Tag Archives: pernikahan beda iman

1 Korintus 7:10-16

Hargailah pasangan Anda yang tidak percaya! Jadilah berkat bagi pasangan dan keluarga Anda!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 7:10-16 [ITB])
10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. 11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. 13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. 14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera. 16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?

【Referensi ayat】
6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
25-26 Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.
9:8 Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian?

Dalam perikop 7:10-16, Paulus pertama-tama mengambil posisi tegas dalam Alkitab untuk orang yang sudah menikah: seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya! Kemudian Paulus dengan hati-hati menawarkan beberapa pandangan atau pendapatnya. Menghadapi masalah etika dan penanganan masalah yang kompleks, apakah orang Kristen pasti memiliki jawaban yang jelas dan mutlak? Menghadapi masalah ini, Paulus adalah seorang gembala yang bijaksana, dalam beberapa prinsip diajarkan dengan jelas oleh Alkitab dan Tuhan Yesus, dia berkata, bukan aku, tetapi Tuhan yang memerintahkan! Tetapi ketika mengemukakan pendapatnya yang bukan mutlak dari Alkitab, dia akan berkata, Aku yang mengatakannya, bukan Tuhan! Aku tidak mendapat perintah dari Tuhan , jadi dia mengemukakan pendapatku. Sikap hati-hati Paulus mengingatkan kita bahwa ketika berhadapan dengan masalah yang tidak ditemukan cara penanganan yang mutlak terdapat dalam Alkitab, maka gembala, pemimpin dan gereja tidak harus selalu mengambil posisi absolut! Tokoh Reformis Calvin memiliki prinsip yang baik: Alkitab berkata, saya katakan! Alkitab berhenti, saya berhenti! Salah satu godaan besar bagi gembala dan para pemimpin adalah untuk menempatkan pendapat mereka di atas seluruh gereja, mengubah pendapat yang tidak mutlak menjadi perintah mutlak atau larangan mutlak! Ini tidak benar! Kita harus berhati-hati dan membatasi diri! Otoritas rohani yang kita miliki, adalah peduli apakah itu sepenuhnya didasarkan pada kebenaran Allah yang lengkap! Tidak dapat dikurangi atau ditambahkan, sepenuhnya mengikuti Alkitab adalah sikap yang tepat untuk menghadapi masalah yang kompleks.

Banyak orang percaya dan cendekiawan bertanya-tanya mengapa Paulus mulai dari sudut pandang seorang istri atau saudari ketika dia berbicara tentang perceraian. Para ahli yang akrab dengan tradisi Yahudi menunjukkan bahwa wanita Yahudi memiliki sedikit otoritas untuk memulai perceraian pada waktu itu. Josephus dalam 《Jewish Antiquities》 mengatakan: Kemudian Salome I (adik perempuan dari Herodes Agung) bertengkar dengan Costobarus, dan dia mengiriminya surat cerai untuk membubarkan pernikahan dengannya, meskipun 『ini tidak sesuai hukum Yahudi』; karena bagi kita, hanya suami yang berhak mengambil inisiatif. Para sarjana mengajukan tiga latar belakang terkait: Pertama, gereja mula-mula menghormati para saudari, dan di gereja Korintus pada waktu itu banyak masalah di antara para saudari, jadi terlebih dahulu berbicara tentang para saudari. Kedua, gereja Korintus memiliki banyak saudari dari latar belakang bukan Yahudi, beberapa di antaranya adalah wanita kaya; di Kekaisaran Romawi, tidak seperti tradisi Yahudi, mereka dapat mengambil inisiatif untuk mengajukan perceraian. Ketiga, perceraian, selibat, memakai kerudung, keteraturan gereja, kebangkitan dan isu-isu lain mungkin terkait dengan konsep Wanita Eskatologis (Eschatological Women) yang populer di gereja Korintus. Paulus pernah mengatakan bahwa tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28, 1 Kor. 12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh). Timbul adanya penafsiran yang salah terhadap prinsip ini, ditambah dengan teori aneh mereka bahwa orang-orang spiritual harus selibat, membentuk diskusi teori aneh di antara saudara perempuan tentang apakah bercerai dengan suami.

