「Nafsu, keinginan」
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.
(Amsal 13:1-11 [ITB])
1 Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya,
………tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan.
2 Dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik,
………tetapi nafsu seorang pengkhianat ialah melakukan kelaliman.
3 Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya,
………siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.
4 Hati si pemalas penuh keinginan,
………tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.
5 Orang benar benci kepada dusta,
………tetapi orang fasik memalukan dan memburukkan diri.
6 Kebenaran menjaga orang yang saleh jalannya,
………tetapi kefasikan mencelakakan orang berdosa.
7 Ada orang yang berlagak kaya,………tetapi tidak mempunyai apa-apa,
………ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.
8 Kekayaan adalah tebusan nyawa seseorang,
………tetapi orang miskin tidak akan mendengar ancaman.
9 Terang orang benar bercahaya gemilang,
………sedangkan pelita orang fasik padam.
10 Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran,
………tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.
11 Harta yang cepat diperoleh akan berkurang,
………tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.
Bagian permulaan pasal 13 sama dengan tiga pasal sebelumnya, ayat pertama memberitahukan inti topik dari pasal tersebut, 「anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya,」 itu adalah topik dari pasal ini. Oleh karena itu, banyak kata yang berhubungan dengan didikan muncul di pasal ini, seperti perintah, pengetahuan, pengajaran dan disiplin, dll. Orang bijak memiliki hati seperti ayah, berharap pembacanya dapat belajar dalam aspek keinginan, harta benda dan kebijaksanaan. Hari ini kita merenungkan dahulu ajaran dari ayat 1-11.
Di pasal 10 banyak disebutkan istilah-istilah yang berhubungan dengan mulut, terkait dengan ucapan. Dalam pasal ini, mulut / bibir muncul tiga kali, tetapi berhubungan dengan makan, diawali di ayat 2 dan diakhiri di ayat 25 berbicara tentang 「makan」 (ayat 2) dan 「perut」. Di ayat 2 dan 4 langsung berbicara tentang 「nafsu」 (appetite, NET). Dengan kata lain, di sini orang bijak mengingatkan pembaca untuk memperhatikan 「nafsu keinginan」 mereka (ayat 2) dan 「nafsu makan」 (ayat 25). Manusia memiliki 「keinginan / rasa membutuhkan」 adalah normal, kebutuhan tubuh seperti rasa lapar, haus, bahkan 「hasrat」 seksual (desire, NIV), dapat dipuaskan dengan cara yang patut dan layak. Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat 4, 「hati orang rajin diberi kelimpahan」. Orang bijak selanjutnya mengingatkan pembaca untuk waspada berhati-hati 「menjaga」 (ayat 3 dan 6, guard, NIV) dan mengontrol keinginannya, agar tidak terjerumus ke dalam 「keinginan hampa」 (ayat 4). Setiap kali keinginan di hati kita melonjak, suara apa yang kita dengar? Orang bijak mengharapkan bahwa 「saleh jalannya (hati yang murni)」 dan 「kebenaran」 masing-masing pribadi akan menjadi penjaga pada saat itu (ayat 6) dan membawakan bimbingan yang benar.
Tema lain dalam perikop ini adalah harta benda, dan ayat 7-11 menyebutkan kelimpahan, kekayaan, mengumpulkan tabungan, dan kemiskinan. Dalam masyarakat di mana orang bergantung pada kesan luar dan pakaian, orang mudah disesatkan oleh penampilan tau oleh promosi diri orang lain. Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka tinggal di kawasan mewah tertentu, keluar masuk toko bermerek, dan memakai pakaian merek terkenal untuk menipu kepercayaan orang. Orang bijak mengingatkan Pembaca, pamer berpotensi membawakan bahaya pada nyawa (ayat 8); di sisi lain, untuk belajar mengumpulkan sedikit demi sedikit, secara bertahap dan perlahan menabung, dan jangan berharap untuk mendapatkan tanpa kerja, sikap ingin memperoleh rezeki nomplok tanpa kerja, atau bahkan serakah atas uang tidak jujur (dishonest money, NIV). Ada orang mengatakan bahwa uang seperti jurang maut, semua martabat, hati nurani, dan kebenaran mungkin terbenam habis di dalamnya.
Dalam pembicaraan ini, orang bijak menggunakan metafora 「pelita」. Kata 「pelita」 muncul 7 kali dalam 《Kitab Amsal》. Di bagian kumpulan kedua ini adalah penggunaan yang pertama kali di ayat 9 (6:23; 13:9; 20:20, 27; 21:4; 24:20; 31:18). Di sini, diperbandingkan kelimpahan kekal orang benar dan kematian orang fasik: 「Terang orang benar bercahaya gemilang, sedangkan pelita orang fasik padam」 (ayat 9). Meski pelita orang fasik bisa bercahaya, namun itu bukan saja bersifat sementara, bahkan cepat padam. Lampu yang padam dijelaskan dalam Ayub 18:5-6 「Bagaimanapun juga terang orang fasik tentu padam, dan nyala apinya tidak tetap bersinar. 6 Terang di dalam kemahnya menjadi gelap, dan pelita di atasnya padam.」 Pelita orang benar bersinar dengan cemerlang (saat ini) dan akan menyatakan umur kehidupannya panjang. Cahaya lampu juga melambangkan kesuksesan dan kesejahteraan seseorang, penuh dengan 「sukacita menggembirakan」 (KJV, The light of the righteous rejoiceth).
Renungkan:
(1) Keinginan (desire) bisa netral, apakah Anda menginginkan Tuhan? Mari merenungkan 「Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah」 (Mazmur 42:1);
(2) Cobalah untuk merenungkan apakah saya memiliki keinginan rakus akan uang. Biarlah Roh Kudus menerangi hati saya, memiliki sikap yang benar terhadap uang, dan menghindari keserakahan, karena 「akar segala kejahatan ialah cinta uang」 (1 Timotius 6:10).
Renungan pemahaman Kitab Amsal
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.