Tag Archives: Middlevoice

Efesus 1:4-6a

「Pemilihan di dalam Yesus Kristus」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:4-6a [ITB])
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Ayat 4 dalam terjemahan ITL atau CUV dimulai dengan sebagaimana (καθὼς kathos) atau KJV according as, menunjukkan bahwa konten setelah ayat ini adalah contoh dari berbagai berkat rohani dari Allah di ayat 3. Peran dari contoh-contoh ini, di satu sisi adalah untuk menunjukkan isi dari berkat-berkat rohani, di sisi lain menjelaskan mengapa Allah layak dipuji. Oleh karena itu, dalam terjemahan RCUV atau ITB kata sambung ini sebagai sebab, merupakan pemahaman yang masuk akal.

Alasan pertama untuk menaikkan pujian adalah bahwa Allah telah memilih kita di dalam Kristus. Dalam Perjanjian Baru kata kerja ini hanya muncul dalam bentuk kata kerja pasif atau middle voice (terkait pada diri pelaku sendiri, the subject both performs and receives the action expressed by the verb), menurut penelitian modern atas tata bahasa Yunani, kata-kata yang demikian mungkin memang sudah memiliki makna bahwa tindakan tersebut terkait diri pelaku. Dan dari ayat sebelum dan sesudahnya memberikan petunjuk yang jelas bahwa Allah memilih adalah karena demi kerelaaan kehendak-Nya sendiri (Tambahan penerjemah: bukan karena alasan dari luar diri Allah, misal perbuatan baik orang). Paulus juga lebih jauh menunjukkan bahwa pemilihan ini dilaksanakan sebelum dunia dijadikan, di satu sisi, ia menunjukkan bahwa pemilihan adalah mendahului waktu (sebelum waktu ada), di sisi lain, itu juga menunjukkan bahwa pemilihan ini terlepas dari semua kemungkinan faktor eksternal dan sejarah, lebih jelas bahwa ini adalah hasil dari kedaulatan Allah (sama sekali tidak dipengaruhi unsur apapun).

Pemilihan ini terjadi di dalam Kristus. Kita dapat melihat dari tulisan-tulisan Paulus bahwa frasa ini ia gunakan dalam cakupan yang luas, yang dapat mencakup makna peran perantara, ruang lingkup kejadian, pengakuan identitas dan sebagainya. Di sini, arti dari aspek-aspek ini semuanya dapat terkandung dalam frasa ini: kita dipilih adalah melalui Yesus Kristus dalam peran-Nya sebagai perantara, dan kita juga dipilih dalam ruang lingkup hubungan persatuan dengan Kristus, dan penggenapan pemilihan ini adalah karena kita percaya telah menerima keselamatan-Nya, pengakuan atas identitas Kristus dan menjadi milik Kristus.

Selanjutnya, Alkitab menggunakan klausa infinitif (kata kerja dasar yang belum mengalami perubahan bentuk) untuk menunjukkan tujuan Allah dalam memilih kita supaya kita …, ketika tujuan tindakan Allah dibahas dalam Alkitab, sering kali membawa unsur buah / hasil, karena kehendak Allah pasti tercapai, dan apa yang hendak dicapai dari kehendak Allah ini adalah menjadi kudus dan tak bercacat. Kedua kata ini dalam Perjanjian Lama biasanya digunakan dalam deskripsi persembahan korban, yang menunjukkan bahwa orang yang mempersembahkan korban atau korban itu kudus dan tak bercacat, dapat berkenan kepada Allah. Dalam Perjanjian Baru, frasa ini digunakan untuk menggambarkan Kristus (Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19), atau menunjuk pada gereja yang berdiri di hadapan Allah pada hari-hari terakhir (Efesus 5:27; Yudas 24; Wahyu 14:5), meskipun di sini juga bisa merujuk pada hasil akhir, tetapi lebih cenderung merujuk pada kekudusan yang dikejar orang percaya dalam hidup mereka.

