Tag Archives: Pelayan Injil

2 Korintus 6:1-10

「Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 6:1-10 [ITB])
1 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
2 Sebab Allah berfirman:
………Pada waktu Aku berkenan,
………………Aku akan mendengarkan engkau,
………dan pada hari Aku menyelamatkan,
………………Aku akan menolong engkau.
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu;
sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu:
………dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,
………5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan,
………dalam berjerih payah,
………dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
………6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati;
………dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;
………7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah;
dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela
………8 ketika dihormati dan ketika dihina;
………ketika diumpat atau ketika dipuji;
………ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai,
………9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal;
………sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup;
………sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;
………10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita;
………sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang;
………sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Dalam perikop panjang di atas (2:14-5:21), Paulus telah membuat eksposisi teologis atas pelayanannya, menunjukkan bahwa pelayanan Perjanjian Baru adalah mulia dan penuh pengharapan, bahkan jika orang-orang yang terlibat dalam pelayanan ini sering mengalami pukulan kesulitan, dan kesengsaraan, pada saat yang sama mereka harus menghadapi permusuhan yang meragukan mempertanyakan, fitnah, dan tuduhan dari orang lain. Menjadi utusan khusus Kristus adalah penuh tantangan, tidak semudah dan romantis seperti yang dibayangkan, harus bertahan terus berjalan dan berusaha untuk memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepadanya, orang yang melayani yang harus memiliki dukungan dan kepercayaan dari rekan sepelayanan, secara pikiran harus menyadari apa yang telah dilakukan ── apa yang Allah ingin capai melalui kita? Apa rencana, niat, dan harapan Allah? Apa yang akan menjadi hasilnya? Ketika pelayan-pelayan mulai memikirkan masalah ini, wacana teologis mulai bekerja membantu kita memikiran berbagai isu berkaitan dengan Injil, dan mencoba untuk memberikan jawaban yang konsisten dan koheren didasarkan pada Alkitab. Setiap pelayan yang memberitakan Firman Tuhan perlu memiliki pemahaman teologis yang solid sehingga dia lebih dekat setiap saat pada Allah Tritunggal, jika yakin semuanya berasal dari Allah maka apapun yang dihadapi tidak akan merasa takut.

Meski iman teguh dan tahu bahwa semuanya berasal dari Allah, Paulus juga perlu membuat pembelaan atas perjalanan, pengalaman, integritas, dan kualifikasi dirinya, agar dia tidak menjadi batu sandungan penghalang bagi orang lain didamaikan dengan Allah. Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela (6:3). Ya, karena segala sesuatu adalah berasal dari Allah, tidak ada yang dapat menghalangi pekerjaan Tuhan. Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak (Lukas 19:40) Namun, Allah juga senang agar orang berpartisipasi dalam pelayanan dan melakukan sesuatu untuk-Nya. Segala sesuatu berasal dari Allah dan Sebagai teman-teman sekerja, … kami adalah pelayan Allah (6:1) ini adalah dua hal yang tidak bertentangan. Ada pepatah yang mengatakan seratus persen kasih karunia Allah, juga seratus persen pekerjaan manusia. Menurut pendapat saya, perkataan ini meskipun mengakui bahwa orang menjadi rekan kerja Allah, tetapi mengatakan juga seratus persen pekerjaan manusia ini terlalu dilebih-lebihkan, seakan-akan manusia ikut kontribusi bersama Allah dalam keselamatan. Bagi Paulus, semuanya sepenuhnya kasih karunia Allah, manusia bisa menjadi rekan kerja Allah itu juga sepenuhnya kasih karunia Allah, oleh karena itu untuk membalas kasih karunia Allah maka Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima (6:1) Kasih karunia apa yang telah mereka terima? Di ayat 6:2 Paulus mengutip Yesaya 49:8 Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau, ketika kita membaca Yesaya 49 Allah memberikan janji kepada hamba-Nya Israel, mengatakan bahwa Ia akan melindunginya (mereka), dan Ia juga akan melalui dia (mereka) untuk melakukan keselamatan dan menjadi terang bagi semua bangsa. Namun, bagaimana hamba tuhan melihat dirinya sendiri? Di hadapan Tuhan, dia berkata: Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku (Yesaya 49:4), dapat dilihat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, hanya kasih karunia Allah saja, tidak ada sedikitpun karena pekerjaan manusia. Di dalam kasih karunia Allah maka orang memiliki kesempatan untuk ikut melakukan sesuatu dalam karya keselamatan Allah, tetapi tidak peduli seberapa banyak upaya yang dilakukan orang itu, jika bukan karena kasih kemurahan Allah, semua usaha manusia bekerja sekeras apapun hanyalah sia-sia. Agar tidak membuat kasih karunia Allah menjadi sia-sia, orang perlu melakukan sesuatu untuk Tuhan (atas kesempatan yang Tuhan anugerahkan), tetapi bukan berarti ketika tangan dan kaki manusia berhenti, maka rencana keselamatan Allah terhalang atau dihancurkan. Karya Allah dan tindakan manusia ada pada tingkat level yang berbeda.

