Tag Archives: Pekerjaan

Efesus 4:17-5:2 (2)

「Hidup Menunjukkan Kehidupan Anak-Anak Allah」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 4:17-5:2 [ITB])
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:
Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. 21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. 1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Orang modern sering menekankan perlu menghidupi jati diri menjadi diri sendiri, menolak untuk memenuhi tuntutan moral tradisi atau dari orang lain, dan hidup hanya berdasarkan preferensi pribadi dan pemikiran ide diri sendiri. Mereka mengklaim bahwa alam memiliki sifat logis, masuk akal dan baik, bahkan suci.

Ajaran Alkitab adalah justru sebaliknya. Paulus menunjukkan bahwa apa yang kita taati dan ikuti sebelum percaya Tuhan Yesus adalah kehidupan yang sia-sia dari hati yang sia-sia. Keinginan / nafsu daging adalah sifat alamiah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, bukan sifat alamiah yang dirancang oleh Allah dalam penciptaan. Oleh karena itu, hidup yang menaati dan mengikuti dosa bukan merupakan hidup yang alami; Hanya ketika mendapatkan kembali kehidupan dari Allah, menjalani kehidupan baru (dengan gaya hidupnya yang baru), barulah merupakan hidup alami, menghidupi saya yang sejati.

Manusia lama 「yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan」 (Ef. 4:22); sebaliknya manusia baru 「yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (gambar Allah) di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」. Manusia baru adalah manusia yang seperti aslinya saat penciptaan, sedangkan manusia lama yang secara kronologi waktu adalah terkemudian yang secara bertahap menjadi buruk.

「Dibaharui di dalam roh dan pikiranmu」 (Ef. 4:23), di sini 「pikiran」 adalah tidak hanya pikiran dan tekad, tetapi 「manusia bagian dalam」, atau saya yang sejati, atau kehidupan nyata. Paulus dalam surat 2 Korintus secara rinci menjelaskan perbedaan antara manusia bagian dalam dan yang luar. Hidup kita telah dibaharui, dan tindakan lahiriah dan kehidupan juga harus berubah.

Kehidupan baru dapat disimpulkan sebagai sebuah kalimat: ada integritas dan kekudusan yang bersumber keluar dari kebenaran. Bagaimana bentuk nyata manifestasinya?

Paulus menyebutkan empat tuntutan dalam aspek perilaku:

Pertama, adalah tidak berdusta, tetapi hanya mengatakan apa yang benar (Ef. 4:25). Dusta adalah palsu, kosong, sia-sia. Dahulu kita ada dalam hidup yang sia-sia dan palsu, tetapi sekarang karena kebenaran maka hidup dalam kehidupan yang benar, nyata dan sejati; kejujuran saling terkait dengan benar, nyata dan sejati. Secara khusus ditekankan keharusan berbicara jujur terutama diantara orang Kristen, tidak ada ruang kemunafikan antara anggota badan.

Kedua, adalah kontrol emosi (Ef. 4:26). Manusia yang sejati pasti memiliki emosi yang sejati, setiap orang memiliki emosi; Alkitab tidak menuntut kita membebaskan diri dari semua perasaan emosi, dan menjadi manusia tanpa sukacita, tanpa kesedihan, tanpa rasa putus asa. Tetapi meminta kita untuk memperhatikan dua hal ini saat dalam amarah: jangan overdosis (berlebihan), melakukan tindakan berdosa; juga secara waktu jangan terlalu lama, misal menyimpan dendam kemarahan kepada orang lain. Mengapa jangan overdosis dan jangan terlalu lama? Karena itu mudah memberikan kesempatan kepada iblis untuk memikat kita berbuat dosa.
Kemarahan itu sendiri bukanlah terhitung dosa, tetapi kemarahan adalah sering menjadi kesempatan bagi dosa kejahatan. Datang kemarahan kemudian lupa menjadi manusia sejati yang benar, lupa hidup kudus, tidak lagi memiliki 「kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」 (Ef. 4:24)

Ketiga adalah bekerja keras, mandiri mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri, tidak lagi hidup bergantung pada orang lain, dan tidak melalui tindakan ilegal untuk mendapatkan kebutuhan penopang hidup (Ef. 4:28). Paulus mengharapkan bahwa kita tidak hanya tidak mengeksploitasi hasil kerja keras orang lain, bahkan kita memiliki kekuatan lebih berbagi buah kerja keras kita dengan orang lain. Kehidupan yang menarik diri dari masyarakat bukanlah bentuk kehidupan yang Allah kehendaki. Hal ini bukan dilihat dari manfaat ekonomi masyarakat manusia, tetapi dari perspektif bahwa semua orang telah menerima kasih karunia dan anugerah dari Tuhan. Hidup adalah untuk disempurnakan, menyia-nyiakan hidup adalah perilaku boros.

