Tag Archives: Gereja yang hidup

1 Kor. 3:16-17

Kita adalah 「bait Allah」!

Oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Kor. 3:16-17 [ITB])
16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

【Referensi ayat】
(1 Kor. 6:19-20 [ITB]) 19 tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
(2 Kor. 6:16 [ITB]) 16 Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidupmenurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. (Lihat Imamat 26:12)
(Ef. 2:21 [ITB]) 21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

Ketika Paulus berbicara tentang bait (naos; kuil / temple) kepada gereja Korintus, pasti teringat ketenaran kuil kota Korintus dan tradisi buruk perzinaan kota Korintus. Korintus memiliki tiga kuil terkenal: Kuil Aphrodite (kuil dewi cinta) di Acrocorinth, Kuil Apollo di kota kuno, dan Kuil Apollo di kota kuno, dan Kuil Isthmia (kuil dewa laut)di Isthmia. Saat itu, Korintus terletak di pusat pelayaran antara Italia dan Turki, itu adalah pelabuhan yang makmur dengan banyak kapal dan pelaut yang lewat. Kuil yang paling terkenal nama buruknya adalah Kuil Cinta Aphrodite, di sana pernah ada ribuan pelacur kuil (hetaira, courtesan), untuk memberi penghormatan kepada orang-orang yang datang menyembah dan pelaut bisa menikmati kesenangan. Penulis Yunani kuno menggunakan Aku orang Korintus (I Corinthianise) untuk mewakili ungkapan Saya seorang pelacur (whoremonger). Plato dalam bukunya 《Utopia》menggunakan ekspresi perempuan Korintus(Corinthian girl) sebagai istilah menggambarkan pelacur, dapat dilihat bagaimana pencitraan percabulan kota Korintus begitu terkenal.

Dari latar belakang ini, kita dapat merasakan secara mendalam bagaimana usaha rasul Paulus mencoba menggunakan kata-kata dan kebenaran rohani untuk mengubah, membalikkan, dan mengganti ide-ide dan konsep-konsep yang rusak dan tidak sesuai kehendak Allah pada saat itu. Bagi orang-orang pada masa itu, berbicara kata naos (kuil; temple) di Korintus akan teringat pada nama buruk percabulan. Beberapa peneliti di zaman modern telah menyarankan bahwa mungkin di zaman Paulus, perkembangan percabulan sudah lebih baik daripada di zaman Plato; namun, ada pendapat yang berbeda di antara para sarjana. Bagaimanapun, stigma nama jelek percabulan benar-benar merupakan penghinaan bagi orang-orang Korintus.

Setelah memahami latar belakang ini, kita dapat lebih merasakan harapan Paulus terhadap gereja Korintus dan keyakinannya akan kuasa Injil. Orang-orang Korintus yang penuh kerusakan moral kuil asing, ternyata karena kekuatan Injil, karena percaya kepada Tuhan dapat menjadi bait (naos) Allah yang kudus! Betapa agungnya pernyataan ini! Betapa berharganya Injil Kristus! Paulus dalam Surat 1 Korintus pasal 3 mulai menjabarkan pemikiran teologis ini, Paulus terus mengembangkan pemikiran teologis ini berikutnya di pasal 6, dan 2 Korintus 6:16 dan Efesus 2:21. Paulus berkata: kita adalah bait Allah! Tubuh kita adalah Bait Allah! Kita dibangun menjadi Bait Suci Allah』」. Menghadapi gereja dengan banyak masalah, Paulus sekadar tidak meninggalkan mereka, bahkan tidak menurunkan standar rohani, sebaliknya, tetap menjunjung tinggi tujuan dan keyakinan yang diharapkan dan yang berkenan kepada Tuhan, berusaha keras memperbaiki masalah gereja, sehingga gereja yang penuh dengan kerusakan, kelemahan, dan perpecahan akan terus bergerak menuju tujuan mulia menjadi bait Allah yang kekal, betapa berharganya Injil ini!

Sungguh pikiran gembala yang gigih! Betapa besar anugerah Allah yang ada di baliknya! Berpikir keindahan penggembalaan pastoral dan kekuatan Injil, teringat rasul Paulus di penjara menuliskan kata-kata menghibur gereja Efesus:
17 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, 17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, 19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, 21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Ketika kita melihat banyak masalah di gereja, apakah kita akan mengambil jalan keputusasaan, penolakan, dan mengutuk? Atau, mengikuti teladan rasul Paulus, kita terus membawa visi yang luhur, dan berusaha menggunakan kebenaran, teguran, dan kasih untuk memperingatkan gereja dan saudara-saudari, dan meminta mereka untuk mengingat tujuan mulia, yaitu untuk ingat bahwa kita adalah bait Allah yang hidup!

Renungkan:
• Apakah gereja pernah membuat Anda kecewa dan tertekan? Apakah dalam banyak hal, ada berbagai kekurangan yang membuat Anda merasa bahwa gereja terlalu jauh dari tujuan mulia bait Tuhan yang kekal?

• Ketika saudara-saudari atau gereja yang menjauh dari tujuan dan kehendak Allah, apa tanggapan dan tanggung jawab kita? Apakah itu putus asa? Apakah mundur? Apakah hanya mengeluh dan mengutuk? Atau, dapatkah kita meniru Paulus, berusaha melakukan koreksi agar saudara-saudari dan gereja kita dapat mengikuti jalan yang berkenan kepada Tuhan? Pengingat apa yang diberikan oleh doa Paulus dalam Efesus 1:15-23 kepada Anda?


Renungan pemahaman Surat 1 Korintus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Korintus 1-4 ditulis oleh Rev. Dr. Kiven Choy (蔡少琪) yang dipublikasi pada bulan Juli 2021 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Efesus 2:19-22 (2)

「Tempat kediaman Roh Kudus」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 2:19-22 [ITB])
19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Cornerstone, Batu penjuru

Kita bisa bergabung dengan orang-orang kudus bersama satu Kerajaan dan menjadi anggota keluarga Allah, kita diselamatkan serta dibangkitkan dari dosa dan kematian, semuanya adalah mahakarya Allah (bukan karena kehebatan perbuatan baik manusia). Dalam ringkasan pasal 2, di ayat Efesus 2:20-22 Paulus menggambarkan karya ini sebagai proses pembangunan Bait Suci.

