Tag Archives: Sikap Hamba

2 Korintus 6:1-10

「Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 6:1-10 [ITB])
1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
2 Sebab Allah berfirman:
………Pada waktu Aku berkenan,
………………Aku akan mendengarkan engkau,
………dan pada hari Aku menyelamatkan,
………………Aku akan menolong engkau.
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu;
sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu:
………dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,
………5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan,
………dalam berjerih payah,
………dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
………6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati;
………dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;
………7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah;
dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela
………8 ketika dihormati dan ketika dihina;
………ketika diumpat atau ketika dipuji;
………ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai,
………9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal;
………sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup;
………sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;
………10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita;
………sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang;
………sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Dalam perikop panjang di atas (2:14-5:21), Paulus telah membuat eksposisi teologis atas pelayanannya, menunjukkan bahwa pelayanan Perjanjian Baru adalah mulia dan penuh pengharapan, bahkan jika orang-orang yang terlibat dalam pelayanan ini sering mengalami pukulan kesulitan, dan kesengsaraan, pada saat yang sama mereka harus menghadapi permusuhan yang meragukan mempertanyakan, fitnah, dan tuduhan dari orang lain. Menjadi utusan khusus Kristus adalah penuh tantangan, tidak semudah dan romantis seperti yang dibayangkan, harus bertahan terus berjalan dan berusaha untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepadanya, orang yang melayani yang harus memiliki dukungan dan kepercayaan dari rekan sepelayanan, secara pikiran harus menyadari apa yang telah dilakukan ── apa yang Allah ingin capai melalui kita? Apa rencana, niat, dan harapan Allah? Apa yang akan menjadi hasilnya? Ketika pelayan-pelayan mulai memikirkan masalah ini, wacana teologis mulai bekerja membantu kita memikiran berbagai isu berkaitan dengan Injil, dan mencoba untuk memberikan jawaban yang konsisten dan koheren didasarkan pada Alkitab. Setiap pelayan yang memberitakan Firman Tuhan perlu memiliki pemahaman teologis yang solid sehingga dia lebih dekat setiap saat pada Allah Tritunggal, jika yakin semuanya berasal dari Allah maka apapun yang dihadapi tidak akan merasa takut.

Meski iman teguh dan tahu bahwa semuanya berasal dari Allah, Paulus juga perlu membuat pembelaan atas perjalanan, pengalaman, integritas, dan kualifikasi dirinya, agar dia tidak menjadi batu sandungan penghalang bagi orang lain didamaikan dengan Allah. Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela (6:3). Ya, karena segala sesuatu adalah berasal dari Allah, tidak ada yang dapat menghalangi pekerjaan Tuhan. Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak (Lukas 19:40) Namun, Allah juga senang agar orang berpartisipasi dalam pelayanan dan melakukan sesuatu untuk-Nya. Segala sesuatu berasal dari Allah dan Sebagai teman-teman sekerja, … kami adalah pelayan Allah (6:1) ini adalah dua hal yang tidak bertentangan. Ada pepatah yang mengatakan seratus persen kasih karunia Allah, juga seratus persen pekerjaan manusia. Menurut pendapat saya, perkataan ini meskipun mengakui bahwa orang menjadi rekan kerja Allah, tetapi mengatakan juga seratus persen pekerjaan manusia ini terlalu dilebih-lebihkan, seakan-akan manusia ikut kontribusi bersama Allah dalam keselamatan. Bagi Paulus, semuanya sepenuhnya kasih karunia Allah, manusia bisa menjadi rekan kerja Allah itu juga sepenuhnya kasih karunia Allah, oleh karena itu untuk membalas kasih karunia Allah maka Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima (6:1) Kasih karunia apa yang telah mereka terima? Di ayat 6:2 Paulus mengutip Yesaya 49:8 Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau, ketika kita membaca Yesaya 49 Allah memberikan janji kepada hamba-Nya Israel, mengatakan bahwa Ia akan melindunginya (mereka), dan Ia juga akan melalui dia (mereka) untuk melakukan keselamatan dan menjadi terang bagi semua bangsa. Namun, bagaimana hamba tuhan melihat dirinya sendiri? Di hadapan Tuhan, dia berkata: Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku (Yesaya 49:4), dapat dilihat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, hanya kasih karunia Allah saja, tidak ada sedikitpun karena pekerjaan manusia. Di dalam kasih karunia Allah maka orang memiliki kesempatan untuk ikut melakukan sesuatu dalam karya keselamatan Allah, tetapi tidak peduli seberapa banyak upaya yang dilakukan orang itu, jika bukan karena kasih kemurahan Allah, semua usaha manusia bekerja sekeras apapun hanyalah sia-sia. Agar tidak membuat kasih karunia Allah menjadi sia-sia, orang perlu melakukan sesuatu untuk Tuhan (atas kesempatan yang Tuhan anugerahkan), tetapi bukan berarti ketika tangan dan kaki manusia berhenti, maka rencana keselamatan Allah terhalang atau dihancurkan. Karya Allah dan tindakan manusia ada pada tingkat level yang berbeda.