Untuk membalas kasih karunia kebaikan Allah, Paulus tidak hanya bekerja keras melakukan yang terbaik untuk menghilangkan (dan tidak menjadi) batu sandungan (ayat 3), dalam segala hal melakukan yang terbaik untuk menunjukkan bahwa dia adalah pelayan Allah. Di teks sebelumnya di atas Paulus telah menuliskan pembelaan atas pelayanan dan karakter dirinya, itu adalah semacam pernyataan. Di sini, Paulus menuliskan sederetan istilah yang berbeda, untuk menunjukkan dalam aspek apa saja ia merupakan hamba Allah, beberapa terkait aspek penderitaan (dera, penjara dan kerusuhan, jerih payah, berjaga-jaga / tidak bisa tidur, dan berpuasa / kelaparan), ada yang terkait aspek kualitas karakter (kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik), dan ada pula yang berhubungan dengan aspek pelayanan (memberitakan kebenaran dan kekuasaan Allah, menggunakan senjata-senjata keadilan, dihormati dan dihina, diumpat atau dipuji). Paulus mengatakan semua ini untuk menunjukkan bahwa dia adalah hamba Allah, dan dapat dilihat semua orang. Singkatnya, jangan melihat dari penampilan luar dianggap sebagai penipu, namun dipercayai; sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati(6:9-10). Siapa sebenarnya yang merupakan hamba Allah? Apakah itu Paulus? Atau mereka yang merekomendasikan diri mereka sendiri dan menyombongkan diri berdasarkan penampilan mereka? Paulus menggunakan pengalamannya di sini untuk membuat jemaat Korintus melihat dengan jelas, dan secara tidak langsung menantang mereka yang mempertanyakan dia agar menunjukkan surat rekomendasi yang sama dan membandingkannya (supaya pelayanan kami jangan sampai dicela, dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung)

Renungkan:
Allah senang agar anak-anak-Nya bekerja bersama dengan-Nya, apakah saya bersedia untuk memberikan diri bagi Tuhan? Demi Injil Yesus Kristus, bagaimana saya dapat menghindari melakukan hal-hal yang menghalangi dan menjadi sandungan bagi orang lain? Dengan cara apa saya dapat menunjukkan bahwa saya adalah hamba Allah? Apakah saya memiliki wacana teologis yang jelas tentang pelayanan Perjanjian Baru?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


2 Korintus 4:1-6

「Kristus adalah gambaran Allah」

Oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀)
Alliance Bible Seminary H.K.

(2 Kor. 4:1-6 [ITB])
1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.
2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.
3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, 4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. 5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. 6 Sebab Allah yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang!, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Di sini, Paulus membuat ringkasan kecil atas pembicaraannya di 2:14-3:18, dalam bahasa asli dimulai dengan maka atau berdasarkan (διὰ τοῦτο dia touto, ITB sebagai oleh) artinya bahwa semua yang dilakukan (bisa pergi memberitakan Firman Allah dan kesaksian tindakan Roh Kudus pada orang percaya) berdasarkan karena berasal dari Allah, dan dengan mendalam percaya bahwa ini adalah pelayanan penuh kasih karunia kemurahan dan kemuliaan Allah, Paulus memiliki iman dan pengharapan untuk merespons semua yang mempertanyakan dan menyerang terhadap dirinya. Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati (4:1) deklarasi dalam kalimat ini menjawab dua pertanyaan sebelumnya: siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian? (2:16) dan apakah Anda memenuhi syarat / memiliki surat pujian rekomendasi (3:1), dalam pandangan Paulus, menghadapi pelayanan penuh kemuliaan ini, jika bukan karena kemurahan dan belas kasihan Allah, pada kenyataannya, manusia tidak memiliki kualifikasi atau kemampuan untuk bisa diandalkan. Karena segalanya berasal dari Allah, dan ada penyertaan pekerjaan Roh Kudus, maka orang yang menunaikan tanggung jawab pelayanan kemuliaan ini yang tidak tawar hati, tidak perlu takut. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? (Rm. 8:31-33) Jawabannya jelas tidak ada.

Sebagai pelayan Perjanjian Baru selain jangan berkecil hati, hidup harus menjadi serupa gambar Kristus, agar dapat memantulkan kemuliaan Tuhan (3:18). Dalam 4:4 Paulus lebih lanjut menunjukkan bahwa Kristus adalah gambar Allah (Christ, who is the image of God), dari teks sebelum dan sesudah, gambar (εἰκὼν) harus memiliki fokus pada memantulkan kemuliaan, fokus yang Paulus ingin tunjukkan di sini bukan tentang dasar esensi (benar bahwa Yesus Kristus pada dasarnya adalah Allah namun di sini tidak membicarakan hal ini), tetapi fokus dia adalah bahwa kemuliaan Allah diwujudkan dan dinyatakan dalam diri Yesus Kristus (4:6), seperti yang orang melihat gambar kaisar di koin, langsung tahu siapa dia dan bagaimana kaisar tersebut, kaisar yang baik dipuji dan disayangi, tetapi yang jahat ditegur dan ditinggalkan. Para ahli menunjukkan bahwa Paulus sedang memikirkan ayat-ayat dalam Kejadian pasal 1, karena 4:6 secara khusus menyebutkan Allah yang telah berfirman: 『Dari dalam gelap akan terbit terang!』 Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kejadian 1:26-27). Di dalam kehendak Allah atas penciptaan, di antara banyak ciptaan hanya manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah, bisa memantulkan kemuliaan Allah bersinar keluar. Sayangnya, karena manusia jatuh ke dalam dosa, gambar dan rupa Allah pada diri manusia rusak (adapun berapa besar tingkat kerusakan, tradisi teologi yang berbeda memiliki pemahaman yang berbeda), sejak saat itu, kemuliaan Allah tidak terlihat lagi pada diri manusia, terlebih lagi yang rusak adalah manusia telah memutarbalikkan berbagai ciptaan dianggap sebagai dewa dan disembah: orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (4:4) Namun, dalam kemurahan Allah dan terang Roh Kudus, orang dapat dipulihkan dan sekali lagi melihat gambar rupa Allah pada dirinya sendiri, tetapi pada saat ini harus melalui perantara Yesus Kristus: Kristus adalah gambaran Allah (4:4) => di dalam Roh Kudus manusia diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (3:18) => gambar rupa Allah dapat dipulihkan dalam manusia (Kejadian 1:27).

