Tag Archives: Kolose

Kolose 3:16

「Simpanlah Firman Kristus di dalam Hati 」

Apakah pujian-pujian dan nyanyian rohani yang kita kumandangkan membuat kita menerima pengajaran dan nasehat teguran? Apakah pujian yang kita kumandangkan adalah untuk kepuasan hati kita?  Apa yang Paulus katakan tentang tujuan menaikkan puji-pujian?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kol. 3:16 [ITB])
16Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

Paulus di Kol. 3:12-16 seluruhnya menyebutkan lima pesan, menjelaskan bahwa umat pilihan Allah harus: (1) mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran; (2) mengenakan kasih; (3) membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hati; (4) mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu; (5) menyimpan Firman Perkataan Kristus disimpan di dalam hati (ayat renungan hari ini).

Surat Kolose berulang kali mengingatkan kita, bahwa Firman / Perkataan Kristus (the word of Christ) adalah sangat penting. Paulus melihat bahwa dirinya adalah pelayan Injil, mempunyai tanggung jawab memberitakan dengan sempurna rahasia yang Allah singkapkan di dalam Kristus (Kol. 1:25-26). Di dalam proses pemberitaannya, Paulus memerlukan hikmat untuk menasehati, mengajar orang, ia bersungguh-sungguh dan berusaha keras. Paulus tidak pernah menyembunyikan bahwa pemberitaan Injil adalah pelayanan yang berat, tetapi ia merasa bersukacita karena dapat menggenapkan apa kurang pada penderitaan Kristus Kristus yang belum lengkap (Kol. 1:24, 29). Paulus berusaha keras memberitakan Firman Perkataan Kristus, adalah demi mengukuhkan orang percaya, agar mereka menerima segala hikmat dan pengertian dapat mengetahui kehendak Tuhan, sehingga di dalam kehidupan memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik (Kol. 1:9). Pada dasarnya pesan dalam Kol. 3:16 adalah meringkas apa yang telah dibicarakan dalam teks sebelumnya. Di dalam segala pesan, yang paling penting adalah 「Menyimpan Firman Perkataan Kristus dengan segala kekayaannya di dalam hati.」

Bagaimana menyimpan Firman Perkataan Kristus dengan segala kekayaannya di dalam hati? Paulus sekali lagi menyebutkan 「dengan segala hikmat」(Kol. 3:16; 1:28). Apakah Paulus memberikan usul yang nyata? Paulus berikutnya lebih lanjut memakai tiga tindakan untuk menjelaskan kata 「dengan segala hikmat」yakni mencakup: pengajaran (teaching), teguran (admonishing) dan mazmur pujian (singing), dan ketiga tindakan semuanya tersambung dengan memuji Tuhan. Di dalam pandangan Paulus, pengajaran dan teguran tidak hanya terbatas di dalam khotbah, sekolah minggu atau pembinaan orang percaya saja. Sebenarnya mazmur (psalms), pujian-pujian (hymns) dan nyanyian rohani(spiritual songs) juga memiliki unsur pengajaran dan nasehat teguran, asal digunakan dengan penuh hikmat maka akan bisa membantu saudara saudari menyimpan Firman Perkataan Kristus dengan segala kekayaannya di dalam hati. Sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan 「nyanyian rohani」? Apakah ini adalah 「bahasa lidah」 atau 「bahasa malaikat dalam keadaan khusus」 (1 Kor. 13:1)? Paulus tidak menjelaskan perbedaan mazmur, pujian-pujian dan nyanyian rohani, namun titik berat dari ketiganya adalah hati yang sukacita menyanyikan dengan mulut memuji Tuhan (Ef. 5:19). Saudara saudari hendaklah memuji Tuhan, sering dengan hati yang bersyukur bermazmur memuji Tuhan. Saat bersatu hati bermazmur memuji Tuhan, saudara saudari pada saat yang sama juga menerima pengajaran dan nasehat teguran dari isi mazmur, pujian-pujian dan nyanyian rohani. Dengan demikian, 「nyanyian rohani」 sepatutnya adalah yang dapat dipahami orang dengan pengertian manusia, yang tidak memerlukan karunia khusus penterjemah bahasa lidah.

Renungkan: bagaimana kita bisa dengan hikmat memakai mazmur, pujian-pujian dan nyanyian rohani? Saat menaikkan puji-pujian di dalam ibadah, kelompok kecil, kita seharusnya memilih puji-pujian yang bagaimana? Atau bagaimana memutuskan apakah sebuah lagu puji-pujian adalah 「baik」 atau 「tidak baik」, yang seringkali merupakan hal yang subjektif tergantung masing-masing orang, bukan hal yang mudah memutuskannya secara objektif, memakai standard yang umum. Namun saat kita di dalam menciptakan puji-pujian atau memilih puji-pujian, apakah kita karena menitik beratkan suatu aspek (misal memilih karena perasaan kita), lalu mengabaikan kekayaan Firman Perkataan Kristus? Bagaimana gereja anda melalui puji-pujian ibadah membantu saudara saudari menyimpan Firman Perkataan Kristus dengan segala kekayaannya di dalam hati? Semua ini adalah perihal yang berharga untuk kita instropeksi.


Tambahan dari Blogger:

  1. Secara singkat jelaskan apa yang menjadi satu poin terpenting dalam memilih atau menaikkan lagu puji-pujian?
  2. Akan sangat berguna jika anda meringkas sekali lagi paragraf satu dan dua dari renungan ini tentang tujuan serta buah dari menyimpan Firman Perkataan Kristus dengan segala kekayaannya di dalam hati?

Kolose 3:14-15

「Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah」

Kita harus membiarkan kedamaian Kristus memerintah di hati, perlu dijadikan nyata di dalam gereja dan di dunia melalui orang-orang percaya. Orang Kristen dipanggil adalah untuk mewujudkan hal ini (Kol. 3:15).

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kol 3:14-15 [ITB])
14Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
15Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Selain harus mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, umat Allah juga harus mengenakan kasih. Di sini, Paulus secara khusus menyebutkan 「selain itu semua」(dalam terjemahan CUV, sedangkan dalam ITB 「di atas semuanya itu」) (dalam bahasa asli: epi pasin toutois). Sebenarnya kata depan ini seharusnya sebagai「selain itu semua」 (bahwa selain lima karakter tersebut, ditambahkan lagi satu macam), atau sebagai 「di atas semuanya itu 」(bahwa 「kasih」adalah yang paling tinggi, bisa merangkum lima yang lain)? Jika dilihat dari teks sesudahnya, dapat dipercaya bahwa「di atas semuanya itu」adalah terjemahan yang lebih sesuai (ITB, dan mayoritas terjemahan Inggris), karena dalam pandangan Paulus 「kasih menembus semua kebajikan rohani」, atau 「kasih mengikat semua yang sempurna tidak bercacat ini menjadi satu」(CCV). Maka Paulus berpesan kepada orang percaya gereja Kolose harus memiliki kasih, karena kasih mampu menyatukan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, berbagai kebajikan rohani ini menjadi satu. Ini bukan berarti mereka tidak punya kasih, maka Paulus baru demikian berpesan kepada mereka. Paulus di awal surat sudah pasti bahwa mereka memiliki kasih, dan sering bersyukur kepada Allah Bapa (Kol. 1:3-4). Percaya bahwa Paulus bukan berbicara basa-basi. Walaupun penerima surat memiliki kasih yang datang dari Roh Kudus (Kol. 1:8), Paulus masih harus mengingatkan mereka untuk mengenakan kasih.

