Tag Archives: typologi prafigur

Lukas 23:26-31

「Percaya Tindakan Ajaib Tuhan」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:26-31 [ITB])
26 Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. 27 Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.
28 Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! 29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. 30 Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! 31 Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?

Dalam ayat hari ini, Lukas secara khusus menyebutkan tindakan mengikuti dari banyak perempuan, terutama di jalan Yesus menuju salib. Kecuali Simon orang Kirene, yang dipaksa memikul salib bagi Yesus, tidak tersisa berapa murid Yesus yang bersedia mengikuti bersama-Nya. Meskipun Kitab Suci menggambarkan bahwa banyak orang mengikuti Yesus, menurut Luk. 23:35, orang-orang ini hanya berdiri di situ dan melihat semuanya (menonton). Mereka mungkin memiliki maksud lain menunggu adakah mukjizat datang dari Yesus, dapat dilihat bahwa hanya ratap tangisan para wanita ini adalah penghiburan terbesar bagi Yesus di jalan penderitaan.

Dalam Luk. 8:3, Lukas telah menyebutkan bahwa para wanita ini menggunakan harta milik mereka sendiri untuk menyokong kebutuhan Yesus dan para murid. Sampai pada tahap akhir, mungkin kelompok wanita inilah yang masih setia di samping Yesus.

Tetapi yang mengejutkan, Yesus tidak mengatakan sesuatu yang menyedihkan tentang bencana yang Ia hadapi ini. Sebaliknya, Dia menghibur para wanita ini, jangan menangis untuk-Nya, tetapi menangislah untuk para wanita Yerusalem dan anak-anak mereka. Bagi Yesus, kematian-Nya akan membawakan penghakiman hari akhir zaman, dijatuhkannya keputusan dosa kedua belas suku Yakub (Lukas 22:30 kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel), dan Bait Suci Yerusalem ke tangan orang-orang non Israel lagi. Jika merujuk pada Yer. 9:17-19 beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perhatikanlah! Panggillah perempuan-perempuan peratap, supaya mereka datang, dan suruhlah orang kepada perempuan-perempuan yang bijaksana, supaya mereka datang! Biarlah mereka bersegera dan meratap karena kita, supaya mata kita mencucurkan air mata, dan kelopak mata kita melelehkan air! Sebab terdengar ratapan dari Sion: Wahai binasalah kami! Kami sangat dipermalukan! Sebab kami harus meninggalkan negeri ini, karena rumah-rumah kediaman kami dirobohkan orang. Tidak sulit untuk menemukan bahwa kehancuran Bait Suci di zaman Yeremia merupakan prafigur (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) akan segera terjadi lagi sesuai perkataan Yesus.

Karena pada hari-hari Yerusalem dihancurkan, jiwa-jiwa dilumuri kekelaman, dan mereka yang tidak pernah melahirkan serta mengandung tidak perlu mengalami momen perpisahan dengan anak-anak mereka, sama seperti rasa sakit yang dirasakan Maria dipisahkan dari Yesus. Dapat dilihat bahwa pengorbanan Yesus dan keras kepala Yudaisme membawa penghakiman Allah kepada umat-Nya.

Penghakiman ini tidak hanya terjadi pada zaman Yeremia, tetapi juga terjadi di zaman Hosea. Ketika Lukas mengutip ayat-ayat Hosea 10:8 … mereka akan berkata kepada gunung-gunung: Timbunilah kami! dan kepada bukit-bukit: Runtuhlah menimpa kami! Pada saat yang sama juga menyatakan bahwa orang-orang Yahudi menyembah berhala dan meninggalkan keselamatan TUHAN (Yahweh), mereka akan menerima penghakiman yang sangat menakutkan.

Ketika penyaliban datang kepada Yesus (kayu hidup, lih. Luk. 23:31), dapat dipercaya bahwa penghakiman yang lebih mengerikan pada akhirnya akan datang kepada orang-orang Yahudi (kayu kering). Karena itu, Yesus tidak menaruh kesedihan pada diri-Nya sendiri, karena yang lebih mengerikan akan mendatangi diri orang-orang durhaka.

Renungkan:

Ketika para wanita berduka atas eksekusi pada diri Yesus, malapetaka dan penghakiman yang besar telah datang kepada mereka yang menganiaya Yesus.

Sejarah mengulang diri. Ketika kita melihat bahwa orang-orang benar ini dianiaya, jangan lupa bahwa Tuhan yang melakukan keadilan akan membawa penghukuman kepada mereka yang tidak benar, sehingga orang benar tidak akan menderita sia-sia.

