Tag Archives: Kebohongan

Efesus 4:17-5:2 (2)

「Hidup Menunjukkan Kehidupan Anak-Anak Allah」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 4:17-5:2 [ITB])
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:
Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. 21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. 1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Orang modern sering menekankan perlu menghidupi jati diri menjadi diri sendiri, menolak untuk memenuhi tuntutan moral tradisi atau dari orang lain, dan hidup hanya berdasarkan preferensi pribadi dan pemikiran ide diri sendiri. Mereka mengklaim bahwa alam memiliki sifat logis, masuk akal dan baik, bahkan suci.

Ajaran Alkitab adalah justru sebaliknya. Paulus menunjukkan bahwa apa yang kita taati dan ikuti sebelum percaya Tuhan Yesus adalah kehidupan yang sia-sia dari hati yang sia-sia. Keinginan / nafsu daging adalah sifat alamiah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, bukan sifat alamiah yang dirancang oleh Allah dalam penciptaan. Oleh karena itu, hidup yang menaati dan mengikuti dosa bukan merupakan hidup yang alami; Hanya ketika mendapatkan kembali kehidupan dari Allah, menjalani kehidupan baru (dengan gaya hidupnya yang baru), barulah merupakan hidup alami, menghidupi saya yang sejati.

Manusia lama 「yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan」 (Ef. 4:22); sebaliknya manusia baru 「yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (gambar Allah) di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」. Manusia baru adalah manusia yang seperti aslinya saat penciptaan, sedangkan manusia lama yang secara kronologi waktu adalah terkemudian yang secara bertahap menjadi buruk.

「Dibaharui di dalam roh dan pikiranmu」 (Ef. 4:23), di sini 「pikiran」 adalah tidak hanya pikiran dan tekad, tetapi 「manusia bagian dalam」, atau saya yang sejati, atau kehidupan nyata. Paulus dalam surat 2 Korintus secara rinci menjelaskan perbedaan antara manusia bagian dalam dan yang luar. Hidup kita telah dibaharui, dan tindakan lahiriah dan kehidupan juga harus berubah.

Kehidupan baru dapat disimpulkan sebagai sebuah kalimat: ada integritas dan kekudusan yang bersumber keluar dari kebenaran. Bagaimana bentuk nyata manifestasinya?

Paulus menyebutkan empat tuntutan dalam aspek perilaku:

Pertama, adalah tidak berdusta, tetapi hanya mengatakan apa yang benar (Ef. 4:25). Dusta adalah palsu, kosong, sia-sia. Dahulu kita ada dalam hidup yang sia-sia dan palsu, tetapi sekarang karena kebenaran maka hidup dalam kehidupan yang benar, nyata dan sejati; kejujuran saling terkait dengan benar, nyata dan sejati. Secara khusus ditekankan keharusan berbicara jujur terutama diantara orang Kristen, tidak ada ruang kemunafikan antara anggota badan.

Kedua, adalah kontrol emosi (Ef. 4:26). Manusia yang sejati pasti memiliki emosi yang sejati, setiap orang memiliki emosi; Alkitab tidak menuntut kita membebaskan diri dari semua perasaan emosi, dan menjadi manusia tanpa sukacita, tanpa kesedihan, tanpa rasa putus asa. Tetapi meminta kita untuk memperhatikan dua hal ini saat dalam amarah: jangan overdosis (berlebihan), melakukan tindakan berdosa; juga secara waktu jangan terlalu lama, misal menyimpan dendam kemarahan kepada orang lain. Mengapa jangan overdosis dan jangan terlalu lama? Karena itu mudah memberikan kesempatan kepada iblis untuk memikat kita berbuat dosa.
Kemarahan itu sendiri bukanlah terhitung dosa, tetapi kemarahan adalah sering menjadi kesempatan bagi dosa kejahatan. Datang kemarahan kemudian lupa menjadi manusia sejati yang benar, lupa hidup kudus, tidak lagi memiliki 「kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya」 (Ef. 4:24)

Ketiga adalah bekerja keras, mandiri mencukupi kebutuhan hidup diri sendiri, tidak lagi hidup bergantung pada orang lain, dan tidak melalui tindakan ilegal untuk mendapatkan kebutuhan penopang hidup (Ef. 4:28). Paulus mengharapkan bahwa kita tidak hanya tidak mengeksploitasi hasil kerja keras orang lain, bahkan kita memiliki kekuatan lebih berbagi buah kerja keras kita dengan orang lain. Kehidupan yang menarik diri dari masyarakat bukanlah bentuk kehidupan yang Allah kehendaki. Hal ini bukan dilihat dari manfaat ekonomi masyarakat manusia, tetapi dari perspektif bahwa semua orang telah menerima kasih karunia dan anugerah dari Tuhan. Hidup adalah untuk disempurnakan, menyia-nyiakan hidup adalah perilaku boros.

