Tag Archives: Kitab Ratapan

Ratapan 3:55-66

「Seruan dari dasar lobang yang dalam」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:55-66 [ITB])
55 Ya TUHAN,
aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam.
56 Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku! 57 Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!
58 Ya Tuhan,
Engkau telah memperjuangkan perkaraku,
Engkau telah menyelamatkan hidupku.
59 Engkau telah melihat ketidakadilan terhadap aku, ya TUHAN; berikanlah keadilan!
60 Engkau telah melihat segala dendam mereka, segala rancangan mereka terhadap aku.
61 Engkau telah mendengar cercaan mereka, ya TUHAN, segala rancangan mereka terhadap aku, 62 percakapan orang-orang yang melawan aku, dan rencana mereka terhadap aku sepanjang hari. 63 Amatilah duduk bangun mereka! Aku menjadi lagu ejekan mereka.
64 Engkau akan mengadakan pembalasan terhadap mereka, ya TUHAN, menurut perbuatan tangan mereka.
65 Engkau akan mengeraskan hati mereka; kiranya kutuk-Mu menimpa mereka!
66 Engkau akan mengejar mereka dengan murka dan memunahkan mereka dari bawah langit, ya TUHAN!

Ratapan Yeremia 3:55-66 adalah akhir pasal 3, di antaranya terdapat bentuk kata kerja yang sangat istimewa di ayat 55-61, karena di ayat ini semua kata kerja adalah bentuk telah selesai (perfect), ditambah kata kerja di ayat 52-54 (renungan kemarin) juga menggunakan bentuk telah selesai (perfect tense), jadi ternyata ayat 52-61 semuanya menggunakan bentuk telah selesai, bagaimana kita memahami tense ini? (ayat 52-54 renungan kemarin,52 Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab. 53 Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu. 54 Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: Binasa aku!』」)

Seorang peneliti bernama Iain Provan melakukan kajian mendalam tentang kata kerja bentuk telah selesai ini, ia mengemukakan bahwa penggunaan kata kerja bentuk telah selesai itu dapat dibagi menjadi tiga telah: dulu, sekarang, dan yang akan datang. Paragraf pertama (ayat 52-54) menjelaskan pengalaman penyair Ratapan di masa lalu, serangan dan penghinaan musuh, dan diakhiri dengan Binasa aku!. Paragraf kedua, hanya satu ayat saja (ayat 55), penyair Ratapan menggunakan kata kerja bentuk telah selesai untuk menjelaskan apa yang sedang ia lakukan sekarang, di dasar lobang yang dalam berseru kepada Allah. Paragraf ketiga (ayat 56-61) juga menggunakan bentuk telah selesai, tetapi ini adalah semacam wujud telah selesai yang didoakan, yang menunjukkan bahwa penyair Ratapan percaya secara mendalam atas apa yang dia doakan pasti terjadi di masa depan. Dia percaya bahwa apa yang dia doakan pasti akan digenapi, dan seperti telah selesai digenapi, sehingga beberapa orang berpendapat bahwa ini adalah bentuk kata kerja yang bersifat telah selesai dalam nubuatan (prophetic perfect) (Tambahan penerjemah: nubuat pasti akan digenapi kelak dan menjadi “telah”, dan di dalam pikiran yang penuh iman, sekarang seolah-olah telah digenapi. Nubuat juga bisa digenapi beberapa kali, bisa juga digenapi bertahap, dahulu, sekarang dan kelak.). Dengan demikian, ayat 56-61 menjelaskan bahwa penyair Ratapan yakin bahwa Tuhan akan mendengar suaranya dan menyelamatkannya suatu hari (ayat 56), dan percaya bahwa suatu hari Tuhan akan berkata kepadanya: Jangan takut! (ayat 57), Tuhan pasti akan menegakkan keadilan baginya dan menebus menyelamatkannya (ayat 58), melihat bahwa ia diperlakukan tidak adil (ayat 59), melihat adanya orang-orang yang membencinya (ayat 60), dan mendengar adanya orang yang menghinanya (ayat 61), penyair Ratapan memiliki iman yang mendalam kepada Tuhan, betapapun buruknya situasi saat ini, ia selalu percaya bahwa ini hanya sementara, akan ada satu hari saat Tuhan menanggapi doanya dan memahami penderitaannya. Dan ketika kita mengamati kata-kata yang digunakan pada ayat 55-61, kita melihat kata kerja ini: berseru (ayat 55), mendengar (ayat 56), berseru (ayat 57), melihat (ayat 59), melihat (ayat 60), mendengar (ayat 61), semua kata kerja ini terkait dengan mulut, telinga dan mata, penyair Ratapan yakin bahwa Tuhan akan menjawab dengan telinga dan mata-Nya atas seruan dari mulut penyair Ratapan. Betapa besar iman itu!

Ayat 55 adalah satu-satunya di seluruh paragraf yang bisa dipahami sebagai tindakan saat ini yang sedang berlangsung. Ayat ini menjelaskan tentang penyair Ratapan yang menyerukan nama Tuhan dari dasar lobang yang dalam. Ini mengingatkan kita pada Yusuf yang dimasukkan ke dalam lubang yang dalam oleh saudara-saudaranya (Kejadian 37:20-24), juga mengingatkan tentang Yunus berdoa di dalam perut ikan, berkata bahwa dia telah sampai di pintu dunia bawah (Yunus 2:5-6, Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.) Di titik terendah dalam hidupnya, penyair Ratapan tidak menangis sendirian, juga tidak membiarkan dirinya berkutat dalam suasana hati yang negatif, ia memilih untuk berdoa, memilih menaikkan ratapan. Dengan segala cara ia berdoa kepada Tuhan, bahkan jika Tuhan tidak menanggapi, dia mempertahankan iman yang kuat, percaya bahwa Tuhan akan menyelesaikan apa yang dia doakan dalam ayat 56-61. Sampai di penghujung hidup, penyair ratapan tetap tidak melepaskan tangan dari Tuhan, inilah ketekunan dan keyakinan dasar dari nyanyian ratapan.

Renungkan:
Ayat 63 Kembali ke tema berdoa memohon Tuhan melihat, penyair Ratapan berdoa agar Tuhan melihat semua kejahatan musuh, dia percaya akan pandangan Tuhan, Ia pasti akan menegakkan keadilan bagi dirinya. Apakah kita memiliki iman seperti itu dalam doa kita? Ketika kita berada di jurang lembah paling dalam, apakah kita memilih untuk menyerah, atau memilih untuk berdoa?


