Tag Archives: hamba yang menderita

Filipi 2:25-30

Proses pertumbuhan kehidupan yang menular

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 2:25-30 [ITB])
25 Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. 26 Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit. 27 Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah. 28 Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku. 29 Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia. 30 Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.

Pertumbuhan hidup adalah proses saling menular yang timbal balik. Sifat menular ini bukan seperti penyebaran virus atau bakteri secara alami secara pasif, juga bukan pengetahuan yang dihafal mati, tetapi model relasi yang membawakan ide dan gambaran yang dapat terbayang dalam benak. Ketika Paulus selesai memperkenalkan Timotius anak rohaninya, ia beralih berbicara tentang Epafroditus yang adalah orang sendiri jemaat Filipi, salah satu dari antara jemaat Filipi. Epafroditus diutus oleh gereja Filipi untuk membantu keperluan Paulus. Namun, Epafroditus sakit dan bahkan hampir mati. Dari suatu sudut pandang, ia yang seharusnya mendukung Paulus, Epafroditus sekarang justru membebani, gereja Filipi mengutus dia untuk mendukung Paulus, tapi ia tampaknya malahan menambah beban dan menambahkan kekhawatiran Paulus. Ya, dia juga tidak ingin sakit, semestinya bukan salah dia? Jika menilainya dari perspektif kerja yang efektif, kinerjanya benar-benar tidak kompeten, lain kali, mungkin harus mengirim orang lain, jangan mengirim dia?

Namun, Paulus memiliki pandangan yang berbeda. Dia berkata: sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia (Flp. 2:29). Implikasinya, dia adalah teladan bagi jemaat Filipi. Berdasarkan perkataan Paulus, bahkan dukungan jemaat Filipi yang tidak cukup kepada Paulus, sudah dicukupkan oleh Epafroditus! Bagaimana bisa? Epafroditus yang diutus oleh gereja Filipi, bagaimana bisa melengkapi dukungan gereja Filipi yang tidak mencukupi? Apakah Epafroditus bukan hanya menyumbangkan tenaga, tetapi juga menyediakan uangnya sendiri?

Paulus mengalami dicukupkan ini, adalah karena Epafroditus datang untuk mempertaruhkan nyawanya melayani Kristus dan Paulus. Dia adalah saudara, rekan kerja dan rekan perjuangan Paulus (τὸν ἀδελφὸν καὶ συνεργὸν καὶ συστρατιώτην μου / ton adelphon kai synergon kai systratiōtēn soldier mou). Dapat dikatakan, Epafroditus memenuhi tiga tingkat harapan Paulus: bukan saja saudara di dalam Tuhan, tetapi juga seorang rekan kerja di dalam Tuhan, dan bahkan seorang kawan seperjuangan yang berjuang dengan gagah berani sampai akhir. Bagaimana menjelaskannya? Penyakit Epafroditus tentu saja penting diperhatikan, tetapi dalam surat ini titik fokus narasi tulisan Paulus adalah bagaimana seharusnya memahami makna sakitnya Epafroditus: ia sakit, hampir mati (παραπλήσιον θανάτῳ paraplēsion thanatō); mempertaruhkan hidupnya, nyaris mati (μέχρι θανάτου / mechri thanatou). Dalam perikop pendek ini, Paulus mengulangi dua kali untuk menggambarkan Epafroditus nyaris (mendekati) kematian, sebagai ciri khas demi pekerjaan Kristus (τὸ ἔργον Χριστοῦ / to ergon Christou).

Sebenarnya kedua nyaris mati ini, tidak hanya untuk menggerakkan hati jemaat Filipi, bukan demi membuat suasana terlihat lebih dramatis. Surat Filipi adalah tulisan yang berbicara tentang orang percaya dan hamba Tuhan menghadapi penderitaan dan bahkan kematian bagi Kristus. Ketika beberapa orang sedang mengajarkan Injil tidak perlu menderita, dan Epafroditus telah memimpin untuk bergabung dengan barisan Paulus, melalui Kristus menembus ancaman kematian, dan melayani dengan kerelaan hati. Dibandingkan dengan Timotius, daya menular Epafroditus memang lebih besar, karena dia adalah orang sendiri jemaat Filipi, salah satu dari antara mereka. Kita sepertinya mendengar suara orang-orang percaya di Filipi: Seandainya Epafroditus bisa, kita juga harus bisa! Inilah alasan orang-orang percaya Filipi menghormati Epafroditus. Rasa hormat ini bukan karena sopan santun basa basi, tapi karena ia menghidupi teologi Kristus setia sampai mati. Sakitnya Epafroditus, menyatakan sesuatu yang dilihat orang sepertinya kegagalan, tetapi sebenarnya kisah yang menyatakan Kristus yang ditinggikan. (Lihat teladan Kristus dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama Flp. 2:8-9)

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9)

Renungkan:
• Apakah menurut Anda ada kesulitan untuk nyaris mati bagi Kristus?
• Mengacu pada kesaksian Epafroditus, apakah Anda terpikir pengalaman beberapa saudara-saudari lain keadaan hidup yang tidak berjalan dengan baik, lemah atau tampaknya gagal yang menjadi kesaksian? Apakah Anda setuju pengalaman mereka? Apakah dapat melihat kuasa Kristus di dalam pengalaman mereka? Mengapa?
• Menurut Anda apa perbedaan Saudara dan saudari yang pernah nyaris mati bagi Kristus, dan orang percaya yang belum memiliki pengalaman ini?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 2:15b-24

Cahaya terang bersinar vs. meningkatnya ketidakadilan

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 2:15b-24 [ITB])
15b
sehingga kamu bercahaya di antara mereka
………seperti bintang-bintang di dunia,
16 sambil berpegang pada firman kehidupan,
agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. 17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.
19 Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. 20 Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; 21 sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus. 22 Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya. 23 Dialah yang kuharap untuk kukirimkan dengan segera, sesudah jelas bagiku bagaimana jalannya perkaraku; 24 tetapi dalam Tuhan aku percaya, bahwa aku sendiripun akan segera datang.

