Tag Archives: Surat Galatia

Galatia 2:20

「Deklarasi Transformasi Kehidupan」
Panggilan dan Pembaruan Hidup


Oleh Rev. Dr. Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯)
Alliance Bible Seminary H.K.


(Galatia 2:20 [ITB])
20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.


Renungan pemahaman Penggilan dan Pembaruan 2026

Renungan Topikal Ěr Dào

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 「Panggilan dan Pembaruan」 ditulis oleh Dennis Kiang Lok-man (姜樂雯) yang dipublikasikan pada bulan April 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Galatia 6:14

「Hanya membanggakan salib Tuhan: pemutusan hubungan dengan sistem nilai dunia」

Oleh Rev. Jimmy Chan (陳偉明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Galatia 6:14 [TB])
14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

Dalam Galatia 6:14, Paulus meletakkan nilai diri sebagai murid Yesus di atas salib: Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, … Pernyataan ini muncul dalam Ringkasan dan Kontras di akhir surat: guru-guru palsu bermegah dengan tanda-tanda lahiriah dan persetujuan manusia (6:12-13), sementara Paulus membongkar semua panggung pembenaran diri, hanya menyisakan salib. Yesus memanggil murid-murid-Nya dalam Injil untuk memikul salib mereka dan mengikuti Dia, dan Paulus menanggapi lebih lanjut menyatakan bahwa dirinya—Paulus, yang dibentuk oleh nilai-nilai duniawi—telah disalibkan, mati, dan tidak lagi memiliki pengaruh apa pun atas Paulus.

Wawasan Teologi – John RW Stott (1921–2011)
Stott menunjukkan bahwa di sini penggunaan kata bermegah (καυχᾶσθαι kauchasthai) tidak hanya diartikan sebagai pamer, tetapi lebih sebagai menjadikan sesuatu sebagai pusat kehidupan seseorang—bangga, menjadi sandaran, bersukacita, mabuk kepayang, hidup demi hal tersebut. Singkatnya, kemuliaan kita adalah obsesi kita. (to glory in, trust in, rejoice in, revel in, live for… In a word, our ‘glory’ is our obsession) Oleh karena itu, salib bukanlah materi pengantar Injil, melainkan identitas inti kehidupan seorang percaya. Paulus lebih lanjut menyatakan, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia (6:14b). Ini bukan melarikan diri dari dunia, tetapi memutuskan hubungan dengan sistem nilai yang tidak menganggap Allah sebagai Allah: ketenaran, harga diri, kekuasaan, dan keamanan konsumerisme bukan lagi hal yang saya banggakan. Stott mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun dalam sejarah atau di alam semesta yang seperti salib membawa manusia pada ukuran yang sebenarnya; di sanalah, di kaki salib, kita menyusut ke ukuran kita yang sebenarnya (Nothing in history or in the universe cuts us down to size like the cross … It is there, at the foot of the cross, that we shrink to our true size).

Namun, salib bukan hanya dasar pengampunan, tetapi juga jalan. Markus 8:34-35 secara ringkas menyatakan esensi pemuridan: … Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Ayat ini mengikuti pengakuan Petrus (8:29) dan nubuat pertama atas penyaliban Yesus (8:31-33). Dengan kata lain, mengikuti bukanlah pilihan lanjutan yang ditambahkan pada iman, tetapi panggilan yang didefinisikan oleh identitas kita pada saat kita mengakui Yesus sebagai Kristus dan detik menerima Dia lalu berjalan menuju salib. Stott berpendapat bahwa salib secara bersamaan memanggil kita untuk menyangkal diri dan menegaskan kembali diri kita dalam identitas kita sebagai makhluk ciptaan: diciptakan menurut gambar Allah dan membutuhkan penebusan karena kejatuhan. Ia tidak ingin kita terjerumus ke dalam jurang kebencian diri, melainkan menunjukkan bahwa salib menuntun kita dari cinta diri yang narsis dan penyiksaan diri religius menuju jalan yang lebih otentik.

Dalam kata pengantar 《Makna Sejati Salib》, Stott meringkas kehidupan di bawah salib ini dalam satu kalimat: itu mentransformasikan segalanya, membawa hubungan penyembahan yang baru, pemahaman diri yang baru, motivasi yang baru untuk mengabarkan Injil, dan bahkan kasih yang baru kepada musuh kita. Ini sangat menyentuh bagi gereja saat ini: di zaman di mana perpecahan dan konflik mudah meningkat, kita bisa sangat pandai apologetika (membela dan menegakkan pengajaran), sangat saleh, dan sangat mahir dalam berpihak dan mengambil posisi, tetapi kita belum tentu lebih seperti Kristus di kayu salib. Etika salib bukan untuk menjatuhkan orang, tetapi justru meruntuhkan kesombongan kita; itu tidak membuat kita dingin acuh tak acuh, tetapi memberdayakan kita untuk mengasihi yang tidak dapat dikasihi dan untuk mempraktikkan belas kasihan dalam kebenaran. Akhirnya, kata-kata Stott yang hampir seperti pengakuan berfungsi sebagai kesimpulan yang tepat untuk diskusi hari ini: Saya tidak akan pernah oleh diri sendiri percaya kepada Tuhan, jika bukan karena salib … Di dunia nyata yang penuh penderitaan, bagaimana seseorang dapat menyembah Tuhan yang kebal terhadap penderitaan? (I could never myself believe in God, if it were not for the cross… In the real world of pain, how could one worship a God who was immune to it?) Salib memungkinkan kita untuk menyembah bahkan dalam penderitaan yang nyata karena Tuhan yang kita percayai bukanlah penonton; Dan ketika kita memikul salib kita dan mengikuti Dia, kita juga memberi kesaksian: Aku tidak membanggakan hidup yang dapat kukendalikan, tetapi Tuhan yang telah memberikan hidup-Nya untukku dan memanggilku untuk memberikan diriku sendiri.