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:46-54

「Aku hendak saling memandang dengan Allah」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:46-54 [ITB])
46 Terhadap kami semua seteru kami mengangakan mulutnya. 47 Kejut dan jerat menimpa kami, kemusnahan dan kehancuran.
48 Air mataku mengalir bagaikan batang air, karena keruntuhan puteri bangsaku. 49 Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, 50 sampai TUHAN memandang dari atas dan melihat dari sorga. 51 Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku.
52 Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab. 53 Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu. 54 Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: Binasa aku!

Ratapan Yeremia 3:46-54 berfokus pada serangan musuh. Musuh ini mengangakan mulutnya (ayat 46) membawa ketakutan dan jerat kepada orang-orang, kemusnahan dan kehancuran (ayat 47), musuh datang mengejar memangsa mereka yang seperti burung kecil (ayat 52), dan jerat yang dijelaskan dalam ayat 47 mengingatkan kita pada kisah Yusuf yang dijerat oleh saudaranya yang ingin membunuhnya (Kejadian 37), tetapi situasinya sekarang lebih gawat daripada yang dialami Yusuf di masa lalu, karena ada batu yang dilempar ke lubang (penjara) ini (ayat 53), pada akhirnya, perikop Kitab Suci ini memakai perkataan Binasa aku! sebagai penutup.

Lalu, inti dari perikop ini ada di ayat 49-51, di mana mataku muncul dua kali (ayat 49, 51), dan keterangan tentang TUHAN (Yahweh) yang melihat dari surga juga muncul (ayat 50), jadi ketiga ayat ini muncul gambaran tentang mata penyair ratapan dan mata Allah. Air mata penyair Ratapan terus mengalir, tidak berhenti sejenakpun (ayat 49), dan mata penyair Ratapan pedih (ayat 51), bahkan ayat 48 menunjukkan bahwa air matanya mengalir seperti batang air (sungai). Namun, mata penyair Ratapan yang mengalirkan air mata seperti ini, hanya memiliki satu penantian harapan yaitu menunggu sampai mata TUHAN melihat dari langit (ayat 50), demikianlah mata yang mengalirkan air mata mengharapkan mata TUHAN (Yahweh) melihat dari langit, singkatnya penyair Ratapan tiada henti menangis sampai dia melihat Tuhan saling melihat dengan dirinya.

Ayat tentang Penyair Ratapan berdoa agar Allah melihat, menjadi salah satu tema Ratapan (Ratapan 1:9, 11, 20, 2:20, 3:36, klik untuk membuka). Ini permohonan dari para pelantun nyanyian Ratapan yang terus mengulang dan mengulanginya. Penyair Ratapan tidak berseru memohon agar terjadi pembalikan penderitaan, dia hanya berdoa agar mata TUHAN (Yahweh) dapat melihatnya, dan bahkan menangis dengan kedua matanya mendapatkan perhatian Allah, berharap bahwa TUHAN (Yahweh) melihat air matanya mengalir bagaikan sungai akan memberikannya belas kasih dan anugerah. Ternyata bagi orang-orang yang menderita, pembalikan penderitaan tidaklah lebih penting dari pandangan mata Allah, Tuhan melihat artinya adalah penegasan pengakuan Allah atas kemanusiaan, artinya Tuhan memandang penting. Yang paling tidak dapat ditanggung oleh penyair Ratapan adalah ketidakpedulian Allah. Selama Allah memandang kepadanya, semua hal lain sudah tidak penting lagi.

Tetapi hal ini berbeda dengan yang dibicarakan di Ratapan 3:40-45, yang berbicara tentang berharap bahwa bertobat dan pengakuan dosa sesuai janji Allah akan mengubah kutukan menjadi berkat. Sekarang penyair Ratapan memahami bahwa tidak dapat menggunakan iman yang diformulasi rumus untuk mengontrol memanipulasi pengampunan Allah, maka ia berpaling memohon pandangan mata Tuhan sendiri sebagai doa terakhir, ini membawa penyair Ratapan kembali ke niat hati awal masa lalu, yaitu berdoa agar Tuhan melihat niat hati aslinya, bahwa jika mendapatkan belas kasih dan perhatian Allah, maka urusan apakah penderitaan dibalikkan itu sudah menjadi urusan kedua.

Renungkan:
Ratapan menghadirkan air mata kita di depan mata Tuhan, nyanyian ratapan memiliki kekuatan perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi, ia dapat menceritakan semua kesedihan yang tak terkatakan di dalam hati. Ternyata keinginan terakhir orang yang menderita adalah dilihat oleh Tuhan, dan bahasa yang paling tulus dari penderita adalah air mata. Air mata berbicara segala sesuatu yang tidak dapat diucapkan. Air mata adalah bahasa ratapan yang paling langsung dan jelas, dan mata penyair Ratapan juga dapat berbicara. Sekarang setelah segala perkataan sudah habis, dia akan berbicara kepada Tuhan dengan air mata berlinang, sampai suatu hari matanya melihat bahwa ia saling memandang dengan Allah. Inilah harapan yang kuat dalam tangisan itu.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:40-45

「Bertobat, namun Engkau tidak mengampuni」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:40-45 [ITB])
40 Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. 41 Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga:
42 Kami telah mendurhaka dan memberontak, Engkau tidak mengampuni.
43 Engkau menyelubungi diri-Mu dengan murka, mengejar kami dan membunuh kami tanpa belas kasihan. 44 Engkau menyelubungi diri-Mu dengan awan, sehingga doa tak dapat menembus.
45 Kami Kaujadikan kotor dan keji di antara bangsa-bangsa.

anugerah selalu adalah anugerah, Allah tidak bisa dirumuskan, bukan sesuatu yang bisa dikendalikan iman

Ratapan Yeremia 3:40-45 adalah paragraf yang sangat khusus, karena melanggar iman yang biasa kita formulasi (iman yang kita jadikan rumus yang mati dan diterapkan secara kaku dalam situasi apapun).

Perikop Kitab suci ini dimulai dengan kita, menjelaskan bahwa ini adalah ratapan kolektif, dan juga dalam ayat 40-42a secara kolektif mengakui dosa yang telah dilakukan, dengan kesediaan hati bertobat kembali kepada TUHAN (Yahweh), dan mengangkat hati dan tangan kepada Allah di sorga untuk menyatakan bahwa diri sendiri telah dosa dan memberontak, kata-kata di dalamnya sebenarnya menggunakan kata-kata di Ulangan 30:1-6. Ayat kitab Ulangan ini menunjukkan bahwa jika orang Israel bersedia dengan segenap hati dan jiwa kembali kepada TUHAN (Yahweh), dan bertobat, maka Allah akan mengumpulkan orang-orang yang diasingkan dan membawa kembali ke tanah Kanaan, jadi komunitas kita ini berharap untuk memenuhi ketetapan yang disebutkan dalam Ulangan 30:1-6 yakni pengakuan dosa dan pertobatan, maka Tuhan dapat mengubah kutukan menjadi berkat karena pengakuan dosa mereka. Dengan demikian, kita memahami bahwa pengakuan kolektif ini didasarkan pada janji pengampunan dari TUHAN.