Dari perspektif ini, Injil Kristus membawakan karya mengembalikan gambar rupa Allah, juga sehingga Allah mendapatkan kemuliaan. Sekadar pengampunan dosa itu tidak dapat menyatakan memancarkan apapun kemuliaan agung Allah, tetapi yang dapat menyatakan kemuliaan agung Allah adalah mengubah kehidupan orang menjadi serupa dengan gambar Allah. Injil Yesus Kristus membenarkan orang di hadapan Allah (ini memang benar, 3:9) tetapi bukan hanya sekadar itu saja, tetapi lebih jauh mengubah kehidupan orang untuk mengungkapkan kemuliaan Allah, menjadi sama seperti Yesus Kristus. Oleh karena itu, melayani bukanlah masalah kemampuan atau kualifikasi tetapi apakah hidup dapat seperti Tuhan mewujudkan kemuliaan Allah, itu adalah hal yang paling penting. Mereka yang menyerang Paulus pada dasarnya telah salah arah dan mempertanyakan hal yang salah.

Kehidupan macam apa yang merupakan kehidupan yang memiliki gambar rupa yang sama dengan Tuhan? Ini adalah masalah teologis yang layak dipikirkan secara mendalam. Di sini, Paulus menyebutkan beberapa aspek yang terkait dengan hidup dalam terang terbuka dan jujur: menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan, jangan curang berlaku licik, tidak memalsukan firman Allah, dan hanya menyatakan kebenaran (4:2). Berjalan dalam terang adalah sikap dasar yang seharusnya dimiliki hidup manusia, dan itu juga merupakan manifestasi hidup Yesus Kristus ketika Ia berada di dunia. Yesus Kristus adalah gambar Allah, dan hanya orang-orang yang lurus dan berjalan dalam terang yang dapat memantulkan kemuliaan Tuhan.

Renungkan:
Manusia awalnya memiliki gambar rupa Allah. Melalui perikop ini, bagaimanakah Paulus membantu kita kembali memahami hal-hal tentang gambar Allah? Di dunia ini, di manakah manusia dapat melihat dengan jelas gambar rupa Allah? Mereka yang mengikuti Tuhan memiliki perubahan dan perwujudan apa dalam kehidupan mereka? Untuk memberitakan firman Kristus, apakah saya telah meninggalkan hal-hal yang gelap dan memalukan?


Renungan pemahaman Surat 2 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema 2 Korintus ditulis oleh Rev. Dr. Lam Lee Man-yiu (李文耀) yang dipublikasi pada bulan September 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Tesalonika 2:9-12

「Teladan Gembala」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 2:9-12 [ITB])
9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Gembala harus merawat orang-orang percaya dan mengasihi mereka dengan sepenuh hati, mendengarkan dan memperhatikan berbagai kebutuhan orang percaya, simpati dengan perasaan mereka, memahami pikiran mereka, berduka bagi kelemahan mereka, fokus pada pertumbuhan mereka, dan kemudian memberi mereka makanan rohani yang layak. Gembala mengunjungi secara teratur untuk berbicara dari hati ke hati dengan orang-orang percaya; ketika orang percaya berada dalam bahaya atau penderitaan, atau ketika dia mengalami hambatan hidup seperti sakit atau bahaya kematian, dia harus berdiri di dekat orang percaya dan mengalami bersama dengan mereka.

Paulus membuat pengakuan diri, Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu (2:9), agar tidak menambah tekanan keuangan kepada orang-orang yang baru percaya ini, Paulus memutuskan untuk tidak menerima tunjangan pemeliharaan dari mereka, ia mencukupkan kebutuhan ia melakukan sendiri pekerjaan fisik yang dibenci dan dipandang rendah oleh orang-orang pada masa itu (lihat Kis. 18:3), dengan demikian ia memiliki dua pekerjaan, selain pekerjaan misi dengan jam kerja yang panjang dan melelahkan, tujuannya hanya satu: demi Injil, demi saudara-saudari, agar mereka ikut menikmati manfaat kebaikan Injil berita bahagia itu (1 Kor. 9:23).
Paulus menyimpulkan, Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. (2:10), perkataan ini memiliki tekad bagaikan semangat menaklukkan gunung-gunung dan sungai, loyal dan setia siang maupun malam, membawakan rasa hormat orang, membuat orang melihat integritas yang tinggi. Kekudusan adalah hati nurani yang murni, memandang lurus dan benar sebagai kebenaran, dan tidak ada yang bisa dicela adalah tak bercacat. Paulus begitu penuh keyakinan, ia tidak perlu memberikan bukti konkret lagi, orang-orang Tesalonika sudah dapat bersaksi untuk klaim-klaim dia itu, dan Allah yang menyelidiki hati dapat membuktikan bahwa apa yang ia katakan itu benar, kamu adalah saksi, demikian juga Allah.

