Tag Archives: Lidah

Amsal 18:13-24

Semangat (roh)
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 18:13-24 [ITB])
13 Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar,
………itulah kebodohan dan kecelaannya.
14 Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya,
………tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?
15 Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan,
………dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.
16 Hadiah memberi keluasan kepada orang,
………membawa dia menghadap orang-orang besar.
17 Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar,
………lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya.
18 Undian mengakhiri pertengkaran,
………dan menyelesaikan persoalan antara orang-orang berkuasa.
19 Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat,
………dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.
20 Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya,
………ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.
21 Hidup dan mati dikuasai lidah,
………siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
22 Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik,
………dan ia dikenan TUHAN.
23 Orang miskin berbicara dengan memohon-mohon,
………tetapi orang kaya menjawab dengan kasar.
24 Ada teman yang mendatangkan kecelakaan,
………tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

Untuk renungan hari ini, kita akan fokus pada 4 ayat. Ayat 14: Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah? Semangat orang (spirit of a man) merupakan tema yang pernah muncul di ayat 15:13 dan 17:22. Ayat ini menghubungkan kesehatan dan semangat (roh) untuk didiskusikan bersamaan, topik ini juga telah kita bahas dalam renungan Amsal 15:12-24. Semangat (roh) yang disebutkan di sini, dalam bahasa Ibrani ruah dapat diterjemahkan menjadi napas, angin, roh (semangat), dan kesehatan tubuh manusia bergantung pada roh (semangat) manusia. Ayat 15:13 hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat dan 17:22 hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang telah membandingkan kondisi positif dan negatif dari pikiran dan emosi. Namun, ayat 18:14 hari ini hanya tertuju berbicara efek negatif dari tingkat yang berbeda. Orang bijak menunjukkan bahwa roh semangat yang sehat dapat menanggung atau menahan penderitaannya, dan selanjutnya bertanya, siapa akan memulihkan semangat yang patah? siapa dapat menanggung semangat yang patah? Sebenarnya, pertanyaan itu sendiri telah memberikan jawabannya, yakni memperkokoh roh (semangat).

Ayat 17: Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya, orang yang mengeluh pertama kali tampaknya masuk akal; ketika orang lain datang, dia menemukan kebenaran. Meskipun ayat 16 sampai 18 tampaknya tidak ada relevansi kaitannya, para peneliti berpendapat bahwa ketiga ayat ini berkaitan dengan tema “membuat keputusan penilaian atas suatu hal”. Orang yang bertanggung jawab dalam membuat keputusan penilaian atas suatu hal (menghakimi) seharusnya tidak membuat keputusan hanya berdasarkan keluhan sepihak, tidak peduli seberapa masuk akal alasan sang pengadu keluhan, dengan kata lain, seseorang tidak hanya mendengarkan pernyataan sepihak, atau membuat penilaian terlalu cepat. Karena segala sesuatu mungkin memiliki dua sisi sudut pandang, jadi itu harus ada pertanyaan pihak lain (pemeriksaan silang (cross-examine)). Sebenarnya, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita telah sering mempraktikkan pepatah Barat: Biarlah pihak lain didengarkan juga (Let the other side be heard too) untuk membuat keputusan yang bijaksana dan seimbang.

Ayat 20-21: Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Di sini, kita melihat bahwa buah (hasil) adalah kata kunci yang menghubungkan kedua ayat tersebut. Dan buah di sini tidak mengacu pada buah-buahan, tetapi mengacu pada pengaruh kata-kata. Selain itu, kita menemukan bahwa mulut, bibir, dan lidah muncul sebanyak empat kali dalam dua ayat tersebut. Orang yang suka mempermainkan lidah akan makan buahnya sendiri. Buah hasil dari kata-kata menentukan kesejahteraan pribadi, bahkan hidup dan mati. Ketika perkataannya positif, itu akan membawa berkat; namun, jika kata-katanya negatif, itu akan berdampak buruk. Orang bijak menggambarkan hidup dan mati ini sebagai dikuasai manusia dan dapat dikendalikan manusia (mengacu pada kata-kata). Orang bijak di sini sudah ketiga kalinya menunjukkan bahwa buah perkataan (12:14 setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan …; 13:2 dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik …), dapat dilihat bertapa pentingnya hal ini. Orang bijak dengan jelas menunjukkan bahwa orang akan mendapat panen karena benih yang ditabur dengan perkataannya, yaitu panen antara hidup dan mati.