Keempat adalah menahan mulut, mencakup dua hal: tidak berbicara kata-kata kotor, dan tidak mengucapkan kata-kata negatif yang merusak. Tidak berkata kotor mudah dimengerti, kata-kata mencerminkan bagian dalam hati, rohani pikiran yang bersih tidak akan mengatakan kata-kata kotor. Tidak mengatakan kata-kata negatif juga didasarkan pada kebenaran yang sama, orang yang menghormati kehidupan dan berusaha sekuat tenaga untuk pemenuhan orang lain tidak akan menyakiti orang lain dengan kata-kata. Tetapi 「pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.」 Dalam dunia hari ini yang penuh bahasa kekerasan dan kritik menghancurkan, ajaran ini adalah nasihat yang benar-benar memberikan peringatan yang membangunkan kita dari tidur.

Setelah empat tuntutan perilaku, Paulus selanjutnya memberikan tiga ajaran yang lebih umum, bersifat prinsip:

Pertama, adalah jangan mendukakan Roh Kudus yang melindungi kita. Dalam pasal 1, Paulus menunjukkan bahwa kita adalah pekerjaan Allah, dari dipilih sampai dipisahkan, diberikan hak menjadi anak-anak, sampai penebusan keselamatan, bertujuan membuat kita menjadi bagian dari rencana Kristus. Identitas dan misi telah kita peroleh, tapi belum sepenuhnya. Kita menunggu hari penyelamatan diwujudkan, Roh Kudus menjadi bukti sebelum kita sepenuhnya mendapatkannya, dan jaminan bahwa kita pada akhirnya akan mendapatkannya (Ef. 1:14). Di sini Paulus mengulangi perkataan pasal 1 dan mengingatkan orang percaya lagi, 「telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.」 (Ef. 4:30)

Kedua, adalah hapus semua pikiran dan tindakan yang merusak komunitas. 「Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.」 Patut diperhatikan bahwa kejahatan yang disebutkan di sini memiliki karakteristik umum yakni menyebabkan kerusakan tubuh Kristus, adalah mengikuti tema pasal 4 dan juga topik yang ada di seluruh surat Efesus adalah tentang Gereja.

Ketiga, adalah menjadi penurut Allah. Bagaimana seorang ayah pasti juga bagaimana sang anak, karena Tuhan adalah Bapa Surgawi kita, kita harus belajar untuk meneladani Allah. Ini mencakup dua tuntutan: satu adalah untuk mengampuni dosa orang lain dengan rahmat, sama seperti Bapa mengampuni dosa-dosa kita; Yang kedua adalah untuk memperlakukan orang dengan kasih, berkorban bagi orang lain. Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita; Tuhan menyerahkan nyawa-Nya berkorban bagi kita, dan kita patut berkorban nyawa bagi saudara.

Renungkan:

1. Karena isi dari perikop ini sangat kaya, kita bisa mendapatkan apa yang sesuai keadaan kita, apa yang menyentuh hati kita, atau yang paling mengena pada situasi diri kita sendiri, renungkan dan buatlah respon secara pribadi. Sebagai contoh, tidak berbohong, kontrol emosi, kerja keras dan menjaga kata-kata, manakah salah satu dari empat ini yang Anda paling perlukan?

2. Apakah pendapat Anda tentang tidak mendukakan Roh Kudus?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Mazmur 120:1-4

Panggilan yang 「Murni dan Lurus」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 120:1-4 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku: 2「Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.」
3Apakah yang diberikan kepadamu dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu? 4Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar.