Semuanya mencari kepentingannya sendiri, siapa yang dimaksudkan? Paulus menulis surat ini kepada gereja di Filipi, tidak memakai perilaku orang yang tidak mengenal Tuhan untuk mengingatkan mereka. Mencari kepentingannya sendiri adalah kebalikan dari mencari kepentingan Yesus Kristus. Mulut yang tampaknya mengatakan percaya kepada Yesus, namun tidak mencari kepentingan Yesus Kristus. Situasi Paulus tampaknya cukup sendirian. Walau saudara-saudari di Roma sebagian besar memandang ia dipenjarakan adalah berdasarkan rencana Kristus, sehingga lebih dan lebih berani tanpa takut untuk memberitakan Injil (Flp. 1:2-14), tetapi Paulus rasa ketersendirian nampak dalam tulisan tangannya. Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu (Flp. 2:20). Berdasarkan logika umum, dalam keadaan adanya perselisihan pendapat tentang mengenali pimpinan Tuhan dan ia perlu mendorong orang percaya lainnya untuk mengikutinya, Paulus pasti menghadapi tekanan psikologis yang sangat besar, tetapi Paulus tampaknya telah melampaui logika umum, karena hubungannya dengan Kristus tampaknya telah sampai taraf melampaui segalanya. Seorang yang tidak memiliki hati yang bersih, bagaimana bisa mengatakan kalimat yang demikian? Jika tidak memiliki hati yang sepenuh mencintai jemaat Filipi, bagaimana menempatkan hati pikirannya sebagai tolok ukur apakah orang lain benar-benar diperhatikan? Ketika pemimpin orang percaya Yahudi memakai pemahaman mereka sendiri tentang Injil Kabar Gembira untuk prihatin atas orang percaya di Filipi, menyarankan bahwa orang percaya tidak boleh menderita demi Injil, niat baik mereka ternyata mencari kepentingannya sendiri, bukan untuk mencari kepentingan Yesus Kristus (Flp. 2:21).

Paulus berkata, Timotius kesetiaannya telah teruji, karena dia dan Paulus memiliki pandangan dan kepercayaan yang sama dalam hal melayani Injil. Bagi Paulus, Timotius memperlakukannya seperti seorang anak terhadap ayahnya, ini benar-benar gambaran yang indah. Ketika tidak ada orang lain yang satu hati dengan Paulus, sangat bersyukur bahwa Paulus memiliki seorang putra rohani yang menjadi dorongan bagi dia. Dalam menghadapi segala macam penindasan, motivasi Paulus untuk pelayanan tidak berasal dari perselisihan dengan orang lain, menang atas orang lain bukanlah sumber sukacitanya, di sisi lain, ia juga tidak membiarkan mentalitas korban (playing victim) memimpin psikologi dirinya, memakai penderitaannya sebagai alat pemerasan emosional terhadap jemaat Filipi demi kepentingan diri sendiri. Bagaimana Paulus bisa benar-benar memiliki hati yang begitu murni? Ini bukan hanya pertanyaan orang percaya di Filipi, tetapi juga pertanyaan Anda dan saya: bertanya kepada Paulus dua ribu tahun yang lalu, bertanya pada diri kita hari ini.

Firman Allah adalah cahaya terang bagi kita. Kepastian Paulus berasal dari manifestasi tindakan keselamatan Allah, terutama bagaimana Paulus melihat makna / pemahaman baru dari ayat-ayat Perjanjian Lama. Setelah meninjau beberapa bahan ajaran negatif pemberontakan masa lalu Israel dan mereka mencobai Allah」 (lihat renungan kemarin, Paulus merujuk kepada Kitab Keluaran dan Ulangan), Paulus merujuk lagi Kitab Daniel 12:3, ia memakai pengajaran positif dalam sejarah Israel, kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan (Flp. 2:15-16a), sebenarnya dikutip dari Kitab Daniel dalam Septuaginta terjemahan OG: orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya. Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, namun kefasikan akan bertambah (Daniel 12:3-4) dalam menghadapi penindasan intens raja Seleukia Antiokhus IV, orang Israel mengalami krisis iman dan krisis identitas terbesar yang pernah ada (Dan. 12:1), dan bahkan imam besar Jason juga murtad mendorong Israel meninggalkan Hukum Musa (lihat literatur sejarah 2 Makabe 4:7-10), dan sejak itu mengakui dewa Yunani Zeus sebagai allah. Untuk menghindari penderitaan, sekelompok orang yang mengkhianati Perjanjian Kudus(Dan. 11:30) memilih untuk mengikuti rencana Helenisasi budaya Yunani dari raja Antiokhus IV. Bukan pengetahuan tetapi kefasikan (Dan. 12:4) terus tumbuh seperti ini.

Namun, ternyata ada kelompok orang bijaksana lain yang rela menderita bagi Allah (Dan. 11:32-35), meski menghadapi ancaman maut, mereka tetap bertahan sampai akhir. Wahyu bahwa setelah kematian, pasti ada hidup yang kekal, pasti ada penghakiman, dan pasti ada pembenaran, dalam hal ini pertama kali muncul dalam Perjanjian Lama, banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal (Dan. 12:2), mereka setelah kematian barulah bercahaya seperti cahaya cakrawala (Dan. 12:3, Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya ), Paulus melihat bahwa ketika orang percaya di Filipi dalam kehidupan saat ini ketika menderita mewakili Kristus (Flp. 1:29), mereka telah mulai bersinar seperti bintang dalam kehidupan di dunia saat ini.

