Tag Archives: Injil Markus

Markus 14:22-25

「Darah yang berharga ditumpahkan untuk menegakkan Perjanjian Baru, untuk menyelamatkan bangsa-bangsa」

Oleh Rev. Jimmy Chan (陳偉明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:22-25 [TB])
22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Ambillah, inilah tubuh-Ku. 23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 24 Dan Ia berkata kepada mereka: Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.

Inti dari Perjamuan Terakhir adalah nubuat Yesus tentang pencurahan darah-Nya yang berharga untuk menegakkan perjanjian baru, untuk menebus kematian banyak orang, dan Ia menjadi Juruselamat semua bangsa-bangsa. Perjamuan Terakhir menginspirasi Gereja mula-mula untuk mengembangkan liturgi Perjamuan Tuhan, yang memungkinkan kita untuk mengalami kasih karunia dalam peringatan. Hari ini, kita akan menggunakan empat perspektif untuk mendalami makna yang kaya dari Perjamuan Tuhan. Namun, sejarah gereja memperingatkan kita bahwa jika kita terlalu terpaku pada perbedaan-perbedaan kecil, sakramen ini, yang seharusnya membawa persatuan, malah dapat menjadi batu sandungan bagi persekutuan.

Sebagai contoh, kata roti (artos): Yesus menyatakan, Akulah roti hidup (artos; Yohanes 6:48). Dalam Perjamuan Terakhir, kata asli artos biasanya merujuk pada roti beragi; tetapi, karena ini adalah perjamuan Paskah, secara tradisional yang digunakan adalah roti tanpa ragi (azymos). Oleh karena itu, apakah hidangan utama harus disajikan dengan roti beragi atau tanpa ragi telah menimbulkan perbedaan pendapat yang signifikan. Beberapa sarjana menunjukkan bahwa dalam penggunaan tertentu dalam bahasa asli kata artos juga mencakup roti tanpa ragi. Secara historis, gereja mula-mula sering memecah roti (artos) selama perjamuan kasih (agape), sebagian besar menggunakan roti beragi (Kis. 2:46). Gereja Barat kemudian mengikuti tradisi Paskah dan beralih menggunakan roti tanpa ragi; gereja Timur melanjutkan kebiasaan menggunakan roti beragi. Perbedaan tersebut baru terselesaikan pada Konsili Florence tahun 1439, yang memutuskan bahwa tubuh Kristus memang dapat dibentuk dalam roti tanpa ragi atau juga roti berfermentasi … setiap imam dapat melakukannya sesuai dengan kebiasaan gereja Barat atau Timur. Jika hanyalah Melihat pohon tetapi tidak melihat hutan seringkali menyebabkan perselisihan. Marilah kita melampaui perbedaan dan fokus pada makna inti Perjamuan Tuhan.

Cermin Salib : Perjamuan Tuhan mengingatkan kita akan penghinaan dan kematian Kristus — menumpahkan darah-Nya yang berharga dan memikul salib! Jalan hidup Kristen pasti melibatkan salib, tetapi itu tidak akan pernah melampaui kasih karunia Tuhan. Mereka yang lari dari salib kehilangan makna sejati Perjamuan Tuhan. Setiap kali kita mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, itu seperti cermin jernih yang mengingatkan kita untuk bergantung pada Tuhan agar tetap teguh berjalan di jalan kehidupan yang penuh badai, tidak takut mati, dan berpegang teguh pada hidup kekal.

Sumpah Kasih (A Vow of Love) : Perjamuan Tuhan menyatakan kasih Allah yang tak terbatas — Ia mengasihi dunia tanpa batas, dan mengasihi kita sampai akhir! Bahkan ketika kita lemah dan tidak beriman, seperti murid yang menyangkal-Nya tiga kali, Ia tidak akan pernah menyerah: Ia memanggil kita kembali kepada iman, menjadikan kita hamba yang setia seperti para rasul. Setiap kali kita mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, itu seperti menegaskan kembali sumpah pernikahan kita: dalam suka dan duka, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kita pun akan mengasihi Tuhan sepanjang hidup kita.

Janji Kemenangan (A Promise of Victory): Perjamuan Tuhan menubuatkan kedatangan Kerajaan Allah dan menjadi saksi kebangkitan Kristus! Dalam kegelapan salib — murid-murid tercerai-berai, langit dan bumi gelap, iblis sombong — tampaknya seperti kekalahan total, tetapi itu memberitakan kematian dan kehancuran, datangnya penghakiman, dan terbukanya pintu gerbang surga! Setiap kali kita mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, itu seperti prosesi kemenangan; kegelapan pasti akan dikalahkan, Kristus pasti akan menang, dan kita pasti akan menang!

Komitmen Bersama untuk Misi (A Shared Commitment to Mission): Perjamuan Tuhan mengingatkan kita bahwa perjamuan yang paling berharga ada di Kerajaan Surga. Meskipun kita tinggal sebagai pengembara di bumi, kita dipenuhi dengan sebuah misi! Darah Tuhan dicurahkan untuk banyak orang, untuk menuntun semua bangsa kepada Tuhan! Setiap kali kita mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, seolah-olah pasukan surgawi sedang berangkat: arahkan pandangan kita pada Pemimpin, melangkah maju dengan kepala tegak, berjalan serempak, lupakan apa yang ada di belakang, berlari maju menuju tujuan, membawa terang Tuhan di wajah kita, mengguncang semua bangsa.

Doa:
Bapa Surgawi, bersyukur kepada Tuhan Yesus karena telah menetapkan Perjanjian Baru pada Perjamuan Terakhir melalui darah-Nya yang berharga, menjanjikan hidup kekal kepada mereka yang percaya kepada-Nya! Setiap kali kita mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, marilah kita menggunakan salib sebagai cermin untuk memahami secara mendalam kasih Tuhan dan memusatkan pandangan kita pada Pemimpin. Bantulah kami untuk mengatasi perbedaan kami, berbagi misi, menjadi sesama tuan rumah di Surga, memimpin semua bangsa kepada Tuhan, dan meraih kemenangan. Dalam nama Tuhan, Amin.