Namun, meskipun doa pengakuan dosa dan pertobatan sesuai dengan janji TUHAN mengubah kutukan menjadi berkat, tetapi ayat 42b menunjukkan bahwa TUHAN tidak mengampuni, karena TUHAN menyelubungi diri dengan murka dan menyelubungi diri dengan awan hitam adanya faktor yang tidak jelas yang menghalangi doa tidak dapat masuk menembusnya. Artinya Allah (di ayat 41) terputus garis doa antara sorga dan bumi oleh awan gelap yang dijelaskan dalam ayat 44, sehingga TUHAN tidak mendengarkan doa pertobatan kelompok kita ini, maka Allah secara alami tidak dapat mengaktifasi janji Ulangan 30:1-6, mengubah kutukan menjadi berkat. Dengan demikian, harapan dan janji Perjanjian tampaknya tidak terpenuhi. Bagaimana kita memahami bagian dari ratapan ini?

Orang sering lupa bahwa pengampunan yang dijanjikan dalam Perjanjian bukanlah formula yang mekanis dan rumus mati matematika. Pembalikan penderitaan dan munculnya berkat bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh orang dengan memanipulasi formula ini, apalagi menggunakan formula pengakuan dosa dan pengampunan untuk mengontrol agar diri sendiri terhindar dari bencana atau untuk mendapatkan berkat, pembalikan apa pun adalah rahmat anugerah Allah, berdasarkan kedaulatan Allah, bukan kontrol dari manusia. Seperti yang pernah dikatakan Rev. Dr. Arnold M.K. Yeung: Berbagai bahasa yang terformulasi sudah mengisi doa dan ibadah kita, membuat iman terpisah jauh dari kehidupan. Meskipun minggu demi minggu manusia penuh sopan santun kepada Allah, ibadahnya kehilangan cahaya dan kedalaman yang diberikan oleh iman. Ratapan ingin memperbaiki situasi ini.(Rev. Dr. Arnold M.K. Yeung: From Sorrow to Cheering: Psalms and Life (Hong Kong: Update Resources, 1999), hal. 15.) (楊牧谷: 《從哀傷到歡呼: 詩篇與人生》(香港: 更新資源, 1999), 頁15)

Renungkan:
Hubungan antara Allah dan manusia sangat kaya dan multi dimensi, dan tidak pernah bisa diselesaikan dengan satu atau dua rumus formula. Tuhan menjanjikan anugerah pengampunan dosa, tetapi anugerah selalu adalah anugerah, sesuatu yang tidak pantas didapatkan oleh manusia, tidak bisa dirumuskan oleh manusia, bukan sesuatu yang bisa dikendalikan atau dimanipulasi iman yang penuh rumus perhitungan formula. Ratapan memberitahu kita bahwa dalam hidup dan penderitaan ada banyak faktor yang tidak pasti. Orang hanya bisa hidup lepas kendali dalam penderitaan dan kegelapan, dan menyadari bahwa Tuhan mengendalikan segalanya dalam situasi di luar kendali manusia, dan menganggap Allah sebagai Allah, dan tangan anugerah Dia yang ajaib itu menanggung kesulitan hidup kita.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:31-39

「Perjalanan batin yang kontradiksi」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:31-39 [ITB])
31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.
32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.
34 Kalau dipijak-pijak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia, 35 kalau hak orang dibelokkan di hadapan Yang Mahatinggi, 36 atau orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya, masakan Tuhan tidak melihatnya?
37 Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? 38 Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?
39 Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!

Ternyata iman tidak digunakan untuk menjelaskan penderitaan, tetapi untuk menanggung penderitaan.

Ratapan 3:31-39 mencatat kontradiksi perjalanan spiritual penyair Ratapan. Di satu sisi, penyair Ratapan yakin bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Allah yang penuh belas kasih dan penyayang (Ratapan 3:31-33), semua hal baik dalam hidup dan segala hal buruk datang dari-Nya (Ratapan 3:37-39), di sisi lain penyair Ratapan mempertanyakan TUHAN karena tidak memperhatikan dia dan membiarkan terjadinya ketidakadilan (Ratapan 3:34-36). Perjalanan batin yang kontradiksi ini adalah suara penyair Ratapan dalam keadaan penuh penderitaan.

Pertama-tama, ayat 31-33 mengungkapkan belas kasih TUHAN, ayat Kitab suci menunjukkan bahwa Allah tidak akan meninggalkan orang untuk selamanya, Dia mendatangkan susah hanya untuk sementara, dan yang benar-benar permanen adalah kasih dan setia-Nya yang melimpah. Kata kasih dipahami sebagai kesetiaan dan komitmen pada perjanjian, yang berarti bahwa suatu hari Allah akan membawa keselamatan kepada orang-orang yang menderita, meninggalkan keadaan menderita yang sementara itu, dan mencapai berkat yang dijanjikan oleh perjanjian. Lebih lanjut, ayat 37-39 mengilustrasikan pentingnya perjanjian dalam kerangka pemikiran ini, karena Ulangan 28 telah mencantumkan berkat dan kutukan dalam ketetapan perjanjian, itu berarti bahwa baik berkat maupun kutuk berasal dari Yang Mahatinggi. Terlepas dari apakah penyair Ratapan sedang menikmati berkat atau penderitaan, hal ini sudah diatur dalam ketetapan perjanjian, oleh karena itu penyair Ratapan tidak perlu mengeluh, yang sepatutnya dilakukan orang-orang dalam penderitaan adalah bertahan, bahkan jika seberapa besar penderitaan itu, selama mereka masih hidup maka ada harapan diubahkan penderitaan itu. Dengan demikian, Allah memberikan napas hidup seseorang, yakni hendaknya menantikan suatu hari keselamatan datang dari Tuhan.

Sebaliknya, ayat 34-36 bertentangan dengan ayat 31-33 dan 37-39, yang menunjukkan bahwa TUHAN sepertinya tidak memperhatikan orang-orang yang menderita, bagian ini menunjukkan tiga ketidakadilan. Pertama adalah bahwa tawanan-tawanan dipijak-pijak dengan kaki (ayat 34), kedua adalah keadilan diputarbalikkan hak orang dibelokkan (ayat 35), dan yang ketiga adalah orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya diputarbalikkan yang benar dan salah dalam proses pengadilan (ayat 36), dan menunjukkan bahwa Tuhan tidak memperhatikan semua ini, seakan-akan Allah meremehkan permohonan atas ketidakadilan ini, Allah tidak akan memperhatikan kejahatan ini, dan Ia tidak mempedulikan ketidakadilan. Penderitaan Penyair Ratapan adalah akibat ulah musuh yang jahat, mereka melontarkan tuduhan yang tidak adil terhadap penyair Ratapan dan berusaha makin menjerumuskan dia dalam kesusahan. Ketika musuh melakukan semua ini, mereka tidak menerima hukuman dan penghakiman dari Allah. Oleh karena itu, Penyair Ratapan menyimpulkan bahwa TUHAN (Yahweh) tidak akan peduli atau memperhatikan kejahatan dan ketidakadilan ini.

