Tag Archives: passion narrative

Lukas 24:13-27

「Lamban Percaya?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 24:13-27 [ITB])
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan? Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini? 19 Kata-Nya kepada mereka: Apakah itu? Jawab mereka: Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Dalam ayat kemarin, kita berbicara tentang para wanita yang melaporkan kepada para murid tentang kebangkitan Yesus. Dapat kita percaya bahwa setelah verifikasi Petrus, perlahan-lahan akan mengguncangkan hati para pengikut: Apakah Yesus benar-benar sudah bangkit? Mungkin kita akan berpikir bahwa catatan dalam Alkitab akan memberikan lebih banyak bukti tentang munculnya Yesus dengan tubuh-Nya dan dengan demikian menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus itu benar adanya. Namun, pasal terakhir Injil Lukas tentang narasi kesengsaraan tidak hanya berfokus pada kebangkitan fisik Yesus, tetapi bagaimana melalui Alkitab menafsirkan ulang apa yang disebut Anak Manusia yang menderita namun berkemuliaan.

Ketika dua murid meninggalkan Yerusalem, mereka berjalan menuju sebuah desa (Emaus) dan berbicara satu sama lain tentang apakah Yesus benar-benar bangkit setelah kematian-Nya. Bagi mereka, di satu sisi, mereka telah mendengar perkataan para wanita dan rasul Petrus tentang kuburan kosong, di sisi lain, ini tampaknya menjadi hal yang tidak bisa dicerna pikiran. Dalam ayat 19-24, mereka berdua menjelaskan secara terperinci seluruh kisah dan pergumulan di hati mereka: di manakah tubuh Yesus? Apakah itu diambil orang, atau benar-benar telah bangkit?

Hal yang paling ajaib dalam keseluruhan catatan adalah bahwa Yesus dengan tubuh kebangkitan-Nya jelas-jelas berbicara dengan mereka, tetapi Kitab Suci menggunakan kata mata yang terhalang untuk menggambarkan situasi kedua orang ini. Kata ini dalam bahasa asli Yunani adalah bentuk pasif, yang berarti bahwa itu sengaja diatur oleh Allah sehingga mereka tidak dapat mengenali orang yang mereka ajak berbicara adalah Yesus.

Mungkin ini menarik kita untuk bertanya seperti apa rupa Yesus di dalam tubuh kebangkitan. Ini mungkin patut diperhatikan, namun Kitab Suci berfokus pada bagaimana Yesus menafsirkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan bagaimana melalui tulisan Kitab Suci memahami Kristus harus mengalami penderitaan lalu masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Lukas pasal 24 telah tiga kali menyebutkan tentang pentingnya Yesus menjelaskan Kitab Suci (lih. Luk. 24:27, 32, 44). Dan ayat 27 hari ini menyebutkan: Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.Dapat dilihat bahwa setelah kebangkitan Yesus, walaupun Ia menampakkan diri berulang kali kepada orang, tetapi bagi pena Lukas, yang paling penting adalah bagaimana melalui tulisan Kitab Suci memahami penderitaan Yesus dan kemudian memasuki kemuliaan. Sama seperti dalam narasi penderitaan Yesus, Lukas berulang kali menceritakan tema mazmur penderitaan orang benar dalam kutipan Yesus di kayu salib untuk menjelaskan apakah hamba yang menderita itu ─ yakni setelah semua penderitaan, ia akhirnya akan mendapatkan keselamatan dan berkat dari Allah.

Dapat dipercaya bahwa pemahaman atas kebenaran Kitab Suci dan diperbaharui adalah prioritas utama dalam menjadi saksi mata atas kebangkitan. Dalam proses pewarisan ke depan, penafsiran yang benar tentang kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga merupakan dasar bagi pewarisan dari generasi ke generasi.

Bukankah ini adalah hal yang dititikberatkan dalam keseluruhan Injil Lukas?

Renungkan:

Yesus menegur kedua orang ini sebagai Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

Apakah kita juga menjadi orang bodoh tidak ingin mengetahui kebenaran? Apakah lamban percaya?

Kita mungkin berpikir bahwa apa yang kita yakini adalah keseluruhan dari kebenaran, tanpa diketahui ternyata hanya mengetahui sebagian kecil dari kebenaran, mari kita lebih rendah hati mengejar kebenaran yang membuat hidup berubah!


