Tag Archives: Emosi

Amsal 15:12-24

Hidup bercahaya
Oleh Rev. Dr. Joshua Mak
Alliance Bible Seminary H.K.

(Amsal 15:12-24 [ITB])
12 Si pencemooh tidak suka ditegur orang;
………ia tidak mau pergi kepada orang bijak.
13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,
………tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.
14 Hati orang berpengertian mencari pengetahuan,
………tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.
15 Hari orang berkesusahan buruk semuanya,
………tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.
16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN
………dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.
17 Lebih baik sepiring sayur dengan kasih
………dari pada lembu tambun dengan kebencian.
18 Si pemarah membangkitkan pertengkaran,
………tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.
19 Jalan si pemalas seperti pagar duri,
………tetapi jalan orang jujur adalah rata.
20 Anak yang bijak menggembirakan ayahnya,
………tetapi orang yang bebal menghina ibunya.
21 Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi,
………tetapi orang yang pandai berjalan lurus.
22 Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan,
………tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.
23 Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya,
………dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!
24 Jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas,
………supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah.

Dalam 13 ayat hari ini terdapat beberapa poin khusus. Pertama-tama, dalam ayat 12-15 kita melihat kontras perbandingan emosi, yakni emosi positif meliputi kegembiraan dan bersukacita, sedangkan emosi negatif meliputi kepedihan hati, hati yang berkesusahan, dan kesedihan. Dalam ayat-ayat ini, kata hati bukan saja muncul tiga kali, tetapi juga dijelaskan hubungan hati rohani dengan apa yang tampak di wajah. Hati yang berduka atau gembira tampak di luar, kegembiraan hati membuat muka berseri-seri, (ayat 13). Memang dengan melihat apa yang tampak di wajah seseorang, seseorang dapat mengetahui bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara tepat. Ada orang yang memiliki emosi negatif, selain mengubur jauh di dalam hati, juga meremukkan jiwa (crushes the spirit, NIV), membuat orang hidup menderita merasa pedih dan sedih di dalam hatinya. Yusuf dari Perjanjian Lama, meskipun dia dituduh dan dipenjarakan secara tidak adil, dia justru memberikan perhatian kepada para tahanan di sekitarnya dan berkata, Mengapakah hari ini mukamu semuram itu? (Kejadian 40:7)

Ciri khusus kedua dari perikop ini adalah kemunculan kembali kalimat komparatif lebih baik …, ayat 16-17 mengatakan: Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian. Di sini terdapat perbandingan tiga konsep: lebih atau kurang, kasih dan kebencian, serta sayur dan daging. Orang bijak mencoba memunculkan beberapa paradoks dalam kehidupan nyata, takut akan Tuhan tidak selalu mendatangkan kekayaan, meskipun mungkin ada kekurangan dalam materi, kehadiran penyertaan Tuhan dapat membawa ketenangan pikiran, lebih baik daripada beberapa orang dengan kekayaan tetapi jiwa yang kesal dan kacau. Setelah orang bijak selesai berbicara tentang hubungan dengan Tuhan, dia terus mengarahkan pembaca untuk memikirkan tentang hubungan dengan manusia. Orang bijak menunjukkan bahwa teman yang saling mengasihi juga dapat menikmati makanan sederhana, yang lebih baik dari pada mereka yang saling membenci, saling berkelahi, dan memiliki kebencian. Barangkali orang bijak itu berharap pembaca akan belajar menjadi puas dengan apa yang telah Tuhan berikan. Paulus bersaksi mengatakan: Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. (Filipi 4:12).

Ciri khusus ketiga dari perikop ini adalah pengulangan beberapa kata, seperti jalan, menggembirakan, kehidupan, dll, dan ada struktur engsel (Chiastic) dalam ayat 19-24:
Jalan yang Jujur (ayat 19)
….Sukacita anak yang bijak dan orang yang bebal (ayat 20-21)
………Perencanaan dan merundingkan dengan penasihat (ayat 22)
….Sukacita dalam mengatasi masalah dengan benar (ayat 23)
Jalan kehidupan (ayat 24)

Di sini ditunjukkan dua jalan, adalah perbandingan yang sangat kontras di bagian ini. Bagaimana orang bebal dan orang bijak memilih jalan ke depan. Pilihan mempengaruhi hasil, bagi anak-anak kebijaksanaan, hasil apa yang mereka dapatkan? Ketika mereka berjalan lurus (ayat 21), mereka berjalan di jalan yang menggembirakan jiwa. Kata berjalan ini adalah hasil dari pemahaman reflektif (understanding, NIV), yang didasarkan pada mendengarkan nasihat banyak orang dan merealisasikannya dalam karakter dan kehidupan.