Keempat adalah menahan mulut, mencakup dua hal: tidak berbicara kata-kata kotor, dan tidak mengucapkan kata-kata negatif yang merusak. Tidak berkata kotor mudah dimengerti, kata-kata mencerminkan bagian dalam hati, rohani pikiran yang bersih tidak akan mengatakan kata-kata kotor. Tidak mengatakan kata-kata negatif juga didasarkan pada kebenaran yang sama, orang yang menghormati kehidupan dan berusaha sekuat tenaga untuk pemenuhan orang lain tidak akan menyakiti orang lain dengan kata-kata. Tetapi 「pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.」 Dalam dunia hari ini yang penuh bahasa kekerasan dan kritik menghancurkan, ajaran ini adalah nasihat yang benar-benar memberikan peringatan yang membangunkan kita dari tidur.

Setelah empat tuntutan perilaku, Paulus selanjutnya memberikan tiga ajaran yang lebih umum, bersifat prinsip:

Pertama, adalah jangan mendukakan Roh Kudus yang melindungi kita. Dalam pasal 1, Paulus menunjukkan bahwa kita adalah pekerjaan Allah, dari dipilih sampai dipisahkan, diberikan hak menjadi anak-anak, sampai penebusan keselamatan, bertujuan membuat kita menjadi bagian dari rencana Kristus. Identitas dan misi telah kita peroleh, tapi belum sepenuhnya. Kita menunggu hari penyelamatan diwujudkan, Roh Kudus menjadi bukti sebelum kita sepenuhnya mendapatkannya, dan jaminan bahwa kita pada akhirnya akan mendapatkannya (Ef. 1:14). Di sini Paulus mengulangi perkataan pasal 1 dan mengingatkan orang percaya lagi, 「telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.」 (Ef. 4:30)

Kedua, adalah hapus semua pikiran dan tindakan yang merusak komunitas. 「Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.」 Patut diperhatikan bahwa kejahatan yang disebutkan di sini memiliki karakteristik umum yakni menyebabkan kerusakan tubuh Kristus, adalah mengikuti tema pasal 4 dan juga topik yang ada di seluruh surat Efesus adalah tentang Gereja.

Ketiga, adalah menjadi penurut Allah. Bagaimana seorang ayah pasti juga bagaimana sang anak, karena Tuhan adalah Bapa Surgawi kita, kita harus belajar untuk meneladani Allah. Ini mencakup dua tuntutan: satu adalah untuk mengampuni dosa orang lain dengan rahmat, sama seperti Bapa mengampuni dosa-dosa kita; Yang kedua adalah untuk memperlakukan orang dengan kasih, berkorban bagi orang lain. Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita; Tuhan menyerahkan nyawa-Nya berkorban bagi kita, dan kita patut berkorban nyawa bagi saudara.

Renungkan:

1. Karena isi dari perikop ini sangat kaya, kita bisa mendapatkan apa yang sesuai keadaan kita, apa yang menyentuh hati kita, atau yang paling mengena pada situasi diri kita sendiri, renungkan dan buatlah respon secara pribadi. Sebagai contoh, tidak berbohong, kontrol emosi, kerja keras dan menjaga kata-kata, manakah salah satu dari empat ini yang Anda paling perlukan?

2. Apakah pendapat Anda tentang tidak mendukakan Roh Kudus?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

2 Tes. 3:16-18

「Berkat Bekerja dalam Damai Sejahtera」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 3:16-18 [ITB])
16Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.
17Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku.
18Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian!

