Tag Archives: Mengampuni

Lukas 6:27-38

「Pengampunan! Percayakah Kita?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 6:27-38 [ITB])
27「Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 28mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
29Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
30Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
31Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
32Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 33Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
34Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
35Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
36Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.」
37「Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 38Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.」

Kemarin kita baru saja merenungkan tentang sifat khusus komunitas baru, yakni ambil bagian dalam penderitaan Kristus Yesus, dikarenakan prinsip bahwa murid tidak mampu melebihi guru, semua yang mengikut Yesus Sang Anak Manusia akhir zaman, semuanya akan menghadapi berbagai macam aniaya, ini adalah hal tidak bisa dihindari. Orang-orang percaya sepatutnya baik-baik mempersiapkan akan datangnya serangan yang demikian ini.

Perikop hari ini, lebih lanjut menjelaskan kembali ini sebenarnya merupakan hal yang bagaimana.

Terlebih dahulu, Yesus mengajarkan kebenaran kepada kita agar hendaknya memberkati orang lain. Makna memberkati ini bukan ditujukan bagi orang yang tidak mengerti kebenaran, memberkati orang luar yang tidak mengenal Yesus, tetapi berkat yang hendak ditujukan bagi orang-orang yang sepertinya mengerti kebenaran, lingkaran orang-orang yang sangat mengenal keagamaan, untuk memberkati mereka bagi aniaya yang mereka adakan. Maka seperti Yesus di hari Sabat menyembuhkan penyakit, tidak peduli bagaimana Ia disalahpahami, bahkan para pemimpin keagamaan berunding hendak bagaimana memperlakukan Dia, Yesus yang lahir sebagai Anak Manusia ternyata tidak marah spatah katapun, malah sebaliknya mengajarkan kita hendaknya memberkati orang yang mengutuk kita, hendaknya berdoa bagi orang menghina kita, karena mereka sungguh tidak mengerti apa yang mereka perbuat, maka Yesus memberitahu semua orang yang mendengarkan Injil-Nya hendaklah mengasihi musuh, memperlakukan dengan kebaikan orang yang membenci kamu.

Yesus di Luk. 6:32 dengan lebih detil mengatakan, orang mengasihi orang yang dikasihi dirinya sendiri, bukankah juga sama seperti orang berdosa mengasihi orang yang dikasihi dirinya sendiri? Maka Yesus sungguh menantang kita hendaknya memperlakukan dengan kebaikan kepada orang yang kita benci, dengan demikian kita barulah merupakan anak Allah yang sungguh benar. Karena anugerah keselamatan pada sendirinya adalah hendak membawakan pengampunan, yang merupakan belas kasih Bapa di Sorga, tidak peduli apa yang telah dilakukan orang lain, apakah memenangkan kembali penghargaan dan tepuk tangan kita, kita sebagai anak-anak Allah, semuanya adalah mengikuti belas kasih Bapa di Sorga untuk memperlakukan orang dengan kebaikan.

Tepat karena demikian, kita tidak boleh menghakimi dan memutuskan dosa orang lain, karena Bapa penuh belas kasih yang dapat menghakimi dan memutuskan dosa orang lain, maka saat kita mengampuni orang, maka akan diampuni Bapa, ini juga merupakan kebenaran doa Bapa kami, bukan kita terlebih dahulu diampuni orang barulah kita mengampuni, tetapi saat kita masih dalam aniaya, masih menderita luka, bersandar anugerah memilih untuk memakai pengampunan sebagai respon, sama seperti Bapa di Sorga dengan belas kasih memperlakukan orang.

Dapat dilihat bahwa menaati hukum Taurat adalah berkehendak membuat orang mendapatkan integritas moral ini, hukum Taurat Musa adalah mengajar orang memiliki belas kasih dan mengasihi, maka Yesus khusus terhadap pengenalan orang terhadap hukum Taurat yang melenceng pada zaman itu, menjelaskan pemahaman ulang hukum Taurat Musa (redefinition of Mosaic law), yakni hendak mengkoreksi ulang hati yang mula-mula ini. Di antara orang dengan orang tidak lagi dipenuhi dengan pemikiran 「mata ganti mata」「gigi ganti gigi」, tetapi dalam 「balas dendam」 yang boleh dilakuan paling banyak adalah mengembalikan sebesar hutangnya kepada pihak bersangkutan, dan bukan memakai alasan ini untuk menyudutkan orang pada kematian. Pengampunan dan belas kasih barulah merupakan inti pengajaran Allah.