Pada pandangan pertama, pengakuan Paulus seperti menyombongkan diri, bagaimana dia bisa mengatakan dia tidak ada yang bisa dicela orang? Tetapi kita melihat bahwa dia tidak hanya satu kali saja menyebutkannya, berulang kali menyebutkan bahwa orang percaya dan Allah dapat memberikan kesaksian atas kata-katanya, sehingga hati kita mau tidak mau akan terguncang ini penginjil yang seperti apa? Ia dapat mencapai tingkat tanpa pamrih seperti itu memperlakukan orang-orang percaya! Kemurnian dan kejujurannya dapat mencapai transparansi seperti itu! Aku selalu melakukan ini. Kalian semua sudah melihatnya dengan matamu sendiri, bukan? Bisakah kita mengatakan hal yang sama?

Iman dan pelayanan Paulus adalah tulus dan benar (real).

Terakhir Paulus berkata, Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (2:11-12) Ia sekali lagi menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya itu sudah diketahui oleh orang-orang percaya.
Dari gambaran ibu sebelumnya, di sini ia beralih menggunakan gambaran ayah, adalah gambaran yang umum digunakan oleh Paulus. Jika peran ibu adalah memberi makan dan kasih perlindungan, maka peran ayah adalah disiplin yang bersifat mendidik dan kepemimpinan. Pada zaman kuno, pendidikan terutama dilakukan di rumah, bahkan pendidikan keterampilan, dan ayah adalah guru utama. Adalah kesalahan orangtua jika tidak memelihara, tidak mengajar mendidik.

Paulus menggunakan tiga kata kerja untuk menjelaskan apa yang dia katakan kepada mereka. 1) nasihat, yang merupakan perkataan yang lebih kuat daripada dorongan, yaitu untuk mendesak orang percaya untuk melakukan hal yang benar; 2) menghibur, ketika orang percaya menghadapi kesulitan maka memberikan nasihat solusi dan pengakuan atas diri mereka; 3) pesan perintah, mengingatkan dengan serius dan tuntutan yang konkret. Tiga kata tindakan ini adalah cara yang diajarkan ayah kepada anak-anak mereka. Paulus memang melihat dirinya sebagai bapa rohani orang-orang percaya Tesalonika, dan ia menggandeng menuntun mereka dengan segenap kekuatannya, dengan tujuan agar mereka sampai akhirnya bisa berkenan kepada Allah yang menyelamatkan mereka, menempatkan mereka ke dalam kerajaan Allah, dan berbagi kemuliaan-Nya.

Ayat 12 hidup sesuai dengan kehendak Allah (walk in a manner worthy of God) hidup berkenan kepada Allah adalah pernyataan tentang hubungan dan persahabatan (lih. Kolose 1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah), dan Alkitab juga menyatakan bahwa hidup bertindak berperilaku berpadanan dengan panggilan itu (Efesus 4:1). Setiap relasi, setiap identitas, dan semuanya menerima anugerah kasih sayang, menurunkan tuntutan atas perilaku yang sepadan. Sekarang kita telah menerima anugerah dan memperoleh identitas baru, kita harus memiliki manifestasi baru dalam pikiran dan tindakan kita.
Meskipun Paulus menyatakan dirinya sebagai seorang ayah rohani dan memikul tanggung jawab mengajar anak-anaknya, ia tahu bahwa anak-anaknya itu bukan miliknya, dan pada akhirnya mereka tidak memberikan pertanggungjawaban kepada dirinya. Mereka semuanya adalah memberikan pertanggungjawaban kepada Dia yang menyelamatkan mereka, yang adalah Hakim Agung di hari akhir, Yesus Kristus. Tuhanlah Pribadi yang kepada-Nya kita mendapat perkenan, menyukakan Dia (bukan manusia).

Paulus berulang kali mengingatkan dan menyemangati orang-orang percaya, menghibur mereka yang jatuh, dan mengajar mereka untuk membangun iman dan prinsip-prinsip moral mereka, dan menunjukkan kepada mereka perjuangan ke depan. Ia menetapkan standar tertinggi bagi perilaku dan hidup orang percaya, yaitu layak bagi Allah. Sebenarnya, bukankah itu juga merupakan sikap yang biasanya dari diri Paulus terhadap pelayanan? Ia melampaui lingkungan eksternal, tidak memiliki keinginan egois, sepenuh hati melayani bagi Allah.

Renungkan:
Paragraf ini terlalu panjang, maka sebagai refleksi pribadi dituliskan ringkasan.
Meringkas 2:1-12, Paulus menyebutkan identitas rangkap tiga: rasul Kristus, ibu rohani, dan ayah rohani. Baik seorang rasul yang terhormat dan seorang hamba yang rendah hati, baik sebagai ayah dan ibu; dengan kasih dan pengabdian pelayanan, juga mendesak dan mengarahkan, inilah sang penginjil Paulus.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 2:1-6

「Prinsip Pelayanan」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 2:1-6 [ITB])
1 Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis hal itu kamu ketahui dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, Allah adalah saksi, 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.

