Tag Archives: Menghormati Penguasa

Titus 3:1-2

「Menaati Orang yang Berkuasa」

Apa kewajiban orang percaya saat ada diluar gereja?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 3:1-2 [ITB])
1Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.
2Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.

Paulus di pasal dua telah memberikan dorongan kepada orang percaya untuk mendirikan kebajikan dan berbuat kebaikan, juga menjelaskan dasar fondasi teologis kehidupan orang Kristen. Memasuki pasal tiga, Paulus khusus berbicara tentang kehidupan yang berkesaksian dari orang percaya, Titus 3:1-8 menjelaskan kesaksian kehidupan orang percaya saat berada di luar jemaat, Titus 3:9-11 menjelaskan standar kehidupan orang dalam gereja. Struktur Titus 3:1-8 sangat mirip pasal dua, yakni bagian pertama mengajukan keharusan adanya kesaksian yang baik (Titus 3:1-2), kemudian menjelaskan dasar fondasi teologis kehidupan yang berkesaksian (Titus 3:3-8).

Saat Paulus menunjuk Titus agar mengingatkan orang percaya, mungkin mereka sebelumnya sudah pernah menerima pengajaran, sekarang hendak mengulang berita yang terkait. Orang percaya memang benar-benar perlu secara berkala mengulang prinsip-prinsip kehidupan iman. Berbicara tentang kehidupan berkesaksian saat berada di luar jemaat, sangat alami jika terlebih dahulu berbicara tentang sikap terhadap orang-orang yang berkuasa, kemudian secara umum terhadap kelompok orang yang lain.

Paulus memberikan sebuah daftar tentang kehidupan berkesaksian orang Kristen, yang mengkaitkan antara tanggung jawab dan kebajikan:

Poin 1 adalah menaati orang yang dalam posisi dan yang berkuasa. Pasal dua telah berkata agar istri menaati suami (Titus 2:5), hamba hendak menaati tuan (Titus 2:9), sekarang yang harus ditaati orang percaya adalah orang-orang yang berkuasa. Paulus dalam surat Roma 13:1-8 juga telah memberikan pengajaran yang sejenis, orang percaya harus berusaha menjalankan kewajiban sebagai rakyat yang baik.

Poin 2, apakah ketaatan ini adalah menuruti secara absolut? Orang percaya apakah boleh ikut terlibat dalam perlawanan rakyat? Atau tunggu sampai keadaan yang sangat luar bisa seperti yang Petrus katakan: 「Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar」 (Kis. 4:19-20). Jika ada satu hari terjadi seperti yang dituliskan dalam kitab Wahyu (Why. 6:9-11 「… dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki」, Why. 12:11 「… tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut」 dan pasal 13-14), apakah ketaatan orang percaya adalah 「taat absolut」 kepada penguasa? (Siapa yang engkau pilih, penguasa atau Allah?)

Poin 3 adalah bersiap-sedia melakukan berbagai macam perbuatan baik. Orang percaya yang telah disucikan adalah orang yang telah siap berbuat kebaikan (Titus 2:14), bersiap-sedia melaksanakan setiap macam perbuatan baik termasuk melaksanakan kewajiban sebagai rakyat.

Poin 4 adalah jangan memfitnah. Memfitnah adalah berkata yang jahat atau perkataan fitnah, tidak sepatutnya berkata yang demikian terhadap siapapun juga termasuk orang yang memusuhi kita.

Tiga poin yang berikutnya ditujukan bagi relasi antar orang: 「janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang」 (ayat 2).

Poin 5 adalah jangan bertengkar, orang percaya dalam perkataan atau tingkah laku tidak seharusnya ada pertengkaran dengan orang lain. Ini tidak berkata bahwa terhadap segala urusan jangan mengekspresikan pendapat, di sini adalah menunjuk sikap dan hati tidak seharusnya bertengkar dengan orang.

Poin 6 adalah hendaklah selalu ramah. Ini adalah sikap yang memperlakukan orang dengan adil, sabar dan memikirkan orang lain.

Poin 7, paling akhir adalah lemah lembut terhadap semua orang. Poin 7 ini hampir mirip dengan poin 6, tetapi terdapat perbedaannya adalah: orang percaya hendaklah tetap lemah lembut walau dalam keadaan orang tidak bersikap baik atau memusuhi.

Tiga poin paling akhir ini adalah kebajikan yang seharusnya dimiliki orang Kristen, tidak peduli pihak yang ditemui adalah orang beriman atau tidak, kita tetap harus dengan murah hati, lemah lembut dan dengan sopan memperlakukan orang, juga termasuk jika itu adalah guru palsu.

Renungkan: (1) Menghadapi keadaan masyarakat yang tidak sesuai harapan ideal, memohon Tuhan mengaruniakan hikmat bagaimana melaksanakan perintah untuk taat kepada orang-orang yang berkuasa? (2) Pikirkan bagaimana dapat menunjukkan lemah lembut kepada orang lain dalam relasi antar manusia? (3) Apakah saya sudah bersiap-sedia berbuat kebaikan?