Renungkan:
Sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. Firman kehidupan (λόγον ζωῆς logon zōēs) adalah firman yang layak baginya kita mempersembahkan hidup. Apakah Anda bersedia? Mengapa?
• Teguh seperti Paulus dan Timotius membutuhkan dukungan dan dorongan jemaat Filipi. Di mana rekan perjuangan Anda? Apakah kelompok persekutuan saya mencari kepentingannya sendiri, atau kepentingan Yesus Kristus? Ada tindakan apa, yang bisa membuat kita lebih banyak mencari kepentingan Yesus Kristus?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Filipi 2:5-7a

Rupa Allah yang sulit diterima manusia」

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Flp. 2:5-7a [ITB])
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, …

5 Hendaklah kamu menaruh pikiran dan perasaan Kristus Yesus,
6………Ia walaupun adalah rupa Allah,
………………tidak berkeras mempertahankan
………………………kesetaraan dengan Allah
7 ………………melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
………mengambil rupa seorang hamba, …

Hidup di abad ke-21, menemukan gambar Allah mungkin tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Dari gereja katedral Gothic, salib yang menjulang, bangunan gereja yang mencolok, atau pertunjukan artis yang bersinar menyilaukan dan sebagainya, berbagai gambar rupa ini lebih atau kurang mungkin ingin menampilkan manifestasi kemuliaan Tuhan, hendak membuat orang dapat menemukan Tuhan, agar orang menyaksikan kasih karunia dan kemuliaan-Nya?

Paulus hidup di abad pertama, tidak mengalami hal-hal yang demikian membuat dia bertemu Tuhan. Ia terjebak dalam penjara, bagaimana bisa membedakan bimbingan Tuhan, bagaimana bisa tahu situasi dirinya dipenjarakan adalah bertujuan memuliakan Kristus? Flp. 2:5-11 Himne Kristus adalah kisah Kristus yang ditulis oleh Paulus ketika dia terjebak di penjara dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Dari peristiwa ini, dapat dilihat bahwa Paulus dari gambar lain telah melihat rupa kemuliaan Tuhan (μορφῇ θεοῦ / morphe theos): rupa Yesus Sang hamba (μορφὴν δούλου / morphe doulos – the form of a servant). Ketika kaisar Romawi satu per satu meninggikan diri, memaksa orang untuk menyembah kaisar, mereka membuat diri mereka menjadi dewa surgawi, diri mereka hendak menampilkan sinar kilau keilahian, tetapi Yesus mengosongkan diri-Nya (ἑαυτὸν ἐκένωσεν / heauton ekenōsen), melepaskan segalanya untuk memberkati dunia, sehingga kita melihat gambar Allah dalam versi lain; ketika kaisar Romawi sangat ingin memperjuangkan berbagai kehormatan dan keuntungan diri, Yesus tidak membiarkan fakta kesetaraan diri-Nya dengan Allah Bapa sebagai alasan keuntungan-Nya sendiri. Demi keuntungan manfaat orang lain (lihat Filipi 2:3-4 tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri), Kristus mengosongkan diri, dengan keilahian-Nya Ia datang ke dunia, rela menjadi budak, menjadi contoh bagi kita sebuah teladan hamba Allah yang setia.

Dari sudut pemikiran pendewaan kaisar Romawi yang populer saat itu atau dari harapan kebanyakan orang, adalah sangat sulit untuk diterima jika hendak melihat kemuliaan Allah dari gambar hamba yang rendah hati, tidak dapat diterima, itu anti-intelektual, bahkan membuat orang merasa mual! Tapi Paulus yang terperangkap dalam penjara, justru dalam situasi dirinya terperangkap itu, melalui karakter keilahian yang mengambil rupa hamba ia melihat Tuhan menyertai dia. Dengan kata lain, fokus dari Himne Kristus bukanlah apologetika pembelaan tentang keilahian Kristus di dunia, keilahian Kristus ada pada diri-Nya sejak kekal sampai kekal, tidak hilang atau jatuh lepas ketika Ia datang ke dunia. Himne Kristus bertujuan menyatakan Kristus adalah pemegang peran yang utama (a narrative protagonist), melalui penderitaan perjalanan hidup di dunia, Ia memenuhi kesetiaan-Nya kepada Allah, agar orang dapat melihat rupa Allah. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (Yoh. 1:18). Melalui kisah Kristus, Paulus menemukan dasar penyertaan Allah bersamanya; melalui Yesus Sang hamba yang kasat mata, Paulus melihat yang tak terlihat bahkan Allah yang diam tidak bersuara.

Perhatikan, Paulus bukan penganut paham penyiksa diri. Dia tidak berpikir bahwa menderita itu sendiri membawakan kekuatan mistik yang transenden, atau jalan pintas orang bisa langsung datang kepada Allah. Melalui kisah Kristus Sang perantara yang memikul kehidupan orang lain, Paulus mengidentifikasi penyertaan Allah bersama dirinya. Demikian juga, demi manfaat kebaikan jemaat Filipi maka Paulus berharap keluar dari penjara, tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan mereka supaya mereka makin maju dan bersukacita dalam iman (Flp. 1:25). Himne Kristus bukan menaikkan cerita tentang Yesus Juru Selamat, tetapi Yesus Sang hamba.

