Tag Archives: Septuaginta

Lukas 4:14-30

「Saat Orang Lain Diberkati …」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 4:14-30 [ITB])
14Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. 15Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. 16Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 17Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 18「Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.」
20Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
21Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: 「Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.」
22Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: 「Bukankah Ia ini anak Yusuf?」
23Maka berkatalah Ia kepada mereka: 「Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!」24Dan kata-Nya lagi: 「Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.」
28Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Mulai dari Luk. 1:5, Lukas memakai struktur pemahaman dan penafsiran (hermeneutical framework) Perjanjian Lama dan teknik menulis Septuaginta (Perjanjian Lama bahasa Yunani), untuk memimpin para pembaca memahami Yesus yang dipaku di atas salib adalah Mesias. Struktur pemahaman dan penafsiran Perjanjian Lama merupakan cara yang senantiasa dipakai oleh Lukas sang penulis. Catatan yang dibicarakan kemarin, mengenai Yesus dicobai iblis, dengan tepat membuktikan Lukas memakai teknik penulisan ini. Sampai perikop hari ini Lukas sang penulis juga tetap memakai Perjanjian Lama untuk memahami deklarasi rumusan misi Anak Allah (Yesus).

Setelah mengalami pencobaan, Yesus secara mendalam mengetahui jalan yang Ia ambil bukanlah yang diharapkan oleh orang Yahudi secara umum pada saat itu — yakni kerajaan Yehuda sekali lagi didirikan (seperti Dinasti Makabe di waktu yang dahulu). Saat Yesus mengumumkan rumusan misi-Nya, Ia telah memakai Yes. 61:1-2 dan Yes. 58:6. Di dalam kitab Yesaya, janji rencana penebusan yang merupakan milik Allah dan berasal dari Allah memiliki indikator penting, yakni mereka yang dibuang, yang dilupakan, pada akhirnya mendapatkan berkat Allah, kehidupan yang dibalikkan. Topik pembalikkan ini juga menggema dalam (Silahkan klik untuk membuka).

Namun dalam Lukas pasal 4, saat Yesus memberitakan topik pembalikkan akhir zaman (eschatological reversal motif) kepada umat Israel bahwa hari ini akan digenapi di antara mereka, maka masyarakat luas saat itu keheranan siapakah Yesus? Yesus merupakan tokoh besar apa yang dapat menggenapkan perkara ini? Mereka meragukan Yesus yang mengucapkan perkataan tersebut bukankah hanya merupakan anak laki-laki Yusuf, seorang dengan identitas dan kelahiran sangat yang biasa, bagaimana ia hendak menggenapkan janji Yesaya?

Yesus mengetahui dan memahami kecurigaan masyarakat luas, maka menjelaskan bahwa sebenarnya perbuatan masyarakat luas dari dahulu semuanya tidak menerima nabi di tempat asalnya. Di Lukas 4:23, Yesus memberikan respon: 「Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri!」 ini merupakan sebuah kalimat idiom zaman itu, artinya adalah 「 kamu lakukan urusanmu! Apa yang kamu lakukan tidak ada hubungan apapun dengan kita.」 Kita mungkin akan bertanya, mengapa masyarakat luas bisa memberikan jawaban yang demikian ini? Masyarakat luas sungguh telah mendengar apa Yesus lakukan di Kapernaum, termasuk berbagai mukjizat dan penyembuhan yang Ia lakukan, tepat seperti gambaran keadaan dalam perikop Yesaya yang baru saja Yesus beritakan. Tetapi mengapa mereka tidak menerima Yesus? Jelas bahwa pekerjaan mukjizat, penyembuhan dsb., semuanya merupakan indikator dari topik pembalikkan akhir zaman, bukankah orang Nazaret sepatutnya gembira dan sukacita! Ini karena Kapernaum merupakan sebuah kota yang relatif terhitung lebih banyak ditempati orang non Yahudi, dan pekerjaan kasih karunia Yesus ternyata juga datang pada diri orang non Yahudi, kontras dengan kota Nazaret lebih banyak ditempati orang Yahudi, pengumuman ini sungguh membuat orang Yahudi sangat tidak senang. Di dalam teologi mereka, bagaimana tindakan pembalikkan Allah bisa jatuh pada diri orang non Yahudi? Terutama janji Perjanjian Lama sepatutnya hanya jatuh pada diri orang Yahudi saja!

Renungkan: hanya melihat anugerah yang dimiliki orang lain, dan bersungut-sungut mengapa orang lain bisa mendapatkannya? Orang yang demikian ini, dari dahulu hanya membuat perhitungan mengapa orang lain memiliki anugerah yang berharga, namun lupa diri sendiri juga bisa memiliki. Tidak tahu apakah di dalam hati kita terdapat 「kekerasan hati」 hanya menginginkan dan iri atas apa yang dimiliki orang lain, namun justru lupa diri sendiri juga dapat bersandar kasih karunia Allah dan mendapatkannya?