Renungkan: keindahan Gereja dari dahulu semuanya bukan sibuk ke sana ke sini membawakan apa yang menguntungkan bagi diri sendiri, tetapi meletakkan belas kasih Bapa di Sorga di antara kumpulan orang, mungkin dalam perlombaan kehidupan yang kejam, kita sudah sulit mengatakan apakah pengampunan dan belas kasih itu, tetapi kesimpulan perikop ini justru adalah bahwa janji Allah kepada kita suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu (Luk. 6:38). Apakah kita percaya janji ini? Ini merupakan sifat khusus iman komunitas baru, Gereja! Apakah kita percaya?

Kej. 45:4-8

「Saling mengenal dan berdamai」

Apakah kita sudah memiliki iman yang yakin sedemikian pasti?

(Kej. 45:4-8 [ITB])
4Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: 「Marilah dekat-dekat.」Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: 「Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 5Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini,
sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.
6Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai.
7Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. 8Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.」

(Bacalah Kej. 45, silahkan klik di sini untuk membuka) Yusuf dan para abang saling mengenal dan berdamai, membuat catatan kisah yang dimulai kitab Kejadian pasal 37, sampai di sini sudah mencapai titik penyelesaian yang indah. Yusuf memastikan para abangnya sudah dengan sungguh hati bertobat, maka perasaan hati yang ditahan akhirnya meledak keluar. Atas kesungguhan hati para abangnya, ia membuat penjelasan tentang dirinya, perkataan yang tulus dan bersungguh-sungguh, dapat dibandingkan keindahannya dengan permohonan tulus dari Yehuda yang rela menggantikan menerima hukuman di pasal sebelumnya. Pusat dari perkataan dia kepada para abangnya, adalah meninggikan kedaulatan Allah. Karena ia tiga kali berbicara tentang, bahwa yang mengutus ia sampai datang ke Mesir, bukan para abang, tetapi adalah Allah (Kej. 45:5, 7, 8). Ini adalah contoh teladan yang baik tentang mengampuni dan berdamai di dalam Alkitab, menyatakan kualitas perasaan dan moral hati manusia yang mulia.

Kisah lebih dahulu dua kali menyebutkan 「tidak dapat」: Yusuf 「tidak dapat menahan hatinya」 (Kej. 45:1), jika diterjemahan secara langsung 「ia tidak dapat」menahan dirinya sendiri (lō’ yākōl). Berkoresponden dengan para abang karena takut dan gemetar sehingga 「tidak dapat」 (lō’ yākǝlû) menjawab dia (Kej. 45:3).

Yusuf tiga kali berbicara bahwa adalah Allah yang mengutus ia datang sampai ke Mesir,「Allah menyuruh aku mendahului kamu」 (šǝlāḥanî ’ĕlōhîm lipnêkem, Kej. 45:5), 「Allah telah menyuruh aku mendahului kamu」 (wayyišlāḥēnî ’ĕlōhîm lipnêkem, Kej. 45:7), 「bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah」 (lō’ ’attem šǝlaḥtem’ōtî hennâ kî hā’ĕlōhîm, Kej. 45:8), atau terjemahan langsung 「bukanlah engkau yang mengutus saya datang ke sini, adalah Allah」 (CCV). Kata terakhir adalah 「hā’ĕlōhîm」 menggunakan kata tunjuk “itu”, dapat diterjemahkan sebagai 「Allah yang sungguh」.

Yusuf tidak menyangkal kenyataan para abang menjual dirinya, tetapi setelah mengalami dua puluh tahun lebih penderitaan hati yang tertikam, ia sudah memiliki pemahaman atas pengalaman hidup yang lebih mendalam, karena ia 「melalui semua hal memandang Allah, juga melalui Allah memandang semua hal」. Ia memahami bahwa dibalik semua urusan ini, ada Allah yang memegang kendali, Allah bahkan melalui perbuatan jahat para abangnya, untuk menggenapi kehendak Dia yang indah dan baik. Bukan saja demikian, Yusuf malah sebaliknya menghibur para abangnya, menghendaki mereka 「janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini」 (Kej. 45:5) seringkali, pihak yang dilukai malahan menghibur pihak yang melukai!