Renungkan:
• Keberdosaan manusia dengan mudah mengajar orang untuk kecenderungan mementingkan diri sendiri. Setelah Anda percaya Tuhan, apakah 「sifat alamiah」 Anda ini diubahkan oleh Kristus? Hari ini bagaimana Anda dapat meniru Kristus, merealisasikan menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri?
• Bila Anda sepenuh hati menyerahkan diri kepada Tuhan, apakah Anda pernah mengalami tahap Tuhan hanya diam, dan peduli menolong Anda? Ambillah cara berpikir Yesus yang ada di dalam 「Himne Kristus」, untuk melihat cerita hidup Anda, apa yang Anda lihat? Apakah ini berbeda dengan yang Anda lihat sebelumnya?


Renungan pemahaman Surat Filipi (November 2021)

Renungan pemahaman semua Surat Filipi

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filipi ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan November 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Kor. 1:18-21

Meruntuhkan pandangan spiritual yang salah! Hendak mengetahui kuasa Injil salib!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 1:18-21 [ITB])
18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. 19 Karena ada tertulis: Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan. 20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?
21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil

Dalam Surat 1 Korintus pasal 1-4, salah satu masalah rohani yang harus dihadapi Paulus, adalah Pengajaran apa yang bisa mengekspresikan kekuatan besar Allah dan bagaimana mengungkapkannya? Apakah hikmat yang sejati itu?

Dalam pasal 1-4 terdapat istilah-istilah penting kebenaran, kebodohan, kekuatan dan hikmat. Kebenaran (Firman) (logos) dalam 4 pasal muncul 9 kali, CUV Mandarin menerjemahkan sebagai kefasihan bicara, ucapan, kebenaran, kata-kata (ITB perkataan, pemberitaan, kata-kata) (1:5, 17-18; 2:1, 4, 13; 4:19-20). Istilah penting berikutnya kebodohan dalam bahasa Yunani (moria, moraine, moros) muncul 10 kali dalam 4 pasal ini, dapat diterjemahkan sebagai kebodohan, menjadi bodoh, orang bodoh; juga bisa diterjemahkan sebagai bodoh, jadilah bodoh, menipu. Istilah penting kekuatan (power) (dunami) pada 4 pasal muncul 6 kali (1:18, 24; 2:4-5; 4:19-20). Istilahhikmat dalam bahasa Yunani (sophia, sophos), dapat diterjemahkan sebagai hikmat, orang berhikmat, dalam pasal 1 – 3 muncul 26 kali.

Paulus melihat bahwa gereja Korintus memiliki pandangan kerohanian yang salah, yaitu: gereja Korintus menganggap dirinya memiliki hikmat dan pandai, terus memelihara nilai-nilai lama budaya Yunani, memandang rendah kebenaran salib, memandang rendah kebenaran bahwa orang-orang rohani akan mengalami penderitaan dan penghinaan dalam jangka waktu yang lama. Mereka meniru budaya Yunani kuno sebelum mereka percaya kepada Tuhan, menghargai kefasihan bicara, ekspresi perkataan yang indah dan status kedudukan, menghormati orang-orang dengan pengalaman dan status yang menonjol dan memiliki banyak pengertian; dalam istilah modern, mereka terlebih dahulu melihat pakaian luar, barulah kemudian melihat orangnya, dan sangat meninggikan Teologi Sukses! Budaya Yunani kuno sangat mementingkan retorika dan kepandaian berbicara di depan umum; jika bisa mendapatkan tepuk tangan dari semua orang, maka dia adalah seorang guru terkenal, dan memiliki status yang mulia! Secara tidak langsung juga dikenakan untuk menilai apakah seseorang diberkati dan dipakai oleh Allah!

Ketika dihadapkan dengan banyak orang percaya dan pemimpin jemaat Korintus yang masih menggunakan pandangan dunia dan nilai-nilai Yunani kuno untuk menilai orang, pertama-tama Paulus harus mengoreksi pemahaman mereka tentang doktrin salib dan Injil. Jika orang-orang Kristen memutarbalikkan kebenaran Kristus dan kebenaran Injil salib, maka kita akan melintas di jalan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dan kebenaran Injil. Yesaya pasal 53, dalam ayat-ayat tentang Hamba yang Menderita yang terkenal terdapat pengingat yang berharga: Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah (Yes. 53:3-4). Di zaman Tuhan Yesus, para pemimpin Israel memiliki pandangan yang salah tentang Mesias, demikian juga gereja Korintus yang digembalakan Paulus memiliki pandangan rohani yang salah, dan memiliki bayang-bayang Teologi Sukses. Paulus masuk dari kebenaran tentang Salib, untuk meruntuhkan pandangan rohani mereka yang salah.

Paulus mengutip Yes. 29:14 untuk menunjukkan: dunia berpikir dirinya adalah orang berhikmat dan pandai, tetapi tidak tahu bahwa dirinya telah dibutakan oleh ilah zaman ini (2 Kor. 4:4), mereka membenci dan mengabaikan doktrin penderitaan di kayu salib, dan juga membenci doktrin Mesias harus menjadi hamba yang menderita, dan menganggap doktrin salib sebagai kebodohan. Oleh karena itu, mereka menolak Injil salib dan Tuhan yang disalibkan, menolak untuk mengenal Tuhan; mereka meninggikan hikmat dunia yang membuat mereka bodoh di hadapan Allah. Jika mereka bersikeras pada kesombongan dan pandangan spiritual yang salah seperti ini, mereka tidak akan dapat percaya kepada Tuhan dan diselamatkan, maka mereka harus menghadapi hukuman kekal dan penghakiman neraka; mereka bukan orang yang benar-benar pintar, merekalah kebodohan besar itu! Oleh karena itu, orang Kristen mengapa iri pada orang-orang bodoh terbesar ini dan yang akan menghadapi kebinasaan kekal ini? Mengapa kita harus memandang penting dan mementingkan ajaran mereka? Yang perlu kita pandang berharga adalah ajaran Tuhan Yesus, kebenaran salib, dan memandang tinggi Tuhan yang tersalib! Bukan ajaran mereka!

