Tag Archives: Gembala

1 Kor. 4:16-17

Tujuan tunggal: kamu menjadi penurut teladan Kristus! Sama seperti saya!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 4:16-17 [ITB])
16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.
【Refrensi ayat dalam terjemahan literal】 1 Kor. 11:1 Jadilah peniruku, sama seperti aku peniru Kristus. (Be imitators of me, just as I also am of Christ.)

Dalam Surat 1 Korintus, Paulus menggunakan kata-kata nasihat, teguran, kata-kata tulus, dan teladannya sendiri untuk membimbing gereja Korintus yang dicintainya kembali ke jalan meniru teladan Kristus. Selama waktu ini, gereja Korintus telah memulai jalan yang salah dengan mengagumi kemuliaan sia-sia duniawi dan meremehkan salib Kristus. Karena itu, Paulus sangat sedih, dan hatinya terluka, ia menuliskan perasaan hati yang tulus dalam surat ini, walaupun ada berbagai ketegangan dengan gereja Korintus, tetapi gembala Paulus tidak mundur, bertekad untuk memulihkan gereja Korintus yang dia dirikan. Sebagai gembala pendiri gereja Korintus, keinginan dan tujuan penggembalaan Paulus adalah untuk membimbing mereka sepenuhnya di jalan mengasihi Kristus, meniru Kristus, dan memahami Injil salib Kristus. Dalam 1 Korintus 4:16 dan 11:1, Paulus mengatakan: aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku, hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku menurut teladan Kristus. Rahasia pelayanan Paulus yaitu ia memberikan contoh teladan, memakai hidupnya untuk mengejar mengenal Kristus lebih dalam, untuk meniru Kristus lebih menyeluruh, dan untuk terus-menerus memupuk rekan kerja dan saudara-saudari yang bersedia untuk mencintai, mengenal dan meniru Kristus! Inilah pemuridan sejati dan juga teologi penggembalaan Paulus! Ini adalah mempraktikan Amanat Agung! Dalam 1 Korintus 4:16-17, dalam bentuk kalimat perintah Paulus tegas meminta jemaat Korintus untuk meniru dia! Dan Paulus menggunakan Timotius sebagai saksi, bagaimana dia melakukan ini di setiap gereja! Teologi pelayanan Paulus konsisten, dan tidak ada tipu muslihat (2 Korintus 12:16; 2 Korintus 1:18). Kata-kata, ajaran, dan perbuatan Paulus konsisten di mana-mana: mengajarkan ajaran Kristus, meniru teladan Kristus, menjadi teladan, dan memupuk pemuridan!

1 Kor. 4:16 terjemahan literal adalah maka, saya menasihati kamu sekalian: Jadilah peniru saya (I encourage you, then, be imitators of me), terjemahan literal 11:1 adalah jadilah peniru saya, seperti saya menjadi peniru Kristus (Be imitators of me, as I also of Christ.) Di antaranya frasa 3 kata bahasa Yunani mimetai mou ginesthe (jadilah peniru saya) sama dalam 4:16 dan 11:1. Kata ginesthe adalah jadilah (be) adalah kata kerja imperatif, perintah dan permintaan! Kata mou adalah saya (my), mimetai menjadi peniru (imitators). Merangkum dua ayat ini, kita dengan jelas melihat pengejaran kehidupan iman Paulus sendiri adalah meniru teladan Kristus, menjadi peniru Kristus, memakai seumur hidup untuk pengejaran yang tiada henti untuk lebih mengenal Kristus, makin seperti Kristus! Cara meniru teladan semacam ini bukan sekadar mirip dalam aspek keinginan atau pikiran, tetapi juga tidak takut kemiripan berbagai pengalaman dalam hidup! Dalam ungkapan yang saya suka: Paulus bersedia mengalami semua pengalaman buruk yang diterima Kristus! Maka, Paulus berkata: Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Filipi 3:10). Betapa pahit apa yang dialami Kristus, bagaimana melewati kesulitan dan penderitaan, kesalahpahaman orang, penolakan, fitnah, pengkhianatan, dan kematian tragis di kayu salib, Paulus bersedia mengalami semua itu! Peniru Kristus yang sejati: bersedia mengalami pengalaman Kristus! Pengejaran ini, dalam kehidupan yang singkat di bumi, mungkin sangat sulit, kasar, penuh air mata, dan rasa sakit, tetapi ini adalah kehidupan yang paling indah, mulia, dan memiliki nilai berharga yang kekal. Mereka yang berusaha menjadi peniru Kristus akan mendapatkan kemuliaan kekal, sangat berharga, tiada banding dan mahkota kebenaran (2 Kor. 4:17; 2 Tim. 4:8)!