Frasa dalam kasih dianggap sebagai bagian dari ayat 5 dalam terjemahan ITB ataupun Mandarin CUV, dan menjadi penyebab pemilihan dan ketetapan sebelumnya dari Allah. Tetapi karena pemilihan Allah itu sendiri merupakan pemilihan dalam kasih, maka memasukkan frasa ini pada ayat 5 sebenarnya ini tidak diperlukan. Sebaliknya, KJV, Mandarin CNV atau Indonesia IMB atau VMD meletakkan frasa ini di ayat 4, dan juga RCUV (dengan pemahaman yang sedikit berbeda). Mandarin CNV agar kita karena kasih, di hadapan-Nya menjadi kudus, tak bercacat menganggapnya sebagai penjelasan tambahan antara pemilihan Allah dan tujuan-Nya, menunjukkan bahwa Allah menjadikan kita kudus dan tak bercacat di hadapannya karena kasih; sedangkan Mandarin RCUV menganggap frasa ini sebagai bagian dari tujuan agar kita di hadapan-Nya menjadi kudus, tak bercacat, penuh kasih, menunjukkan bahwa Allah tidak hanya ingin menyucikan kita, tetapi juga ingin kita memiliki kasih di antara kita, hal ini tampaknya lebih sejalan dengan tema persatuan di Efesus.

Ayat 5 lebih lanjut menunjukkan bahwa tindakan pemilihan Allah adalah keputusan kehendak, adalah buah hasil dari kehendak-Nya, menentukan dari semula (KJV: predestinated) orang percaya menjadi anak-anak Allah. Kita menjadi anak Allah, bukan sifat natural kelahiran kita, tapi Allah akrena menerima kita sehingga kita mendapatkan bagian menjadi anak Allah (υἱοθεσίαν huiothesia) , kata ini pada dasarnya adalah tindakan hukum, merujuk pada orang yang awalnya bukan anak diangkat sebagai penerima warisan. Oleh karena itu, kita dapat memiliki pengharapan masa depan di dalam Kristus, dan identitas pengharapan ini sekarang telah ditegakkan dengan pasti.

Terakhir, di ayat 6, Paulus sepertinya menggunakan refrain dari sebuah himne pujian untuk memanggil pembaca, berseru kepada kita untuk menaikkan segala pujian kepada Allah karena kemuliaan kasih karunia Allah.

Renungkan:
Sebagai anak-anak Allah, bagaimana kita menanggapi kasih karunia yang telah kita terima?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Titus 2:9-10

「Mengingatkan Hamba」

Pelajaran apa yang dapat kita pelajari dari nasehat Paulus bagi para hamba?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Titus 2:9-10 [ITB])
9Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,
10jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

Titus 2:2-10 adalah pendidikan kebajikan yang Paulus berikan kepada orang percaya dan gereja, dan dengan nasehat kepada hamba sebagai penutup perikop ini (Titus 2:9-10). Apa yang dikatakan sebagai hamba di sini, adalah budak. Perjanjian Baru ada tiga surat (Ef. 6:5-8; Kol. 3:22-25; surat Filemon) yang secara langsung memberikan pengajaran terkait dengan hamba, dan muncul dalam perikop yang terkait dengan standar kehidupan keluarga. Oleh karena, hamba / budak saat itu merupakan anggota bagian dari keluarga orang Kristen dan komunitas. Ada peneliti yang berpendapat, saat itu dalam budaya Yunani Romawi, budak mungkin mencapai separuh dari populasi penduduk. Dalam Kisah para Rasul pernah disebutkan Lidia setelah percaya Tuhan, ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya(Kis. 16:15), ini sangat mungkin juga termasuk budak di dalamnya. Dalam komunitas iman, budak orang Kristen dan istri orang Kristen sama-sama diakui dan dihormati haknya dalam struktur keluarga.