Paulus menyebut Allah Allah kita dalam 2:2, ia bukan ingin memprivatisasi Tuhan sebagai milik pribadi, tetapi untuk menekankan relasi intim antara mereka dengan Allah, ia kemudian berbicara tentang identitas dan misi yang semuanya berhubungan dengan Tuhan, dan Tuhan bukan pribadi asing yang berada di luar kalangan mereka. Seperti ayat 1:5 di atas, dia menyebutkan Injil kita (KJV) (ITB sebagai Injil yang kami beritakan), Injil bukan milik mereka, tetapi milik Allah, jadi 2:2 ia juga berkata Injil Allah. Injil kita memiliki makna bahwa Paulus bersama mereka memiliki hubungan erat dengan Injil, dan mereka telah mempertaruhkan segalanya untuk Injil.

Ayat 2:3-6, Paulus mengatakan serangkaian pernyataan negatif yang lebih bersifat pembelaan defensif, beberapa orang berpendapat bahwa ini menunjukkan ia sedang membela diri, apa yang dia katakan mungkin sebagai tanggapan terhadap beberapa kritik eksternal, asumsi ini mungkin saja. Lagi pula, baik orang-orang percaya Tesalonika maupun Paulus menghadapi kritik dan penganiayaan dari lawan mereka yang ingin mencari permasalahan dari kata-kata dan pelayanan Paulus sebagai bukti untuk mendakwa dia. Apa yang menjadi tuduhan musuh? Berdasarkan pembelaan Paulus di bawah ini, mereka mungkin mengklaim bahwa: Paulus dan tim dengan berbagai cara telah menipu orang Tesalonika sehingga menerima agama mereka, tetapi setelah sekelompok orang menerima dan masuk agama, Paulus dan tim tidak bertanggung jawab, pergi meninggalkan orang-orang itu, tidak melakukan segala yang mungkin untuk membantu mereka, membuang orang-orang percaya sama seperti membuang bayi. Paulus menanggapi tuduhan semacam itu.
Nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya (2:3) Paulus mengklaim bahwa pengajaran mereka tidak mengandung kesesatan (Bukan keluar dari kesalahan, artinya sumbernya benar, karena bersumber dari Tuhan), tidak ada motif yang tidak murni, dan dalam pelaksanaan juga tidak ada cara penipuan yang digunakan. Dengan kata lain, isi, motivasi, dan cara semuanya benar dan tidak ada yang bisa dicela.

Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita (2: 4), kata menguji berarti apa yang telah diakui setelah melalui pengujian, kebiasaan hari ini adalah disebut sudah disertifikasi (certified). Paulus menunjukkan bahwa pemberitaan Injil yang ia lakukan bukanlah tindakan semaunya diri dia sendiri, bukan karena ia yang memilih pekerjaan ini oleh diri dia sendiri, tetapi bahwa Allah yang memilih dia, mengakui identitasnya, dan mempercayakan misi ini kepadanya, jadi ini adalah ketentuan hidup tanpa pilihan (takdir).
Selain tidak bisa membuat pilihan atas misinya, isi yang ia kabarkan tidak didasarkan pada kesukaannya sendiri, sebagai utusan pembawa pesan, konten beritanya tidak dibikin sendiri oleh dirinya, tetapi Dia yang mengutus yang memerintahkan apa yang harus ia beritakan, hanya itulah yang bisa ia sampaikan. Paulus menambahkan bahwa tindakan dan isi dari pesan yang ia beritakan tidak didasarkan pada preferensi dan pilihannya sendiri, bukan berdasarkan kesukaan manusia. Banyak orang tidak senang atas apa yang ia khotbahkan (terutama orang-orang Yahudi), tidak suka dia datang di antara mereka, tetapi Paulus bersikeras untuk melakukannya, bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk berkenan serta menyenangkan Allah yang memilih dan memanggil dia.

Melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita, Paulus sekali lagi menekankan pengujian dan pengakuan dari Allah. Dia mungkin meminjam kata-kata Yeremia 11:20 … TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati …, segala sesuatu yang kita lakukan akhirnya harus diselesaikan di meja pengadilan-Nya dan menerima penghakiman-Nya. Ia yang Maha Tahu, tidak ada yang bisa membohongi Allah, jadi kita harus merealisasikan tugas kita hari ini dengan pola pikir pertanggungjawaban kepada-Nya. Titik awal dari pelayanan kita adalah pengakuan Allah akan identitas kita, dan titik akhir dari pelayanan adalah pengakuan Allah.
Karena kami tidak pernah bermulut manis, hal itu kamu ketahui, dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, Allah adalah saksi (2:5), bermulut manis adalah untuk menyenangkan hati para pendengar dan berbicara apa yang ingin mereka dengar untuk mendapatkan dukungan dari mereka (like). Maksud loba yang tersembunyi adalah topeng yang menutupi keserakahan di dalamnya. Paulus berkata bahwa dia memberitakan Injil tanpa maksud tersembunyi bagi dirinya sendiri, tidak demi mendapatkan tepuk tangan, dan tidak demi mendapatkan manfaat dari manusia.
Juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus (2:6) Paulus acuh tak acuh pada ketenaran dan kekayaan, tetapi sangat berfokus pada identitasnya sebagai rasul, dirinya percaya bahwa ia dipilih dan diutus menjadi rasul oleh Yesus Kristus sendiri, tidak lebih rendah daripada dua belas rasul yang dipilih oleh Yesus saat Ia berada di dunia (1 Kor. 9:1-2). Namun, ia tidak memakai identitas kerasulannya untuk mengharapkan hak istimewa apa pun. Identitas rasul adalah mulia, pantas dihormati oleh orang-orang percaya, dan layak mendapat dukungan terbaik. Namun, Paulus mengabaikan hak atau tunjangan kesejahteraan ini. Di satu sisi, ia tidak ingin membebani gereja dan mereka (2 Kor. 11:9); di sisi lain, misi utamanya adalah untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Identitas rasul hanya dihormati di antara orang-orang percaya, bagaimana bisa orang-orang yang tidak percaya peduli terhadap identitas istimewa ini? Karena itu, Paulus menolak untuk menekankan identitas dirinya, dan menolak untuk menerima perlakuan yang pantas diterimanya, agar tidak menghalangi orang lain dari menerima Injil, dan jangan membuat orang salah paham bahwa Injil itu mahal (1 Kor. 9:18)