Menanggapi teori-teori penyimpangan yang aneh ini, Paulus menunjukkan: Pertama, istri atau suami orang percaya tidak boleh mengambil inisiatif untuk menceraikan pasangannya karena pengejaran spiritual atau posisi tidak masuk akal lainnya. Kedua, jika sudah terlanjur bercerai sebelum Paulus membalas surat ini, ia tidak boleh menikah lagi, kecuali untuk berdamai dengan pasangannya. Ketiga, lembaga pernikahan ditetapkan oleh Allah. Pernikahan dengan orang yang tidak beriman juga merupakan pernikahan. Orang-orang yang beriman tidak dapat berbuat dosa meninggalkan pasangannya. Orang yang sudah menikah, jika separuh lainnya adalah tidak percaya, mereka tidak akan mencemari diri mereka sendiri karena ketidakpercayaan pasangannya, tetapi kita dapat membawa rahmat dan kekudusan ke dalam pernikahan. Kita tidak dapat melukai pasangan dan keluarga kita karena pandangan spiritual yang menyimpang. Kelima, jika pasangan yang tidak percaya menggunakan hak dan mengambil inisiatif untuk mengajukan cerai, kita tidak bisa memaksa, maka biarkanlah dia pergi. Ketika beberapa pasangan yang tidak percaya menjadi tegar dan bersikeras untuk bercerai, kita mencoba yang terbaik untuk menangani mereka dengan damai! Karena itu bukan kesalahan kita, itu tidak akan mempengaruhi identitas spiritual kita. Keenam, Paulus menyimpulkan dengan sikap positif: apa yang kita minta bukanlah perceraian, kita meminta keselamatan pasangan kita! Mereka yang menikah dengan orang yang tidak percaya memiliki misi, dan Paulus mengingatkan: Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?

Renungkan:
• Untuk memahami perikop ini secara tepat, kita perlu memahami situasi gereja di Korintus pada waktu itu, apakah penjelasan hari ini membantu Anda untuk memahami perikop ini? Manakah dari pengingat Paulus yang paling sesuai dengan Anda?
• Bagi yang menikah dengan orang yang tidak percaya, kita perlu merenungkan: apakah kita orang kudus yang memberkati pasangan dan keluarga kita? Atau apakah kita menggunakan banyak alasan rohani dan justru menjadi pihak yang menyakiti pasangan atau keluarga kita?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Korintus 7:1-9

Belum tentu merupakan perintah mutlak! Selibat itu baik! Pernikahan juga baik! Semuanya indah!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 7:1-9 [ITB])
1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, 2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. 3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. 5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak. 6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah. 7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. 8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. 9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.

【Referensi ayat】
7:1 [YLT] And concerning the things of which ye wrote to me: good it is for a man not to touch a woman,
7:1 [ESV] Now concerning the matters about which you wrote: It is good for a man not to have sexual relations with a woman.
7:1 [NIV] Now for the matters you wrote about: It is good for a man not to marry.
7:1 Sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin
7:25 Sekarang tentangpara gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah.
8:1 Tentangdaging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.
12:1 Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.
16:1 Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia.
16:12 Tentang saudara Apolos: telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.

Jemaat Korintus telah mengirim surat yang menanyakan banyak pertanyaan rohani kepada Paulus. Surat itu tidak tentu sepenuhnya merupakan komunikasi yang bersahabat, tetapi mungkin juga membawa beberapa rasa ketidakpuasan. Ayat 7:1 tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku merupakan hal-hal pertanyaan yang berjumlah mejemuk. Kata tentang (peri de) muncul enam kali Surat 1 Korintus (7:1, 25; 8:1; 12:1; 16:1, 12), enam tempat ini tampaknya mencerminkan sebagian masalah pertanyaan yang diajukan dalam surat yang dikirim oleh jemaat Korintus.