Pertama-tama ia menggambarkan dasar dari bangunan ini, yakni dibangun di atas para rasul dan nabi. Arti rasul lebih jelas, karena di luar Alkitab kata ini jarang memiliki penggunaan khusus dan biasanya hanya digunakan untuk menyatakan kapal atau personel yang digunakan untuk pengangkutan. Hanya di Perjanjian Baru, karena Yesus Kristus mengutus para murid generasi pertama, mereka disebut rasul karena menerima tugas misi Injil kabar bahagia, sehingga rasul menjadi istilah khusus dalam Perjanjian Baru. Baik itu dalam 4 kitab Injil atau catatan Kisah Para Rasul, kita dapat melihat bahwa para rasul ini memainkan peran kunci dalam pendirian gereja mula-mula.

Meskipun dalam Perjanjian Baru terdapat peran nabi dan mungkin juga ikut ambil bagian dalam pendirian gereja mula-mula, namun catatan sejarah tidak menunjukkan bahwa mereka telah memberikan kontribusi yang jelas dan mendasar dalam pekerjaan pendirian gereja mula-mula. Oleh karena itu, apa yang dirujuk di sini mungkin adalah para nabi dalam Perjanjian Lama. Terutama mengingat tema Efesus pasal dua, Paulus mungkin memikirkan hal-hal yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal lima belas, dalam pertemuan di Yerusalem itu, para pemimpin gereja mula-mula membagikan kesaksian pengalaman para rasul dalam memberitakan kabar bahagia Injil, dan terakhir Yakobus mengutip perkataan nabi Amos, menegaskan bahwa orang non-Yahudi dapat menjadi bagian dari gereja dan menerima anugerah Injil Yesus Kristus bersama-sama dengan orang Yahudi.

Selain menjelaskan fondasi bangunan baru ini, Paulus lebih lanjut menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah batu penjuru bangunan ini. Batu penjuru merupakan batu yang dipasang pada saat akan dimulai konstruksi yang menghubungkan dua sisi dinding, dapat dikatakan sebagai penentu posisi dari seluruh bangunan. Di sini, seperti banyak bagian dalam Perjanjian Baru, menggunakan pesan dari Mazmur 118:22 Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, menyatakan bahwa walaupun Yesus Kristus ditolak oleh orang Yahudi, tapi justru di kayu salib Allah menggenapkan Injil keselamatan bagi manusia.

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun. Karena bingkai pemersatuan (KJV: framed together) oleh batu penjuru Yesus Kristus, maka gereja berangsur-angsur tumbuh menjadi Bait Suci Allah, ungkapan ini untuk menekankan pengharapan kita. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus secara nyata turun ke atas orang-orang percaya sehingga mereka dapat bersaksi tentang kabar bahagia Injil Yesus Kristus. Melalui penyertaan Roh Kudus, gereja mula-mula sudah menjadi Bait Suci Allah. Kata tumbuh (αὔξει auxei) dalam teks bahasa aslinya memiliki arti makin bertumbuh secara bertahap. Oleh karena itu, bukan berarti bahwa Bait Suci Allah belum dibangun, tetapi sudah ada, namun secara bertahap akan makin menyingkapkan kemuliaan Bait Suci ini.

Oleh karena itu, dalam 2:22 Paulus menunjukkan bahwa generasi pertama pembacanya — yakni orang-orang percaya di Efesus dan sekitarnya — dengan bersandar pada Yesus Kristus maka mereka telah bersama dibangun dan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh Kudus, ini adalah makna terpenting komunitas Gereja. Persatuan kita di dalam Roh Kudus bukan untuk membangun organisasi besar lintas wilayah dan lintas ras, tetapi melalui kesaksian yang satu sifat yakni yang membuat orang dapat melihat Roh Kudus di antara kita dan menunjukkan kemuliaan Allah.

Renungkan:
Gereja adalah kediaman Roh Kudus, apakah kita memuji anugerah Yesus Kristus dan menunjukkan kemuliaan Allah dalam penyembahan dan pelayanan di gereja?


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Efesus 1:19-23 (2)

「Kepala dari segala yang ada」

Oleh Dr. Ronnie Poon (潘仕楷)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Efesus 1:19-23 [ITB])
19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,
20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. 23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Di kalimat penutupan doa ucapan syukur dalam surat Efesus ini, disebutkan bahwa Allah menjadikan segala sesuatu tunduk di bawah kaki Yesus Kristus, ini adalah penggenapan tertinggi setelah kebangkitan Yesus dari kematian dan naik ke surga, jauh lebih tinggi melampaui semua pemerintah dan penguasa. Kematian Yesus Kristus tidak hanya menyelesaikan karya keselamatan dan pengampunan dosa orang-orang yang beriman kepada-Nya, tetapi juga menggenapkan rencana Allah dalam penciptaan dunia dan membawa kerajaan-Nya datang.

Dalam ayat 1:22-23, Paulus menggunakan hubungan antara kepala dan tubuh sebagai metafora. Ada orang beranggapan bahwa kepala adalah gambaran atas sumber, segala sesuatu berasal dari Yesus Kristus, tetapi teks sebelum dan sesudah (konteksnya) sarat dengan tema dan gambaran tentang otoritas kerajaan Allah, sehingga seharusnya kepala adalah simbol kedaulatan.