Ayat 4:17 hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus di antaranya kata hidup dalam bahasa Yunani adalah hodos (jalan), di sini juga dapat diterjemahkan sebagai kata-kata, tindakan dan cara hidup. Terjemahan literal dari frasa pendek ini adalah jalan saya di dalam Kristus (my ways in Christ). Ungkapan di dalam Kristus berarti bahwa Paulus sepanjang hidupnya terbenam di dalam Kristus, ia mengejar pemahaman yang lebih dalam dan meniru Kristus sepanjang hidupnya, dan kata-kata serta perbuatannya sepanjang hidupnya harus seperti Kristus! Ini adalah pengejaran Paulus dan teladan yang ia berikan, dan ini juga merupakan kesaksian yang hendak dibawakan oleh Timotius putra rohaninya yang terkasih untuk dibagikan kepada gereja Korintus! Paulus menggunakan segala macam hikmat, untuk menegur, menasihati, menyindir, membagikan perasaan yang sebenarnya dari dirinya, atau mengutip tulisan Kitab Suci, tujuan Paulus adalah untuk membimbing orang percaya agar menjadi peniru Kristus! Satu-satunya tujuan gembala: untuk menjadi peniru Kristus baik dirinya sendiri maupun orang percaya bimbingannya!

Renungkan:
• Pengejaran hidup Paulus jelas: Jadilah peniru Kristus! Pengejaran hidupnya adalah untuk mengenal Kristus lebih dalam, meniru Kristus lebih sepenuhnya, dan terus-menerus memupuk rekan kerja dan saudara-saudari yang bersedia untuk mencintai, mengenal dan meniru Kristus ! Apakah Anda juga memiliki tujuan hidup yang jelas? Apa pengejaran Anda?

• Ketika berpartisipasi dalam pelayanan, apakah tujuan Anda adalah untuk menyelesaikan apa yang ditugaskan? Ataukah, Anda memiliki tekad seperti Paulus: turutilah teladanku! Apakah Anda memiliki tekad seperti ini? Jika kita ingin memiliki tekad seperti ini, apa yang akan kita tuntut dari diri kita sendiri? Bagaimana memimpin orang dengan memberi contoh?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Kor. 1:14-17

「Menjunjung tinggi Kristus」! 「Tidak memimpin orang kepada diri sendiri」! 「Memimpin orang kepada Tuhan」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 1:14-17 [ITB])
14 Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, 15 sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku. 16 Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis.
17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

1 Kor. 16:17, Paulus menyebutkan tiga orang: Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus; mereka adalah utusan gereja Korintus, membawa surat yang mencatat masalah kesulitan gereja yang sulit ditangani untuk diserahkan kepada Paulus (1 Kor. 7:1). Di ayat 1:14-17 Paulus juga menyebutkan nama Krispus, Gayus, dan Stefanus. Paulus sangat menghargai saudara saudari dan rekan kerja pelayanan, dalam bagian salam di Surat1 Korintus, dia menyebutkan Sostenes; apakah dia adalah orang yang disebutkan dalam Kis. 18:17 Sostenes, kepala rumah ibadat, sebagian para peneliti masih memiliki pertimbangan atas hal ini. Tetapi banyak juga termasuk reformator agama John Calvin, melihat bahwa dia adalah Sostenes kepala rumah ibadat itu, jika demikian, ini mewakili upaya Paulus dan buah Injil. Gayus seharusnya adalah yang dikatakan dalam Roma 16:23 Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat; mampu memberi tumpangan seluruh gereja, tampaknya adalah saudara yang memiliki kedudukan dan sumber keuangan. Krispus adalah orang percaya di Korintus yang paling awal, tercatat dalam Kis. 18:8 adalah kepala rumah ibadat. Paulus dalam 1 Kor. 16:15 sekali lagi menyebutkan Stefanus dan keluarganya menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya, dan mereka telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus. Mereka yang disebutkan dalam 1 Kor. 1:1-17, Sostenes, Stefanus dan keluarganya, Fortunatus dan Akhaikus, semuanya adalah orang yang terkenal, berpengaruh, dan pelayanan yang baik. Untuk melihat apakah gembala adalah pemimpin yang baik, salah satu barometernya adalah melihat orang-orang seperti apa yang ada sekelilingnya? Apakah orang yang penuh kesaksian dan daya kehidupan? Atau, apakah orang-orang yang menghakimi, banyak fitnah dan suka berebut posisi?

Salah satu cara mempelajari kitab-kitab Alkitab, adalah dengan memperhatikan kata-kata yang sering digunakan. Dalam 13 pasal Surat 1 Korintus, jelas bahwa Paulus banyak menggunakan kasih (agape), dalam perikop 13:1-13 muncul 9 kali; Paulus mengingatkan kita, pada waktu memperlakukan satu sama lain di gereja harus dengan kasih. Ketika berbicara tentang masalah dalam Gereja, dalam Surat 1 Korintus ini Paulus berulang kali menegur gereja Korintus, sombong (puff up) (phusioo). Kata phusioo berarti mengembungkan diri, sombong, dan memegahkan diri (4:6, 18-19; 5:2; 8:1; 13:4).