Dengan tenang menunggu Tuhan yang menghakimi yang hidup dan yang mati, karena Dia hidup di antara kita.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 22:31-46

「Lemah! Menakutkankah?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 22:31-46 [ITB])
31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.
33 Jawab Petrus: Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!
34 Tetapi Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.
35 Lalu Ia berkata kepada mereka: Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?
36 Jawab mereka: Suatu pun tidak. Kata-Nya kepada mereka: Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. 37 Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.
38 Kata mereka: Tuhan, ini dua pedang. Jawab-Nya: Sudah cukup.
39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. 40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.
41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: 42 Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.
43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. 44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
45 Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita. 46 Kata-Nya kepada mereka: Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.

Setelah menetapkan Perjamuan Kudus, Yesus menubuatkan bahwa di antara para murid ada yang akan menjual Dia, dan pergi meninggalkan-Nya. Dia juga mengajarkan agar di dalam kedatangan Kerajaan Allah para murid jangan saling bertengkar memperebutkan siapa yang terbesar. Dalam perikop hari ini, Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk membuang kekeraskepalaan di dalam hati mereka, sehingga setelah Ia pergi, mereka masih dapat mengingat ajaran Yesus, bangkit bersemangat, kembali meresponi misi Injil.

Perikop hari ini, Yesus terarah kepada Petrus, menubuatkan bahwa Petrus dan para murid akan diserang oleh Iblis, menampi mereka seperti menampi gandum.

Jika kita ingat renungan empat hari yang lalu, Setan memasuki hati Yudas dan membuatnya bersama para pemimpin agama menghadapi Yesus. Ikut campur Iblis ini menunjukkan bahwa di akhir zaman ini, ia akan datang masuk ke hati umat Allah untuk bersama menghadapi Dia yang diurapi Allah. Oleh karena itu, ini adalah realitas sejati yang perlu dihadapi oleh orang-orang percaya di hari-hari akhir ini. Sampai hari ini, orang percaya harus berjaga-jaga atas yang jahat ini. Ini tidak seperti yang dijelaskan dalam literatur apokaliptik antara kedua perjanjian, peran si jahat Setan hanya dijelaskan sebagai si lemah yang dikalahkan oleh Allah.

Dalam peringatan Yesus kepada Petrus, Ia tidak heran tentang pekerjaan Setan di hati manusia, Ia terus berdoa bagi hati manusia, berharap bahwa setelah mereka yang kaki tersandung, janganlah kehilangan iman, tetapi kembali untuk memperkuat saudara-saudara yang lain.

Saudara dan saudari yang terkasih, iman tidak pernah mengobral pujian tentang kehebatan atau kelengkapan seseorang, atau tidak pernah gagal. Sebaliknya, penting untuk menghadapi kebenaran jati diri sendiri. Apakah kita harus mengalami pelajaran seperti jawaban Petrus?

Selanjutnya Yesus berbicara tentang membawa pundi-pundi uang, bekal, dan membeli pedang. Apa hubungannya hal-hal ini dengan nubuat Yesus sebelumnya menubuatkan bahwa murid-Nya akan menyangkal Tuhan?

Dalam perikop ini, Yesus mereferensi kitab Yesaya Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak, dan mengatakan bahwa ini harus digenapi atas diri-Nya. Prafigur hamba yang menderita ini (typos, pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) dikenakan ulang pada penderitaan Yesus. Inilah kebenaran Injil Yesus. Karena Injil yang sulit bagi orang-orang Yahudi ini, murid-Nya segera akan jatuh, tetapi Tuhan yang penuh belas kasihan akan terus memakai mereka, memanggil mereka untuk mengabarkan Injil, membawa pundi-pundi, bekal, menjual jubahnya dan membeli pedang untuk bersiap pergi ke setiap desa untuk mengkhotbahkan Injil ini kepada orang lain.

Karena itu, bertobat berbalik arah hendaknya jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu yakni untuk menguatkan orang-orang untuk menyebarkan Injil, bukan menjerat diri dengan kesalahan dan ketidakmampuan diri, tetapi karena kehadiran anugerah, kebangkitan Tuhan atas kehidupan, membuat orang-orang sekali lagi mengetahui untuk apakah hidup mereka?

Renungkan:

Di Taman Getsemani, para murid yang tidak berjaga-jaga, membentuk gambar yang sangat menarik, kontras dengan pergumulan Yesus, doa, pertempuran, dan malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Seperti jalan kebenaran, tidak pernah ada yang berjalan di atasnya, jalan itu sepi dan panjang, tampaknya mereka yang seharusnya berdiri di samping Anda secara bertahap tidak memahami Anda, dan akhirnya hanya Anda sendirian yang bersama Tuhan.

