「Pengharapan dalam Perjanjian」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ulangan 30:1-6 [ITB])
1 「Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, 2 dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
3 maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau.
Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. 4 Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun TUHAN, Allahmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau.
5 TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula.
Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu.
6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup」
Kemarin, telah ditunjukkan bahwa Ratapan Yeremia mengidentifikasi penderitaan langsung sebagai kutukan seperti yang ditentukan dalam perjanjian, menunjukkan bahwa alasan mengapa orang Israel ditawan adalah karena mereka melanggar hukum dan ketetapan Allah, sehingga akhirnya TUHAN (Yahweh) menggunakan Babilon untuk menawan umat-Nya. Akan tetapi, teologi perjanjian tidak hanya berhenti sampai di situ, jika tidak maka orang Israel akan hidup dalam keputusasaan. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian bukan hanya penjelasan teologis atas penderitaan, atau hanya penjelasan atas sebuah peristiwa yang sudah terjadi. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian mengandung unsur-unsur pertobatan dan pengakuan dosa (Ul. 30:1-6), sehingga orang Israel yang masih ditawan dalam pengasingan dapat memiliki kemungkinan untuk bertobat, dan agar mereka memiliki harapan untuk mengubah kutukan menjadi berkat. Dan yang paling penting, ratapan Yeremia percaya pada harapan perjanjian ini (Ratapan 3:19-27, klik untuk membaca).
Ulangan 30:1-6 mengilustrasikan janji penting Allah dalam perjanjian, yakni bahwa ketika orang Israel ditawan ke pengasingan, dalam keadaan mengalami kutuk mereka akan mengingat keadaan masa lalu yang diberkati, mengingat janji berkat dalam klausa perjanjian (Ulangan 28:1-14, klik untuk membaca), dan mereka bersedia untuk kembali kepada TUHAN (Yahweh) Allah mereka dengan segenap hati dan jiwa, serta bersedia untuk bertobat dan mengakui dosa-dosa mereka. Allah berjanji kepada mereka bahwa bahkan jika mereka terserak sampai di ujung dunia, Allah pasti akan dapat mengumpulkan kembali mereka, dan kembali ke Yerusalem, sehingga mereka sekali lagi memperoleh tanah Kanaan sebagai warisan mereka. Dengan demikian, pengakuan dosa dan penyesalan menjadi syarat untuk mengubah kutuk menjadi berkat, syarat ini bukan untung-untungan, tetapi janji TUHAN kepada umat-Nya, yang mendefinisikan harapan dalam penderitaan (definisi: artinya ada kepastian). Ternyata harapan sejati bukanlah tentang kesombongan kepercayaan diri, mengubah kutukan dengan kekuatan sendiri, harapan sejati datang dari pengakuan dosa dalam kerendahan hati, mengakui bahwa hakikat diri kita telah berdosa terhadap Allah, dan dalam kenyataan ini melihat janji agung dari TUHAN (Yahweh). Sehingga berkat yang akan kita dapatkan di masa yang akan datang bukanlah karena kemampuan diri kita sendiri, melainkan anugerah dan pemberian dalam kedaulatan Allah. Dengan demikian, harapan yang didefinisikan dalam ketentuan perjanjian memungkinkan umat Allah untuk kembali ke kemanusiaan yang sesungguhnya, yakni kemanusiaan yang takut akan Allah dan yang menjauh dari kejahatan. Itu juga kemanusiaan yang tidak berani sombong dan memandang diri mampu di hadapan Allah, yaitu kemanusiaan yang bertobat mengaku dosa dengan rendah hati. Inilah yang menjadi inti iman orang Israel, itulah yang menjadi definisi dari integritas keutuhan diri mereka.
Yeremia percaya pada janji terkait pertobatan pengakuan dosa dalam Perjanjian yang didefinisikan dalam Ulangan, dan penyair Ratapan percaya pada kesetiaan Allah terhadap Perjanjian ini (Ratapan 3:22-23, 「Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!」), jadi penyair Ratapan menengadahkan kepala berharap kepada Allah (Ratapan 3:24-25, 「TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia」), penyair Ratapan bersedia untuk mengakui dosa-dosanya dan bertobat (Ratapan 3:40 「Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN」), dan percaya bahwa sesuatu yang baru akan datang setiap pagi (Ratapan 3:23), yaitu hal-hal yang mengubah kutukan menjadi berkat pasti akan datang, ini bukan ilusi pengagum kehebatan diri, tetapi kebenaran dari janji TUHAN (Yahweh).
Renungkan:
Sifat manusia adalah menolak untuk mengaku dosa, tidak menganggap diri sendiri sebagai orang berdosa, atau untuk tidak memandang dosa seperti yang didefinisikan oleh Allah. Orang akan mengarang alasan untuk diri mereka sendiri dan menggambarkan dosa sebagai sesuatu lain yang bisa dimaklumi. Singkatnya, orang selalu menolak untuk mengakui hakikat diri. Janji dalam Ulangan 30:1-6 menyampaikan sesuatu yang menjungkirbalikkan apa yang diyakini manusia, ini memutarbalikkan pemahaman kita tentang berkat, manusia percaya bahwa berkat datang dari upaya dan kualifikasi kemampuan kita sendiri, dan kita harus meningkatkan nilai diri untuk mendapatkannya, namun ternyata berkat-berkat yang datang dari Allah membutuhkan kerendahan hati dan pertobatan penyesalan atas dosa. Ketika seseorang mengenali hakikat diri yang sebenarnya dari manusia yang berdosa, matanya dapat terbuka, memahami bahwa semua materi dan damai bukan datang karena sudah seharusnya, jika tidak ada perjanjian dan janji Allah, semua ini adalah tidak ada. Apakah Anda bersedia untuk bertobat dari dosa-dosa Anda, menganggap Allah sebagai Allah, menganggap manusia sebagai manusia, percaya bahwa janji Allah atas harapan ini tidak pernah berubah? Apakah Anda bersedia untuk bertobat di bawah disiplin didikan Tuhan?
Renungan pemahaman Kitab Ratapan
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.