Untuk membalas kasih karunia kebaikan Allah, Paulus tidak hanya bekerja keras melakukan yang terbaik untuk menghilangkan (dan tidak menjadi) batu sandungan (ayat 3), dalam segala hal melakukan yang terbaik untuk menunjukkan bahwa dia adalah pelayan Allah. Di teks sebelumnya di atas Paulus telah menuliskan pembelaan atas pelayanan dan karakter dirinya, itu adalah semacam pernyataan. Di sini, Paulus menuliskan sederetan istilah yang berbeda, untuk menunjukkan dalam aspek apa saja ia merupakan hamba Allah, beberapa terkait aspek penderitaan (dera, penjara dan kerusuhan, jerih payah, berjaga-jaga / tidak bisa tidur, dan berpuasa / kelaparan), ada yang terkait aspek kualitas karakter (kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik), dan ada pula yang berhubungan dengan aspek pelayanan (memberitakan kebenaran dan kekuasaan Allah, menggunakan senjata-senjata keadilan, dihormati dan dihina, diumpat atau dipuji). Paulus mengatakan semua ini untuk menunjukkan bahwa dia adalah hamba Allah, dan dapat dilihat semua orang. Singkatnya, jangan melihat dari penampilan luar dianggap sebagai penipu, namun dipercayai; sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati(6:9-10). Siapa sebenarnya yang merupakan hamba Allah? Apakah itu Paulus? Atau mereka yang merekomendasikan diri mereka sendiri dan menyombongkan diri berdasarkan penampilan mereka? Paulus menggunakan pengalamannya di sini untuk membuat jemaat Korintus melihat dengan jelas, dan secara tidak langsung menantang mereka yang mempertanyakan dia agar menunjukkan surat rekomendasi yang sama dan membandingkannya (supaya pelayanan kami jangan sampai dicela, dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung)

Renungkan:
Allah senang agar anak-anak-Nya bekerja bersama dengan-Nya, apakah saya bersedia untuk memberikan diri bagi Tuhan? Demi Injil Yesus Kristus, bagaimana saya dapat menghindari melakukan hal-hal yang menghalangi dan menjadi sandungan bagi orang lain? Dengan cara apa saya dapat menunjukkan bahwa saya adalah hamba Allah? Apakah saya memiliki wacana teologis yang jelas tentang pelayanan Perjanjian Baru?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Mazmur 123:3-4

「Penantian」 Hamba

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 123:1-4 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. 2Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
3Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; 4jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.