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 23:44-56

「Pasti ada yang Merespons Kebenaran」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:44-56 [ITB])
44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.
46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: Sungguh, orang ini adalah orang benar! 48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri.
49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.
50 Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. 51 Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.
52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. 53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
54 Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. 55 Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. 56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

Narasi kesengsaraan Yesus sepatutnya dipahami dalam konteks kedatangan akhir zaman, yaitu bahwa keselamatan yang digenapi oleh penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga itu adalah akhir zaman yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Namun, ini hanya langkah pertama dalam dimulainya akhir zaman, di dalam konsep teologis sudah tapi belum (already but not yet), berada di era akhir zaman ini, kita masih harus menunggu kedatangan Yesus yang kedua.

Oleh karena itu, kita juga sudah membicarakan apakah Firdaus itu, saat Yesus di atas salib, Ia mengundang penjahat yang mau bertobat itu bersama-sama memasuki Firdaus akhir zaman.

Adapun perikop hari ini di awal sudah menggunakan bahasa akhir zaman untuk mengekspresikan kematian Yesus: Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. Matahari menjadi hitam tidak bersinar, tepat di tengah hari, ternyata kegelapan meliputi seluruh daerah, seperti dalam ayat-ayat Perjanjian Lama, di hari akhir yang hebat dan dasyat itu datang mendekat (Amos 8:9; Yoel 2:10, 30-31 klik untuk baca), tepat menyatakan bahwa kematian Yesus juga merupakan datangnya hari akhir. Dalam hati orang-orang Yahudi, kehadiran hari akhir hanya mencakup datangnya Allah dan penghakiman Allah terhadap bangsa-bangsa asing. Tidak terduga apa yang menimpa Yesus seolah-olah adalah penghakiman Allah terhadap Mesias yang Ia utus sendiri? ! Bagaimana mungkin bisa seperti itu?

Faktanya, keselamatan-Nya yang Ia tetapkan itu adalah melalui Putra-Nya sendiri menanggung hukuman yang pantas diterima setiap orang. Tabir Bait Suci terbelah dua, menyatakan bahwa setelah kematian-Nya (dan bangkit), orang dapat secara langsung mendekati Bapa. Penyaliban Yesus memungkinkan bagi orang Yahudi dan orang non Yahudi untuk menerima anugerah ini dengan cuma-cuma ─ mulai saat itu tabir Bait Suci tidak akan dapat memisahkan kedua jenis orang ini, dan bersama-sama dapat menjadi tubuh Kristus.

Seperti ayat kemarin, tema penderitaan orang benar dalam Mazmur muncul kembali dan menjadi kalimat terakhir Yesus sebelum kematian-Nya: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (lih. Maz. 31:5 Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia). Dan kata-kata yang diucapkan di mulut Yesus ini menyatakan ketaatan-Nya, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa Ia memahami tema dari mazmur ini, agar orang-orang mendatang, seperti murid-murid-Nya dan gereja saat ini, mempelajari prafigur dalam mazmur ini (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak). Teladan Yesus adalah rela di dalam kehendak Allah menderita bagi Allah, sekalipun itu disalahpahami dan dicampakkan oleh orang banyak. Ini juga persyaratan dasar untuk mengabarkan Injil.

Setelah kematian Yesus, Lukas secara unik mencatat tanggapan kepala pasukan, yang mengatakan bahwa Yesus adalah sungguh orang benar. Jika Orang Benar ini dipahami berdasarkan prafigur penderitaan orang benar dalam Mazmur, perwira itu benar-benar memahami mengapa orang benar akan menderita, maka ia memuliakan Allah.

Renungkan:

Sebenarnya, hal kebenaran bukanlah orang tidak tertarik untuk mengetahui dan memahami. Ayat-ayat hari ini dengan sarkastik merekam pemahaman kepala pasukan tentang kehendak keselamatan Allah bagi orang Yahudi. Dan kemudian seluruh orang banyak (termasuk orang-orang Yahudi) yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, sesudah melihat apa yang terjadi itu pulang sambil memukul-mukul dada mereka, mungkin menunjukkan bahwa mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan.

Manifestasi kebenaran dan pemberitaan tentang kebenaran mungkin tidak segera mendapat tanggapan, tetapi percayalah bahwa kebenaran ini akan bertunas di dalam hati orang, dan pada saat yang sesuai, akan menghasilkan buah. Hanya saja tunggu sedikit waktu lagi, itu saja. Tidakkah demikian?

Mari kita bersama jaga pengharapan ini!