Refleksi:
1. Stott berkata, Kemuliaan kita adalah obsesi kita. Hari ini apa kebanggaan yang paling menyita perhatian, waktu, dan energi emosional Anda? Bagaimana hal itu bertentangan dengan aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus?

2. Dalam hubungan Anda yang paling sulit atau konflik yang paling intens, langkah salib spesifik apa yang mengharuskan Anda untuk menyangkal diri? Pada saat yang sama, bagaimana salib memungkinkan Anda untuk mendapatkan kembali jati diri sejati Anda di hadapan Tuhan?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Jimmy Chan Wai-ming (陳偉明) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


18 Februari – KAMIS SETELAH RABU ABU: Hidup sejalan dengan Injil

Oleh
Dr Ernest Chew
Advisory Elder, Bethesda (Frankel Estate) Church
Vice-President, The Bible Society of Singapore

Penerjemah: Team WMC

Galatia 2:11-21

11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. 13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.
14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” 15 Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. 16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat. 17 Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak. 18 Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. 19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;
20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Renungan
1. Konteks orang Galatia: Injil kasih karunia dan kebenaran
Kemuliaan Yesus Kristus, kesaksian Yohanes, “penuh dengan kasih karunia dan kebenaran ” (Yoh 1:14). Hal ini diungkapkan kepada Saul dari Tarsus saat Yesus menampakkan diri kepadanya dalam perjalanannya ke Damaskus (“Kristofani”) dan hidupnya dibentuk oleh kematian penebusan sang Mesias (“Penyaliban”). Saul orang Farisi dan penganiaya menjadi rasul Paulus, dan dia tidak pernah berhenti mengagumi kasih karunia dan belas kasihan Allah kepadanya sebagai orang berdosa yang ‘paling utama’ (1 Kor 15: 3-10; 1 Tim 1: 12-17). Dia juga dipanggil untuk mewartakan Kristus, dan membela kebenaran Injil-Nya, dalam misi dan tulisannya.
Ini adalah tujuan dari Surat Paulus kepada jemaat di Galatia, di mana dia menjalin sejarahnya dirinya sendiri dengan wahyu Allah dalam Kitab Suci tentang kebenaran yang benar, untuk melawan ajaran palsu Yudaisme di gereja-gereja Galatia yang memaksakan Hukum dan sunat bagi orang-orang non-Yahudi yang bertobat.
Paulus membela keaslian pewartaan Injil dan kerasulannya dengan merujuk pada wahyu Allah kepadanya, dan penerimaan oleh “pilar” gereja Yerusalem (Yakobus, Petrus dan Yohanes) atas mandat kerasulannya, pengabarannya, dan misinya kepada orang yang bukan Yahudi. Mereka memberinya “tangan kanan persekutuan” dan setuju bahwa dia akan menjadi rasul bagi orang yang bukan Yahudi sama seperti Petrus bagi orang Yahudi. Mereka tidak bersikeras bahwa orang non-Yahudi yang bertobat seperti Titus perlu disunat (Gal 1:11 – 2:10).

2. Gereja di Antiokhia: Pelayanan Barnabas dan Paulus
Gereja di Antiokhia Syria, kosmopolitan dan multi-budaya, telah dikonsolidasikan oleh pelayanan Barnabas, yang diutus oleh para pemimpin Yerusalem, dan oleh Paulus yang merekrut Barnabas untuk mengajar gereja yang sedang bertumbuh. Pengabdian mereka kepada Kristus, Mesias Yesus, menyebabkan para murid di sana dijuluki “Kristen”! (Kisah 11:19-26).
Adalah gereja Antiokhia yang menugaskan Barnabas dan Paulus untuk perjalanan misionaris pertama mereka, dan di mana mereka kembali (Kis 13:1-3 dan 14:26-28).
Bertahun-tahun sebelumnya, Petrus menerima penglihatan yang membawanya ke rumah perwira Romawi Kornelius di Kaisarea. Di sana ia mengumumkan bahwa “Allah tidak memihak” dalam menerima dan menyelamatkan orang non-Yahudi oleh kasih karunia melalui iman di dalam Kristus, yang atas nama-Nya ia membaptis Kornelius dan seisi rumahnya (Kis 10: 34-47).
Dia kemudian membela tindakannya dalam pertemuan dan makan bersama orang non-Yahudi terhadap kritik dari “pesta sunat” di Yerusalem, di mana dia menggambarkan bagaimana Allah menuntunnya untuk membuka pintu keselamatan bagi orang non-Yahudi. Rekan-rekan pemimpinnya memuji Allah karena memberikan “pertobatan yang membawa pada kehidupan kepada orang non-Yahudi” (Kis. 11: 1-18).

