Tag Archives: Air mata

Ratapan 2:18-22

「Sion cucurkanlah air mata!」
Oleh Dr. Lawrence Ko
Alliance Bible Seminary H.K.

(Ratapan 2:18-22 [ITB])
18 Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! 19 Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!

20 Lihatlah, TUHAN, dan tiliklah, kepada siapakah Engkau telah berbuat ini? Apakah perempuan harus makan anak kandungnya, anak-anak yang masih dibuai? Apakah dalam tempat kudus Tuhan harus dibunuh imam dan nabi?
21 Terbaring di debu jalan pemuda dan orang tua; dara-daraku dan teruna-terunaku gugur oleh pedang; Engkau membunuh mereka tatkala Engkau murka, tanpa belas kasihan Engkau menyembelih mereka! 22 Seolah-olah pada hari perayaan Engkau mengundang semua yang kutakuti dari sekeliling. Tatkala TUHAN murka tak ada seorang yang luput atau selamat. Mereka yang kubuai dan kubesarkan dibinasakan seteruku.

Ratapan 2:18-22 dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah kesedihan dan seruan dari penyair Ratapan kepada Sion (ayat 18-19), dan bagian kedua adalah seruan kepada TUHAN untuk memperhatikan (ayat 20-22), yang pertama ditujukan kepada Sion, dan yang terakhir ditujukan kepada TUHAN.

Ayat 18 diawali dengan berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring (atau hati mereka berseru kepada Tuhan IMB, KJV). Seruan permohonan semacam ini mungkin adalah permohonan pengakuan dosa, atau juga seruan pertanyaan dan protes kepada Tuhan. Keduanya bercampur dalam seruan permohonan ini, di satu sisi Sion karena dosanya dan menyinggung Tuhan, Sion memohon kepada Tuhan untuk berkat yang dijanjikan dalam perjanjian. Tidak menyangkal fakta bahwa Sion telah bersalah dan mengakui dosanya, di sisi lain seruan semacam ini pada saat yang sama juga membawa sikap mempertanyakan dan keluhan kepada Allah mengapa Sion tidak mendapat penghiburan (Ratapan 1:2, 9, 17, 21, klik untuk membaca), atau mempertanyakan kepada Tuhan atas penderitaan anak-anak yang tidak bersalah (Ratapan 2:11-13). Dengan demikian, teriakan ratapan berada di dalam tarikan dua tegangan ini, permohonan penyair Ratapan mengungkapkan campuran suasana hati tersebut di atas.

Dalam permohonan campuran ini, ayat 18-19 menyerukan kepada Sion untuk mencurahkan air matanya kepada Tuhan seperti sungai, jangan istirahat (menjadi longgar), dan jangan diam, ini menunjukkan teologi menangis, berseru kepada Sion untuk menangis kepada Tuhan. Kita sering takut bahwa orang yang menderita akan menangis, takut ia tidak bisa mengendalikan diri, dan takut kita tidak dapat mengatasinya. Namun, Kitab Suci mendorong Sion yang menderita untuk menangis. Jenis ratapan tangis ini bukan tanpa arah, tetapi meratap tangis kepada Tuhan, haruslah diarahkan kepada Tuhan barulah memiliki makna teologi ratapan tangis. Tangisan menjadi salah satu tempat untuk berhubungan dengan Tuhan. Jenis tangisan ini juga menunjukkan bahwa kita tidak menyerah atas Tuhan. Bahkan jika Tuhan telah mencurahkan murka-Nya kepada Sion, Sion juga akan mencurahkan air matanya kepada Allah. Ini karena merupakan iman yang sepenuhnya, menunjukkan dengan air mata di depan Tuhan yang tidak dapat didekati (Tuhan yang mencurahkan murka-Nya) bahwa Dia dapat diandalkan, dan dengan demikian menunjukkan bahwa tidak ada objek air mata selain Tuhan (air mata hanya dicurahkan kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain).

Ayat 20 sekali lagi memulai dengan Lihatlah, TUHAN!, membawa kita kembali kepada seruan memohon Tuhan memperhatikan (Ratapan 1:9, 11, 20, klik untuk membuka). Selama ini TUHAN sekan-akan tidak memperhatikan Sion menderita, penyair Ratapan masih tetap berseru memohon, menunjukkan bahwa ia tidak pernah menyerahkan atas TUHAN. Kali ini ia berdoa memohon TUHAN melihat anak-anak yang tidak bersalah, dan ada seorang wanita di Sion yang sedang memakan anaknya (ayat 20), juga ironi tentang imam dan nabi dibunuh dalam tempat kudus Tuhan (ayat 20). Yang pertama tidak bersalah, dan yang terakhir pantas menerima dosa. Penyair Ratapan mengajukan kedua hal ini, dengan tujuan meminta Tuhan untuk melihatnya secara bersamaan, apakah Tuhan membuat setiap orang sama-sama menderita?

Renungkan:
Murka Tuhan begitu komprehensif sehingga tidak ada yang bisa menghindarinya. Dalam keadaan kehidupan sehari-hari ketika penderitaan senantiasa ada, penyair Ratapan menyanyikan ratapan berseru kepada Sion, memanggilnya untuk memohon kepada Tuhan dan melalui air mata terhubung dengan-Nya. Pada saat yang sama, ia memohon kepada TUHAN untuk melihat ketidakadilan yang ada di hadapannya. Penyair Ratapan tidak berani tergesa-gesa menjelaskan teologis, ia hanya meminta Tuhan untuk memperhatikannya.


Renungan pemahaman Kitab Ratapan

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Ratapan ditulis oleh Dr. Lawrence Ko (Gāo Míng Qiān 高銘謙) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.