Paulus pertama-tama membahas pertanyaan pertama dalam perikop hari ini. Bagaimana memahami perkataan adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin!? Dalam pasal 7, Paulus memberikan tanggapan berbeda terhadap objek dan situasi yang berbeda: 1. Haruskah pasangan memiliki keintiman seksual dalam pernikahan? (7:2-7) 2. Apakah wanita yang belum menikah dan janda harus menikah? (7:8-9) 3. Untuk pasangan suami istri (7:10-11) 4. Untuk pasangan yang tidak beriman (7:12-16) 5. Untuk gadis yang tidak menikah dan perempuan lajang (7:25-38) 6. Haruskah perempuan yang kehilangan pasangan menikah lagi? (7:39-40)

Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin. Terjemahan kalimat ini mengambil pandangan yang sangat berbeda dalam versi yang berbeda. Terjemahan harfiah dari kalimat ini dapat memiliki terjemahan yang berbeda: 1. adalah baik: seorang laki-laki tidak mau menjamah seorang wanita. 2. adalah baik: seorang laki-laki tidak mau menjamah istrinya. Terjemahan bahasa Inggris NIV bahkan mengambil terjemahan yang lebih lanjut: It is good for a man not to marry (tidak menikah). Kalimat ini dapat merujuk pada masalah apakah menikah atau menjadi lajang! Tapi itu juga bisa disalahartikan sebagai: Pria yang sudah menikah harus menghindari hubungan seksual intim dengan istri mereka. Dua kata yang menyebabkan kontroversial dalam terjemahan, kata Yunani γυνή gune dapat diterjemahkan sebagai wanita atau istri, lalu kata ἅπτο hapto berarti menjamah, tetapi dalam beberapa bagian Alkitab kata itu digunakan sebagai ungkapan keintiman seksual dengan seorang wanita (Kej. 20:6; Amsal 6:29) Frasa ini mungkin pernah dikatakan Paulus, tetapi orang yang berbeda memiliki penerapan dan pemahaman yang berbeda, yang mengakibatkan banyak kesalahpahaman, penyimpangan, dan praktik yang ekstrem. Oleh karena itu, Paulus harus mengklarifikasi dan menjawab dengan cermat sesuai dengan situasi yang berbeda.

Untuk mencegah berbagai kesalahpahaman dan penerapan yang ekstrem, Paulus mengemukakan beberapa prinsip penting: 1. Karena pria dan wanita memiliki kebutuhan seksual, untuk mencegah perzinaan di luar nikah, orang harus menikah. 2. Pasangan dalam pernikahan harus saling menyayangi serta harus saling menghormati kebutuhan dan hak masing-masing, dan harus ada waktu untuk keintiman. 3. Terkadang, untuk menyendiri dengan Allah dalam doa, pasangan yang sudah menikah dapat memiliki periode waktu tanpa keintiman seksual, tetapi tidak untuk lama dan dengan persetujuan bersama. 4. Pasangan tanpa keintiman seksual memberi iblis kesempatan membuat tersandung. 5. Selibat jangka panjang adalah hal yang baik! Seseorang bertekad untuk melakukannya! Tapi itu bukan perintah, dan selibat membutuhkan panggilan, tekad, dan anugerah Allah 6. Memang baik selibat untuk mengabdi kepada Tuhan, tapi tidak bisa dipaksakan! Bagi pria, wanita yang belum menikah dan janda, jika mereka tidak memiliki karunia melajang, mereka harus menikah.

Menjadi lajang dan berkonsentrasi untuk Tuhan adalah hal yang indah! Tetapi jika ia tidak dapat menjaga selibat, maka harus menikah. Jika tidak, ia akan dengan mudah jatuh ke dalam godaan perzinaan, yang akan mengubah hal-hal baik menjadi hal-hal buruk dan menyebabkan tragedi. Bagi kebanyakan orang, kita harus memasuki pernikahan, Dan kita harus menghargai keintiman dalam pernikahan! Lembaga pernikahan didirikan oleh Allah, dan pernikahan dan keluarga adalah berkat Allah yang paling awal! Kita harus memandang penting pernikahan, menghargai pasangan, dan hargai hak serta kebutuhan pasangan Jangan menggunakan alasan spiritual membuat pasangan tersandung, mengabaikan kebutuhan dia, dan memberi tempat kepada iblis.