Maz. 123:3-4 cukup spesial: bersama dengan akhir ayat 2, Pemazmur di sini total tiga kali meminta 「belas kasihan」 dari TUHAN Allah, kemudian ayat 3-4 juga dua kali menyebutkan bahwa kita telah mengalami ejekan dari orang yang hidup nyaman dan penghinaan dari orang sombong. Suara dan nada Pemazmur, seolah-olah teriakannya belum terdengar oleh Allah, oleh karena itu, berharga untuk direnungkan: sebenarnya apakah Tuhan akan begitu kejam, menempatkan para pengikut-Nya hidup matinya mereka seakan di luar urusan diri-Nya? Selain itu, bagaimana kedua ayat ini berhubungan dengan 「melayangkan mata berharap」 di ayat 1-2?

Pada kenyataannya, yang dibicarakan dalam ayat 2 oleh Pemazmur tentang hamba 「melayangkan mata berharap」 kepada tuannya, mengingatkan kita bahwa terdapat hubungan yang sangat intim antara peziarah dan Tuhan. Dalam hubungan antara Allah dan peziarah ini memastikan bahwa ketika kita masuk ke dalam keadaan tersebut di ayat 3-4, kita tetap tidak perlu takut, karena Allah yang berpegang pada perjanjian-Nya yang penuh kasih adalah Allah yang setia tidak pernah berubah, dan kita ternyata selalu tinggal berada di tangan seorang Tuan yang lebih baik dan lebih ajaib. Dengan kata lain, Tuhan tidak hanya tidak memperlakukan kita seperti orang luar yang tidak ada sangkut paut dengan diri-Nya, Ia menempatkan kita di dalam hati-Nya, mengurus, membimbing, dan mengasihi melindungi kita. Apa yang perlu kita ingat dengan sungguh-sungguh? Ternyata, kita semua sudah tinggal di bawah 「belas kasih」.

Para peziarah sudah mengalami asam pahitnya perjalanan ziarah, dan hari ini mereka akhirnya sampai ke tempat ini ─ rumah Tuhan; oleh karena itu ia tidak lagi perlu bertanya lagi, 「dari manakah datangnya pertolonganku?」 Saat ini yang harus ia ketahui dan tidak boleh lupa adalah bahwa saat ia menyelesaikan perjalanan Ziarah, meninggalkan Bait Allah, sekali lagi kembali kepada kehidupannya, TUHAN tetap masih merupakan sumber kekuatan dirinya, dan akan berkelanjutan tiada henti menyertai bersama dirinya.

Apakah TUHAN Allah akan mengabaikan para peziarah? Tentu saja tidak!

Renungkan: Apakah hamba masih harus 「menantikan」? Mungkin ketika kita tidak melupakan bahwa kita telah tinggal di bawah 「belas kasihan」 dan telah terus menerus berada dalam pemeliharaan Tuan, kita akan tahu bahwa bahkan jikalaupun jalan di depan sangat sulit untuk dilalui, namun dengan bantuan Tuan yang bertakhta di sorga, kita pasti akan mampu menyelesaikan perjalanan.

Apa kesulitan kita jumpai? Mohon Tuhan menolong kita!

Mazmur 123:1-2

Pandangan 「Berharap」 dari Hamba

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Mazmur 120-134 ditulis oleh 黃天逸 (Huáng Tiān Yì) yang dipublikasi pada bulan Mei 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Maz. 123:1-4 [ITB])
1Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. 2Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.
3Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; 4jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.

Setelah membaca puisi ini, kita mungkin memiliki kesan bahwa fokus dari puisi adalah mereka yang menderita dari 「penghinaan dan ejekan」 memohon belas kasihan dan bantuan kepada TUHAN. Namun, dalam ayat 4 ketika Pemazmur menggambarkan mereka menerima begitu banyak olok-olok dari orang-orang yang hidup aman dan hinaan dari orang-orang yang sombong, hanya sampai di sini tidak melanjutkan perkataannya lagi, dan tidak tahu apa yang Allah telah lakukan ketika mereka mengalami kesulitan. Jika demikian, bagaimana kita memahami Mazmur 123?

