Tag Archives: Gunung Allah

Yesaya 65:21-25

「Kedamaian; Menikmati Langit Bumi yang Baru」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Yesaya 65:21-25 [ITB])
21 Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. 22 Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya; sebab umur umat-Ku akan sepanjang umur pohon, dan orang-orang pilihan-Ku akan menikmati pekerjaan tangan mereka. 23 Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma dan tidak akan melahirkan anak yang akan mati mendadak, sebab mereka itu keturunan orang-orang yang diberkati TUHAN, dan anak cucu mereka ada beserta mereka. 24 Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya. 25 Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus, firman TUHAN.

Orang-orang yang berbeda dapat hidup berdampingan

Hari ini kita melanjutkan tema langit yang baru dan bumi yang baru dalam Yesaya pasal 65 (ayat 21-25).

Berkat dari langit dan bumi yang baru kebanyakan datang secara berkesinambungan, kemarin kita memahami bahwa tindakan Allah terus tiada henti menciptakan menjadi penyebab sukacita umat Allah. Hari ini kita juga melihat bahwa berkat yang berkesinambungan akan memutarbalikkan pikiran kita yang mengira berkat adalah bersifat statis.

Pertama-tama, berkat di langit dan bumi yang baru bukanlah tidak melibatkan pekerjaan, manusia diciptakan harus bekerja, sampai pada hari itu, umat Allah akan membangun rumah dan menanam kebun anggur (ayat 21), jadi berkat itu bukan tanpa kerja, berkat itu adalah setelah umat Allah bekerja, Allah memastikan bahwa orang dapat menikmati buah dari kerja keras mereka (ayat 21), dan tidak ada yang bisa mengambil hasil orang lain dengan cara menindas orang lain (ayat 22). Dengan cara ini, berkat langit dan bumi yang baru adalah jaminan antara kerja dan hasil, dan jaminan ini bersifat terus menerus, memastikan bahwa tidak ada orang yang dengan cara buruk mendapatkan hasil kerja orang lain. Selain itu, karena umur manusia adalah kekal, maka orang pasti memiliki kesempatan untuk menikmati hasil yang diperoleh dari pekerjaan mereka, dan tidak akan karena kematian sehingga menyerahkan hasilnya kepada orang lain (ayat 22-23). Ayat 24 menyatakan: TUHAN pasti menjawab apa yang dimohon oleh orang-orang, dan bahkan sampai tahap di mana mereka mendapat jawaban sebelum mereka memanggil (memohon), ini karena di masa lalu orang harus berdoa kepada Allah agar hujan turun untuk memastikan panen yang baik, tetapi Allah tahu semua tentang umat Allah, menyediakan semua kebutuhan. Karena itu, berkat sejati adalah penyertaan kehadiran Allah.

Berkat lain di langit dan bumi yang baru adalah kedamaian. Ada banyak binatang buas yang dicatat dalam ayat 25, yang karena transformasi langit dan bumi sekarang menjadi jinak dan tidak agresif. Ini adalah metafora bahwa sifat manusia itu jahat dan saling membenci, sekarang orang-orang yang berbeda dapat hidup berdampingan secara damai di gunung kudus. Poin kuncinya adalah gunung kudus, gunung kudus adalah gunung Tuhan, itu adalah tempat yang kudus, dan juga di mana penyertaan Tuhan berada, di dalam kehadiran Allah maka semua makhluk hidup memiliki posisi sendiri dan tidak akan melukai orang atau membuat masalah, karena keadilan dan kebenaran datang maka tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, semua orang mendapatkan kedamaian sejati.

Renungkan:
Apakah ini berkat yang kita dambakan? Kita sering mendefinisikan isi berkat dengan pandangan sekuler. Kita berpikir bahwa uang, status, derajat, dan kekuasaan adalah berkat, tetapi berkat sejati adalah berada di hadirat Allah, menikmati berkat dalam kerja, dan di dalam relasi antar orang yang berbeda dan beragam terdapat dasar untuk kedamaian; berkat sejati bukanlah kegagalan pihak lain dan kesuksesan diri saya, berkat sejati adalah hidup bersama secara damai, tidak bersaing, tidak ada kesombongan (aku lebih daripada engkau), tidak membanding-bandingkan, yang ada rendah hati dan patuh hidup dalam anugerah Allah. Apakah kita menjalani kehidupan kita dengan nilai-nilai langit dan bumi baru ini?


Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain

Renungan pemahaman Kitab Yesaya (1-55)

Renungan pemahaman Kitab Yesaya 56-66


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 56-66 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Mei 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 2:1-5

「Menjulang Tinggi Melampaui Segala Bukit-bukit」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yes. 2:1-5 [ITB])
1Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.
2Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, 3dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: 「Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.」
4Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
5Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!

