Tag Archives: Kasih dan Kebenaran

Mikha 7:18-20 

「TUHAN (Yahweh) Tiada Tertandingi」
Oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Mikha 7:18-20 [ITB])
18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? 19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. 20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

Dalam bagian ringkasan kitab Mikha ini, nabi Mikha menggunakan kata yang bunyi pengucapannya mirip dengan nama dirinya (miykah) untuk menyatakan seruan Siapakah Allah seperti Engkau (miy ‘el kmow), menunjukkan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah unik dan tak tertandingi. Dalam teks bahasa aslinya, nama nabi Mikha dapat memiliki arti siapa yang seperti TUHAN, maka kita juga dapat melihat perikop ini sebagai pusat pikiran dari seluruh kitab, atau arah dari berita seluruh kitab ini.

Nabi Mikha menunjukkan beberapa hal yang tak tertandingi tentang TUHAN, yakni adalah rahmat dan kasih-Nya. Meskipun dalam kitab ini, nabi Mikha tiada henti mengajukan gugatan kesalahan kepada orang Israel, menegur mereka atas dosa-dosa mereka, dan memperingatkan penghakiman yang akan datang kepada mereka, tetapi setelah penghakiman ini, ia masih memiliki harapan atas pemulihan kebangkitan di masa depan karena ia teguh percaya akan kasih kesetiaan Allah dan Dia akan memberikan rahmat anugerah-Nya.

Nabi Mikha menjelaskan bahwa sifat keunikan tiada duanya TUHAN (Yahweh) adalah bahwa Dia mengampuni dosa dan memaafkan dosa dari sisa-sisa umat milik-Nya, Dia tidak selamanya menyimpan amarah-Nya, Ia suka memberikan rahmat. Pernyataan ini tampaknya mengutip berita dalam kitab Keluaran 34:6-7, yang merupakan ayat utama yang TUHAN ungkapkan kepada Musa tentang isi hati kehendak Dia sendiri. Kutipan ini mengingatkan pembaca kitab Mikha untuk merenungkan ulang krisis terbesar dalam sejarah Israel, karena ketika Musa menerima Sepuluh Perintah di atas Gunung Sinai, orang Israel yang di bawah gunung itu membuat anak lembu emas untuk diri mereka sendiri dan menyembah berhala itu, sehingga TUHAN (Yahweh) hampir harus menghancurkan mereka. Setelah doa permintaan Musa, ini adalah jawaban yang dinyatakan oleh TUHAN. Sebenarnya karena pengkhianatan bangsa Israel itu seharusnya menghadapi kepunahan, tetapi TUHAN mengasihani mereka dan berkata kepada mereka, TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat (Kel. 34:6-7)

Dalam ke-12 Kitab Nabi-nabi, kutipan ini diulangi di banyak tempat, dan itu mencerminkan isi hati kehendak TUHAN. Di antara pesan-pesan penghakiman dari para nabi yang berbeda, Dia terus mengingatkan kita bahwa penghakiman dan hukuman-Nya adalah untuk mendisiplin kita dan membawa kita kembali kepada Dia. Tetapi paragraf ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Allah itu adil benar, kejahatan harus selalu menghadapi konsekuensi dari dosa. TUHAN (Yahweh) akan mengampuni tetapi juga harus menghukum.

Allah kita adalah Tuhan yang penuh rahmat anugerah, Dia ingin memberi kita kesempatan untuk mengulang kembali. Asalkan kita mau rendah hati, bertobat, dan meminta rahmat anugerah di hadapan-Nya, Allah adalah setia dan benar adil, Ia pasti mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala ketidakbenaran. Dia bahkan menggambarkan bahwa Ia akan meletakkan dosa kita di bawah kaki-Nya diinjak, dan Ia akan membuang semua dosa kita ke laut yang dalam, sehingga dosa-dosa itu dihancurkan dan menjauh dari kita.