Renungkan: Anda pernah mengampuni dan berdamai dengan orang? Mengampuni adalah penyataan dari sifat Allah, seperti Yesus di atas salib memohon 「Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat」 (Luk. 23:34). Tindakan 「mengampuni」 dapat dilakukan secara satu pihak oleh pihak korban, asal terdapat kekuatan yang cukup besar dan kuat di dalam hati; dan 「berdamai」 harus melibatkan kedua pihak yang semua memiliki kesungguhan kesediaan hati, terutama pihak pelaku yang melukai harus dengan sungguh hati bertobat, mencari mengampuni. Ini adalah penyebab mengapa Yusuf harus lebih dahulu 「menguji」 para abang, juga adalah perbedaan yang terdapat antara perdamaian Yusuf dan para abang, dengan Yakub dan Esau. (Iman dinyatakan dalam tindakan mengampuni.)

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Kejadian 27-50 ditulis oleh 賴建國 (Lài Jiàn Guó) yang dipublikasi pada bulan Januari 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

Filemon 12-16 (2)

「Pilihan Filemon」

Filemon terjepit dalam keadaan yang sangat sulit untuk membuat pilihan.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Filemon 1:12-16 [ITB])
12Dia kusuruh kembali kepadamu–dia, yaitu buah hatiku–.
13Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
14tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.
15Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, 16bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

Permohonan Paulus kepada Filemon, tidak hanya semata berharap agar ia bisa menerima Onesimus, terlebih lagi mengharapkan budak ini tidak akan menerima hukuman yang keras (ada karya sastra menunjukkan bahwa buronan yang tertangkap, kembali kepada tuannya lalu menerima siksaan keras, bahkan sampai mati). Sebenarnya, harapan Paulus yang lebih besar adalah mengharapkan status Onesimus mendapatkan perubahan, 「bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba」 (ayat 16). Di sini, kita tanpa disadari masuk dalam urusan perbedaan dan perubahan identitas budak. Di zaman Yunani Romawi, budak boleh mendapatkan dua macam identitas dari tuannya: Pertama, adalah orang merdeka (freeman), terhadap tuannya sama sekali telah tidak ada tanggung jawab; Kedua, adalah budak yang dibebaskan (emancipated slave), mereka bukan keseluruhannya bebas, masih ada sesuatu tanggung jawab dan tugas terhadap tuannya. Paulus kini memandang Onesimus sebagai saudara, ini adalah kedua kalinya Paulus telah memakai kata 「saudara」. Paulus khusus menjepitkan sebutan saudara terhadap Onesimus di tengah-tengah pemakaian kata 「saudara」 yang pertama dan yang ketiga (Filemon 1:20) yang ditujukan kepada Filemon! Onesimus adalah saudara bagi Paulus, 「apalagi bagimu, Filemon!」 Paulus masih lagi menekankan: 「baik secara manusia maupun di dalam Tuhan」 (ayat 16). Manusia di dalam Kristus semua adalah sama derajat, karena 「budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.」 (Kol. 3:11).

Adalah mudah untuk berbicara menerima Onesimus yang pernah berkhianat. Siapakah yang akan menebus (mengganti) kerugian Filemon? Sebenarnya Paulus juga terpikir masalah ini, karena itu, Paulus menyatakan rela menggantikan Onesimus membayar hutangnya kepada Filemon (Filemon 1:18-19). Namun dalam masyarakat saat itu, bagaimana orang lain memandang Filemon? Filemon sebagai orang yang memiliki status dalam masyarakat (lihat renungan Filemon 1-3, paragraf 3 “… Para peneliti percaya Filemon adalah seorang kaya …”), bagaimana ia menjelaskan kepada tuan-tuan lain yang memiliki budak? Dan apakah budak Filemon yang lain juga akan meniru tingkah laku Onesimus? Filemon yang punya pengaruh dalam gereja, jika ia tidak menerima Onesimus sebagai saudara, bagaimana orang percaya di dalam gereja akan memandang persatuan dan kedamaian? Jika Onesimus benar-benar diterima, apakah budak yang lain akan sangat 「bersedia」 menjadi orang Kristen demi mendapatkan kesempatan merubah identitas dan status dalam masyarakat? (Begitu banyak kemungkinan yang harus ditanggung Filemon karena kesalahan Onesimus.)

