengan orang bangsa asing (Yes. 2:6, lihat NIV, CUVT. Walaupun juga bisa diterjemahkan seperti NET, ITB sebagai 「orang-orang asing di antara mereka terlalu banyak」), 「bertepuk tangan」 bermakna mengadakan perjanjian (lihat terjemahan ISV), ini mewakili mereka menyerah atas perjanjian yang diadakan oleh Allah, beralih kepada perjanjian persekutuan dengan bangsa asing, ini bukan demikian sederhana merupakan persekutuan secara politik saja, tetapi adalah semacam tingkah laku berkhianat yang meninggalkan perjanjian persekutuan TUHAN. Oleh karena itu, 「kepenuhan」 mereka membuat mereka tidak mampu melaksanakan kehendak Allah di dalam perjanjian yang diadakan melalui Musa itu, malahan mengadakan perjanjian dengan bangsa asing, telah memberontak meninggalkan perjanjian Allah.

Yes. 2:7 menjelaskan 「penuh」 dari mereka yang kedua: penuh emas dan perak dan tak terbatas harta bendanya; negerinya penuh kuda dan tak terbatas jumlah keretanya, ini benar-benar telah melanggar tuntutan Ul 17:16-17, ayat kitab Ulangan ini menunjukkan bahwa raja tidak boleh bagi diri sendiri mengumpulkan kuda. Yes. 2:8 menjelaskan tanah mereka 「penuh」 berhala, juga menjelaskan mereka telah melakukan apa yang dilarang kitab Ulangan. Dengan demikian dapat dilihat, umat Yehuda ini telah memiliki (penuh) apa yang dipandang pada zaman itu sebagai hal-hal yang paling dapat membuat sebuah negara di daerah Timur dekat zaman kuno tersebut mampu menjadi sebuah negara yang kuat dan besar. Semuanya ini ternyata dapat ditemukan di antara kerajaan Yehuda, mereka memandang semua hal ini adalah apa yang dapat memberikan mereka keberhasilan, mereka bersandar hal-hal ini untuk mencapai negara yang kuat dan besar, tetapi hal-hal ini justru telah melanggar tuntutan hukum Taurat.

Saat umat Allah mulai memandang diri sendiri sebagai boss, maka mereka memasuki sifat dosa yakni menjadi pemimpin atas diri sendiri, aku bertindak sesuai jalanku sendiri, berpendapat bahwa bersandar dan mengandalkan diri sendiri bisa membangun negara yang kuat dan besar, juga berpikir memakai berbagai macam 「pemenuhan oleh diri sendiri」 untuk meninggikan kemanusiaan dan identitas diri sendiri, tetapi benar-benar karena peninggian diri dan pemenuhan diri macam ini, malahan telah melanggar hukum Taurat Allah, yang juga sama dengan menentang Allah memerintah atas kehidupan mereka, sehingga telah menjalani kehidupan yang melanggar kemanusiaan (hakekat alami manusia).

Yes. 2:11 menunjukkan, mata yang sombong pasti diturunkan menjadi rendah, orang-orang ini juga pasti bertekuk lutut, hanya Allah saja yang bisa dihormati dan ditinggikan. Ayat ini telah menjelaskan biarlah manusia menjadi manusia, biarlah Allah menjadi Allah, manusia harus menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia tidak dapat menjadi Allah, manusia adalah ciptaan, yang harus merendah di hadapan Allah, manusia hanyalah salah satu ciptaan; selain itu, Allah tidak dapat direndahkan, dipandang dan diperlakukan sebagai manusia, kita tidak bisa memandang Allah sebagai sesuatu yang bisa dikontrol oleh diri kita sendiri. Allah harus menjadi pribadi yang dihormati dan ditinggikan manusia, Allah sebagai Allah, manusia sebagai manusia, ini adalah respon jawaban Yesaya atas kehidupan yang mengandalkan diri untuk mencukupkan dan memenuhi diri sendiri.

Renungkan: apakah kehidupanmu adalah kehidupan yang mengandalkan diri bagi pemenuhan diri sendiri? Apakah di dalam hatimu ada ruangan untuk dipenuhi Allah? Apakah engkau menjadi pemimpin atas diri sendiri, aku bertindak sesuai jalanku sendiri?