Tema ini dalam ayat 7:20 dibawakan oleh nabi Mikha dengan serangkaian kata-kata: zaman purbakala, bersumpah dan janji, setia dan kasih, semua mengingatkan janji TUHAN (Yahweh) dalam perjanjian-Nya. Dia bersumpah, Dia pasti menggenapi

Renungkan:
Terima kasih kepada Tuhan atas rahmat anugerah-Nya, kita diselamatkan karena kasih-Nya. Mohon Tuhan menjaga agar kita senantiasa dalam anugerah dan kasih-Nya.


Renungan pemahaman Kitab Mikha

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Zefanya, Yoel, Mikha, Nahum ditulis oleh 潘仕楷 (Pān Shì Kǎi) yang dipublikasi pada bulan Juli 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

1 Tesalonika 4:9-12

「Saling Mengasihi」
Oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)
Alliance Bible Seminary H.K.

(1 Tes. 4:9-12 [ITB])
9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

Kemudian, Paulus menyebutkan topik lain yang berkaitan dengan etika, yaitu kasih di antara orang-orang percaya. Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya (4:9-10)

Bagian ini disampaikan lebih lembut. Di aspek pertama, Paulus seperti biasa menekankan bahwa pengajaran ini sudah diketahui oleh orang Tesalonika dan bahwa mereka sendiri telah mendapat pengajaran Allah. Di aspek kedua, Paulus mengatakan bahwa orang Tesalonika telah melakukan pekerjaan yang baik dalam perintah agar saudara-saudara saling mengasihi, secara garis besar mereka telah memenuhi ajaran-ajaran Allah dan memiliki kesaksian yang baik. Mereka tidak hanya saling mengasihi di antara orang-orang percaya di Tesalonika, mereka juga melakukan hal yang sama kepada orang-orang percaya lainnya di seluruh Makedonia. Tetapi dalam aspek ketiga, Paulus secara khusus mengingatkan mereka untuk memperhatikan agar lebih maju lagi dalam pencapaian yang sudah mereka lakukan.

Apakah gereja di Tesalonika memiliki masalah dengan kasih yang tidak memadai? Bukti:
(1) Paulus menyebutkan sebelumnya bahwa ia mengharapkan peningkatan kasih orang-orang percaya dan menghubungkannya dengan tuntutan kekudusan: Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya (3:12-13)
(2) Di bagian akhir nasihat, Paulus menunjukkan dengan nada yang lebih serius: Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang (5:14)

Kedua ayat itu secara samar menunjukkan bahwa gereja Tesalonika mungkin sedikit kurang ideal, tetapi tidak terlalu serius. Timotius memberi tahu Paulus apa yang telah dia amati, terutama tanda-tanda beberapa masalah, dan Paulus menawarkan beberapa nasihat yang disampaikan secara lembut di sini.

Ajaran terakhir adalah: anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka. (4:11-12)
Perkataan hidup tenang bukan ditujukan meminta mengurangi bicara dan berdiam diri belajar Firman, menjalani kehidupan menunggu Tuhan lebih banyak meditasi (masuk masa istirahat); tetapi maksudnya agar dalam relasi antar personal janganlah membangkitkan kontroversi bentrok, perdebatan. Ini terkait dengan mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan. Hanya mereka yang mengurus persoalan-persoalan mereka sendiri dan bekerja dengan tangan mereka sendiri tidak akan membangkitkan masalah, orang yang hidup tenang.
Ada banyak perdebatan di antara para penafsir mengenai apakah pengajaran ini ditujukan kepada masalah nyata tertentu, berpendapat bahwa Paulus bukanlah orang yang tidak mempunyai target, kebanyakan berpikir bahwa di antara orang-orang Tesalonika ada beberapa orang (pria) yang mampu bekerja, tetapi memilih untuk tidak bekerja, bergantung pada gereja, dan mengharapkan orang lain untuk mendukung kebutuhan hidup mereka. Selain menjadi beban ekonomi bagi gereja dan orang-orang percaya lain, mereka terus-menerus dalam keadaan miskin. Mengapa mereka melakukan ini? Alasan yang masuk akal (Alkitab tidak mengatakannya secara langsung) adalah bahwa mereka memiliki pandangan yang salah tentang akhir zaman dan percaya bahwa karena Kristus segera kembali dan segala sesuatu di bumi akan berakhir, maka mengapa harus mengelola kehidupannya alih-alih berfokus saja pada menunggu Tuhan datang lagi.

