Daniel 6:10-18

「Seperti yang Biasa Dilakukannya」

Ia bisa bersembunyi ke tempat yang lain untuk berdoa, atau di dalam hati saja, bahkan sementara berhenti berdoa, bukankah itu penyelesaian sementara yang lebih menguntungkan, logis dan waras? Untuk apa ia lakukan?

Renungan ini merupakan terjemahan versi bahasa Mandarin 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Daniel ditulis oleh 吳劍麗 (Wú Jiàn Lì) yang dipublikasi pada bulan November 2017 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).

(Daniel 6:10-18 [ITB])
10Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
11Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.
12Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”
13Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”
14Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.
15Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”
16Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”
17Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa.
18Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.

Daniel setelah mendengar perintah raja, seperti biasa pulang rumah, sampai di kamar  loteng atas, menghadap ke arah Yerusalem berlutut berdoa mengucapkan syukur. Yerusalem adalah tempat Bait Suci berada. Bait Suci adalah sebagai tempat yang di janjikan di mana nama Allah akan tinggal di sana, di tengah-tengah tempat itu Dia mendengarkan doa umat-Nya (1 Raj. 8:29-30). Di zaman Daniel, Bait Suci telah dihancurkan, tetapi orang Yahudi yang ditawan belum lupa doa Solomon saat mempersembahkan Bait Suci: 「Apabila langit tertutup, sehingga tidak ada hujan, sebab mereka berdosa kepada-Mu, lalu mereka berdoa menghadap ke arah tempat ini (toward this place) dan mengakui nama-Mu dan mereka berbalik dari dosanya, sebab Engkau telah menindas mereka」(mengikuti KJV dan mayoritas terjemahan Inggris) (1 Raj. 8:35-36) (ITB menggunakan “berdoa di tempat ini”) . Berdoa memohon menghadap ke arah Yerusalem, adalah keyakinan pasti terhadap janji Allah, melalui cara ini mewakili pengharapan umat di dalam hati. Daniel tidak dikacaukan oleh adanya perintah raja tersebut, tetap seperti biasa satu hari tiga kali berdoa kepada Allah.

Masa berlaku perintah itu hanya 30 hari. Dalam masa tidak biasa ini, Daniel mengapa tidak bersembunyi ke tempat yang lain untuk berdoa, atau di dalam hati saja, bahkan sementara berhenti berdoa, sebagai penyelesaian sementara yang menguntungkan? Penulis Alkitab tidak menyebutkan reaksi dan pemikiran Daniel pada saat itu, hanya dengan singkat mencatat tindakannya: tidak dengan berkoar-koar menyiarkan dirinya melanggar larangan, namun juga tidak dengan kesengajaan harus menutup jendela, hanya seperti biasanya berdekatan dengan Allah. 「Seperti yang biasa dilakukannya」 adalah sebuah frasa yang menggambarkannya dengan ringan saja, namun kita tidak dapat bayangkan, pada saat itu di bawah tegangan yang berat sekali, memerlukan keberanian dan iman sebesar apa, bersiap sedia membayar harga yang seperti itu, baru mampu melakukan pilihan 「taat kepada Allah, bukan taat kepada manusia」? (Kis. 5:29) Tanpa diragukan, Daniel sejak awal telah melakukan persiapan yang baik, menyambut akibat apapun yang mungkin terjadi.

Tindakan Daniel, membuat ia jatuh tepat ke dalam pelukan para perancang yang ingin mencelakaan dia (Daniel 6:12, 15). Hanya raja yang 「sangat sedih」 (Daniel 6:14), karena berdasarkan hukum Media Persia, larangan itu pasti tidak boleh diubah, walaupun ia menyayangkan Daniel, juga menemukan dirinya sendiri diperalat, justru harus segera menjalankan penghukuman, melemparkan Daniel ke dalam lubang singa. Tetapi perebutan dalam istana ini, akan sekali lagi menonjol fokus utama kitab Daniel: tidak peduli apapun keadaannya, Allah tetap memegang kendali. Penulis Alkitab terlebih lagi melalui mulut Darius, membawakan sebuah berita penting: 「Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau」 (ITB) (Daniel 6:16)

Renungkan: Daniel menempati kedudukan tinggi, sepertinya lancar segala-galanya, tiba-tiba ditimpah bahaya krisis. Di balik sikap yang tidak panik walau keadaan berubah, adalah ketahanan menjaga iman dan keberanian yang datang dari atas. Rohani yang tahan uji, bukan hal satu malam, tetapi berasal dari Daniel pelatihan dalam doa hari demi hari. Saat ada di hadapan bahaya kesulitan, Daniel tidak hanya memiliki kekuatan terus berlanjut datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, terlebih lagi mampu dari dasar hati mengucapkan syukur. Orang senantiasa berdekatan dengan Allah, yakni adalah 「orang berhikmat」 dalam Perjanjian Lama; dengan cara setetes demi setetes membangun hubungan, makin mengenal Tuhan dan kehendak-Nya, juga dari antaranya belajar mengerti untuk bersandar (Daniel 6:23) dan mengucap syukur.

Saudara dan saudari, bagi engkau apakah datang ke hadapan Tuhan adalah kebiasaan engkau, atau sebuah hal yang sudah lama tidak dijumpai? Seandainya engkau sehari-hari biasa tidak membaca Alkitab, berdoa, bagaimana bisa membangun hubungan dengan-Nya? Begitu datang keadaan sulit dan bahaya krisis dalam kehidupan, juga dari mana datangnya iman dan keberanian untuk menghadapinya? Mohon Tuhan mengaruniakan kita sebuah hati yang rindu berdekatan dengan Dia, selalu datang ke hadapan Dia, membangun hubungan kasih yang kekal, mendalam.


Tambahan Penerjemah:

Jika engkau ada dalam keraguan iman atau dalam pergumulan, datanglah kepada-Nya setiap hari dalam doa dan saat teduh membaca Firman perkataan-Nya, itu adalah satu-satunya obat. Janganlah menjauh dari doa dan Firman karena itu yang akan membuat engkau menjauh dari-Nya, seperti bola salju yang makin mengelinding makin membesar.