Refleksi:
Pada Perjamuan Terakhir, Yesus menetapkan perjanjian baru dengan darah salib yang berharga, menjanjikan keselamatan dan hidup kekal. Sebagai pengembara di bumi, kita harus bertindak seperti tentara surgawi yang pergi berperang: berbaris serempak, melupakan apa yang ada di belakang, terus maju menuju tujuan, dengan wajah bersinar memancarkan terang Tuhan, dan merindukan kedatangan-Nya. Lebih jauh lagi, darah Tuhan yang berharga akan menghapus semua dosa dan membawa pengampunan, dan persatuan.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Jimmy Chan Wai-ming (陳偉明) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 8:34

「Pandanglah rintangan sebagai salib: tetap teguh meskipun menghadapi tekanan」

Oleh Rev. Jimmy Chan (陳偉明)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 8:34 [TB2])
34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Kata menyangkal diri (ἀπαρνησάσθω aparnēsasthō) dalam ayat ini yang dalam beberapa versi diterjemahkan sebagai mengorbankan diri sendiri, adalah mengubah arah yang aslinya mengejar kepuasan diri berubah arah kepada Tuhan Yesus sebagai tujuan. Ini melambangkan titik balik yang menentukan dalam hidup—dari diri sendiri berubah tujuan Yesus sebagai Tuhan. Berbeda dengan kata kerja menyangkal diri dan memikul salib yang dituliskan dalam bentuk imperatif masa lalu tak tentu, kata mengikuti (ἀκολουθείτω akoloutheitō) adalah dalam bentuk perintah imperatif masa kini, yang menyatakan tindakan berkelanjutan di masa kini— mengikuti Tuhan. Dalam konteks abad pertama, memikul salib adalah tindakan yang membawa konsekuensi dieksekusi di hadapan publik, yang melambangkan rasa malu dan kematian. Oleh karena itu, seruan Yesus di sini adalah agar kita mengucapkan hukuman mati pada diri kita yang lama dan mengikuti Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Wawasan Teologis – Agustinus (354–430). Dalam Sermo 96 karya Agustinus, ia berkata , Apa artinya memikul salib? Artinya menanggung semua penderitaan (berat, menyakitkan) manusia. Kuncinya di sini adalah pertama-tama Agustinus tidak mempersempit makna salib pada bentuk spesifik tertentu (misalnya, hanya menyamakannya dengan kemartiran), tetapi memahaminya dalam kemuridan sehari-hari yang konkret, yaitu mengikuti Kristus — semua kesulitan yang tak terhindarkan yang dihadapi karena kesetiaan kepada karakter dan perintah Kristus dapat diidentifikasi sebagai salibku.

Agustinus kemudian menjelaskan dalam bentuk pastoral bahwa begitu orang mulai mengikuti kehidupan dan ajaran Kristus, mereka akan menghadapi tiga jenis tekanan —penentang, penghalang, dan penolakan. Lebih tepatnya, tekanan ini terkadang datang dari mereka yang tampaknya menjadi sahabat Kristus (quasi comites Christi). Ia menggunakan kisah Injil untuk mengingatkan kita bahwa ketika Yesus berjalan, orang banyak yang menghentikan seruan orang buta juga berjalan bersama Kristus. Dengan kata lain, perlawanan tidak selalu datang dari kubu lawan, tetapi juga dapat datang dari dari sesama pengembara yang salah paham, cemas, atau yang memiliki antuias yang salah arah. Ini sangat penting bagi sesama pengembara atas pemahaman tentang memikul salib sendiri—seringkali itu bukanlah penderitaan yang secara aktif Anda pilih, melainkan gesekan antar pribadi yang tak terhindarkan, tekanan institusional, dan bahkan konflik internal gereja yang akan Anda hadapi ketika Anda dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan.

Agustinus kemudian memberikan poin penting tentang kemuridan: perlawanan eksternal dapat berupa intimidasi atau kata-kata manis/bujukan agar menyerah. Tetapi apa pun itu, jika Anda ingin mengikuti Tuhan, Anda harus mengubahnya menjadi salib; menanggungnya, memikulnya, dan tidak menyerah padanya. Pernyataan ini dengan jelas menjelaskan esensi dari memikul salib sendiri: (1) Ini adalah cara penafsiran dan respons, menamai ulang rintangan sebagai salib mengikuti Kristus. (2) Ini bukan hanya menanggung rasa sakit itu sendiri, tetapi juga mengungkapkan ketekunan untuk tidak mengubah arah dalam menghadapi rasa sakit.

Refleksi:
1. Hari ini beban berat apa yang sedang Anda hadapi? Apakah Anda bersedia melihatnya bukan sebagai bukti bahwa Tuhan telah meninggalkanku, tetapi sebagai salib yang harus kupikul saat mengikuti Kristus, dan menanggungnya dengan doa dan ketekunan, alih-alih membiarkan kepahitan menguasai Anda?

2. Ancaman atau bujukan manis apa yang mencoba membujuk Anda untuk tidak mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh? (Misalnya: takut kehilangan kesempatan, takut diremehkan, takut berbeda dari orang lain, atau menggunakan kenyamanan dan konsumsi untuk meredakan kecemasan.) Bagaimana Anda dapat mengubah rintangan-rintangan ini menjadi salib hari ini, memilih kesetiaan daripada kompromi? Bagaimana Anda dapat menanggapi ancaman atau bujukan manis ini?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Jimmy Chan Wai-ming (陳偉明) yang dipublikasi pada bulan Maret 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 15:39

「Kesaksian dari orang yang tidak disebutkan namanya」

Oleh Rev. Chén Shū Yú(陳淑愉)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 15:39 [TB])
39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!

Injil Markus dimulai dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah: Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Pesan penting ini diumumkan secara terbuka oleh seorang perwira Romawi, seorang non-Yahudi, di kaki salib ia menyaksikan pengorbanan Yesus. Peristiwa ini juga tercatat dalam Injil Matius dan Lukas.