Dalam menghadapi jemaat Korintus yang sombong dan memegahkan diri, arah penggembalaan pastoral Paulus adalah untuk memuliakan Kristus; Paulus dalam Korintus pasal 16 sebanyak 64 kali menyebutkan Kristus. Dalam 1 Kor. 1:1-17 kata Kristus muncul 14 kali dalam perikop pendek 17 ayat ini. Ketika perpecahan, tepuk tangan dan pujian terfokus kepada para pemimpin yang berbeda, ini menyebabkan masalah serius dalam gereja, perselisihan, terpisah-pisah, terpecah belah dan golongan-golongan, maka hamba yang setia Paulus mengembalikan fokus orang-orang kembali kepada Tuhan Yesus! Ketika kita percaya kepada Tuhan dan diselamatkan oleh kasih karunia, kita bukan ingin masuk di bawah nama pengkhotbah tertentu, juga tidak berdoa atas nama pemimpin tertentu, juga tidak bersandar kepada orang lain yang mati di kayu salib tidak bangkit! Masing-masing dari kita berpartisipasi dalam pelayanan. beberapa orang dipimpin oleh orang lain menjadi percaya kepada Tuhan, dibaptis oleh hamba Tuhan, dan dibina oleh beberapa hamba Tuhan, tetapi semua itu hanyalah bejana, hanya pekerja, tidak ada yang bisa dibanggakan, anugerah dan kuasa sesungguhnya berasal dari Allah, datang dari Allah Bapa mengutus Anak-Nya yang Tunggal Yesus Kristus. Paulus bersyukur karena tidak bertanggung jawab atas semua baptisan, karena orang banyak sering mengandalkan yang kasat mata lebih daripada iman. Karena melihat dibaptis oleh pemimpin tertentu, maka secara khusus hanya menghormati pemimpin tersebut, dan mengabaikan pelayan setia lainnya. Paulus bersyukur bahwa dia tidak memonopoli kemuliaan pelayanan, karena kemuliaan seharusnya hanya milik Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Beberapa pelayan menyukai mahkota kehormatan dari berbagai pelayanan, seremonial, dan cahaya pertemuan akbar! Apa yang mereka kejar adalah pujian dan tepuk tangan dari orang percaya! Ini bukan contoh yang patut dikejar oleh seorang hamba yang setia! Paulus berkata: aku mengucap syukur karena tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis! Sungguh ini adalah pengingat yang berharga! Hamba yang sejati tahu siapa tuannya! Kristuslah yang mengutus kita! Yang ditinggikan oleh hamba yang sejati adalah Tuhan yang mati di kayu salib untuk kita! Hamba yang sejati bukanlah memimpin orang lain kepada diri mereka sendiri, tetapi memimpin orang kepada Tuhan!

Lebih banyak pemimpin yang membawa orang kepada diri mereka sendiri maka akan ada lebih banyak perselisihan, perpecahan, golongan-golongan, di dalam gereja!
Dengan lebih banyak hamba Tuhan yang membawa orang kepada Tuhan, maka gereja dapat bersama-sama meninggikan Kristus dan bersatu untuk memasyhurkan Injil!

Renungkan:
• Anda pernah bertemu beberapa orang-orang melayani yang sangat cinta mahkota kehormatan dari pelayanan, seremonial acara dan cahaya pertemuan akbar? Apakah mereka memiliki krisis mental memimpin orang lain kepada diri mereka sendiri? Bagaimana kita bisa saling menasihati dan mengingatkan?
• Apakah Anda merindukan lebih banyak hamba Tuhan yang memimpin orang kepada Tuhan Yesus dan meninggikan Kristus? Apakah Anda ingin memiliki tekad hati yang seperti itu dalam melayani?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


1 Tesalonika 2:1-12

「4 Karakter Gembala」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 2:1-12 [ITB])
1 Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis, hal itu kamu ketahui, dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi, Allah adalah saksi, 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Ayat 2:11-12 merupakan potret Paulus sebagai seorang ayah dan seorang ibu, menggambarkan peran serta tanggung jawabnya sebagai gembala. Bahkan jika kita sendiri bukan gembala, tetapi bertekad berpartisipasi membantu orang untuk bertumbuh, perikop ini cukup memberi kita cermin pelajaran.
Di sini kita membuat sebuah ringkasan empat karakteristik gembala sebagai orang tua yang disebutkan Paulus:

1 Tidak tergantung lingkungan. Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat (ayat 1-2). Paulus mengenang bahwa ketika ia mulai mengabarkan Injil kabar bahagia kepada orang-orang Tesalonika, ia menghadapi penganiayaan politik dan situasi sulit, tetapi ia mengabaikan keadaan lingkungan, dengan hati bulat berfokus pada pemberitaan Injil, membantu mereka bertumbuh.
Rev. Calvin Tran (陳家榮牧師) yang lahir di Vietnam, mengisahkan pada tahun 1970-an dia, istri dan anak perempuan mereka meninggalkan Vietnam, berhari-hari di atas kapal pengungsi kekurangan air dan makanan, ada yang kasihan dan memberikan sebuah jeruk. Ia memberi putrinya daging jeruk, istrinya memakan kulit jeruk, dan ia menelan biji dari jeruk, bertahan dan akhirnya lolos dari kematian, sampai di Hong Kong. Penuh kasih sayang dalam kesulitan, anak yang tumbuh dalam keluarga miskin semakin mereka dapat menghargai kebesaran orang tua mereka.
Gembala membantu pertumbuhan orang percaya, ia tidak peduli situasi lingkungan, apakah itu masa yang baik atau buruk, usia tua, penyakit atau kematian dalam setiap musim kehidupan, namun tidak menyerah atau pergi meninggalkan, tepat waktu memberikan makanan.

2 Motivasi yang murni. Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita (2:3-4). Paulus memaparkan sikap hati, motivasinya murni, tidak mencari keuntungan diri sendiri, semuanya semata-mata demi orang percaya.
Memang tidak bisa dipungkiri di dunia ini ada orang tua yang tidak bertanggung jawab; tetapi secara umum, orang tua dengan sepenuh hati merawat anak-anaknya, jarang berpikir mengambil manfaat dari anak-anak mereka, bahkan tidak berpikir membesarkan anak demi manfaat masa tua

3 Tidak hitung-hitungan berapa harganya. Sebagai rasul Kristus, meskipun kita dapat dihormati, kami tidak meminta kemuliaan dari Anda atau orang lain; kami hanya lembut di dalam kamu, seperti ibu menyusui anak-anak mereka. Karena kami sangat mencintaimu, kami tidak hanya mau membagikan Injil Allah Berikan kamu, bahkan hidupmu sendiri, karena kamu adalah apa yang kita cintai. Orang tua rela memberi anak-anak mereka perlindungan dan hal-hal terbaik. Seperti induk ayam yang melebarkan sayapnya, berusaha memblokir musuh yang akan menyerang anak ayam, orang tua bersedia menerima semua penderitaan bagi mereka, lebih baik diri sendiri yang menderita daripada anak-anak mereka.
Ahli ekonomi mengakui bahwa keluarga memiliki altruisme sejati, segala yang dilakukan orang tua untuk anak-anak mereka sering tidak demi mendapatkan balasan timbal balik (reciprocity), tidak seperti komunitas masyarakat luar. Tentu saja, dalam hal psikologi, kita dapat menjelaskan bahwa mereka juga telah memperoleh manfaat dalam proses membesarkan anak-anak, misal seperti kompensasi psikologis, tetapi kebanyakan tidak mengharapkan anak-anak memberi imbalan. Alasan utama adalah bahwa orang tua dan anak-anak saling membangun kebahagiaan yang saling bergantung (interdependent utility functions), yaitu kebahagiaan yang didapat orang tua ketika melakukan sesuatu bagi anak-anak mereka sangat tergantung pada respons bahagia anak, orang tua bahagia melalui kebahagiaan anak-anak mereka. Ketika kita sebagai orang tua melihat anak-anak makan dengan bahagia, maka demikianlah kebahagiaan kita, atau bahkan lebih besar daripada kebahagiaan yang kita dapatkan jika kita makan.

Kiranya dalam pelayanan kita di gereja, kita merasa bahagia karena melihat pertumbuhan saudara-saudari kita.

4 Melakukan dengan segenap tenaga. Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang (2:9-11) Paulus mengatakan bahwa dia memperlakukan saudara dan saudari dengan sikap dan prinsip terbaik, suci, jujur, dan tidak bercela.

Saat orang tua berusaha segenap tenaga memberi anak-anak mereka hal-hal terbaik, tetapi sering kali demi mencapai tujuan, kadang-kadang mereka melakukan apa saja, lalu kehilangan standar kekudusan dan keadilan.
Orang tua kadang-kadang dapat bertindak tidak masuk akal, banyak guru menerima kemarahan orang tua murid. Orang tua bertanya kepada guru, Nilai anak saya buruk semester ini. Apa penyebabnya bisakah Anda katakan kepada saya? Jelas-jelas bukankah pertanyaan ini seharusnya ditanyakan oleh guru kepada orang tua, tetapi justru orang tua mempertanyakan guru, seolah-olah itu adalah tanggung jawab guru atas penurunan nilai dari anak.
Dari sudut pandang positif, ini menunjukkan bahwa orang tua mencintai anak-anak mereka dengan segala cara yang mungkin. Mereka melakukan yang terbaik untuk membuat anak-anak mereka memiliki kemampuan yang baik menghabiskan semua sumber daya pada diri anak, dan menggunakan semua metode, kadang-kadang menggunakan cara yang agak menyimpang.