Renungkan:
(1) Bagaimana saya dapat memperkokoh roh (semangat) saya?
(2) Benih apa yang ditanam dalam hidup saya? Renungkan ayat ini: … barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu (Galatia 6:8), barang siapa menabur menurut pimpinan Roh Allah, ia akan menuai hidup sejati dan kekal dari Roh Allah. Pengingat apa yang diberikan kepada saya?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Amsal 10:6-16

Pengaruh perkataan
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 10:6-16 [ITB])
6 Berkat ada di atas kepala orang benar, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.
7 Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.
8 Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh bicaranya, akan jatuh.
9 Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui (ketahuan).
10 Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh.
11 Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.
12 Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.
13 Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.
14 Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam.
15 Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan.
16 Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa.

Ada dua tema penting di Amsal 10:6-32. Tema pertama adalah membandingkan orang benar dan orang fasik, dan kontras antara keduanya telah muncul 14 kali; tema kedua adalah perkataan, memiliki dampak yang sangat luas. Dalam pasal ini, kata mulut, lidah dan bibir muncul berkali-kali, dan situasi yang dijelaskan termasuk mulut orang fasik (ayat 6) dan mulut kebodohan (ayat 8, 10), mulut / lidah / bibir orang benar (ayat 11, 20, 21, 31, 32), bibir orang berpengertian (ayat 13), mulut orang bodoh (ayat 14), bibir yang berdusta (ayat 18), dan mulut banyak bicara (ayat 19). Selain itu, ada juga deskripsi mulut terhubung dengan bagian tubuh lainnya, seperti kepala dan mulut (ayat 6), hati dan mulut yang bodoh bicaranya (ayat 8, 20), matadanmulut yang bodoh bicaranya (ayat 10), bibir dan punggung (ayat 13). Ternyata lidah kecil sudah cukup untuk mempengaruhi seluruh tubuh.

Di sini, kita menemukan bahwa orang bijak di ayat 6-11 ditempatkan dalam struktur engsel (chiastic):
A. menyembunyikan kelaliman (ayat 6)
B. bodoh bicaranya, akan jatuh (ayat 8)
C. jalan yang aman, jalan berliku-liku (ayat 9) (perhatikan bagian yang dijepit di tengah ini adalah poin utama)
B’ bodoh bicaranya, akan jatuh (ayat 10)
A’ menyembunyikan kelaliman (ayat 11)

Dalam lima ayat ini, dua kali penyebutan menyembunyikan kelaliman dan konsekuensinya yang serius disebutkan dua kali akan jatuh (dijungkirbalikkan), ini adalah perilaku dan hasil dari orang bodoh. Sebaliknya, mulut orang benar adalah sumber kehidupan. Tema utama dari paragraf ini adalah ayat 9 (yakni C yang berada di bagian tengah engsel, A, B, C, B’, A’), yang menyatakan bahwa Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui (ketahuan). Di sini ditunjukkan dua jalan, yaitu jalan orang benar dan orang fasik, itu mencerminkan dua gaya hidup. Orang jahat menyembunyikan motif dan tujuan mereka, mungkin mengambil jalan pintas dan menipu orang lain untuk mencapai keuntungan pribadi; tetapi orang benar memiliki hati yang bijaksana, menerima perintah Tuhan, berperilaku benar dan murni, sehingga berkat datang kepada mereka.

10:12-14 membandingkan kontras antara kebencian dan kasih, dua-duanya disebabkan oleh bibir dan menghasilkan dua hasil yang ditunjukkan dalam perbandingan ini. Di sini ditunjukkan bahwa jika tidak mengendalikan lidah maka akan membawa sengketa, akibatnya adalah menerima hukuman dan kerusakan. Sebaliknya, kasih bisa menutupi segala pelanggaran, yakni lapang dada atas kesalahan orang, tetapi tidak menutup-tutupi dosa. Beberapa orang menggunakan kebohongan untuk menutupi kebencian, tetapi orang Kristen menggunakan kasih untuk menutupi pelanggaran orang.

Perikop ini membandingkan dua tipe orang, yaitu orang benar / berpengertian / bijak hati, dan orang fasik / bodoh / tidak berakal budi. Di akhir paragraf ini, ada kontras lain di ayat 15-16. Ada dua macam orang yang dikemukakan bahwa dua ayat ini, yaitu orang kaya dan orang miskin, yang mewakili status ekonomi dan pendapatan, ini adalah tentang hasil, orientasi moral dan cara hidup yang berbeda akan membawa hasil yang berbeda, sebuah kehidupan atau sebuah kehancuran.