Paulus berulang kali menekankan bahwa kisah-kisah yang ia ceritakan secara berulang kali, termasuk motivasi pribadi di balik tindakan dan peristiwa, adalah benar tanpa salah; orang percaya di Tesalonika dapat bersaksi bagi dia (2:1, 2, 5, 10, 11), Allah juga dapat bersaksi untuknya (2:4, 5, 10).

Renungkan:
Paulus adalah orang yang menghidupi apa yang ia imani. Sejak Yesus Kristus memanggilnya dan mengubah hidupnya, dengan sepenuh hati dia mengikuti Yesus, sangat terfokus serta taat menjalankan dan menyelesaikan misi Injil yang diberikan Yesus, menyerahkan segalanya tanpa syarat, walau harus mati juga tidak menyesal, mengabaikan keuntungan dan kerugian pribadi, tidak mencari kemuliaan diri (self glory), maupun kasihan diri (self pity), tidak meninggikan keberadaan diri (self conscious).

Sebaliknya, sering pelayanan kita terjerat dalam berbagai hitung-hitungan keberhasilan dan kegagalan individual, terbenam dalam emosi pribadi. Kita selalu terlalu banyak pertimbangan, takut bergerak maju, sedikit yang dilakukan; apalagi saat menghadapi kesulitan, keluhan sungut-sungut yang muncul dalam hati dengan mudah sudah mengalahkan diri sendiri, mundur di tengah jalan dan gagal, jangankan berbicara tentang menghadapi musuh eksternal.

Hanya ada dua tujuan dari pelayanan: 1) memuliakan Allah yang mengutusnya untuk melayani; 2) membawakan manfaat kebaikan kepada orang-orang yang dilayaninya. Namun, mudah untuk tahu tetapi sulit melakukan, jika ingin tetap memfokuskan pikiran dan kehidupan yang murni, maka harus menghabiskan seumur hidup untuk meruntuhkan dan membangunnya; kita patut menggunakan kehidupan Paulus sebagai referensi dan mencoba dengan segenap tenaga.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 3:1-13 (2)

「Menyatakan Rahasia Kristus (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.

(Ef. 3:1-13 [ITB])
1 Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah 2 memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, 3 yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. 4 Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, 5 yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, 6 yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. 7 Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. 8 Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, 9 dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, 10 supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, 11 sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. 12 Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. 13 Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.

Paulus yang dalam penjara telah menjadi utusan Injil yang membawa rantai, tapi ia tidak mengasihani diri sendiri atas apa yang ia alami, tetapi hanya percaya bahwa ini ada dalam pengaturan Tuhan, adalah harga yang perlu dibayar demi mewujudkan pelaksanaan rencana Kristus.

Paulus menegaskan kembali identitasnya sebagai 「hamba / pelayan Injil」, ini bukan posisi yang ia akui sendiri, yang ia dapatkan dari perebutan, tetapi yang Allah dalam kebebasan-Nya berikan kepada dia: 「Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.」 (Ef. 3:7) Kita akan melihat di belakang nanti di Ef. 4:7 bahwa  karunia yang Allah anugerahkan kepada setiap individu merupakan modal untuk pelayanan.

Allah bebas menetapkan untuk memberikan anugerah-Nya, bukan pilihan diri kita, lalu apakah kita bisa merasa enggan dan terpaksa? Tidak. Paulus penuh rasa terhormat dan merasa tidak layak. 「Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, 9 dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu」 (Ef. 3:8-9) Kasih Karunia tidak pernah merupakan hal kelayakan manusia. Paulus sadar diri tidak layak, tidak merasa dirinya memenuhi syarat untuk menjadi seorang Rasul, namun Allah telah menempatkan dirinya dalam posisi ini.

「Hamba / pelayan Injil」 adalah sebuah misi, untuk mengekspos makna asli dari seluruh rencana penciptaan dan keselamatan Allah, yakni 「rahasia」 ini. Seperti disebutkan sebelumnya, 「rahasia」 ini adalah rencana Kristus, yakni 「sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita」(Ef. 3:11). Rahasia ini dahulu tersembunyi, tidak hanya dunia tidak tahu, bahkan semua kekuatan rohani di langit juga tidak tahu (Ef. 3:10), tetapi sekarang sudah disingkapkan oleh Yesus Kristus di atas salib.