Di zaman kita dan di gereja-gereja masa lalu, kita semua mengalami krisis rohani, yaitu tanpa sadar kita disusupi dan didominasi oleh teologi kemakmuran, yang mengajarkan bahwa keberhasilan, kemakmuran, dan tepuk tangan adalah bukti berkat Tuhan, dan mengajarkan bahwa itu adalah pengejaran rohani yang baik, para gembala yang memiliki keberhasilan, kemakmuran, dan tepuk tangan adalah hamba-hamba Tuhan yang dipakai Allah. Pandangan spiritual semacam ini menyimpang menjadi teologi yang menilai orang dari penampilan luar dan kesuksesan. Orang Kristen berusaha untuk diberkati oleh Tuhan dan memberikan buah yang berlimpah memang pada tingkat tertentu memiliki sifat rasionalitas dan dasar ajaran Alkitab, tetapi jangan menjadi ekstrem. Kita harus ingat: teladan terbaik yang telah diberikan Allah adalah Anak Tunggal Allah Bapa. Hamba yang dicintai dan dipakai oleh Allah, juga akan menghadapi dimusuhi orang, penderitaan dan mengalami marginalisasi dalam waktu yang lama, kehidupan mereka biasanya terlebih dahulu mengalami hal-hal pahit, kelak baru mengalami kemuliaan, orang Kristen tidak bisa menilai orang dari penampilan luar (2 Kor. 5:16) Ketika kita mendengar kesaksian atau ajaran yang seperti Teologi Kemakmuran, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah Tuhan Yesus mengalami kemakmuran seperti itu? Jika tidak, maka apa yang benar-benar penting? Pengejaran kita adalah untuk menjadi lebih seperti Kristus dan hidup seperti Kristus.

Renungkan:
• Renungkan seluruh kehidupan Yesus dan kebenaran salib: Yesus adalah Anak Tunggal terkasih Bapa, tetapi Dia menderita banyak kesulitan dan penderitaan saat berada di dunia. Apakah pengalaman dan teladan Yesus berdampak pada pandangan rohani Anda?
• Dalam kesempatan yang berbeda di mana Anda mendengar tentang topik teologi kemakmuran. Apa pendapat Anda? Apakah orang dunia dan orang Kristen dipengaruhi oleh pandangan spiritual teologi kemakmuran?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Yesaya 53:4-6 (2)

「Hadiah dari Hamba」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 53:4-6 [ITB])
4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Ada yang menyebut hari ini sebagai Boxing Day (setelah hari Natal ketika orang-orang membongkar “kotak Natal” yang diterima atau yang didapat dari bertukar hadiah). Hadiah apa yang dibawa bagi kita oleh hamba yang menderita?

Pertama, Yes. 53:4 menggunakan kata dipukul untuk menunjukkan bahwa TUHAN memukul hamba-Nya. Kata pukul adalah kata yang dipakai dalam perjanjian di kitab Ulangan, dan terutama digunakan untuk menggambarkan bagaimana Allah menggunakan bencana yang berbeda memukul orang-orang yang melanggar perintah TUHAN (Ul. 28:22, 27, 35, 61). Ketika orang Israel berdosa, ketentuan perjanjian menyatakan bahwa Allah akan memukul dan mendisiplinkan umat-Nya sesuai dengan persyaratan perjanjian, agar mereka dapat bertobat. Yes. 53:5 menggunakan kata ganjaran (hukuman), yang sering digunakan dalam konteks pendisiplinan terhadap anak (Amsal 13:24; 22:15; 23:13), dan Allah mendisiplinkan orang berdosa (Mazmur 39:11-12; Ayub 5:17; Yer. 2:30; 5:30; 30:14), jadi perikop Kitab Suci di sini menunjukkan bahwa Allah memukul hamba-Nya sebagai orang berdosa yang membutuhkan disiplin.

Kedua, Yes. 53:6 menyatakan bahwa hamba yang menderita tidak berbuat dosa, tetapi menanggung kesengsaraan demi orang banyak, dan TUHAN meletakkan dosa-dosa semua orang berdosa kepada hamba yang menderita itu. Dengan demikian, Dia yang tidak bersalah menerima hajaran disiplin dan hukuman dari Allah, hamba yang menderita itu hidup di dalam kehendak Allah, bersedia menanggung semua konsekuensi dosa (buah dari dosa). Karena penggantian yang dilakukan hamba ini, umat Allah menerima kedamaian dan penyembuhan (ayat 5). Ini adalah hadiah yang dibawakan oleh hamba yang menderita kepada kita. Ternyata hadiah yang sebenarnya bukan hiburan dan kenikmatan, tetapi kasih dan pengorbanan yang menggantikan, hadiah ini harus diterima dengan air mata pengakuan dosa, mendapatkan kedamaian pengampunan dan penerimaan Allah.

Latar mendapatkan hadiah ini adalah bahwa umat Allah harus menjadi komunitas yang mengakui dosa, harus mengakui bahwa diri kita semua seperti domba yang berjalan tersesat, menyimpang ke jalan sendiri (ayat 6). Hanya dengan perendahan diri barulah dapat melihat kebutuhan untuk mendapatkan hadiah. Jika kita masih mempertahankan mata bangga dan dengan cara yang dangkal memandang hamba yang menderita dari jubah luar (ayat 1-3), maka kita tidak siap untuk menerima hadiah ini, tetapi ketika cara pandang kita berubah, kita melihat kenyataan diri yang tidak ada apa-apanya, dan sifat sejati sebagai orang berdosa, barulah dapat melihat kebodohan diri yang seperti domba berjalan tersesat, barulah dapat memahami segala sesuatu yang telah dilakukan oleh hamba yang menderita itu.