Perwira Romawi tanpa nama dalam Injil Markus patut mendapat perhatian khusus karena tema sentral seluruh Injil Markus: Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan itu keluar dari mulut perwira Romawi! Mungkin kita dapat merasakan bersama perwira Romawi tersebut mengenai situasi yang mengejutkan pada waktu itu dan konsekuensi yang mungkin ditimbulkan oleh kata-katanya.

Ada beberapa kemungkinan alasan dan interpretasi di balik pernyataan ini. Pertama, perwira Romawi itu dengan mata kepala sendiri menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, yang bukan seperti orang pada umum yang mengalami rasa sakit yang luar biasa sehingga bertahap melemah mati perlahan, melainkan teriakan keras, terlihat secara sukarela menyerahkan nyawa-Nya. Keadaan luar biasa ini sangat menyentuhnya. Kedua, fenomena alam yang menyertai kematian Yesus, termasuk langit yang gelap, robeknya tirai Bait Suci, dan bahkan gempa bumi, semuanya menunjukkan bahwa ini adalah peristiwa yang memiliki makna sakral.

Lebih jauh lagi, pernyataan publik sang perwira bahwa Yesus adalah Anak Allah membawa risiko yang sangat besar. Pertama, di Kekaisaran Romawi, Kaisar sering dipuja sebagai Anak Allah atau Tuhan. Memberikan gelar seperti itu kepada Yesus akan dianggap sebagai pembangkangan terhadap rezim, bahkan pengkhianatan. Kedua, sebagai seorang perwira, tugasnya adalah setia kepada Roma dan memastikan kelancaran pelaksanaan hukuman; secara terbuka menyatakan status khusus Yesus dapat ditafsirkan oleh atasannya sebagai pembangkangan. Ketiga, Yesus telah ditolak oleh para pemimpin Yahudi dan dieksekusi oleh Roma; jika perwira itu menyatakan pengakuannya mengenai Yesus, ia dapat dengan mudah mendapat penolakan dan kecurigaan dari rekan-rekannya serta masyarakat. Terakhir, kata-kata seperti itu tidak hanya membahayakan jabatan dan reputasi militernya tetapi juga dapat mengancam nyawanya. Oleh karena itu, pernyataan ini bukanlah seruan biasa tetapi pernyataan iman yang berani dan berbahaya.

Pernyataan sang perwira Romawi itu, dalam arti spiritual, adalah pengorbanan diri dan penyerahan nyawa.

Ketika saya sekolah teologi, ada sebuah persekutuan misionaris yang ingin anggotanya memahami dan merasakan bagaimana bereaksi terhadap penganiayaan, memutuskan untuk mengadakan pertemuan doa. Mereka akan berpura-pura meminta mahasiswa untuk berdoa tentang sesuatu, dan kemudian, tanpa peringatan, beberapa anggota persekutuan akan berpakaian seperti teroris yang menganiaya orang Kristen, mengarahkan pistol palsu ke mahasiswa dan menyatakan bahwa mereka tidak akan mati jika mereka tidak mengaku sebagai orang Kristen. Beberapa mahasiswa bersikeras bahwa mereka adalah orang Kristen dan diikat. Karena jendela kamar asrama saya menghadap ruang doa, saya menyaksikan latihan ini sebelum pertemuan doa, jadi saya siap secara mental dan dapat dengan tenang (sambil makan kacang) mengamati reaksi para mahasiswa. Saya melihat bahwa meskipun beberapa mahasiswa tahu itu palsu, mereka tetap dengan lantang menyatakan diri sebagai orang Kristen, dan beberapa bahkan menangis ketika dipaksa untuk menyatakan bahwa mereka bukan orang Kristen. Pengalaman itu sangat istimewa! Menyatakan diri sebagai orang Kristen terkadang memang membutuhkan keberanian. Saya merenungkan bahwa pernyataan perwira Romawi tanpa nama dalam Kitab Injil ini bahwa Yesus adalah Anak Allah adalah curahan alami. Ia sangat tersentuh oleh perubahan alam dan pengorbanan diri Yesus, dan karenanya ia menyampaikannya dengan lantang, mungkin tanpa mempertimbangkan apakah kata-katanya dapat mendatangkan masalah atau bahkan kematian.

Refleksi:
Dalam keadaan yang diperlukan, demi Tuhan, kita secara alami harus membiarkan diri kita mengatakan apa yang perlu dikatakan!


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Chén Shū Yú(陳淑愉) yang dipublikasi pada bulan Februari 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 14:3-9

「Kasih tanpa menyebutkan nama」

Oleh Rev. Chén Shū Yú(陳淑愉)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 14:3-9 [TB])
3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. 4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? 5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin. Lalu mereka memarahi perempuan itu.
6 Tetapi Yesus berkata: Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. 7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. 8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku. 9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.

Seorang wanita yang tidak disebutkan namanya tanpa ragu-ragu menuangkan minyak wangi yang paling berharga ke atas diri Yesus. Baginya, Yesus layak menerima semua persembahannya. Meskipun buli-buli berisi narwastu murni itu tak ternilai harganya, ia dengan rela memecahkannya untuk mempersembahkannya, karena kasih tidak mengenal harga. Tindakannya tidak mencari pengertian atau pujian, dan bahkan ketika dikritik sebagai boros, ia tetap fokus pada Yesus, menunjukkan rasa hormat batinnya dengan cara yang paling tulus. Kasih ini melampaui perhitungan; ini adalah kasih yang murni dan tulus, dan justru jenis kasih inilah yang berkenan kepada Allah. Wanita yang tidak disebutkan namanya itu rela memberikan yang terbaik kepada Yesus, dan Yesus dengan senang hati menerima kasih sejati yang tak disebutkan namanya ini.

Perempuan itu mengambil buli-buli berisi narwastu yang sangat mahal, memecahkan leher buli-buli itu, dan menuangkan minyak wangi itu ke atas kepala Yesus. Injil Yohanes mencatat bahwa Yudas, salah seorang murid, mengkritik, minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin Injil Markus menyebutkan bahwa beberapa orang gusar (tidak mau menerima), yang sebenarnya berarti mereka tidak mau merelakannya. Yesus tentu tahu apa yang sebenarnya mereka maksudkan, tetapi Dia menjawab, … orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu … Yesus ingin mengajar mereka perlahan-lahan, memberi murid-murid-Nya kesempatan untuk berubah. Apakah kita, seperti perempuan tanpa nama ini, bersedia memberikan yang terbaik kepada Yesus?