3. Bentrokan para Rasul: Paulus Menghadapi Kefas.
Setelah Barnabas dan Paulus kembali dari perjalanan misionaris mereka, termasuk Galatia, Kefas (Petrus) mengunjungi Antiokhia. Pada mulanya dia menghadiri perjamuan meja dengan orang Kristen non-Yahudi. Namun, ketika “orang-orang tertentu datang dari Yakobus” di Yerusalem, dia memisahkan dirinya dari orang percaya non-Yahudi, dan teladannya diikuti oleh orang percaya Yahudi lainnya. “Bahkan Barnabas”, tambah Paulus dengan kesedihan, “disesatkan oleh kemunafikan mereka” (Gal 2:11-13).
Dalam menggambarkan hubungannya dengan para pemimpin Yerusalem, Paulus menggunakan ungkapan yang sama yang diucapkan Petrus di Kaisarea, “Allah tidak menunjukkan keberpihakan” (Gal 2: 6). Dia mengajar gereja-gereja di Galatia bahwa “tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada budak ataupun orang merdeka, tidak ada pria dan wanita, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (3:28). Dia mengatakan kepada mereka: “Tidak ada sunat yang dihitung untuk apa pun, atau tidak sunat, tetapi ciptaan baru” (6:15).
Paulus merasa terdorong untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam menghadapi Petrus atas kemunafikan dan tingkah lakunya yang “tidak sejalan dengan kebenaran Injil ” (Gal 2:14). Dia menunjukkan ketidakkonsistenan perilaku Petrus, dan bagaimana mereka bertentangan dengan keyakinan umum mereka tentang Injil (2: 15-18). Memang, mereka akan meniadakan pekerjaan Kristus di kayu salib untuk pembenaran kita dan meniadakan kasih karunia Allah (2:21). Lukas mencatat bagaimana perselisihan ini diselesaikan secara damai oleh para pemimpin di Yerusalem, dan surat edaran mereka kepada gereja-gereja non-Yahudi yang ditanamkan oleh Paulus dan Barnabas (Kisah Para Rasul 15:1-31).
Tidak peduli berapa lama kita menjadi orang Kristen atau pemimpin Kristen, kita harus tetap hidup secara konsisten dengan kebenaran Firman Tuhan dan Injil, serta waspada terhadap kemunafikan, “sandiwara”. Masa Pra Paskah adalah waktu yang tepat untuk memeriksa diri sendiri.

4. Inti dari masalah ini: “disalibkan bersama dengan Kristus”
Paulus tidak mencoba untuk mencetak poin melawan Petrus. Perhatian terbesarnya adalah untuk menunjukkan bahwa kematian Kristus bagi orang-orang berdosa berarti bahwa mereka yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari belenggu dosa (dan Hukum sebagai sarana untuk menjadi benar dengan Allah), serta bersatu dalam persekutuan dan kesaksian yang penuh kasih.
Bagi Paulus, ini bersifat pribadi, seperti yang diungkapkan dalam kesaksiannya tentang apa arti salib Kristus baginya: “Aku telah disalibkan bersama Kristus. namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).
Seperti Paulus, setiap murid harus mengidentifikasi dengan Kristus dalam kematian-Nya, dengan mati bagi dosa agar dapat hidup bagi Tuhan dalam hidup yang baru yang diberikan oleh Roh-Nya. Ini adalah hidup dalam iman, melalui kesetiaan “Anak Allah, yang mencintaiku dan memberikan diri-Nya bagiku”.
Di tempat lain, Paulus menulis tentang implikasi yang lebih luas dari kasih ini: ” Karena kasih Kristus menguasai kita, karena kita telah menyimpulkan bahwa seseorang telah mati untuk semua, oleh karena itu semua telah mati, dan Dia mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5: 14-15),
Kasih yang demikian, buah-buah Roh, menuntun pada pemenuhan hukum Taurat, dan hidup dengan kebebasan dan pelayanan sejati, pada saat kita menyalibkan keinginan egois kita dan “mengikuti langkah Roh” (Gal 5:13-26). Lebih mendekat pada Tuhan hari ini – Dia senang berada di dekat kita!

Doa
“Oh, mengenal kekuatan Kebangkitan hidup-Mu,
Dan mengenal-Mu di dalam penderitaan-Mu,
Menyerupai Engkau, di dalam kematian-Mu, Tuhan-ku,
Jadi hidup bersama-Mu dan tak pernah mati.
Mengenal Engkau, Yesus, tak ada hal yang lebih besar…
Dan aku mengasihi-Mu, Tuhan.”

[Graham Kendrick, “Semua yang pernah kusayangi “]

Tindakan
Renungkan Galatia 2:20 dan latar belakang ceritanya, dan terjemahkan teks ini ke dalam bentuk pemuridan yang setia. Karena umat Kristen bercita-cita menjadi ‘Antiokhia Asia’, renungkan apa yang dapat kita pelajari dari Antiokhia Syria tentang sumber mata air persatuan Kristen dan tanggung jawab misionaris.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2021).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

07 Maret – SABTU MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Menabur kepada Roh Kudus

Oleh
Rev. Dr. Daniel Koh Kah Soon,
Pastor, Barker Road Methodist Church,
Secretary, Methodist Welfare Services
Penerjemah: Team WMC

Galatia 6:1-18

1Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. 5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.
6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.
7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. 12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. 14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.
17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.
18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

Renungan

Saya mencintai surat Paulus kepada jemaat di Galatia. Saya ingat saya menghafal versi King James dari surat dari Paulus ini, tidak lama setelah saya menjadi seorang Kristen. Tentu saja, hampir setiap ayat di dalam pasal keenam dapat dikembangkan menjadi sebuah renungan yang berdiri sendiri, di mana setiap ayat menawarkan pelajaran-pelajaran yang tidak ternilai. Tetapi hal itu tidak dibutuhkan di dalam renungan yang singkat ini.