Renungkan:
(1) Yesus berkata: … hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (Lukas 12:15) Apakah Anda bangga dengan apa yang Anda miliki sekarang? Atau apakah Anda berbagi dengan orang lain dengan rendah hati?
(2) Suasana emosi membawa tenaga yang sangat kuat, ketika Anda menghadapi kegagalan atau kesulitan dalam hidup, mohonlah supaya Tuhan memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu (Roma 15:13).


Renungan pemahaman Kitab Amsal

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Amsal 10-22 ditulis oleh Rev. Dr. Joshua Mak (麥耀光 Mài Yào Guāng) dipublikasi pada bulan Juni 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Bilangan 20:10-12

「Memukul bukit batu dan durhaka pemberontak」
Oleh Lài Jiàn Guó (賴建國)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Bil. 20:10-12 [ITB])
10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini? 11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. 12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.

(Penuh amarah) Musa mengangkat tangannya (tinggi di atas kepala), lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya (tidak cukup satu kali) dua kali
(Penuh amarah) Musa mengangkat tangannya (tinggi di atas kepala), lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya (tidak cukup satu kali) dua kali
Gambar ini lebih dapat menunjukkan amarah Musa dan ia mengangkat tangannya tinggi di atas kepala, memukul bukit batu dengan keras (bukan sekedar mengetuk ringan, tetapi memukul)

Banyak yang mempertanyakan: Musa dihukum tidak masuk ke tanah perjanjian hanya karena memukul batu, apakah hukuman ini terlalu berat? Dan Harun tidak melakukan apa-apa, kenapa dia terlibat? Menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini, cara terbaik adalah dengan membiarkan Alkitab berbicara sendiri.

• Latar belakang peristiwa: pada bulan pertama tahun keempat puluh keluar dari Mesir, orang Israel berada di Kadesh, dan Miryam meninggal di sana (Bilangan 21). Ini adalah di awal tahun terakhir orang Israel dihukum karena dosa-dosa mereka dan hidup di padang gurun. Berita kematian Miryam menjadi peringatan bagi generasi pertama yang keluar dari Mesir, waktu yang mereka miliki tidak banyak, hampir habis, dan mereka semua akan mati di padang gurun.

• Sungut-sungut umat itu: orang-orang berkumpul untuk menyerang Musa dan Harun, bersungut-sungut tidak ada air untuk diminum. Mereka dua kali berbicara tentang mati binasa (ayat 3, 4), dan bahkan bertengkar kepada Musa dan Harun mengapa membawa mereka keluar dari Mesir ke tempat celaka yang buruk di padang gurun (ayat 4, 5). Mereka membengkokkan kebenaran, kenyataannya, TUHAN (Yahweh) secara pribadi memimpin mereka keluar dari Mesir, memimpin berjalan di padang gurun.

• Perintah Allah: Dia berkata kepada Musa: Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya (ayat 8)

• Kemarahan Musa: secara perkataan, ia mencela umat itu sebagai orang-orang durhaka (hammōrîm); secara tindakan, ia mengangkat tangannya (wayyārem mōšeh ‘et yādô) lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali. Kemudian, Alkitab mencatat dua kali bahwa TUHAN (Yahweh) menegur Musa dan Harun karena melanggar (mǝrîtem) perintah-Nya, dan mereka berdua adalah durhaka (mǝrîtem) (Bil 20:24, 27:14 memberontak). Ayat 11 Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu …, kata mengangkat tangan yang juga terdapat di Bil. 15:30 (tidak terlihat dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia) lebih digunakan untuk menggambarkan berbuat sesuatu dengan sengaja yakni bertindak arogan memberontak terhadap Allah (Bil. 15:30 terjemahan BIMK dengan sengaja berbuat dosa, dia meremehkan TUHAN atau terjemahan harafiah ESV does anything with a high hand). TUHAN hanya meminta Musa dan Harun untuk berkata kepada bukit batu itu, tetapi Musa tidak menaati Allah dan memukul bukit batu itu dua kali dengan tongkat penuh amarah ia melampiaskannya. (Tambahan penerjemah: bandingkan dengan sungut-sungut umat itu.)

• Pernyataan keputusan terakhir: TUHAN mengatakan bahwa karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan orang Israel, maka mereka berdua dihukum untuk tidak memimpin jemaat masuk ke Tanah Perjanjian (ayat 12).