Saya mengenal seorang teman sekelas ketika saya kuliah di sebuah universitas di Skotlandia. Ayahnya orang Jepang, ibunya orang Amerika, dan dia lahir di New York. Pada usia 18 tahun, ia terpanggil untuk kembali ke Jepang untuk pekerjaan misionaris. Ia unggul dalam teologi dan fasih dalam teks-teks bahasa asli. Kami berbagi kantor untuk penelitian dan penulisan makalah, dan setiap hari banyak teman sekelas datang kepadanya untuk konsultasi Alkitab—seperti pasien yang mengantre untuk bertemu dokter. Setelah lulus, ia baru berusia awal dua puluhan ketika ia langsung pergi ke Tokyo untuk mengajar teologi dan misi. Ketika ia dipanggil, banyak orang melihat kemampuan dan bakatnya yang luar biasa dan terus-menerus mendesaknya untuk melakukan pekerjaan lain untuk mendapatkan lebih banyak uang dan status. Ia tentu tahu bahwa ia memiliki bakat yang hebat, tetapi ia bersedia untuk memberikannya kepada Yesus. Ia menjalani hidup yang sederhana, tetapi setiap surat yang doa syafaatnya dipenuhi dengan kasih dan sukacita— mungkin ini adalah buah dari kerelaan.

Refleksi:
Apa hal terakhir yang tidak rela kita persembahkan kepada Yesus? Kapan itu?


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Chén Shū Yú(陳淑愉) yang dipublikasi pada bulan Februari 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 2:1–12

「Penolong yang tidak disebutkan namanya」

Oleh Rev. Chén Shū Yú(陳淑愉)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 2:1–12 [TB])
1 Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak.
Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!
6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7 Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri? 8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: 11 Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! 12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: Yang begini belum pernah kita lihat.

Referensi ayat: Matius 9:1–8; Markus 2:3-4; Lukas 5:17–26

Seorang lumpuh dibawa kepada Yesus oleh teman-temannya. Karena banyaknya orang, mereka menurunkannya dari atap dan meletakkannya di hadapan Yesus. Melihat iman mereka, Yesus pertama-tama menyatakan, Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni! Para ahli Taurat menganggap ini sebagai penghujatan, karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Untuk menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa di bumi untuk mengampuni dosa, Yesus memerintahkan orang lumpuh itu untuk bangun dan berjalan. Seketika itu juga orang lumpuh itu sembuh, dan ia bangkit dan pulang ke rumahnya di hadapan semua orang. Ketika orang banyak melihat ini, mereka takjub, memuji Allah, dan mengaku bahwa mereka telah menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Ketiga penulis Injil menggambarkan peristiwa yang sama dengan fokus yang berbeda. Deskripsi Matius adalah yang paling ringkas, menghilangkan penyebutan tentang teman-teman yang membuka atap untuk menurunkan orang lumpuh itu ke hadapan Yesus. Namun, Markus memberikan detail paling banyak, menekankan bahwa empat teman yang tidak disebutkan namanya membawa orang lumpuh itu, mungkin masing-masing memegang salah satu dari empat sudut tilam, mengangkatnya bersama-sama, membawanya ke atap, menurunkan tilam, dan membawanya kepada Yesus. Yesus, melihat iman dari empat teman yang tidak disebutkan namanya ini, mengampuni dosa orang lumpuh itu. Kita mungkin bertanya, mengapa iman empat orang membawa keselamatan bagi satu orang? Keempat orang ini tampak tidak banyak pikir tetapi berusaha, kegigihan yang seolah-olah bodoh.

Ketika seseorang lemah dan tak berdaya, iman orang lain dapat menjadi penolongnya, menuntunnya kepada keselamatan. Misalnya, jika seorang Kristen melihat kerabat atau teman yang koma dan hampir meninggal, mereka mungkin mengundang seorang pendeta untuk menemui teman tersebut, dengan harapan orang itu akan memutuskan untuk berpaling kepada Yesus sebelum meninggal. Membuat orang yang koma percaya kepada Yesus sangatlah sulit, tetapi mengapa seorang pendeta masih menerima undangan tersebut? Bukan karena pendeta merasa memiliki kuasa Yesus; tetapi mungkin karena Anda dan pendeta sama-sama memiliki keteguhan iman, dan begitulah cara kerjanya.

Akhirnya, Yesus memerintahkan orang lumpuh itu untuk berdiri, lalu memikul tilamnya dan berjalan. Tanpa iman, orang lumpuh itu tidak akan mampu bergerak. Tujuan menyembuhkan orang lumpuh itu adalah untuk menunjukkan kuasa ilahi Yesus Kristus, dan ini tidak akan terjadi tanpa bantuan keempat penolong tanpa tanda jasa ini.

Selama masa sekolah menengah saya, sekolah tidak mengizinkan para siswa naik ke kelas 3 bersama-sama dalam satu kelas yang sama. Di kelas 2, kami semua teman satu kelas sangat akrab, berharap untuk melanjutkan ke kelas 3 di satu kelas yang sama. Kami mengungkapkan keinginan kami melalui berbagai saluran dan metode, tetapi permintaan kami tidak berhasil. Akhirnya, setelah acara olahraga akhir semester, kami mencegat guru-guru kami di tempat parkir, sambil menangis memohon kepada mereka untuk mengizinkan kami melanjutkan ke kelas 3 yang dalam kelas yang sama. Akhirnya, suara kami didengar, dan keinginan kami dikabulkan. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya bertemu kembali dengan guru-guru saya dan mengingat kejadian ini, mereka semua mengatakan bahwa mereka tersentuh oleh kebodohan kami dan menyetujui permintaan kami. Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.