Paulus di 3 ayat paling akhir sepertinya terburu-buru mengakhiri surat ini, ia di 2 Tes. 3:6-15 telah memakai penjelasan yang panjang lebar mengingatkan orang percaya di Tesalonika bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah saudara-saudara yang tidak bersedia bekerja, kemudian dengan sangat tiba-tiba di ayat 16 menaikkan sebuah doa, ayat 17 meyakinkan bahwa ini adalah tulisan dari dirinya, paling akhir di ayat 18 mengakhiri dengan sebuah ucapan berkat. Ada peneliti yang berpendapat bahwa ayat 16 bisa dipandang sebagai bagian dari teks sebelumnya yang berbicara tentang disiplin gereja, Paulus memohon damai sejahtera bagi keharmonisan dan kesatuan gereja secara keseluruhan, tidak pasti merupakan bagian dari penutup surat. Sebenarnya cara seperti ini yang menggabungkan disiplin gereja dan doa permohonan damai sejahtera, juga muncul di surat Paulus yang lain (Rom. 16:17-19, 20 dan 1 Kor. 13:1-10, 11), maka Paulus di sini mungkin di satu sisi memberikan peringatan orang percaya hendaknya menghargai aturan, tingkah laku, tetapi yang lain di sisi lain juga menghargai kesatuan, keharmonisan dan damai sejahtera dalam proses menyelesaikan masalah. Namun tidak peduli bagaimana memposisikan ayat 16, permohonan dan pengharapan atas damai sejahtera di bagian akhir ini saling bersambung dengan bagian awal surat 2 Tes. 1:2 (「Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu」). Selain itu, saat lingkungan di luar terdapat aniaya dan kesulitan, lalu di bagian dalam terdapat tindakan gangguan dari anggota tubuh, orang percaya di Tesalonika sangat membutuhkan Tuhan yang datang setiap saat dalam setiap hal menganugerahkan damai sejahtera.

Dalam 1 Tes. 1:13 disebutkan Allah yang menganugerahkan damai sejahtera, di sini yang ditekankan adalah Tuhan yang menganugerahkan damai sejahtera, Paulus di 1 Tes. 3:11-13 dengan sengaja menggambarkan pembedaan anugerah Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang diberikan kepada kita, dapat terlihat tujuan Paulus dalam ayat 16 di sini menyebutkan Tuhan yang menganugerahkan damai sejahtera dan bukan menyebutkan Allah yang menganugerahkan damai sejahtera. Yesus yang digambarkan di bagian sebelumnya dari surat ini sepertinya tidak terlalu cocok dengan pribadi yang menganugerahkan damai sejahtera, di 2 tes. 1:5-10 Tuhan Yesus dituliskan pada satu hari dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus. Selain itu, di 2 Tes. 2:8 Tuhan Yesus akan membunuh pendurhaka dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali, memakai kemuliaan kedatangan-Nya mengusir ia. Di 2 Tes. pasal 1 dan 2 berulang disebutkan bagaimana Tuhan Yesus akan menghukum dan melaksanakan keadilan, lalu di sini secara spesial menunjukkan Dia menganugerahkan damai sejahtera kepada gereja, maka ayat paling akhir ini adalah tepat sama seperti kalimat paling akhir dari surat pertama, disebutkan kasih karunia Tuhan Yesus (Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu」 1 Tes. 5:28).

Kita dapat mengetahui dari antara surat Paulus yang lain, ia memiliki permasalahan dengan matanya, maka sangat mungkin saat ia menulis surat adalah secara lisan, dan ada orang yang membantunya menuliskan. Tetapi di akhir surat ini, Paulus sepertinya mengambil alih pena dari tangan orang yang membantunya menulis, secara khusus menulis kalimat penutup kiranya kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus senantiasa menyertai mereka semua. Tidak diketahui apakah ini memiliki sebuah tujuan ── ia tidak akan melepaskan dan memakai kesempatan yang ada, sisa kekuatan yang kecil untuk bekerja. Walaupun ia memiliki masalah mata, tetapi bersandar pada damai sejahtera Tuhan, masih tetap bisa menyelesaikan pekerjaan, tidak peduli kita merasa betapa kecilnya diri kita sendiri, tidak berguna, kurang memiliki karunia talenta, tidak memiliki kemampuan, tetapi hanya perlu bersedia dipakai oleh Allah, Allah pasti akan meletakkan kita di dalam pekerjaan pelayanan yang sesuai. Membawakan damai sejahtera dan berkat bagi orang banyak.