Penekanan yang tidak tepat pada eskatologi (akhir zaman) sering menyebabkan pemikiran yang ekstrem atau bahkan salah. Jika segala sesuatu di bumi akan berlalu, dan jika segala sesuatu di bumi tidak memiliki nilai kekal, itu sama saja dengan tidak bernilai. lalu mengapa orang Kristen harus berpartisipasi di dalamnya dan melakukan yang terbaik? Apakah kita juga perlu mencari nafkah, menikah, membeli rumah, berinvestasi, memiliki anak, membangun masyarakat, mengejar keadilan, dan melindungi lingkungan (dunia yang akan hancur total tidak perlu dilindungi lagi)?

Ajaran ini juga memiliki kontras yang paralel dengan 4:9-10. Sebelumnya Paulus meminta saudara-saudari untuk meningkatkan kasih mereka, tetapi di dalam gereja sering ada orang yang menyalahgunakan kasih dan menggunakan kasih orang lain sebagai jalan menghindari tanggung jawab pribadi. Jadi 4:11-12 merupakan nasihat peringatan akan hal ini.

Renungkan:
Orang Kristen dan gereja tidak cukup memiliki kasih, ini sering kali merupakan kritik utama terhadap kekristenan. Kritik semacam itu datang dari luar gereja, tetapi lebih banyak lagi dari dalam gereja.
Ada banyak alasan penyebab kritik ini, tetapi di sini kita hanya menyebutkan beberapa situasi umum.

Pertama, gereja selalu mengangkat tinggi kasih, dan terus-menerus menekankan pentingnya kasih. Berbicara terlalu banyak, orang secara alami memiliki harapan yang tinggi, bahkan harapan yang berlebihan, semakin tinggi harapan semakin besar kemungkinan kekecewaan, kesenjangan antara harapan dan kenyataan akan membawa luka dan kekecewaan. Oleh karena itu, bahkan jika perilaku orang Kristen jelas lebih unggul, tetapi orang lebih cenderung terluka hatinya di gereja daripada di kantor, dan penyimpangan perilaku kecil saja sudah dapat menyebabkan luka di hati yang lebih besar.
Kedua, terlalu banyak berkhotbah tentang kasih, tuntutan terlalu banyak, lebih mudah menyebabkan gejala kelelahan kasih. Kita tahu bahwa kita harus bermurah hati dan kasih sayang kepada orang-orang, tetapi kita tidak dapat mengembangkan perasaan yang sesuai di hati kita, dan tidak memiliki motivasi untuk mempraktikkan kasih. Dengan demikian, mudah terjatuh menjadi situasi 「menyerahkan tubuh untuk dibakar tetapi tidak memiliki kasih」. Kasih di dalam hati tidak cukup, tetapi memaksa diri untuk memiliki perilaku kasih, sering memberi kesan kebohongan dan kemunafikan. Bagaimana mempertahankan 「kasih yang semula」 merupakan tantangan sekaligus kewajiban.
Ketiga, orang Kristen melakukan lebih dari sekadar prinsip kasih, kita juga memberitakan kebenaran, meninggikan keadilan kebenaran, dan terhadap diri kita sendiri dan juga terhadap orang-orang di sekitar kita. Bagaimana cara memberitakan dan mempraktikkan kebenaran tetapi juga prinsip kasih, tidaklah mudah pada saat kita teguh tidak mengompromikan kebenaran tetapi tidak membuat orang merasa kita eksklusif, meninggikan diri, dan tidak nyaman. Selain itu, keseimbangan antara kasih karunia dan kebenaran, kasih dan keadilan sering membuat kita di dalam dilema. Tuntutan untuk membenci dosa tetapi mengasihi orang berdosa sebenarnya sangat sulit.