Renungkan:
(1) Paulus mengajar kita: Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia (Efesus 4:29). Cobalah untuk merenungkan apakah kita sering mengucapkan perkataan yang membangun orang? Memohon bantuan Tuhan;
(2) Renungkan kasih menutupi segala pelanggaran (ayat 12) dan Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8) Bagaimana itu dapat diterapkan pada keluarga, gereja, dan pekerjaan?


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 4:17-5:2 (2)

「Hidup Menunjukkan Kehidupan Anak-Anak Allah」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 4:17-5:2 [ITB])
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:
Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. 21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. 1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Orang modern sering menekankan perlu menghidupi jati diri menjadi diri sendiri, menolak untuk memenuhi tuntutan moral tradisi atau dari orang lain, dan hidup hanya berdasarkan preferensi pribadi dan pemikiran ide diri sendiri. Mereka mengklaim bahwa alam memiliki sifat logis, masuk akal dan baik, bahkan suci.

Ajaran Alkitab adalah justru sebaliknya. Paulus menunjukkan bahwa apa yang kita taati dan ikuti sebelum percaya Tuhan Yesus adalah kehidupan yang sia-sia dari hati yang sia-sia. Keinginan / nafsu daging adalah sifat alamiah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, bukan sifat alamiah yang dirancang oleh Allah dalam penciptaan. Oleh karena itu, hidup yang menaati dan mengikuti dosa bukan merupakan hidup yang alami; Hanya ketika mendapatkan kembali kehidupan dari Allah, menjalani kehidupan baru (dengan gaya hidupnya yang baru), barulah merupakan hidup alami, menghidupi saya yang sejati.

Manusia lama 「yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan」 (Ef. 4:22); sebaliknya manusia baru 「yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (gambar Allah) di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」. Manusia baru adalah manusia yang seperti aslinya saat penciptaan, sedangkan manusia lama yang secara kronologi waktu adalah terkemudian yang secara bertahap menjadi buruk.

「Dibaharui di dalam roh dan pikiranmu」 (Ef. 4:23), di sini 「pikiran」 adalah tidak hanya pikiran dan tekad, tetapi 「manusia bagian dalam」, atau saya yang sejati, atau kehidupan nyata. Paulus dalam surat 2 Korintus secara rinci menjelaskan perbedaan antara manusia bagian dalam dan yang luar. Hidup kita telah dibaharui, dan tindakan lahiriah dan kehidupan juga harus berubah.

Kehidupan baru dapat disimpulkan sebagai sebuah kalimat: ada integritas dan kekudusan yang bersumber keluar dari kebenaran. Bagaimana bentuk nyata manifestasinya?

Paulus menyebutkan empat tuntutan dalam aspek perilaku:

Pertama, adalah tidak berdusta, tetapi hanya mengatakan apa yang benar (Ef. 4:25). Dusta adalah palsu, kosong, sia-sia. Dahulu kita ada dalam hidup yang sia-sia dan palsu, tetapi sekarang karena kebenaran maka hidup dalam kehidupan yang benar, nyata dan sejati; kejujuran saling terkait dengan benar, nyata dan sejati. Secara khusus ditekankan keharusan berbicara jujur terutama diantara orang Kristen, tidak ada ruang kemunafikan antara anggota badan.

Kedua, adalah kontrol emosi (Ef. 4:26). Manusia yang sejati pasti memiliki emosi yang sejati, setiap orang memiliki emosi; Alkitab tidak menuntut kita membebaskan diri dari semua perasaan emosi, dan menjadi manusia tanpa sukacita, tanpa kesedihan, tanpa rasa putus asa. Tetapi meminta kita untuk memperhatikan dua hal ini saat dalam amarah: jangan overdosis (berlebihan), melakukan tindakan berdosa; juga secara waktu jangan terlalu lama, misal menyimpan dendam kemarahan kepada orang lain. Mengapa jangan overdosis dan jangan terlalu lama? Karena itu mudah memberikan kesempatan kepada iblis untuk memikat kita berbuat dosa.
Kemarahan itu sendiri bukanlah terhitung dosa, tetapi kemarahan adalah sering menjadi kesempatan bagi dosa kejahatan. Datang kemarahan kemudian lupa menjadi manusia sejati yang benar, lupa hidup kudus, tidak lagi memiliki 「kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」 (Ef. 4:24)

