Titus 2:7-8

「Berpesan kepada Titus」

Apakah guna pesan rasul Paulus yang terkait diri Titus bagi kita?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:7-8 [ITB])
7dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.

Paulus setelah menasehati empat golongan orang percaya dalam Titus 2:6, ia kemudian meletakkan perhatian pada diri Titus. Dalam Titus 2:7-8 Paulus walaupun seperti tidak meminta Titus mengejar kebajikan apapun, namun memberikan dia nasehat dalam dua aspek: yakni hendak menjadi teladan dan berhati-hati atas pengajaran yang ia sendiri berikan. Paulus menasehati Titus: 「jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik」 (Titus 2:7). Titus hendaknya menjadi teladan bagi orang percaya, seperti pesan Paulus kepada Timotius agar menjadi teladan bagi orang percaya dalam lima aspek 「perkataan, tingkah laku, kasih, iman, kesucian」 (1 Tim. 4:12). Titus hendaklah dalam hal apa menjadi teladan? Yakni dalam perbuatan baik. Namun Paulus tidak menjabarkan apa yang disebut sebagai teladan dalam perbuatan baik. Di sini adalah yang keempat kalinya Paulus dalam surat Titus berbicara tentang topik 「kebaikan」 (Tit. 1:8, 16; 2:3, 7). Terdapat pengajaran yang melimpah tentang「perbuatan baik」dalam Alkitab. Paulus pernah berkata: 「… kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik …」 (Ef. 2:10); Tuhan menambahkan berbagai macam kasih karunia kepada orang percaya, sehingga kita 「berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan」 (2 Kor. 9:8). Perbuatan baik Titus merupakan kesaksian di dalam gereja, menjadi teladan bagi orang percaya.

Poin kedua dari pesan Paulus kepada Titus adalah terkait tugasnya, yakni agar berhati-hati atas pengajaran yang diberikan dirinya. Pengajaran memiliki makna yang melimpah di Perjanjian Baru. Yesus adalah seorang rabi, Ia pergi ke berbagai tempat ibadah mengajarkan umat; Salah satu bagian penting dari Amanat Agung yang Ia berikan yakni hendaknya「ajarlah mereka melakukan」 segala sesuatu yang telah Ia perintahkan kepada kita (Mat. 28:20). Dari antara karunia-karunia yang Tuhan anugerahkan, mengajar adalah salah satu talenta (Rom. 12:7); satu salah permintaan di antara kualifikasi penilik adalah cakap mengajar (1 Tim. 3:2); mengajar adalah salah satu dari 3 tugas penggembalaan (1 Tim. 4:13 「membaca Kitab-kitab Suci, membangun dan mengajar」).

Apa yang Paulus minta dari seorang pengajar adalah kebajikan dalam tindakan dan isi konten ajarannya. Paulus memberikan Titus tiga permintaan: yakni jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dalam pemberitaan, serta tak bercacat. Diantaranya, tak bercacat seharusnya dimiliki penilik (Tit. 1:5, 7). Kehidupan dan sikap pengajar sepatutnya memancarkan kejujuran dan kesungguhan; kejujuran merupakan manifestasi integritas seseorang (dapat dipercaya), dan kesungguhan adalah pancaran dari ketulusan hati. Ini adalah kualitas kehidupan pengajar kebenaran. Sehat dan tidak bercela dalam pemberitaan, yakni tepat benar dan riil (sesuai kebenaran). Pengajar tidak bicara manis, berbunga-bunga namun tidak sesuai kebenaran, atau isinya seperti benar namun sesat, sehingga membuat pemberitaan kebenaran terdistorsi.

Jika pengajar setia mengajarkan orang percaya memahami kebenaran, maka mereka mampu membedakan benar dan salah. Jika motivasi Titus mengajar, tutur kata perbuatan, dan isi ajarannya, semuanya murni, maka para penentang (guru palsu) tidak dapat menyesatkan orang percaya, juga tidak bisa mengembangkan pengaruhnya. Tidak tahu apakah Paulus berharap para guru palsu ini timbul rasa malu sendiri? Saat mereka merasa malu sampai suatu tahap, mungkin ada kesempatan bertobat!

(Demikian juga hendaknya merupakan tuntutan bagi tindakan dan ajaran bagi orang tua, atau seorang pemimpin) Karena pohon yang baik akan berbuah yang baik, demikian juga 「Orang yang baik (keberadaannya) mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik (perbuatannya)」 (Mat. 12:35).

Renungkan: (1) Pikirkan perkataan ini「Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik」 (Mat. 12:35, RCUV); (2) Apakah saya memenuhi tiga permintaan atas pengajar (jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dalam pemberitaan, serta tak bercacat)? Termasuk dalam mengajar anak di rumah. (3) Membantu para pengajar kebenaran gereja untuk berhati-hati atas pengajarannya diri sendiri, karena 「guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat」 (Yakobus 3:1).