Refleksi:
Dalam kehidupan sehari-hari dan pertumbuhan spiritual, kegigihan tidak banyak hitung-hitung, tetapi berusaha adalah hal yang penting, hal yang paling berharga adalah memiliki sekelompok teman yang gigih bersama, tanpa membedakan, tanpa mencari ketenaran, saling mengingatkan, itu adalah kegigihan bodoh (tidak hitung-hitungan untung rugi) yang bijaksana. Mungkin inilah arti sebenarnya dari kegigihan tanpa nama.


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah 2026 ditulis oleh Rev. Dr. Chén Shū Yú(陳淑愉) yang dipublikasi pada bulan Februari 2026 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 1:12-13-PraPaskah

「Penderitaan, satu kalimat saja」

Oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 1:12-13 [TB2])
12 Segera sesudah itu Roh mendesak Dia ke padang gurun. 13 Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Seperti yang dikatakan kemarin, bagian tentang Yesus yang dicobai di padang gurun dicatat dalam tiga Injil, Matius, Markus, dan Lukas. Di antara semuanya, Injil Markus merupakan yang terpendek, dengan hanya dua ayat yang tercatat. Injil Markus mengungkapkan seluruh pengalaman Yesus selama empat puluh hari hanya dalam satu atau dua ayat – ini adalah sesuatu yang layak untuk kita renungkan secara mendalam.

Tentu saja, secara teknis, Markus, sebagai Injil yang paling awal, secara singkat menangkap dan menggambarkan pengalaman Yesus. Dengan demikian, kita dapat menemukan bahwa penulis Injil Markus merangkum asal mula (dorongan Roh Kudus), proses (dicobai selama empat puluh hari dan hidup bersama binatang buas) dan akhir (para malaikat datang melayani) sebagai tahap-tahap dari pencobaan Yesus di padang gurun dalam satu ayat.

Perjalanan empat puluh hari, diringkas dalam satu kalimat.

Sebagai pembaca, mudah bagi kita untuk mengabaikan isi empat puluh hari ini, kita hanya membaca satu kalimat saja, dan melewatinya. Empat puluh hari adalah perjalanan yang panjang. Hari demi hari, hari demi hari, hari demi hari, hari demi hari berlalu … Mungkin, titik berat dari dicobai selama empat puluh hari itu adalah setiap hari dan setiap momen di mana Anda berada, yang Anda alami. Cobaan, latihan keras, dan tempaan pengalaman, kuncinya adalah proses. Kalau saja kita tahu akhir ceritanya sejak dari lebih awal, kalau saja kita lebih awal mengantisipasi saat penyelesaiannya, kalau saja kita melihat rantai kehidupan yang pahit itu dengan sudut pandang yang ringkas, saya kira penderitaan apa pun hanya akan menjadi beratnya sebuah kata.

Akan tetapi, titik berat padang gurun alam liar selalu pada prosesnya. Bila seseorang berada dalam proses, tidak peduli seberapa kecil kepahitannya, tidak peduli seberapa pendek jalan yang ditempuh, kita akan menemukan bobotnya yang semestinya – dengan demikian menemukan kasih karunia Allah dari dalamnya.

Ya, jika kita memandang kehidupan secara samar dan umum, kita hanya dapat mengalami kasih karunia Tuhan secara samar dan umum.

Oleh karena itu, saudara-saudari, marilah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk memasuki pengalaman empat puluh hari di padang gurun bersama Yesus Kristus dan menyelaraskan diri dengan diri-Nya hari demi hari.

Refleksi:
Apakah hidup Anda terasa berjalan terlalu cepat akhir-akhir ini? Salah satu hal penting dalam apa yang disebut latihan spiritual adalah menikmati kehidupan Anda yang tampaknya biasa saja satu per satu. Anda akan menemukan bahwa itu bukanlah sesuatu yang dapat diringkas hanya dalam satu kalimat. (Di dalamnya akan ditemukan kasih Tuhan satu per satu)


Renungan Pra-Paskah (Er Dao)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Pra-Paskah Yesus ditulis oleh Rev. Dr. Chén Wéi Ān (陳韋安) yang dipublikasi pada bulan April 2025 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Markus 16:1-8

Akhir yang luar biasa, kebangkitan yang mencengangkan

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 16:1-8 [ITB])
1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.2 Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.
3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?4 Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.
5 Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut,6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: 『Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.』
8 Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.

Cara Injil Markus menuliskan bagian penghujung tampaknya merupakan akhir yang kurang menarik. Meskipun Yesus telah bangkit, kita tidak melihat para murid menampakkan diri atau menerima Amanat Agung (Matius 28:18-20). Hanya tiga wanita yang muncul. Tiga perempuan yang tidak dihargai oleh masyarakat, tiga perempuan yang sejak awal seperti orang kurang pergaulan, tiga perempuan yang tidak mempunyai pengharapan terhadap kebangkitan Yesus, tiga perempuan yang tidak mempunyai rencana yang baik, tiga perempuan yang lari dengan panik, tiga wanita yang sangat ketakutan sehingga mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun. Apakah inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Markus 1: 1)? Markus, apakah kamu salah?

Namun, jika kita melihat kembali gambaran Markus mengenai murid-murid di seluruh Injil, tidak sulit untuk menemukan bahwa gambarannya tentang murid-murid sebenarnya sangat konsisten. Di mata Markus, para murid sering kali tidak memahami identitas Yesus, tidak memahami perkataan-Nya, dan bahkan tidak setuju dengan tindakan-Nya. Ketika Yesus menenangkan angin dan laut, para murid berkata satu sama lain, Siapakah orang ini? Bahkan angin dan laut pun taat kepada-Nya. (Markus 4:35-41) ; di padang gurun, para murid bertanya balik kepada Yesus: Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan? (Markus 6:37); ketika Yesus berjalan di atas laut, para murid mengira itu hantu (Markus 6:52).