Ketiga adalah bekerja keras, mandiri mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri, tidak lagi hidup bergantung pada orang lain, dan tidak melalui tindakan ilegal untuk mendapatkan kebutuhan penopang hidup (Ef. 4:28). Paulus mengharapkan bahwa kita tidak hanya tidak mengeksploitasi hasil kerja keras orang lain, bahkan kita memiliki kekuatan lebih berbagi buah kerja keras kita dengan orang lain. Kehidupan yang menarik diri dari masyarakat bukanlah bentuk kehidupan yang Allah kehendaki. Hal ini bukan dilihat dari manfaat ekonomi masyarakat manusia, tetapi dari perspektif bahwa semua orang telah menerima kasih karunia dan anugerah dari Tuhan. Hidup adalah untuk disempurnakan, menyia-nyiakan hidup adalah perilaku boros.

Keempat adalah menahan mulut, mencakup dua hal: tidak berbicara kata-kata kotor, dan tidak mengucapkan kata-kata negatif yang merusak. Tidak berkata kotor mudah dimengerti, kata-kata mencerminkan bagian dalam hati, rohani pikiran yang bersih tidak akan mengatakan kata-kata kotor. Tidak mengatakan kata-kata negatif juga didasarkan pada kebenaran yang sama, orang yang menghormati kehidupan dan berusaha sekuat tenaga untuk pemenuhan orang lain tidak akan menyakiti orang lain dengan kata-kata. Tetapi 「pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.」 Dalam dunia hari ini yang penuh bahasa kekerasan dan kritik menghancurkan, ajaran ini adalah nasihat yang benar-benar memberikan peringatan yang membangunkan kita dari tidur.

Setelah empat tuntutan perilaku, Paulus selanjutnya memberikan tiga ajaran yang lebih umum, bersifat prinsip:

Pertama, adalah jangan mendukakan Roh Kudus yang melindungi kita. Dalam pasal 1, Paulus menunjukkan bahwa kita adalah pekerjaan Allah, dari dipilih sampai dipisahkan, diberikan hak menjadi anak-anak, sampai penebusan keselamatan, bertujuan membuat kita menjadi bagian dari rencana Kristus. Identitas dan misi telah kita peroleh, tapi belum sepenuhnya. Kita menunggu hari penyelamatan diwujudkan, Roh Kudus menjadi bukti sebelum kita sepenuhnya mendapatkannya, dan jaminan bahwa kita pada akhirnya akan mendapatkannya (Ef. 1:14). Di sini Paulus mengulangi perkataan pasal 1 dan mengingatkan orang percaya lagi, 「telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.」 (Ef. 4:30)

Kedua, adalah hapus semua pikiran dan tindakan yang merusak komunitas. 「Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.」 Patut diperhatikan bahwa kejahatan yang disebutkan di sini memiliki karakteristik umum yakni menyebabkan kerusakan tubuh Kristus, adalah mengikuti tema pasal 4 dan juga topik yang ada di seluruh surat Efesus adalah tentang Gereja.

Ketiga, adalah menjadi penurut Allah. Bagaimana seorang ayah pasti juga bagaimana sang anak, karena Tuhan adalah Bapa Surgawi kita, kita harus belajar untuk meneladani Allah. Ini mencakup dua tuntutan: satu adalah untuk mengampuni dosa orang lain dengan rahmat, sama seperti Bapa mengampuni dosa-dosa kita; Yang kedua adalah untuk memperlakukan orang dengan kasih, berkorban bagi orang lain. Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita; Tuhan menyerahkan nyawa-Nya berkorban bagi kita, dan kita patut berkorban nyawa bagi saudara.

Renungkan:

1. Karena isi dari perikop ini sangat kaya, kita bisa mendapatkan apa yang sesuai keadaan kita, apa yang menyentuh hati kita, atau yang paling mengena pada situasi diri kita sendiri, renungkan dan buatlah respon secara pribadi. Sebagai contoh, tidak berbohong, kontrol emosi, kerja keras dan menjaga kata-kata, manakah salah satu dari empat ini yang Anda paling perlukan?

2. Apakah pendapat Anda tentang tidak mendukakan Roh Kudus?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Yudas 14-16

「Perkataan Henokh」

Perkataan mendatangkan penghakiman.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Yudas ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Yudas 14-16 [ITB])
14Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, 15hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.”
16Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.

