「Mintalah Suatu Pertanda」
Mengapa Ahas menolak meminta pertanda dari Allah, apakah karena kesalehannya? Tetapi mengapa membuat Allah jemu?
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Yesaya 1-8 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Yes. 7:10-17 [ITB])
10TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11「Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.」
12Tetapi Ahas menjawab: 「Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.」
13Lalu berkatalah nabi Yesaya: 「Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?
14Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (「Imanuel」 maknanya adalah 「Allah beserta dengan kita」). 15Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda–yakni raja Asyur.」
Allah berpesan kepada Ahas agar meminta sebuah pertanda, pertanda bukanlah sesuatu yang ajaib, pada umumnya adalah sesuatu yang biasa – bayi, palungan, bintang dan sebagainya, tetapi hal-hal yang biasa ini justru menunjuk kepada anugerah keselamatan yang datang dari Allah. Allah mengetahui sebelum keselamatan yang ditunggu-tunggu manusia datang, butuh memiliki sebuah tanda untuk membuat manusia merasa aman, maka Allah berinisiatif berpesan kepada Ahas agar meminta sebuah tanda. Tetapi Ahas berkata ia tidak mau meminta, sebab ia tidak mau mencobai Allah. Dilihat secara permukaan kulit luar, ini alasan yang saleh, tetapi jika kita melihat jawaban dari Allah, maka mengetahui bahwa respon Ahas membuat Allah jemu. Menjelaskan bahwa ketertarikan Ahas yang sesungguhnya bukan pada anugerah keselamatan yang datang dari Allah, tetapi ia hendak memakai caranya sendiri bersekutu dengan Asyur untuk memecahkan masalah saat ini. Mungkin ia berpendapat rencana anugerah keselamatan Allah terlalu tidak realistik, berpendapat menunggu anugerah keselamatan sungguh terlalu merepotkan, juga bukan tindakan yang sepatutnya dimiliki orang dewasa. Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya ia sebenarnya sama sekali tidak tertarik untuk meminta tanda apapun.
Apakah karena respon dingin Ahas pada pertanda dengan demikian meniadakan keselamatan Allah bagi kerajaan Yehuda? Tidak, manusia tidak tertarik meminta pertanda, Allah justru berinisiatif memberikan kepada manusia sebuah pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Tanda ini, di dalam pandangan manusia tidak ada apapun yang sangat khusus, karena 「perempuan muda」 tidak pasti diterjemahkan sebagai anak dara perawan, mungkin hanya seorang wanita yang sudah berumah tangga atau segera hendak menikah. Di zaman itu di tanah Israel ada banyak wanita yang akan mengandung melahirkan anak, apa istimewanya? Ini menjelaskan bahwa pertanda bukanlah apa yang mudah dilihat dengan mata manusia, mungkin bukan mukjizat hebat, rahasianya adalah hanya mata manusia yang telah dibukakan oleh Allah, manusia barulah bisa melihat. (Mengenai 7:14 dikutip dalam Perjanjian Baru, silahkan lihat renungan besok).
Bayi yang akan dilahirkan adalah isi dari pertanda, menunjuk kepada sebuah nubuat yang pasti akan terjadi: 「sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.」 Ternyata, jumlah tahun bertumbuh besarnya bayi ini menjadi alat penghitung waktu persekutuan dua raja, saat anak laki ini masih belum mengerti menolak yang jahat dan memilih yang baik, persekutuan dua raja itu akan dipukul kalah. Oleh karena itu, pertumbuhan bayi menjadi tanda, menunjuk kepada keselamatan yang datang dari Allah, bayi ini di dalam pandangan manusia adalah lemah, jikalaupun ia menjadi tanda juga tidak merubah bahwa ia menyimbolkan yang lemah, lalu, kehidupan yang lemah ini dapat menyaksikan keselamatan dari Allah, sesungguhnya inilah hal yang ajaib.
Renungkan: pertanda bayi tidak dipandang mata oleh Ahas, Ahas bersatu hati hanya memikirkan strategi bersekutu dengan Asyur, hatinya tidak dapat menampung bayi yang lemah. Tetapi, kuasa Allah justru nyata secara keseluruhan di atas kelemahan manusia, kelemahan mampu membuat manusia menyaksikan keselamatan. Sebenarnya cara berpikirmu lebih mendekati pengejaran Ahas atas kesuksesan, atau mendekati bayi yang lemah? Bagaimana Allah memakai kelemahanmu untuk menyaksikan keselamatan dari Dia?