Mazmur mulai dari pasal 120 sampai pasal 134 disebut sebagai 「Mazmur Perjalanan Naik」 (atau 「Mazmur Ziarah」). Ke 15 Mazmur ini sangat mungkin adalah Mazmur Pujian yang sesuai urutan dinyanyikan oleh umat Ibrani dalam perjalanan menuju ke Yerusalem pada beberapa hari besar perayaan orang Yahudi. Yerusalem adalah sebuah kota yang secara geografis berada di tempat yang paling tinggi di Palestina, oleh karena itu, para peziarah yang datang dari berbagai penjuru, sebagian besar waktu mereka harus berjalan pada jalan di atas gunung. Kemudian, kata 「Perjalanan Naik」 bukanlah semata-mata hanya makna harafiah, pada saat yang sama dapat dikatakan sebuah metafora (lukisan yg berdasarkan persamaan atau perbandingan) ─ perjalanan menuju ke Yerusalem, seperti umat beriman menghidupi kehidupan yang terarah menuju kepada Allah, saat mereka mengangkat kepala melebarkan langkah, saat menuju kedewasaan, mereka hendak terlebih lagi mendekati Allah. 「Mazmur Perjalanan Naik」─ mengingatkan kita: sebagai pengikut Allah, tidak peduli di dalam keadaan apapun, jangan lupa identitas diri sendiri, dan juga hendak mengingat dengan erat arah hendak kita tuju.

Sebagai mazmur pujian pertama dari 「Mazmur Ziarah」, yang digambarkan pasal 120, pasti bukan selembar gambaran para penyembah berziarah dalam sukaria. Pemazmur memakai 「kesesakan」 (ayat 1) sebagai pembukaan, dan memakai 「perdamaian」 sebagai penutup akhir (Maz. 120:7), dengan demikian telah membuktikan mazmur ini bukanlah sebuah lagu gembira, tetapi adalah selembar potret kenyataan yang realistik dan mendesak.

Dalam ayat 2-4, Pemazmur hendak kita terlebih dahulu menyadari, adalah sebuah kenyataan tidak dapat dihindari ─ kita terus menerus hidup di dalam 「kebohongan」 dan 「penipuan」. bagaimana memahami peringatan dari Pemazmur?

Konteks sebelumnya dari pasal 120, dalam Maz. 119:45, 96 memberitahukan kepada kita: Firman perkataan Allah mampu memberikan kepada manusia pembebasan, segala hal semuanya ada batasannya tetapi perintah Allah sebaliknya sangat luas lebar. Dan Firman perkataan Allah mampu membuat orang mendapatkan pelepasan, pada saat menikmati kebebasan, Mazmur 120 justru memberikan kepada kita sebuah kontras yang sangat kuat ─ perkataan manusia mampu membuat manusia terjerumus ke dalam penderitaan, berjalan masuk kesulitan, bahkan jatuh masuk ke dalam jerat dosa kejahatan, dan ini 「kesesakan」 yang benar-benar Pemazmur katakan: dua jalan ada di depan, sebenarnya bagaimana seharusnya kita memilih?

Ayat 4, Pemazmur memakai 「Panah-panah yang tajam dari pahlawan」 dan 「bara kayu arar」 untuk menggambarkan 「lidah penipu」. Pemazmur hendak kita mengerti: 「anak panah」 begitu dilepaskan, sangat sulit ditarik kembali, dan ciri khusus pohon arar adalah mudah terbakar, dan juga lama tidak padam, artinya: perkataan 「kebohongan」 dan 「penipuan」 sama seperti 「panah yang tajam」 dan 「bara api」, dapat dengan cepat menyebar, dan juga membawakan pengaruh yang bertahan lama serta jauh mendalam.

Di bagian pembukaan 「Mazmur Ziarah」, Pemazmur di satu sisi membeberkan tantangan keadaan nyata, tetapi di sisi yang lain, di titik awal perjalanan sudah memberikan peringatan yang demikian ini kepada para peziarah, meminta kita waspada, juga meminta kita mengetahui bagaimana melanjutkan perjalanan.

Renungkan: di dalam 「perjalanan ziarah」, apa yang hendak kita lakukan? Mungkin kita tidak bisa menghindari tantangan di dalam kehidupan nyata, hanya saja apakah kita mampu menghindari 「berkata bohong」 dan 「menipu」, dan juga bersandar pada perkataan Allah yang berharga untuk menjaga 「integritas」 diri di perjalanan, untuk melawan ketidakadilan dan kefasikan pada saat terjadi?