Renungkan:
Penyair Ratapan percaya bahwa penderitaan hanya sementara saja, belas kasih dan cinta kasih Tuhan perjanjian yang luar biasa, dan janji Allah dalam perjanjian tidak akan pernah berubah, namun dia juga melihat ketidakadilan di dunia dan orang jahat, semua ini menantang iman penyair Ratapan, dia hidup dalam perjalanan spiritual yang kontradiktif ini. Dalam keadaan seperti ini, kita sering menyangkal belas kasih Tuhan atau mengingkari kenyataan ketidakadilan. Kita berpikir bahwa kita harus memilih salah satu dari antara dua yang berkontradiksi ini. Namun, Penyair Ratapan menyatukan kedua hal yang tidak cocok ini, tidak berusaha saling menjelaskan, juga tidak memisah satu sama lain atau membuang salah satu, hanya dengan cara inilah kita dapat melihat bagaimana iman yang memiliki tubuh darah dan daging dapat menjadi iman yang nyata dalam penderitaan, dan kita dapat memahami bahwa tidak harus setiap bagian kehidupan dapat dijelaskan dengan jelas.
Ternyata seperti yang dikatakan Rev. Dr. Arnold Yeung: iman tidak digunakan untuk menjelaskan penderitaan, tetapi untuk menanggung penderitaan.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:25-27

「Adalah baik menantikan TUHAN」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:25-27 [ITB])
25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.
27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

adalah baik 「menantikan, tenang dan memikul kuk」

Masing-masing dari ketiga ayat ini (ayat 25-27) dalam teks bahasa aslinya diawali dengan adalah baik, yang menunjukkan bahwa penyair Ratapan percaya merupakan hal-hal yang baik dalam iman. Pengakuan semacam ini tidak berarti bahwa penyair Ratapan telah terlepas dari penderitaan, tetapi apa yang menurutnya masih merupakan yang baik di tengah penderitaan.

Pertama, ayat 25 menunjukkan bahwa apa yang baik adalah bagi orang yang berharap kepada-Nya dan bagi jiwa yang mencari Dia, keduanya adalah kategori orang yang sama, yakni mereka yang masih mau memiliki harapan dalam penderitaan. Kata menantikan telah muncul di banyak tempat (Ratapan 3:21, 24, 25, 26, klik untuk membaca), menjelaskan apa yang dapat dilakukan seseorang dalam penderitaan Perjanjian (sisi kutukan dari Perjanjian, lihat Ulangan 28, klik untuk membaca). Menantikan dipandang orang sebagai tindakan pasif, tetapi dalam Perjanjian Lama itu adalah menunggu aktif (active waiting). Kitab Suci menunjukkan bahwa orang-orang yang menantikan itu baik (3:25, 26), karena menantikan menandakan bahwa penyair Ratapan tidak pernah melepaskan imannya, dengan tindakan menantikan ia percaya bahwa suatu hari kutukan dalam Perjanjian ini akan berlalu, dia dengan diam (3:26) tenang menantikan datangnya keselamatan dalam Perjanjian (sisi berkat dalam Perjanjian).

Kedua, ayat 26 menunjukkan bahwa menantikan dan diam itu baik.Diam ini tidak berarti bahwa penyair Ratapan benar-benar tidak mengucapkan sepatah kata pun selama proses menantikan. Bahkan, penyair Ratapan menyanyikan ratapan, sungguh menjelaskan bahwa dia adalah orang yang tidak berdiam membisu, oleh karena itu, diam bukanlah diam secara harfiah, tetapi sikap percaya, dalam proses menunggu ia percaya bergantung kepada Tuhan, total berserah sepenuhnya kepada Tuhan, hanya percaya kepada TUHAN (Yahweh), dan menunggu keselamatan-Nya, tidak peduli seberapa mendesak penderitaannya, ia bertekad untuk tidak membuang harapan ini, dengan diam ia beriman itu adalah kekuatan pendorong terbaik.

Ketiga, ayat 27 menyebutkan bahwa adalah baik bagi seorang memikul kuk pada masa mudanya. Kehidupan muda melambangkan kekuatan dan kesanggupan untuk memikul kuk yang berat. Jika orang muda dapat dengan cepat menerima beban didikan hukuman dari Tuhan, didikan disiplin seperti ini adalah baik bagi seorang yang muda. Itu baik untuk orang tersebut, agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama lagi di masa depan, dan orang muda akan lebih memiliki tahun yang lebih lama untuk melihat berkat datang. Dengan demikian, tiga hal yang baik, yaitu menantikan, tenang dan memikul kuk pada masa muda, ketiga hal ini dianggap baik oleh penyair Ratapan, dan juga merupakan hal yang baik saat dalam penderitaan.

Renungkan:
Seringkali kita berpikir bahwa tidak ada yang baik bagi hidup dalam penderitaan, tetapi sekarang penyair Ratapan menggunakan cara pandang lain untuk memberitahu kita agar merenungkan bahwa ada tiga hal yang baik dalam penderitaan, yaitu menunggu yang tidak padam dan tenang yang rendah hati, dan memikul kuk pada masa muda, ketiga hal ini adalah hal-hal yang mulia dalam hidup yang menderita, dan itu juga adalah hal-hal yang tidak dapat disingkirkan oleh penderitaan. Berdoa agar kita dapat berpegang pada ketiga baik ini agar tidak melepaskan berharap kepada Tuhan, percaya bahwa penderitaan akan berlalu suatu hari nanti, dan kemudian kita akan memahami bahwa ketiga baik ini sangat berharga dan tidak dapat ditukar dengan uang.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:22-24

「Setiap pagi Ia melakukan hal baru」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:22-24 [ITB])
22 Kita masih hidup karena kasih setia TUHAN tidak pernah berakhir.
23 Setiap pagi Ia menunjukkannya dalam cara baru. Engkau sangat benar dan setia. 24 Aku berkata dalam hati, TUHAN adalah Allahku, dan aku percaya pada-Nya.