Apakah Filemon sungguh-sungguh tidak bersedia membayar harga demi Tuhan Yesus? Mengapa Paulus juga tidak menyerukan penghapusan institusi sistem perbudakan? Mungkin Paulus sungguh penah mencoba, tidak dalam skala masyarakat kekaisaran Roma, tetapi di tempat ia mempunyai pengaruh, yakni gereja Kristus! Ini adalah sudah yang kesekian kalinya Paulus menyebutkan konsep bahwa orang percaya tidak membedakan suku, status ekonomi dan masyarakat, di dalam Kristus semua menjadi satu (Gal. 3:28, 「Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus」). Sekarang, Filemon memiliki sebuah kesempatan bisa menyatakan perbuatan baiknya kepada Kristus (Filemon 1:6). (Bagaimana jika kita ada di posisi Filemon?)

Berharga kita renungkan, sebenarnya Paulus telah mengajukan kepada Filemon serangkaian permohonan: 1. Bersikap bersahabat menerima Onesimus; 2. Jangan menghukum Onesimus karena ia adalah 「buah hati」 dari Paulus; 3. Membuat Onesimus menjadi orang bebas (freed man or free man); 4. Agar Onesimus kembali kepada Paulus, menggantikan Filemon melayani Paulus (ayat 13). (Bagaimana jika kita ada di posisi Filemon? Apakah kita akan merasa banyak sekali permintaan yang harus dituruti? Berapa batas tertinggi kerugian yang bisa kita terima? Atas dasar apa kita mau melakukan semua itu? )

Renungkan: (1) Saat engkau berada dalam keadaan 「maju salah, mundur salah」, mohonlah kekuatan dari Tuhan; (2) Jika Yesus dalam keadaan saya, bagaimana Ia akan menghadapi saya yang adalah orang yang sulit diterima? (Ini adalah istilah cara berpikir: WWJD, What Would Jesus Do, 「Apa yang akan Yesus lakukan?」). (3) Renungkan sebuah keadaan di mana engkau pernah terjepit di antara dua keadaan sulit.


Tambahan Penerjemah:

  1. Kita juga bisa mengaplikasikan konsep WWJD, What Would Jesus Do, 「Apa yang akan Yesus lakukan?」 menjadi konsep 「Apa yang akan saya lakukan?」  WWID, What Would I Do?
  2. Timothy Keller dalam buku The Prodigal God (Allah yang Mahapemurah) mengatakan “Pengampunan ini gratis dan tanpa syarat untuk pelaku (yang menerima pengampunan), tetapi meminta pengorbanan yang mahal harganya dari Anda. Pengampunan selalu meminta pengorbanan dari orang yang memberi pengampunan.”
    Akan tiba saatnya giliran kita yang harus membuat pilihan.

Filemon 8-11

「Paulus Menyatakan Permohonan」

Keberlanjutan perbuatan iman dan kasih dari Filemon kepada Tuhan Yesus.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Filemon ditulis oleh 麥耀光 (Mài Yào Guāng) yang dipublikasi pada bulan Desember 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Filemon 1:8-11 [ITB])
8Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,
9tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,
10mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus
11dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.

Ayat 8-22 adalah inti berita dari seluruh surat Filemon ini. Dimulai dari ayat 8, Paulus mengajukan sebuah permohonan kepada Filemon, menjelaskan alasan menerima Onesimus, dan mendorong Filemon untuk memberikan respon. Ayat 8 diawali kata sambung 「karena itu」sehingga tersambung dengan tindakan kasih dan iman dari Filemon di ayat 7 yang membawakan sukacita dan semangat kepada Paulus, serta dengan keadaan rohani semua orang kudus mendapat pembaharuan. Berdasarkan perbuatan baik dari Filemon bagi Yesus, sekarang Paulus mengajukan permohonan kepada dia, juga menekankan bahwa ini bukan merupakan sebuah perintah.