Renungkan:

Di hari Boxing Day, kita harus lebih memikirkan pemberian Tuhan kepada kita, hadiah ini membutuhkan mata inferioritas perendahan diri dan pengakuan dosa barulah dapat melihat nilai keberhargaannya, kiranya kita semua meletakkan topeng peninggian diri dan menjalani kehidupan berbelaskasihanlah dan penuh kasih karunia kepada saya orang berdosa ini, membuka kotak hadiah damai sejahtera dan penyembuhan, serta dengan hati bersyukur menjalani kehidupan.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 53:4-6

「Memikul Kesengsaraan Kita」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 53:4-6 [ITB])
4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Penderitaan adalah konstan selalu ada dalam kehidupan, itu bisa berasal dari dosa atau keterbatasan kita, namanya adalah penderitaan. Kita mungkin bisa menjelaskannya, memahaminya, memperindahnya, mengecilkannya, tetapi itu secara nyata tetap hidup bersama kita. Singkatnya, penderitaan adalah bagian integral tidak mungkin dihilangkan dari kehidupan, atau bahkan seluruh kehidupan.
Namun, deklarasi pengakuan Yesaya istimewa: penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya (Yes. 53:4). Allah tidak mengambil hilang penderitaan dari kehidupan, dan Yesus sendiri tidak memiliki kekebalan untuk menghindari penderitaan, Dia kenyang penderitaan karena Dia menanggung dan memikul.

Deklarasi pengakuan ini sangat istimewa!
Kesengsaraan dapat diartikan sebagai penyakit atau penderitaan, dan rasa sakit adalah perasaan yang mendalam dan tajam dari kesengsaraan . Inkarnasi Tuhan Sang Firman datang ke dunia bukan untuk menghancurkan penderitaan, tetapi untuk masuk ke dalam penderitaan, Dia menjadi orang biasa, dengan yang biasa itu menanggung kehidupan manusia, dan menanggung serta memikul penderitaan semua manusia dengan tubuh daging dan darah. Jika hidup adalah penderitaan, maka ketika Yesus datang menjadi manusia yang sepenuhnya, itu berarti Ia menanggung semua kesengsaraan dan memikul semua penderitaan dengan sepenuhnya. Oleh karena itu, ketika kita menghadapi penderitaan, penderitaan ini selalu ada dalam keadaan sedang dipikul oleh Tuhan, di dunia tidak ada lagi penderitaan yang berdiri sendiri, semua penderitaan manusia berada dalam keadaan ditanggung oleh Tuhan. Maka di dalam penderitaan terdapat pemikiran ilahi (teologis), di mana ada penderitaan, di sana ada Tuhan.

Ketika kita mengenal dengan pasti bahwa Yesus memikul penderitaan bagi kita, penderitaan menjadi sesuatu yang berpusat pada Kristus, saat penderitaan muncul mengingatkan kita pada pengorbanan dan salib Kristus, saat ada rasa sakit yang mendalam kita langsung terhubung dengan salib. Di bawah salib Tuhan, penderitaan dan kematian telah disalibkan, mereka bukan lagi akhir dari kehidupan, tetapi stasiun yang dilewati di jalan memasuki kemuliaan dan kebangkitan, sehingga kita dapat memahami bahwa tidak peduli seberapa keras penderitaannya, sehebat apapun itu hanya sementara, telah lama dipikul dibawa oleh Tuhan ke kayu salib, hidup kita telah dicangkok ke dalam kekekalan. Hai penderitaan jangan bangga, hai kematian jangan sombong.

Renungkan:

Hari ini adalah malam Natal, mengingat bahwa Yesus Kristus dilahirkan turun ke dalam dunia untuk kita. Dia memasuki kehidupan manusia yang penuh penderitaan dengan kasih dan kerendahan hati-Nya, dan dengan memikul beban dan penderitaan Ia berjalan bersama kita. Natal telah menjadi hari konsumtif dan pesta gembira, tetapi Pemeran utama Natal datang ke sudut yang paling gelap dan paling menderita, karena sudut ini adalah alasan kelahiran-Nya, dan kita sebagai murid-Nya, apakah rela berjalan bersama orang-orang yang berada dalam penderitaan dan kesedihan?


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 53:1-6

『Hamba yang Menderita dan 「Kita」』
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 53:1-6 [ITB])
1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Ada banyak pendapat yang berbeda di kalangan akademis mengenai identitas hamba yang menderita, tetapi salah satu hal yang mereka tegaskan bahwa hamba itu bukan berasal / termasuk salah satu dari kita, Dia adalah seorang di luar dari kita.
Kita dalam nyanyian hamba merujuk kepada orang-orang yang berdosa, menunjukkan bahwa orang-orang Israel adalah pihak yang perlu mengakui dosa-dosa mereka. Dan tentang pengakuan dosa kita, dapat merujuk pada teks sebelumnya: Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN? Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, dan orang tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya orang tidak mau mendengar (Yes. 42:24), disebutkan bahwa Tuhan adalah Yang kepada-Nya kita mengaku dosa, di antaranya dosa kita termasuk penyembahan berhala dan dewa-dewa palsu (Yes. 42:14-22). Lebih jauh, hamba Allah yang dijelaskan dalam pasal 53 dari nyanyian hamba jelas tidak termasuk golongan dari kita, dan perikop Kitab Suci menunjukkan bahwa Hamba Allah ini tidak berdosa (Yes. 53:4-6). Berbeda dengan kita yang melakukan dosa kejahatan. Kita ini dapat merujuk pada Yakub, Israel, Sion, Yerusalem, bangsa-bangsa, dll., dan itu juga dapat merujuk pada manusia di seluruh dunia.