Di mata Markus, tidak ada satupun murid yang merupakan manusia super rohani atau orang hebat, tidak Petrus, tidak para murid, tidak pula wanita yang mengikuti Yesus. Mungkin, Anda dan saya juga tidak. Kekuasaan Yesus dan Kerajaan Allah ditunjukkan di antara kita sekelompok orang yang penuh dengan kesalahan, dan ketegangan ini sepertinya tidak hilang setelah kebangkitan Yesus. Di hadapan Tuhan, kita masih penuh dengan kelemahan manusia, ketidakpercayaan, keraguan, dll. Namun kerajaan Allah tidak berakhir karena hal ini (Markus 4: 26-32). Malaikat atas nama Tuhan berkata kepada para perempuan itu, Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. 7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: 『Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.』 Pilihan Tuhan terhadap Petrus dan murid-murid-Nya tidak berubah karena kelemahan mereka yang terus berlanjut. Mungkin Anda dan saya juga dapat yakin bahwa kerajaan Allah tidak akan pernah dibatasi bagi orang-orang tidak kompeten yang hidup di abad ke-21 yang bukanlah raksasa rohani, hanya sekelompok murid yang memberikan kesaksian bagaimana kuasa Tuhan disempurnakan dalam diri kita yang lemah.

Pembaca pertama Injil Markus (orang-orang percaya di kota Roma) sudah mulai menyaksikan kuasa kerajaan Allah. Hidup pada tahun 60-70M abad pertama, mereka menghadapi banyak tantangan: penindasan dari kekaisaran Romawi, lonceng kematian kehancuran Yerusalem dan Bait Suci, serta kekacauan rezim kekaisaran Romawi (pada tahun 69M dalam satu tahun saja, kekaisaran Romawi telah berganti empat kaisar!) Mungkin, dalam kekacauan itu, orang dapat melihat dengan jelas awal dari keteraturan dan kabar baik yang nyata bagi dunia (Ἀρχὴ τοῦ εὐαγγελίου archē tou euangeliou, Markus 1:1), bukanlah kisah kekuatan politik mana pun di bumi: bukan kisah Yahudi tentang Daud, bukan kisah Romawi tentang Kaisar. Hal yang sama juga berlaku bagi Anda dan saya di abad ke-21. Tidak ada pemerintahan yang sangat rohani, dan tidak ada pemerintahan yang layak bagi kerajaan Allah. (Yesus berkata kepada mereka, Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah! Markus 12:17)

Setelah Yohanes dipenjarakan, Yesus datang ke Galilea dan memberitakan Injil Allah, dengan mengatakan: Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! (Markus 1:14-15)

Renungkan:
Pengalaman rohani apa yang sering muncul dalam pikiran Anda? Apakah Anda antusias bersemangat bagi Tuhan dan dengan gagah berani teguh dalam perjuangan yang baik? Ataukah aku termasuk orang berdosa yang paling membutuhkan belas kasihan Tuhan? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 15:23-47

Bukan untuk meminum cawan ini, tapi untuk meminum cawan itu

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 15:23-47 [ITB])
23 Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.
24 Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing.
25 Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan.26 Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: Raja orang Yahudi.
27 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya.28 Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.
29 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,30 turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!31 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!32 Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya. Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.
33 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.
34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eloi, Eloi, lama sabakhtani?, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: Lihat, Ia memanggil Elia.36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.
37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.
38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.
39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!
40 Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome.41 Mereka semuanya telah mengikut Yesus dan melayani-Nya waktu Ia di Galilea. Dan ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus.
42 Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat.43 Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.44 Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.45 Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.
46 Yusufpun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.
47 Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.

Ayat 23 mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya, mur adalah resin alami yang diekstrak dari kulit pohon mur (commiphora myrrha), setelah dikeringkan bentuknya tidak beraturan. Menurut tradisi pengobatan kuno, selain digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk luka, infeksi, dan masalah pencernaan, mur juga memiliki sifat analgesik (meredakan rasa sakit) yang sama dengan minuman anggur.

Oleh karena itu, mengapa Yesus menolak cawan anggur yang dicampur dengan mur? Saat dihadapkan pada rasa sakit atau stres yang luar biasa, sifat manusia sering kali mendorong kita untuk mencari pertolongan, entah itu melalui minuman keras, mengonsumsi obat-obatan, atau metode apa pun yang dapat menimbulkan rangsangan sensorik, orang-orang mencoba mengalihkan perhatian atau bahkan mematikan fungsi tubuh yang bertanggung jawab atas rasa sakit. Apakahkah Yesus tidak ingin diringankan rasa sakit akibat pukulan dan penyaliban? Mungkinkah Dia telah terluka sampai pada taraf sudah kehilangan rasa sakit? Apakah Dia mengira anggur yang dicampur mur tidak cukup untuk menghilangkan rasa sakit-Nya? Mungkinkah sebagai Anak Allah, Ia sekali lagi menerobos keterbatasan manusia dengan kekuatan super, membuat diri-Nya tidak merasakan sakit saat ini? Ataukah saat ini Dia sama sekali sudah bukan manusia, Dia hanyalah Allah yang sempurna, sudah kehilangan hekekat manusia sempurna?

Pertanyaan lainnya adalah, siapa yang memberi Yesus anggur bercampur mur untuk diminum di ayat 23? Jika mengikuti alur teks sebelumnya, mereka mungkin merujuk pada prajurit yang bertanggung jawab membawa Yesus ke Golgota dan penyaliban. Menurut Matius 27:34 mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya, tindakan memberikan anggur pahit ini tampaknya merupakan tindakan jahat. Matius secara implisit mengutip dari Perjanjian Lama: Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia, menantikan penghibur-penghibur, tetapi tidak kudapati. Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam. Biarlah jamuan yang di depan mereka menjadi jerat, dan selamatan mereka menjadi perangkap (Mazmur 69:20-22), yang juga jelas merujuk pada pemazmur yang diperlakukan dengan jahat.

Namun, penulis yakin bahwa peristiwa pemberian anggur yang dicatat oleh Markus mungkin tidak sama dengan peristiwa yang dicatat oleh Matius. Pertama, perhatikan bahwa apa yang dicampur ke dalam anggur ada dua hal yang berbeda. Markus 15:23 adalah mur, Matius adalah empedu. Kedua, Markus tidak mencatat bahwa Yesus mencicipi anggur tersebut, namun Matius dengan jelas menyebutkan bahwa Yesus mengecapnya (γευσάµενος geusamenos) barulah kemudian tidak mau meminumnya, mungkin para prajurit menggunakan kekerasan tertentu hendak memaksa Yesus meminum anggur yang dicampur dengan empedu. Lalu, siapakah yang memberi Yesus cawan anggur bercampur mur?