Dalam Alkitab ini, Paulus tidak hanya menuntut orang percaya untuk memiliki kasih yang lebih besar terhadap orang lain, tetapi juga mengingatkan mereka untuk tidak menyalahgunakan kasih dari orang lain, menjelaskan adanya ketegangan kesulitan di dalamnya.

Bagaimanapun juga, kita perlu berusaha keras untuk memeriksa diri sendiri, memikirkan bagaimana mempraktikkan kasih lebih nyata konkret dan efektif.


Renungan pemahaman Surat 1 Tesalonika

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Tesalonika ditulis oleh 梁家麟 (Liáng Jiā Lín)) yang dipublikasi pada bulan Maret 2020 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Yesaya 30:18

「TUHAN Menanti-nantikan」
Oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) Alliance Bible Seminary H.K.

(Yes. 30:18 [ITB])
18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu;
sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu.
Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

Di sini Kitab Suci menggunakan dua kata 「Sebab itu」 sebagai kalimat keseimbangan (mayoritas versi Inggris yang menerjemahkan lebih literal ASV, ESV, RSV, KJV sebagai 「therefore」, namun tidak diekspresikan dalam terjemahan yang lebih fungsional). Terjemahan literal dari teks asli adalah seperti ini: 「oleh karena itu TUHAN pasti menunggu dan menyediakan engkau; oleh karena itu Ia pasti bangkit dan berbelaskasih pada engkau」, dan terjemahan literal dari kalimat berikutnya adalah 「sebab Tuhan adalah Allah yang adil benar, diberkati semua orang yang menunggu Dia!」Dua kalimat ini menunjukkan bahwa TUHAN menunggu dan meminta manusia menunggu sebagai tanggapan! Kata 「menunggu」 memiliki makna harapan atau percaya penuh harapan. Karena orang Israel tidak tertarik untuk percaya penuh harapan (atau menunggu) atas keselamatan Tuhan, mereka hanya tertarik untuk membentuk aliansi dengan Mesir, oleh karena itu nabi Yesaya menyatakan dalam ayat 18 bahwa TUHAN akan menunggu, yakni bahwa TUHAN melihat bahwa orang Israel tidak tertarik pada diri-Nya, bahkan murtad meninggalkan Dia, seharusnya segera diadili. Namun, Tuhan tidak segera menghakimi mereka, tetapi dengan sarkastik menanggapi orang Israel dengan 「menunggu」, menyatakan bahwa ketika orang Israel memilih untuk tidak 「menunggu」 TUHAN, maka TUHAN terlebih menanggapi dengan 「menunggu」 sampai suatu hari orang Israel tahu belajar untuk 「menunggu」.

「Penantian」 TUHAN menggambarkan kesabaran dan lapang dada-Nya, Dia tidak segera membalas karena persekutuan antara Israel dan Mesir, juga tidak segera menjatuhkan bencana untuk menghakimi orang Israel. Dia mengharapkan orang Israel untuk mengerti bahwa Dia masih memiliki harapan atas orang Israel. Bahkan jikalaupun tidak ada diri-Nya di hati orang Israel, Dia terus 「menunggu」 sampai orang Israel mau 「menunggu」 lagi. Bagian yang paling menarik dari ayat ini adalah bahwa di satu sisi TUHAN 「menunggu」, di sisi lain terus-menerus 「menyediakan」, dan dengan membawa hati penuh 「belas kasih」, dan menyatakan 「kebenaran keadilan」 Allah, ini benar-benar memaparkan bahwa 「adil benar」 dan 「belas kasih」 yang tampaknya merupakan dua hal tidak bersesuaian untuk berdampingan, justru di dalam mata TUHAN adalah sifat yang saling mendukung satu sama lain. Di satu sisi TUHAN adalah 「adil benar」, Dia dengan 「keadilan kebenaran」 Dia 「menunggu」, agar di dalam proses orang Israel belajar untuk 「menunggu」 akan TUHAN . Di sisi lain, dalam proses 「menunggu」 Dia tiada henti menyediakan dan memberkati, menunjukkan bahwa Allah tidak menyerah tidak meninggalkan, juga menjelaskan bahwa 「adil benar」 dan 「kasih sayang」 adalah dua sisi mata uang. Kasih tanpa kebenaran adalah pemanjaan yang menenggelamkan, dan kebenaran tanpa kasih adalah kejam.

