Tag Archives: Kehendak Bapa

Efesus 3:14-17 (2)

「Teguh di dalam batin」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 3:14-17 [ITB])
1 Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah …
14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Efesus 3:16-17 adalah bagian awal dari isi doa Paulus. Di sini ia hanya mengungkapkan dua permohonan, yaitu untuk meneguhkan batin orang percaya, dan agar Kristus diam di dalam hati mereka. Kedua doa ini pada dasarnya sama, keduanya terkait dengan kualitas hidup rohani orang percaya, sekaligus secara jelas menghubungkan pekerjaan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Cara penulisan yang secara tidak langsung menempatkan konsep Tritunggal dalam berita yang disampaikan adalah hal yang umum dalam kitab Efesus, tetapi di sini lebih jelas dan erat menyatakan Ketiga-Nya yang Esa. Meskipun ajaran Tritunggal tidak pernah secara eksplisit diistilahkan dalam Alkitab, tetapi hal itu dengan jelas dapat disimpulkan dari teks. Cara penulisan di perikop ini bukanlah berfokus secara eksplisit mengajarkan kebenaran Tritunggal kepada penerima surat ini. Melalui uraian ini kita melihat bahwa ini adalah pesan yang dipandang sangat penting oleh Allah, menunjukkan bahwa kehendak Bapa Surgawi adalah orang percaya berdiri teguh dan bergantung pada kekuatan Roh Kudus, menggenapkannya melalui keterhubungan dengan Yesus Kristus. Dalam hal ini, kita tahu Allah pasti menggenapkan apa yang Paulus doakan.

Fokus dari permohonan pertama adalah meneguhkan kekuatan batin. Meskipun surat Efesus tidak menuliskan dengan jelas latar belakang tulisan tersebut, kita mungkin dapat mengetahui semua tantangan yang dihadapi oleh gereja mula-mula, di satu sisi dikejar oleh Yudaisme, dan di sisi lain ditindas oleh kekaisaran Romawi. Dalam lingkungan seperti itu, hendak teguh berpegang pada iman kepada Injil Yesus Kristus dan untuk setia pada misi Injil, maka yang dibutuhkan bukanlah kekuatan eksternal yang terlihat, tetapi kesaksian kehidupan orang percaya. Oleh karena itu, Paulus secara khusus menekankan kekuatan batin. Dan kekuatan ini tidak datang dari keberanian kita, tetapi melalui pekerjaan Roh Kudus, datang berdasarkan kemuliaan Allah.

Permohonan kedua adalah tentang hidup bersama Kristus. Memang, orang percaya karena beriman percaya kepada Yesus Kristus, menjadi satu dengan Kristus, menjadi orang kudus di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dalam pasal 2, Paulus juga dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang percaya non-Yahudi telah menjadi anggota komunitas baru ini, berada dalam Kerajaan Allah yang sama dengan orang-orang kudus, menjadi anggota keluarga Allah, dan dibangun oleh Roh Kudus untuk menjadi tempat tinggal Allah. Dan di pasal 1 juga dengan jelas menunjukkan kepada orang percaya bahwa ketika orang menerima dan mau oleh Roh Kudus Injil kabar bahagia Yesus Kristus, mereka menerima Roh Kudus sebagai meterai. Pengajaran-pengajaran tersebut mencerminkan doa Paulus di sini, bukan karena hal-hal tersebut belum terjadi sehingga berdoa meminta digenapkan, tetapi agar orang-orang beriman teguh pasti bahwa ini adalah kehendak Allah, dan memegang erat hak yang telah Allah berikan dalam anugerah-Nya kepada orang-orang percaya.

Kita semua sebenarnya sudah memiliki Kristus yang hidup berdiam di dalam hati kita, tetapi dalam hidup kita yang sibuk, mudah untuk hanya melihat lingkungan luar dan tantangan hidup, dan bahkan menganggap Yesus Kristus sebagai orang asing atau tamu pendatang dalam hidup kita, yang hanya sesekali hidup di dalam kita. Namun dalam doa ini, Paulus menunjukkan bahwa Yesus Kristus mau kita menerima Dia berdiam tetap di hati kita, bukan hanya sebagai tamu yang sesekali datang ketika kita memiliki pengalaman rohani khusus.