Hanya umat perjanjian anugerah yang menyanyikan ratapan. Mereka yang meninggalkan perjanjian kasih karunia hanya akan menolak untuk mengakui iman kepada TUHAN (Yahweh), jadi wajar saja mereka bahkan tidak tertarik untuk mengeluh kepada TUHAN (Yahweh). Sebaliknya, orang-orang yang tetap dalam perjanjian kasih karunia, saat menghadapi kesulitan bahkan jika terpaksa akan memilih menyanyikan ratapan untuk secara langsung mengeluh kepada TUHAN. Oleh karena itu, orang yang mengeluh kepada TUHAN (Yahweh) mencerminkan bahwa dia belum melepaskan imannya, dan mencerminkan bahwa dia benar-benar seorang Israel.

Ratapan pasal 3 banyak deskripsi yang menggunakan kata ganti orang pertama (aku, ku) untuk menyatakan bagaimana TUHAN memperlakukannya dengan keburukan, bagaimana bencana, penderitaan, kesedihan, busur dan anak panah menimpanya (Ratapan 3:1-18). Penyair Ratapan menyampaikan keluhan yang sangat besar dan langsung kepada TUHAN dengan semua kesedihan ini. Bahkan walaupun penyair Ratapan mengetahui dengan baik, bencana ini berasal dari hukuman yang diberikan TUHAN kepada orang Israel dalam penawanan. Tetapi ketika bencana yang bersifat hukuman ini benar-benar datang, penyair Ratapan benar-benar tidak tahan lagi, jadi dia mengajukan keluhan yang tidak sungkan-sungkan kepada Tuhan.

Namun dalam proses pengaduannya, penyair Ratapan terlihat sedikit kepribadian yang terpecah mengatakan sesuatu pada ayat 22-24. Pertama-tama, ayat 22-23 menekankan kasih setia TUHAN, belas kasihan, dan kejujuran Allah. Dua kata kasih dan setia harus dipahami dari perspektif perjanjian, yang menunjukkan komitmen Allah terhadap perjanjian-Nya sendiri kepada umat-Nya. Dengan demikian, dalam kesusahannya penyair Ratapan menekankan kasih dan kesetiaan Tuhan, menunjukkan alasan mengapa penyair Ratapan menghadapi kesulitan seperti itu bukan karena hal lain, tetapi karena TUHAN berkomitmen memenuhi syarat-syarat perjanjian (Ul. 28), artinya, penyair Ratapan mendapat penderitaan karena komitmen kesetiaan TUHAN terhadap bagian kutukan dari ketetapan perjanjian, itulah yang menyebabkan penyair Ratapan menderita. Oleh karena itu, yang terlihat seperti kepribadian yang terpecah ini adalah bahwa penyair Ratapan tidak menyerah atas imannya, di satu sisi ia mengeluh tentang penderitaan, namun di sisi lain ia percaya dengan kepastian bahwa hal itu disebabkan oleh kebaikan kasih dan kesetiaan Tuhan.

Selain itu, justru karena Tuhan menepati perjanjian, Dia akan mengubah kutukan menjadi berkat ketika orang Israel mengaku dosa mereka dan bertobat (Ul. 30:1-6). Oleh karena itu, ketika TUHAN mengirimkan bencana untuk mendisiplinkan Israel, umat Israel mengaku dosa mereka mengharapkan keselamatan dari TUHAN, menanti keselamatan dari Tuhan dengan diam (ayat 26). Di bawah paradoks antara keluhan dan diam dalam keheningan ini, setiap pagi penyair Ratapan mengalami kasih dan kesetiaan akan hal-hal baru (Ratapan 3:23), ia sangat percaya bahwa setiap pagi senantiasa adalah pagi di mana ada hal baru yang dilakukan TUHAN, jika tidak ada yang baru di pagi tertentu, maka akan ada pagi kedua, hingga akhirnya penyair Ratapan di suatu pagi akan melihat penyelamatan Tuhan, ini adalah harapan pasti penyair Ratapan kepada Tuhan.

Renungkan:
Tolong jangan berhenti berharap kepada Tuhan. Ketika Anda hidup dalam kesusahan, bahkan Anda tidak bersedia menyampaikan ratapan kepada Tuhan, Anda mungkin telah melepaskan iman Anda. Jika Anda masih memiliki harapan terhadap kasih dan kesetiaan Allah, Anda percaya bahwa Ia akan menanggapi keheningan Anda dan dengan keselamatan Ia akan melebarkan sayap pagi bagi Anda!


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:19-21

「Dari kesedihan beralih kepada pengharapan」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:19-21 [ITB])
19 Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.
20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap

Kemarin di ayat 18 kita membaca tentang keputusasaan, tetapi ayat 21 tiba-tiba menunjukkan bahwa ada harapan di hati, dari ayat 18 sampai ayat 21 adalah jarak yang pendek hanya tiga ayat, penyair Ratapan menggambarkan keputusasaan sampai kepada harapan, mengapa ini terjadi? Kuncinya terletak pada kata ingat.

Kata ingat yang pertama dalam teks bahasa asli adalah aku mengingat (Ratapan 3:19), dan kata ingat yang kedua dalam teks bahasa asli adalah jiwaku mengingat (Ratapan 3:20), kedua kata ingat ini dapat juga diterjemahkan sebagai mohon engkau ingat (lihat ITB ayat 19 Ingatlah akan sengsaraku …), satu penulisan kata ini bisa memiliki dua tujuan, kedua kata ingat di satu sisi bersifat deskriptif yakni menjelaskan bahwa aku mengingat, dan di sisi lain juga merupakan seruan kepada Tuhan, sebuah doa memohon agar Allah mengingat. Dalam teks bahasa asli, dua kemungkinan ini ada pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu di satu sisi penyair ratapan mengingat bahwa dirinya dalam kesengsaraan dan keterasingan pengembaraan, seperti kegetiran ipuh dan racun (ayat 19), di sisi lain penyair ratapan juga berseru sekaligus berdoa kepada Tuhan untuk mengingat dirinya yang seperti kegetiran ipuh dan racun (ayat 19), dua sikap ini tidak serta merta berlawanan, tetapi satu kata dua makna, menunjukkan doa kepada Allah dan ingatan penyair Ratapan sendiri, memunculkan keadaan paradoks yaitu pengharapan dalam keadaan tanpa pengharapan, iman kepada Allah dalam keputusasaan. Di satu sisi penyair Ratapan menganggap hukuman tangan Tuhan sedang tertuju kepada dirinya maka dia mengingat penderitaan dirinya sendiri, di sisi lain dia tetap berdoa mohon Tuhan mengingat, ia percaya Tuhan akan merespons. Ini adalah pengharapan dalam keputusasaan yang terkait di ayat 18.