Renungkan:

Penantian manusia dapat mengakhiri penantian Allah, berdoa agar kita semua dapat bertobat dan kembali lagi menantikan TUHAN. Apakah Anda bersedia?


Renungan pemahaman Kitab Yesaya (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Yesaya 24 – 39 ditulis oleh 高銘謙 (Gāo Míng Qiān) yang dipublikasi pada bulan Maret 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

2 Yoh. 4-6

「Sepatutnya Melaksanakan Perintah Tuhan」

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Yoh. 1:4-6 [ITB])
4Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.
5Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu–bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya–supaya kita saling mengasihi.
6Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.

Di sini sebutan 「Ibu」 dan 「anak-anakmu」 adalah sama dengan teks sebelumnya, menunjuk kepada satu gereja yang Yohanes kenal dan jemaatnya. Mengapa tidak langsung disebut sebagai 「Gereja」 dan 「orang percaya」, tetapi dengan sebutan 「Ibu」 dan 「anak-anak」? Percaya ini mewakili relasi yang intim antara Yohanes dengan gereja ini dan saudara-saudari. Alkitab Perjanjian Baru juga terdapat penggambaran feminim untuk gereja, seperti Paulus dalam surat Efesus menggunakan 「istri Kristus」 untuk menggambarkan gereja (Ef. 5:22-23). Dengan 「istri」 menggambarkan gereja, selain adalah relasi yang intim, juga memiliki makna: tunggal, dikasihi dan memiliki penantian akan kedatangan Kristus yang kedua kali. Semua ini adalah makna berharga dari sebutan 「Ibu yang terpilih」 bagi gereja.

Yohanes sekali lagi meletakkan 「hidup dalam kebenaran」, 「perintah」 dan 「saling mengasihi」 menjadi satu, ini juga adalah berita yang ditekankan dalam surat 1 Yohanes. Kata 「saling mengasihi」 aslinya adalah semacam penyataan dari relasi, kerelaan hati, kesediaan dan merupakan pilihan pribadi, mengapa hendak ditambah 「menjaga kebenaran」 dan 「mentaati perintah」? Yohanes menunjukkan rahasia anak-anak Allah mampu dan seharusnya saling mengasihi, yakni adalah saat kita percaya, menerima, dan hidup dalam kebenaran, melaksanakan kebenaran, maka saling mengasihi pasti akan secara alamiah mengalir keluar dalam kehidupan. Yohanes terlebih lagi menekankan perintah saling mengasihi bukan tambahan dari dirinya kepada orang percaya, tetapi adalah perintah yang sudah diterima 「ada pada kita dari mulanya」. Kata 「dari mulanya」 dalam surat 1 Yohanes muncul 8 kali, surat 2 Yohanes muncul dua kali, semuanya adalah menunjuk bahwa saat orang percaya menerima Injil bersamaan telah menerima perintah ini. 「Perintah」 tidak mewakili kekakuan atau pemaksaan, tetapi menyatakan sifat konsisten dan sifat pentingnya, juga wibawa perintah ini karena yang memberikan perintah adalah Yesus yang dengan kasih mengorbankan dirinya demi kita.