Kiranya sebagai gembala juga dapat berusaha keras untuk memungkinkan orang percaya bertumbuh dengan sehat.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 2:9-12

「Teladan Gembala」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 2:9-12 [ITB])
9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Gembala harus merawat orang-orang percaya dan mengasihi mereka dengan sepenuh hati, mendengarkan dan memperhatikan berbagai kebutuhan orang percaya, simpati dengan perasaan mereka, memahami pikiran mereka, berduka bagi kelemahan mereka, fokus pada pertumbuhan mereka, dan kemudian memberi mereka makanan rohani yang layak. Gembala mengunjungi secara teratur untuk berbicara dari hati ke hati dengan orang-orang percaya; ketika orang percaya berada dalam bahaya atau penderitaan, atau ketika dia mengalami hambatan hidup seperti sakit atau bahaya kematian, dia harus berdiri di dekat orang percaya dan mengalami bersama dengan mereka.

Paulus membuat pengakuan diri, Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu (2:9), agar tidak menambah tekanan keuangan kepada orang-orang yang baru percaya ini, Paulus memutuskan untuk tidak menerima tunjangan pemeliharaan dari mereka, ia mencukupkan kebutuhan ia melakukan sendiri pekerjaan fisik yang dibenci dan dipandang rendah oleh orang-orang pada masa itu (lihat Kis. 18:3), dengan demikian ia memiliki dua pekerjaan, selain pekerjaan misi dengan jam kerja yang panjang dan melelahkan, tujuannya hanya satu: demi Injil, demi saudara-saudari, agar mereka ikut menikmati manfaat kebaikan Injil berita bahagia itu (1 Kor. 9:23).
Paulus menyimpulkan, Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. (2:10), perkataan ini memiliki tekad bagaikan semangat menaklukkan gunung-gunung dan sungai, loyal dan setia siang maupun malam, membawakan rasa hormat orang, membuat orang melihat integritas yang tinggi. Kekudusan adalah hati nurani yang murni, memandang lurus dan benar sebagai kebenaran, dan tidak ada yang bisa dicela adalah tak bercacat. Paulus begitu penuh keyakinan, ia tidak perlu memberikan bukti konkret lagi, orang-orang Tesalonika sudah dapat bersaksi untuk klaim-klaim dia itu, dan Allah yang menyelidiki hati dapat membuktikan bahwa apa yang ia katakan itu benar, kamu adalah saksi, demikian juga Allah.

Pada pandangan pertama, pengakuan Paulus seperti menyombongkan diri, bagaimana dia bisa mengatakan dia tidak ada yang bisa dicela orang? Tetapi kita melihat bahwa dia tidak hanya satu kali saja menyebutkannya, berulang kali menyebutkan bahwa orang percaya dan Allah dapat memberikan kesaksian atas kata-katanya, sehingga hati kita mau tidak mau akan terguncang ini penginjil yang seperti apa? Ia dapat mencapai tingkat tanpa pamrih seperti itu memperlakukan orang-orang percaya! Kemurnian dan kejujurannya dapat mencapai transparansi seperti itu! Aku selalu melakukan ini. Kalian semua sudah melihatnya dengan matamu sendiri, bukan? Bisakah kita mengatakan hal yang sama?

Iman dan pelayanan Paulus adalah tulus dan benar (real).

Terakhir Paulus berkata, Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (2:11-12) Ia sekali lagi menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya itu sudah diketahui oleh orang-orang percaya.
Dari gambaran ibu sebelumnya, di sini ia beralih menggunakan gambaran ayah, adalah gambaran yang umum digunakan oleh Paulus. Jika peran ibu adalah memberi makan dan kasih perlindungan, maka peran ayah adalah disiplin yang bersifat mendidik dan kepemimpinan. Pada zaman kuno, pendidikan terutama dilakukan di rumah, bahkan pendidikan keterampilan, dan ayah adalah guru utama. Adalah kesalahan orangtua jika tidak memelihara, tidak mengajar mendidik.