Dosa Harun adalah tidak melakukan yang seharusnya dilakukan: dia tidak menaati perintah TUHAN untuk memerintahkan bukit batu itu mengeluarkan air, dia juga tidak mengoreksi kesalahan Musa. Dan dosa Musa adalah melakukan yang tidak seharusnya dilakukan: marah dan mencela umat itu sebagai orang-orang durhaka, bahkan mengangkat tangan memukul batu dua kali. (Tambahan penerjemah: bandingkan amarah itu dengan sungut-sungut umat itu.)

Renungkan:
Iman dan perbuatan: ketika TUHAN menilai Abraham adalah bapak orang beriman, dia berkata bahwa Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku (Kej. 26:5). Sebaliknya, Musa yang seharusnya paling mendengarkan taat pada hukum perintah Allah, akhirnya ditegur Allah karena tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka


Renungan pemahaman Kitab Bilangan 1-16

Renungan pemahaman Kitab Bilangan 17-36

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Bilangan 17-36 ditulis oleh Lài Jiàn Guó (賴建國) yang dipublikasi pada bulan Nopember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 4:17-5:2 (2)

「Hidup Menunjukkan Kehidupan Anak-Anak Allah」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 4:17-5:2 [ITB])
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:
Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. 21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. 1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Orang modern sering menekankan perlu menghidupi jati diri menjadi diri sendiri, menolak untuk memenuhi tuntutan moral tradisi atau dari orang lain, dan hidup hanya berdasarkan preferensi pribadi dan pemikiran ide diri sendiri. Mereka mengklaim bahwa alam memiliki sifat logis, masuk akal dan baik, bahkan suci.

Ajaran Alkitab adalah justru sebaliknya. Paulus menunjukkan bahwa apa yang kita taati dan ikuti sebelum percaya Tuhan Yesus adalah kehidupan yang sia-sia dari hati yang sia-sia. Keinginan / nafsu daging adalah sifat alamiah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, bukan sifat alamiah yang dirancang oleh Allah dalam penciptaan. Oleh karena itu, hidup yang menaati dan mengikuti dosa bukan merupakan hidup yang alami; Hanya ketika mendapatkan kembali kehidupan dari Allah, menjalani kehidupan baru (dengan gaya hidupnya yang baru), barulah merupakan hidup alami, menghidupi saya yang sejati.

Manusia lama 「yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan」 (Ef. 4:22); sebaliknya manusia baru 「yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (gambar Allah) di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」. Manusia baru adalah manusia yang seperti aslinya saat penciptaan, sedangkan manusia lama yang secara kronologi waktu adalah terkemudian yang secara bertahap menjadi buruk.

「Dibaharui di dalam roh dan pikiranmu」 (Ef. 4:23), di sini 「pikiran」 adalah tidak hanya pikiran dan tekad, tetapi 「manusia bagian dalam」, atau saya yang sejati, atau kehidupan nyata. Paulus dalam surat 2 Korintus secara rinci menjelaskan perbedaan antara manusia bagian dalam dan yang luar. Hidup kita telah dibaharui, dan tindakan lahiriah dan kehidupan juga harus berubah.

Kehidupan baru dapat disimpulkan sebagai sebuah kalimat: ada integritas dan kekudusan yang bersumber keluar dari kebenaran. Bagaimana bentuk nyata manifestasinya?

Paulus menyebutkan empat tuntutan dalam aspek perilaku:

Pertama, adalah tidak berdusta, tetapi hanya mengatakan apa yang benar (Ef. 4:25). Dusta adalah palsu, kosong, sia-sia. Dahulu kita ada dalam hidup yang sia-sia dan palsu, tetapi sekarang karena kebenaran maka hidup dalam kehidupan yang benar, nyata dan sejati; kejujuran saling terkait dengan benar, nyata dan sejati. Secara khusus ditekankan keharusan berbicara jujur terutama diantara orang Kristen, tidak ada ruang kemunafikan antara anggota badan.