Saat Yudas menghadapi kesalahan 「orang-orang」 itu, ia memakai sebuah karya sastra yang beredar saat itu sebagai gugatan putaran ketiga. Para peneliti berpendapat 《Kitab 1 Henokh》 yang dipakai Yudas, sudah dikenal oleh orang percaya pada zaman itu. Ayat 14-15 memakai bagian yang terkait kedatangan Yang Kudus, Ia juga membawakan penghukuman. Allah adalah Tuhan yang berinisiatif mengadakan penghukuman, Ia memberikan perlindungan dan damai sejahtera kepada orang yang adil, dan hukuman kepada orang yang fasik. Perikop ini ada dua poin khusus:

  1. Yudas khusus menekankan 「ketidaksalehan / kefasikan」 dari 「orang-orang」 itu, seluruhnya ada tiga kali, yakni Allah akan menghardik 「orang-orang fasik」, menghakimi 「perbuatan fasik」 dan menjatuhkan keputusan hukuman atas 「dosa kefasikan」.
  2. Yudas memperhatikan ucapan「orang-orang」 itu. Ia dengan jelas menunjukkan bahwa Allah akan menghakimi apa yang pernah dikatakan oleh manusia. Dari 「kata」 di ayat 14, 「kata-kata」 ayat 15, sekarang di ayat 16 segera disambungkan dengan perkataan 「orang-orang」 itu. Apa yang dimaksudkan dengan perkataan 「orang-orang」 itu? Yakni perkataan 「yang menggerutu dan mengeluh」, 「yang bukan-bukan」 dan 「yang menjilat」. Orang-orang fasik ini mengeluarkan tiga macam perkataan fasik. Pertama, perkataan fasik yang 「menggerutu dan mengeluh」. Orang-orang ini sering menggerutu di dalam perkataannya menggugat orang lain dan mengucapkan pembicaraan yang negatif. Sebenarnya Yudas dalam ayat 5, terkait peristiwa keluar dari Mesir telah memberikan petunjuk. Orang Israel sering menggerutu kepada TUHAN, karena berbagai macam hal menyalahkan Allah: minta air minum, makanan, berita yang dibawa kembali oleh 12 pengintai, dsb. Kedua, perkataan fasik yang 「mengeluarkan perkataan yang bukan-bukan」(ITB) (dalam CUVT 「bualan」, NET 「bombastic」, NET 「boast」 bualan yang membesarkan diri, bandingkan Yudas 1:13 「… ombak … yang membuihkan …」). Membual tentang diri sendiri adalah menjadikan diri sendiri sebagai pusat, 「orang-orang」 itu tidak mengeluarkan perkataan yang memuji Allah, tidak mengeluarkan perkataan yang memberi dorongan terhadap orang lain, tetapi berusaha ambil kesempatan mengeluarkan perkataan peninggian diri, memuji diri sendiri. Ketiga, perkataan fasik yang 「menjilat orang」. Perkataan fasik macam ketiga ini adalah yang paling tersembunyi tidak kentara, dipermukaan berkata menyanjung untuk menjilat orang, adalah berharap mendapatkan keuntungan dari orang lain, tujuan paling akhir adalah demi keuntungan diri sendiri.

Yudas dalam ayat 4 telah menunjukkan, 「orang-orang」 itu menyangkal Yesus sebagai Tuhan atas kehidupan dan yang berkuasa. Walaupun mereka secara lidah tidak dengan terang-terangan berkata tidak menerima Tuhan berkuasa, tetapi perkataan fasik dari mereka yang tidak saleh sangat berbeda dengan perkataan baik dari orang-orang kudus yang dikasihi Tuhan. Orang-orang kudus mengeluarkan pujian indah dan ucapan syukur kepada Allah, mengeluarkan perkataan yang membangun iman orang, saat berbincang dengan orang lain 「senantiasa penuh kasih (ramah) jangan hamba」 dalam memberi jawab kepada setiap orang (Kol. 4:6).

Mungkin Yudas pernah berkesempatan mendengarkan pengajaran Yesus Kristus terkait bagaimana berkata-kata (Yudas adalah saudara Yesus, lihat ). Yesus pernah menunjukkan, 「Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.」 (Mat. 12:36-37). Selain itu, Yesus juga pernah mengingatkan agar perkataan orang percaya hendaknya sungguh-sungguh: 「Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.」 (Mat. 5:37).

