Tag Archives: Psalmic righteous sufferer

Lukas 24:13-27

「Lamban Percaya?」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 24:13-27 [ITB])
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan? Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini? 19 Kata-Nya kepada mereka: Apakah itu? Jawab mereka: Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Dalam ayat kemarin, kita berbicara tentang para wanita yang melaporkan kepada para murid tentang kebangkitan Yesus. Dapat kita percaya bahwa setelah verifikasi Petrus, perlahan-lahan akan mengguncangkan hati para pengikut: Apakah Yesus benar-benar sudah bangkit? Mungkin kita akan berpikir bahwa catatan dalam Alkitab akan memberikan lebih banyak bukti tentang munculnya Yesus dengan tubuh-Nya dan dengan demikian menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus itu benar adanya. Namun, pasal terakhir Injil Lukas tentang narasi kesengsaraan tidak hanya berfokus pada kebangkitan fisik Yesus, tetapi bagaimana melalui Alkitab menafsirkan ulang apa yang disebut Anak Manusia yang menderita namun berkemuliaan.

Ketika dua murid meninggalkan Yerusalem, mereka berjalan menuju sebuah desa (Emaus) dan berbicara satu sama lain tentang apakah Yesus benar-benar bangkit setelah kematian-Nya. Bagi mereka, di satu sisi, mereka telah mendengar perkataan para wanita dan rasul Petrus tentang kuburan kosong, di sisi lain, ini tampaknya menjadi hal yang tidak bisa dicerna pikiran. Dalam ayat 19-24, mereka berdua menjelaskan secara terperinci seluruh kisah dan pergumulan di hati mereka: di manakah tubuh Yesus? Apakah itu diambil orang, atau benar-benar telah bangkit?

Hal yang paling ajaib dalam keseluruhan catatan adalah bahwa Yesus dengan tubuh kebangkitan-Nya jelas-jelas berbicara dengan mereka, tetapi Kitab Suci menggunakan kata mata yang terhalang untuk menggambarkan situasi kedua orang ini. Kata ini dalam bahasa asli Yunani adalah bentuk pasif, yang berarti bahwa itu sengaja diatur oleh Allah sehingga mereka tidak dapat mengenali orang yang mereka ajak berbicara adalah Yesus.

Mungkin ini menarik kita untuk bertanya seperti apa rupa Yesus di dalam tubuh kebangkitan. Ini mungkin patut diperhatikan, namun Kitab Suci berfokus pada bagaimana Yesus menafsirkan apa yang tertulis dalam Kitab Suci dan bagaimana melalui tulisan Kitab Suci memahami Kristus harus mengalami penderitaan lalu masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Lukas pasal 24 telah tiga kali menyebutkan tentang pentingnya Yesus menjelaskan Kitab Suci (lih. Luk. 24:27, 32, 44). Dan ayat 27 hari ini menyebutkan: Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.Dapat dilihat bahwa setelah kebangkitan Yesus, walaupun Ia menampakkan diri berulang kali kepada orang, tetapi bagi pena Lukas, yang paling penting adalah bagaimana melalui tulisan Kitab Suci memahami penderitaan Yesus dan kemudian memasuki kemuliaan. Sama seperti dalam narasi penderitaan Yesus, Lukas berulang kali menceritakan tema mazmur penderitaan orang benar dalam kutipan Yesus di kayu salib untuk menjelaskan apakah hamba yang menderita itu ─ yakni setelah semua penderitaan, ia akhirnya akan mendapatkan keselamatan dan berkat dari Allah.

Dapat dipercaya bahwa pemahaman atas kebenaran Kitab Suci dan diperbaharui adalah prioritas utama dalam menjadi saksi mata atas kebangkitan. Dalam proses pewarisan ke depan, penafsiran yang benar tentang kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga merupakan dasar bagi pewarisan dari generasi ke generasi.

Bukankah ini adalah hal yang dititikberatkan dalam keseluruhan Injil Lukas?

Renungkan:

Yesus menegur kedua orang ini sebagai Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

Apakah kita juga menjadi orang bodoh tidak ingin mengetahui kebenaran? Apakah lamban percaya?

Kita mungkin berpikir bahwa apa yang kita yakini adalah keseluruhan dari kebenaran, tanpa diketahui ternyata hanya mengetahui sebagian kecil dari kebenaran, mari kita lebih rendah hati mengejar kebenaran yang membuat hidup berubah!


