「Jangan Hidup Seolah-olah Masih Hidup Duniawi 」
Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào) yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Kolose 2:20-23 [ITB])
20Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:
21jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;
22semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. 23Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.
Keempat ayat ini merupakan kesimpulan kecil dari perikop Kol. 2:6-19. Paulus di Kol. 2:6 mengingatkan orang-orang percaya: sejak seseorang menerima Yesus Kristus maka seharusnya berjalan (hidup) di dalam Kristus, termasuk berakar dan dibangun di dalam Kristus, iman yang teguh serta hati yang penuh ucapan syukur. Sampailah pada Kol. 2:20, Paulus menyebutkan bahwa seseorang karena sudah mati bersama Kristus, maka tidak sepatutnya hidup seperti masih dalam duniawi (as if living in the world). Di sini, Paulus menggunakan kalimat tanya retorika 「mengapakah … 」 untuk menyatakan ketidak-setujuan (pertanyaan retorik tidak memerlukan jawaban, biasanya mengarah pada bentuk pernyataan pemberi semangat, kritik ataupun gagasan), seperti ayah bertanya kepada anaknya: 「 bukankah engkau tahu besok ada ujian, mengapakah masih bermain dan tidak belajar? 」 Pertanyaan retorik ini membawakan inti utama dari sang ayah (“harus segera belajar!”), juga pada saat yang sama mencerminkan keadaan sang anak sedang bermain-main. Dari pertanyaan retorika Paulus ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada orang di gereja Kolose yang menaklukkan diri patuh kepada rupa-rupa peraturan 「jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini 」. Paulus mengingatkan mereka, jika sudah menerima Tuhan Yesus Kristus dan mati bersama Dia, maka harus berjalan di dalam Kristus, jangan seolah-olah kamu masih hidup di dunia.
Paulus menyatakan bahwa orang yang telah mati bersama Kristus adalah telah lepas dari ajaran (filsafat) dangkal dunia. (Kol. 2:20 dalam terjemahan Mandarin dan sebagian terjemahan Inggris KJV, NIV “… kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan (mati / bebas) dari ajaran dunia yang dangkal …” bandingkan dengan ITB “…kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia …”) Frasa 「ajaran dunia yang dangkal 」 pernah muncul di Kol. 2:8 (ITB juga menterjemahkan sebagai roh-roh dunia), dalam bahasa asli (Yunani) kata ini dapat menunjuk kepada astronomi, atau prinsip dasar orang dunia. Secara konkrit apa yang ditunjuknya? Banyak para peneliti yang berpendapat bahwa mungkin terkait dengan apa yang dibicarakan dalam Kol. 2:16-19. Namun bagaimanapun juga Paulus menyatakan bahwa segala yang membuat orang lepas dari Kristus, yang berniat mencari di luar Kristus ajaran, tradisi turun temurun atau aturan yang berkepenuhan adalah kosong sia-sia, omong kosong yang menipu orang (Kol. 2:8). Semua itu hanya berdasarkan perintah dan ajaran manusia, yang tidak dapat dihindari jika dilaksanakan akan membawa kebobrokan. Kontras dengan rahasia Kristus adalah yang kekal, dapat dipercaya dan mampu mengatasi segala ujian. Segala ciptaan (alam semesta) eksis berada juga terus berada adalah 「untuk Kristus」, 「melalui Kristus」 (Kol. 1:15-17). Oleh karena itu, mengapakah manusia meninggalkan Kristus Sang dasar segala keberadaan (ground of being), berjalan kepada sandaran yang tidak dapat diandalkan?
Perintah dan ajaran manusia ini secara permukaan seperti mempunyai hikmat, namun sebenarnya adalah 「penyembahan dengan tujuan pribadi 」 (self-made religion) dan 「menyatakan kerendahan diri 」(self-abasement), tidak ada nilai gunanya sama sekali untuk mengatasi nafsu kedagingan (Kol. 2:23b dalam terjemahan ITB “… tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi” dengan terjemahan Mandarin, ASV, ISV, NIV “… tidak ada gunanya untuk menghentikan / melawan / mengendalikan pemanjaan daging”). Dilihat dari keseluruhan Kol. 2:6-20, Paulus bukan menentang semua ajaran, tradisi turun temurun dan aturan manusia. Sebuah masyarakat tidak dapat bertahan tanpa ajaran, tradisi dan aturan. Demikian juga Gereja tidak terkecuali, mari bertanya secara retorik, gereja mana yang tidak punya tradisi, tidak punya ajaran dan aturan? Di sekolah teologi (seminari) juga punya aturan 「tidak boleh bolos, tidak boleh menyontek, tidak boleh menduduki perpustakaan bagi diri sendiri」. Masalahnya bukan pada tradisi, ajaran, dan aturan, tetapi apakah semua yang keluar dari manusia ini membawa rahasia Kristus dan apakah mampu membantu orang mengendalikan nafsu daging? Jika jawabannya adalah 「tidak 」, maka apapun perintah dan ajaran yang kelihatannya punya kebenaran adalah kata-kata indah yang sia-sia dan kosong. Orang Kristen sudah menerima Tuhan Yesus Kristus dan mati bersama Dia, maka jangan memutar balik urutan dan kebenaran, jangan hidup seperti tidak punya Kristus.
Renungkan: di gereja ada tradisi dan aturan apa saja yang dapat membantu orang hidup di dalam Kristus? Mana saja yang menjadi penghalang orang mengikuti Kristus? Mohon Tuhan membantu kita pada saat mewarisi tradisi, punya keberanian untuk melakukan pembaruan. Hanya Yesus Kristus dan rahasia-Nya yang kekal, perintah dan ajaran manusia menjadi kadaluwarsa, peelahan menuju kerusakan.
Tambahan Blogger:
Bacalah kembali perikop yang sangat terkait dalam renungan Kolose 2:6-7 「Sepatutnya melakukan segala sesuatu di dalam Kristus 」