Mengajar juga adalah demi pencegahan. Paulus sebagai pelayan Injil tidak semata hanya ditujukan untuk mengajukan pengajaran atau nasehat atas kesalahan yang dilakukan orang, ini memang adalah keharusan, namun itu bukan keseluruhan dari tugas pengajaran. Pengajaran juga ditujukan bagi rahasia Allah yang dinyatakan di dalam Kristus, melalui cara-cara yang umum agar orang-orang dapat sempurna di dalam Kristus (Kol. 1:25-29). Orang Kristen melalui baptisan dan dikuburkan serta bangkit bersama Kristus (Kol. 2:12-13), sudah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, ini adalah hal yang pasti (Kol. 3:9-10). Namun orang Kristen belum mencapai tahap kesempurnaan, masih harus ada orang yang terus menerus mengingatkan, menasehati, jika tidak demikian maka akan ada kesempatan dikalahkan oleh dosa (Gal. 6:1). Mengajar adalah demi mengkoreksi kesalahan, di saat yang sama juga demi pencegahan. Ini adalah sebab mengapa Allah mengadakan tugas pengajaran di antara orang percaya. (Apakah kita bersedia merendahkan diri diajar oleh Firman Tuhan?)

Paulus selangkah lebih maju berpesan kepada penerima surat harus mengupayakan kedamaian (peace) yang dianugerahkan Kristus menjadi tuan di dalam hati mereka. 「Menjadi tuan 」 juga mempunyai makna menjadi hakim (judge), 「mengendalikan」 (control). Satu kali lagi kita melihat bahwa Paulus sangat memandang penting 「kedamaian, 」 karena 「kedamaian」, 「berbaikan」adalah apa yang Allah hendak genapkan di dalam Yesus Kristus (Kol. 1:20). Dapat dikatakan, 「menggenapkan kedamaian (mewujudkan kedamaian sempurna)」 adalah inti dari rahasia Kristus. Orang Kristen harus membiarkan kedamaian Kristus yang memerintah di hati, di satu sisi karena kita sudah didamaikan dengan Allah Bapa melalui Yesus Kristus (Kol. 1:21-22), maka seharusnya memiliki hati kebajikan Allah. Kita sepatutnya memiliki sikap hati yang sesuai dengan identitas yang kita miliki. Di sisi lain, kita harus membiarkan kedamaian Kristus yang menjadi tuan yang memerintah di hati, karena hanya dengan demikian gereja baru bisa menjadi satu tubuh (one body). Memang tanpa diragukan bahwa 「satu tubuh」 sudah tercapai di dalam Kristus, namun kedamaian Kristus yang memerintah perlu dijadikan nyata di dunia melalui orang-orang percaya. Orang Kristen dipanggil adalah untuk mewujudkan hal ini (Kol. 3:15). Ada hamba Tuhan yang mengatakan, gereja adalah berorientasi pada target tujuan, hal ini adalah benar dalam suatu sudut pandang. Namun dibandingkan tujuan target yang lain, target agar 「orang Kristen menjadi satu tubuh di dalam Tuhan」 adalah target yang paling utama di atas target yang lain.

Renungkan: Bagaimana kasih Allah dinyatakan melalui Kristus? Apa hubungan antara kasih dan kedamaian? Bagaimana orang Kristen di dalam kasih membuat kedamaian Kristus menjadi kenyataan?

Harus kita perhatikan, maksud Paulus tidak hanya sekedar agar damai sejahtera Kristus menjadi tuan memerintah di dalam hati kita. Damai sejahtera dapat bersifat pribadi di dalam diri, asal di dalam hati saya ada damai sejahtera maka segala hal bisa dicapai. Tetapi 「kedamaian」 sangat terkait dengan kesatuan dan relasi antar sesama. Walaupun di dalam hati saya ada 「damai sejahtera 」, namun jika saya berbuat sesuatu yang merusak kesatuan, maka saya tidak mewujudkan “oleh karena Kristus”. Ini adalah makna yang sebenarnya dari 「kedamaian Kristus」dan menjadi tuan memerintah di dalam hati kita.

如果作了某件事會破壞合一,我就為基督的緣故不作了。這才是讓「基督的和平」在我們心裡作主的意思哩。

Kolose 3:12-13

「Ampunilah Seorang akan yang Lain」

Adakala demi 「sopan santun,」 demi 「ketenangan tidak ada permasalahan」mengampuni secara kulit luar di permukaan adalah lebih mudah.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kol 3:12-13 [ITB])
12Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
13Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Paulus tiada henti menekankan, orang yang telah menerima Yesus Kristus sudah di dalam Dia menjadi seorang manusia baru, juga terus-menerus dalam pengetahuan diperbaharui sesuai gambar Allah. Orang-orang ini tidak hanya mengenal makin dalam perkara mengenai Tuhan (Kol. 3:1-4), manusia ini terlebih lagi diperluas dalam karakter dan tingkah laku sesuai gambar Kristus, kehidupannya makin hari makin mirip Tuhan (Kol. 3:5-9). Di dalam aspek manakah manusia mirip dengan Tuhan? Yakni dalam kesukaan berbagi kedamaian (Kol. 1:19-20). Saat orang Kristen makin hari makin mengenal Tuhan, ia sepatutnya mirip seperti Tuhan yang paham berbagi apa yang Ia miliki dengan manusia, juga rela melihat dipertahankannya hubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia. Oleh karena itu, Paulus berpesan kepada orang percaya di Kolose agar「kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran 」 (Kol. 3:12). Beberapa karakter ini terrangkum dalam tindakan「saling mengampuni. 」

Tuhan adalah Allah yang penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Dari manakah bisa dilihat? Jawabannya ada pada pengampunan yang dari Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15). Melalui penciptaan oleh Kristus, kita melihat sisi Tuhan yang penuh kuasa; melalui salib Kristus, kita melihat sisi Tuhan yang penuh kemurahan. Dahulu kita bermusuhan Tuhan, tindakan kita penuh kejahatan, sekarang Allah melalui kematian Yesus Kristus membuat kita berdamai dengan Dia, dan menjadi kudus, tidak bercacat-cela (Kol. 1:21-22). Karena kudus, dan sebagai manusia yang dikasihi, maka kita sepatutnya mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, belajar saling toleransi , saling mengampuni. Mengampuni memang dapat menciptakan relasi yang damai, terlebih penting adalah dapat menampilkan karakter Tuhan. Saat kita seperti Tuhan Yesus mengampuni dosa kesalahan orang lain, kita di dalam tindakan mengampuni ini membuktikan dan mencerminkan bahwa kita adalah benar-benar umat pilihan Allah, membawa gambar Tuhan, memiliki perasaan yang sama dengan Tuhan.