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 23:32-43

「Kebenaran yang Memperbaruhi Hati Manusia」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:32-43 [ITB])
32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. 33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
34 Yesus berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. 36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya 37 dan berkata: Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu! 38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: Inilah raja orang Yahudi.
39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami! 40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.
42 Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. 43 Kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Ayat hari ini adalah tentang percakapan yang ditujukan kepada Yesus dari dua orang berdosa yang dipaku di samping-Nya, percakapan ini unik hanya ada dalam Injil Lukas. Namun, catatan singkat ini adalah ringkasan Lukas atas pandangan teologi terhadap narasi kesengsaraan Yesus (passion narrative), bertujuan agar kita dapat bagaimana menafsirkan (memahami makna) penyaliban dan kebangkitan Yesus.

Pertama-tama, di sini penuh dengan catatan dari Mazmur Perjanjian Lama tentang penderitaan orang benar (righteous suffering), misalnya, mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya adalah rujukan dari Maz. 22:18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku; juga orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah yang merujuk Maz. 22:7-8 Semua yang melihat aku … biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?; dan prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya mengacu pada Maz. 69:19-21 Engkau mengenal celaku, maluku dan nodaku; … mereka memberi aku minum anggur asam.

Melihat dua Mazmur ini, temanya adalah deskripsi tentang penderitaan orang benar. Demikian juga dalam Maz. 118 yang dikutip bagi Yesus memasuki Yerusalem, penderitaan orang benar adalah keadaan normal, yang juga merupakan tempaan bagi manusia dalam kehidupan, apakah ia benar-benar mau menunggu Allah dan mengandalkan Allah (lihat renungan Lukas 19:36-40). Oleh karena itu, mengutip Mazmur yang bertopik penderitaan orang benar adalah untuk meneguhkan bahwa itu adalah keadaan normal adanya penderitaan orang benar. Sedemikian juga peluasannya kepada penderitaan dan bahkan penyaliban Orang Benar Yesus, ini bukanlah hal yang memalukan, tetapi justru merupakan esensi intisari dari teologi Mazmur Perjanjian Lama.

Kita bisa menyebut prafigur ini (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) sebagai penderitaan orang benar dalam Mazmur (Psalmic righteous sufferer). Lalu, dari perspektif pandangan akhir zaman, banyak orang, termasuk para pemimpin agama, para murid, semua berpikir bahwa Mesias yang dijanjikan datang sebagai raja penakluk dunia, menyelamatkan umat Allah dalam kemenangan demi kemenangan, sehingga kemuliaan Allah sekali lagi dimanifestasikan di dunia.

Perlu diketahui bahwa sejatinya yang Allah janjikan datang pada akhir zaman bukanlah seperti yang mereka bayangkan, juga bukan dengan kemuliaan memegang kuasa di dunia seperti yang dikatakan dalam pandangan akhir zaman literatur apokaliptik Yahudi. Karena itu, ayat unik ini di bagian akhir berbicara tentang label akhir zaman ─ Firdaus. Kata ini digunakan dalam terjemahan P.L Septuaginta untuk menjelaskan gambaran Taman Eden yang paling orisinal dan harmonis. Dalam arahan akhir zaman, kata ini digunakan untuk menunjukkan tempat indah yang ditetapkan oleh Allah bagi manusia di akhir zaman.

Merangkum pembicaraan di atas, tema penderitaan orang benar dalam Mazmur digenapkan pada diri Mesias akhir zaman, sehingga orang-orang Yahudi sepatutnya sekali lagi kembali ke teologi Alkitab, memahami dengan benar Yang Maha Suci yang dijanjikan datang di akhir zaman. Juga agar orang tidak lagi terkejut bahwa Yesus, Putra Allah, mati di kayu salib.

Renungkan:

Dalam hati kita mungkin sudah melekat selama bertahun-tahun tentang prinsip dan gagasan bagaimana hidup sebagai manusia, yang mungkin sesuai konsensus banyak orang. Tetapi mari kita masuk lebih jauh ke dalam Firman Tuhan, untuk menemukan lebih banyak kemungkinan, Kebenaran Tuhan sekali lagi menyentuh hidup kita dan membawakan kejutan sukacita.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 23:26-31

「Percaya Tindakan Ajaib Tuhan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:26-31 [ITB])
26 Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. 27 Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.
28 Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! 29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. 30 Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! 31 Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?