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 23:44-56

「Pasti ada yang Merespons Kebenaran」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:44-56 [ITB])
44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.
46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: Sungguh, orang ini adalah orang benar! 48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri.
49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.
50 Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. 51 Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.
52 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. 53 Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
54 Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. 55 Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. 56 Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,

Narasi kesengsaraan Yesus sepatutnya dipahami dalam konteks kedatangan akhir zaman, yaitu bahwa keselamatan yang digenapi oleh penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga itu adalah akhir zaman yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Namun, ini hanya langkah pertama dalam dimulainya akhir zaman, di dalam konsep teologis sudah tapi belum (already but not yet), berada di era akhir zaman ini, kita masih harus menunggu kedatangan Yesus yang kedua.

Oleh karena itu, kita juga sudah membicarakan apakah Firdaus itu, saat Yesus di atas salib, Ia mengundang penjahat yang mau bertobat itu bersama-sama memasuki Firdaus akhir zaman.

Adapun perikop hari ini di awal sudah menggunakan bahasa akhir zaman untuk mengekspresikan kematian Yesus: Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. Matahari menjadi hitam tidak bersinar, tepat di tengah hari, ternyata kegelapan meliputi seluruh daerah, seperti dalam ayat-ayat Perjanjian Lama, di hari akhir yang hebat dan dasyat itu datang mendekat (Amos 8:9; Yoel 2:10, 30-31 klik untuk baca), tepat menyatakan bahwa kematian Yesus juga merupakan datangnya hari akhir. Dalam hati orang-orang Yahudi, kehadiran hari akhir hanya mencakup datangnya Allah dan penghakiman Allah terhadap bangsa-bangsa asing. Tidak terduga apa yang menimpa Yesus seolah-olah adalah penghakiman Allah terhadap Mesias yang Ia utus sendiri? ! Bagaimana mungkin bisa seperti itu?

Faktanya, keselamatan-Nya yang Ia tetapkan itu adalah melalui Putra-Nya sendiri menanggung hukuman yang pantas diterima setiap orang. Tabir Bait Suci terbelah dua, menyatakan bahwa setelah kematian-Nya (dan bangkit), orang dapat secara langsung mendekati Bapa. Penyaliban Yesus memungkinkan bagi orang Yahudi dan orang non Yahudi untuk menerima anugerah ini dengan cuma-cuma ─ mulai saat itu tabir Bait Suci tidak akan dapat memisahkan kedua jenis orang ini, dan bersama-sama dapat menjadi tubuh Kristus.

Seperti ayat kemarin, tema penderitaan orang benar dalam Mazmur muncul kembali dan menjadi kalimat terakhir Yesus sebelum kematian-Nya: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (lih. Maz. 31:5 Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia). Dan kata-kata yang diucapkan di mulut Yesus ini menyatakan ketaatan-Nya, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa Ia memahami tema dari mazmur ini, agar orang-orang mendatang, seperti murid-murid-Nya dan gereja saat ini, mempelajari prafigur dalam mazmur ini (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak). Teladan Yesus adalah rela di dalam kehendak Allah menderita bagi Allah, sekalipun itu disalahpahami dan dicampakkan oleh orang banyak. Ini juga persyaratan dasar untuk mengabarkan Injil.

Setelah kematian Yesus, Lukas secara unik mencatat tanggapan kepala pasukan, yang mengatakan bahwa Yesus adalah sungguh orang benar. Jika Orang Benar ini dipahami berdasarkan prafigur penderitaan orang benar dalam Mazmur, perwira itu benar-benar memahami mengapa orang benar akan menderita, maka ia memuliakan Allah.

Renungkan:

Sebenarnya, hal kebenaran bukanlah orang tidak tertarik untuk mengetahui dan memahami. Ayat-ayat hari ini dengan sarkastik merekam pemahaman kepala pasukan tentang kehendak keselamatan Allah bagi orang Yahudi. Dan kemudian seluruh orang banyak (termasuk orang-orang Yahudi) yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, sesudah melihat apa yang terjadi itu pulang sambil memukul-mukul dada mereka, mungkin menunjukkan bahwa mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan.

Manifestasi kebenaran dan pemberitaan tentang kebenaran mungkin tidak segera mendapat tanggapan, tetapi percayalah bahwa kebenaran ini akan bertunas di dalam hati orang, dan pada saat yang sesuai, akan menghasilkan buah. Hanya saja tunggu sedikit waktu lagi, itu saja. Tidakkah demikian?

Mari kita bersama jaga pengharapan ini!