Di akhir ayat 1:22, Paulus menunjukkan bahwa Yesus Kristus menjadi Kepala dari segala yang ada adalah bagi Gereja. Yesus Kristus telah bangkit dari kematian, dan Dia pada diri-Nya sendiri memang adalah Kepala segala sesuatu, tetapi Paulus ingin orang percaya melihat bahwa Yesus Kristus adalah untuk dan juga mewakili Gereja menjadi Kepala dari segala sesuatu. Dengan kata lain, identitas Yesus sebagai Kepala dari segala yang ada bukanlah untuk diri-Nya sendiri, Dia ingin Gereja menjadi pemenuh rencana penciptaan Allah.

Dalam 1:22, Paulus menggunakan istilah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus (ὑπέταξεν hupotaxen) takluk di bawah kaki-Nya, yang mungkin mencerminkan berita dari Mazmur 8:6-8 (… Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya …), yang menunjukkan bahwa rencana Allah bagi manusia dalam ciptaan telah digenapi di dalam Yesus Kristus. Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya, yang berarti bahwa manusia harus memiliki sifat-sifat Allah di dunia ini, dan dia harus mengatur segala sesuatu yang diciptakan di dunia atas nama Allah, tetapi setelah manusia berdosa, dia kehilangan kemampuan tata kelola tersebut. Yesus Kristus Sang Firman yang datang menjadi manusia dan menggenapkan keselamatan, sehingga rencana awal Allah bagi manusia semuanya digenapi di dalam Yesus Kristus. Karena karya penebusan Yesus Kristus, mereka yang beriman kepada-Nya di bawah kepemimpinan-Nya akan mampu memenuhi rencana Allah dalam penciptaan.

Terakhir, Paulus menunjukkan bahwa Gereja adalah tubuh Kristus dan memiliki hubungan kehidupan yang tidak terpisahkan dengan Yesus Kristus. Dalam Injil Yohanes, Yesus menggunakan hubungan antara pokok anggur dan ranting untuk membandingkan hubungannya dengan murid-murid-Nya, ini mirip dengan metafora di sini menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya tersambung di dalam Yesus Kristus, dan di dalam Kristus telah menjadi tanda identitas orang beriman. Lebih lanjut Paulus menunjukkan bahwa gereja Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Kalimat ini juga bisa diterjemahkan sebagai dipenuhi oleh Dia Sang Pemenuh segala sesuatu. Kata kepenuhan Dia (πλήρωμα pleroma) dalam Kolose 1:19 dan 2:9 (Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan), semuanya mengungkapkan tentang semua kelimpahan dalam kehidupan di dalam Yesus Kristus, menunjukkan bahwa Yesus Kristus memiliki keilahian yang sempurna, oleh karena itu, Sang pemenuh segala yang ada ini adalah sifat Allah yang berkelimpahan, bukanlah semacam kualitas yang ada di dalam segala yang ada. Gereja sebagai tubuh Yesus Kristus, adalah cabang yang tidak terpisahkan dari pokok anggur Yesus, kita harus menjadi wakil-Nya di dunia dan menampilkan kemuliaan Allah sebagai terang bagi dunia.

Renungkan:
Puji syukur kepada Allah kita, kita percaya bahwa kerajaan-Nya akan digenapi di dalam Yesus Kristus, dan kita harus menjadi saksi atas kemuliaan-Nya dan memuji perbuatan-Nya.

(Gereja sebagai tubuh Yesus Kristus, adalah cabang yang tidak terpisahkan dari pokok anggur Yesus Kristus, kita harus menjadi wakil-Nya di dunia dan menampilkan kemuliaan Allah sebagai terang bagi dunia. Pikirkan satu bentuk konkrtet dengan cara apa atau dalam hal apa Anda hendak merealisasikannya?)


Renungan pemahaman Surat Efesus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat Efesus 1-3 ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Desember 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 1:6-10

「Kesaksian yang Berefek Berantai」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 6-10 [ITB])
6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. 8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Gereja Tesalonika memiliki kesaksian iman yang indah. Paulus berkata, kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus(ayat 1:6) Orang-orang percaya saat ini berada dalam kesengsaraan besar.Penganiayaan macam apa yang mereka derita? Apakah penganiayaan yang mereka alami sama seperti bagaimana orang-orang Yahudi dan gubernur Romawi menindas tim Paulus? Kita tidak benar-benar tahu. Namun, di 1 Tes. 2:14-16 dan 3:2-4, dapat dipastikan bahwa baik itu orang percaya Yahudi atau non Yahudi, mereka mengalami berbagai tingkat kesulitan dan tekanan yang berbeda karena mereka menerima Kristus. Ketika mereka baru saja percaya kepada Tuhan Yesus, demi iman mereka harus membayar harga sosial yang tinggi (social costs). Bahkan di tengah musibah, orang Tesalonika mempertahankan iman mereka dan hidup dalam kesaksian yang indah. Dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,Paulus menggambarkan pengalaman iman mereka ketika mereka bertobat kepada Yesus (conversion experience). Sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus menunjukkan bahwa ketika mereka percaya kepada Tuhan, mereka tidak hanya menerima kebenaran dalam pikiran, tetapi juga dipenuhi dengan Roh Kudus dalam pengalaman dan memiliki sukacita yang kuat. Di sini tidak perlu menunjuk pada pengalaman supernatural yang heboh sangat besar, tetapi sangat penting untuk memiliki pengalaman spiritual yang spesial dan tak terlupakan. Seperti yang ditekankan Paulus sebelumnya, penginjilannya bergantung pada kuasa dan Roh Kudus, yang kedua-duanya harus dialami langsung oleh mereka yang menerima Injil. Tanpa pengalaman otentik seperti itu, iman orang-orang percaya Tesalonika sangat sulit dikokohkan dalam waktu singkat itu.

Kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan, kalimat ini dapat ditafsirkan sebagai orang Tesalonika percaya tetap teguh mempertahankan iman walau di bawah penindasan dari otoritas kekuasaan, juga harus dipahami bahwa mereka meneladani Paulus dalam kesusahan besar bertahan menegakkan misi Injil, terus memberitakan Injil. Dengan kata lain, mereka tidak hanya meneladani Paulus yang tetap berdiri, tetapi juga meneladani dia beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. Orang-orang percaya tidak hanya perlu berpegang teguh pada iman mereka dan tidak jatuh tergelincir, terlebih mereka juga perlu bekerja keras, bahkan dalam situasi yang paling tidak menyenangkan, untuk bertahan mengabarkan Injil. Gereja bukan eksis untuk mempertahankan eksistensi keberadaannya, tetapi eksis untuk misi Injil, misi Injillah yang membuat gereja tetap menjadi Gereja. Karena itu, gereja Tesalonika tidak mengisolasi dan menutup diri ke dalam, tetapi di dalam lingkungan yang tidak bersahabat, orang-orang percaya tidak fokus untuk melindungi diri mereka sendiri, tidak berusaha menyembunyikan diri, tetapi sebaliknya aktif memberitakan Injil, dan itu membuat gereja bertumbuh. Roh Kudus mengubah hidup orang-orang percaya di Tesalonika, dan melalui mereka mengubah dunia tempat mereka hidup. Iman yang luar biasa dari Tesalonika menjadi kesaksian yang menarik pandangan mata, sehingga gereja-gereja di daerah lain dapat melihatnya, dan menjadi teladan untuk diikuti. Paulus menunjukkan bahwa kesaksian orang Tesalonika luar biasa itu menarik perhatian semua orang yang percaya di wilayah Makedonia atau Akhaya (1:7-8).

Tesalonika adalah pusat lalu lintas perdagangan dan bisnis yang sibuk, dan berita dapat menyebar dengan cepat. Karena itu, situasi gereja di sini segera menyebar ke telinga gereja-gereja di daerah lain, termasuk Makedonia dan Akhaya. Kedua wilayah ini meliputi seluruh semenanjung Yunani dan merupakan daerah misi utama Paulus pada saat ini. Paulus menunjukkan bahwa timnya sekarang sedang diintervensi oleh musuh dalam pekerjaan misionaris, terdapat banyak pembatasan dan tidak dapat melakukan perjalanan dengan bebas di beberapa tempat; namun, kesaksian iman gereja Tesalonika jangkauannya jauh dan dapat menerobos semua pagar buatan manusia, secara tepat telah melengkapi keterbatasan tim Paulus.

Tidak diragukan gereja Tesalonika menunjukkan iman yang luar biasa, tetapi Paulus menyatakan bahwa apa yang diberitakan dan yang menjadi kesaksian bukanlah perbuatan manusia, tetapi Firman Tuhan, dari antara kamu firman Tuhan bergema. Kata Firman Tuhan menekankan bahwa sumber Firman berasal dari Yesus Kristus (Dia adalah Kebenaran), dan menjelaskan bahwa isi Firman itu adalah tentang Yesus Kristus. Kesaksian yang real dan sejati apa pun, harus meninggikan Tuhan Yesus dan Firman-Nya. Mereka yang menjunjung tinggi orang bukanlah bersaksi, adalah anti-saksi, yang hanya mengarah pada efek negatif mencuri kemuliaan Allah dan membawa orang menjauh dari fokus iman. Firman Tuhan harus diungkapkan dalam bentuk saksi. Ketika Yesus Kristus di dunia bukanlah mengajarkan seperangkat doktrin atau khotbah agama yang ketat, tetapi komunitas bersaksi, mereka harus mengabarkan Injil Yesus melalui kesaksian mulut secara lisan, tetapi juga bersaksi dengan diri mereka. Injil tidak hanya untuk diberitakan, tetapi untuk dihidupkan (dihidupi). Di sini kisah tentang Allah dan kisah manusia saling berhubungan, Tuhan dengan manusia bukanlah saling menolak dan bermusuhan.

Namun, tidak semua kisah orang adalah kesaksian Injil yang sejati. Pembeda antara benar atau salah bergantung pada apakah kita telah memberitakan firman Tuhan melalui kesaksian.
Gereja Tesalonika didirikan oleh Paulus, selain merupakan kesaksian yang indah dari diri mereka sendiri, juga menjadi kesaksian bagi pelayanan Paulus. Siswa yang baik, tentu saja, guru pembimbingnya juga baik. Paulus berkata, Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang (1:9-10)

Kata mereka mengacu pada orang-orang dari dua wilayah di Makedonia dan Akhaya, sebenarnya orang dari dua wilayah ini yang memberitahu Paulus tentang berita gereja Tesalonika itu. Kamu tentu saja menunjuk orang Tesalonika. Di sini diungkapkan komposisi gereja, yang sebagian besar adalah orang non Yahudi. Seperti disebutkan sebelumnya, berbalik dari berhala-berhala kepada Allah hanya bisa berarti menunjuk orang non Yahudi, bukan menunjuk Yahudi.

Ayat 1:9 juga menunjukkan bahwa di mata banyak orang, Paulus dan gereja Tesalonika telah diikat oleh Injil yang diberitakan. Mereka yang mengakui kinerja orang percaya Tesalonika akan menghargai pelayanan Paulus; mereka yang menentang orang percaya Tesalonika sebenarnya menentang pelayanan Paulus dan Firman yang ia beritakan. Mereka tidak menargetkan orang-orang percaya kecil yang baru mengenal Tuhan itu, tetapi target mereka adalah biang kerok penyebab adanya kelompok iman ini: Paulus.

Renungkan:

Kita melihat efek berantai positif dari saksi kehidupan. Semua kesaksian bersumber dan dimulai dengan teladan pribadi Yesus Kristus. Dia adalah satu-satunya yang dapat sepenuhnya mewujudkan kehendak Allah dalam penciptaan. Saat datang ke dunia kehidupan-Nya dapat sepenuhnya memenuhi tuntutan Allah, dan itu telah menjadi contoh bagi semua orang untuk diikuti. Menjadi seorang Kristen berarti menanggapi panggilan-Nya untuk ikutlah Aku dan belajarlah pada-Ku. Orang Kristen belajar menjadi seperti Yesus.

