「Khawatir dan Sukacita」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.
(1 Tes. 2:17-3:5 [ITB])
2:17 Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu. 18 Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu, aku, Paulus, malahan lebih dari sekali, tetapi Iblis telah mencegah kami. 19 Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? 20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.
3:1 Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena. 2 Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu, 3 supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu. 4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi. 5 Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.
Di bagian paragraf dari Alkitab ini, dan bahkan seluruh surat Tesalonika, kita tidak hanya melihat ajaran bersifat penggembalaan dari Paulus, tetapi juga lebih jelas melihat hati gembalanya. Paulus memakai seluruh tenaga dan hati demi orang-orang percaya yang ia gembalakan, bahkan nyawanya sendiri boleh dikorbankan (2:8). Hanya karena kasihnya kepada mereka yang mendalam dan sejati sehingga membuat perasaan pribadinya naik turun, dan penuh sukacita besar demi mereka sesaat seperti di puncak, namun sesaat seperti di jurang, tidak ada respons emosional semacam itu jika tanpa cinta.
Mari kita terlebih dahulu melihat sisi sukacita besar: beberapa ahli menunjukkan bahwa surat-surat Paulus selalu dimulai dengan pembukaan (penulis, penerima surat, dan salam), dan kemudian menambahkan kata pujian dan terima kasih kepada Tuhan. Tetapi tidak seperti surat-surat lainnya, pujian dan terima kasih dalam surat 1 Tesalonika tidak berhenti pada ayat 1:2-3, tetapi berlanjut sampai ke ayat 3:13. Dengan kata lain, dari pasal 1 hingga 3, dapat dikatakan merupakan pujian dan bersyukur kepada Allah demi orang-orang percaya di Tesalonika, menempati sekitar 60% dari seluruh surat ini, boleh dikatakan cukup berlimpah lebih. Apakah orang-orang percaya di Tesalonika layak mendapatkan penghargaan yang begitu panjang, suatu hal yang dapat didiskusikan lebih mendalam lagi, tetapi setelah mengetahui bahwa Paulus setelah mengetahui bahwa mereka dapat berdiri dengan teguh, ia tidak dapat meredam sukacita besar dalam hatinya, para pembaca secara sekilas saja dapat melihat. Bagaimanapun, apa yang ditunjukkan oleh orang-orang percaya Tesalonika sungguh-sungguh yang luar biasa, di luar dugaan Paulus, sehingga ia menaikkan pujian besar dari lubuk hatinya.
Pernahkah Anda melihat kakek dan nenek dengan fasih memuji cucu mereka karena kepintaran dan bakat mereka? Selain bercerita, mereka terus menunjukkan foto-foto yang tersimpan di ponsel kepada orang lain untuk membuktikan kebenaran ceritanya. Kebanggaan di wajah mereka sepenuhnya menggambarkan prinsip 「keindahan tampak di mata kekasih.」 (Berdasarkan tradisi kerendahan hati orang Cina, masih tidak terlalu pantas untuk memuji anak-anak mereka terlalu tinggi, tetapi tampaknya pujian kepada cucu tidak termasuk dalam tabu ini.)
Sebelum sukacita besar, terlebih dahulu ada kekhawatiran besar. Jika tidak ada kekhawatiran ekstrem yang panjang sebelumnya maka tidak akan terbentuk sukacita besar yang demikian. Jika saya melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, dokter mengatakan kepada saya bahwa tidak ada bukti kanker, dan saya tidak akan terlalu bersemangat, karena saya tidak pernah khawatir tentang hal itu sebelumnya, tetapi jika sebelumnya telah ada banyak dokter yang menilai bahwa saya memiliki penyakit terminal, dan memperkirakan bahwa saya tidak akan bisa hidup lebih dari setengah tahun. Saya menangis bersama keluarga saya selama beberapa minggu, bahkan surat wasiat juga sudah disiapkan satu per satu. Tanpa diduga, laporan tes akhir mengatakan bahwa semua penyakit itu salah diagnosis, saya tidak ada penyakit apapun, dapat hidup lebih dari sepuluh tahun! Saat saya menerima kabar baik ini, saya pikir akan berteriak gembira melintasi Victoria Harbour.
Kekhawatiran besar Paulus secara sederhana diringkas dalam 3:8 「Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.」 Paulus mengkhawatirkan orang Tesalonika seperti ia akan mati, atau hidup seperti mati. Jika mereka melepaskan iman mereka dan kehilangan keselamatan mereka, ia akan merasa hidup lebih buruk daripada mati, tetapi sekarang situasi yang ia khawatirkan tidak muncul, ia segera hidup kembali.
Renungkan:
Cinta kasih membuat orang rentan dan mudah terluka. Jika kita mencintai suatu obyek, memberikan diri dan hati sepenuhnya, tidak mungkin tidak memiliki harapan (dan kekecewaan karena kegagalan harapan) dari pihak lain, juga tidak dapat kita tidak dipengaruhi oleh pihak lain, sehingga menghasilkan reaksi emosional gembira marah sedih. Kasih yang sejati bukanlah sekadar tulisan ringan, apalagi acuh tak acuh.
Jika kita menganggap penginjilan sebagai pekerjaan serius dan menyelesaikan tugas ini, seperti membagikan selebaran iklan MLM dari suatu produk di jalan, tidak perlu dipengaruhi oleh penerimaan atau penolakan orang. Tentu saja, jika sudah banyak menerima penolakan, juga akan timbul emosi negatif yang disebabkan oleh frustrasi, tetapi selama Anda memiliki persiapan psikologis yang cukup dan kemampuan melepaskan diri sendiri, masih tidak akan terlalu mempengaruhi suasana hati Anda. Tetapi jika kita yakin bahwa apa yang kita beritakan adalah kebenaran penting terkait hidup dan matinya manusia, juga karena kita sangat peduli terhadap pihak yang hendak kita beri tahu, maka kita tidak bisa tidak bersemangat mengharapkan penerimaan mereka dan tidak dapat tidak dipengaruhi oleh penolakan mereka, bahkan terluka.
Apakah seorang yang kebetulan lewat di jalanan percaya kepada Yesus mungkin tidak akan terlalu banyak memengaruhi emosi kita, tetapi kita pasti sangat peduli apakah ibu kita percaya kepada Tuhan Yesus. Saat ini, kita menganggap penginjilan sebagai pekerjaan yang tidak penting yang dapat dilakukan atau tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita yang jarang mengabarkan kepada orang lain tentang Yesus, bahkan jika berpartisipasi dalam kegiatan penginjilan satu tahun satu kali, juga asal-asalan, tidak memiliki harapan (tentu saja tidak akan ada rasa kecewa) atas apapun hasil dari acara tersebut. Sikap seperti itu secara alami tidak berarti bahwa kita adalah orang yang tidak mudah dipengaruhi keadaan, tetapi hanya menunjukkan bahwa kita kurang mengasihi orang lain.
Jika tidak ada cinta kasih, tidak ada benci, maka yang ada hanyalah acuh tak acuh.
Berdoa kiranya Tuhan mengampuni kita.
Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika
Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain
Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
Renungan untuk Kalangan Kristen.
Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.