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 23:32-43

「Kebenaran yang Memperbaruhi Hati Manusia」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 23:32-43 [ITB])
32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. 33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
34 Yesus berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah. 36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya 37 dan berkata: Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu! 38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: Inilah raja orang Yahudi.
39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami! 40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.
42 Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. 43 Kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Ayat hari ini adalah tentang percakapan yang ditujukan kepada Yesus dari dua orang berdosa yang dipaku di samping-Nya, percakapan ini unik hanya ada dalam Injil Lukas. Namun, catatan singkat ini adalah ringkasan Lukas atas pandangan teologi terhadap narasi kesengsaraan Yesus (passion narrative), bertujuan agar kita dapat bagaimana menafsirkan (memahami makna) penyaliban dan kebangkitan Yesus.

Pertama-tama, di sini penuh dengan catatan dari Mazmur Perjanjian Lama tentang penderitaan orang benar (righteous suffering), misalnya, mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya adalah rujukan dari Maz. 22:18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku; juga orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah yang merujuk Maz. 22:7-8 Semua yang melihat aku … biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?; dan prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya mengacu pada Maz. 69:19-21 Engkau mengenal celaku, maluku dan nodaku; … mereka memberi aku minum anggur asam.

Melihat dua Mazmur ini, temanya adalah deskripsi tentang penderitaan orang benar. Demikian juga dalam Maz. 118 yang dikutip bagi Yesus memasuki Yerusalem, penderitaan orang benar adalah keadaan normal, yang juga merupakan tempaan bagi manusia dalam kehidupan, apakah ia benar-benar mau menunggu Allah dan mengandalkan Allah (lihat renungan Lukas 19:36-40). Oleh karena itu, mengutip Mazmur yang bertopik penderitaan orang benar adalah untuk meneguhkan bahwa itu adalah keadaan normal adanya penderitaan orang benar. Sedemikian juga peluasannya kepada penderitaan dan bahkan penyaliban Orang Benar Yesus, ini bukanlah hal yang memalukan, tetapi justru merupakan esensi intisari dari teologi Mazmur Perjanjian Lama.

Kita bisa menyebut prafigur ini (typos / pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak) sebagai penderitaan orang benar dalam Mazmur (Psalmic righteous sufferer). Lalu, dari perspektif pandangan akhir zaman, banyak orang, termasuk para pemimpin agama, para murid, semua berpikir bahwa Mesias yang dijanjikan datang sebagai raja penakluk dunia, menyelamatkan umat Allah dalam kemenangan demi kemenangan, sehingga kemuliaan Allah sekali lagi dimanifestasikan di dunia.

Perlu diketahui bahwa sejatinya yang Allah janjikan datang pada akhir zaman bukanlah seperti yang mereka bayangkan, juga bukan dengan kemuliaan memegang kuasa di dunia seperti yang dikatakan dalam pandangan akhir zaman literatur apokaliptik Yahudi. Karena itu, ayat unik ini di bagian akhir berbicara tentang label akhir zaman ─ Firdaus. Kata ini digunakan dalam terjemahan P.L Septuaginta untuk menjelaskan gambaran Taman Eden yang paling orisinal dan harmonis. Dalam arahan akhir zaman, kata ini digunakan untuk menunjukkan tempat indah yang ditetapkan oleh Allah bagi manusia di akhir zaman.

Merangkum pembicaraan di atas, tema penderitaan orang benar dalam Mazmur digenapkan pada diri Mesias akhir zaman, sehingga orang-orang Yahudi sepatutnya sekali lagi kembali ke teologi Alkitab, memahami dengan benar Yang Maha Suci yang dijanjikan datang di akhir zaman. Juga agar orang tidak lagi terkejut bahwa Yesus, Putra Allah, mati di kayu salib.

Renungkan:

Dalam hati kita mungkin sudah melekat selama bertahun-tahun tentang prinsip dan gagasan bagaimana hidup sebagai manusia, yang mungkin sesuai konsensus banyak orang. Tetapi mari kita masuk lebih jauh ke dalam Firman Tuhan, untuk menemukan lebih banyak kemungkinan, Kebenaran Tuhan sekali lagi menyentuh hidup kita dan membawakan kejutan sukacita.


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 19:36-40

「Arti Raja yang sebenarnya!」
Oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Luk. 19:36-40 [ITB])
36 Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu mereka menghamparkan pakaiannya di jalan. 37 Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. 38 Kata mereka: Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!
39 Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus: Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu.
40 Jawab-Nya: Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.