Renungkan:
Apakah kita teguh bersedia agar Yesus Kristus berdiam tetap di dalam hati kita dan bahkan memiliki kedaulatan atas kehidupan kita?

(Jadikan doa sepanjang hari ini kepada Bapa, ya Ia adalah Bapa Anda, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, dan bersedia agar Yesus Kristus diam di dalam hatimu)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Roma 10:5-8

「Tidak Perlu Naik Ke Langit dan Turun Ke Jurang Mencari Jalan Keselamatan!」

Ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Rom. 10:5-8 [ITB])
Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: 「Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya.」
Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: 「Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?」, yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: 「Siapakah akan turun ke jurang maut?」, yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.
Tetapi apakah katanya? Ini: 「Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.」 Itulah firman iman, yang kami beritakan.

Kita tidak perlu pergi naik ke sorga dan turun ke dalam jurang untuk menemukan jalan keselamatan! Dalam Perjanjian Lama, Tuhan merendahkan diri-Nya dan memberikan hukum Taurat supaya orang Israel bisa mengetahui kehendak-Nya; Dalam Perjanjian Baru, Allah melalui Putra yang Kudus Sang Firman Yesus datang berinkarnasi menjadi manusia, dan juga melalui utusan Injil, membuat setiap orang 「dengan mulut mengakui, di dalam hati percaya, maka akan mendapat keselamatan!」 Keselamatan telah datang kepada kita, mengapa kita masih menolak?

Paulus mengutip dari Im. 18:5 dan Ul. 20:2-14 (dan Ul. 8:17; 9:4). Beberapa orang salah paham Im. 18:5 dan menggunakan ayat ini untuk mendukung jalan keselamatan yang mengandalkan perbuatan. Im. 18:5 mengatakan 「Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu.」 Dalam Rom. 14, Paulus menekankan bahwa kesimpulan dan tujuan hukum Taurat adalah Kristus; hanya Kristus yang sepenuhnya telah dan mampu mematuhi hukum Tuhan dengan sempurna dan benar-benar tidak berdosa, dan menjadi orang benar dan Anak Domba Penebus dosa yang menggantikan manusia. Tujuan dari Yesus Sang Firman (Kehendak / Hukum Allah) berinkarnasi menjadi manusia adalah membuat kita mudah menerima keselamatan, asalkan dengan 「mulut mengakui, di dalam hati percaya, maka akan mendapat keselamatan!」 (Tidak perlu naik ke langit turun ke jurang untuk mencarinya!)

Ketika Paulus mengutip ayat-ayat dari Ul. 30:12-14 yang berbeda di Rom. 10:6-8, maka akan menggunakan frasa 「yaitu:」 untuk menjelaskan ayat-ayat ini dan mengarahkan mereka kepada Kristus. Penafsiran dengan cara 「langsung mengarahkan」 (Pesher) adalah gaya penafsiran sebagian orang Yahudi di zaman itu, dan hal ini juga ditemukan dalam naskah-naskah kuno Laut Mati Qumran. Beberapa sarjana bertanya-tanya mengapa Paulus mengutip Ul. 30:12-14, dan tidak mengerti mengapa Paulus memakai ayat-ayat Perjanjian Lama yang berbicara soal hukum Taurat untuk diterapkan pada diri Kristus. Sepintas melihat bahwa Musa di Ul. 30:12-14 adalah berbicara tentang hukum Taurat, lalu beberapa peneliti bertanya 「Mengapa Paulus menerapkan ini kepada Kristus?」 Clanfied mengatakan: 「Kristus adalah tujuan dari hukum Taurat, dan Kristus juga merupakan makna mendasar dari hukum Taurat;」 Hanya ketika seseorang memfokuskan matanya kepada Kristus barulah ia dapat sepenuhnya melihat adanya makna 「sifat belas kasih anugerah dari hukum Taurat yang dinyatakan dalam beberapa ayat Kitab Ulangan ini.」

