「Gereja Merupakan Sebuah Komunitas Baru yang Bagaimana?」
Renungan ini merupakan terjemahan 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Lukas 1-6 ditulis oleh 陳偉迦 (Chén Wěi Jiā) yang dipublikasi pada bulan April 2018 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).
(Luk. 6:20-26 [ITB])
20Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata:
「Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
21Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
22Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
23Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
24Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
25Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
26Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.」
Saat Yesus memilih para murid lingkaran inti bagi penebusan rencana Allah, ini mewakili bahwa perkembangan iman Injil bukan didasarkan atas pemahaman pemimpin keagamaan saat itu, malah sebaliknya kelahiran dan keberadaan komunitas baru ini hendak mengkoreksi tradisi yang dahulu, dan meletakkan unsur baru ke dalamnya.
Dari permulaan perikop hari ini sampai akhir dari Lukas pasal 6, semuanya adalah pemahaman iman dari sebuah komunitas baru. Seperti halnya Musa di atas gunung Sinai bagi komunitas baru menerima standard pedoman prinsip menjadi umat Allah, demikian juga kotbah di bukit dalam Injil Matius sebagai contoh, pengajaran di atas bukit ini adalah menetapkan penunjuk arah bagi komunitas iman Injil Yesus. Catatan Lukas ini adalah saat orang Yahudi dan orang non Yahudi semuanya di berkumpul di sebuah dataran, lalu Yesus membuka mulut mengajar mereka, dan menetapkan sebuah pemahaman iman bagi komunitas baru.
Pengajaran dalam pasal ini terutama adalah memakai topik pembalikkan akhir zaman (eschatological reversal motif) dari 《Nyanyian pujian Maria》 sebagai inti, maka ketujuh ayat ini dibicarakan dengan memakai pembalikkan arah: orang yang miskin, lapar, menangis telah memiliki kebahagiaan, karena mereka akan mendapatkan Kerajaan Allah, dikenyangkan dan tertawa sukacita; sebaliknya, orang yang puas dalam kekayaan, puas dalam kenyang, tertawa gembira akan mendapatkan bencana. Pada saat topik pembalikkan ini bukan murni berbicara tentang berkat dan bencana jasmaniah, malah sebaliknya menunjuk kepada berkat dan kasih karunia Allah di akhir zaman, apakah sebenarnya orang akan sungguh-sungguh mempersiapkan sebuah kerendahan hati, menantikan kedatangan diri Allah sediri, dan masuk ke dalam Kerajaan-Nya, menikmati segala kelimpahan Allah? Atau kebalikannya, ada sebagian orang yang akan berada di luar Kerajaan, berdukacita dan menangis (πενθήσετε καὶ κλαύσετε penthesete kai klausete)? (lihat Luk. 13:28; 23:28) Oleh karena itu di sini berita paling utama adalah: sebuah kerendahan hati, bertobat, hati yang diampuni dosanya (lihat panggilan kepada Petrus, penyembuhan orang lumpuh, perjamuan makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa) ini barulah merupakan ciri khusus komunitas baru.
Tetapi dalam perikop ini, titik beratnya justru diletakkan pada perihal 「Anak Manusia ditolak」, di Luk. 6:22-23, 26 dicatat bahwa komunitas yang bertobat, rendah hati, yang hancur ini akan mendapatkan aniaya, bahkan dihina namanya dihapuskan dianggap sebagai orang jahat (「menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat」). Namun saat anggota komunitas baru mendapatkan penderitaan aniaya yang demikian ini, hendaknya tidak bersedih juga jangan putus asa, malah sebaliknya hendaknya bergembira penuh sukacita, karena upahmu besar di sorga. Pengajaran yang demikian ini sekali lagi menunggangbalikkan konsep kita tentang gereja, benar adanya, kita hendaklah berdamai dengan orang, bersikap baik kepada orang, dan lapang dada 70 kali 7 terhadap orang lain, tetapi Yesus juga jelas sekali menunjukkan, bahwa pada saat komunitas ini berjalan dalam kebenaran, tidak mengalah pada niat hati kesombongan, juga tidak merasa diri paling hebat, maka akan 「secara alamiah」 mendatangkan serangan dari orang lain, dan mendatangkan begitu banyak perlakuan yang tidak beralasan. Yesus menyambung mengingatkan kita, 「secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.」(lihat Luk. 6:23, 26). Sebenarnya yang demikian ini di dalam sejarah dari dahulu bukanlah merupakan hal yang baru, Eliyah dan Elisa dsb bukankah merupakan contoh yang nyata menonjol? Tidak hanya demikian, di abad 1, Yesus Anak Kekasih Allah Kristus bukankah juga mendapatkan perlakuan yang demikian ini? Bahkan menyalibkan-Nya mati di atas kayu salib!
Renungkan: adakalanya, kita sangat sulit membayangkan yang demikian ini sebenarnya merupakan sebuah kebenaran yang bagaimana! Saat orang mengatakan baik terhadap kita, maka itu adalah mulainya bencana, tetapi jika yang sebaliknya, justru bersukacitalah, ini secara total telah menunggangbalikkan konsep kita atas gereja. Jadi sebenarnya bagaimana kita hendak meletakkan 7 ayat ini ke dalam kehidupan kita, apakah kita sungguh bersedia menghidupi kehidupan yang demikian ini? Apakah engkau bersedia? (Ikut ambil bagian dalam jalan penderitaan yang diambil oleh Kristus Yesus, itu adalah sifat khusus dari komunitas baru ini – Gereja, bagaimana dengan kita sebagai anggota komunitas baru ini?)