Tepat karena identitas ini adalah tidak layak bagi Paulus, maka ia dengan kesalehan dan sukacita besar berusaha menggenapi misi-Nya, termasuk membayar semua harga, dengan sukarela, dan tidak memandangnya sebagai penderitaan. Ia menasehati jemaat Efesus untuk tidak berduka atas penderitaan yang ia alami, yang merupakan kemuliaan mereka (Ef. 3:13). Paulus juga memutuskan untuk melakukan yang terbaik untuk mewujudkan misi ini, tidak sayang apapun; tidak akan mundur karena kesulitan. 「Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya」 (Ef. 3:12) Saudara dan saudari, mungkin misi yang kita terima berbeda dari Paulus, tapi berharap kita semua dapat belajar dari rasa tanggung jawab dan semangat diri Paulus.

Dalam renungan sebelumnya telah ditunjukkan bahwa bahkan jika kita memiliki beban kehidupan yang sedemikian berat, sampai kehabisan semua energi demi perhatian kehidupan sehari-hari, kita tetap tidak dapat membatasi Tuhan hanya untuk dunia kehidupan kita sendiri saja. Allah adalah Tuhan yang besar, keselamatan Yesus Kristus adalah penebusan yang besar, kita harus memiliki visi dan pikiran yang lebih luas, harus menerobos kerangka pribadi untuk memahami Tuhan yang besar dan misi-Nya yang besar.

Dapat digambarkan dengan sebuah analogi walau tidak tepat persis. Anda adalah presiden sebuah perusahaan multinasional, satu hari kantor pusat mengadakan rapat tertinggi, tiba-tiba menerima panggilan telepon, istri Anda meminta harus segera pulang rumah, sehingga Anda terburu-buru menghentikan pertemuan, melaju pulang rumah. Istri Anda mengatakan bahwa ritsleting roknya tersangkut, dan dia tidak ingin meminta tolong dari para pembantu atau orang lain, maka memanggil Anda pulang rumah. Bagaimana Anda akan bereaksi terhadap situasi seperti ini?

Tuhan yang besar, Ia akan mendengarkan doa seorang anak, ini adalah lirik lagu yang kita senang nyanyikan. Kita tidak harus menambahkan rasa rendah diri dan malu dalam doa, atau bahkan tidak berani untuk membuka mulut; Jangan ragu untuk datang ke takhta kasih karunia Tuhan, mencari rahmat, belas kasihan, dan Penolong kita setiap saat. Tapi meskipun demikian, kita tidak dapat membuat kemampuan Allah hanya terbatas doa kita saja, Allah bukanlah Allah yang hanya membantu menarik ritsleting, yang hanya membantu kita untuk mengejar bus, atau yang hanya kita mintai bantuan memasukkan anak-anak kita ke sekolah bergengsi.

Apakah Kita tahu betapa besar kekuatan TUHAN? Itu kuasa besar yang mampu membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, itu kuasa yang mampu mengatasi semua kuasa dunia dan dunia roh.

Kita bukan tidak berdoa untuk hal-hal kecil, tapi Kristus juga mengingatkan kita untuk tidak terlalu sering bertele-tele kepada Tuhan tentang hal-hal kecil, tapi apa yang Dia katakan? 「Carilah dahulu Kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya, maka semua ini akan ditambahkan kepadamu.」 Seorang ayah berkata liburan musim panas akan membawa anaknya ke Disneyland US di California, anak penuh khawatir bertanya: apakah di sana ada es krim untuk dimakan?

Dengan kita menekankan kebesaran Tuhan dan rahasia Injil, maka kita bisa selalu memiliki rasa takut hormat akan Allah, bukan dengan kelalaian hati. Kitab Yosua mencatat bahwa ketika bangsa Israel selesai berkelana di padang gurun selama 40 tahun dan di bawah pimpinan Yosua menyeberangi Yordan, memasuki Kanaan, Yosua memerintahkan imam-imam mengangkat Tabut Perjanjian dan berjalan di depan orang, yang berarti bahwa itu adalah di bawah pimpinan Allah barulah mereka bisa masuk Kanaan. Yosua memerintahkan umat Allah dengan berkata 「hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya –maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.」 (Yosua 3:4) Para pengikut Allah, memiliki hati yang senantiasa takut hormat, tidak merasa diri benar, jangan berpikir bahwa jalan di depan sudah kita kenal baik lalu ambil keputusan semau diri, melintasi jalan diri sendiri; Jangan datang mendekati Allah dengan hati yang menyepelekan, apalagi mendahului langkah kaki Tuhan. Senantiasa ikuti Dia (karena misi masing-masing kita dalam hidup ini adalah dari Allah)

Renungkan:

1. Apakah Anda dapat memahami dan merasakan tekad dan perasaan Paulus dalam keyakinan dirinya sebagai seorang pelayan Injil? Anda akan memiliki suasana hati dan tekad yang sama jika Anda yakin atas tempat Anda dalam rencana Kristus?

2. Apakah Anda punya hidup yang memiliki misi? Atau apakah Anda hidup sama persis seperti manusia dunia? Apakah Anda menemukan panggilan Allah dalam hidup Anda, juga memiliki rasa kekudusan dalam diri Anda dan kehidupan Anda?


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.