Renungkan: Mengampuni secara kulit luar di permukaan adalah lebih mudah. Adakala demi 「sopan santun,」 demi 「ketenangan tidak ada permasalahan,」 kita bisa melakukan tindakan yang di kulit luar saja, agar semua orang mudah saling menghadapi, dapat melanjutkan kehidupan atau pekerjaan bersama-sama. Sesuai pesan Alkitab, mengampuni adalah dari dalam hati, orang hendaklah 「kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 」 Sebelum manusia jatuh rusak, adalah hal yang alami seorang dengan kemurahan memperlakukan orang lain; setelah manusia jatuh dan rusak, hal ini menjadi sangat tidak alami. Manusia hendak mendapatkan keadilan bagi diri sendiri, melakukan pembalasan yang setimpal. Tuhan Yesus justru berpesan bahwa para murid hendaklah mengasihi musuh, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, dengan demikian kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Mat. 5:43-48).

Mengasihi musuh terlebih dahulu hendaknya dimulai dari mengampuni dari dalam hati. Pengampunan yang tanpa kasih adalah paslu, hanyalah demi menjaga kelangsungan aktifitas sosial atau menjamin keuntungan diri saja. Kasih yang sesungguhnya haruslah bisa mencerminkan perasaan Tuhan, kemudian ini adalah manusia secara 「alamiah」 tidak mampu melakukannya. Hanya manusia yang taat mengikuti Roh Kudus, barulah mempu menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-26).

 

 

 

Kolose 3:11

「Yesus Kristus adalah Segala-galanya 」

Kita harus berusaha dengan keras membongkar segala tembok pemisah yang menghambat relasi manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan dunia.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kol. 3:11 [ITB])
dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Teks sebelumnya menyebutkan bahwa orang yang menerima Yesus Kristus telah menanggalkan manusia lama, telah mengenakan manusia baru. Transformasi ini pertama-tama tercermin dalam perubahan atas cara pandang atas nilai dan arah berpikir, kemudian pada pengendalian nafsu, emosi dan perkataan. Paulus menunjukkan bahwa manusia baru ini 「terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya 」 (Kol. 3:10 [ITB]), dalam bahasa aslinya titik berat diletakkan pada 「pembaharuan pengetahuan」: setelah seseorang mengenakan manusia baru, pengetahuannya akan terus-menerus diperbaharui, dan pembaharuan pengetahuan ini adalah berdasarkan gambar Tuhan Penciptanya. Kata 「 gambar」 (image) pernah muncul dalam Kol. 1:15, di sana menunjuk kepada Anak Kekasih (Yesus Kristus ) yang adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan. Kemudian diikuti Kol. 1:16-17 menyebutkan bahwa segala sesuatu  diciptakan 「di dalam Dia」, 「melalui Dia」 dan 「demi Dia.」Dengan kata lain, pembaharuan pengetahuan manusia baru adalah berdasarkan Anak Kekasih Yesus Kristus pemilik segala relasi dengan segala yang ada. Apa yang manusia bisa ketahui mengenai Allah melalui Yesus Kristus Sang 「Gambar 」 ini? Kol. 1:18-20 segera menunjukkan bahwa melalui penebusan Yesus Kristus, manusia bisa melihat Tuhan suka memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, jadi Ia berbagi kepada manusia segala kepenuhan Allah yang diam di dalam Kristus. Dari karya penciptaan dan keselamatan Kristus, kita bisa mengetahui bahwa Tuhan hendak membangun relasi kedamaian, serta berbagi segala kepenuhan yang ada dalam diri-Nya, termasuk hikmat dan pengetahuan (Kol. 2:3).  Tuhan bukan hanya hidup di dalam diri-Nya saja, Allah yang hanya demi diri sendiri saja. Yesus Kristus Sang 「 gambar 」ini menunjukkan kepada manusia bahwa Allah adalah Tuhan bagi manusia, bagi dunia dan alam semesta.

Maka transformasi manusia baru ini tidak hanya terbatas pada orang-orang tertentu saja: 「dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka」 (Kol. 3:11). Dalam pandangan Paulus, perbedaan suku, perbedaan ritual agama, perbedaan budaya, perbedaan sosial, semuanya tidak boleh menjadi syarat untuk menanggalkan manusia lama menjadi manusia baru. Perkataan ini secara tidak langsung mengingatkan penerima surat, bahwa Gereja adalah manusia ciptaan baru, maka tidak sepatutnya melanjutkan membeda-bedakan orang sesuai standard dunia. Yesus Kristus telah menciptakan kita menjadi manusia baru, menggenapkan kedamaian, maka setiap orang tidak saling membeda-bedakan, semua adalah anggota keluarga Tuhan (Efesus 14-19).

「Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu」 (Christ is all and in all) proklamasi ini menonjolkan sifat inklusivitas merangkul semua (inclusiveness) dari Injil. Injil Yesus Kristus tentu mempunyai sifat menolak yang lain (exclusiveness) sehingga dapat mengkritik ajaran-ajaran filsafat manusia yang penuh kata-kata indah yang kosong memperdaya. Setelah orang menerima Injil, rahasia Kristus membawa pandangan orang kepada yang di atas, belajar untuk memandang segala hal dari relasi Kristus dengan segala ciptaan (Kol. 3:1-2). Semua keberadaan ciptaan tidak dapat terlepas dari Kristus, dan Kristus telah melalui darah-Nya sendiri menggenapkan kedamaian, maka kita harus berusaha dengan keras membongkar segala tembok pemisah yang menghambat relasi manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan dunia. Sifat inklusivitas merangkul semua (inclusiveness) dari Injil dinyatakan nampak dalam tindakan membongkar segala tembok pemisah ini.

