「Mengingatkan Hamba」
Pelajaran apa yang dapat kita pelajari dari nasehat Paulus bagi para hamba?
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Titus ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Titus 2:9-10 [ITB])
9Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,
10jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.
Titus 2:2-10 adalah pendidikan kebajikan yang Paulus berikan kepada orang percaya dan gereja, dan dengan nasehat kepada hamba sebagai penutup perikop ini (Titus 2:9-10). Apa yang dikatakan sebagai hamba di sini, adalah budak. Perjanjian Baru ada tiga surat (Ef. 6:5-8; Kol. 3:22-25; surat Filemon) yang secara langsung memberikan pengajaran terkait dengan hamba, dan muncul dalam perikop yang terkait dengan standar kehidupan keluarga. Oleh karena, hamba / budak saat itu merupakan anggota bagian dari keluarga orang Kristen dan komunitas. Ada peneliti yang berpendapat, saat itu dalam budaya Yunani Romawi, budak mungkin mencapai separuh dari populasi penduduk. Dalam Kisah para Rasul pernah disebutkan Lidia setelah percaya Tuhan, 「ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya」 (Kis. 16:15), ini sangat mungkin juga termasuk budak di dalamnya. Dalam komunitas iman, budak orang Kristen dan istri orang Kristen sama-sama diakui dan dihormati haknya dalam struktur keluarga.
Paulus dalam dua ayat ini, memberikan lima prinsip untuk dijaga oleh yang sebagai hamba. Pertama adalah 「menaati」, yang dituliskan memakai kata kerja bentuk 「middlevoice」(bentuk kata kerja ini terdapat dalam bahasa Yunani, selain kata kerja yang berbentuk aktif dan pasif) yakni kata kerja yang dilaksanakan oleh pelaku pada diri sendiri. Kata 「mentaati」 di ayat 9 ini mempunyai arti: hamba 「membuat dirinya sendiri taat」! Dengan kata lain, budak hendaknya dengan rela hati secara pro-aktif membuat diri sendiri mentaati tuan, bukan pasif juga bukan terpaksa karena tidak ada jalan lain. Sebagai hamba Kristen, setelah mereka menjadi anak-anak Tuhan, dalam pandangan Allah kedudukannya adalah setara dengan tuan, seperti dikatakan dalam Gal. 3:28 「tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus」. Walaupun setelah mempunyai kedudukan rohani, mereka tidak mengalami perubahan identitas dalam masyarakat atau posisinya dalam keluarga tuannya. Namun tetap dapat memuliakan Allah lihat ayat 10.
Hal yang kedua adalah dalam segala hal 「berkenan kepada mereka」, yakni agar berkenan kepada tuannya. Sikap macam ini bukanlah yang dibuat-buat, hanya di kulit saja, tetapi adalah memakai hati melaksanakan urusan yang diperintahkan tuannya, melakukannya dengan sempurna. Walaupun urusan ada yang ringan dan berat, namun bagi hamba urusan besar atau kecil semuanya diurus dengan memakai hati bersungguh-sungguh, memenuhi perintah tuannya. Dan yang selanjutnya adalah dalam bentuk larangan. Ketiga adalah, 「jangan membantah」, ini bukan mengatakan agar menurut dengan buta. Tetapi menunjukkan bahwa hamba tidak seharusnya berkata yang memusuhi dengan tuannya, dalam perkataan menunjukkan tidak dihormati, atau dalam sikap memandang rendah tuannya, semuanya adalah tidak patut dilakukan. Keempat adalah 「jangan curang」, yakni tidak boleh mencuri atau semaunya mengambil milik orang (terjemahan CCV). Ini mungkin adalah cobaan yang paling sering dihadapi hamba, yakni tidak jujur saat dipercayai tuannya untuk mengatur uang dan hartanya, menyalahgunakan uang, seperti memakai sebagian untuk kepentingan diri sendiri, dsb. Sebaliknya, untuk menghadapi ke dua larangan tersebut, yang kelima adalah hendaklah 「selalu tulus dan setia」. Arti kesetiaan adalah percaya, karena itu hamba hendaknya dengan kesetiaan merespon kepercayaan tuan terhadap mereka. Hamba hendaklah 「menunjukkan kesetiaan」 kepada tuan, menyatakan ia adalah jujur, dapat diandalkan dan setia.
Saat hamba terus menjaga lima sikap dan tingkah laku tersebut di atas, ini merupakan satu macam kehidupan yang berkesaksian dalam keluarga tuan dan masyarakat. Memproklamasikan kemampuan Juruselamat merubah kehidupan manusia, Firman kebenaran Tuhan nyata hidup dalam komunitas iman.
Ini tidak hanya bagi yang adalah budak, tetapi juga orang yang berusia tua, yang muda dan diri Titus sendiri, kebajikan kehidupan mereka hendaknya ditegakkan, membuktikan bahwa Firman kebenaran Tuhan dinyatakan, pada akhirnya semua kemuliaan merupakan milik Allah yang menganugerahkan Firman kehidupan! (Ayat 10b, 「… dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.」)
Renungkan: (1) Apa rhema baru yang saya dapatkan atas 「menaati」? (2) Apakah saya perlu introspeksi dan memperbaharui sikap saya terhadap orang yang memiliki kuasa di atas saya (orang tua, atasan, guru, gembala sidang)? (3) Memohon Tuhan menolong saya menyatakan kesetiaan dalam segala yang saya perbuat (studi, pekerjaan, pelayanan).