Kolose 3:12-13

「Ampunilah Seorang akan yang Lain」

Adakala demi 「sopan santun,」 demi 「ketenangan tidak ada permasalahan」mengampuni secara kulit luar di permukaan adalah lebih mudah.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kol 3:12-13 [ITB])
12Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
13Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Paulus tiada henti menekankan, orang yang telah menerima Yesus Kristus sudah di dalam Dia menjadi seorang manusia baru, juga terus-menerus dalam pengetahuan diperbaharui sesuai gambar Allah. Orang-orang ini tidak hanya mengenal makin dalam perkara mengenai Tuhan (Kol. 3:1-4), manusia ini terlebih lagi diperluas dalam karakter dan tingkah laku sesuai gambar Kristus, kehidupannya makin hari makin mirip Tuhan (Kol. 3:5-9). Di dalam aspek manakah manusia mirip dengan Tuhan? Yakni dalam kesukaan berbagi kedamaian (Kol. 1:19-20). Saat orang Kristen makin hari makin mengenal Tuhan, ia sepatutnya mirip seperti Tuhan yang paham berbagi apa yang Ia miliki dengan manusia, juga rela melihat dipertahankannya hubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia. Oleh karena itu, Paulus berpesan kepada orang percaya di Kolose agar「kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran 」 (Kol. 3:12). Beberapa karakter ini terrangkum dalam tindakan「saling mengampuni. 」

Tuhan adalah Allah yang penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Dari manakah bisa dilihat? Jawabannya ada pada pengampunan yang dari Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15). Melalui penciptaan oleh Kristus, kita melihat sisi Tuhan yang penuh kuasa; melalui salib Kristus, kita melihat sisi Tuhan yang penuh kemurahan. Dahulu kita bermusuhan Tuhan, tindakan kita penuh kejahatan, sekarang Allah melalui kematian Yesus Kristus membuat kita berdamai dengan Dia, dan menjadi kudus, tidak bercacat-cela (Kol. 1:21-22). Karena kudus, dan sebagai manusia yang dikasihi, maka kita sepatutnya mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, belajar saling toleransi , saling mengampuni. Mengampuni memang dapat menciptakan relasi yang damai, terlebih penting adalah dapat menampilkan karakter Tuhan. Saat kita seperti Tuhan Yesus mengampuni dosa kesalahan orang lain, kita di dalam tindakan mengampuni ini membuktikan dan mencerminkan bahwa kita adalah benar-benar umat pilihan Allah, membawa gambar Tuhan, memiliki perasaan yang sama dengan Tuhan.

Renungkan: Mengampuni secara kulit luar di permukaan adalah lebih mudah. Adakala demi 「sopan santun,」 demi 「ketenangan tidak ada permasalahan,」 kita bisa melakukan tindakan yang di kulit luar saja, agar semua orang mudah saling menghadapi, dapat melanjutkan kehidupan atau pekerjaan bersama-sama. Sesuai pesan Alkitab, mengampuni adalah dari dalam hati, orang hendaklah 「kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 」 Sebelum manusia jatuh rusak, adalah hal yang alami seorang dengan kemurahan memperlakukan orang lain; setelah manusia jatuh dan rusak, hal ini menjadi sangat tidak alami. Manusia hendak mendapatkan keadilan bagi diri sendiri, melakukan pembalasan yang setimpal. Tuhan Yesus justru berpesan bahwa para murid hendaklah mengasihi musuh, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, dengan demikian kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Mat. 5:43-48).

Mengasihi musuh terlebih dahulu hendaknya dimulai dari mengampuni dari dalam hati. Pengampunan yang tanpa kasih adalah paslu, hanyalah demi menjaga kelangsungan aktifitas sosial atau menjamin keuntungan diri saja. Kasih yang sesungguhnya haruslah bisa mencerminkan perasaan Tuhan, kemudian ini adalah manusia secara 「alamiah」 tidak mampu melakukannya. Hanya manusia yang taat mengikuti Roh Kudus, barulah mempu menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-26).