Renungkan: walaupun dalam ayat ini tidak secara langsung menyebutkan hubungan antara manusia dengan gambar Allah, tetapi dari dalamnya kita bisa mendapatkan sedikit pencerahan. Alkitab memberitahukan kepada kita, bahwa manusia diciptakan Allah berdasarkan gambar dan rupa diri-Nya sendiri (Kej. 1:26-27). Namun sayang sekali karena kerusakan manusia, kita tidak dapat lagi melihat gambar Allah dari diri manusia. Sekarang hanya melalui Yesus Kristus saja, Dia yang adalah sepenuhnya Allah dan yang juga sepenuhnya manusia, kita barulah dapat melihat gambar Allah. Tidak hanya demikian, Yesus Kristus akan mengganti baru orang yang percaya kepada Dia, membuat kita dalam pikiran atau dalam tindakan dapat membawa serta menampilkan (menyatakan) gambar Tuhan Pencipta. Keselamatan dari Kristus adalah membantu orang dalam pemulihan gambar Allah.
Gambar ini memulai lagi hubungan baru antara kita dengan Allah, dunia dan segala ciptaan. Apakah artinya? Saudara-saudari dapat membaca ulang Kol. 1:9-23 (klik disini untuk membuka perikop tersebut) biarlah Roh Kudus berbicara kepada kita melalui perikop tersebut. Tambahan Blogger: sebagai bantuan pemahaman, anda dapat membaca ulang renungan yang lalu:

Kol. 1:9-12                     「Sepenuh hati memahami kehendak Allah 」
Kol. 1:13-20 (1)             「Hal yang digenapi Allah melalui Kristus ( 1 )」
Kol. 1:13-20 (2)             「Hal yang digenapi Allah melalui Kristus ( 2 )」
Kol. 1:13-20 (3)             「Hal yang digenapi Allah melalui Kristus ( 3 )」
Kol. 1 :21-23                  「Bertekun menjaga iman dalam Kristus 」

 

Kolose 3:7-10

「Tidak Berkata-kata yang Merusak Hubungan Anggota Tubuh 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 3:7-10 [ITB])
7Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Paulus di Kol. 3:1 memulai pembicaraan tentang transformasi perubahan yang harus dimiliki seorang yang telah bangkit bersama Kristus, dimulai dari cara pandang nilai (atau arah kehidupan), sampai pada kerangka pikiran (frame of reference), kemudian pada aspek menghadapi nafsu daging.

Di sini, penjelasan Paulus dimulai lagi dengan emosi negatif dari dalam hati sampai ke aspek perkataan. Pada dasarnya, Kol. 3:1-10 merupakan peringatan Paulus kepada orang percaya yang terkonsentrasi semuanya pada bagian 「kepala 」 kita. Cara pandang nilai, pikiran, nafsu jahat, keserakahan, kebencian, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor semuanya itu terjadi di 「kepala 」 kita. Memang benar demikian adanya, di Kol. 3:5 Paulus mengingatkan orang harus mematikan dalam diri segala sesuatu yang duniawi, mematikan adalah permulaan menghadapi berbagai nafsu kerusakan yang ada dalam hati. Paulus dalam surat ini terus menerus memakai 「kepala dan tubuh 」 untuk menggambarkan relasi Kristus dengan Gereja (kita termasuk di dalamnya). Jika kita mengikuti arah berpikir ini, tidak akan sulit memahami mengapa Paulus di sini secara khusus menitik-beratkan pada perubahan yang ada di 「kepala 」 kita. Yesus Kristus adalah Kepala Gereja (Kol. 1:18), kita sebagai anggota tubuh-Nya secara alami harus bertingkah-laku mengikuti 「Kepala 」 ini. Dengan kata lain, digantinya 「kepala 」 kita merupakan efek dari kita keselamatan yang kita terima. Beriman percaya kepada Yesus adalah ganti kepala yang sama sekali baru, dalam berbagai aspek mengatur (manage) pikiran kita, cara pandang nilai, emosi dan tingkah laku. Maka Paulus mengingatkan penerima surat, bahwa mereka telah menanggalkan manusia lama termasuk tingkah-lakunya, telah mengenakan manusia baru, dan manusia baru ini terus-menerus diperbaharui dalam pengetahuannya menurut gambar Penciptanya (Khaliknya) (Kol. 3:10).

Di Kol. 3:8, Paulus berpesan kepada orang percaya untuk membuang sampai putus, kemarahan (anger), geram (wrath), kejahatan (malice), fitnah (slander) dan kata-kata kotor (filthy language). Inti dari Paulus adalah tidak mengeluarkan kata-kata yang merusak hubungan antar anggota tubuh. Di teks sebelumnya kita telah melihat bahwa Gereja sebagai tubuh Kristus merupakan titik berangkat dan penyataan dari pendamaian yang digenapkan Allah melalui Kristus (Kol. 1:18-22). Oleh karena itu, orang-orang yang ada di dalam Gereja harus saling berhubungan dengan damai, saling melayani dengan kasih. Terlebih lagi, Allah sudah mengampuni dosa kesalahan orang percaya melalui kematian Kristus di atas salib, sejak itu tidak ada yang boleh menghakimi orang percaya (Kol. 2:13-16). Maka sesama anggota tubuh tidak memakai kata-kata untuk saling menghakimi, saling injak. Mungkin kita sulit menolak segala emosi marah dan geram, walaupun orang Kristen sudah mengenakan manusia baru, namun selama masih ada satu hari kehidupan kita di dunia yang rusak ini maka pasti akan mengalami banyak urusan dan orang yang akan membuat kita geram atau marah. Orang Kristen harus bersandar kepada Tuhan Yesus untuk mengendalikan tutur kata, tidak berkata-kata yang jahat, fitnah dan kata-kata yang kotor (menajiskan). Banyak waktu, kata-kata yang sudah dikeluarkan tidak dapat diambil kembali. Kita jangan memandang kecil kekuatan merusak dari kata-kata, kemudi yang sangat kecil dapat mengarahkan sebuah kapal sesuai keinginan nakhoda (Yak. 3:4-5). Paulus berpesan kepada penerima surat hendaknya membuang putus segala kejahatan, fitnah dan kata-kata yang najis kotor, juga jangan saling berdusta membohongi. Saling berbohong membawakan kerusakan yang sangat besar terhadap komunitas orang percaya, karena berdirinya komunitas memerlukan saling percaya. Jika tidak ada saling percaya dan ketulusan, berdasarkan apa orang percaya hendak membangun sebuah komunitas damai yang menyiarkan rahasia yang telah digenapkan Allah di dalam Kristus?

Renungkan: siapakah di antara saudara saudari yang pernah membuat saya geram, marah? Dahulu saya pernah kepada siapa mengeluarkan kata-kata yang jahat, fitnah atau kata-kata kotor? Apakah saya adalah seorang yang tulus yang dapat dipercaya? Apakah saya pernah di hadapan orang berkata bohong, perkataan mulut tidak sesuai isi hati?


Tambahan dari Blogger:

Bandingkan Kol. 3:10 dalam:

  • terjemahan ITB “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;”
  • terjemahan ITL “bertabiatkan perangai yang baharu, yang lagi dibaharui sehingga datang kepada makrifat (pengetahuan) menurut teladan (Allah) yang menjadikan dia.”

Terjemahan ITL memberikan wawasan bahwa manusia yang baru adalah manusia yang mempunyai tabiat peragai yang baru, yakni tabiat peragai yang terus-menerus diperbaharui sesuai gambar Allah.

Kata ” makrifat” dalam ITL ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengetahuan, tetapi juga merupakan “tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai ke tingkat keyakinan yang kuat” artinya ada proses yang bertambah terus ada kemajuan. Kemajuan perubahan tabiat itu adalah kemajuan menuju kepada gambar Allah. Kemudian diperlukan kemauan menyerahkan diri kepada Allah untuk dirubah.

