「Damai! Nyatanya tidak ada damai!」
Oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙)
Alliance Bible Seminary H.K.
(Yehezkiel 13:10-16 [ITB])
10 「Oleh karena, ya sungguh karena mereka menyesatkan umat-Ku dengan mengatakan: 『Damai sejahtera!』, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera, mereka itu mendirikan tembok dan lihat, mereka mengapurnya, 11 katakanlah kepada mereka yang mengapur tembok itu: Hujan lebat akan membanjir, rambun akan jatuh dan angin tofan akan bertiup! 12 Kalau tembok itu sudah runtuh, apakah orang tidak akan berkata kepadamu: 『Di mana sekarang kapur, yang kamu oleskan itu?』」
13 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: 「Di dalam amarah-Ku Aku akan membuat angin tofan bertiup dan di dalam murka-Ku hujan lebat akan membanjir, dan di dalam amarah-Ku rambun yang membinasakan akan jatuh. 14 Dan Aku akan meruntuhkan tembok yang kamu kapur itu dan merobohkannya ke tanah, supaya dasarnya menjadi kelihatan; tembok kota itu akan runtuh dan kamu akan tewas di dalamnya. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. 15 Begitulah Aku akan melampiaskan amarah-Ku atas tembok itu dan kepada mereka yang mengapurnya dan Aku akan berkata kepadamu: 『Lenyap temboknya dan lenyap orang-orang yang mengapurnya,』 16 yaitu nabi-nabi Israel yang bernubuat tentang Yerusalem dan melihat baginya suatu penglihatan mengenai damai sejahtera, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera, demikianlah firman Tuhan ALLAH.」
KBBI: rambun adalah hujan es dalam butiran kecil-kecil
Yehezkiel melanjutkan mengkritik nabi palsu, paragraf ini (Yeh. 13:10-16) dimulai dengan kata 「damai sejahtera」 (šālôm), juga diakhiri dengan kata 「damai sejahtera」 (šālom), menjadi awal akhir yang berkorespondensi, menjelaskan para nabi palsu menyampaikan berita 「damai sejahtera」 tetapi sebenarnya tidak ada damai sejahtera.
Menghadapi pemberitaan dari nabi-nabi palsu tentang 「damai sejahtera」, Yehezkiel memakai metafora pembangunan dinding untuk menggambarkan kemunafikan mereka. Cara yang ideal dan tepat untuk membangun dinding adalah saat pembangunan dinding harus memperhatikan apakah ada bagian retak-retak dan tempat-tempat yang tidak rata, kemudian diolesi dengan kapur yang sudah direndam agar bisa meresap sehingga retak-retak dapat ditutupi sepenuhnya, tetapi kelompok nabi-nabi palsu ini seperti pekerja yang jahat, mereka mengoleskan kapur yang tidak direndam, secara permukaan tidak ada perbedaan dengan dinding yang kokoh, tetapi sebenarnya itu adalah pekerjaan yang korup, sampai ketika masalah datang, dinding yang tampaknya kokoh ini akan segera runtuh. Yehezkiel menggunakan metafora ini untuk menggambarkan 「damai sejahtera」 yang dioles kapur hiasan yang sering diucapkan mulut para nabi palsu, tidak ada kesetiaan untuk memeriksa krisis moral Yerusalem, tidak memperbaiki lubang kerusakan, hanya hiasan permukaan agar terlihat bagus di mata saja.
Namun, ayat 13-15 mencatat penghakiman TUHAN pada nabi-nabi palsu dan pekerjaan mereka, Allah akan melampiaskan amarah-Nya atas damai sejahtera palsu ini dan nabi-nabi palsu, akan membuat angin topan dan hujan badai untuk memukul dinding itu (ayat 13), sehingga dinding itu akan diratakan sampai tanah dan kelihatan fondasinya (ayat 14), sehingga tembok yang dikapur dan orang yang mengapurnya (nabi palsu ) segera lenyap (ayat 15). Ini juga merupakan metafora, menunjukkan bahwa Allah akan mengungkapkan semua perbuatan jahat orang-orang munafik ini, dan semua orang akan mengetahui bagaimana munafik dan jahatnya mereka, dan segala sesuatu yang mereka lakukan harus akan menjadi hampa, yang berarti bahwa mereka bekerja untuk kesia-siaan, tidak ada hal nyata yang tertinggal. Oleh karena itu, damai sejahtera yang dikatakan para nabi palsu itu adalah damai sejahtera palsu. Keadaan yang sebenarnya: sama sekali tidak ada damai sejahtera, dan penyebab tidak ada damai sejahtera justru adalah para nabi palsu yang sering memberitakan damai sejahtera palsu.
Renungkan:
Kebajikan manusia, apakah berani setia kepada hati nurani dan kebenaran. Kita semua hidup di era kebenaran palsu, karena semakin banyak orang-orang yang menyukai damai sejahtera yang dikapur, demi ketenaran diri, status dan uang, namun menjual hati nurani mereka, siapa tahu juga memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin agama yang saleh di permukaan? Demi memberitakan 「damai sejahtera」 yang demikian, mereka bersedia mengesampingkan garis batas moral dan prinsip, berpartisipasi dalam pekerjaan kehampaan, dalam kemunafikan dan kepalsuan tidak memberitakan kebenaran, malah menjadi musuh kebenaran, tidak mampu membedakan hitam dan putih. Mari kita merenungkan kehidupan kita, apakah terdapat hal-hal seperti itu?
Renungan pemahaman Kitab Yehezkiel
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yehezkiel 12-20 ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (高銘謙) dipublikasi pada bulan Oktober 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.