Renungkan: (1) Di hadapan Allah, ambilah tekad untuk tidak berbuat dosa dalam hal lidah; (2) Periksalah apakah pada diri sendiri ada keadaan 「dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk」 (Yak. 3:10)? (3) Mohon Roh Kudus menambahkan kekuatan, agar bibir lidah saya menghasilkan buah yang baik: 「senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya」 (Ibrani 13:15).

Ulangan 24:8-9

Berkata-kata jahat

Oleh Gān Rǔ Chéng (甘汝誠)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ul. 24:8-9 [ITB])
8 Hati-hatilah dalam hal penyakit kusta dan lakukanlah dengan tepat segala yang diajarkan imam-imam orang Lewi kepadamu; apa yang kuperintahkan kepada mereka haruslah kamu lakukan dengan setia. 9 Ingatlah apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada Miryam pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir.

Untuk memahami peringatan Musa kepada orang Israel: haruslah engkau menjaga diri terhadap segala yang jahat (Ul. 23:9), selain melalui latar belakang peristiwa, tetapi juga dapat mulai dari makna kata yang dipakai. Segala yang jahat adalah semua hal yang jahat (lihat KJV every wicked thing), teks aslinya adalah kol davar ra. Kata davar dapat diartikan sebagai hal atau kata. Nama Kitab Ulangan – Devarim – diambil dari 1:1 perkataan-perkataan yang diucapkan Musa. Oleh karena itu, menjaga diri terhadap segala yang jahat adalah menjauhi segala perkataan jahat, ajaran Yahudi Midrash Sifri mengatakan dengan lugas: davar ra (hal jahat) adalah lashon ra (lidah yang jahat).

Orang bijak Yahudi mengutip seruan dari Ulangan 24:8-9 sebagai dukungan: Saudara perempuan Musa, Miryam, pernah mencela Musa karena menikahi seorang wanita dari Kush (sekarang Etiopia), tetapi Allah memarahi Miryam dan menghukumnya menderita kusta selama 7 hari (Bil. 12:1-15) itulah yang disebut dengan bencana karena banyak mulut. Menurut aturan agama umat Israel, meskipun penderita kusta tidak terlibat dalam masalah moral, tetapi begitu ia terkena kusta, ia akan dianggap tidak tahir (Im. 13) Kata-kata jahat mengakibatkan pada hal jahat, davar ra lashon ra (hal jahat adalah lidah yang jahat), alasannya begitu sederhana.

Orang Yahudi memandang perkataan jahat (lashon ra) adalah kejahatan yang sangat besar, lalu apa itu perkataan jahat? Berikut ini adalah apa yang Alkitab ajarkan agar kita tidak mengatakan:

1. Fitnah. Jangan katakan atau dengarkan celaan negatif orang lain, itu sama saja dengan mempermaikan benar dan salah. Im 25:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia (bhasa Ibrani: menumpahkan darahnya); Akulah TUHAN. Menyebarkan fitnah sering menyebabkan cedera dan kematian orang lain.

2. Kesaksian palsu. Gosip mungkin tidak disengaja, tetapi fitnah dengan sengaja menggunakan fakta palsu untuk merugikan orang lain. Itu adalah salah satu larangan dari Sepuluh Perintah. Demikian pula, jika Anda mengetahui kebenaran fakta dan menolak untuk bersaksi, itu adalah sama dengan memberikan kesaksian palsu.

3. Kata-kata kotor dan bahasa yang cemar. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia (Ef. 4:29)

4. Mengutuk Allah (atau menyangkal nama Allah) Im 20:9 Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati … apalagi janganlah mengutuk Allah. Orang Yahudi memiliki tiga hal yang mereka lebih baik mati daripada melakukan: pemerkosaan, pembunuhan dan menyangkal nama Allah. Tentu saja tidak boleh bersumpah atas nama Allah (Matius 5:33-37).

5. Membocorkan rahasia.

Singkatnya, Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi (Amsal 10:19)

Renungkan:
Ini adalah zaman berbicara. Mohon Tuhan mengajar saya berhati-hati dengan kata-kata kita sendiri, jangan bicara omong kosong, dan belajar mengatakan hal-hal baik untuk mendorong orang lain.


Renungan pemahaman Kitab Ulangan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ulangan ditulis oleh Gān Rǔ Chéng (甘汝誠) dipublikasi pada bulan Juni 2014 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.