Sebelum secara resmi menjelaskan apa permohonannya kepada Filemon, Paulus ingin menyentuh hati rohaninya, sekali lagi mengakui kebajikan Filemon, juga berbagi tentang keadaan dirinya saat ini. Berdasarkan struktur penulisan bahasa aslinya, ada terjemahan yang menuliskan ayat 9 sebagai: 「namun saya lebih baik berdasarkan kasih memohon engkau ─ sekalipun saya Paulus adalah seorang tua yang demikian, sekarang menjadi tahanan bagi Kristus Yesus」 (CCV). Seperti yang sudah diketahui oleh umum bahwa Filemon adalah seorang percaya yang memiliki hati kasih (Flm. 1:5, 7), maka Paulus berdasarkan talenta kasih Filemon mengajukan permohonan kepada dia, berharap ia memakai hati berbuat baik kepada Tuhan Yesus yang sama untuk menjawab permohonannya. Segera Paulus menunjukkan dua keadaan dirinya sendiri. Pertama, ia adalah seorang 「berusia lanjut」. Terhadap permohonannya, apakah Paulus mengharapkan Filemon bisa memenuhi harapan dia sebagai orang yang tua? (Perhatikan Paulus memanggil Filemon sebagai 「saudara」 yang adalah sebutan keluarga. Lihat ). Atau Paulus menunjuk diri sendiri tua memiliki makna sebagai penatua memiliki hikmat dan seharusnya dihormati, seperti 「engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu」 (Im. 19:32). Kedua, ia adalah seorang 「tahanan」. Paulus dalam surat ini dua kali menyebutkan keadaan jasmaninya dipenjarakan (ayat 9, 10), menekankan keperluannya dan ia tidak berdaya, dan ia menjadi seorang tahanan adalah demi melayani Tuhan. Filemon sepatutnya mengetahui keadaan Paulus ini.

Paulus sedemikian selangkah demi selangkah menyentuh pikiran dan perasaan Filemon, mempersiapkan hatinya untuk mendengarkan permohonan yang hendak ia ajukan. Dengan demikian, Paulus hampir sampai separuh dari suratnya baru mengatakan permohonannya, dalam ayat 10 Paulus secara resmi mengatakan: 「mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus」. Ternyata Paulus mengajukan permohonan kepada Filemon adalah bagi Onesimus. Onesimus ini ternyata adalah seorang budak dalam pelarian, namun ia memiliki relasi apa dengan Paulus sehingga Paulus turun tangan menjadi penengah mediasi bagi dia? Dari perikop, kita memperkirakan sangat mungkin bahwa setelah Onesimus mencuri uang Filemon tuannya, dalam pelarian bertemu Paulus, Paulus memimpin ia percaya Tuhan, selanjutnya Onesimus tinggal di sisi Paulus melayani ia, dan sekarang Paulus menyebutkan Onesimus sebagai anak rohaninya (「anakku yang kudapat dalam penjara」, ayat 10) (CUVT menterjemahkan sebagai 「anak yang saya lahirkan dalam penjara」, KJV 「I have begotten in my bonds」, lihat juga 1 Kor. 4:15 「akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu」, Gal. 4:19 「Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu」)

Paulus lebih lanjut menjelaskan kepada Filemon, setelah Onesimus percaya Tuhan, dalam kehidupan telah ada perubahan. Dahulu ia bagi Filemon tidak berguna (useless), namun sekarang Onesimus (yang artinya adalah ada kegunaan, useful) bagi Paulus dan Filemon dua orang berguna! Bagaimana penjelasannya? Bagi Paulus, Onesimus memberi perhatian kepada dia, membantu menyelesaikan bermacam pekerjaan kecil, mengirim surat, dsb. Namun terhadap Filemon ada kegunaan apa? Tingkah laku Onesimus dahulu adalah membawakan kerugian bagi Filemon tuannya, namun sekarang Onesimus mewakili Filemon untuk melayani Paulus, karena Filemon sendiri juga berhutang kepada Paulus (Flm. 1:19). Onesimus adalah seperti 「Epafras, temanku sepenjara」 (Flm. 1:23) yang sedang ada di dalam penjara, ia akan 「memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku」 (Fil. 2:30).

(“mengingat kasihmu itu”, perbuatan iman dan kasih dari Filemon kepada Tuhan Yesus karena dari natur alami seorang yang lahir baru dan dewasa maka sifatnya berkelanjutan, sepatutnya tidak ada hal yang dapat menjadi batu penghalang.)