Merujuk pada tradisi Yahudi kuno 《Talmud》 Sanhedrin 43a dan Amsal 31:6 -7 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya, para wanita Yerusalem biasa menawarkan minuman peredam rasa sakit kepada terpidana mati untuk mengurangi kepekaan mereka terhadap rasa sakit yang parah. Dengan demikian, wanita yang memberi Yesus minuman anggur bercampur mur seharusnya wanita Yahudi.

Namun, kembali ke pertanyaan pertama: mengapa Yesus tidak meminum anggur yang dicampur dengan mur? Kenapa Dia tidak menghargai perhatian orang kepada diri-Nya? Yesus menolak minum karena Ia berharap menghadapi kematian dengan kesadaran diri dan mempertahankan kesadaran diri-Nya. Dengan menolak cawan yang bercampur dengan mur, Ia dengan sungguh-sungguh meminum cawan yang pahit dari Bapa (Markus 10:38, 14:36). Dia tidak menenggelamkan kesakitan-Nya dalam anggur; dia bukan meminum cawan yang pahit dari Bapa tanpa kesedihan dan rasa sakit. Karena dosa saya dan dosa Anda, Dia digantung di atas salib, terpisah dari Bapa, dalam kesadaran-Nya mengalami tekanan penderitaan mental yang hebat. Dia sangat kesakitan, sangat sangat kesakitan.

Renungkan:
Menghadapi tekanan yang luar biasa, kebanyakan orang beralih ke alkohol untuk menghilangkan kesedihan mereka. Mengapa?

Yesus tidak mau meminum anggur yang dicampur dengan mur dan memilih untuk secara sadar menghadapi tekanan, rasa sakit fisik, dan rasa sakit mental karena terpisah dari Tuhan. Perasaan atau introspeksi apa yang dibawakan hal ini kepada Anda?

Menurut Anda, apakah ada penderitaan dalam hidup yang tidak boleh dihindari, tetapi harus dihadapi dengan sungguh-sungguh? Apa? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 15:21-32

Pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 15:21-32 [ITB])
21 Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.
22 Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.23 Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.
24 Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing.
25 Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan.26 Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: Raja orang Yahudi.
27 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya.28 Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.
29 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,30 turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!31 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!32 Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya. Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.

Simon orang Kirene ini sungguh beruntung karena mendapat kehormatan memikul salib bagi Yesus! Markus di sini menguraikan latar belakangnya secara rinci: dia adalah penduduk asli Kirene, ayah dari Alexander dan Rufus. Sebenarnya, Markus tidak sering menyebutkan nama-nama karakter yang muncul. Ada banyak karakter penting, seperti wanita yang mengalami pendarahan di pasal 5, wanita non-Yahudi di Tirus di pasal 7, dan orang buta di Betsaida di pasal 8, orang kaya di pasal 10, perempuan yang mengurapi Yesus di Betania di pasal 14, dsb., semuanya tidak mempunyai nama. Namun Markus memilih untuk mencantumkan informasi latar belakang Simon secara rinci di sini. Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa Simon ini adalah seorang saksi mata penyaliban Yesus dan juga merupakan sumber catatan Markus. Atau mungkin Alexander dan Rufus adalah generasi pertama pembaca Injil Markus di Roma, dan jemaat mengenal mereka serta mengetahui bahwa ayah mereka memikul salib bagi Yesus (Roma 16:12-13). Ketika para murid telah melarikan diri tanpa mengetahui di mana mereka pergi (mulai dari Markus 14:72 dan seterusnya, Markus tidak pernah mencatat munculnya para murid), orang dari desa ini mendapat kehormatan untuk memikul salib Yesus ke Golgota.

Yang menarik adalah lokasi tepatnya Golgota. Menurut tradisi gereja, Golgota diyakini terletak di lokasi Gereja Makam Suci (The Church of the Holy Sepulchre) di Yerusalem saat ini, tempat Yesus disalibkan. Menurut penelitian para arkeolog, sisi timur dan selatan Gereja Makam Suci mungkin merupakan tembok kedua Yerusalem pada zaman Yesus. Jika penjelasan ini benar, dan gereja tersebut terletak tepat di luar tembok kota, mungkin itu adalah lokasi penyaliban Yesus. Namun jika arah tembok kota sebenarnya bukan di sisi timur dan selatan Gereja Makam Suci, maka Golgota tidak mungkin berada di tempat Gereja Makam Suci berada, melainkan di tempat lain, misal Taman Makam (The Garden Tomb) di utara.

Namun, menemukan lokasi Golgota sebenarnya bukan hanya misi arkeologi, tapi juga perjalanan pembersihan spiritual. Menurut tradisi bangsa Israel, di luar perkemahan melambangkan perpisahan dan penolakan. Sesaat setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, ketika mereka melakukan dosa menggunakan anak lembu emas untuk melambangkan Allah (Keluaran 32), TUHAN memerintahkan Musa untuk menyuruh orang-orang yang najis atau berdosa pergi ke luar perkemahan (Imamat 13:46), dan korban penghapus dosa juga harus dibakar di luar perkemahan (Keluaran 29:14). Misal juga Bilangan 5:1-3 dan Imamat 16:26-27 mencatat:

TUHAN berfirman kepada Musa: Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya semua orang yang sakit kusta, semua orang yang mengeluarkan lelehan, dan semua orang yang najis oleh mayat disuruh meninggalkan tempat perkemahan; baik laki-laki maupun perempuan haruslah kausuruh pergi; ke luar tempat perkemahan haruslah mereka kausuruh pergi, supaya mereka jangan menajiskan tempat perkemahan di mana Aku diam di tengah-tengah mereka. (Bilangan 5:1-3)