Yes. 53:4, 6 menunjukkan bahwa hamba Allah dipukul oleh TUHAN (Yahweh), dan hamba ini memainkan peran imam dalam adegan ini, bahkan jika Ia tidak memiliki dosa, Ia menanggung dosa semua orang (ayat 5), menggantikan kita menerima hukuman dari Allah, penderitaan dan kematian hamba ini membawa efek keselamatan, sehingga kita bisa mendapatkan kedamaian dan penyembuhan (ayat 5). Dengan demikian, hamba Allah di satu sisi, menanggung konsekuensi dari dosa kita, tetapi tidak berdosa seperti kita, prinsip ilahi (teologi) tentang subtitusi pengganti ini benar-benar menghidupi prinsip ilahi (teologi) imamat yakni korban yang disembelih dan dipersembahkan adalah lambang digantikannya orang yang mempersembahkan korban (Im. 1), dan darah yang dicurahkan melambangkan digantikannya orang yang mempersembahkan korban melakukan pengudusan tempat kudus (Im. 4), dan prinsip ilahi (teologi) subtitusi pengganti terdapat pada hamba Allah ini.

Renungkan:

Diri Yesus Kristus sendiri tidak memiliki dosa dan memiliki sifat yang berbeda dari kita, tetapi menanggung konsekuensi dari dosa kita. Pada malam sebelum Natal ini, marilah kita semua memikirkan jenis hutang kita, yaitu menanggung dengan diam tidak bersuara, jenis kasih yang tanpa pamrih, jenis mempersembahkan dengan tidak mementingkan diri sendiri, jenis persembahan yang tidak mementingkan diri sendiri, pengorbanan yang begitu mengejutkan yang tidak bisa dipahami dengan akal sehat. Ternyata wajah asli kita adalah orang berdosa, bagaimanapun kita dibungkus dan berhias, orang berdosa tetap berdosa, dan orang berdosa yang menerima anugerah digantikan adalah pendosa yang mendapatkan kemurahan hati, ini adalah titik mulai bagi kita. Ketika kita melupakan ini, saat itu kita menjadi orang yang tidak tahu berhutang kasih.


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya Pasal 40-55 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Desember 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 24:13-27

「Lamban Percaya?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 24:13-27 [ITB])
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan? Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini? 19 Kata-Nya kepada mereka: Apakah itu? Jawab mereka: Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Dalam ayat kemarin, kita berbicara tentang para wanita yang melaporkan kepada para murid tentang kebangkitan Yesus. Dapat kita percaya bahwa setelah verifikasi Petrus, perlahan-lahan akan mengguncangkan hati para pengikut: Apakah Yesus benar-benar sudah bangkit? Mungkin kita akan berpikir bahwa catatan dalam Alkitab akan memberikan lebih banyak bukti tentang munculnya Yesus dengan tubuh-Nya dan dengan demikian menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus itu benar adanya. Namun, pasal terakhir Injil Lukas tentang narasi kesengsaraan tidak hanya berfokus pada kebangkitan fisik Yesus, tetapi bagaimana melalui Alkitab menafsirkan ulang apa yang disebut Anak Manusia yang menderita namun berkemuliaan.

Ketika dua murid meninggalkan Yerusalem, mereka berjalan menuju sebuah desa (Emaus) dan berbicara satu sama lain tentang apakah Yesus benar-benar bangkit setelah kematian-Nya. Bagi mereka, di satu sisi, mereka telah mendengar perkataan para wanita dan rasul Petrus tentang kuburan kosong, di sisi lain, ini tampaknya menjadi hal yang tidak bisa dicerna pikiran. Dalam ayat 19-24, mereka berdua menjelaskan secara terperinci seluruh kisah dan pergumulan di hati mereka: di manakah tubuh Yesus? Apakah itu diambil orang, atau benar-benar telah bangkit?

Hal yang paling ajaib dalam keseluruhan catatan adalah bahwa Yesus dengan tubuh kebangkitan-Nya jelas-jelas berbicara dengan mereka, tetapi Kitab Suci menggunakan kata mata yang terhalang untuk menggambarkan situasi kedua orang ini. Kata ini dalam bahasa asli Yunani adalah bentuk pasif, yang berarti bahwa itu sengaja diatur oleh Allah sehingga mereka tidak dapat mengenali orang yang mereka ajak berbicara adalah Yesus.

Mungkin ini menarik kita untuk bertanya seperti apa rupa Yesus di dalam tubuh kebangkitan. Ini mungkin patut diperhatikan, namun Kitab Suci berfokus pada bagaimana Yesus menafsirkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan bagaimana melalui tulisan Kitab Suci memahami Kristus harus mengalami penderitaan lalu masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Lukas pasal 24 telah tiga kali menyebutkan tentang pentingnya Yesus menjelaskan Kitab Suci (lih. Luk. 24:27, 32, 44). Dan ayat 27 hari ini menyebutkan: Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.Dapat dilihat bahwa setelah kebangkitan Yesus, walaupun Ia menampakkan diri berulang kali kepada orang, tetapi bagi pena Lukas, yang paling penting adalah bagaimana melalui tulisan Kitab Suci memahami penderitaan Yesus dan kemudian memasuki kemuliaan. Sama seperti dalam narasi penderitaan Yesus, Lukas berulang kali menceritakan tema mazmur penderitaan orang benar dalam kutipan Yesus di kayu salib untuk menjelaskan apakah hamba yang menderita itu ─ yakni setelah semua penderitaan, ia akhirnya akan mendapatkan keselamatan dan berkat dari Allah.