Renungkan: Mengapakah bekerja adalah hal yang penting? Sebenarnya apakah nilai dari pekerjaan, sehingga Paulus memakai begitu banyak tulisan untuk menyelesaikan permasalahan ini? Pekerjaan di antaranya telah mencakup kehendak yang kudus dari Allah, memberikan nilai kepada kita. Ikut serta dalam pekerjaan akan membuat kita dengan realistik memahami kebahagiaan yang sesungguhnya saat berhasil menyelesaikan suatu hal. Saat kita dipecat atau tidak mampu bekerja, kita mungkin akan mendapatkan semacam perasaan jatuh, karena kehilangan pekerjaan bisa membuat orang merasa terganggu dan tertekan. Allah memberikan kepada kita pekerjaan, sebenarnya adalah sebuah kesempatan bersaksi. Pekerjaan bukan merupakan sebuah kutukan, tetapi memberikan kepada kita berkat yakni hidup lebih memiliki makna. Hari ini sangat banyak orang muda karena tidak memiliki kesempatan kerja yang sepatutnya sehingga masuk ke jalan yang salah. Apakah engkau bersedia membawakan damai sejahtera dan anugerah dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus di tempat pekerjaanmu?

2 Tes. 3:13-15

「Akibat dari Tidak Mau Bekerja」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 3:13-15 [ITB])
13Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik. 14Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, 15tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.

Paulus di perikop ini merangkumkan bagaimana cara pemimpin gereja Tesalonika menyelesaikan permasalahan orang percaya yang tidak bersedia bekerja. Paulus di ayat sebelumnya menyebutkan jangan menyerah atas diri mereka dan percaya mereka bisa berubah, ini mungkin adalah makna dari apa yang dikatakan Paulus 「janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik」. Paulus bukan bermaksud mengatakan agar membantu mereka yang tidak bersedia bekerja, itu bertentangan dengan apa yang ia sebutkan sebelumnya; sebaliknya jangan memberikan dukungan, jauhi pemikiran mereka, untuk membuat orang yang tidak mau bekerja bisa berubah.

Kedua, Paulus mengatakan gereja tidak boleh melarikan diri dari tindakan dan tanggung jawab untuk memberikan teguran, hendaknya mengingat yakni 「tandailah」 kesalahan anggota tubuh yang tidak bersedia bekerja, jangan bergaul dengan mereka. Paulus tidak ingin pemimpin gereja Tesalonika, hanya membabi buta atau optimis yang berlebihan mengharapkan permasalahan akan berlalu dengan sendirinya, bahkan hilang perlahan-lahan. Paulus memberikan perintah agar mereka hendaknya secara total menghadapi dan menyelesaikan permasalahan internal gereja ini.

Ketiga, adalah agar orang yang tidak bersedia bekerja merasa malu oleh diri sendiri. Setiap orang diberi hati nurani oleh Allah, saat mereka tidak melakukan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, maka suara yang ada di dalam hati akan protes. Jika ditambahkan lagi tindakan yang sesuai dari orang sekitar, maka seperti yang dikatakan di atas, di satu sisi ada teguran dari dalam hati, di saat yang sama juga mendapatkan perhatian dari orang sekeliling, mungkin akan merasa malu sehingga hatinya boleh berubah.

Maka Paulus di paling akhir mengingatkan mereka jangan berlebihan memberi teguran, agar mereka terhindar dari jalan buntu yang mati, karena mereka bukan merupakan musuh gereja, masih tetap adalah saudara-saudara. Semua teguran haruslah keluar dari semacam perhatian, bukan hendak melakukan pembersihan, tetapi hendak menyelamatkan anggota tubuh. Pada dasarnya, mereka hanyalah karena pemikiran yang salah sehingga berakibat memiliki tingkah laku malas, butuh saling perhatian dari sesama anggota tubuh dengan empati sebagai saudara, karena mereka bukanlah orang tidak percaya.

Renungkan: jika dibandingkan dengan perkataan Paulus di 1Kor. 5:1-8 tentang disiplin gereja dalam topik yang berbeda, berbicara jauh lebih berat dibandingkan dengan apa yang Paulus katakan di sini, mengapa demikian? Bagaimana membedakan tingkat keseriusan dan cara penyelesaiannya?
「Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.
Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?
Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku — sama seperti aku hadir — telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu.
Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. 」 (1 Kor. 5:1-5 [ITB])

2 Tes. 3:10-12

「Pesan agar Melakukan Pekerjaan dengan Tenang」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 3:10-12 [ITB])
10Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

Paulus terlebih dahulu di ayat 10 menyebutkan pesannya yang dahulu, yakni orang yang tidak bersedia bekerja tidak boleh makan. Walaupun 1 Tes. tidak terdapat catatan tentang pesan ini, tetapi orang percaya seharusnya mengetahui pesan Paulus secara oral saat berada di antara mereka.