Yohanes di dalam surat ini terutama memuji orang percaya yang ada dalam gereja telah menjaga kebenaran dalam kehidupan, dia menggunakan kata 「sangat bersukacita」 untuk menggambarkan kebahagiaan yang ada di hatinya. Percaya ini juga adalah apa yang harus dimiliki gereja hari ini, dan ini adalah kehidupan orang Kristen yang diharapkan bisa didapatkan oleh orang secara umum, kita semua adalah penyiar Injil maka terlebih lagi tidak boleh mengabaikan tujuan ini, dan mengalami sukacita terbesar karena melihat kawanan domba Allah melaksanakan Firman Tuhan.

Renungkan: ada orang yang tidak puas atas kebijakan pemerintah mengeluarkan denda demi kebersihan kota, menekankan bahwa ini adalah pekerjaan mendidik masyarakat, seharusnya rakyat didorong dengan kasih sebagai motivasi menjaga kebersihan, membuat mereka dengan hati yang sukarela untuk membangun kebersihan kota tempat tinggal milik diri sendiri. Saat orang masih dalam perdebatan yang tidak hasbis-habis, bagi orang yang sudah hidup dalam kebiasaan menjaga kebersihan kota, tidak terpengaruh apakah ini adalah tuntutan hukum atau dorongan kasih, karena mereka sudah menikmati lingkungan yang paling nyaman. Apalagi bagi orang yang hidup di negara yang sudah demikian menjaga kebersihan, ini terlebih lagi bukan masalah, bagaimanapun sudah menjadi gaya hidup mereka.

Hari ini kehidupan saling mengasihi orang Kristen tidak hanya merupakan permintaan Allah kepada anak-anak-Nya, terlebih lagi adalah dengan saling mengasihi membuktikan kita adalah anak-anak Allah. Ini bukan bersandar kuat usaha anda dan saya, tetapi memang sudah merupakan karakter dari hidup baru yang Allah anugerahkan kepada kita, untuk kita nyatakan.


Tambahan Blogger:

Paragraf pertama menjelaskan sebutan 「Ibu」 bagi Gereja. Gereja bukan gedung bangunan, tetapi adalah satu tubuh Kristus merupakan ibu bagi orang percaya yang menyalurkan nutrisi kebenaran kedalam kehidupan orang percaya, dan anak-anak Allah juga hidup sebagai anak Gereja, orang percaya tidak bisa hidup melepaskan diri dari Gereja. Maka Gereja terkait erat dengan apa yang dijelaskan dalam paragraf kedua 「hidup dalam kebenaran」, 「perintah」 dan 「saling mengasihi」. Bagaimana kaitannya?

2 Yoh. 1-3

「Ibu yang Terpilih」

Siapakah Ibu yang terpilih dan apa relasinya dengan Kasih dan Kebenaran?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建  Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Surat 1 Yohanes ditulis oleh 郭奕宏 (Guō Yì Hóng) yang dipublikasi pada bulan Oktober 2017 merupakan hak cipta (copyrightAlliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(2 Yoh. 1:1-3 [ITB])
1Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran, 2oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya.
3Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.

Banyak peneliti berpendapat bahwa surat ini ditulis Rasul Yohanes yang dengan identitasnya yang dihormati di antara orang percaya dan menyebut dirinya sebagai 「penatua」, ditambah surat 2 Yohanes ini isinya memiliki banyak kemiripan dengan surat 1 Yohanes, maka terlebih lagi dapat diambil kesimpulan ini.

Surat 1 Yohanes tidak menunjuk siapa penerima surat, tetapi surat 2 Yohanes jelas menyatakan dituliskan kepada 「Ibu yang terpilih (Gereja) dan anak-anaknya」. Sesuai bahasa aslinya kebanyakan memakai bentuk jamak untuk menggambarkan penerima surat (ayat 5, 6, 8, 12), juga dalam bagian Alkitab yang lain ada yang menggunakan kata 「yang terpilih」 untuk menggambarkan orang Kristen (Rom. 8:33; 16:13; Kol. 3:12; 1 Pet. 1:1), bahkan Rasul Petrus juga sama menyebut orang percaya sebagai 「yang terpilih (Gereja)」 (1 Pet. 5:13). Maka kita seharusnya memandang bahwa Yohanes adalah dalam identitas sebagai orang tua rohani yang dihormati, menuliskan surat ini kepada jemaat suatu gereja, untuk menasehati mereka.