Paulus mengambil Yesus Kristus sebagai objek untuk ditiru, dan seluruh hidupnya adalah untuk meniru Kristus dan menghidupi Kristus. Orang Tesalonika mengikuti teladan Paulus dan mengikuti Kristus dengan belajar darinya. Dan kesaksian mereka yang luar biasa telah menjadi contoh bagi para orang percaya gereja di sekitarnya, mereka juga berusaha untuk meniru orang-orang percaya Tesalonika, dengan demikian meniru Paulus, dan pada akhirnya meniru Yesus Kristus. Saksi dan teladan, mengikuti dan meniru, dilakukan dari generasi ke generasi tanpa henti dan terputus.

Berbagi iman tidak hanya harus melalui kata-kata saja, tetapi juga oleh kehidupan seperti itu. Kita harus secara sadar mewariskan iman kepada generasi berikutnya, terutama tokoh kunci junior yang terkait langsung dengan kita, bagaimana kesaksian hidup kita merupakan apa yang mereka lihat sebagai iman Kristen.

Perilaku yang dilakukan terus-menerus disebut kebiasaan, kebiasaan yang dipraktikkan lintas generasi disebut tradisi, dan pemikiran dan praktik yang telah menjadi konvensi kolektif disebut budaya. Kiranya gereja kita akan dapat membangun tradisi rohani yang baik dan membentuk budaya rohani yang luar biasa.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Lukas 6:20-26

「Gereja Merupakan Sebuah Komunitas Baru yang Bagaimana?」

Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Luk. 6:20-26 [ITB])
20Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata:
「Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
21Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
22Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
23Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
24Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
25Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
26Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.」

Saat Yesus memilih para murid lingkaran inti bagi penebusan rencana Allah, ini mewakili bahwa perkembangan iman Injil bukan didasarkan atas pemahaman pemimpin keagamaan saat itu, malah sebaliknya kelahiran dan keberadaan komunitas baru ini hendak mengkoreksi tradisi yang dahulu, dan meletakkan unsur baru ke dalamnya.

Dari permulaan perikop hari ini sampai akhir dari Lukas pasal 6, semuanya adalah pemahaman iman dari sebuah komunitas baru. Seperti halnya Musa di atas gunung Sinai bagi komunitas baru menerima standard pedoman prinsip menjadi umat Allah, demikian juga kotbah di bukit dalam Injil Matius sebagai contoh, pengajaran di atas bukit ini adalah menetapkan penunjuk arah bagi komunitas iman Injil Yesus. Catatan Lukas ini adalah saat orang Yahudi dan orang non Yahudi semuanya di berkumpul di sebuah dataran, lalu Yesus membuka mulut mengajar mereka, dan menetapkan sebuah pemahaman iman bagi komunitas baru.

Pengajaran dalam pasal ini terutama adalah memakai topik pembalikkan akhir zaman (eschatological reversal motif) dari 《Nyanyian pujian Maria》 sebagai inti, maka ketujuh ayat ini dibicarakan dengan memakai pembalikkan arah: orang yang miskin, lapar, menangis telah memiliki kebahagiaan, karena mereka akan mendapatkan Kerajaan Allah, dikenyangkan dan tertawa sukacita; sebaliknya, orang yang puas dalam kekayaan, puas dalam kenyang, tertawa gembira akan mendapatkan bencana. Pada saat topik pembalikkan ini bukan murni berbicara tentang berkat dan bencana jasmaniah, malah sebaliknya menunjuk kepada berkat dan kasih karunia Allah di akhir zaman, apakah sebenarnya orang akan sungguh-sungguh mempersiapkan sebuah kerendahan hati, menantikan kedatangan diri Allah sediri, dan masuk ke dalam Kerajaan-Nya, menikmati segala kelimpahan Allah? Atau kebalikannya, ada sebagian orang yang akan berada di luar Kerajaan, berdukacita dan menangis (πενθήσετε καὶ κλαύσετε penthesete kai klausete)? (lihat Luk. 13:28; 23:28) Oleh karena itu di sini berita paling utama adalah: sebuah kerendahan hati, bertobat, hati yang diampuni dosanya (lihat panggilan kepada Petrus, penyembuhan orang lumpuh, perjamuan makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa) ini barulah merupakan ciri khusus komunitas baru.

Tetapi dalam perikop ini, titik beratnya justru diletakkan pada perihal 「Anak Manusia ditolak」, di Luk. 6:22-23, 26 dicatat bahwa komunitas yang bertobat, rendah hati, yang hancur ini akan mendapatkan aniaya, bahkan dihina namanya dihapuskan dianggap sebagai orang jahat (「menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat」). Namun saat anggota komunitas baru mendapatkan penderitaan aniaya yang demikian ini, hendaknya tidak bersedih juga jangan putus asa, malah sebaliknya hendaknya bergembira penuh sukacita, karena upahmu besar di sorga. Pengajaran yang demikian ini sekali lagi menunggangbalikkan konsep kita tentang gereja, benar adanya, kita hendaklah berdamai dengan orang, bersikap baik kepada orang, dan lapang dada 70 kali 7 terhadap orang lain, tetapi Yesus juga jelas sekali menunjukkan, bahwa pada saat komunitas ini berjalan dalam kebenaran, tidak mengalah pada niat hati kesombongan, juga tidak merasa diri paling hebat, maka akan 「secara alamiah」 mendatangkan serangan dari orang lain, dan mendatangkan begitu banyak perlakuan yang tidak beralasan. Yesus menyambung mengingatkan kita, 「secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.」(lihat Luk. 6:23, 26). Sebenarnya yang demikian ini di dalam sejarah dari dahulu bukanlah merupakan hal yang baru, Eliyah dan Elisa dsb bukankah merupakan contoh yang nyata menonjol? Tidak hanya demikian, di abad 1, Yesus Anak Kekasih Allah Kristus bukankah juga mendapatkan perlakuan yang demikian ini? Bahkan menyalibkan-Nya mati di atas kayu salib!