Renungkan:
• Apa yang tulisan Alkitab mengingatkan kepada kita hari ini? Bagaimana Paulus memandang keintiman dalam pernikahan? Apakah kita menghormati kebutuhan dan hak pasangan kita?
• Beberapa orang bertekad untuk melajang dan fokus pada Tuhan! Beberapa orang tidak dapat menemukan pasangan yang cocok untuk menikah! Baik itu pilihan Tuhan, pilihan sendiri, atau pasif, dapat mengandalkan Tuhan untuk sendirian, berjalan dengan Allah, melayani Allah lebih baik, memberkati orang lain, itu indah!


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 5-10 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Februari 2022 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Bilangan 24:25-25:3

「Rencana licik dan menyerang titik lemah」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 24:25-25:3 [ITB])
24:25 Lalu bersiaplah Bileam dan pulang ke tempat kediamannya; dan Balakpun pergilah juga.
25:1 Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. 2 Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. 3 Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel;

mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan beriman asing

Bilangan 24:25 Lalu bersiaplah Bileam dan pulang ke tempat kediamannya; dan Balakpun pergilah juga. Secara permukaan, Bileam tampaknya telah pergi, tetapi sebenarnya ia meninggalkan tipu muslihat yang lebih keji, yaitu menyarankan kepada Balak, raja Moab, agar memakai wanita untuk merayu pria Israel (lihat Wahyu 2:14, klik untuk membaca). Mereka tidak hanya berzina secara fisik dengan wanita Moab, secara rohani mereka juga bersama para perempuan itu menyembah allah Moab, untuk sepenuhnya mengalahkan umat Israel. Kejahatan ini mencakup setidaknya dua aspek:

• Pelanggaran terhadap perintah ketujuh — tidak boleh perzinaan: para pria Israel ini menurut adat pada saat itu, seharusnya sudah memiliki keluarga, dan para wanita Moab ini jika bukan pelacur kuil, maka adalah wanita yang sudah menikah. Perzinaan antara pria Israel dan wanita Moab adalah perselingkuhan, yang melanggar perjanjian pernikahan asli, itu merupakan dosa besar baik dalam budaya Timur Dekat kuno dan Alkitab (Kejadian 20:9). Ini adalah pembunuh terbesar yang menghancurkan pernikahan dan keluarga, dan secara langsung merampas landasan stabilitas bagi seluruh masyarakat. Godaan seksual tidak jarang tercatat dalam Alkitab, termasuk raja Daud dan Samson, yang telah membayar harga yang tragis untuk ini, tidak hanya dalam waktu pendek menghancurkan reputasi seorang pahlawan, tetapi juga menyebabkan banyak kematian dan luka di antara orang-orang. Yohanes Pembaptis, pendahulu Yesus, juga secara langsung menegur Herodes. Jarang ada orang yang dapat menolak godaan seperti yang dilakukan Yusuf, orang yang sangat memelihara kesucian diri serta suka menjaga diri sendiri.

• Pelanggaran terhadap perintah pertama – hanya TUHAN (Yahweh), tidak boleh ada allah lain. Para pria Israel itu tidak hanya tergoda untuk melakukan amoralitas seksual dengan wanita Moab, tetapi juga melangkah lebih jauh bersama-sama dengan perempuan-perempuan itu mempersembahkan korban sembelihan bagi allah mereka, turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu, sehingga Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel (Bilangan 25:2-3). Hubungan antara pria dan wanita adalah bergabungnya secara intim antara roh dan daging, serta komunikasi yang mendalam antara emosi dan tubuh. Sejak awal Allah menganugerahkan dan memberkati pernikahan, memberi manusia kebahagiaan besar di dunia. Tetapi itu juga yang paling mudah digunakan oleh Setan untuk menghancurkan perjanjian anugerah Allah dengan manusia. Seperti selir asing raja Salomo, atau Izebel ratu Ahab, atau istri-istri asing dari umat Allah yang pulang dari penawanan pada masa Ezra dan Nehemia. Alkitab tidak menentang pernikahan antar suku bangsa (seperti Musa dan Zipora, Salmon dan Rahab, Boas dan Rut), tetapi menentang bersatu dengan iman yang berbeda, karena pernikahan memiliki pengaruh yang paling besar terhadap iman. Kokoh bertahan di luar, tetapi sulit untuk mengalahkan tipu muslihat keji di bantal.