Namun dalam kontradiksi dan tarikan tegangan ini, di ayat 20 penyair Ratapan tetap mengemukakan sebuah pengakuan, dalam bahasa aslinya adalah ingat dengan kepastian, kata ini dapat diterjemahkan sebagai engkau pasti akan mengingat, yang artinya dalam hati pikiran penyair Ratapan, Tuhan pasti tidak akan mencampakkan dirinya, Dia sungguh dan pasti akan mengingat akan segala hal tentang diri penyair Ratapan, yaitu situasi pahit seperti ipuh dan racun. Ternyata dalam penderitaan, Tuhan mengingat (Tuhan memperhatikan) itu menjadi kepastian iman dari penyair Ratapan, sekaligus penggerak dirinya untuk berubah dari keputusasaan menjadi harapan. Ketika seseorang dalam keadaan sangat menderita, orang tersebut memahami bahwa semua perhatian ingat dari manusia sudah tidak penting lagi, hanya ketika TUHAN Pengendali kehidupan dan Maha berdaulat mengingat dirinya, dalam penderitaan ia dapat memiliki harapan pasti. Harapan semacam ini bukanlah apa yang dialami dan dirasakan penyair Ratapan, tetapi pengakuan iman, pengakuan bahwa Tuhan mengingat (Tuhan memperhatikan), penderitaan tetap sama, tidak berubah membaik, hukuman tetap berat, tetapi penyair Ratapan masih bisa memiliki pengharapan.

Renungkan:
Ketika Yesus Kristus dipaku di kayu salib, seorang tahanan yang disalibkan di sampingnya berdoa agar Yesus Kristus akan mengingatnya ketika Dia datang ke Kerajaan Allah. Ternyata Tuhan mengingat (Tuhan memperhatikan) adalah doa mendesak setiap orang yang menghadapi kematian, karena penderitaan memaksa seseorang untuk memikirkan apa yang penting dan apa yang bisa diabaikan, sehingga orang akan memahami bahwa Tuhan mengingat adalah sumber pengharapan yang paling utama dan sejati ketika kematian mendekat, merupakan sesuatu yang tidak dapat dirampas oleh kematian dan penderitaan. Di zaman di mana penderitaan menjadi hal rutin, dapatkah Anda mengaku dengan pasti terhadap fakta bahwa Tuhan mengingat, dan menemukan harapan dalam keputusasaan?

Tambahan penerjemah: bacalah renungan Ratapan 3:1-18 (klik untuk membuka) yang terkait dengan Mazmur 23, lalu renungkan dalam kaitkan dengan intisari renungan hari ini.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 3:1-18

「Aku orang itu」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 3:1-18 [ITB])
1 Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya.
2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya. 3 Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.
4 Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya.
5 Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan. 6 Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. 7 Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat.
8 Walaupun aku memanggil-manggil dan berteriak minta tolong, tak didengarkan-Nya doaku
9 Ia merintangi jalan-jalanku dengan batu pahat, dan menjadikannya tidak terlalui. 10 Laksana beruang Ia menghadang aku, laksana singa dalam tempat persembunyian. 11 Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun.
12 Ia membidikkan panah-Nya, menjadikan aku sasaran anak panah. 13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.
14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.
15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh. 16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.
17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.
18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

Ratapan Yeremia pasal 3 adalah pusat dari lima pasal kitab Ratapan Yeremia, dan hanya di sini saja disebutkan pengharapan perjanjian. Di pasal ini sebutan puteri Sion ditinggalkan dan beralih ke orang itu maskulin laki-laki (ayat 1) dalam bentuk monolog. Tidak menyebutkan tentang Sion, Yerusalem, tembok kota, tempat kudus, imam, tua-tua, anak-anak, ibu, dll. yang terdapat dalam pasal 1, 2, dan 4, sehingga pengalaman penderitaan yang dijelaskan dalam pasal 3 ini tampaknya sudah meninggalkan Yerusalem yang hancur, yang sudah menjadi sejarah, yakni sejarah penawanan ke pengasingan pada 586 SM, beralih kepada perjalanan batin penderitaan yang bersifat lebih umum dari orang itu, sehingga orang-orang yang menderita dengan penyebab dan peristiwa apa pun dapat menemukan resonansi dan menjadi orang itu

Ayat 1 dimulai dengan akulah orang itu, menjelaskan bahwa orang ini menerima tongkat murka TUHAN (rod of his wrath KJV, CUV; terjemahan ITB agak berbeda cambuk murka-Nya). Tongkat TUHAN (Yahweh) dulunya adalah tongkat penggembalaan, Dia memimpin domba ke padang rumput hijau (Mazmur 23:4), Sekarang tongkat yang sama membawa murka dan didikan disiplin kepada orang itu. Prolog pembukaan seperti itu menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu orang tersebut terhadap Mazmur 23 telah dibalik.
Faktanya, banyak uraian di Ratapan 3:1-18 yang mirip dengan Mazmur 23. Kita bisa menggunakan daftar di bawah ini untuk menjelaskannya:

Ratapan 3:1-13 — Mazmur 23
Tongkat murka TUHAN (Rat. 3:1)
Tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Maz. 23:4)
Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya (Rat. 3:2)
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang (Maz. 23:2)
Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang berat (Rat. 3:6-7)
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku (Maz. 23:4)
Ia membelokkan jalan-jalanku, merobek-robek aku dan membuat aku tertegun (Rat. 3:11)
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku (Maz. 23:5)

Seperti yang dapat dilihat dari daftar di atas, penulisan beberapa pengalaman di Ratapan 3:1-18 mengadopsi tata bahasa Mazmur 23, yang menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) mengubah tongkat penghiburan menjadi murka, dan pada mulanya menuntun orang ke rerumputan hijau dan tepi air, berganti membawa orang ke tempat gelap; awalnya menuntun orang melewati lembah bayang-bayang kematian, tetapi sekarang menuntun orang ke tempat gelap, membuat orang seperti orang yang sudah lama mati; awalnya melindungi orang dari serangan musuh, sekarang mereka menjadi musuh orang ini, merobek-robeknya (ayat 11), pembalikan citra sebagai Gembala seperti ini membuat orang tersebut tidak dapat memahaminya. Karena Allah telah mengubah citra diri-Nya sedangkan ia tidak mengharapkan penyebab dari perubahan ini, penyair Ratapan menunjukkan dalam ayat 18 bahwa ia merasa tidak ada pengharapan pada TUHAN (Yahweh). Penyair Ratapan merasa tidak dapat menemukan harapan pada Allah karena Ia telah berubah total.