Dapat dipercaya bahwa pemahaman atas kebenaran Kitab Suci dan diperbaharui adalah prioritas utama dalam menjadi saksi mata atas kebangkitan. Dalam proses pewarisan ke depan, penafsiran yang benar tentang kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga merupakan dasar bagi pewarisan dari generasi ke generasi.

Bukankah ini adalah hal yang dititikberatkan dalam keseluruhan Injil Lukas?

Renungkan:

Yesus menegur kedua orang ini sebagai Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

Apakah kita juga menjadi orang bodoh tidak ingin mengetahui kebenaran? Apakah lamban percaya?

Kita mungkin berpikir bahwa apa yang kita yakini adalah keseluruhan dari kebenaran, tanpa diketahui ternyata hanya mengetahui sebagian kecil dari kebenaran, mari kita lebih rendah hati mengejar kebenaran yang membuat hidup berubah!


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 22:31-46

「Lemah! Menakutkankah?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 22:31-46 [ITB])
31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.
33 Jawab Petrus: Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!
34 Tetapi Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.
35 Lalu Ia berkata kepada mereka: Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?
36 Jawab mereka: Suatu pun tidak. Kata-Nya kepada mereka: Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. 37 Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.
38 Kata mereka: Tuhan, ini dua pedang. Jawab-Nya: Sudah cukup.
39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. 40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.
41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: 42 Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.
43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. 44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
45 Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita. 46 Kata-Nya kepada mereka: Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.

Setelah menetapkan Perjamuan Kudus, Yesus menubuatkan bahwa di antara para murid ada yang akan menjual Dia, dan pergi meninggalkan-Nya. Dia juga mengajarkan agar di dalam kedatangan Kerajaan Allah para murid jangan saling bertengkar memperebutkan siapa yang terbesar. Dalam perikop hari ini, Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk membuang kekeraskepalaan di dalam hati mereka, sehingga setelah Ia pergi, mereka masih dapat mengingat ajaran Yesus, bangkit bersemangat, kembali meresponi misi Injil.

Perikop hari ini, Yesus terarah kepada Petrus, menubuatkan bahwa Petrus dan para murid akan diserang oleh Iblis, menampi mereka seperti menampi gandum.

Jika kita ingat renungan empat hari yang lalu, Setan memasuki hati Yudas dan membuatnya bersama para pemimpin agama menghadapi Yesus. Ikut campur Iblis ini menunjukkan bahwa di akhir zaman ini, ia akan datang masuk ke hati umat Allah untuk bersama menghadapi Dia yang diurapi Allah. Oleh karena itu, ini adalah realitas sejati yang perlu dihadapi oleh orang-orang percaya di hari-hari akhir ini. Sampai hari ini, orang percaya harus berjaga-jaga atas yang jahat ini. Ini tidak seperti yang dijelaskan dalam literatur apokaliptik antara kedua perjanjian, peran si jahat Setan hanya dijelaskan sebagai si lemah yang dikalahkan oleh Allah.

Dalam peringatan Yesus kepada Petrus, Ia tidak heran tentang pekerjaan Setan di hati manusia, Ia terus berdoa bagi hati manusia, berharap bahwa setelah mereka yang kaki tersandung, janganlah kehilangan iman, tetapi kembali untuk memperkuat saudara-saudara yang lain.

Saudara dan saudari yang terkasih, iman tidak pernah mengobral pujian tentang kehebatan atau kelengkapan seseorang, atau tidak pernah gagal. Sebaliknya, penting untuk menghadapi kebenaran jati diri sendiri. Apakah kita harus mengalami pelajaran seperti jawaban Petrus?

Selanjutnya Yesus berbicara tentang membawa pundi-pundi uang, bekal, dan membeli pedang. Apa hubungannya hal-hal ini dengan nubuat Yesus sebelumnya menubuatkan bahwa murid-Nya akan menyangkal Tuhan?

Dalam perikop ini, Yesus mereferensi kitab Yesaya Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak, dan mengatakan bahwa ini harus digenapi atas diri-Nya. Prafigur hamba yang menderita ini (typos, pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) dikenakan ulang pada penderitaan Yesus. Inilah kebenaran Injil Yesus. Karena Injil yang sulit bagi orang-orang Yahudi ini, murid-Nya segera akan jatuh, tetapi Tuhan yang penuh belas kasihan akan terus memakai mereka, memanggil mereka untuk mengabarkan Injil, membawa pundi-pundi, bekal, menjual jubahnya dan membeli pedang untuk bersiap pergi ke setiap desa untuk mengkhotbahkan Injil ini kepada orang lain.

Karena itu, bertobat berbalik arah hendaknya jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu yakni untuk menguatkan orang-orang untuk menyebarkan Injil, bukan menjerat diri dengan kesalahan dan ketidakmampuan diri, tetapi karena kehadiran anugerah, kebangkitan Tuhan atas kehidupan, membuat orang-orang sekali lagi mengetahui untuk apakah hidup mereka?

Renungkan:

Di Taman Getsemani, para murid yang tidak berjaga-jaga, membentuk gambar yang sangat menarik, kontras dengan pergumulan Yesus, doa, pertempuran, dan malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Seperti jalan kebenaran, tidak pernah ada yang berjalan di atasnya, jalan itu sepi dan panjang, tampaknya mereka yang seharusnya berdiri di samping Anda secara bertahap tidak memahami Anda, dan akhirnya hanya Anda sendirian yang bersama Tuhan.

Mungkin di jalan melayani, Anda dan saya akan menghadapi yang seperti itu, tetapi orang-orang itu akan kembali, menguatkan orang lain, dan bersama-sama berjalan di sepanjang jalan di depan. Apakah Anda percaya bersandar pada Tuhan?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.