Renungkan: adakalanya, kita sangat sulit membayangkan yang demikian ini sebenarnya merupakan sebuah kebenaran yang bagaimana! Saat orang mengatakan baik terhadap kita, maka itu adalah mulainya bencana, tetapi jika yang sebaliknya, justru bersukacitalah, ini secara total telah menunggangbalikkan konsep kita atas gereja. Jadi sebenarnya bagaimana kita hendak meletakkan 7 ayat ini ke dalam kehidupan kita, apakah kita sungguh bersedia menghidupi kehidupan yang demikian ini? Apakah engkau bersedia? (Ikut ambil bagian dalam jalan penderitaan yang diambil oleh Kristus Yesus, itu adalah sifat khusus dari komunitas baru ini – Gereja, bagaimana dengan kita sebagai anggota komunitas baru ini?)

2 Yoh. 1-3

「Ibu yang Terpilih」

Siapakah Ibu yang terpilih dan apa relasinya dengan Kasih dan Kebenaran?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Yoh. 1:1-3 [ITB])
1Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran, 2oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya.
3Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.

Banyak peneliti berpendapat bahwa surat ini ditulis Rasul Yohanes yang dengan identitasnya yang dihormati di antara orang percaya dan menyebut dirinya sebagai 「penatua」, ditambah surat 2 Yohanes ini isinya memiliki banyak kemiripan dengan surat 1 Yohanes, maka terlebih lagi dapat diambil kesimpulan ini.

Surat 1 Yohanes tidak menunjuk siapa penerima surat, tetapi surat 2 Yohanes jelas menyatakan dituliskan kepada 「Ibu yang terpilih (Gereja) dan anak-anaknya」. Sesuai bahasa aslinya kebanyakan memakai bentuk jamak untuk menggambarkan penerima surat (ayat 5, 6, 8, 12), juga dalam bagian Alkitab yang lain ada yang menggunakan kata 「yang terpilih」 untuk menggambarkan orang Kristen (Rom. 8:33; 16:13; Kol. 3:12; 1 Pet. 1:1), bahkan Rasul Petrus juga sama menyebut orang percaya sebagai 「yang terpilih (Gereja)」 (1 Pet. 5:13). Maka kita seharusnya memandang bahwa Yohanes adalah dalam identitas sebagai orang tua rohani yang dihormati, menuliskan surat ini kepada jemaat suatu gereja, untuk menasehati mereka.

Dari isi surat dan kata-kata yang dipakai, dapat kita lihat relasi indah antara seorang gembala dengan orang percaya.

  1. Yohanes sama sekali tidak menyembunyikan perasaan kasihnya kepada gereja dan orang percaya. Dalam perikop pendek 13 ayat, terdapat empat kali pernyataan 「kasih」 secara terbuka kepada mereka, dan dengan hati yang benar-benar mengasihi mereka. Kasih yang tulus seperti ini adalah apa yang diharapkan bisa didapatkan kawanan domba dari gembala, ini juga adalah teladan yang diberikan oleh Gembala Agung Yesus Kristus kepada kita. Seperti yang Petrus ingatkan kepada setiap gembala, hendaknya berasal dari hati yang sukarela, jangan dengan paksa, jangan karena mau mencari keuntungan, bukan memerintah atas domba-domba yang dipercayakan, tetapi hendaklah menjadi teladan bagi kawanan domba itu (1 Pet. 5:2-3).
  2. Yohanes menyatakan kasihnya kepada orang percaya adalah demi kebenaran. Kata 「kebenaran」 ini muncul 5 kali, 「kasih」 dan 「kebenaran」 tergandeng erat menjadi satu. Frasa 「… yang mengasihi kamu … 」 juga boleh dijelaskan sebagai 「… yang mengasihi kamu dalam kebenaran …」 (terjemahan CNV), dan 「kebenaran」 juga membawa 「hati yang sunguh-sungguh」 dan 「hati yang rela」 (RCUV). Jelas bahwa Yohanes telah menunjukkan sebagai seorang gembala mengasihi kawanan domba bukan karena mereka apa yang mereka hasilkan / tampilkan, tetapi adalah karena mereka semua ada dalam kebenaran, semuanya adalah anak-anak Allah. Maka tidak hanya gembala mengasihi kawanan domba, termasuk semua orang lain yang mengetahui kebenaran juga mengasihi mereka, ini adalah dasar dan motivasi orang Kristen saling mengasihi.

Yohanes memberikan ucapan berkat kepada penerima surat, kiranya kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Yesus Kristus menyertai bersama mereka (2 Yoh. 1:3). Yohanes dalam ucapan berkatnya juga tidak lupa mengingatkan orang percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan Allah Bapa adalah bersama dengan Yesus Kristus memberikan berkat-Nya, Allah memberi kita berkat-Nya adalah karena mengasihi kita, karena kita semua ada dalam kebenaran menjadi anak-anak Allah. (Kasih itu ada dalam kebenaran, maka penting untuk berjuang mempertahankan kebenaran yang kita peroleh di dalam Yesus Kristus melalui karya penebusan-Nya)

Renungkan: hari ini relasi antar manusia di dalam masyarakat, gereja, bahkan di dalam keluarga, sering dipengaruhi perubahan lingkungan atau perasaan suka benci dari pribadi orang. Paling utama adalah setiap orang memakai standard tolak ukur dirinya sendiri untuk menilai orang lain untuk membuat tindakan benci atau suka, jika saudara dan saudari di dalam gereja juga demikian, maka kita bukan mendirikan relasi kasih di dalam kebenaran. Kiranya kita meraba hati kita dan bertanya pada diri, jika hari ini ada saudara dan saudari yang tidak dapat anda kasihi, apakah karena tidak mencapai standard tolak ukur dan permintaan anda? Biarlah kita dalam kebenaran dan kasih bersama-sama dibangun.