Kolose 3:5-6

「Matikanlah dalam Dirimu Segala Sesuatu yang di dunia 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 3:5-6 [ITB])
5Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

Perikop kemarin menyebutkan bahwa kehidupan yang telah dibangkitkan harus membawakan perubahan dalam aspek arah kehidupan 「harus mencari …」 dan dalam aspek pikiran 「harus memikirkan …」, kedua aspek yang selalu saling berkaitan tidak bisa saling dipisahkan. Apa yang kita kejar dan cari dalam kehidupan, tercermin dalam apa yang tidak hentinya kita pikirkan. Paulus berpesan kepada orang percaya di Kolose harus tiada henti memikirkan perkara yang di atas, jangan memikirkan perkara dunia. Ini bukan mengatakan bahwa semua 「perkara di dunia 」 tidak berharga dipikirkan. Orang Kristen juga tidak bisa tidak memikirkan urusan di dunia, kecuali jika kita sudah meninggalkan dunia dan tinggal bersama Tuhan. Selama masih ada di dunia,orang Kristen harus mempertimbangkan berbagai aspek bagi kehidupan, termasuk masalah tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, jaminan pensiun dan lain-lain. Pemimpin gereja juga harus mengerjakan urusan perluasan gereja, perluasan bangunan, perbaikan dan berbagai urusan di dunia. Manusia karena hidup di dunia maka harus sering membuat pilihan either-or “salah satu … atau …” dari antara kemungkinan yang ada, tidak bisa menghindari berpikir untuk hal-hal di dunia. Paulus berpesan kepada orang percaya 「jangan memikirkan perkara di dunia 」, adalah menunjuk kepada berbagai ajaran, tradisi dan aturan yang memimpin orang meninggalkan Kristus (Kol. 2:6-21). Bagi Paulus, ajaran-ajaran ini, tradisi dan aturan jikalaupun dalam pandangan manusia mempunyai hikmat yang hebat dan rohani yang tinggi, namun hanyalah ajaran atau filsafat kecil dunia (sekolah dasar) jika dibandingkan dengan rahasia Kristus mengenai alam semesta dan segala ciptaan. Oleh karena itu, orang Kristen harus mengejar pengenalan akan rahasia Kristus, sepenuh hati mengerti kehendak Allah (Kol. 1:9). Orang hidup tidak bisa menghindari berpikir urusan di dunia, namun fondasi berpikir orang Kristen bukan ajaran atau filsafat dunia yang dangkal, tetapi harus mempunyai fondasi pada rahasia yang digenapkan Allah di dalam Kristus.

Kedua ayat renungan hari ini mempunyai fokus pada dunia. Makna apa tentang perkara dunia yang tercakup dalam memikirkan perkara di atas? Paulus berpesan kepada orang percaya di Kolose untuk mematikan anggota tubuh yang di dunia. Kata kerja 「matikanlah 」 dalam surat-surat Paulus hanya muncul dua kali (di sini Kol. 3:5 dan Rom. 4:19), merupakan kata yang diambil dari istilah kedokteran, yang mempunyai arti bagian tubuh karena penyakit sehingga fungsinya menyusut. Di sini, Paulus meminjam kata ini sebagai perumpamaan untuk mengingatkan orang percaya, bahwa hawa nafsu dan dorongan dari daging harus dipandang seperti sudah mati, fungsi yang sudah menyusut. Hawa nafsu dan dorongan dari daging mencakup percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan (serakah tanpa bosan, mengejar dengan tidak pernah merasa puas). Para peneliti menunjukkan, beberapa aspek ini berkaitan dengan pemanjaan menuruti keinginan sex:

  • Percabulan (immorality): menunjuk kepada perzinahan dan perbuatan mesum tidak sesuai aturan dan moral, di dalam Alkitab menunjuk kepada perbuatan sex yang melanggar hukum.
  • Kenajisan (impurity): karena tingkah laku cabul yang kacau melanggar aturan menyebabkan tubuh menjadi najis.
  • Hawa nafsu (lustful passion), nafsu jahat (evil desire): keinginan terhadap sex yang melanggar hukum.
  • Keserakahan (greed): mengejar sex tanpa batas.

Paulus mengingatkan orang percaya untuk mematikan anggota tubuh di dunia, hal yang pertama yang disebutkan adalah pemanjaan menuruti keinginan sex, mungkin karena sex mempunyai keterkaitan yang paling besar dengan tubuh. Paulus di 1Kor. 6:18 mengingatkan orang percaya hendaknya menjauhi percabulan (“… Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”), karena mereka telah bersatu dengan Yesus Kristus, menjadi satu roh (one spirit with him). Dalam pandangan Paulus, apapun dosa yang dilakukan, semuanya di luar tubuh, hanya orang yang melakukan percabulan adalah melakukan dosa dengan tubuh diri sendiri. Bagaimana serius beratnya membuat dosa tubuh sendiri? Karena tubuh sudah bersatu dengan Kristus, maka jika membuat dosa tubuh sendiri adalah sama dengan membuat dosa pada Kristus. Paulus mengingatkan penerima surat: 「Kristus adalah hidup kita 」 (Kol. 3:4) (ζωή zō-ee’ “hidup” yang dimaksudkan lebih daripada sekedar fisik yang sekarang atau hidup alami).  Oleh karena itu, orang Kristen harus waspada, sudah tahu hidup kita bukan milik kita lagi, tidak dapat hidup semau kita, bertindak ceroboh, seperti halnya suami istri jika sudah bersatu bukan lagi hidup bagi diri sendiri lagi.

Dan lagi, murka Allah akan datang menimpah orang yang memberontak (atas orang-orang durhaka). Allah pasti akan melawan dosa kejahatan, menghancurkan yang kacau mengembalikan kebenaran. Terhadap anak-anak-Nya, Allah terutama akan bertindak demikian. Apakah ada orang tua yang tidak mendidik anaknya (Ibr. 12:7)? Orang Kristen jangan sekali-kali mencobai Allah, mencari batas kesabaran Allah. Allah tidak pernah meringankan tangan-Nya dalam menghadapi orang-orang durhaka, masalahnya hanya cepat atau lambat saja.

Renungkan: tidak sedikit orang percaya yang sangat mempunyai talenta karunia, sangat mengasihi Tuhan Yesus namun jatuh dalam masalah sex, menghacurkan pelayanan sendiri, keluarga dan pekerjaan, sangatlah disayangkan, bahkan Pendeta tidak terkecuali. Richard Foster pernah menunjukkan, uang, sex, dan kekuasaan adalah tiga hal yang mudah membuat orang Kristen jatuh. Mungkin, dari ketiga hal tersebut, sex paling menggiurkan dan memiliki daya menghancurkan yang paling besar. Renungkan, apakah saya sebenarnya mematikan anggota tubuh di dunia dalam aspek sex? Dalam hal apa saya hidup dalam pemanjaan menuruti keinginan diri?