Perhatikan Paulus di sini tidak berkata 「jika ada orang tidak mampu bekerja」, yang ia katakan adalah 「jika ada orang tidak bersedia bekerja 」. Terdapat sebagian orang tidak mampu bekerja mungkin adalah tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan, atau telah kehilangan kekuatan untuk bekerja, ini adalah orang-orang yang sesungguhnya membutuhkan bantuan kita, Paulus bukan menunjuk keadaan semacam ini. Lalu, hari ini masih tetap ada orang yang mampu bekerja namun lebih senang tidak bekerja, karena mereka merasa lebih lagi mudah meminta-minta atau menipu uang orang lain!
Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit pernah mengingatkan kita: 「Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu」 (Mat. 5:42). Percaya bahwa apa yang Yesus sebutkan seharusnya tidaklah sama dengan golongan orang yang Paulus sebutkan di sini. Paulus berkata, jika orang percaya di Tesalonika menemukan bahwa ada sebagian orang yang mampu bekerja namun tidak bersedia bekerja, maka tidak sepatutnya membantu mereka, bahkan termasuk juga tidak sepatutnya menyediakan makanan bagi mereka.

Paulus berkata, seandainya mereka tidak bersedia bekerja, maka biarlah mereka kelaparan. Paulus memakai cara yang keras semacam ini, sebenarnya adalah hendak menghentikan keadaan yang jelek ini terjadi. Ia kuatir jika membiarkan orang-orang ini, mereka akan menjadi pengangguran, lalu suka ikut campur urusan orang; ikut campur dalam urusan yang tidak sepatutnya ikut serta, berakibat munculnya permasalahan di gereja, menimbulkan perselisihan. Paulus di 2 Tes. 3:12 bahkan memberikan pesan yang sedikit banyak membawa nada teguran kepada sebagian orang ini agar pergi mencari pekerjaan, kemudian menjaga sikap, dengan tenang bekerja, sehingga bisa mendapatkan nafkah hidup bagi diri sendiri.

Paulus di ayat 11 telah memakai trik gaya penulisan untuk menonjolkan sindiran kepada orang-orang yang malas ini, pekerjaan apapun semuanya tidak dilakukan, malahan ikut campur urusan orang lain (sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna), dalam bahasa asli adalah tidak bersedia bekerja namun berkeliling menimbulkan perkara. Mereka tidak hanya bermalas-malasan terlebih lagi adalah suka ikut campur urusan! Maka Paulus di ayat 12 mengingatkan mereka hendaklah dengan tenang bekerja. Bekerja dengan tenang bukanlah artinya saat bekerja diam tidak bersuara, namun menunjuk jangan menggangu orang lain melahirkan permasalahan, membuat kekacauan dan perselisihan dalam komunitas di mana mereka berada, lapor sana sini menyebarkan gosip di mana-mana.

Renungkan: di dalam masyarakat tidak sedikit orang terdapat kecenderungan mania bekerja, mereka hanya peduli pekerjaan dan mengabaikan aspek hidup lain yang penting, tetapi juga terdapat sangat banyak orang yang sikap bekerjanya adalah asal selesai saja, bermalas-malasan bekerja dengan enggan. Apakah engkau hari ini memiliki sikap kerja yang tenang, konsentrasi melakukan tugas bagian diri sendiri, tidak ikut campur urusan orang lain?

2 Tes. 3:7-9

「Teladan Giat Bekerja」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 3:7-9 [ITB])
7Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, 8dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 9Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.

Paulus di perikop ini menunjukkan dirinya sendiri dan rekan kerjanya sebagai teladan dalam hal pekerjaan bagi orang percaya di Tesalonika. Di surat pertama, 1 Tes. 1:6; 2:14 Paulus pernah memuji mereka mengikuti teladan dari dirinya serta jemaat-jemaat Allah di Yudea, tetapi di sini terlebih lagi dengan jelas membeberkan isi detil dari teladan yang harus diikuti, yakni sikap bekerja dari Paulus dan rekan kerjanya. Sebenarnya di 1 Tes. 2:9 Paulus juga menyatakan diri sendiri pernah bersusah payah sibuk bekerja siang dan malam saat berada di antara mereka, juga di 1 Tes. 4:11 mendorong mereka agar memakai tangan sendiri bekerja membereskan urusan diri sendiri.