Paulus menggunakan tiga kata kerja untuk menjelaskan apa yang dia katakan kepada mereka. 1) nasihat, yang merupakan perkataan yang lebih kuat daripada dorongan, yaitu untuk mendesak orang percaya untuk melakukan hal yang benar; 2) menghibur, ketika orang percaya menghadapi kesulitan maka memberikan nasihat solusi dan pengakuan atas diri mereka; 3) pesan perintah, mengingatkan dengan serius dan tuntutan yang konkret. Tiga kata tindakan ini adalah cara yang diajarkan ayah kepada anak-anak mereka. Paulus memang melihat dirinya sebagai bapa rohani orang-orang percaya Tesalonika, dan ia menggandeng menuntun mereka dengan segenap kekuatannya, dengan tujuan agar mereka sampai akhirnya bisa berkenan kepada Allah yang menyelamatkan mereka, menempatkan mereka ke dalam kerajaan Allah, dan berbagi kemuliaan-Nya.

Ayat 12 hidup sesuai dengan kehendak Allah (walk in a manner worthy of God) hidup berkenan kepada Allah adalah pernyataan tentang hubungan dan persahabatan (lih. Kolose 1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah), dan Alkitab juga menyatakan bahwa hidup bertindak berperilaku berpadanan dengan panggilan itu (Efesus 4:1). Setiap relasi, setiap identitas, dan semuanya menerima anugerah kasih sayang, menurunkan tuntutan atas perilaku yang sepadan. Sekarang kita telah menerima anugerah dan memperoleh identitas baru, kita harus memiliki manifestasi baru dalam pikiran dan tindakan kita.
Meskipun Paulus menyatakan dirinya sebagai seorang ayah rohani dan memikul tanggung jawab mengajar anak-anaknya, ia tahu bahwa anak-anaknya itu bukan miliknya, dan pada akhirnya mereka tidak memberikan pertanggungjawaban kepada dirinya. Mereka semuanya adalah memberikan pertanggungjawaban kepada Dia yang menyelamatkan mereka, yang adalah Hakim Agung di hari akhir, Yesus Kristus. Tuhanlah Pribadi yang kepada-Nya kita mendapat perkenan, menyukakan Dia (bukan manusia).

Paulus berulang kali mengingatkan dan menyemangati orang-orang percaya, menghibur mereka yang jatuh, dan mengajar mereka untuk membangun iman dan prinsip-prinsip moral mereka, dan menunjukkan kepada mereka perjuangan ke depan. Ia menetapkan standar tertinggi bagi perilaku dan hidup orang percaya, yaitu layak bagi Allah. Sebenarnya, bukankah itu juga merupakan sikap yang biasanya dari diri Paulus terhadap pelayanan? Ia melampaui lingkungan eksternal, tidak memiliki keinginan egois, sepenuh hati melayani bagi Allah.

Renungkan:
Paragraf ini terlalu panjang, maka sebagai refleksi pribadi dituliskan ringkasan.
Meringkas 2:1-12, Paulus menyebutkan identitas rangkap tiga: rasul Kristus, ibu rohani, dan ayah rohani. Baik seorang rasul yang terhormat dan seorang hamba yang rendah hati, baik sebagai ayah dan ibu; dengan kasih dan pengabdian pelayanan, juga mendesak dan mengarahkan, inilah sang penginjil Paulus.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 2:6-8

「Hati Ibu」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 2:6-8 [ITB])
6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.

Setelah memberikan penjelasan prinsip-prinsipnya sebagai penginjil, Paulus berbicara lagi kembali hubungannya dengan gereja Tesalonika. Dia menggunakan gambaran (imagery) seorang ibu yang menyusui anak dan menunjukkan: Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya (2:7). Mungkin tidak ada kata lembut dalam teks bahasa aslinya, di mata Paulus, Gereja Tesalonika adalah bayi yang baru lahir yang membutuhkan perawatan yang cermat untuk tumbuh sehat, tentu saja sikapnya terhadap mereka harus lembut.

Para ibu di antara kita dapat bersaksi bagaimana identitas ibu mengubah kepribadian dan sikap mereka. Pada hari-hari yang sebelum menikah, tidak akan tersentuh oleh hal-hal yang berat dan kotor, tetapi ketika sesudah memiliki anak, tidak akan ada lagi kepedulian tentang yang berat dan kotor, bahkan tidak peduli apakah mengendus dengan hidung normal atau tidak?
Ibu mungkin memiliki berbagai harapan kepada anak-anak dewasa, seperti meminta tunjangan anak, dan sering mengunjungi dan menyapa; tetapi untuk anak-anak yang masih dalam perlindungan keluarga, ia murni memberi, dan tidak mengharapkan balasan segera. Ini adalah kasih tanpa pamrih dan tidak meminta upah.
Paulus dengan penuh kasih berkata kepada mereka, Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi (2:8) Paulus dan yang lainnya tidak hanya memberitakan kabar sukacita Injil kepada orang-orang percaya Tesalonika, tetapi juga bersedia memberikan hidupnya bagi mereka. Di mata Paulus, mereka bukanlah sekadar tujuan atau ruang lingkup dari pekerjaan misionaris, ia tidak menganggap berkhotbah Injil kepada mereka sekadar sebagai tugas pekerjaan yang harus diselesaikan tetapi komitmen sepenuh hati dan ia bersedia menyerahkan segalanya untuk mereka, mencintai mereka sebagai kekasih dia tanpa syarat dan tanpa batasan.