Dalam perikop kemarin, kita berbicara tentang Raja Mesianik yang dijanjikan datang di akhir zaman, yakni yang mengendarai keledai, pewaris takhta Daud raja Yahudi. Dalam ayat hari ini, kita akan menemukan lebih jauh, apakah yang disebut Raja Mesianik sejati, atau bagaimana baru bisa disebut pewaris takhta raja Yahudi sejati, apakah dengan mengandalkan pedang? Atau mengandalkan …

Perikop ini merupakan catatan yang menunjukkan format deskripsi zaman itu ketika raja atau jenderal Romawi Yunani mengalahkan musuh, memasuki kota musuh, yakni yang disebut sebagai memasuki kota dengan kemenangan (triumphal entry). Ada dua unsur penting yang terlibat dalam deskripsi ini (lihat Sejarah Kuno Yahudi Ant.11.8.5 332-336, 1 Mak. 4:46-53):

  • rakyat menaikkan suara bersorak-sorai, menyambut raja yang menang masuk ke kota
  • raja atau jenderal yang menang akan mempersembahkan kurban di kuil untuk menunjukkan bahwa kemenangannya juga diberkati oleh para dewa setempat.

Tetapi dalam ayat hari ini, kita hanya melihat unsur pertama dari langkah kemenangan memasuki kota, Yesus tidak memberikan persembahan korban di Bait Suci, malah sebaliknya Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri. Karena itu, kita ingin bertanya mengapa walaupun Yesus tidak memberikan persembahan korban di Bait Suci, Ia masih masuk ke kota suci Yerusalem dalam format gambaran kemuliaan yang dikenal baik oleh publik ini?

Ketika kita melihat lebih dekat perikop hari ini, kita menemukan ayat 38 merupakan kutipan dari Maz. 118:26 untuk merangkum tindakan masuk ke kota dengan kemuliaan yang dilakukan Yesus. Referensi ini memunculkan aplikasi penting dalam memahami apa makna sebenarnya langkah Yesus memasuki kota dengan kemuliaan.

Ketika kita melihat dengan saksama seluruh Mazmur 118 (klik untuk membaca), kita akan menemukan bahwa Mazmur ini dapat dipandang sebagai mazmur kemenangan raja masuk kota, atau sebagai mazmur raja naik takhta. Kita sering berpikir bahwa ketika raja Daud memasuki kota bermakna ia membawa kemenangan dan raja besar menaklukkan dunia. Jika kita perhatikan Maz. 118:5-7 Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? TUHAN di pihakku, menolong aku; aku akan memandang rendah mereka yang membenci aku. Lalu Maz. 118:10-11 Segala bangsa mengelilingi aku–demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. Mereka mengelilingi aku, ya mengelilingi aku–demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. Maz. 118:17-18 Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut. Dari sini akan kita menemukan alasan bahwa raja dipuji, bukan karena ia mampu menguasai dunia atau karena ia memiliki kekuatan dan kebijaksanaan militer. Namun peduli bahwa dalam semua kesusahan dan kesulitan, ia memiliki tekad bahwa ia menanggung semua itu untuk Allah, serta dalam prosesnya dia nyata menunjukkan bahwa ia bergantung pada TUHAN semesta alam.

Raja seperti itu sama sekali berbeda dari deskripsi zaman kuno daerah Timur Dekat atas raja yang naik takhta, para raja mereka diharapkan mampu seperti dewa, membawa rakyat hidup aman tenteram, sandang pangan yang berkelimpahan. Tetapi raja-raja Yahudi harus merendahkan hati, menjadi panutan teladan bagi rakyat, agar mereka dapat belajar bagaimana mengandalkan TUHAN, seperti yang dilakukan raja Yahudi.

Karena itu, deskripsi Lukas tentang masuknya Yesus ke kota adalah tepat menempatkan prafigur nubuat (typos) dari Mazmur 118 pada diri Yesus dan segala yang Ia alami di Yerusalem. (Prafigur nubuat / typos: adalah pra penggambaran atas pengulangan sesuatu yang ada atau terjadi kelak)

Renungkan:

Ketika semua orang bersorak pada Yesus sebagai raja, mereka tetap berhenti berada dalam ideologi sekuler, berpikir bahwa Yesus akan menjadi raja dunia memerintah atas semua negeri (menggulingkan penjajah Romawi). Namun, Lukas membawa kita kembali ke pembahasan raja dalam Mazmur, sehingga kita dapat melepaskan kebenaran yang kita pikir benar oleh diri kita sendiri.

Benarkah? Apakah kebenaran benar-benar membuat kita melepaskan semua pengistimewaan diri kita sendiri? (Merasa diri kitalah yang pantas)


Renungan pemahaman Injil Lukas (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 19-24 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan Juli 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.