… Lembu jantan dan kambing jantan korban penghapus dosa, yang darahnya telah dibawa masuk untuk mengadakan pendamaian di dalam tempat kudus, harus dibawa keluar dari perkemahan, dan kulitnya, dagingnya dan kotorannya harus dibakar habis (Imamat 16:26-27)

Namun, karena kemurahan Allah, penolakan ini bukanlah akhir dari cerita. Dengan pemenuhan korban penghapus dosa di luar perkemahan, hubungan antara Allah dan bangsa Israel dipulihkan. Ketika kita sampai pada zaman Perjanjian Baru, penulis kitab Ibrani melihat kembali Perjanjian Lama dan mengingatkan kita sebagai berikut: Karena tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus oleh Imam Besar sebagai korban penghapus dosa, dibakar di luar perkemahan. Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya (Ibrani 13:11-13)

Dengan demikian inilah, Yesus harus menderita di luar gerbang Yerusalem. Di satu sisi, kematian-Nya melambangkan penolakan Yerusalem terhadap diri-Nya; di sisi lain, kematian-Nya menaati kehendak Allah sehingga memungkinkan kita untuk berdamai dengan Allah.

Renungkan:
Orang percaya harus mengidentifikasi penderitaan Yesus untuk mengalami pengudusan, apakah Anda memiliki pandangan ini?

Bagi Anda, di manakah luar perkemahan Anda?
Apakah Anda bersedia untuk pergi ke luar perkemahan? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).



Markus 15:1-20

Apakah Engkau Raja orang Yahudi?

Oleh Dr. Scott Yip Ying Lam (葉應霖)
Alliance Bible Seminary H.K.

(Markus 15:1-20 [ITB])
1 Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.
2 Pilatus bertanya kepada-Nya: Engkaukah raja orang Yahudi? Jawab Yesus: Engkau sendiri mengatakannya.
3 Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia.4 Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran.
6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.7 Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.8 Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga.9 Pilatus menjawab mereka dan bertanya: Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?10 Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki.11 Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka.
12 Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: Salibkanlah Dia!
14 Lalu Pilatus berkata kepada mereka: Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya? Namun mereka makin keras berteriak: Salibkanlah Dia!
15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
16 Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul.17 Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.18 Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: Salam, hai raja orang Yahudi!19 Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.20 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan.

Dibandingkan dengan Injil lainnya, catatan Markus tentang interogasi Pilatus terhadap Yesus cukup singkat. Markus tidak seperti Lukas menyebutkan tuduhan-tuduhan terhadap Yesus yang dilakukan para imam kepala (Lukas 23:2, 5), juga tidak seperti Yohanes mencatat secara detil percakapan antara Yesus dan Pilatus, yang menjelaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:33-38). Dihadapkan pada pertanyaan Pilatus, Engkaukah raja orang Yahudi?, Jawaban Yesus yang dicatat oleh Markus sangat singkat: Engkau sendiri mengatakannya (σὺ λέγεις su legeis). Ringkasnya tanggapan Yesus kepada Pilatus bahkan lebih buruk daripada tanggapan Yesus kepada Imam Besar (Markus 14:62). Dalam ruang yang paling singkat, Markus menceritakan banyak tuduhan (πολύς polus) yang ditimpahkan oleh para imam kepala kepada Yesus, tetapi Yesus tidak berkata apa-apa. Keheningan Yesus nampaknya sangat berbeda dengan pengalaman interogasi Pilatus sebelumnya. Faktanya, kebanyakan orang akan menggunakan kata-kata untuk membela diri selama interogasi. Jika terdakwa mengetahui bahwa dia tidak bersalah dan telah dituduh secara tidak benar oleh orang lain, dia akan terlebih lagi termotivasi untuk membela diri dan harus berbicara lebih banyak. Namun Yesus, orang yang paling tidak berdosa dan tidak bersalah di dunia, justru tidak berbicara sama sekali. Faktanya, asalkan Yesus mau sedikit saja mengajukan pembelaan untuk diri-Nya sendiri, Ia memiliki peluang besar untuk lolos, karena Pilatus memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki (Markus 15:10). Namun, Yesus memilih untuk tidak berbicara sama sekali.

Karena Raja orang Yahudi ini (ὁ βασιλεὺς τῶν Ἰουδαίων ho basileus tōn Ioudaiōn) memilih untuk menaati kehendak Allah, dan kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36). Atau mungkin rencana Yesus sangat jauh dari visi Pilatus tentang Kekaisaran Romawi sehingga Yesus tidak berniat menjelaskan banyak hal kepadanya. Dengan kata lain, Kerajaan Allah Yesus tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dipahami Pilatus. Pada saat yang sama, para imam kepala yang banyak bicara, terus menerus menggunakan banyak kata untuk menerjemahkan Yesus yang mereka anggap melakukan kejahatan agama Yahudi menghujat Allah ke dalam bahasa politik yang dapat dipahami oleh gubernur Romawi Pilatus: Raja Orang Yahudi, sehingga dapat dipasangkan kesalahan pemberontakan kepada diri Yesus.

Orang-orang yang terlalu banyak bicara bukanlah raja kita. Hanya Dia yang tertindas dan menderita tetapi tidak membuka mulut-Nya, yang digiring ke pembantaian tetapi tidak membuka mulut-Nya, itulah Raja kita (Yesaya 53:37). Di dalam Dia kita melihat Kerajaan Allah. Sebagaimana Paulus pernah mengingatkan Timotius: Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Tim. 6:11-14).

Renungkan:
Kebenaran tentang Yesus mati demi Injil tidak dapat diterjemahkan secara akurat kepada Pilatus agar ia dapat memahaminya. Pernahkah Anda mengikuti Tuhan sehingga beberapa orientasi hidup atau pandangan hidup Anda tidak bisa diterjemahkan secara akurat ke telinga orang yang belum percaya kepada Tuhan? Bagaimana perasaan Anda mengenai hal ini? Apakah pengalaman ini bermanfaat bagi kehidupan Kristen Anda? Mengapa?


Renungan pemahaman Injil Markus

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Injil Markus 11 – 16 ditulis oleh Dr. Scott Yip Ying Lam dipublikasi pada bulan Oktober 2024 merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).