Tambahan Blogger:

Karena perikop ini sangat terkait dengan teks sebelumnya Kolose 3:1-4, sebelum lupa isi renungan ini, secepatnya bacalah ulang renungan Kolose 3:1-4 「Pikirkanlah Pekara-Pekara yang di Atas 」 hanya memakai waktu anda sebanyak 2 menit.

Kolose 3:1-4

「Pikirkanlah Pekara-Pekara yang di Atas 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 3:1-4 [ITB])
1Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
2Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
4Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Kol. 3:1 mulai membahas dari sudut pandang positif tentang makna secara konkrit dari 「berjalan di dalam Kristus 」 (walk in Him) (Kol. 2:6). Teks sebelumnya dengan sudut negatif (larangan) membicarakan 「mati bersama Kristus 」 tentang apa yang tidak sepatutnya dilakukan orang Kristen (Kol. 2:12, 20) — jangan ditawan ajaran kosong  yang menipu orang (Kol. 2:8), jangan mengikuti tradisi, ibadah dan aturan yang menggoda menipu orang menjauhi Kristus (Kol. 2:16, 18, 20-21). Kol. 3:1 mulai dengan sudut pandang 「bangkit bersama Kristus」 untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan orang Kristen. Paulus terlebih dahulu membahas aspek pikiran dan tujuan kehidupan orang Kristen.

Kol. 3:1-4 mencakup dua frasa perintah — 「harus mengejar perkara yang di atas 」 (you ought to seek the things above) dan 「harus memikirkan perkara yang di atas 」 (set your mind on the things above). Kedua kalimat perintah ini membentuk arah dan dasar dari cara pandang nilai (values) orang Kristen. Pertama-tama, orang Kristen sepatutnya mencari perkara yang di atas, di sana ada Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah. Jelas bahwa perintah ini ditujukan kepada orang Kristen yang hidup seperti masih di dunia (Kol. 2:20-21). Paulus mengingatkan mereka jika sudah bangkit bersama Kristus maka sepatutnya mengejar perkara yang selaras dengan Kristus yang bangkit, tidak perlu terbelit dengan filsafat kepandaian, tradisi dan aturan yang duniawi. Bagaimanakah orang Kristen mengejar perkara di atas? Kol. 3:2 menunjukkan 「harus memikirkan perkara di atas」. Apa yang seseorang sedang kejar tercermin dalam apa yang terus menerus ia renungkan / pikirkan. Saat seseorang tiada henti berpikir bagaimana menumpuk kekayaan, seluruh kehidupannya sebenarnya mengejar kepuasan yang didapatkan dari harta kekayaan (Mat. 6:19-21). Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengingatkan para murid, seseorang tidak dapat taat mengikuti Allah dan juga melayani mamon (Mat. 6:24). Orang Kristen sudah bangkit bersama Kristus, seharusnya mengikatkan pikiran kepada perkara yang di atas, dengan demikian tidak akan hidup seperti dalam dunia. Apa sebenarnya 「perkara di atas 」? Membaca dari Kolose fasal 1 sampai sekarang ini, kita dapat menyimpulkan bahwa 「perkara di atas 」 mencakup: pengharapan yang tersimpan di Surga (Kol. 1:5), relasi segala ciptaan dengan Kristus (Kol. 1:15-17),  rahasia akan pendamaian yang digenapkan melalui salib (Kol. 1:20-22), segenap kepenuhan ada di dalam Kristus (Kol. 2:9), Kristus telah melucuti kuasa semua pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa (Kol. 2:15), akan bersama Kristus di dalam kemuliaan saat Ia menyatakan diri (Kol. 3:4).

Menyimpulkannya dengan sebuah kalimat sederhana, 「perkara di atas 」 adalah kehendak Allah yang digenapi di dalam Kristus (Kol. 1:9). Sebenarnya Paulus sejak awal di Kol. 1:9-12 sudah berdoa bagi penerima surat, memohon agar mereka dipenuhi segala hikmat dan pengenalan sehingga bisa mengetahui kehendak Allah. Di sini ia berpesan agar mereka tiada henti mengejar, memikirkan perkara di atas. Tidak sedikit orang percaya mengira bahwa 「perkara di atas 」 adalah mencari pesan khusus atau pimpinan Allah kepada saya pribadi. Mungkin saja Paulus punya maksud ini; namun jika dipandang dari keseluruhan surat, Paulus berpesan kepada orang percaya bahwa apa yang seharusnya dikejar dan tiada henti dipikirkan adalah segala yang digenapkan Allah di dalam Kristus, rahasia ini menyangkut yang di Sorga, yang di bumi, yang kelihatan mata, yang tidak kelihatan mata, yang memegang kuasa, dan yang tidak memegang kuasa. Inilah rahasia Kristus yang Paulus sedang usahakan dengan keras untuk dikhabarkan dengan sepenuhnya (Kol. 1:25-29).

Renungkan: sebagai pengikut Kristus, apakah saya benar-benar mengejar perkara di atas, berulang-ulang merenungkan segala yang digenapkan Allah di dalam Kristus? Seberapa dalam saya mengenal rahasia Kristus? Apakah saya mengejar pengenalan saya terhadap Yesus Kristus sebagai permata berharga? Apa yang sebenarnya sedang saya kejar saat ini?

Kolose 2:20-23

「Jangan Hidup Seolah-olah Masih Hidup Duniawi 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 2:20-23 [ITB])
20Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:
21jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;
22semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. 23Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.

Keempat ayat ini merupakan kesimpulan kecil dari perikop Kol. 2:6-19. Paulus di Kol. 2:6 mengingatkan orang-orang percaya: sejak seseorang menerima Yesus Kristus maka seharusnya berjalan (hidup) di dalam Kristus, termasuk berakar dan dibangun di dalam Kristus, iman yang teguh serta hati yang penuh ucapan syukur. Sampailah pada Kol. 2:20, Paulus menyebutkan bahwa seseorang karena sudah mati bersama Kristus, maka tidak sepatutnya hidup seperti masih dalam duniawi (as if living in the world). Di sini, Paulus menggunakan kalimat tanya retorika 「mengapakah … 」 untuk menyatakan ketidak-setujuan (pertanyaan retorik tidak memerlukan jawaban, biasanya mengarah pada bentuk pernyataan pemberi semangat, kritik ataupun gagasan), seperti ayah bertanya kepada anaknya: 「 bukankah engkau tahu besok ada ujian, mengapakah masih bermain dan tidak belajar? 」 Pertanyaan retorik ini membawakan inti utama dari sang ayah (“harus segera belajar!”), juga pada saat yang sama mencerminkan keadaan sang anak sedang bermain-main. Dari pertanyaan retorika Paulus ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada orang di gereja Kolose yang menaklukkan diri patuh kepada rupa-rupa peraturan 「jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini 」. Paulus mengingatkan mereka, jika sudah menerima Tuhan Yesus Kristus dan mati bersama Dia, maka harus berjalan di dalam Kristus, jangan seolah-olah kamu masih hidup di dunia.