Kedua, adalah kontrol emosi (Ef. 4:26). Manusia yang sejati pasti memiliki emosi yang sejati, setiap orang memiliki emosi; Alkitab tidak menuntut kita membebaskan diri dari semua perasaan emosi, dan menjadi manusia tanpa sukacita, tanpa kesedihan, tanpa rasa putus asa. Tetapi meminta kita untuk memperhatikan dua hal ini saat dalam amarah: jangan overdosis (berlebihan), melakukan tindakan berdosa; juga secara waktu jangan terlalu lama, misal menyimpan dendam kemarahan kepada orang lain. Mengapa jangan overdosis dan jangan terlalu lama? Karena itu mudah memberikan kesempatan kepada iblis untuk memikat kita berbuat dosa.
Kemarahan itu sendiri bukanlah terhitung dosa, tetapi kemarahan adalah sering menjadi kesempatan bagi dosa kejahatan. Datang kemarahan kemudian lupa menjadi manusia sejati yang benar, lupa hidup kudus, tidak lagi memiliki 「kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」 (Ef. 4:24)

Ketiga adalah bekerja keras, mandiri mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri, tidak lagi hidup bergantung pada orang lain, dan tidak melalui tindakan ilegal untuk mendapatkan kebutuhan penopang hidup (Ef. 4:28). Paulus mengharapkan bahwa kita tidak hanya tidak mengeksploitasi hasil kerja keras orang lain, bahkan kita memiliki kekuatan lebih berbagi buah kerja keras kita dengan orang lain. Kehidupan yang menarik diri dari masyarakat bukanlah bentuk kehidupan yang Allah kehendaki. Hal ini bukan dilihat dari manfaat ekonomi masyarakat manusia, tetapi dari perspektif bahwa semua orang telah menerima kasih karunia dan anugerah dari Tuhan. Hidup adalah untuk disempurnakan, menyia-nyiakan hidup adalah perilaku boros.

Keempat adalah menahan mulut, mencakup dua hal: tidak berbicara kata-kata kotor, dan tidak mengucapkan kata-kata negatif yang merusak. Tidak berkata kotor mudah dimengerti, kata-kata mencerminkan bagian dalam hati, rohani pikiran yang bersih tidak akan mengatakan kata-kata kotor. Tidak mengatakan kata-kata negatif juga didasarkan pada kebenaran yang sama, orang yang menghormati kehidupan dan berusaha sekuat tenaga untuk pemenuhan orang lain tidak akan menyakiti orang lain dengan kata-kata. Tetapi 「pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.」 Dalam dunia hari ini yang penuh bahasa kekerasan dan kritik menghancurkan, ajaran ini adalah nasihat yang benar-benar memberikan peringatan yang membangunkan kita dari tidur.

Setelah empat tuntutan perilaku, Paulus selanjutnya memberikan tiga ajaran yang lebih umum, bersifat prinsip:

Pertama, adalah jangan mendukakan Roh Kudus yang melindungi kita. Dalam pasal 1, Paulus menunjukkan bahwa kita adalah pekerjaan Allah, dari dipilih sampai dipisahkan, diberikan hak menjadi anak-anak, sampai penebusan keselamatan, bertujuan membuat kita menjadi bagian dari rencana Kristus. Identitas dan misi telah kita peroleh, tapi belum sepenuhnya. Kita menunggu hari penyelamatan diwujudkan, Roh Kudus menjadi bukti sebelum kita sepenuhnya mendapatkannya, dan jaminan bahwa kita pada akhirnya akan mendapatkannya (Ef. 1:14). Di sini Paulus mengulangi perkataan pasal 1 dan mengingatkan orang percaya lagi, 「telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.」 (Ef. 4:30)

Kedua, adalah hapus semua pikiran dan tindakan yang merusak komunitas. 「Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.」 Patut diperhatikan bahwa kejahatan yang disebutkan di sini memiliki karakteristik umum yakni menyebabkan kerusakan tubuh Kristus, adalah mengikuti tema pasal 4 dan juga topik yang ada di seluruh surat Efesus adalah tentang Gereja.

Ketiga, adalah menjadi penurut Allah. Bagaimana seorang ayah pasti juga bagaimana sang anak, karena Tuhan adalah Bapa Surgawi kita, kita harus belajar untuk meneladani Allah. Ini mencakup dua tuntutan: satu adalah untuk mengampuni dosa orang lain dengan rahmat, sama seperti Bapa mengampuni dosa-dosa kita; Yang kedua adalah untuk memperlakukan orang dengan kasih, berkorban bagi orang lain. Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita; Tuhan menyerahkan nyawa-Nya berkorban bagi kita, dan kita patut berkorban nyawa bagi saudara.

Renungkan:

1. Karena isi dari perikop ini sangat kaya, kita bisa mendapatkan apa yang sesuai keadaan kita, apa yang menyentuh hati kita, atau yang paling mengena pada situasi diri kita sendiri, renungkan dan buatlah respon secara pribadi. Sebagai contoh, tidak berbohong, kontrol emosi, kerja keras dan menjaga kata-kata, manakah salah satu dari empat ini yang Anda paling perlukan?

2. Apakah pendapat Anda tentang tidak mendukakan Roh Kudus?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.