「Perjalanan batin yang kontradiksi」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.
(Ratapan 3:31-39 [ITB])
31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.
32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.
34 Kalau dipijak-pijak dengan kaki tawanan-tawanan di dunia, 35 kalau hak orang dibelokkan di hadapan Yang Mahatinggi, 36 atau orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya, masakan Tuhan tidak melihatnya?
37 Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? 38 Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?
39 Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!

Ratapan 3:31-39 mencatat kontradiksi perjalanan spiritual penyair Ratapan. Di satu sisi, penyair Ratapan yakin bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Allah yang penuh belas kasih dan penyayang (Ratapan 3:31-33), semua hal baik dalam hidup dan segala hal buruk datang dari-Nya (Ratapan 3:37-39), di sisi lain penyair Ratapan mempertanyakan TUHAN karena tidak memperhatikan dia dan membiarkan terjadinya ketidakadilan (Ratapan 3:34-36). Perjalanan batin yang kontradiksi ini adalah suara penyair Ratapan dalam keadaan penuh penderitaan.
Pertama-tama, ayat 31-33 mengungkapkan belas kasih TUHAN, ayat Kitab suci menunjukkan bahwa Allah tidak akan meninggalkan orang untuk selamanya, Dia mendatangkan susah hanya untuk sementara, dan yang benar-benar permanen adalah kasih dan setia-Nya yang melimpah. Kata 「kasih」 dipahami sebagai kesetiaan dan komitmen pada perjanjian, yang berarti bahwa suatu hari Allah akan membawa keselamatan kepada orang-orang yang menderita, meninggalkan keadaan menderita yang sementara itu, dan mencapai berkat yang dijanjikan oleh perjanjian. Lebih lanjut, ayat 37-39 mengilustrasikan pentingnya perjanjian dalam kerangka pemikiran ini, karena Ulangan 28 telah mencantumkan berkat dan kutukan dalam ketetapan perjanjian, itu berarti bahwa baik berkat maupun kutuk berasal dari Yang Mahatinggi. Terlepas dari apakah penyair Ratapan sedang menikmati berkat atau penderitaan, hal ini sudah diatur dalam ketetapan perjanjian, oleh karena itu penyair Ratapan tidak perlu mengeluh, yang sepatutnya dilakukan orang-orang dalam penderitaan adalah bertahan, bahkan jika seberapa besar penderitaan itu, selama mereka masih hidup maka ada harapan diubahkan penderitaan itu. Dengan demikian, Allah memberikan napas hidup seseorang, yakni hendaknya menantikan suatu hari keselamatan datang dari Tuhan.
Sebaliknya, ayat 34-36 bertentangan dengan ayat 31-33 dan 37-39, yang menunjukkan bahwa TUHAN sepertinya tidak memperhatikan orang-orang yang menderita, bagian ini menunjukkan tiga ketidakadilan. Pertama adalah bahwa tawanan-tawanan dipijak-pijak dengan kaki (ayat 34), kedua adalah keadilan diputarbalikkan hak orang dibelokkan (ayat 35), dan yang ketiga adalah orang diperlakukan tidak adil dalam perkaranya diputarbalikkan yang benar dan salah dalam proses pengadilan (ayat 36), dan menunjukkan bahwa Tuhan tidak memperhatikan semua ini, seakan-akan Allah meremehkan permohonan atas ketidakadilan ini, Allah tidak akan memperhatikan kejahatan ini, dan Ia tidak mempedulikan ketidakadilan. Penderitaan Penyair Ratapan adalah akibat ulah musuh yang jahat, mereka melontarkan tuduhan yang tidak adil terhadap penyair Ratapan dan berusaha makin menjerumuskan dia dalam kesusahan. Ketika musuh melakukan semua ini, mereka tidak menerima hukuman dan penghakiman dari Allah. Oleh karena itu, Penyair Ratapan menyimpulkan bahwa TUHAN (Yahweh) tidak akan peduli atau memperhatikan kejahatan dan ketidakadilan ini.
Renungkan:
Penyair Ratapan percaya bahwa penderitaan hanya sementara saja, belas kasih dan cinta kasih Tuhan perjanjian yang luar biasa, dan janji Allah dalam perjanjian tidak akan pernah berubah, namun dia juga melihat ketidakadilan di dunia dan orang jahat, semua ini menantang iman penyair Ratapan, dia hidup dalam perjalanan spiritual yang kontradiktif ini. Dalam keadaan seperti ini, kita sering menyangkal belas kasih Tuhan atau mengingkari kenyataan ketidakadilan. Kita berpikir bahwa kita harus memilih salah satu dari antara dua yang berkontradiksi ini. Namun, Penyair Ratapan menyatukan kedua hal yang tidak cocok ini, tidak berusaha saling menjelaskan, juga tidak memisah satu sama lain atau membuang salah satu, hanya dengan cara inilah kita dapat melihat bagaimana iman yang memiliki tubuh darah dan daging dapat menjadi iman yang nyata dalam penderitaan, dan kita dapat memahami bahwa tidak harus setiap bagian kehidupan dapat dijelaskan dengan jelas.
Ternyata seperti yang dikatakan Rev. Dr. Arnold Yeung: iman tidak digunakan untuk menjelaskan penderitaan, tetapi untuk menanggung penderitaan.
Renungan pemahaman Kitab Ratapan
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.