Paulus di 2 Tes. 3:7 sekali lagi memakai kata 「lalai bekerja」 (sesuai ITB, yang oleh CUVT diterjemahkan sebagai 「bertindak tidak berdasarkan aturan」), adalah kata yang sama yang dipakai di ayat 6 (oleh ITB diterjemahkan sebagai 「tidak melakukan pekerjaan」), dipakai Paulus untuk menggambarkan saudara yang harus dijauhi oleh orang percaya, pengulangan pemakaian kata yang sama ini adalah ingin menonjolkan tingkah laku yang tidak masuk akal dari orang-orang, dan memperbandingkannya dengan diri sendiri yang bertindak berdasarkan aturan. Dua aspek dari teladan Paulus adalah tidak makan dengan percuma dari makanan orang, dalam bahasa asli adalah makan roti. Tidak peduli apa makanannya, di sini menunjukkan bahwa karena saudara-saudara ini mengambil keuntungan dari orang lain, membuat gereja kehilangan keharmonisan dan kesatuan, maka Paulus menyebutkan teladan dari dirinya sendiri, terlebih lagi menyebutkan ia bersusah payah, sibuk, bekerja siang dan malam, ia di 1 Tes. 2:9 juga pernah mengatakan demikian. Paulus mungkin hanya diam di Tesalonika selama tiga hari Sabat saja (Kis. 17:2), tidak peduli bagaimanapun, ia dan rekan kerja seharusnya tidak bisa tinggal terlalu lama, karena terdapat serangan pengikut Yudaisme yang sangat ekstrim, tetapi mereka semuanya tetap dapat menunjukkan sikap rajin dalam kesulitan, dari pagi sampai malam sekuat tenaga bekerja, dan tujuannya adalah tidak ingin menjadi beban bagi siapapun orang percaya di Tesalonika. Walaupun Paulus memiliki alasan untuk memakai hak, tepat seperti yang pernah disebutkan di 1 Tes. 2:6, namun ia rela merendahkan diri, menjadi teladan bagi orang percaya.

Paulus dan rekan kerjanya mengajarkan kepada kita sebuah kebenaran yang sangat sesuai untuk diaplikasikan, yakni orang tidak hanya membutuhkan pekerjaan, terlebih lagi hendaknya rajin bekerja. Paulus terdapat kecukupan hak dan alasan berhenti bekerja, karena penginjil boleh mendapatkan dukungan kehidupan dari orang yang menerima pengajarannya, seorang pekerja patut mendapat upahnya adalah hal yang tidak bisa dipungkiri dan sudah seharusnya. Paulus walaupun mengetahui ia memiliki hak yang demikian, tetapi ia memilih tidak memakainya. Karena ia tidak ingin menjadi beban satu orangpun di gereja Tesalonika. Paulus adalah seorang pendahulu, ia mengabarkan Injil di ladang yang baru, kemudian baru mendirikan gereja. Paulus tidak ingin orang-orang yang baru meninggalkan berhala asing dan datang di hadapan Allah yang benar, mereka ini baru mengenal kebenaran rohani, lalu menanggung kebutuhan hidup ia dan rekan kerjanya. Kelak ia dari gereja Filipi mendapatkan dukungan kehidupan yang sepatutnya, barulah ia tidak perlu membagi waktunya menenun tenda untuk mempertahankan nafkah hidup. Paulus khusus meninggalkan teladan bagi orang lain, membuat mereka paham bagaimana orang bisa tidak mengeluarkan uang namun bisa mendapatkan kebaikan Injil.

Renungkan: pekerjaan adalah sebuah panggilan, tidak keberatan jika banyak pekerjaan, karena pekerjaan tidak hanya memiliki makna, juga memberikan sangat banyak tantangan dan kegembiraan. Namun, ada orang mungkin akan berkata: 「pekerjaanmu mungkin demikian, tetapi pekerjaanku sangat teratur, butuh mengulang hal yang sama tiada henti, membuat aku sangat bosan.」 Memang terdapat pekerjaan yang demikian, tetapi jawaban Alkitab terhadap keadaan ini: 「segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita」 (Kol. 3:17). Apakah engkau memiliki sikap yang demikian?

2 Tes. 3:6

「Peringatan kepada yang Mengabaikan Pekerjaan」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Tesalonika ditulis oleh 陳耀鵬 (Chén Yào Péng) yang dipublikasi pada bulan Februari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Tes. 3:6 [ITB])
6Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.