Dalam ayat hari ini, Lukas secara khusus menyebutkan tindakan mengikuti dari banyak perempuan, terutama di jalan Yesus menuju salib. Kecuali Simon orang Kirene, yang dipaksa memikul salib bagi Yesus, tidak tersisa berapa murid Yesus yang bersedia mengikuti bersama-Nya. Meskipun Kitab Suci menggambarkan bahwa banyak orang mengikuti Yesus, menurut Luk. 23:35, orang-orang ini hanya berdiri di situ dan melihat semuanya (menonton). Mereka mungkin memiliki maksud lain menunggu adakah mukjizat datang dari Yesus, dapat dilihat bahwa hanya ratap tangisan para wanita ini adalah penghiburan terbesar bagi Yesus di jalan penderitaan.

Dalam Luk. 8:3, Lukas telah menyebutkan bahwa para wanita ini menggunakan harta milik mereka sendiri untuk menyokong kebutuhan Yesus dan para murid. Sampai pada tahap akhir, mungkin kelompok wanita inilah yang masih setia di samping Yesus.

Tetapi yang mengejutkan, Yesus tidak mengatakan sesuatu yang menyedihkan tentang bencana yang Ia hadapi ini. Sebaliknya, Dia menghibur para wanita ini, jangan menangis untuk-Nya, tetapi menangislah untuk para wanita Yerusalem dan anak-anak mereka. Bagi Yesus, kematian-Nya akan membawakan penghakiman hari akhir zaman, dijatuhkannya keputusan dosa kedua belas suku Yakub (Lukas 22:30 kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel), dan Bait Suci Yerusalem ke tangan orang-orang non Israel lagi. Jika merujuk pada Yer. 9:17-19 beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perhatikanlah! Panggillah perempuan-perempuan peratap, supaya mereka datang, dan suruhlah orang kepada perempuan-perempuan yang bijaksana, supaya mereka datang! Biarlah mereka bersegera dan meratap karena kita, supaya mata kita mencucurkan air mata, dan kelopak mata kita melelehkan air! Sebab terdengar ratapan dari Sion: Wahai binasalah kami! Kami sangat dipermalukan! Sebab kami harus meninggalkan negeri ini, karena rumah-rumah kediaman kami dirobohkan orang. Tidak sulit untuk menemukan bahwa kehancuran Bait Suci di zaman Yeremia merupakan prafigur (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) akan segera terjadi lagi sesuai perkataan Yesus.

Karena pada hari-hari Yerusalem dihancurkan, jiwa-jiwa dilumuri kekelaman, dan mereka yang tidak pernah melahirkan serta mengandung tidak perlu mengalami momen perpisahan dengan anak-anak mereka, sama seperti rasa sakit yang dirasakan Maria dipisahkan dari Yesus. Dapat dilihat bahwa pengorbanan Yesus dan keras kepala Yudaisme membawa penghakiman Allah kepada umat-Nya.

Penghakiman ini tidak hanya terjadi pada zaman Yeremia, tetapi juga terjadi di zaman Hosea. Ketika Lukas mengutip ayat-ayat Hosea 10:8 … mereka akan berkata kepada gunung-gunung: Timbunilah kami! dan kepada bukit-bukit: Runtuhlah menimpa kami! Pada saat yang sama juga menyatakan bahwa orang-orang Yahudi menyembah berhala dan meninggalkan keselamatan TUHAN (Yahweh), mereka akan menerima penghakiman yang sangat menakutkan.

Ketika penyaliban datang kepada Yesus (kayu hidup, lih. Luk. 23:31), dapat dipercaya bahwa penghakiman yang lebih mengerikan pada akhirnya akan datang kepada orang-orang Yahudi (kayu kering). Karena itu, Yesus tidak menaruh kesedihan pada diri-Nya sendiri, karena yang lebih mengerikan akan mendatangi diri orang-orang durhaka.

Renungkan:

Ketika para wanita berduka atas eksekusi pada diri Yesus, malapetaka dan penghakiman yang besar telah datang kepada mereka yang menganiaya Yesus.

Sejarah mengulang diri. Ketika kita melihat bahwa orang-orang benar ini dianiaya, jangan lupa bahwa Tuhan yang melakukan keadilan akan membawa penghukuman kepada mereka yang tidak benar, sehingga orang benar tidak akan menderita sia-sia.