Kitab Yesaya pasal 2 sampai pasal 4 paling utama berbicara tentang 「yang kelak」 dan 「yang sekarang」 dituliskan saling bergantian, seluruh perikop dari 「hal ideal kelak」 (Yes. 2:1-5) beralih menjadi 「kenyataan sekarang」 (Yes. 2:6-4:1), lalu beralih lagi menjadi 「ideal kelak」 (Yes. 4:2-6), ini adalah sebuah penulisan dengan struktur roti sandwich. Keadaan yang 「kelak」 paling utama menjelaskan di hari akhir Allah membawakan penghakiman dan keselamatan kepada Sion, ini adalah janji dari kitab Yesaya yang diberikan kepada orang yang bertahan di dalam kenyataan dunia, bagi orang yang tertindas, hari itu adalah hari keselamatan, bagi para penindas orang lain orang, ini adalah hari penghakiman, oleh karena itu penghakiman dan keselamatan di dalam gambaran masa akhir dilihat sebagai sebuah koin dua sisi. Secara keseluruhan yang paling utama adalah menjelaskan: umat Israel yang sombong dan puas diri, bisa menjadi saksi bagi Allah Yang Mahakuat, bahwa saat ia dihukum oleh Allah sampai sebuah keadaan yang sangat lemah, barulah melihat bahwa dirinya sendiri tidak dapat diandalkan, barulah dapat melihat keadilan Allah dan kasih kemurahan Allah, juga kehidupan sesungguhnya yang patut dimiliki barulah dapat dipulihkan.

Yes. 2:2-5 menggambarkan 「hari akhir」 (ayat 2), hari ini memiliki tiga ciri khusus: (1) gunung tempat bait TUHAN adalah gunung yang paling tinggi di seluruh dunia; (2) bangsa-bangsa datang berziarah ke gunung ini (Yes. 45:14-23; 60:1-18; 61:5-7); (3) ini adalah sebuah pengharapan masa kelak. Terkait konsep 「gunung tempat bait TUHAN adalah gunung yang paling tinggi di seluruh dunia」 yang digambarkan oleh kata 「paling tinggi」 adalah menunjuk keadaan paling tinggi secara teologis (tidak pasti berarti 「paling tinggi」secara geografis), ini mewakili bahwa gunung tersebut lebih mampu tersambung dengan tempat maha kudus di Sorga (tempat TUHAN tinggal berdiam), membawakan makna teologis bahwa langit dan bumi saling terhubung, agar doa yang dipersembahkan di bait Suci di atas bumi dapat mencapai Sorga, juga agar berkat kebahagiaan dan pengampunan dari Sorga mencapai bumi, dengan demikian, saat perikop menggambarkan segala suku bangsa semuanya akan berduyun-duyun datang ke gunung ini di hari akhir, maka sama dengan menjelaskan bahwa segala suku bangsa semua akan tersambung dengan Allah di Sorga.

Ayat 3 adalah sebuah seruan, jikalaupun orang Yahudi sendiri tidak datang ke gunung Allah belajar jalan dan pengajaran Allah, orang bangsa asing yang lain juga akan datang belajar, maka yang paling penting adalah 「datang」. Juga memandang Sion sebagai tempat Allah menyatakan Firman pengajaran-Nya sendiri. Di sini, gunung Sion membawakan satu kesatuan pemerintah bagi segala suku bangsa, prinsip acuan memutuskan benar dan salah semuanya berdasarkan hukum Taurat TUHAN, dendam permusuhan dan peperangan antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lain juga telah tidak ada semua, karena mereka hendak menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Negara ini tidak mengangkat pedang menyerang negara itu; mereka juga tidak lagi belajar siasat perang (ayat 4). Oleh karena itu, kondisi akhir zaman adalah kondisi kedamaian dan keadilan, juga adalah kondisi tersambung dengan Allah di Sorga.

Renungkan: hari masa akhir adalah hari kedamaian dan keadilan dinyatakan, juga adalah hari pengharapan bersama umat Israel, di satu sisi, hari ini adalah hari penghakiman, karena Allah akan memakai hukum Tarurat-Nya sebagai prinsip acuan memutuskan benar dan salah. Di sisi lain, hari ini adalah hari keselamatan, segala suku bangsa semua pasti akan mendapatkan pelepasan atau keselamatan dari peperangan dan dendam permusuhan, dan yang menggantikannya adalah kedamaian. Dengan demikian, hari akhir selain merupakan hari penghakiman juga adalah hari keselamatan, pengharapan semacam ini menjadi arah kehidupan orang percaya sepanjang umur, karena ayat 5 sedang berseru kepada umat Israel hendaknya berjalan di dalam terang TUHAN, ini artinya jikalau terdapat ketegangan kontradiksi antara kenyataan di depan mata dengan pengharapan akhir zaman, juga tidak bersedia berkompromi dengan dunia yang gelap, giat berusaha menjaga agar diri sendiri berjalan di dalam terang. Apakah engkau bersedia?