「Pengampunan! Percayakah Kita?」
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Luk. 6:27-38 [ITB])
27「Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 28mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
29Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
30Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
31Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
32Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 33Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
34Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
35Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
36Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.」
37「Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 38Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.」
Kemarin kita baru saja merenungkan tentang sifat khusus komunitas baru, yakni ambil bagian dalam penderitaan Kristus Yesus, dikarenakan prinsip bahwa murid tidak mampu melebihi guru, semua yang mengikut Yesus Sang Anak Manusia akhir zaman, semuanya akan menghadapi berbagai macam aniaya, ini adalah hal tidak bisa dihindari. Orang-orang percaya sepatutnya baik-baik mempersiapkan akan datangnya serangan yang demikian ini.
Perikop hari ini, lebih lanjut menjelaskan kembali ini sebenarnya merupakan hal yang bagaimana.
Terlebih dahulu, Yesus mengajarkan kebenaran kepada kita agar hendaknya memberkati orang lain. Makna memberkati ini bukan ditujukan bagi orang yang tidak mengerti kebenaran, memberkati orang luar yang tidak mengenal Yesus, tetapi berkat yang hendak ditujukan bagi orang-orang yang sepertinya mengerti kebenaran, lingkaran orang-orang yang sangat mengenal keagamaan, untuk memberkati mereka bagi aniaya yang mereka adakan. Maka seperti Yesus di hari Sabat menyembuhkan penyakit, tidak peduli bagaimana Ia disalahpahami, bahkan para pemimpin keagamaan berunding hendak bagaimana memperlakukan Dia, Yesus yang lahir sebagai Anak Manusia ternyata tidak marah spatah katapun, malah sebaliknya mengajarkan kita hendaknya memberkati orang yang mengutuk kita, hendaknya berdoa bagi orang menghina kita, karena mereka sungguh tidak mengerti apa yang mereka perbuat, maka Yesus memberitahu semua orang yang mendengarkan Injil-Nya hendaklah mengasihi musuh, memperlakukan dengan kebaikan orang yang membenci kamu.
Yesus di Luk. 6:32 dengan lebih detil mengatakan, orang mengasihi orang yang dikasihi dirinya sendiri, bukankah juga sama seperti orang berdosa mengasihi orang yang dikasihi dirinya sendiri? Maka Yesus sungguh menantang kita hendaknya memperlakukan dengan kebaikan kepada orang yang kita benci, dengan demikian kita barulah merupakan anak Allah yang sungguh benar. Karena anugerah keselamatan pada sendirinya adalah hendak membawakan pengampunan, yang merupakan belas kasih Bapa di Sorga, tidak peduli apa yang telah dilakukan orang lain, apakah memenangkan kembali penghargaan dan tepuk tangan kita, kita sebagai anak-anak Allah, semuanya adalah mengikuti belas kasih Bapa di Sorga untuk memperlakukan orang dengan kebaikan.
Tepat karena demikian, kita tidak boleh menghakimi dan memutuskan dosa orang lain, karena Bapa penuh belas kasih yang dapat menghakimi dan memutuskan dosa orang lain, maka saat kita mengampuni orang, maka akan diampuni Bapa, ini juga merupakan kebenaran doa Bapa kami, bukan kita terlebih dahulu diampuni orang barulah kita mengampuni, tetapi saat kita masih dalam aniaya, masih menderita luka, bersandar anugerah memilih untuk memakai pengampunan sebagai respon, sama seperti Bapa di Sorga dengan belas kasih memperlakukan orang.
Dapat dilihat bahwa menaati hukum Taurat adalah berkehendak membuat orang mendapatkan integritas moral ini, hukum Taurat Musa adalah mengajar orang memiliki belas kasih dan mengasihi, maka Yesus khusus terhadap pengenalan orang terhadap hukum Taurat yang melenceng pada zaman itu, menjelaskan pemahaman ulang hukum Taurat Musa (redefinition of Mosaic law), yakni hendak mengkoreksi ulang hati yang mula-mula ini. Di antara orang dengan orang tidak lagi dipenuhi dengan pemikiran 「mata ganti mata」「gigi ganti gigi」, tetapi dalam 「balas dendam」 yang boleh dilakuan paling banyak adalah mengembalikan sebesar hutangnya kepada pihak bersangkutan, dan bukan memakai alasan ini untuk menyudutkan orang pada kematian. Pengampunan dan belas kasih barulah merupakan inti pengajaran Allah.
Renungkan: keindahan Gereja dari dahulu semuanya bukan sibuk ke sana ke sini membawakan apa yang menguntungkan bagi diri sendiri, tetapi meletakkan belas kasih Bapa di Sorga di antara kumpulan orang, mungkin dalam perlombaan kehidupan yang kejam, kita sudah sulit mengatakan apakah pengampunan dan belas kasih itu, tetapi kesimpulan perikop ini justru adalah bahwa janji Allah kepada kita suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu (Luk. 6:38). Apakah kita percaya janji ini? Ini merupakan sifat khusus iman komunitas baru, Gereja! Apakah kita percaya?