Dengan tenang menunggu Tuhan yang menghakimi yang hidup dan yang mati, karena Dia hidup di antara kita.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 23:13-25

「Anugerah yang Ironis!?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 1:1 [ITB])
13 Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat, 14 dan berkata kepada mereka: Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. 15 Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. 16 Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya. 17 Sebab ia wajib melepaskan seorang bagi mereka pada hari raya itu. 18 Tetapi mereka berteriak bersama-sama: Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!
19 Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan.
20 Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus. 21 Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!
22 Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya. 23 Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka.
24 Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. 25 Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

Dalam kitab-kitab Injil, pengadilan terhadap Yesus adalah catatan yang sangat penting. Namun, fokus dari masing-masing Injil berbeda. Dalam catatan Injil Lukas, jelas hendak menyatakan bahwa orang-orang Yahudi bertanggung jawab penuh atas kematian Yesus, kontras dengan tanggung jawab Pilatus dan Herodes sengaja ditampilkan lebih kecil. Mari kita gunakan renungan hari ini untuk memahami apa yang hendak diungkapkan melalui teknik penulisan ini.

Setelah Pilatus merujuk kepada Herodes tentang pengadilan terhadap Yesus, mereka tampaknya memiliki konsensus tentang bagaimana menghadapinya. Dia memanggil para imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat, hendak menunjukkan kepada mereka bahwa dia sudah menyelidiki kasus Yesus yang dituduh menghasut rakyat ─ tidak dapat ditemukan sedikitpun kesalahan pada-Nya. Pilatus juga mengklaim bahwa bahkan Herodes, yang memerintah Galilea, juga percaya demikian. Tidak ada bukti bahwa Yesus berbuat apa pun di daerah Galilea yang setimpal dengan hukuman mati, tempat Yesus berkhotbah selama bertahun-tahun, sehingga Herodes mengirim-Nya kembali kepadanya.

Sangat jelas sekali, Pilatus ingin cuci tangan dan menunjukkan bahwa persidangan orang ini tidak ada hubungannya dengan dia. Namun, dia belum menemukan kesempatan melepaskan tanggung jawab yang ada pada dirinya.

Dengan pintar ia memakai kebiasaan pada waktu itu ─ membebaskan seorang tahanan pada hari raya itu (tidak ditemukan dalam literatur antar dua perjanjian, tetapi dapat dipercaya ini adalah praktik di hari raya Paskah pada zaman itu).

Dia bertanya kepada orang Yahudi yang mana yang akan dibebaskan. Ayat-ayat perikop ini berulang kali menekankan bahwa Pilatus ingin melepaskan Yesus, sekali lagi Pilatus berbicara kepada mereka , dan kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka … Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Frasa-frasa ini jelas untuk menempatkan kematian Yesus sebagai tanggung jawab orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi berkata,Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas, Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!, dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan.

Di antaranya,akhirnya mereka menang dengan teriak mereka adalah klimaks dari seluruh perikop. Jika seluruh narasi kesengsaraan (passion narrative) ditulis dalam kerangka pandangan kedatangan raja akhir zaman, orang-orang Yahudi sepatutnya bertanya: di dalam literatur apokaliptik akhir zaman mereka, bukankah tertulis bahwa raja akhir zaman (eschatological king) mendapatkan sambutan penuh kegembiraan dari mereka? Mengapa mereka ingin menyalibnya? Lebih ironis lagi, nyawa Yesus, raja akhir zaman, berulang kali ingin diselamatkan oleh seorang bukan Yahudi!

Renungkan:

Apakah yang merupakan keselamatan dan anugerah dalam hidup kita? Para pemimpin agama Yahudi dan rakyat salah melihat, Penyelamat manusia dilihat sebagai orang berdosa dan dengan segenap tenaga yakin bahwa Dia bersalah.

Adalah hal yang baik untuk bersikeras pada apa yang diyakini. Namun, selalu sisakan sedikit ruang untuk Allah, kita akan melihat bahwa sesuatu yang salah dipandang sebagai anugerah sebenarnya bukan anugerah. Anda merasakan hal yang sama?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 22:63-71

「Peringatan yang Bersifat Anti-Klimaks」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 22:63-71 [ITB])
63 Dan orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya. 64 Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau? 65 Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya.
66 Dan setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, 67 katanya: Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami. Jawab Yesus: Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; 68 dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. 69 Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.
70 Kata mereka semua: Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah? Jawab Yesus: Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.
71 Lalu kata mereka: Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.