Renungkan:
Tuhan di masa lalu seperti Mazmur 23, sekarang telah menjadi gambaran yang sepenuhnya berlawanan, sehingga kita tidak dapat menggunakan pengetahuan masa lalu kita tentang Tuhan untuk memahami aku yang saat ini, orang itu yang saat ini yang dalam penderitaan. Kerangka teologis yang ada tidak cukup untuk mengatasi penderitaan saat ini. Beberapa pengalaman yang diberkati tidak dapat terulang kembali di masa sekarang pada aku yang saat ini, orang itu yang saat ini, jadi hanya dapat mengungkapkan perjalanan mental yang kontradiktif ini dalam nyanyian ratapan, dan secara terus terang menunjukkan bahwa ia merasa tidak ada harapan di dalam Tuhan. Namun, suara putus asa ini hanyalah permulaan, dan dalam renungan kita besok akan memahami sumber harapan, tetapi ketika harapan belum datang, kadang-kadang kita perlu mengalami situasi putus asa, agar pada saat yang sama dapat melihat harapan yang sejati. Harapan dalam keputusasaan seperti inilah yang diharapkan Kitab Suci untuk kita pikirkan.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 2:18-22

「Sion cucurkanlah air mata!」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:18-22 [ITB])
18 Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! 19 Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!

20 Lihatlah, TUHAN, dan tiliklah, kepada siapakah Engkau telah berbuat ini? Apakah perempuan harus makan anak kandungnya, anak-anak yang masih dibuai? Apakah dalam tempat kudus Tuhan harus dibunuh imam dan nabi?
21 Terbaring di debu jalan pemuda dan orang tua; dara-daraku dan teruna-terunaku gugur oleh pedang; Engkau membunuh mereka tatkala Engkau murka, tanpa belas kasihan Engkau menyembelih mereka! 22 Seolah-olah pada hari perayaan Engkau mengundang semua yang kutakuti dari sekeliling. Tatkala TUHAN murka tak ada seorang yang luput atau selamat. Mereka yang kubuai dan kubesarkan dibinasakan seteruku.

Ratapan 2:18-22 dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah kesedihan dan seruan dari penyair Ratapan kepada Sion (ayat 18-19), dan bagian kedua adalah seruan kepada TUHAN untuk memperhatikan (ayat 20-22), yang pertama ditujukan kepada Sion, dan yang terakhir ditujukan kepada TUHAN.

Ayat 18 diawali dengan berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring (atau hati mereka berseru kepada Tuhan IMB, KJV). Seruan permohonan semacam ini mungkin adalah permohonan pengakuan dosa, atau juga seruan pertanyaan dan protes kepada Tuhan. Keduanya bercampur dalam seruan permohonan ini, di satu sisi Sion karena dosanya dan menyinggung Tuhan, Sion memohon kepada Tuhan untuk berkat yang dijanjikan dalam perjanjian. Tidak menyangkal fakta bahwa Sion telah bersalah dan mengakui dosanya, di sisi lain seruan semacam ini pada saat yang sama juga membawa sikap mempertanyakan dan keluhan kepada Allah mengapa Sion tidak mendapat penghiburan (Ratapan 1:2, 9, 17, 21, klik untuk membaca), atau mempertanyakan kepada Tuhan atas penderitaan anak-anak yang tidak bersalah (Ratapan 2:11-13). Dengan demikian, teriakan ratapan berada di dalam tarikan dua tegangan ini, permohonan penyair Ratapan mengungkapkan campuran suasana hati tersebut di atas.

Dalam permohonan campuran ini, ayat 18-19 menyerukan kepada Sion untuk mencurahkan air matanya kepada Tuhan seperti sungai, jangan istirahat (menjadi longgar), dan jangan diam, ini menunjukkan teologi menangis, berseru kepada Sion untuk menangis kepada Tuhan. Kita sering takut bahwa orang yang menderita akan menangis, takut ia tidak bisa mengendalikan diri, dan takut kita tidak dapat mengatasinya. Namun, Kitab Suci mendorong Sion yang menderita untuk menangis. Jenis ratapan tangis ini bukan tanpa arah, tetapi meratap tangis kepada Tuhan, haruslah diarahkan kepada Tuhan barulah memiliki makna teologi ratapan tangis. Tangisan menjadi salah satu tempat untuk berhubungan dengan Tuhan. Jenis tangisan ini juga menunjukkan bahwa kita tidak menyerah atas Tuhan. Bahkan jika Tuhan telah mencurahkan murka-Nya kepada Sion, Sion juga akan mencurahkan air matanya kepada Allah. Ini karena merupakan iman yang sepenuhnya, menunjukkan dengan air mata di depan Tuhan yang tidak dapat didekati (Tuhan yang mencurahkan murka-Nya) bahwa Dia dapat diandalkan, dan dengan demikian menunjukkan bahwa tidak ada objek air mata selain Tuhan (air mata hanya dicurahkan kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain).

Ayat 20 sekali lagi memulai dengan Lihatlah, TUHAN!, membawa kita kembali kepada seruan memohon Tuhan memperhatikan (Ratapan 1:9, 11, 20, klik untuk membuka). Selama ini TUHAN sekan-akan tidak memperhatikan Sion menderita, penyair Ratapan masih tetap berseru memohon, menunjukkan bahwa ia tidak pernah menyerahkan atas TUHAN. Kali ini ia berdoa memohon TUHAN melihat anak-anak yang tidak bersalah, dan ada seorang wanita di Sion yang sedang memakan anaknya (ayat 20), juga ironi tentang imam dan nabi dibunuh dalam tempat kudus Tuhan (ayat 20). Yang pertama tidak bersalah, dan yang terakhir pantas menerima dosa. Penyair Ratapan mengajukan kedua hal ini, dengan tujuan meminta Tuhan untuk melihatnya secara bersamaan, apakah Tuhan membuat setiap orang sama-sama menderita?