Paulus dalam dua ayat ini, memberikan lima prinsip untuk dijaga oleh yang sebagai hamba. Pertama adalah menaati, yang dituliskan memakai kata kerja bentuk 「middlevoice」(bentuk kata kerja ini terdapat dalam bahasa Yunani, selain kata kerja yang berbentuk aktif dan pasif) yakni kata kerja yang dilaksanakan oleh pelaku pada diri sendiri. Kata mentaatidi ayat 9 ini mempunyai arti: hamba membuat dirinya sendiri taat! Dengan kata lain, budak hendaknya dengan rela hati secara pro-aktif membuat diri sendiri mentaati tuan, bukan pasif juga bukan terpaksa karena tidak ada jalan lain. Sebagai hamba Kristen, setelah mereka menjadi anak-anak Tuhan, dalam pandangan Allah kedudukannya adalah setara dengan tuan, seperti dikatakan dalam Gal. 3:28 tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Walaupun setelah mempunyai kedudukan rohani, mereka tidak mengalami perubahan identitas dalam masyarakat atau posisinya dalam keluarga tuannya. Namun tetap dapat memuliakan Allah lihat ayat 10.

Hal yang kedua adalah dalam segala hal berkenan kepada mereka, yakni agar berkenan kepada tuannya. Sikap macam ini bukanlah yang dibuat-buat, hanya di kulit saja, tetapi adalah memakai hati melaksanakan urusan yang diperintahkan tuannya, melakukannya dengan sempurna. Walaupun urusan ada yang ringan dan berat, namun bagi hamba urusan besar atau kecil semuanya diurus dengan memakai hati bersungguh-sungguh, memenuhi perintah tuannya. Dan yang selanjutnya adalah dalam bentuk larangan. Ketiga adalah, jangan membantah, ini bukan mengatakan agar menurut dengan buta. Tetapi menunjukkan bahwa hamba tidak seharusnya berkata yang memusuhi dengan tuannya, dalam perkataan menunjukkan tidak dihormati, atau dalam sikap memandang rendah tuannya, semuanya adalah tidak patut dilakukan. Keempat adalah jangan curang, yakni tidak boleh mencuri atau semaunya mengambil milik orang (terjemahan CCV). Ini mungkin adalah cobaan yang paling sering dihadapi hamba, yakni tidak jujur saat dipercayai tuannya untuk mengatur uang dan hartanya, menyalahgunakan uang, seperti memakai sebagian untuk kepentingan diri sendiri, dsb. Sebaliknya, untuk menghadapi ke dua larangan tersebut, yang kelima adalah hendaklah selalu tulus dan setia. Arti kesetiaan adalah percaya, karena itu hamba hendaknya dengan kesetiaan merespon kepercayaan tuan terhadap mereka. Hamba hendaklah menunjukkan kesetiaankepada tuan, menyatakan ia adalah jujur, dapat diandalkan dan setia.

Saat hamba terus menjaga lima sikap dan tingkah laku tersebut di atas, ini merupakan satu macam kehidupan yang berkesaksian dalam keluarga tuan dan masyarakat. Memproklamasikan kemampuan Juruselamat merubah kehidupan manusia, Firman kebenaran Tuhan nyata hidup dalam komunitas iman.

Ini tidak hanya bagi yang adalah budak, tetapi juga orang yang berusia tua, yang muda dan diri Titus sendiri, kebajikan kehidupan mereka hendaknya ditegakkan, membuktikan bahwa Firman kebenaran Tuhan dinyatakan, pada akhirnya semua kemuliaan merupakan milik Allah yang menganugerahkan Firman kehidupan! (Ayat 10b, … dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.)

Renungkan: (1) Apa rhema baru yang saya dapatkan atas menaati? (2) Apakah saya perlu introspeksi dan memperbaharui sikap saya terhadap orang yang memiliki kuasa di atas saya (orang tua, atasan, guru, gembala sidang)? (3) Memohon Tuhan menolong saya menyatakan kesetiaan dalam segala yang saya perbuat (studi, pekerjaan, pelayanan).