Apa yang harus saya lakukan adalah untuk melihat kepada ayat-ayat 1, 2, 3, 8 dan 9. Kelima ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa orang-orang Kristen adalah bagian dari sebuah komunitas iman di mana anggota-anggotanya harus dipersatukan di dalam Roh Kudus untuk menyediakan dukungan yang saling menguntungkan dan bekerja di bawah visi yang saling berbagi. Namun karena kelemahan manusiawi kita, terkadang orang-orang Kristen rontok dari persekutuan dan sedihnya lagi banyak yang akan keluar dari gereja.

Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi. Kelima ayat-ayat tadi menawarkan beberapa petunjuk. Salah satu alasan adalah karena “kedapatan melakukan suatu pelanggaran.” Kedapatan melakukan suatu pelanggaran adalah terjebak di dalam dosa. Kemungkinan “tertangkap” atau “terjebak” di dalam dosa menjadi lebih besar jika seorang Kristen menggoda dan bermain mata dengan dunia, mengijinkan unta yang terkenal itu untuk lebih dahulu melongokkan kepalanya di dalam tenda kita, dan sebelum anda mengetahuinya, sang unta masuk mendiami secara seluruhnya, memasukkan pengaruhnya dan pengajaran yang bertentangan dengan pengajaran-pengajaran dari Gereja. Sekali setelah sang unta memasuki tenda, akan menjadi sulit untuk mengeluarkan sang unta dari kehidupan kita.

Seorang Kristen mungkin rentan untuk terjebak oleh dosa ketika dia memiliki sebuah sikap yang buruk. Orang ini adalah seseorang yang berpikir terlalu tinggi tentang dirinya sendiri dan berasumsi bahwa ia superior jika bukan sempurna. Kebenarannya adalah ketika seseorang menaksir terlalu tinggi kemampuannya, selalu ada kemungkinan akan kejatuhan yang keras. Ini yang dilakukan oleh kesombongan. Ini yang diwanti-wanti oleh Paulus, “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.” Di tempat lain di Amsal 16:18 telah mengingatkan kita, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.”

Ayat 9 berbicara kenyataan bahwa kita – termasuk orang-orang Kristen yang saleh – juga mengalami keputusasaan dalam hidup. Terkadang keputusasaan datang dari kata-kata yang tidak ramah yang diutarakan oleh orang-orang yang kita anggap dekat dengan kita. Lebih serius lagi, keputusasaan dapat datang dari kurangnya apresiasi terhadap apa yang kita lakukan. Di saat lain hal itu dimungkinkan dengan sebuah tugas yang kita telah gagal untuk laksanakan. Di dalam masyarakat yang mengutamakan kegagalan dan dampak buruknya seperti Singapura, kekecewaan mungkin dapat dibesar-besarkan.

Kita tidak dapat menghentikan kekecewaan yang dihadapi oleh orang-orang Kristen. Bagi mereka yang telah menemui keputusasaan atau yang menjadi target dipermalukan, adalah mudah untuk menderita di dalam kesunyian atau berjalan menghindar daripada melakukan perbuatan baik yang mana mereka seharusnya lakukan. Dalam reaksi yang ekstrim, seseorang bahkan dapat meninggalkan iman Kristennya.

Dari apa yang sudah kita diskusikan, selalu akan ada orang-orang Kristen yang akan meninggalkan gereja karena mereka tertangkap di dalam dosa. Mereka mungkin jatuh karena kesombongan atau mereka mungkin menyingkir dalam berpartisipasi di dalam pelayanan di gereja karena pengalaman buruk dan kekecewaan.

Obat bagi orang-orang Kristen yang sudah jatuh di dalam dosa adalah bagi mereka yang secara spiritual lebih dewasa untuk menjangkau mereka yang terjatuh di dalam kerendahan hati, mencari di dalam semangat kelemahlembutan untuk memulihkan iman mereka, dan menerima keputusan untuk menanggung beban satu sama lain. Melakukan hal ini adalah sebuah ekspresi dari kasih kekristenan kita. Ia adalah pemenuhan hukum Kristus yang adalah perintah baru yang Yesus berikan kepada para murid-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34)

Penawar supaya tidak kecewa adalah untuk mengambil pandangan yang lebih panjang tentang hidup dan pelayanan. Dalam jangka panjang, bahkan jika tidak ada yang menghargai apa yang kita lakukan; bahkan jika tidak banyak orang yang mendukung pekerjaan yang dipercayakan Allah kepada kita; bahkan jika ada orang-orang yang akan mengejek kita karena pekerjaan baik yang kita lakukan, teguhkanlah hati. Apapun yang kita lakukan, ketika kita mendasarkan dan dibimbing oleh Roh Kudus, kita akan menuai panen, jika kita tidak menyerah.

Doa

“Ampuni kami, oh Tuhan, jika kami telah berpikir terlalu tinggi tentang diri kami. Ajarkan kami kerendahan hati di dalam perjalanan kekristenan kami, selalu bersedia dan siap untuk menjangkau mereka yang telah jatuh ke pinggir dan menyemangati mereka untuk kembali kepada persekutuan gereja di dalam semangat kelemahlembutan. Jika di sisi lain kami telah putus asa dikarenakan kelemahan dan kegagalan manusiawi kami, tolonglah kami untuk melihat ke atas kepadamu untuk semangat dan ketekunan ketika mengerjakan pekerjaan baik yang dibimbing oleh Roh Kudus sehingga Nama-Mu akan dimuliakan. Amen.”