Kutipan atas Ul. 30:12-14 adalah untuk menunjukkan bahwa semangat dasar dari hukum Taurat adalah kasih karunia. Tuhan merendahkan dirinya dan mengungkapkan kehendak-Nya kepada orang Israel; Allah dalam kata-kata Firman-Nya berada dekat dengan bangsa Israel, sehingga Firman Allah dapat diucapkan dalam mulut mereka, atau diingat dalam hati mereka, dan tidak perlu naik ke langit turun ke jurang untuk mencarinya. (Firman Allah bukan hanya datang dalam bentuk tulisan dalam Kitab Suci, tetapi karena kuasa Allah begitu besar sehingga Firman itu hidup dan datang berinkarnasi menjadi manusia, dan tinggal di antara manusia.) Paulus hendak menunjukkan bahwa Allah pernah melalui hukum Taurat dekat dengan bangsa Israel, dan di masa akhir, Allah terlebih dekat kepada umat-Nya melalui Kristus (Sang Firman adalah Isi Hati Allah) — Anak-Nya, agar mereka yang percaya Kristus dapat diselamatkan.

Paulus memperkenalkan sikap rendah hati Allah. Di dalam Perjanjian Lama, Allah menganugerahkan hukum Taurat kepada bangsa Israel, sehingga kita tidak perlu naik ke langit turun ke jurang untuk mengetahui isi hati Allah (Firman Allah). Dalam Perjanjian baru, Tuhan Yesus Sang Firman (Isi hati Allah) datang sendiri kepada kita di dalam daging, sehingga murid-murid-Nya bisa mendengar dengan telinga mereka sendiri dan telah melihat dengan mata sendiri, dan dengan tangan sendiri menyentuh Dia. Dan, oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, membuat kita semua dapat menerima jalan keselamatan, mulut mengakui, di dalam hati percaya.」 Paulus berkata dalam kalimat terakhir di Rom. 10:8 「Itulah firman 『iman』, yang kami beritakan.」 Karena ini adalah Firman 「iman」 jadi kita tidak perlu naik ke langit turun ke jurang, kita hanya perlu 「mengakui di mulut, percaya di dalam hati, maka akan diselamatkan.」

Thomas Aquinas berkata: 「Ketidakpercayaan adalah dosa yang paling besar.」 Karena ketika kita tidak percaya kepada Allah, kita selamanya terpisah dari Tuhan, kita kehilangan semua harapan keselamatan! Spurgeon berkata: 「Ketidakpercayaan menghancurkan orang-orang terbaik kita! Iman menyelamatkan orang-orang terburuk kita!」 Banyak orang tampaknya adalah orang baik, tetapi pada kenyataannya mereka juga adalah orang berdosa yang tidak bisa diselamatkan tanpa bergantung pada 「iman」 kepada Yesus! Orang-orang terbaik yang 「tidak percaya」 tidak dapat diselamatkan! Tapi orang yang 「terburuk」 yang 「percaya」 kepada Yesus, dapat diselamatkan, bisa menjadi anak-anak Allah yang berharga! Orang yang tidak 「percaya」 Yesus adalah orang bodoh yang terbesar!

(Siapakah manusia? Alangkah sombongnya manusia yang merasa mampu membayar harga yang begitu mahal yang hanya mampu dibayar oleh Allah saja, merasa perbuatan baik dirinya yang berdosa itu sama harganya dengan yang dibayar oleh Allah yang Kudus.)

Renungkan: Dari perspektif kekekalan, orang yang tidak 「percaya」 Yesus Sang Firman Allah adalah orang bijak, atau justru adalah orang bodoh yang terbesar?