Kolose 1:25-29

「Berusaha sekuat tenaga mengabarkan rahasia Kristus 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 1:25-29 [ITB])
25 Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,
26 yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. 27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! 28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
29 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Paulus dalam Kol. 1:24-29 menjelaskan sikap dan misi yang seharusnya dimiliki pelayan Injil. Kemarin kita sudah melihat ayat 24, Paulus dalam satu ayat pendek ini menyampaikan tiga sikap orang yang menjadi pelayan: (1) membawa hati yang sukacita; (2) memiliki tekat hati siap menderita; (3) senantiasa berpikir untuk Gereja (「karena kamu 」). Mulai ayat 25, Paulus maju selangkah lagi menjelaskan apa misi dia.

Menjadi pelayan Injil, ia pada saat yang sama juga dipercaya menjadi pelayan Gereja. Memberitakan Injil dan mendirikan gereja tidak dapat saling dipisahkan. Tidak ada utusan Injil yang dapat mengatakan bahwa dirinya tidak ada urusan dengan pembangunan Gereja, juga tidak ada seorang penggembalaan yang boleh memandang rendah pengabaran Injil. Mengapa? Karena Injil menunjuk kepada pendamaian yang digenapkan di dalam Kristus (Kol. 1:19-20), dan relasi pendamaian (termasuk manusia dengan Allah, manusia dengan manusia) dinyatakan di bumi dengan melalui Gereja. Kuasa Kristus juga dinyatakan dengan jelas dalam komunitas Gereja. Komunitas Gereja memanifestasikan dilepaskannya orang dari kegelapan, masuk ke dalam Kerajaan Kristus (Kol. 1:13). Injil menunjuk kepada penebusan oleh Kristus, dan penebusan oleah Kristus melahirkan Gereja. Maka menjadi pelayan Injil adalah juga menjadi pelayan Gereja, keduanya tidak dapat dipisahkan. Paulus secara khusus menyebutkan 「tugas yang dipercayakan Allah kepadaku bagi kamu (stewardship)」.

Sebagi rasul, Paulus diutus untuk mengabarkan Injil Allah (Rom. 1:1), pada saat yang sama ia juga mendapatkan tugas menjadi penatalayan dari Allah, untuk menjaga Gereja dengan baik, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol. 1:28). Tidak hanya menjaga gereja yang ia dirikan saja, gereja yang lain juga harus dijaga. Sebagai pelayan Injil, kita tidak hanya memperhatikan urusan gereja kita sendiri, tetapi juga harus berikan perhatian kepada gereja lain. Tetapi, ada perbedaan besar antara ikut campur dan memberikan perhatian. Paulus dipanggil menjadi rasul Kristus, ia punya tanggung jawab dan kuasa ikut campur urusan gereja lain, namun hanya terbatas pada cakupan yang diberikan Allah yaitu pengabaran Injil. Kita adalah pelayan Injil, namun bukan rasul. Kita perlu memberikan perhatian atas keadaan gereja lain, tetapi tidak sampai interferensi ikut campur urusan internal mereka.

Sebagai pelayan Gereja, Paulus dipercayai mengabarkan Firman Allah dengan sepenuhnya, agar setiap orang disempurnakan di dalam Kristus. Firman Allah adalah rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi pada masa sekarang telah dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Rahasia ini adalah 「Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan [ITB] / Kristus di dalam kamu sekalian, telah menjadi pengharapan untuk mendapatkan kemuliaan [Mandarin CUV] 」(Kol. 1:27). Paulus hendak menjelaskan rahasia ini kepada orang-orang kudus, selain karena melaksanakan tugasnya sebagai penatalayan, ia adalah demi menguatkan orang-orang percaya pengharapan di dalam Kristus. Kita telah melihat Kol. 1:3-5, tahu bahwa pengharapan dapat membuat orang mempertahankan iman, merealisasikan kasih. Paulus mengetahui pengharapan adalah ekstrim penting bagi pertumbuhan kehidupan seorang Kristen, juga melihat bahwa pengharapan berasal dari pengenalan seseorang akan rahasia 「Kristus di dalam kita 」. Oleh sebab itu, Paulus menguras tenaga demi hal ini, tiada henti dengan berbagai macam hikmat menasehati setiap orang, mengajar setiap orang. Sasudara saudari dapat memperhatikan, titik beratnya di sini bukan cara mengajar di dalam Kristus. Cara adalah hal yang penting (memakai berbagai hikmat), namun lebih penting adalah isinya. Menjadi pelayan Injil, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk dengan sepenuhnya mengajarkan dengan jelas rahasia 「Kristus di dalam kita 」. Untuk menggenapi misi ini, kita perlu memiliki dasar pengetahuan Alkitab dan teologi yang kuat.

Renungkan: tugas apa yang telah dititipkan Allah kepada kita? Bagaimana cara kita dapat mengabarkan Injil dan cara agar dapat mengajarkan rahasia Kristus dengan sepenuhnya? Bagaimanakah kita membantu orang mengenal kelimpahan kemuliaan yang ada  「di dalam Kristus 」? Pertimbangkan bahwa kita sering menghadapi pencobaan memilih-milih Firman Tuhan yang kita senang dengarkan saja, apakah kita menyadari betapa tinggi, lebar, panjang, dan dalamnya 「rahasia Kristus 」?

Renungkan apa yang menjadi tolak ukur pertumbuhan gereja bagi anda? Apakah jumlah orang, atau kemajuan dalam pengenalan akan rahasia Kristus?