Tindakan

Perhatikan sekeliling di gereja anda. Dapatkan anda mengidentifikasi seseorang yang anda kenal yang sudah tidak datang ke gereja untuk beberapa saat? Apakah ada yang tahu bagaimana keadaan dari anggota yang tidak hadir ini? Apakah ia telah keluar dari gereja seutuhnya? Mengapa tidak menelpon sahabat ini, mengunjunginya dan memberikan semangat bagi kawan tersebut untuk kembali ke gereja. Ketika anda melakukan hal ini, anda mengambil langkah untuk mempraktikkan sebuah gereja di mana anggota-anggotanya memperhatikan dan saling mendukung, sebagaimana diajarkan oleh Paulus.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

02 Maret – SENIN MINGGU PERTAMA PRA-PASKAH. Menjadi Anak-anak Allah di dalam Kristus

Oleh
Rev Dr Maggie Low
Minister, Presbyterian Church in Singapore
Faculty, Trinity Theological College
Penerjemah: Team WMC

Galatia 3:23-4:7

3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
4:1 Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; 2 tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya. 3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. 4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. 5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa !” 7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Renungan
Prinsip-prinsip dasar dari dunia di dalam Galatia 4:2 adalah kepercayaan manusia yang jatuh dalam dosa tentang sebuah masyarakat. Bagi orang-orang di Galatia, diasumsikan bahwa orang-orang Yahudi lebih baik dari para orang-orang non-Yahudi, bahwa orang-orang bebas lebih baik dari pada para budak, bahwa pria lebih baik daripada wanita. Hari ini, prinsip-prinsip ini seperti rasisme, elitisme dan seksisme, masih mencekik masyarakat kita.

Di dalam konteks lokal kita, kita mengukur orang lain dan diri kita sendiri dengan penilaian dari sekolah kita, IPK kita, gelar-gelar, pencapaian-pencapaian kita (atau pencapaian-pencapaian anak-anak kita), pekerjaan-pekerjaan kita, mobil, kode pos. Jika kita berhasil, kita menggelembung dengan kesombongan, dan jika tidak, kita menjadi depresi. Sementara itu, kita dengan stres berjuang untuk bertahan hidup.

Kabar baiknya adalah bahwa Kristus telah memerdekakan kita dengan membuat kita menjadi anak-anak Allah – bukan hanya sebagai sebuah prinsip mental di dalam kepala-kepala kita, tetapi sebagai sebuah pengalaman pribadi di dalam hati kita, sehingga kita bisa berteriak, “Abba! Bapa!” Ini adalah bagaimana Yesus memanggil Bapa di dalam bahasa Aramaik, sebuah bahasa yang tidak lazim bagi orang-orang non-Yahudi di Galatia yang berbicara bahasa Yunani, tetapi yang memungkinkan kita untuk membagikan keintiman yang sama seperti yang dimiliki Yesus dengan sang Bapa.
Seorang wanita muda pernah diberitahu oleh ayahnya bahwa ia tidak pintar, hanya bekerja keras. Hal tersebut mendorongnya untuk belajar lebih keras untuk membuktikan bahwa ayahnya salah. Ketika dia mendapatkan gelar dan mulai mengajar, ayahnya mengulang berkata kepadanya, “Engkau tidak pintar; hanya bekerja keras.” Mungkin ayahnya yang biasanya baik itu berusaha untuk mengatur daya dorong dari putrinya. Tetapi kata-kata itu menghancurkan semangatnya dan membuatnya merasa dia tidak akan pernah menjadi cukup baik. Suatu hari dalam sebuah proses penyembuhan, dia dengan penuh rasa sakit bertanya kepada Allah mengapa ia tidak pintar tetapi hanya bekerja keras. Kemudian ia mendengar Yesus berkata kepadanya di dalam hati: “Aku tidak perlu engkau untuk menjadi pintar atau bekerja keras.” Segera, penjara gelap dari prinsip-prinsip dasar duniawi runtuh dan jatuh. Ia telah melangkah keluar sebagai seorang anak dan ahli waris dari Allah hari itu.

Ayah-ayah duniawi kita mungkin mengasihi kita, tetapi secara tidak sempurna. Ketahuilah bahwa Kristus telah membuatmu menjadi seorang anak Allah supaya engkau dapat hidup merdeka dari semua kritik-kritik duniawi.

Doa
Abba, Bapa, terima kasih bahwa Kristus telah memerdekakan kami dari perbudakan dosa dan penghakiman-penghakiman dunia. Terima kasih karena engkau telah mengadopsi aku menjadi anak-Mu dan ahli waris-Mu. Terima kasih aku tidak perlu menjadi cukup baik di mata dunia, karena aku cukup baik sebagai anak-Mu. Bantulah aku hidup merdeka dan hidup bagi-Mu, sebagaimana aku memiliki karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang Engkau telah anugerahkan kepadaku.

Tindakan
Bertobat bila engkau telah menghakimi atau bertindak kepada yang lain dengan ekspektasi duniawi.
Ampuni dan berdoalah bagi mereka yang telah menghakimimu bahwa Allah juga akan memerdekakan mereka.