Paulus menyatakan bahwa orang yang telah mati bersama Kristus adalah telah lepas dari ajaran (filsafat) dangkal dunia. (Kol. 2:20 dalam terjemahan Mandarin dan sebagian terjemahan Inggris KJV, NIV “… kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan (mati / bebas) dari ajaran dunia yang dangkal …” bandingkan dengan ITB “…kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia …”) Frasa 「ajaran dunia yang dangkal 」 pernah muncul di Kol. 2:8 (ITB juga menterjemahkan sebagai roh-roh dunia), dalam bahasa asli (Yunani) kata ini dapat menunjuk kepada astronomi, atau prinsip dasar orang dunia. Secara konkrit apa yang ditunjuknya? Banyak para peneliti yang berpendapat bahwa mungkin terkait dengan apa yang dibicarakan dalam Kol. 2:16-19. Namun bagaimanapun juga Paulus menyatakan bahwa segala yang membuat orang lepas dari Kristus, yang berniat mencari di luar Kristus ajaran, tradisi turun temurun atau aturan yang berkepenuhan adalah kosong sia-sia, omong kosong yang menipu orang (Kol. 2:8). Semua itu hanya berdasarkan perintah dan ajaran manusia, yang tidak dapat dihindari jika dilaksanakan akan membawa kebobrokan. Kontras dengan rahasia Kristus adalah yang kekal, dapat dipercaya dan mampu mengatasi segala ujian. Segala ciptaan (alam semesta) eksis berada juga terus berada adalah 「untuk Kristus」, 「melalui Kristus」 (Kol. 1:15-17). Oleh karena itu, mengapakah manusia meninggalkan Kristus Sang dasar segala keberadaan (ground of being), berjalan kepada sandaran yang tidak dapat diandalkan?

Perintah dan ajaran manusia ini secara permukaan seperti mempunyai hikmat, namun sebenarnya adalah 「penyembahan dengan tujuan pribadi 」 (self-made religion) dan 「menyatakan kerendahan diri 」(self-abasement), tidak ada nilai gunanya sama sekali untuk mengatasi nafsu kedagingan (Kol. 2:23b dalam terjemahan ITB “… tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi” dengan terjemahan Mandarin, ASV, ISV, NIV “… tidak ada gunanya untuk menghentikan / melawan / mengendalikan pemanjaan daging”). Dilihat dari keseluruhan Kol. 2:6-20, Paulus bukan menentang semua ajaran, tradisi turun temurun dan aturan manusia. Sebuah masyarakat tidak dapat bertahan tanpa ajaran, tradisi dan aturan. Demikian juga Gereja tidak terkecuali, mari bertanya secara retorik, gereja mana yang tidak punya tradisi, tidak punya ajaran dan aturan? Di sekolah teologi (seminari) juga punya aturan 「tidak boleh bolos, tidak boleh menyontek, tidak boleh menduduki perpustakaan bagi diri sendiri」. Masalahnya bukan pada tradisi, ajaran, dan aturan, tetapi apakah semua yang keluar dari manusia ini membawa rahasia Kristus dan apakah mampu membantu orang mengendalikan nafsu daging? Jika jawabannya adalah 「tidak 」, maka apapun perintah dan ajaran yang kelihatannya punya kebenaran adalah kata-kata indah yang sia-sia dan kosong. Orang Kristen sudah menerima Tuhan Yesus Kristus dan mati bersama Dia, maka jangan memutar balik urutan dan kebenaran, jangan hidup seperti tidak punya Kristus.

Renungkan: di gereja ada tradisi dan aturan apa saja yang dapat membantu orang hidup di dalam Kristus? Mana saja yang menjadi penghalang orang mengikuti Kristus? Mohon Tuhan membantu kita pada saat mewarisi tradisi, punya keberanian untuk melakukan pembaruan. Hanya Yesus Kristus dan rahasia-Nya yang kekal, perintah dan ajaran manusia menjadi kadaluwarsa, peelahan menuju kerusakan.


Tambahan Blogger:

Bacalah kembali perikop yang sangat terkait dalam renungan Kolose 2:6-7 「Sepatutnya melakukan segala sesuatu di dalam Kristus 」

Pengantar Surat Kolose

Adalah penting untuk mengetahui latar belakang dan tujuan penulisan dari sebuah suatu surat, kitab atau Injil, pengetahuan tersebut dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih dalam dan arah yang benar saat kita merenungkan suatu perikop. Lihat contoh renungan Kol. 1:1-2

Latar Belakang Surat Kolose

Surat Kolose ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Kolose, sekitar tahun 60-61 A.D. saat ia dalam penjara di Roma (Kis. 28:30). Beberapa peneliti mengatakan Epafras dan beberapa orang yang lain adalah pendiri gereja Kolose, mereka adalah buah dari perjalanan misi Paulus sewaktu di Efesus. Paulus memelihara hubungannya dengan gereja Kolose melalui Epafras.

Kota Kolose terletak di barat daya Asia Kecil, kira-kira 160 kilometer di sebelah timur kota Efesus, di sungai Lycus. Kota ini tidak mempunyai pengaruh yang besar seperti tetangganya Laodikia yang lebih besar dan makmur, namun sebagai salah satu pusat perdagangan kota Kolose menjadi tempat yang subur bagi pertemuan berbagai agama dan pemikiran, yang membawa pengaruh sinkretime kepada jemaat Kolose  (pencampuran agama atau pemikiran non Kristen kedalam iman Kristen).

KoloseMap2

Peta Masa Rasul Paulus

Mediteranian

Peta Masa Kini

Alasan untuk menulis surat ini adalah munculnya bidat yang hendak meruntuhkan dan menggantikan Yesus Kristus sebagai inti kepercayaan Kristen adalah suatu campuran yang aneh yang terdiri atas ajaran Kristen, tradisi-tradisi Yahudi tertentu di luar Alkitab dan filsafat kafir, ajaran palsu ini mengancam masa depan rohani jemaat Kolose (Kol 2:8). Ketika Epafras, seorang pemimpin dalam gereja Kolose dan boleh jadi pendirinya, mengadakan perjalanan untuk mengunjungi Paulus dan memberitahukan tentang situasi di Kolose (Kol 1:8; Kol 4:12), Paulus menanggapinya dengan menulis surat ini. Pada waktu itu ia berada dalam tahanan (Kol 4:3,10,18) sambil menantikan naik bandingnya kepada Kaisar (Kis 25:11-12). Rekan Paulus, Tikhikus sendiri membawa surat ini ke Kolose atas nama Paulus (Kol 4:7).

Tujuan Paulus menulis:

(1) untuk memberantas ajaran palsu yang berbahaya di Kolose yang sedang menggantikan keunggulan Kristus dan kedudukan-Nya sebagai inti dalam ciptaan, penyataan, penebusan, dan gereja;
(2) untuk menekankan sifat sebenarnya dari hidup baru di dalam Kristus dan tuntutannya pada orang percaya.