Dalam ayat 1, Pemazmur berkata 「Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga.」 Hal yang aneh, sebagai 「Mazmur Ziarah」 yang keempat, kita ingat bahwa tindakan 「melayangkan mata」 telah muncul di Maz. 121, dan Pemazmur akhirnya menemukan bahwa bantuan yang sesungguhnya datang dari TUHAN Pencipta dunia. Dari sini dilihat, Mazmur 123 sekali lagi menyebutkan 「melayangkan mata」, mungkin tidak meletakkan titik fokus bukan pada keselamatan dari Allah. Jadi sebenarnya apa yang Pemazmur hendak katakan? Ayat 2 memberi kita jawabannya.

Dalam ayat 2, Pemazmur menyebutkan 「mata para hamba laki-laki」 dan 「mata hamba perempuan」, fokus Pemazmur di sini bukanlah 「mata」, tetapi sikap yang sama dari mereka yakni 「berharap」 kepada Tuan. Ayat ini juga merupakan catatan paling penting bagi tindakan para peziarah 「melayangkan mata」 di ayat 1, memberitahukan kepada kita: bahwa jika kita berdiri di posisi yang salah, maka kita akan sulit menanggapi perintah Tuannya secara tepat waktu. Jika demikian, kita hendaknya bertanya: apa hubungan antara hamba mentaati perintah Tuannya dengan tindakan 「melayangkan mata」 kepada TUHAN yang dikatakan dalam ayat 1?

Dalam budaya daerah Timur dekat zaman purba, 「tangan」 adalah sebuah bahasa yang penting, terutama dalam zaman dulu, pemilik memakai tangan memberi perintah kepada hambanya, memanggil mereka datang, demikian juga jika menghempaskan lengan baju untuk menyuruh mereka pergi. Dengan kata lain, begitu tuan menggerakkan tangan, maka hamba yang ada di dekat dirinya harus tahu apa pikiran tuan, hamba wanita yang ada di dekat diri tuannya juga harus sadar akan pikiran nyonyanya. Oleh karena itu, tatapan mata hamba pada tangan tuannya, dan hamba wanita memandang tangan nyonyanya sebenarnya memiliki dua lapisan makna:

  1. Menunjukkan bahwa mereka dengan satu hati berfokus melayani tuannya atau nyonyanya;
  2. Mereka harus penuh perhatian menaati perintah

「Dengan satu hati berfokus melayani」, 「penuh perhatian menaati」 ─ Pemazmur menggunakan perumpamaan ini untuk menghendaki para peziarah memahami kebenaran yang sangat penting: jangan hanya berfokus pada diri sendiri. Pada kenyataannya, jika Allah adalah Tuhan yang sungguh, Dia pasti lebih tahu tentang keadaan dan kesulitan kita daripada diri kita, dan jika Allah adalah Tuhan yang sungguh, Dia juga pasti memahami apa yang kita butuhkan lebih daripada yang diri kita. Maka jika demikian adanya, kita dengan maksimal seperti 「mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya」 dan seperti 「mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya」. Dengan 「satu hati berfokus melayani」, 「penuh perhatian menaati」 perintah tuan ─ 「menerima pengutusan」, 「menerima perintah」, dengan demikian itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita tidak berdiri dalam posisi yang salah!

Renungkan: Mungkin hari ini kita berada di dalam berbagai macam kesulitan, dan mungkin kita akan berdoa kepada TUHAN memohon anugerah-Nya dengan besar ditambahkan pada diri kita, sehingga kita dapat lepas dari kesulitan. Tetapi apakah kita pernah mencoba dengan sungguh-sungguh 「berdiri」 di posisi itu dan mempelajari pelajaran 「satu hati berfokus melayani」 dan 「penuh perhatian menaati」 agar kita memahami bagaimana Tuhan menempatkan kita di posisi itu dan menyadari apa yang kehendak dan misi yang Tuhan ingin kita lakukan di sini?