Diterjemahkan dari terbitan: Singapore Bible Society (2020).
Untuk Kalangan Kristen

(Iklan yang ada adalah milik WordPress penyedia sarana gratis WEB ini)

Galatia 6:11-18

「Manusia Ciptaan Baru」
Oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) Alliance Bible Seminary H.K.

(Gal. 6:11-18 [ITB])
11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri.
12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah.
14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.
17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.
18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

Apa yang hendak Paulus selesaikan dalam surat ini adalah masalah tentang hukum Taurat dan iman, serta doktrin penting pembenaran oleh karena iman, yang timbul dari persoalan apakah harus mempertahankan pelaksanaan sunat. Paulus menggunakan gambaran anak-anak dan orang dewasa, budak dan tuannya, adalah untuk menjelaskan doktrin pembenaran oleh iman, beserta inti esensi hukum Taurat, adalah saling mengasihi satu sama lain. Paragraf terakhir dari surat ini (6:11-18) adalah rangkuman seluruh diskusi Paulus, dan pada saat yang sama menanggapi kembali pertanyaan tentang apakah mempertahankan sunat atau tidak.

Orang yang meminta sunat terutama didasarkan pada dua alasan, sehingga menuntut orang percaya menerima sunat: Pertama, mereka bermegah menggunakan jumlah orang percaya yang bersunat sebagai kesombongan mereka, karena jumlah orang percaya bersunat dapat menunjukkan kesuksesan mereka, telah mencoba yang terbaik mendorong hal ini (「Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri」 6:12; 「mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah」 6:13). Kedua, mereka takut bahwa orang-orang Yahudi yang mempertahankan sunat akan menganiaya mereka jika orang percaya tidak mau menerima sunat (「supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus」 6:12). Haruskah jumlah orang percaya yang disunatkan menjadi kebanggaan? Jawabannya tentu saja tidak, Paulus menunjukkan bahwa salib yang harus dibanggakan adalah salib Kristus (6:14), karena yang telah dicapai Kristus adalah penebusan besar, dan juga merupakan satu-satunya cara untuk menjadi anak Allah dan menerima kehidupan rohani yang baru. Paulus sangat memandang berharga atas kehidupan baru yang dimilikinya, bagi dirinya, ia memandang apa yang dianggap berharga masa lalu telah lewat (6:14), karena kehidupan baru telah memberinya pandangan baru tentang kehidupan dan nilai-nilai, maka apa yang dipandang berharga sama sekali bukan apakah kita menerima sunat atau tidak, tetapi apakah kita memiliki kehidupan baru secara rohani (「menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya」 6:15).

Renungkan:
Anda telah menerima keselamatan dan menjadi seorang Kristen, apa arti salib Kristus bagi Anda? Apakah kehidupan baru yang telah diciptakan Kristus untuk Anda merupakan hal yang paling berharga bagi Anda? Atau apakah Anda memiliki hal-hal lain yang sama pentingnya atau bahkan lebih penting? Anda telah memiliki kehidupan spiritual baru, dan juga termasuk memiliki nilai-nilai dan pandangan yang baru tentang kehidupan, bagaimana mereka merubah pandangan dan nilai-nilai sebelum Anda percaya kepada Tuhan di masa lalu? Apakah itu perubahan radikal, atau itu perubahan yang boleh ada boleh tidak ada?


Renungan pemahaman Surat Galatia (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Galatia ditulis oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) yang dipublikasi pada bulan April 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Galatia 6:6-10

「Berbagi dalam Kasih」
Oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) Alliance Bible Seminary H.K.

(Gal. 6:6-10 [ITB])
6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.
7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.
9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Dalam teks sebelumnya (6:1-5), Paulus mengajarkan orang-orang percaya untuk mempraktikkan kasih dan melayani satu sama lain, saling bertolong-tolongan menanggung beban satu sama lain. Jika seseorang jatuh dalam kelemahan, orang percaya lainnya akan menerima dirinya dengan hati yang lembut dan penuh perhatian serta membantunya untuk berbalik kembali, selanjutnya dalam perikop ini (6:6-10), Paulus mengajar orang-orang percaya dalam aspek lain untuk saling melayani, yaitu membantu atas kebutuhan orang lain.

Dalam hal membantu kebutuhan orang lain, Paulus pertama-tama mengatakan agar orang percaya membantu kebutuhan materi para penginjil dan guru pengajar rohani. Penginjilan dan pengajaran rohani memenuhi kebutuhan secara rohani kepada orang percaya, dan orang percaya harus belajar berbagi hal-hal baik dengan mereka dalam penyediaan materi (「membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu」 6:6). Lalu, orang percaya tidak hanya belajar menyediakan kebutuhan terbatas pada hal ini, di antara orang percaya terdapat iman yang sama (「kawan-kawan kita seiman」 6:10) ketika ada orang percaya yang membutuhkan, orang percaya tidak boleh berdiam tidak melakukan apa-apa, hendaknya merealisasikan saling mendukung (「kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman」 6:10). Selain itu, orang percaya harus memperluas pihak yang dibantu kepada semua orang, termasuk yang belum percaya, ketika dibutuhkan, orang percaya membantu mereka (「selama masih ada kesempatan bagi kita 」 6:10).