Di atas salib, Yesus menanggung harga yang paling sulit dan paling menyakitkan, agar kita dapat dengan mudah mendapatkan keselamatan, yaitu dengan 「iman」 percaya kepada Yesus maka akan diselamatkan! Jadi ketika kita bisa memberitakan Injil 「mengakui di mulut, percaya di hati dan pasti akan diselamatkan」, harus ingat bahwa ini adalah karena Kristus sudah membayar harga yang paling mahal!

(Yesus sudah membayar harga mahal yang hanya mampu dibayar oleh Allah saja, kiranya kita tidak memandang remeh keselamatan yang sudah dianugerahkan kepada kita, sungguh-sungguh merealisasikan iman kita dalam hidup. Kiranya kita jangan menjual iman hanya karena takut aniaya, atau demi mendapatkan pasangan hidup yang tidak seiman, atau demi uang, atau demi pangkat jabatan, yang berujung pada kebinasaan kekal terpisah dari Allah.)


Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Roma 9-12 ditulis oleh 蔡少琪 (Cài Shǎo Qí) yang dipublikasi pada bulan Juni 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Lukas 3:1-20

「Mengambil Jalan Bengkok, atau Jalan yang Diluruskan?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 3:1-20 [ITB])
1Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, 2pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.
3Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: 「Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu」, 4seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: 「Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: 『 Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. 5Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, 6dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.』」
7Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: 「Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? 8Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: 『 Abraham adalah bapa kami!』 Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! 9Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.」
10Orang banyak bertanya kepadanya: 「Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?」 11Jawabnya: 「Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.」
12Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: 「Guru, apakah yang harus kami perbuat?」 13Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.」
14Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: 「Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?」 Jawab Yohanes kepada mereka: 「Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.」
15Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, 16Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: 「Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. 17Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.」
18Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.
19Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, 20raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.

Permulaan Lukas pasal 3 tepat sama seperti permulaan Lukas pasal 2. Lukas pasal 2 menggambarkan raja Romawi, seorang duniawi yang memegang kuasa dan bagaimana ia mengumumkan kedaulatan (strategi menyuruh semua orang mendaftarkan di kota masing-masing). Lukas pasal 3 menggambarkan politik dan cetak biru keagamaan seorang raja daerah Yudea. Setelah Herodes Agung mati, daerah kekuasaan Herodes Agung dibagi-bagikan kepada para anak laki-lakinya untuk dikelola, di antaranya Arkhelaus yang karena kejam tidak berperasaan sehingga dipecat dari jabatannya oleh Kaisar Romawi, lalu Pilatus wali negeri Romawi langsung mengurus tanah Yudea dan Samaria. Permulaan Lukas pasal 3 selain menjelaskan situasi politik saat kelahiran Yesus, yang lebih penting adalah menggambarkan gabungan situasi kompleks keagamaan dan politik saat kelahiran Yesus. Pada kenyataannya, mulai dari kelahiran Tuhan Yesus sampai Yerusalem dihancurkan selama 70 tahun, sudah terdapat 20 sekian orang yang menjabat Imam Besar Yerusalem. Jika diperbandingkan, jabatan Imam Besar ini di zaman Perjanjian Lama mewakili kehormatan yang maha tinggi, sampai pada zaman Yesus, keadaan sudah berbeda sedemikian jauh. Imam Besar zaman Yesus, terutama diutus dan ditunjuk oleh pejabat Romawi. Oleh karena itu, para Imam Besar yang dekat dengan pemerintah Romawi secara alamiah akan bisa memangku jabatan lebih lama, dan Kayafas adalah seorang Imam Besar yang bisa memangku jabatan mencapai sepuluh tahun lebih.