Renungkan:
• Bileam tidak bisa mengutuk orang Israel, jadi dia menyarankan untuk menggunakan rencana jahat wanita cantik untuk memikat pria Israel dan merusak seluruh umat itu.
• Orang percaya hari ini harus berhati-hati atas kelemahan sifat manusia ini, dan jangan biarkan Setan menemukan titik kelemahan untuk diserang.


Renungan pemahaman Kitab Bilangan 1-16

Renungan pemahaman Kitab Bilangan 17-36

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 17-36 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Nopember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Kejadian 24:1-4

「Hamba dan tuan」

Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Kej. 24:1-4 [ITB])
1 Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal. 2 Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, 3 supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. 4 Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.

Abraham mengutus hambanya untuk mencarikan istri bagi anak laki-lakinya (Kejadian 24), pasal terpanjang dalam Kitab Kejadian. Berbeda dengan penciptaan manusia di awal Kitab Kejadian, Allah menegakkan pernikahan menjadi sistem sosial yang pertama, mukjizat pertama yang dilakukan Yesus adalah mengubah air menjadi anggur adalah pada pesta pernikahan di Kana, yang menunjukkan bahwa Allah menghargai pernikahan. Kisah romantis dalam pasal ini dimulai dengan percakapan antara Abraham dan hambanya yang paling tua dalam rumahnya.

(1) Tuan yang diberkati TUHAN. Berkat adalah kehendak Allah, sejak saat Abraham dipanggil, TUHAN (Yahweh) berulang kali berjanji untuk memberkati Abraham (Kej. 12:2, 15:1, 17:16, 22:17). Hamba tua menjelaskan bahwa TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. Dan Sara, isteri tuanku itu, sesudah tua, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu telah diberikan tuanku segala harta miliknya(ayat 35-36) Dapat dikatakan memiliki kehidupan yang baik dan umur panjang. Namun pada pasal sebelumnya disebutkan bahwa istrinya tercinta Sara telah meninggal dunia, dan kini ia memiliki satu keinginan terakhir yang harus dipenuhi, yaitu menikahkan Ishak anak laki-lakinya, agar berkat Allah dapat diteruskan dari generasi ke generasi.

(2) Hamba yang setia. Ini bukan hamba biasa, tapi yang paling tua (mewakili kebijaksanaan dan pengalaman), yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya mengelola semua properti milik Abraham (mewakili kemampuan dan kepercayaan), dan yang terpenting, seperti Abraham, dia percaya kepada Allah sepenuhnya. Dalam pasal ini, hamba tua ini memanggil tuanku lebih dari 20 kali, yang menunjukkan kesetiaannya kepada Abraham, tugasnya harus dipenuhi, dan akhirnya dia menyebut Ishak tuanku (ayat 65).

(3) Tugas yang dipercayakan. Abraham meminta hamba tua itu untuk meletakkan tangannya di bawah pangkal paha dan bersumpah kepada TUHAN (Yahweh), Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi. Paha adalah eufemisme untuk alat kelamin laki-laki. Tangannya di bawah pangkal paha artinya keseriusan penuh kewaspadaan, dan mempercayakan urusan terpenting dalam keluarga kepada hamba tua, yaitu menemukan wanita yang cocok untuk Ishak di kampung halamannya. Dengan cara ini, urusan mencarikan istri dinaikkan dari tingkat urusan keluarga ke tingkat diserahkan kepada Allah. Tetapi ada dua syarat tambahan, jika wanita itu menolak untuk datang, sumpah itu tidak berlaku, dan jangan membawa pulang Ishak. Ini bukan hanya mempertimbangkan masalah suku, tetapi juga mengedepankan iman.

Renungkan:
Dahulu masa menurut perintah orang tua dan perantara, perkawinan anak seakan-akan diserahkan kepada orang tua mereka. Tetapi di pasal ini, kita melihat bahwa dalam segala hal mereka mematuhi pimpinan Allah dan selangkah demi selangkah mencari manifestasi kehendak Allah. Ini adalah prioritas yang dipertimbangkan semua orang yang ingin menikah hari ini.


Renungan pemahaman Kitab Kejadian 12-26

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 12-26 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) dipublikasi pada bulan Maret 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.