Keinginan daging adalah melawan Roh Kudus (5:17), jadi orang harus mengambil tekad untuk mengikuti Roh Kudus (5:25), termasuk kepemimpinan Roh Kudus kepada orang untuk menyediakan kebutuhan. Kenyataannya, mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan pasti memiliki hidup yang kekal, di satu sisi, kehidupan baru mereka secara hakekatnya akan senang hati bersedia berjalan mengikuti pimpinan Roh Kudus. Di sisi lain, dalam situasi yang berbeda mereka harus mempertahankan hati yang mau belajar untuk mematuhi Roh Kudus, dalam segala hal bersedia mengikuti Roh Kudus. Sebaliknya, yang mengumbar nafsu, yang melakukan apa pun yang mereka inginkan, mereka harus menghadapi hukuman dan konsekuensi masa depan (6:7-8).

Tuhan membuat kita mendapatkan keselamatan, menjadi seorang Kristen, mengalami hidup persekutuan dengan orang percaya lainnya, untuk belajar tumbuh bersama, dan Tuhan telah memberi kita banyak kelimpahan dalam hidup, semua ini sepatutnya berterima kasih kepada Tuhan. Pada saat yang sama kita juga ingin belajar untuk memberkati orang-orang percaya lainnya yang membutuhkannya melalui kecukupan yang diberikan Tuhan kepada kita, ini juga merupakan bagian dari pertumbuhan di dalam kehidupan persekutuan. Percaya bahwa Anda juga pernah mengalami pernyediaan dari Tuhan kepada Anda melalui orang-orang percaya yang berbeda atau bantuan tepat waktu lainnya, demikian pula, dengan cara apa Allah dapat membawa berkat bagi orang lain yang membutuhkan melalui Anda?

Renungkan:
Di masa lalu bagaimana gereja atau persekutuan Anda secara ekonomis mendukung pelayanan penginjilan dan pengajaran? Apakah ada ruang terobosan baru, sehingga pelayanan ini dapat menjadi berkat bagi lebih banyak orang, dan Tuhan makin lebih banyak dimuliakan?


Renungan pemahaman Surat Galatia (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Galatia ditulis oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) yang dipublikasi pada bulan April 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Galatia 6:1-5

「Bertolong-tolonganlah Menanggung Beban」
Oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) Alliance Bible Seminary H.K.

(Gal. 6:1-5 [ITB])
1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. 3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. 5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

Orang percaya menerima keselamatan, menerima kehidupan baru rohani, dan memiliki kualitas karakter hidup yang indah, yaitu buah Roh Kudus (5:22-23), dan orang percaya memiliki kehidupan bersekutu satu sama lain yang lebih baik. Untuk mempertahankan kehidupan bersekutu yang indah, selain menjadi waspada atas masalah-masalah yang menghalangi kehidupan saling bersekutu ini (「janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki」 5:26), yang paling penting adalah belajar dengan kasih melayani satu sama lain (「gunakan kasih saling melayani」 5:13). Dalam perikop berikut (6:1-5), Paulus menunjukkan secara lebih spesifik bagaimana orang percaya mempraktikkan kehidupan saling melayani.

Nafsu daging berlawanan dengan Roh Kudus (5:17), orang-orang percaya harus bersandar pada Allah serta mau menaati bimbingan dan pengajaran Roh Kudus agar tidak akan jatuh dalam dosa dan pencobaan. Namun, jika seseorang jatuh dalam kelemahan dan dosa, lalu bagaimana seharusnya sikap orang yang lain? Orang percaya adalah anak-anak Allah, dan mereka memiliki hubungan spiritual terdekat satu sama lain (maka Paulus mengatakan 「saudara-saudara」 6:1) haruslah saling menopang dan saling mendukung. Mereka yang berjalan mengikuti Roh Kudus (「kamu yang rohani」 6:1) akan mendapatkan kekuatan dan menang mengatasi dosa, tetapi pada saat yang sama, juga dengan hati yang lembut membawa kembali orang yang jatuh (6:1). Orang akan ada saat memiliki batasan dan kelemahan, yang bisa memampukan menang atas pencobaan adalah kekuatan dan penyertaan dari Tuhan. Orang-orang jika dapat memahami ini maka akan melihat diri mereka dengan cara yang benar, tidak akan merasa diri benar sendiri, hebat diri (6:3), bisa berbelas kasih dan bermurah hati menerima yang lemah dan yang jatuh serta membantunya untuk berbalik. Saling mendukung dan membantu orang-orang percaya justru merupakan praktik dari perintah baru 「saling mengasihi」 (Yoh. 13:34; 15:17) yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Maka Paulus mengatakan, 「Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus」 (6:2). Adalah penting bahwa orang percaya membutuhkan bantuan orang lain menopang mereka dalam kelemahan pribadi, tetapi orang percaya tidak dapat secara total hanya mengandalkan orang lain, mereka juga perlu memahami situasi dan akar masalah mereka sendiri. Mereka harus bertekad bergantung pada Tuhan untuk menghadapi kesulitan dan tantangan, maka barulah dapat memiliki pertumbuhan yang lebih baik, dan kelak barulah dapat dengan lebih baik bertemu Tuhan (6:4-5).

Syukur kepada Tuhan karena tidak hanya memberi kita keselamatan yang berharga dan kehidupan baru, Dia juga memberi kita komunitas orang percaya, yaitu gereja, orang-orang percaya tidak sendirian tetapi saling menopang saling mendukung bertumbuh, bersama merealisasikan pengajaran kasih, serta merealisasikan nyata intisari dan kebenaran dari hukum Taurat, melaksanakan apa yang Tuhan Yesus ajarkan secara pribadi kepada para murid (Yoh. 13:34), apakah Anda bersedia bersama 「saudara-saudara」 (6:1) yakni sesama pejalan di jalan yang sama, 「bertolong-tolongan menanggung beban」 (6:2) bersama melintasi jalan surgawi?