Yang membuat orang terkejut, setelah Lukas pasal 3 selesai memberikan gambaran politik yang merupakan genangan air keruh bercampurnya semua keagamaan dan politik yang menjadi satu, ia memutar ujung pena beralih tertuju kepada diri Yohanes Pembaptis ─ dia yang hidup di padang gurun, seorang pemberita Firman yang tanpa kekuasaan tidak punya pengaruh. Dengan pengalihan arah ujung pena Lukas ini sekali lagi menjelaskan bahwa rencana keselamatan dari Allah bukanlah jatuh pada diri mereka yang memiliki kuasa memiliki pengaruh, Allah malah sebaliknya membangkitkan tokoh kecil – Yohanes Pembaptis, dia yang makan madu liar, yang tinggal di padang gurun, yang sama sekali menarik mata ─ untuk meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus. (Kontras antara orang yang merasa berkuasa dengan orang yang lemah akan dibawa terus sampai pasal-pasal yang selanjutnya, juga semua permasalahan jalan bengkok kontras dengan kehendak Bapa di Sorga)

Kata 「meluruskan jalan」 dalam Yes. 40, menyatakan Allah menetapkan kehendak untuk memulai berkembangnya pekerjaan penebusan-Nya, tetapi perlu ada pemberita Firman untuk mempersiapkan hati orang bagi Tuhan, agar manusia menyambut anugerah keselamatan yang akan datang ini. Selanjutnya di Luk. 3:7, Yohanes menyebutkan orang-orang yang perlu baptisan sebagai 「keturunan ular beludak」, sebenarnya frasa ini juga berasal dari Yesaya 59:5-8, 「5Mereka menetaskan telur ular beludak, dan menenun sarang laba-laba; siapa yang makan dari telurnya itu akan mati, dan apabila sebutir ditekan pecah, keluarlah seekor ular beludak. 6Sarang yang ditenun itu tidak dapat dipergunakan sebagai pakaian, dan buatan mereka itu tidak dapat dipakai sebagai kain; perbuatan mereka adalah perbuatan kelaliman, dan yang dikerjakan tangan mereka adalah kekerasan belaka. 7Mereka segera melakukan kejahatan, dan bersegera hendak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah; rancangan mereka adalah rancangan kelaliman, dan ke mana saja mereka pergi mereka meninggalkan kebinasaan dan keruntuhan. 8Mereka tidak mengenal jalan damai, dan dalam jejak mereka tidak ada keadilan; mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok, dan setiap orang yang berjalan di situ tidaklah mengenal damai.」 Yesaya 59:8 dengan jelas menuliskan 「keturunan ular beludak」 bukanlah umat yang bersedia meluruskan jalan mempersiapkan hari orang, tetapi menunjuk orang-orang yang mengambil jalan-jalan yang bengkok, membuat diri sendiri dan orang lain paling akhir tidak mendapatkan damai sejahtera dan harapan.

Renungkan: tepat seperti yang dibicarakan kemarin, 「keagamaan」 dapat dipakai orang terjerumus dalam keadaan membuat diri benar atau realisasi diri. Selain itu, saling melebur dan saling memperalat antara politik dan keagamaan, mungkin membuat hati orang makin menghargai berbagai kesempatan yang diberikan orang lain, menimbulkan berbagai godaan yang terlihat maupun tidak. Pemimpin keagamaan (demikian juga kita sebagai orang biasa) sebenarnya akan dipaksa mengambil jalan-jalan yang bengkok, atau dapat mempertahankan diri mengambil jalan yang diluruskan?

Sejarah gereja telah memberitahu kita begitu banyak hikmat tentang aspek ini, kiranya kita mengerti bagaimana menghadapinya, karena sejarah terjadi berulang-ulang tiada henti (history always repeats itself). Mohon Tuhan memberkati kita hikmat, menolong kita dengan sebesar-besarnya.

Lukas 2:41-52

「Taurat Mengingatkan Orang untuk Mengutamakan Kehendak Bapa」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 2:41-52 [ITB])
41Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. 42Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. 43Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. 44Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. 45Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
46Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. 47Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
48Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: 「Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.」
49Jawab-Nya kepada mereka: 「Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?」
50Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
51Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
52Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Perihal waktu Yesus berusia 12 tahun bersama sekeluarga pergi ke Bait Suci merupakan sebuah catatan yang istimewa, kitab Injil yang lain tidak ada catatan tentang masa remaja Yesus. Oleh karena itu yang hendak kita perhatikan adalah bahwa sebenarnya sebuah berita yang bagaimana yang hendak dibawakan catatan ini kepada para pembaca saat itu, sehingga kita sebagai orang percaya masa kini juga memahami makna yang dikandung di dalamnya.