Renungkan: (1) Seandainya engkau adalah Filemon, saat mendengar nama Onesimus akan memiliki respon apa? (2) Saat ada orang mengajukan permohonan kepadamu, engkau akan lebih memandang kasih atau aturan hukum? (3) Mohon Roh Kudus mengobati luka di bagian hati terdalam saya.

Kolose 3:12-13

「Ampunilah Seorang akan yang Lain」

Adakala demi 「sopan santun,」 demi 「ketenangan tidak ada permasalahan」mengampuni secara kulit luar di permukaan adalah lebih mudah.

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kol 3:12-13 [ITB])
12Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
13Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Paulus tiada henti menekankan, orang yang telah menerima Yesus Kristus sudah di dalam Dia menjadi seorang manusia baru, juga terus-menerus dalam pengetahuan diperbaharui sesuai gambar Allah. Orang-orang ini tidak hanya mengenal makin dalam perkara mengenai Tuhan (Kol. 3:1-4), manusia ini terlebih lagi diperluas dalam karakter dan tingkah laku sesuai gambar Kristus, kehidupannya makin hari makin mirip Tuhan (Kol. 3:5-9). Di dalam aspek manakah manusia mirip dengan Tuhan? Yakni dalam kesukaan berbagi kedamaian (Kol. 1:19-20). Saat orang Kristen makin hari makin mengenal Tuhan, ia sepatutnya mirip seperti Tuhan yang paham berbagi apa yang Ia miliki dengan manusia, juga rela melihat dipertahankannya hubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan dunia. Oleh karena itu, Paulus berpesan kepada orang percaya di Kolose agar「kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran 」 (Kol. 3:12). Beberapa karakter ini terrangkum dalam tindakan「saling mengampuni. 」

Tuhan adalah Allah yang penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Dari manakah bisa dilihat? Jawabannya ada pada pengampunan yang dari Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15). Melalui penciptaan oleh Kristus, kita melihat sisi Tuhan yang penuh kuasa; melalui salib Kristus, kita melihat sisi Tuhan yang penuh kemurahan. Dahulu kita bermusuhan Tuhan, tindakan kita penuh kejahatan, sekarang Allah melalui kematian Yesus Kristus membuat kita berdamai dengan Dia, dan menjadi kudus, tidak bercacat-cela (Kol. 1:21-22). Karena kudus, dan sebagai manusia yang dikasihi, maka kita sepatutnya mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, belajar saling toleransi , saling mengampuni. Mengampuni memang dapat menciptakan relasi yang damai, terlebih penting adalah dapat menampilkan karakter Tuhan. Saat kita seperti Tuhan Yesus mengampuni dosa kesalahan orang lain, kita di dalam tindakan mengampuni ini membuktikan dan mencerminkan bahwa kita adalah benar-benar umat pilihan Allah, membawa gambar Tuhan, memiliki perasaan yang sama dengan Tuhan.

Renungkan: Mengampuni secara kulit luar di permukaan adalah lebih mudah. Adakala demi 「sopan santun,」 demi 「ketenangan tidak ada permasalahan,」 kita bisa melakukan tindakan yang di kulit luar saja, agar semua orang mudah saling menghadapi, dapat melanjutkan kehidupan atau pekerjaan bersama-sama. Sesuai pesan Alkitab, mengampuni adalah dari dalam hati, orang hendaklah 「kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 」 Sebelum manusia jatuh rusak, adalah hal yang alami seorang dengan kemurahan memperlakukan orang lain; setelah manusia jatuh dan rusak, hal ini menjadi sangat tidak alami. Manusia hendak mendapatkan keadilan bagi diri sendiri, melakukan pembalasan yang setimpal. Tuhan Yesus justru berpesan bahwa para murid hendaklah mengasihi musuh, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, dengan demikian kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Mat. 5:43-48).

Mengasihi musuh terlebih dahulu hendaknya dimulai dari mengampuni dari dalam hati. Pengampunan yang tanpa kasih adalah paslu, hanyalah demi menjaga kelangsungan aktifitas sosial atau menjamin keuntungan diri saja. Kasih yang sesungguhnya haruslah bisa mencerminkan perasaan Tuhan, kemudian ini adalah manusia secara 「alamiah」 tidak mampu melakukannya. Hanya manusia yang taat mengikuti Roh Kudus, barulah mempu menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-26).