Dari isi surat dan kata-kata yang dipakai, dapat kita lihat relasi indah antara seorang gembala dengan orang percaya.

  1. Yohanes sama sekali tidak menyembunyikan perasaan kasihnya kepada gereja dan orang percaya. Dalam perikop pendek 13 ayat, terdapat empat kali pernyataan 「kasih」 secara terbuka kepada mereka, dan dengan hati yang benar-benar mengasihi mereka. Kasih yang tulus seperti ini adalah apa yang diharapkan bisa didapatkan kawanan domba dari gembala, ini juga adalah teladan yang diberikan oleh Gembala Agung Yesus Kristus kepada kita. Seperti yang Petrus ingatkan kepada setiap gembala, hendaknya berasal dari hati yang sukarela, jangan dengan paksa, jangan karena mau mencari keuntungan, bukan memerintah atas domba-domba yang dipercayakan, tetapi hendaklah menjadi teladan bagi kawanan domba itu (1 Pet. 5:2-3).
  2. Yohanes menyatakan kasihnya kepada orang percaya adalah demi kebenaran. Kata 「kebenaran」 ini muncul 5 kali, 「kasih」 dan 「kebenaran」 tergandeng erat menjadi satu. Frasa 「… yang mengasihi kamu … 」 juga boleh dijelaskan sebagai 「… yang mengasihi kamu dalam kebenaran …」 (terjemahan CNV), dan 「kebenaran」 juga membawa 「hati yang sunguh-sungguh」 dan 「hati yang rela」 (RCUV). Jelas bahwa Yohanes telah menunjukkan sebagai seorang gembala mengasihi kawanan domba bukan karena mereka apa yang mereka hasilkan / tampilkan, tetapi adalah karena mereka semua ada dalam kebenaran, semuanya adalah anak-anak Allah. Maka tidak hanya gembala mengasihi kawanan domba, termasuk semua orang lain yang mengetahui kebenaran juga mengasihi mereka, ini adalah dasar dan motivasi orang Kristen saling mengasihi.

Yohanes memberikan ucapan berkat kepada penerima surat, kiranya kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Yesus Kristus menyertai bersama mereka (2 Yoh. 1:3). Yohanes dalam ucapan berkatnya juga tidak lupa mengingatkan orang percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan Allah Bapa adalah bersama dengan Yesus Kristus memberikan berkat-Nya, Allah memberi kita berkat-Nya adalah karena mengasihi kita, karena kita semua ada dalam kebenaran menjadi anak-anak Allah. (Kasih itu ada dalam kebenaran, maka penting untuk berjuang mempertahankan kebenaran yang kita peroleh di dalam Yesus Kristus melalui karya penebusan-Nya)

Renungkan: hari ini relasi antar manusia di dalam masyarakat, gereja, bahkan di dalam keluarga, sering dipengaruhi perubahan lingkungan atau perasaan suka benci dari pribadi orang. Paling utama adalah setiap orang memakai standard tolak ukur dirinya sendiri untuk menilai orang lain untuk membuat tindakan benci atau suka, jika saudara dan saudari di dalam gereja juga demikian, maka kita bukan mendirikan relasi kasih di dalam kebenaran. Kiranya kita meraba hati kita dan bertanya pada diri, jika hari ini ada saudara dan saudari yang tidak dapat anda kasihi, apakah karena tidak mencapai standard tolak ukur dan permintaan anda? Biarlah kita dalam kebenaran dan kasih bersama-sama dibangun.


Tambahan Blogger:

Silahkan sediakan sedikit waktu untuk merangkum poin 1 dan poin 2 di atas masing-masing menjadi sebuah kalimat, kemudian carilah sebuah kata penghubung untuk menyambung kedua kalimat tersebut.