Paulus di ayat ini memakai nada perkataan sangat serius untuk memberikan peringatan kepada orang percaya yang bertindak tidak berdasarkan aturan dan tidak menaati pengajarannya. Teguran lain yang serius adalah di 1 Kor. 5:3-4 Paulus atas nama Tuhan Yesus Kristus memberikan teguran kepada orang yang mengambil istri ayahnya sebagai istri! Ini memperlihatkan bagaimana Paulus memberikan perhatian yang sama kepada orang percaya yang tidak mampu memikul tanggung jawab di zaman sekarang, dan juga kepada mereka yang salah memahami kebenaran tentang kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir zaman. Paulus tahu bahwa adalah hal yang sangat penting jika komunitas di gereja saling bertanggung jawab, saling bersandar, masing-masing berusaha memenuhi tugas bagiannya, adil dalam bertindak, orang percaya di Tesalonika yang tidak bersedia bekerja akan merusak keharmonisan dan kestabilan seperti ini.

Tindakan Paulus mengemukakan permasalahan ini kepada keseluruhan saudara-saudara di gereja, tentu saja juga pasti mencakup saudari-saudari, memperlihatkan bahwa disiplin gereja adalah tugas dari seluruh gereja, bukan hanya merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh pemimpin gereja, tetapi adalah hal yang tidak dapat diabaikan oleh keseluruhan anggota gereja. Selain itu, seperti yang Paulus tuliskan di surat mengenai disiplin gereja, ia menekankan bagaimana orang percaya di dalam gereja memperlakukan anggota tubuh yang berbuat kesalahan, Paulus kuatir orang percaya yang lain akan jatuh ke dalam keadaan yang sama, maka di sini ia menyebutkan agar hendaklah menjauhi para pemalas tersebut, yakni mereka yang tidak menaati pengajarannya.

Kita mungkin berpendapat bahwa ini adalah sebuah cara yang kekurangan kasih, bahkan mencurigai apakah orang Kristen membutuhkan reaksi keras berlebihan seperti ini? Bukankah sangat banyak bagian di dalam Alkitab yang mengajar kita hendaknya berbagi dengan orang lain, memperhatikan kebutuhan orang lain dan membantu orang lain menyelesaikan kesulitan? Namun, tingkah laku yang menolak pekerjaan adalah saling bertolak belakang dengan pengajaran Alkitab secara keseluruhan. Kita perlu memperhatikan bagaimana Paulus dengan yakin menuliskan peringatannya: ia adalah atas nama Tuhan Yesus Kristus. Di Injil Yohanes 5:17 Tuhan Yesus berkata 「Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.」 Terlebih lagi Ia memberitakan kebenaran ini di hari Sabat saat orang Yahudi tidak perlu bekerja! Sebelum kejatuhan manusia, Allah sudah menugaskan pekerjaan kepada manusia. Setelah Adam diciptakan, segera harus bekerja ── mengurus taman Firdaus dan memberi nama kepada binatang. Allah sendiri juga adalah pekerja, Dia menciptakan hal yang indah dan ajaib di alam semesta. Karena manusia diciptakan berdasarkan gambar Allah, maka mampu menerima kekuatan dan sumber daya dari Allah untuk bekerja; selain itu pekerjaan bisa membuat orang mendapatkan kepuasan di dalam Allah.

Renungkan: ada yang berpendapat bahwa orang percaya di gereja Tesalonika tidak bersedia bekerja adalah karena mereka berpendapat bahwa Tuhan Yesus akan sangat cepat datang kembali, membuat pengharapan atas kedatangan Tuhan yang kedua kali menjadi ekstrim. Paulus di pasal ini tidak menjelaskan penyebab mereka berhenti bekerja, ia hanya mengatakan sedang menghadapi kenyataan yang membuat ia bersedih hati. Orang-orang percaya mungkin hidup bersama-sama di sebuah komunitas orang Kristen, berbagi pekerjaan, makanan dll, tepat seperti keadaan gereja mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, mungkin terdapat sebagian orang yang hidup dengan cara memperalat kemurahan dan kebaikan hati orang lain. Paulus dengan sangat serius memberikan peringatan kepada mereka, berpesan agar orang yang lainnya hendaklah menjauhi mereka. Apakah kita pernah atau ada memperalat kemurahan dan kebaikan hati orang lain?