Paulus mengungkapkan kepada kita, hati seorang gembala sejati. Tidak peduli apakah itu pendeta atau penatua, atau posisi apa pun di gereja, kita harus tetap memiliki hati orang tua memperlakukan orang-orang percaya yang digembalakan dengan sepenuh hati, dan bersedia membayar harga bagi mereka. Kasih lebih diutamakan daripada pelayanan apa pun. Seperti yang Yesus katakan Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; (Yoh. 10:11). Janganlah kita terlebih dahulu berbicara apa yang akan kita lakukan untuk kawanan domba, atau bahwa kita dapat memperlengkapi mereka dengan yang terbaik ataupun memberikan penggembalaan berkualitas tinggi; tetapi bicaralah berapa banyak kita bersedia bayar harga untuk mereka? Apakah ada batasan? Dalam misi kita, apakah kawanan domba adalah tujuan, ataukah sarana untuk mencapai tujuan tertentu?
Jika tidak mau memberikan seluruh hati bagi kawanan domba, pelayanan yang istimewa sebaik apapun yang ia berikan, ia hanyalah pekerja upahan saja, ia bukan gembala, atau bahkan orang tua. Pelayan upahan selalu bekerja memenuhi batas ketentuan saja, yang ia berikan ada batasannya, memperhatikan investasi untung rugi, tetapi orang tua adalah kasih tanpa syarat, tidak hitung-hitungan berapa yang diberikan berapa balasan yang didapatkan, tidak peduli hasilnya sepenuh hati tiada kata menyesal.

Renungkan:
Kelembutan dalam kemauan keras, meskipun Paulus adalah seorang pria dengan kemauan keras dan seorang prajurit Yesus Kristus, ia juga seorang kekasih yang memberikan segenap hatinya. Kasihnya kepada Yesus Kristus tentu melampaui kata-kata, dan kasihnya kepada orang-orang percaya yang ia layani juga besar dan panjang. Dalam surat yang ia tulis, kita semua dapat melihat betapa dia mencintai jemaat Tesalonika, gereja Korintus … kasih yang bertahan meskipun menghadapi kematian. Tidak peduli seberapa dalamnya doktrin yang dijelaskan dalam surat ini, dan seberapa tajam teguran yang diberikan kepada orang-orang percaya, surat-surat Paulus sebenarnya adalah surat cinta. Sama seperti keseluruhan Alkitab adalah surat cinta yang ditulis oleh Allah kepada manusia.

Surat Tesalonika adalah surat cinta sejati, dan tanpa ragu Paulus mengungkapkan obsesi kasihnya kepada orang-orang percaya dalam suratnya. Meskipun itu hanya pertemuan tiga minggu, Paulus telah jatuh cinta dengan mereka, terpisah di dua tempat, dan waktu berlalu tiada henti, tetapi persahabatan tersebut tidak pernah berkurang. Kasih yang dalam tidak hanya nyata dalam kerinduan Paulus yang kuat terhadap mereka, juga menyatakan tekadnya mengorbankan dirinya demi kebaikan mereka.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 4:1-16 (2)

「Kebenaran Gereja (2)」

Ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) Alliance Bible Seminary H.K.
(Untuk Kalangan Sendiri.)

(Ef. 4:1-16 [ITB])
1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan,
supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: 4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, 5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, 6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. 8 Itulah sebabnya kata nas: Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia. 9 Bukankah Ia telah naik berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? 10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.
11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Dalam pembicaraan kedua tentang hubungan antar anggota tubuh terfokus pada enam jenis sikap. Dalam perikop Ef. 4:1-3 dikatakan 「… supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. 3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera」 Sama seperti profesi yang berbeda memiliki tata cara berpakaian (dress code), orang-orang Kristen juga memiliki tata cara perilaku (behavioral code). Di sini yang ditekankan adalah identitas dan misi dari 「orang-orang yang telah dipanggil,」yang sepatutnya memiliki wujud manifestasi hidup sebagaimana orang yang dipanggil, memiliki sikap hidup sebagai orang yang dipanggil. 「Berpadanan dengan panggilan」 sesuai identitas dan misi.

Enam jenis sikap: rendah hati, lemah lembut, sabar, kasih, damai, memelihara kesatuan. Adalah yang sepatutnya termanifestasi dalam interaksi antar anggota tubuh.