Renungkan:
Murka Tuhan begitu komprehensif sehingga tidak ada yang bisa menghindarinya. Dalam keadaan kehidupan sehari-hari ketika penderitaan senantiasa ada, penyair Ratapan menyanyikan ratapan berseru kepada Sion, memanggilnya untuk memohon kepada Tuhan dan melalui air mata terhubung dengan-Nya. Pada saat yang sama, ia memohon kepada TUHAN untuk melihat ketidakadilan yang ada di hadapannya. Penyair Ratapan tidak berani tergesa-gesa menjelaskan teologis, ia hanya meminta Tuhan untuk memperhatikannya.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ratapan 2:11-17

「Tragedi pada anak-anak, dan akhir nabi palsu」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:11-17 [ITB])
11 Mataku kusam dengan air mata, remuk redam hatiku; hancur habis hatiku karena keruntuhan puteri bangsaku, sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota. 12 Kepada ibunya mereka bertanya: Mana roti dan anggur?, sedang mereka jatuh pingsan seperti orang yang gugur di lapangan-lapangan kota, ketika menghembuskan nafas di pangkuan ibunya.
13 Apa yang dapat kunyatakan kepadamu, dengan apa aku dapat menyamakan engkau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara, puteri Sion?
Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?
14 Nabi-nabimu melihat bagimu penglihatan yang dusta dan hampa. Mereka tidak menyatakan kesalahanmu, guna memulihkan engkau kembali. Mereka mengeluarkan bagimu ramalan-ramalan yang dusta dan menyesatkan.
15 Sekalian orang yang lewat bertepuk tangan karena engkau. Mereka bersuit-suit dan menggelengkan kepalanya mengenai puteri Yerusalem: Inikah kota yang disebut orang kota yang paling indah, kesukaan dunia semesta?
16 Terhadap engkau semua seterumu mengangakan mulutnya. Mereka bersuit-suit dan menggertakkan gigi: Kami telah memusnahkannya!, kata mereka, Nah, inilah harinya yang kami nanti-nantikan, kami mengalaminya, kami melihatnya!
17 TUHAN telah menjalankan yang dirancangkan-Nya, Ia melaksanakan yang difirmankan-Nya, yang diperintahkan-Nya dahulu kala; Ia merusak tanpa belas kasihan, Ia menjadikan si seteru senang atas kamu, Ia meninggikan tanduk lawan-lawanmu.

Ratapan 2:11-17 adalah sebuah paragraf yang menggambarkan penderitaan berbagai jenis orang di Sion ketika kota dihancurkan dan ketika mereka ditawan. Kita dapat membaginya menjadi dua kategori, satu adalah korban tidak bersalah, dan yang lainnya adalah nabi palsu yang pantas mendapatkannya.

Pertama-tama, ayat 11-12 menjelaskan bahwa korban yang tidak bersalah, mereka adalah anak-anak dan bayi menyusu, karena hukuman atas kota Sion, sehingga mereka menghadapi bencana kelaparan yang parah, mereka jatuh pingsan di kota (ayat 11) dan dalam pelukan ibu mereka. Ketika akan mati, mereka bertanya kepada ibunya, di mana roti dan anggur? (Ayat 12) . Pertanyaan seperti ini agak istimewa, karena anak-anak dan bayi menyusu secara normal tidak berharap untuk makan roti dan anggur. Namun, pada zaman itu roti dan anggur adalah makanan yang dapat disimpan untuk jangka waktu yang lebih lama, sehingga yang ditanyakan oleh anak-anak itu adalah di mana satu-satunya makanan yang disimpan dalam keluarga, menyiratkan bahwa di bawah kelaparan yang ekstrem keluarga sudah tidak memiliki persediaan makanan pertahanan terakhir. Namun, anak-anak ini dan para bayi yang menyusu adalah korban yang tidak bersalah, penyair Ratapan menyampaikan keadaan buruk mereka kepada TUHAN, dan menggunakan ini untuk mempertanyakan mengapa Allah membiarkan terjadi korban yang tidak bersalah ini, hukuman Allah tidak hanya menimpa orang-orang jahat di kota itu, tetapi juga mempengaruhi anak-anak ini, sungguh menyedihkan. Penyair Ratapan tidak menuturkan pemikiran teologis tentang penderitaan ini kepada Allah, ia hanya mengajukan seluruh fakta itu kepada Allah dan mengubahnya menjadi ratapan, 一 memohonkannya satu per satu kepada Allah, menunjukkan bahwa dia tidak menyerah atas Allah yang mendengarkan ratapan.

Selain itu, ayat 14 menunjukkan bahwa tentang nabi-nabi palsu yang pantas menerima hukuman atas dosa-dosanya karena mereka tidak menyatakan atau menunjukkan kesalahan-kesalahan Sion, Mereka hanya perhatian dan berbicara tentang penglihatan indah yang penuh dusta dan hampa palsu, isinya adalah perdamaian yang telah dibuat-buat indah. Seperti kata Yehezkiel, mereka menyatakan damai, tetapi sebenarnya adalah tidak ada damai sejahtera (Yehezkiel 13:10). Mereka menyesatkan orang-orang dan membuat mereka percaya bahwa tidak mungkin musuh memasuki kota suci Yerusalem. Siapa tahu, ternyata mereka tidak menyingkapkan dosa dan kesalahan orang, tetapi menyampaikan pesan yang membuat orang merasa nyaman. Oleh karena itu, nabi-nabi palsu ini dihukum berat pada hari-hari pembuangan orang Israel.

Terakhir, dalam ayat 15-16 disebutkan orang-orang yang lewat dan musuhnya. Orang-orang yang lewat ini adalah mereka yang mengambil keuntungan ketika orang lain lemah, sedangkan musuh ini adalah orang Kasdim yang menyerang Yerusalem. Orang-orang ini bergembira, orang-orang yang lewat menertawakan Yerusalem dan mengejek keindahan masa lalu sudah tidak kembali lagi, lalu musuh itu penuh dengan ambisi. Mereka bergembira bahwa mereka dapat melihat hari mereka akan menyerang Yerusalem dan menang. Ayat 17 menunjukkan bahwa di balik semua hukuman ini adalah TUHAN, menjelaskan bahwa ini telah ditetapkan berdasarkan ketentuan perjanjian di zaman dahulu, mengapa nabi-nabi palsu ini tidak menjelaskan fakta ini kepada orang-orang? Mengapa nabi-nabi palsu ini membiarkan mereka melakukan kesalahan lagi dan lagi, dan akhirnya jatuh sampai demikian parah?

Renungkan:
Penderitaan orang yang tidak bersalah atau penderitaan nabi palsu yang pantas diterima, penyair Ratapan menyampaikan semuanya kepada TUHAN (Yahweh). Nyanyian duka semacam ini menggambarkan dua jenis penderitaan di dunia, yang pertama adalah tragedi, dan yang kedua adalah penghakiman, apapun jenis penderitaannya TUHAN (Yahweh) bersedia mendengarkan suara penyair Ratapan. Oleh karena itu, paragraf nyanyian ratapan ini mencerminkan realitas penderitaan manusia, dan Tuhan peduli akan kenyataan ini, meskipun isinya tidak memberikan interpretasi teologis, namun penyair Ratapan melalui nyanyian ratapan menyampaikan realitas kehidupan nyata kepada Tuhan, menunjukkan bahwa doa adalah jembatan antara penderitaan dan TUHAN (Yahweh), jembatan ini bukan untuk memecahkan pemikiran teologis, tetapi untuk menghubungkan umat manusia yang diungkapkan dalam ratapan kepada Tuhan yang kekal.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.