Ajaran-ajaran palsu atau pengaruh-pengaruh yang sedang dihadapi:

  1. Legalisme atas hukum Taurat dan ritual penyembahan (Kol. 2:16-17)
  2. Filsafat Yunanai tentang 「pengetahuan yang lebih dalam」 yang hanya dibukakan kepada golongan khusus yang tertentu saja (Kol. 2:2-4, 8-10)
  3. Penyembahan para malaikat sebagai perantara manusia dengan Tuhan (Kol. 2:18)
  4. Ajaran yang menyangkal keilahian Kristus (Kol. 1:15; 2:9); Supremasi-Nya (Kol. 1:15, 17a); Kuasa penciptaan (Kol. 1:16); kuasa memelihara dunia (Kol. 1:17)
  5. Ajaran asketis yang memandang tubuh sebagai yang lebih rendah (Kol. 2:20-23)

Ayat Kunci Surat Kolose:
Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kol. 2:9 [ITB])


Referensi:

Biblos Bible Map: http://bibleatlas.org/colossae.htm
Pendahuluan Kolose: http://alkitab.sabda.org/article.php?id=51
J. D. Douglas, ed. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini. Vol. 1. 2 vols. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995.)

Kolose 2:16-19

「Berpegang Teguh kepada Kristus Sang Kepala 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 2:16-19 [ITB])
16Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; 17semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
18Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, 19sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.

Teks sebelumnya menunjukkan bahwa orang yang menerima Kristus telah menang dengan bersandar pada salib, sejak itu sudah tidak ada lagi penguasa yang bisa menyerang mereka berdasarkan Taurat, Paulus berpesan kepada penerima surat agar jangan membiarkan siapapun menghakimi mereka berdasarkan makanan minuman, hari raya, bulan baru atau hari sabat. Dapat dilihat bahwa saat itu ada sebagian orang yang tidak hanya berpura-pura menjaga ketat hukum Taurat, bahkan suka menambahkan aturan manusia dan tata ritual ke atas hukum Taurat. Para peneliti mempunyai padangan yang berbeda tentang apa yang ditunjuk oleh teks Alkitab ini, apakah menunjuk kepada Yudaisme, atau ideologi asketis (cara hidup tirakat atau berpantang kenikmatan duniawi, untuk mencapai maksud-maksud rohani) yang ada pada ajaran sesat. Mungkin aturan ditambahkan ke atas hukum aturan agama atau ritual dengan maksud baik, membantu orang bersungguh-sungguh berkonsentrasi kepada Allah. Masalahnya orang-orang tersebut tidak hanya suka melakukannya sendiri, tetapi menghakimi dan mencela orang-orang Kristen yang tidak mengikuti tata cara mereka. Respon dari Paulus adalah: abaikan celaan dari mereka. Aturan, ritual tata cara keagamaan mempunyai makna paling tinggi juga untuk melayani Kristus: 「semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujud yang sesungguhnya ialah Kristus. 」

Selain itu, ada sebagian orang di antara mereka yang berpura-pura rendah hati dan menyembah malaikat. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Paulus tidak menjelaskannya lebih detil, ia berasumsi penerima surat telah memahaminya. Berdasarkan pendapat para peneliti, orang-orang ini menyebutkan diri mereka telah mendapatkan pengelihatan dari malaikat Tuhan, berpikir mereka seperti Yohanes yang mendapatkan pengelihatan tentang akhir zaman di pulau Patmos (Why. 1:1-3). Mereka menyebut dirinya memiliki wawasan rohani yang lebih tinggi dari jemaat umum, dengan cara menyiksa tubuh, mengingkari diri (self-abasement). Dalam pandangan Paulus, mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya hebat dan tinggi, karena tidak berpegang teguh kepada Kristus Sang Kepala. Mereka menyangka telah mendapat pengelihatan dari Allah, yang sebenarnya hanyalah pikiran daging diri sendiri, hanyalah bayang-bayang halusinasi sendiri. Oleh karena itu Paulus berpesan kepada penerima surat: jangan biarkan kemenanganmu digagalkan orang-orang tersebut (ITB) (disesatkan orang-orang tersebut), atau dalam terjemahan Mandarin 「jangan biarkan mereka merampas pahalamu」 (CUV) atau 「jangan biarkan mereka menyangkal kelayakanmu mendapatkan pahala 」(CCV).

Dapat dilihat bahwa respon Paulus adalah perpanjangan dari tema 「kepala dan tubuh 」. Yesus Kristus adalah Kepala Gereja (Kol. 1:18), yang juga merupakan Kepala dari semua penguasa (Kol. 2:10). Tidak hanya demikian, seluruh alam semesta bekerja mengelilingi Kristus sebagai pusat, segala sesuatu 「di dalam Dia 」, 「melalui Dia 」 dan 「untuk Dia 」 (Kol. 1:16-17), tidak terkecuali bagi berbagai aturan keagamaan, tata ibadah dan aturan hidup. Semuanya harus mengarah kepada Kristus, adalah untuk melayani Kristus. Karena orang yang telah menerima Kristus telah mendapatkan kepenuhan dari Dia, maka mereka tidak sepatutnya mencari jalan lain selain daripada Kristus untuk mendapatkan kehidupan yang lebih rohani, wawasan yang lebih tinggi dan pahala yang lebih mencolok mata. Paulus yakin bahwa urat-urat dan sendi-sendi seluruh tubuh, menerima pemeliharaan ilahi, ditunjang dan diikat menjadi satu dengan mengandalkan Kristus. Tanpa Kristus sebagai kepala, maka tubuh tidak dapat bertahan terus bertumbuh. Oleh karena itu berbagai anggota tubuh sepatutnya berpegang teguh kepada Kristus Sang Kepala, tidak sepatutnya saling menghakimi, saling membandingkan demi adat ajaran turun temurun atau wawasan rohani manusia. Di dalam pandangan Paulus, mengenal rahasia Kristus hal yang paling menentukan. Pengenalan seseorang atas rahasia Kristus dinyatakan di antara saudara-saudari seiman apakah dapat saling diikat menjadi satu di dalam kasih (Kol. 2:2).

Renungkan: Gereja perlu menetapkan tata ibadah, aturan dan institusi untuk membantu saudara-saudari memanifestasikan ajaran Alkitab menjadi sesuatu yang nyata, masalahnya adalah apakah kita terlalu menekankan ajaran turun temurun, adat nenek moyang sehingga berakibat saling membandingkan, saling menghakimi? Apakah kita berpendapat bahwa suatu penampilan rohani lebih hebat daripada orang lain sehingga lebih mendapatkan pahala dari Allah? Paulus mengingatkan kita, apapun pengalaman rohani atau manifestasi keagamaan jika tidak membantu orang mengikuti Kristus sebagai Kepala dan membangun komunitas gereja, semuanya termasuk kedagingan, hanya merupakan pikiran yang membuat orang merasa dirinya hebat dan tinggi.