Tambahan Blogger:

Silahkan sediakan sedikit waktu untuk merangkum poin 1 dan poin 2 di atas masing-masing menjadi sebuah kalimat, kemudian carilah sebuah kata penghubung untuk menyambung kedua kalimat tersebut.

Kolose 1:25-29

「Berusaha sekuat tenaga mengabarkan rahasia Kristus 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 1:25-29 [ITB])
25 Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,
26 yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. 27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! 28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
29 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Paulus dalam Kol. 1:24-29 menjelaskan sikap dan misi yang seharusnya dimiliki pelayan Injil. Kemarin kita sudah melihat ayat 24, Paulus dalam satu ayat pendek ini menyampaikan tiga sikap orang yang menjadi pelayan: (1) membawa hati yang sukacita; (2) memiliki tekat hati siap menderita; (3) senantiasa berpikir untuk Gereja (「karena kamu 」). Mulai ayat 25, Paulus maju selangkah lagi menjelaskan apa misi dia.

Menjadi pelayan Injil, ia pada saat yang sama juga dipercaya menjadi pelayan Gereja. Memberitakan Injil dan mendirikan gereja tidak dapat saling dipisahkan. Tidak ada utusan Injil yang dapat mengatakan bahwa dirinya tidak ada urusan dengan pembangunan Gereja, juga tidak ada seorang penggembalaan yang boleh memandang rendah pengabaran Injil. Mengapa? Karena Injil menunjuk kepada pendamaian yang digenapkan di dalam Kristus (Kol. 1:19-20), dan relasi pendamaian (termasuk manusia dengan Allah, manusia dengan manusia) dinyatakan di bumi dengan melalui Gereja. Kuasa Kristus juga dinyatakan dengan jelas dalam komunitas Gereja. Komunitas Gereja memanifestasikan dilepaskannya orang dari kegelapan, masuk ke dalam Kerajaan Kristus (Kol. 1:13). Injil menunjuk kepada penebusan oleh Kristus, dan penebusan oleah Kristus melahirkan Gereja. Maka menjadi pelayan Injil adalah juga menjadi pelayan Gereja, keduanya tidak dapat dipisahkan. Paulus secara khusus menyebutkan 「tugas yang dipercayakan Allah kepadaku bagi kamu (stewardship)」.

Sebagi rasul, Paulus diutus untuk mengabarkan Injil Allah (Rom. 1:1), pada saat yang sama ia juga mendapatkan tugas menjadi penatalayan dari Allah, untuk menjaga Gereja dengan baik, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol. 1:28). Tidak hanya menjaga gereja yang ia dirikan saja, gereja yang lain juga harus dijaga. Sebagai pelayan Injil, kita tidak hanya memperhatikan urusan gereja kita sendiri, tetapi juga harus berikan perhatian kepada gereja lain. Tetapi, ada perbedaan besar antara ikut campur dan memberikan perhatian. Paulus dipanggil menjadi rasul Kristus, ia punya tanggung jawab dan kuasa ikut campur urusan gereja lain, namun hanya terbatas pada cakupan yang diberikan Allah yaitu pengabaran Injil. Kita adalah pelayan Injil, namun bukan rasul. Kita perlu memberikan perhatian atas keadaan gereja lain, tetapi tidak sampai interferensi ikut campur urusan internal mereka.

Sebagai pelayan Gereja, Paulus dipercayai mengabarkan Firman Allah dengan sepenuhnya, agar setiap orang disempurnakan di dalam Kristus. Firman Allah adalah rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi pada masa sekarang telah dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Rahasia ini adalah 「Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan [ITB] / Kristus di dalam kamu sekalian, telah menjadi pengharapan untuk mendapatkan kemuliaan [Mandarin CUV] 」(Kol. 1:27). Paulus hendak menjelaskan rahasia ini kepada orang-orang kudus, selain karena melaksanakan tugasnya sebagai penatalayan, ia adalah demi menguatkan orang-orang percaya pengharapan di dalam Kristus. Kita telah melihat Kol. 1:3-5, tahu bahwa pengharapan dapat membuat orang mempertahankan iman, merealisasikan kasih. Paulus mengetahui pengharapan adalah ekstrim penting bagi pertumbuhan kehidupan seorang Kristen, juga melihat bahwa pengharapan berasal dari pengenalan seseorang akan rahasia 「Kristus di dalam kita 」. Oleh sebab itu, Paulus menguras tenaga demi hal ini, tiada henti dengan berbagai macam hikmat menasehati setiap orang, mengajar setiap orang. Sasudara saudari dapat memperhatikan, titik beratnya di sini bukan cara mengajar di dalam Kristus. Cara adalah hal yang penting (memakai berbagai hikmat), namun lebih penting adalah isinya. Menjadi pelayan Injil, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk dengan sepenuhnya mengajarkan dengan jelas rahasia 「Kristus di dalam kita 」. Untuk menggenapi misi ini, kita perlu memiliki dasar pengetahuan Alkitab dan teologi yang kuat.

Renungkan: tugas apa yang telah dititipkan Allah kepada kita? Bagaimana cara kita dapat mengabarkan Injil dan cara agar dapat mengajarkan rahasia Kristus dengan sepenuhnya? Bagaimanakah kita membantu orang mengenal kelimpahan kemuliaan yang ada  「di dalam Kristus 」? Pertimbangkan bahwa kita sering menghadapi pencobaan memilih-milih Firman Tuhan yang kita senang dengarkan saja, apakah kita menyadari betapa tinggi, lebar, panjang, dan dalamnya 「rahasia Kristus 」?

Renungkan apa yang menjadi tolak ukur pertumbuhan gereja bagi anda? Apakah jumlah orang, atau kemajuan dalam pengenalan akan rahasia Kristus?

Kolose 1:6-8

「Kuasa yang dihasilkan Injil 」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn 」, tema Surat Kolose ditulis oleh 李文耀 (Lǐ Wén Yào)  yang dipublikasi pada bulan Agustus 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Kolose 1:6-8 [ITB])
6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya.
7 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia. 8 Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.