Mungkin di jalan melayani, Anda dan saya akan menghadapi yang seperti itu, tetapi orang-orang itu akan kembali, menguatkan orang lain, dan bersama-sama berjalan di sepanjang jalan di depan. Apakah Anda percaya bersandar pada Tuhan?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 21:20-28

「Dengan Kenyamanan Menantikan Tuhan Datang Lagi?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 21:20-28 [ITB])
20 Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.
21 Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, 22 sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis.
23 Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, 24 dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.
25 Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. 26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.
27 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
28 Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.

Perikop kemarin membuat kita merenungkan interpretasi ulang Yesus tentang pandangan akhir zaman orang Yahudi. Apa yang Ia katakan tidak sama persis dengan yang disajikan dalam literatur apokaliptik Yahudi. Di antaranya, di akhir zaman orang-orang tidak murni menunggu kedatangan kembalinya Mesias, dan dengan tenang menikmati semuanya. Sebaliknya, umat Tuhan menghendaki pembaruan dan perubahan menyeluruh untuk Mesias Yesus Kristus.

Sampai di perikop hari ini, Yesus dengan tegas menubuatkan berkembangnya akhir zaman, yakni ketika Yerusalem dikepung, umat Allah hendaknya melarikan diri ke pegunungan, mereka yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota. Lalu bagi Yesus, ini adalah salah hal yang harus digenapi dalam Kitab Suci.

Untuk mengetahui penggenapannya di sini, tidak hanya bagian nubuatan dari teks-teks Perjanjian Lama (ayat 22 itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis). Sebenarnya, kata masa pembalasan mengacu pada perjalanan sejarah umat Allah dalam Perjanjian Lama, sebagian besar dari mereka mengabaikan kehendak dan kepemimpinan Allah, menyimpang menyembah dewa-dewa lain. Karena itu, hari pembalasan datang ke Bait Suci dan kepada umat-Nya (lihat Yer. 51:11 Lancipkanlah anak-anak panah, siapkanlah perisai-perisai! TUHAN telah membangkitkan semangat raja-raja Media, sebab rencana-Nya terhadap Babel ialah untuk memusnahkannya: itulah pembalasan TUHAN, pembalasan karena bait suci-Nya!) Oleh karena itu, topik teologis tentang penghakiman atas keluarga rumah Allah ini menjadi prafigur / penggambaran yang terulang kelak (typos, tipologi), dalam kejadian sejarah yang berbeda, ketika Israel mecampakkan dan meninggalkan anugerah keselamatan dari Allah, prafigur penghakiman atas keluarga rumah Allah ini digunakan kembali untuk menyerukan pertobatan dan kepulangan kembalinya umat Allah.

Berharga untuk diperhatikan bahwa Herodes Agung menghabiskan beberapa dekade waktu, uang, tenaga dan tangan manusia untuk membangun Bait Suci yang megah, ternyata diberi tahu oleh Yesus bahwa sekali lagi akan diinjak-injak oleh orang asing, mengulangi situasi dahulu zaman Yeremia. Dapat dipercaya bahwa di dalam hati orang-orang Yahudi belum pernah memikirkan hal yang dikatakan Yesus ini dan merasa itu tidak mungkin. Sampai tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi membakar Bait Suci, prafigur penghakiman atas keluarga rumah Allah (typos) yang Yesus katakan benar-benar terulang di zaman itu.

Lalu, dalam ayat 21:25-28, Yesus sekali lagi menyatakan dengan tegas bahwa setelah Ia mati, bangkit, dan naik ke surga — Ia akan kembali datang dalam awan dengan segala kekuasaan serta kemuliaan-Nya, dan berbagi kemuliaan-Nya dengan orang-orang kudus.

Renungkan:

Hari ini, apakah kita mengulangi kesalahan Israel, yakni perlahan-lahan melupakan anugerah Tuhan, dan berpikir bahwa keselamatan Tuhan akan datang kepada diri kita sendiri, dan lupa bagaimana berjuang untuk Firman Tuhan, dan melakukan yang terbaik di dunia, rela mengorbankan semuanya, bahkan dianiaya dan disakiti?
Hidup nyaman orang Kristen (Easy Christian Life) adalah gelar kosong yang palsu. Kenyamanan hidup tenteram tidak pernah bisa digunakan pada orang Kristen. Kehidupan nyaman tenteram hanya membuat orang terperanjat pucat ketika Tuhan datang kembali. Sebaliknya, orang-orang yang setia pada pelayanan Injil dapat berdiri dan menikmati hari penebusan yang telah lama menunggu.

Apakah kenyamanan merupakan masalah umum dan musuh yang mematikan kita?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan ini untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa beaya.