Beberapa hari yang lalu, kita membicarakan perikop tentang kelahiran Yesus, Lukas hanya memakai sepotong kecil tulisan untuk menyelesaikan penggambarannya, tidak menambahkan unsur kesurgawian apapun bagi kelahiran Yesus yang mulia dan berharga, demikian juga kita dapat percaya bahwa Lukas di sini juga bukan bermaksud ingin meletakkan catatan supranatural terhadap masa remaja Yesus, sebaliknya yang hendak dibicarakan adalah hikmat pemahaman Yesus terhadap hukum Taurat, dan hubungan-Nya dengan Bapa.「Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?」(Luk. 2:49)

Dalam catatan ini, Lukas meletakkan fokus pada ketajaman penguraian penjelasan dan pemahaman atas hukum Taurat yang dimiliki Yesus, khalayak umum juga heran atas tanya jawab diri-Nya dengan para alim ulama ahli hukum Taurat, ini benar-benar menjelaskan keunikan kitab Injil. Tulisan seperti 《Kitab Apokrip Yakobus》 , meletakkan inti pada sifat keallahan dari Yesus dan memukul kalah sifat perlawanan orang banyak, sebaliknya Lukas menyiapkan jalan bagi Yesus yang melengkapi dan menggenapkan hukum Taurat. Di hari-hari yang selanjutnya, setelah Yesus bertumbuh dewasa, saat menghadapi tantangan orang Farisi, ahli Taurat, seperti menyembuhkan penyakit di hari Sabat, makan di rumah orang berdosa dll, barulah sungguh-sungguh membuat pemahaman orang lain terhadap hukum Taurat pecah. Oleh karena itu catatan ini dengan tepat telah menyatakan Yesus adalah Penafsir sejati yang memahami hukum Taurat Musa, Dia adalah Sang Pemaham ulang hukum Taurat Musa, juga sekali lagi melalui hikmat ini (anugerah dari Allah) membawakan kembali hati orang kepada maksud kehendak yang sesungguhnya dari Allah saat memberikan hukum Taurat.

Kemudian saat orang tua Yesus kembali ke Bait Suci untuk mencari Dia, jawaban yang Yesus berikan kepada kedua orang tua (ayat 49) tepat menyatakan pemahaman atas hukum Taurat yang menjelaskan perihal terkait Bapa di Sorga. Yesus baik saat mengajar khalayak umum, ataupun saat menunjukkan berbagai macam masalah dari para pemimpin agama, semua permasalahan mereka terkait dengan kehendak Bapa di Sorga. Ini terlebih juga menjelaskan bahwa Yesus mengosongkan diri lahir berinkarnasi datang ke dalam dunia, bukan hendak mendapatkan tepuk tangan orang lain dan kemuliaan, malah sebaliknya adalah hendak menjalani kayu salib, jalan pengorbanan yang tidak dipahami orang (para murid meninggalkan Dia). Ternyata, pemahaman (penafsir) Alkitab yang sungguh yang benar, bukanlah sarjana peneliti yang semata-mata secara kosong membicarakan pengetahuan dan teori, tetapi adalah yang memahami kehendak Allah, pada saat zamannya, memakai penafsiran pemahaman Alkitabnya mengeluarkan suara yang sepatutnya diperdengarkan bagi dunia ini.

Renungkan: mohon Allah agar kita tidak memakai Firman perkataan Allah sebagai salutan gula pemanis keagamaan, atau merupakan alat membohongi diri sendiri atau memperalat orang lain. Mohon Allah agar kita dapat dengan benar memakai Firman Tuhan untuk memeriksa kondisi bagi zaman ini, dengan pekerjaan Allah sebagai perhatian utama untuk melayani di zaman ini, juga menanamkan secara kuat harta berharga sorgawi ini kepada generasi berikutnya sebagai fondasi mereka.