Seperti yang dibahas dalam renungan selama 20 hari ini, catatan Injil Lukas tentang penyaliban Yesus membawakan konsep teologis kedatangan raja akhir zaman untuk memahami penderitaan, penyaliban, kebangkitan dan kenaikan Yesus. Tetapi dalam banyak literatur apokaliptik (tentang hari akhir) sastra Yahudi, dengan kerangka pandangan akhir dunianya bahwa Anak Manusia harus mendapat kemenangan sebagai klimaks puncak dari akhir dunia.

Perikop hari ini dapat terhitung sebagai anti-klimaks. Situasinya seperti penyangkalan Petrus terhadap Tuhan kemarin, ia berpikir bahwa dia bisa menang mendapatkan posisi tinggi di atas segala orang, namun dalam sekejap semua harapan menjadi kosong. Anti-klimaks ini adalah poin penting dalam narasi penderitaan Kristus (passion narrative). Anti-klimaks inilah yang membuat kita memahami makna menumbangkan pemikiran orang dunia atas raja akhir zaman yang memerintah dunia.

Yesus menerima hinaan dan menjadi korban adalah bagian yang tidak dapat diterima oleh para murid dan massa yang mengikuti Yesus. Jelas-jelas Dia memasuki kota, Dia datang mengendarai keledai, disambut sorak-sorai dan dicintai oleh semua orang; setiap hari Dia mengajar orang di Bait Suci, tidak ada yang bisa menjatuhkan Dia. Semua orang berpikir bahwa cepat atau lambat Yesus akan mendeklarasikan diri sebagai raja. Namun, anti-klimaks muncul kembali, ternyata Juruselamat dihina dan diadili.

Sulit membayangkan mengapa seorang Juruselamat akan jatuh ke dalam situasi seperti itu, bagi para pengikut, pukulan ini bisa berakibat fatal, mencampakkan dan meninggalkan Yesus dapat dikatakan bukan apa-apa.

Namun, munculnya anti-klimaks mungkin membuat orang untuk bertanya apakah segala yang Yesus lakukan di masa lalu itu bohong? Apakah itu menyesatkan? Bukankah bunyi gaung pengajaran-Nya masih kuat?

Tetapi bagi para pemimpin agama itu, apa yang mereka pedulikan adalah interes pribadi dan reputasi diri mereka, bagaimana mungkin membiarkan Yesus? Mungkin yang mereka herankan adalah Ia jelas-jelas tampak penuh otoritas, melakukan mukjizat memberi makan 5.000 orang, menyembuhkan penyakit, mengusir setan, mengapa tiba-tiba tampaknya menjadi lemah, membiarkan orang menutupi muka-Nya, untuk menebak siapa yang memukul-Nya? Hinaan dan kekerasan ini benar-benar menjelaskan Juruselamat kita yang terkasih, rela melepaskan yang diharapkan orang dunia, bahkan mengecewakan dan membuat sedih banyak sekali orang-orang yang percaya, tetapi masih menjajak di jalan kesepian ini, menggenapkan jalan kebenaran anugerah keselamatan.

Hal yang paling ironis adalah bahwa selama persidangan, orang-orang bertanya kepada-Nya apakah Dia adalah Kristus, jelas-jelas Dia seharusnya menjawab ya, tetapi jawaban ini hanya akan menarik tuduhan palsu mereka. Ketidakpercayaan mereka ─ ketidakpercayaan ini, seperti imam Zakharia tidak percaya pada kata-kata malaikat. Jelas-jelas tahu bahwa keselamatan akan segera dilaksanakan, tetapi tidak ada orang yang peduli dan memperhatikan, tetapi sebaliknya memaku Dia yang akan menyelamatkan dunia di atas salib.

Renungkan:

Ya, tidak ada yang bisa menghentikan apa yang hendak dilakukan orang jahat. Tetapi setiap anti-klimaks adalah peringatan yang penuh kebaikan hati, agar kita merenungkan ulang apa yang Yesus lakukan di masa lalu. Apakah itu yang tidak sesuai yang saya inginkan? Iman tidak seperti yang diharapan, apakah melepaskan segala yang dialami dalam iman di masa lalu?

Kepada yang hendak meninggalkan iman:
izinkan Tuhan untuk terus mengejutkan kita di depan kita, mungkin membuat kita berteriak dan sulit untuk dapat menerima, tetapi selama kita tambahkan lebih banyak lagi iman, kita dapat melewati ini. Bisakah?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.