Lukas 19:28-35

「Menunggangbalikkan Konsep Pewaris!」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 19:28-35 [ITB])
28 Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.
29 Ketika Ia telah dekat Betfage dan Betania, yang terletak di gunung yang bernama Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya 30 dengan pesan: Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari. 31 Dan jika ada orang bertanya kepadamu: Mengapa kamu melepaskannya? jawablah begini: Tuhan memerlukannya.』」
32 Lalu pergilah mereka yang disuruh itu, dan mereka mendapati segala sesuatu seperti yang telah dikatakan Yesus. 33 Ketika mereka melepaskan keledai itu, berkatalah orang yang empunya keledai itu: Mengapa kamu melepaskan keledai itu? 34 Kata mereka: Tuhan memerlukannya.
35 Mereka membawa keledai itu kepada Yesus, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan menolong Yesus naik ke atasnya.

Ayat-ayat hari ini dan besok dapat dianggap sebagai klimaks dari catatan tentang Yesus memasuki Yerusalem.

Berbeda dengan narasi perjalanan (travel narrative), yang menekankan bahwa orang Yahudi membutuhkan perubahan hidup dan esensi pertobatan. Sebaliknya, dalam pemaparan tentang Yesus yang naik keledai memasuki Yerusalem, adalah untuk menunjukkan siapa Mesias sejati yang sebenarnya — yakni Dia yang sesuai tradisi Yahudi mewarisi takhta kerajaan, memerintah atas Yerusalem, dan keturunan Daud yang naik takhta di Gunung Sion.

Sebenarnya seluruh Injil Lukas, dari awal catatan, sampai narasi perjalanan (kecuali pengantar di Lukas 18:39), sangat sedikit memaparkan konsep tentang Yesus Mesias sebagai putra Daud mewarisi takhta Daud. Namun, dari ayat hari ini hingga Kisah Para Rasul pasal 5, pembicaraan tentang Yesus sebagai pewaris takhta Daud (Davidic kingship) dapat dikatakan tersebar luas dalam sepuluh pasal Alkitab ini. Di antaranya memakai Mazmur penobatan raja Daud naik takhta (enthronement of Davidic kingship Psalms) digunakan untuk menggambarkan penderitaan, kebangkitan, dan kenaikan Yesus, adalah yang paling menonjol.

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang dikutip dalam perikop hari ini berasal dari gambaran Zakharia mengenai Raja Daud yang datang pada akhir zaman: Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda (Zak. 9:9), menuturkan bahwa Raja Daud yang dijanjikan datang di zaman akhir, mengendarai anak keledai masuk ke kota suci Yerusalem. Adegan tersebut meletakkan prafigur nubuat (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) ini kepada Yesus Kristus, menunjukkan bahwa Ia adalah Raja Mesias yang dijanjikan.

Bahwa putra Daud menunggangi keledai ke Yerusalem sebagai pernyataan datangnya raja Daud akhir zaman, bukan hanya muncul di kitab Zakharia. Dalam kitab 1 Raja-raja pasal 1, ketika raja Salomo dan Adonia berebut sebagai pewaris takhta Daud yang sejati, Salomo yang duduk di atas keledai, akhirnya menang dan mendapatkan kembali identitas terhormat tersebut. Dengan cara yang sama, Yesus mengendarai keledai masuk kota untuk menunjukkan bahwa Ia adalah keturunan Daud yang sejati dan layak menjadi Raja untuk memerintah seluruh negara Israel.

Bagi orang-orang Yahudi pada masa itu, orang yang akan menjadi raja Mesias adalah yang akan mengalahkan pemerintah Romawi dan meninggikan panji-panji Israel di Gunung Zion.

Namun pada kenyataannya, prinsip Yesus sebagai Raja, dan tujuan memasuki Yerusalem, bukanlah untuk memenuhi harapan dan imajinasi publik. Dia datang untuk menunggang balikkan sistem kepercayaan mereka dan untuk memikirkan tentang Sang Penyelamat yang sebenarnya dari sudut pandang perubahan hidup. Oleh karena itu, ketika Dia naik keledai masuk ke kota, secara permukaan terlihat seperti provokasi terhadap rezim pemerintah, tetapi kenyataannya, itu tidak seperti yang dibayangkan publik. Apa yang ingin dicatat oleh Lukas adalah Yesus yang disalibkan yang mati di Yerusalem, Dia itulah pewaris sejati dan naik takhta di surga (bukan seperti yang mereka kira, naik takhta di bumi) yang adalah Sang Raja Daud yang dijanjikan datang.

Renungkan:

Hidup mungkin tidak seperti yang diharapkan, dan dapat menunggang balikkan kerangka yang kita miliki dengan cara yang berbeda, tetapi sepenuhnya berkaitan dengan apakah kita dapat berubah diperbarui, bersiap menerima Tuhan yang selalu melakukan hal-hal baru, dan di zaman ini, melakukan apa yang Tuhan ingin kita hidupi?


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.