Secara sederhana, rendah hati adalah memahami ketidaksempurnaan diri sendiri, tidak menyombongkan diri; lemah lembut adalah menerima ketidaksempurnaan orang lain, tidak semena-mena karena kesalahan orang; sabar adalah menerima ketidaksempurnaan keadaan, bersikap realistis dan penuh ketekunan menghadapi kondisi sulit. Dengan memiliki tiga aspek sikap ini, maka kita dapat menggunakan kasih untuk mengakomodasi berbagai orang dan hal-hal yang berbeda, secara damai hidup berdampingan dengan mereka dan mempertahankan kesatuan.

Patut diperhatikan, Paulus menunjukkan bahwa kesatuan adalah karunia dari Roh Kudus, bukan keadaan yang kita capai dari usaha keras. Kesatuan adalah pekerjaan Tuhan, dan kita tidak dapat mengandalkan diri kita sendiri untuk mewujudkan kesatuan; Namun, kita memiliki kemampuan untuk menghancurkan kesatuan, dengan menyebarkan rumor-rumor, desas-desus keraguan dan gosip konspirasi, yang mampu menghancurkan kesatuan yang kuat sekalipun, 「menghancurkan namun tidak membangun.」 Maka Paulus mengingatkan kita untuk berusaha sekuat tenaga kekuatan kita untuk menjaga kesatuan yang merupakan anugerah Roh Kudus.

Hanya ketika setiap anggota tubuh saling berinteraksi dengan enam jenis sikap ini, barulah Gereja dapat benar-benar bersatu, untuk secara efektif mewujudkan misinya.

Yang terakhir adalah hubungan anggota tubuh dan tubuh, berfokus pada empat pekerjaan utama. 「Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus」(Ef. 4:11-12)

Di sini disebutkan kepada empat (atau lima) macam pekerjaan: Rasul, nabi-nabi, pemberita Injil, para gembala dan guru pengajar (sebagian besar penafsir percaya bahwa kedua jabatan ini merujuk pada pekerjaan yang sama yang terhubung satu sama lain.) Rasul adalah identitas yang khusus pada Gereja awal, hanya milik orang-orang yang dipilih secara langsung oleh Yesus Kristus dan mendapat pengajaran serta diberikan otoritas khusus secara langsung dari-Nya. Nabi tidak selalu nabi yang menubuatkan masa depan, lebih banyak adalah orang-orang yang memberitakan Firman. Gembala tidak merujuk sebuah jabatan resmi, tetapi adalah sebuah tugas pekerjaan.

Bisa melihat bahwa empat macam pekerjaan ini adalah pekerjaan berkaitan dengan kata-kata, berbicara. Gereja dibangun pada para rasul dan nabi, dan Firman Tuhan adalah dasar dari gereja.

Tujuan dari empat macam pekerjaan ini adalah untuk membuat setiap orang percaya kehidupannya tumbuh dan untuk mengembangkan karunia rohani yang diberikan kepada mereka sehingga Gereja dapat berkembang dengan sehat. Selama kehidupan rohani masing-masing individu orang percaya sempurna dan masing-masing mampu mengembangkan fungsi karunia mereka, maka tubuh Kristus dapat berdiri.

Bagaimana membangun Gereja yang sehat? Terlebih dahulu harus membangun orang percaya yang sehat. Bagaimana untuk menjaga pertumbuhan gereja? Terlebih dahulu adalah hidup orang percaya yang bertumbuh. Individu (anggota tubuh) dan kelompok (tubuh) terkait erat dengan satu sama lain.

Tentu saja salah satu kunci adalah bahwa setiap anggota tubuh memiliki kesadaran akan tubuh, tahu bahwa ia adalah anggota Gereja, bahwa pertumbuhan dan pemenuhan dirinya adalah di dalam Gereja, dan adalah untuk Gereja.

Penulis menekankan sekali lagi bahwa: tidak ada misi individu orang percaya, hanya ada rencana Kristus. Dan rencana Kristus hanya digenapi dalam tubuh (Gereja). Oleh karena itu, tidak ada misi iman pribadi di luar Gereja (Maka seseorang tidak dapat mengatakan pelayanannya adalah terlepas dari Gereja atau pelayanannya adalah milik pribadi.)

Renungkan:

1. Silahkan mengaplikasikan enam sikap orang Kristen pada situasi pribadi Anda, bagaimana Anda dapat mewujudkan mereka?

2. Apakah Anda berpikir bahwa pelayanan gereja Anda adalah mewujudkan kehidupan rohani orang-orang percaya dan membantu mereka untuk menerapkan karunia rohani mereka secara efektif? Pikirkan apa yang dapat lebih ditingkatkan.


Daftar renungan pemahaman  (silahkan klik untuk membuka)

Daftar renungan pemahaman (silahkan klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Sendiri.