Surat Kolose 1:1-3 merupakan ucapan syukur Paulus kepada Tuhan dan terdapat pujian kepada gereja. Hari ini kita melihat bagian pujian.

Sebenarnya pujian Paulus kepada gereja Kolose sudah ada dalam ucapan syukurnya. Paulus (termasuk Timotius) bersyukur kepada Allah adalah karena mendengar berita tentang gereja Kolose dari Epafras (Kol. 1:7-8), tahu bahwa mereka mempunyai kesaksian yang indah dalam iman, kasih dan pengharapan. Puji syukur Paulus kepada Allah, secara nyata merupakan afirmasi kepastian dan pujian. Paulus tahu bahwa semua ini berasal dari Injil. Injil adalah firman kebenaran (Kol. 1:5), yang membuat orang yang mendengarkannya dan bertahan menjaganya mendapatkan pengharapan dalam Sorga, sehingga saat di dunia mempertahankan iman dan merealisasikan saling mengasihi.

Ayat 6-8 (Kol. 1:6-8) melanjutkan penjelasan tentang kuasa daripada Injil di antara orang percaya. Dalam bahasa aslinya, Paulus menggunakan kata penghubung 「seperti 」 (καθώς kathos) untuk menyambung kuasa Injil yang berbeda menjadi satu rangkaian (dalam ITB tidak tampak kata penghubung ini, “6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang (seperti) di seluruh dunia, demikian (seperti) juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya. 7 Semuanya itu (seperti) telah kamu ketahui dari Epafras… ). Pertama, Paulus menunjukkan saat Injil datang kepada gereja Kolose kuasanya seperti di seluruh dunia tanpa henti menghasilkan buah dan berkembang, terus bertumbuh (Kol. 1:6). Di sini Paulus memuji kuasa Injil yang berbunga di muka bumi, juga secara tidak langsung memuji mereka adalah komunitas orang percaya yang penuh daya hidup, tepat seperti terjemahan Contemporary Chinese Version (新漢語譯本) 「kamu sekalian mendengar Injil, semenjak hari engkau bersandar kebenaran mengenal karunia Allah sampai sekarang, Injil tiada henti berbuah di antara kalian, sama seperti tiada henti bertumbuh 」

「Seperti 」 yang ketiga muncul di ayat 7 (Kol. 1:7) 「(seperti) telah kamu ketahui dari Epafras 」, di sini memuji Epafras sebagai 「yang kami kasihi 」, 「kawan pelayan 」 dan  「pelayan Kristus yang setia bagi kamu 」. Melalui tiga 「seperti 」, kita bisa melihat kuasa Injil memberikan efek dalam tiga lapisan: di seluruh dunia, gereja lokal, dan secara individu orang percaya. Tiga 「seperti 」 membuat kita melihat secara tidak langsung bahwa Injil dapat berbunga dan berbuah di segala tempat di muka bumi, melaluinya gereja di masing-masing tempat penuh daya hidup dengan membawakan Injil, dan gereja dapat mempertahankan daya hidupnya adalah terkait kuasa Injil yang bekerja dalam diri setiap individu orang percaya. Jika setiap individu adalah seperti Epafras, yang bersedia menjadi hamba Kristus 「demi orang lain 」 dan 「berpikiran untuk orang lain 」, maka gereja yang disusun dari orang-orang percaya yang demikian sangatlah sulit untuk tidak memiliki daya hidup dan nafas hidup.

Injil berkuasa di dunia, gereja dan setiap individu adalah karena Roh Kudus bekerja di dalam hati orang (Kol. 1:8). Pada saat kita terus membaca Alkitab maka perlahan-lahan akan mendapatkan jawaban tentang bagaimana peran Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam pemberitaan Injil.

Renungkan: bacalah sekali lagi Kol. 1:3-8, renungkan apa yang disebut sebagai 「keadaan gereja yang sehat 」, kemudian berdoalah untuk diri sendiri dan untuk gereja.


Tambahan Blogger:

Gereja yang sehat terdiri dari orang-orang percaya yang sehat secara rohani, yang bertumbuh, berbuah dan berkembang seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 6 (Kol. 1:6). Epafras adalah sebuah contoh yang sangat tepat, pada mulanya ia adalah seorang yang bertobat dan menjadi murid Kristus, pasti ia kemudian melalui proses pertumbuhan rohani dalam kuasa Injil, dan ia berbuah yakni gereja Kolose, tidak hanya sebagai pendiri saja tetapi ia menjadi teladan di gereja Kolose dalam kedewasaan rohani dan pengetahuan kebenaran Kristus yang cukup. Jemaat Kolose belajar tentang kebenaran Injil dari Epafra (Kol. 1:7) “Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras” dalam terjemahan UKJV “As all of you also learned of Epaphras” bahwa mereka belajar dari Epafras, tidak hanya secara pengetahuan saja tetapi juga belajar dari teladan yang diberikan Epafras.

Salah satu sikap Epafras adalah rendah hati, ia sebagai salah satu pendiri jemaat Kolose namun tidak merasa bahwa ia lebih unggul, ia sadar bahwa kuasa Injil lah yang hebat, sikap ini terlihat dari relasinya dengan Paulus sehingga Paulus memuji dia sebagai pelayan Kristus yang setia, pujian yang tidak mungkin diberikan Paulus jika Epafras adalah seorang yang penuh kesombongan merasa dirinya penuh kehebatan sebagai penatua atau pendiri jemaat Kolose. Suatu keadaan yang adakalanya terjadi di gereja zaman sekarang, jemaat senior, atau penatua, atau pendiri gereja merasa sebagai senior gereja sehingga seringkali memandang dengan mata sebelah atau bersikap kurang rendah hati terhadap orang baru, atau hamba Tuhan yang baru.

Baik adanya kita berdoa agar kita dapat dewasa dalam rohani dan menjadi seperti Epafras.