Renungkan:
Bagaimanakah kehidupan gerejamu saat ini? Apakah seminggu sekali (hari minggu) bertemu dan menyapa orang lain di gereja, atau menjalin hubungan yang mendalam dengan orang lain dan tumbuh bersama dalam 「bertolong-tolongan menanggung beban」? Jika itu yang pertama, dapatkah Anda menghadiri beberapa pertemuan persekutuan gereja untuk membantu Anda tumbuh lebih baik bersama dengan orang percaya lainnya?


Renungan pemahaman Surat Galatia (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Galatia ditulis oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) yang dipublikasi pada bulan April 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Galatia 5:22-26

「Buah Roh Kudus」
Oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) Alliance Bible Seminary H.K.

(Gal. 5:22-26 [ITB])
22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, 26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Keinginan daging berlawanan dengan Roh Kudus (5:17), pertama-tama Paulus secara khusus menunjukkan hal-hal yang berkaitan langsung dengan keinginan daging (5:19-21), agar orang percaya dapat mencegahnya dengan lebih baik, selanjutnya menunjukkan khusus kualitas kehidupan spiritual yang indah yang dapat dimiliki oleh orang percaya yang mengandalkan Roh Kudus (5:22-23), dengan demikian menasihati orang percaya untuk lebih bersandar pimpinan Roh Kudus dalam hidup mereka (5:25).

Buah Roh Kudus adalah kehidupan rohani yang indah dari orang percaya, Paulus menuliskan 「kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri」 (5:22-23). Faktanya, orang percaya setelah menerima keselamatan, mengalami hidup yang berjalan bersama Tuhan membuat dirinya hidup bahagia (「sukacita」),
hatinya adalah baik (「kebaikan」), dan dia tidak akan pernah suka melakukan kejahatan untuk menyakiti orang lain, karakter hidupnya yang penuh kebaikan akan membuatnya menghadapi orang lain dengan kebaikan, ia akan mencintai dan peduli kepada orang lain (「kasih」), dan akan berusaha menjalin hubungan yang baik serta damai dengan orang lain (「damai sejahtera」), termasuk dengan sikap yang lembut menghadapi orang lain (「kelemahlembutan」), ia memiliki hati yang lapang dalam menghadapi kekurangan atau kesalahan orang lain (「kesabaran, kemurahan」). Ia setia kepada orang dan dapat dipercaya (「kesetiaan」). Dan dapat mengendalikan keinginan pribadi (「penguasaan diri」).

Nafsu daging berlawanan dengan Roh Kudus (5:17). Di satu sisi, orang setelah percaya kepada Tuhan Yesus harus dengan sebaik mungkin menggunakan karakteristik kehidupan rohaninya (buah Roh Kudus) untuk membangun kehidupan orang lain, dan di sisi lain, selalu hati-hati berjaga terhadap masalah keinginan daging. Orang-orang percaya menerima keselamatan karena menerima Tuhan Yesus dengan iman, seperti yang dikatakan oleh Paulus, 「Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya」 (5:24), kehidupan lama orang percaya telah berlalu (Ef. 4:22). Ia memiliki kehidupan baru rohani yang tidak suka dosa dan tidak suka kejahatan, tetapi orang percaya di dalam masyarakat masih menghadapi berbagai dosa dan godaan, sehingga orang percaya harus mengandalkan Roh Kudus, meneguhkan tekad menolak dosa dan pencobaan, mengikuti bimbingan Roh Kudus (5:25) untuk menjalani kehidupan Kristus yang indah.

Bersyukur kepada Tuhan karena memberi kita buah Roh Kudus, yang adalah untuk memberi kita kehidupan yang indah untuk memuliakan dan bersaksi bagi Allah. Pada saat yang sama, kita harus membantu dan membangun orang-orang di sekitar kita, maka orang percaya dapat hidup 「mengasihi sesama seperti diri sendiri」 (5:14), kehidupan relasi antar pribadi yang saling melayani satu sama lain (「layanilah seorang akan yang lain oleh kasih」 5:13). Kenyataannya, sebagian besar buah Roh Kudus yang didaftar oleh Paulus berhubungan dengan kehidupan relasi antar pribadi, maka di akhir bagian ini (5:22-26) Paulus pertama-tama mengingatkan orang percaya hendaklah mencegah masalah yang sering terjadi antar pribadi (「janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki」 5:26), maka pada bagian selanjutnya (6:1-2) ia berbicara tentang orang-orang percaya yang saling bertanggung jawab satu sama lain dan yang saling melayani dalam persekutuan hidup bersama.

Renungkan:

Apakah pengajaran 「layanilah seorang akan yang lain dan mengasihi sesama seperti dirimu」 mudah bagi Anda untuk dilaksanakan? Di bagian mana dari kualitas kehidupan spiritual (buah Roh Kudus) yang Anda berharap Tuhan berikan lebih banyak pengalaman dan pembelajaran, sehingga Anda dapat dengan lebih baik menjalankan hidup saling bersekutu dan lebih memuliakan Tuhan?


Renungan pemahaman Surat Galatia (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Galatia ditulis oleh 鄺成中 (Kuàng Chéng Zhōng) yang dipublikasi pada bulan April 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.